kumpulan artikel menarik

Jagalah Diri dan Keluarga dari Api Neraka

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa/siapa yang di bawah kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

“Berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (QS Asy Syu’ara: 214)

 

===============
Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah pernah berkata, “Tidaklah seseorang berharap dan bersandar kepada sesuatu makhluk pun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya. Namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah niscaya ia akan mendapat apa yang ia cita-citakan.”

Ibnul Qayyim berkata, “Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah ” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” ….. (Al-Bukhari dan Muslim)

Dimanakah Bahagia Itu?..

Dimanakah Bahagia Itu?..

Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!
Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!
Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!
Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Dan sangkaan-sangkaan lain..

Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan.
Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan.
Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan.
Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak.
Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan.
Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan.
Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya.
Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti..

Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Dia menyangka setelah menikah dengan seorang wanita cantik atau pria gagah nan tampan, maka dia akan bahagia.
Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas.
Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik atau pria gagah nan tampan.
Namun, kecantikan dan ketampanan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana.
Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia.

Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta.
Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.
Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta.
Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya.
Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah.
Hidupnya penuh porblema.
Masalah demi masalah membelitnya.
Tak jarang, harta justru membawa bencana.
Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara dan keluarga…

Dimana Bahagia Itu?..

-Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami

Untuk mendapatkan pencerahan silahkan dengarkan rekaman ceramah Al Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami (murid dari Syaikh Ibnu Utsaimin) mengenai cara agar hidup bahagia dunia akherat di:

http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/23%20Kiat%20Hidup%20Bahagia

Percakapan Tentang jilbab 2

  • A: “Saya sangat lelah.”
  • B: “Lelah kenapa?”
  • A: “Lelah karena orang-orang tersebut selalu menghakimi saya.”
  • B: “Siapa yang menghakimi kamu?”
  • A: “Perempuan itu, setiap saya duduk dengannya, dia selalu menyuruhku untuk memakai Hijab.”
  • B: “Ohh.. Hijab dan Musik. Itu selalu menjadi tema utama.”
  • A: “Yah..! Saya mendengarkan musik tanpa memakai Hijab. Haha!”
  • B: “Mungkin dia hanya sekedar memberimu saran.”
  • A: “Saya tidak butuh nasehatnya. Saya tahu agama saya. Bisa gak sih dia gak ikut campur urusan orang lain?!”
  • B: “Mungkin kamu salah paham. Dia hanya mencoba berbuat baik kepadamu.”
  • A: “Tidak mencampuri urusan saya, itu baru namanya berbuat baik..”
  • B: “Sudah menjadi kewajiban dia untuk menasehatimu agar melakukan hal yang baik.”
  • A: “Percaya dengan saya! Gak perlu ada anjuran seperti itu, lagipula apa yang kamu maksud dengan ‘baik’?”
  • B: “Hmm… memakai Hijab, itukan satu hal yang baik untuk dilakukan.”
  • A: “Siapa yang bilang?”
  • B: “Ada di Al-Qur’an, bukan begitu?”
  • A: “Yaah.. Dia juga telah mengutipnya.”
  • B: “Dia mengutip surat Nur dan ayat lain kan?”
  • A: “Iya sih. Tapi itukan bukan dosa besar. Menolong orang dan sholat lebih penting.”
  • B: “Benar. Tapi hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang kecil.”
  • A: “Benar juga sih. Tapi apa yang kamu pakai itu tidak penting. Yang penting itu memiliki hati yang baik.”
  • B: “Apa yang kamu pakai tidak penting?”
  • A: “Yup..”
  • B: “Kalau begitu buat apa kamu menghabiskan waktu satu jam dipagi hari untuk berdandan?”
  • A: “Apa maksudmu?”
  • B: “Kamu menghabisakan uang untuk kosmetik, dan menghabiskan waktu untuk menata rambutmu dan juga diet rendah karbohidrat.”
  • A: “Jadi?”
  • B: “Jadi yang saya maksud: ‘penampilan itu penting’!”
  • A: “Bukan.. Yang saya maksud memakai Hijab itu bukan hal penting dalam masalah agama.”
  • B: “Kalau gak penting kenapa ada di Al-Qur’an?”
  • A: “Kamu tahulah. Saya tidak bisa mengikuti semua hal yang ada di Al Qur’an.”
  • B”Maksud kamu Allah memerintahkan kamu untuk melakukan sesuatu lalu kamu tidak mematuhinya dan itu gak masalah?”
  • A: “Yup.. Allah kan Maha Pengampun.”
  • B: “Allah itu mengampuni orang-orang bertobat dan tidak mengulang kesalahannya.”
  • A: “Kata siapa itu?”
  • B: “Kata dari yang memerintahkanmu untuk menutup aurat.”
  • A: “Tapi saya gak suka Hijab. Itu membatasi kebebasan saya.”
  • B: “Tapi lotion, lipstick, maskara dan kosmetik lainnya tidak menghalangi kebebasan kamu? Kalau begitu apa sebenarnya definisi kebebasan menurutmu?”
  • A: “Kebebasan itu adalah melakukan apapun yang kamu inginkan.”
  • B: “Tidak. Kebebasan itu adalah dalam melakukan hal yang benar, bukan bebas melakukan segala hal yang diinginkan.”
  • A: “Gini loh. Saya banyak melihat orang yang tidak memakai Hijab dan mereka orang baik. Dan juga banyak orang yang memakai Hijab tapi mereka berkelakuan buruk.”
  • B: “Memangnya kenapa? Banyak orang yang baik denganmu tapi dia pecandu alkohol. Memangnya kamu harus menjadi pecandu juga? Kamu membuat alasan yang bodoh.”
  • A: “Saya tidak mau jadi ekstrimis atau fanatik. Saya baik-baik saja dengan pilihan tidak menggunakan Hijab.”
  • B: “Kalau begitu kamu fanatik dengan sekulerisme. Seorang ektrimis yang tidak mematuhi Allah.”
  • A: “Kamu gak paham. Kalau saya memakai Hijab. Siapa yang mau menikah dengan saya?”
  • B: “Jadi orang yang pakai Hijab gak bakalan nikah gitu?”
  • A: “Baik. Bagaimana kalau saya menikah dan suami saya tidak suka? Lalu ingin supaya saya melepaskannya?”
  • B: “Bagaimana kalau suamimu menginginkan kamu untuk melakukan perampokan bank?”
  • A: “Itu gak nyambung. Perampokan bank itu kejahatan.”
  • B: “Memangnya tidak mematuhi Penciptamu bukan kejahatan?”
  • A: “Nanti siapa yang akan menerima saya kerja?”
  • B: “Perusahaan yang menghormati orang apa adanya.”
  • A: “Gak mungkin, apalagi setelah 9-11.”
  • B: “Tetap saja. Sekalipun setelah peristiwa 9-11. Kamu kenal Hanan?, yang baru saja diterima di fakultas kedokteran. Yang lain juga ada. Hmm… siapa itu namanya? Gadis yang selalu pakai Hijab warna putih?”
  • A: “Yasmin?”
  • B: “Yah.. Yasmin. Dia baru saja menyelesaikan gelar MBA dan sekarang akan diterima di General Electric.”
  • A: “Lagian kenapa sih kamu menganggap saya kurang dalam beragama Cuma karena selembar kain?”
  • B: “Kenapa kamu menganggap wanita itu kurang Cuma karena warna lipstick dan sepatu hak tinggi?”
  • A: “Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”
  • B: “Sebenarnya sudah. Hijab itu bukan Cuma selembar kain. Ini tentang kepatuhan terhadap Allah di lingkungan yang sulit. Ini keberanian. Ini bukti keimanan dan identitas perempuan. Beda dengan lengan pendek dan celana ketat kamu, untuk apa?”
  • A: “Itu namanya Fashion. Memangnya kamu hidup di goa? Lagipula Hijab itu ditemukan oleh pria yang ingin mengontrol wanita.”
  • B: “Yakin? Saya tidak tahu kalau pria bisa mengontrol wanita dengan Hijab?”
  • A: “Yah.. Begitulah.”
  • B: “Bagaimana dengan perempuan yang melawan suaminya demi untuk memakai Hijab? Dan perempuan di Perancis yang dipaksa untuk melepas Hijab mereka oleh pria? Bagaimana pendapat kamu tentang hal itu?”
  • A: “Hmmm.. itu beda.”
  • B: “Apa bedanya? Perempuan yang memintamu untuk memakai Hijab, dia juga perempuan kan?”
  • A: “Benar, tapi…”
  • B: “Tapi fashion, gitu? Fashion yang didesain dan dipromosikan oleh kebanyakan perusahaan milik pria dapat membuat kamu bebas? Laki-laki tak terkontrol lagi untuk mengekspos perempuan dan menggunakan mereka sebagai komoditas. Yang benar saja!!”
  • A: “Tunggu! Biar saya selesaikan dulu. Yang saya katakan adalah…”
  • B: “Mau bilang apalagi..? Kamu pikir pria dapat mengkontrol perempuan dengan Hijab. Gitu?”
  • A: “Yah..”
  • B: “Bagaimana detailnya?”
  • A: “Dengan menyuruh perempuan apa yang harus mereka pakai. Dungu!”
  • B: “Bukannya TV, Majalah dan Film juga menyuruh kamu tentang apa yang harus kamu pakai dan bagaimana agar tampil menarik?”
  • A: “Tentu saja.. Itu namanya Fashion.”
  • B: “Bukannya itu kontrol? Memaksamu untuk memakai apa yang mereka mau untuk kamu pakai.”
  • (diam)
  • B: “Bukan Cuma mengontrol kamu, tapi juga mengontrol pasar.”
  • A: “Apa maksud kamu?”
  • B: “Yang aku maksud adalah kamu diminta untuk kelihatan kurus dan anorexic seperti perempuan yang menjadi cover di majalah-majalah. Oleh pria yang mendesain semua majalah tersebut dan menjual semua produk tersebut.”
  • A: “Saya gak paham. Apa hubungannya antara hijab dan produk-produk tersebut?”
  • B: “Ini semua berhubungan. Memangnya kamu tidak tahu? Hijab adalah ancaman bagi konsumerisme. Wanita yang membelanjakan bermilyar dollar agar terlihat kurus dan hidup dengan standar fashion yang didesain oleh pria. Disinilah peran Islam yang mencampakkan semua omong kosong tersebut dan memfokuskan pada jiwa bukan penampilan serta tidak khawatir dengan tanggapan pria tentang penampilanmu.”
  • A: “Jadi saya gak perlu beli Hijab? Bukannya Hijab juga produk.”
  • B: “Yah. Produk yang membuat kamu bebas dari konsumsi yang kebanyakan dinikmati pria.”
  • A: “Berhenti mengkuliahi saya. SAYA TIDAK AKAN MENGGUNAKAN HIJAB! Itu hal yang aneh, kadaluarsa, dan sangat tidak cocok dengan hidup bermasyarakat….. ditambah lagi saya baru 20 tahun. Saya masih terlalu muda untuk memakai Hijab.”
  • B: “Baik. Katakan itu kepada Allah ketika kamu berjumpa dengan-Nya di hari pembalasan!
  • A: “baik!”
  • B:
  • “baik!”
  • (diam)
  • A: “Saya tidak mau lagi mendengar tentang hijab niqab schmijab Punjab.”
  • (diam)
  • Dia berkaca memandang dirinya dicermin, lelah berargumen dengan dirinya sendiri selama ini. Cukup sukses. Dia berhasil membungkam pikiran-pikiran dikepalanya, dengan pendapatnya sendiri. Dia berjaya dengan kemenangan dalam perdebatan tersebut. Dan keputusan akhir yang modern dan diterima oleh masyarakat padahal ditolak oleh iman adalah….?
  • Yah…Keputusan itu adalah mengeritingkan rambut atau memblow rambut bukan memakai Hijab…

 

 

http://gadisberjilbab.tumblr.com/post/10558039026/percakapan-tentang-jilbab-2

Haramnya Musik

Membedah Kontroversi Haramnya Musik

Kontroversi tentang musik seakan tak pernah berakhir. Baik yang pro maupun kontra masing-masing menggunakan dalil. Namun bagaimana para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memandang serta mendudukkan perkara ini? Sudah saatnya kita mengakhiri kontroversi ini dengan merujuk kepada mereka.

Musik dan nyanyian, merupakan suatu media yang dijadikan sebagai alat penghibur oleh hampir setiap kalangan di zaman kita sekarang ini. Hampir tidak kita dapati satu ruang pun yang kosong dari musik dan nyanyian. Baik di rumah, di kantor, di warung dan toko-toko, di bus, angkutan kota ataupun mobil pribadi, di tempat-tempat umum, serta rumah sakit. Bahkan di sebagian tempat yang dikenal sebagai sebaik-baik tempat di muka bumi, yaitu masjid, juga tak luput dari pengaruh musik.

Merebaknya musik dan lagu ini disebabkan banyak dari kaum muslimin tidak mengerti dan tidak mengetahui hukumnya dalam pandangan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang mubah, halal, bahkan menjadi konsumsi setiap kali mereka membutuhkannya. Jika ada yang menasihati mereka dan mengatakan bahwa musik itu hukumnya haram, serta merta diapun dituduh dengan berbagai macam tuduhan: sesat, agama baru, ekstrem, dan segudang tuduhan lainnya.Namun bukan berarti, tatkala seseorang mendapat kecaman dari berbagai pihak karena menyuarakan kebenaran, lantas menjadikan dia bungkam.

Kebenaran harus disuarakan, kebatilan harus ditampakkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ في حَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ أَوْ سَمِعَهُ“Janganlah rasa segan salah seorang kalian kepada manusia, menghalanginya untuk mengucapkan kebenaran jika melihatnya, menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HR. Ahmad, 3/50, At-Tirmidzi, no. 2191, Ibnu Majah no. 4007. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah, 1/322)

Terlebih lagi, jika permasalahan yang sebenarnya dalam timbangan Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah perkara yang telah jelas. Hanya saja semakin terkaburkan karena ada orang yang dianggap sebagai tokoh Islam berpendapat bahwa hal itu boleh-boleh saja, serta menganggapnya halal untuk dikonsumsi kaum muslimin. Di antara mereka, adalah Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Al-Ghazali Al-Mishri, dan yang lainnya dari kalangan rasionalis. Mereka menjadikan kesalahan Ibnu Hazm rahimahullahu sebagai tameng untuk membenarkan penyimpangan tersebut. Oleh karenanya, berikut ini kami akan menjelaskan tentang hukum musik, lagu dan nasyid, berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perkataan para ulama salaf.

Definisi Musik

Musik dalam bahasa Arab disebut ma’azif, yang berasal dari kata ‘azafa yang berarti berpaling. Kalau dikatakan: Si fulan berazaf dari sesuatu, maknanya adalah berpaling dari sesuatu. Jika dikatakan laki-laki yang ‘azuf dari yang melalaikan, artinya yang berpaling darinya. Bila dikatakan laki-laki yang ‘azuf dari para wanita artinya adalah yang tidak senang kepada mereka. Ma’azif adalah jamak dari mi’zaf (مِعْزَفٌ), dan disebut juga ‘azfun (عَزْفٌ). Mi’zaf adalah sejenis alat musik yang dipakai oleh penduduk Yaman dan selainnya, terbuat dari kayu dan dijadikan sebagai alat musik. Al-‘Azif adalah orang yang bermain dengannya.

Al-Laits rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik yang dipukul.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik.” Al-Qurthubi rahimahullahu meriwayatkan dari Al-Jauhari bahwa al-ma’azif adalah nyanyian. Yang terdapat dalam Shihah-nya bahwa yang dimaksud adalah alat-alat musik. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah suara-suara yang melalaikan. Ad-Dimyathi berkata: “Al-ma’azif adalah genderang dan yang lainnya berupa sesuatu yang dipukul.” (lihat Tahdzib Al-Lughah, 2/86, Mukhtarush Shihah, hal. 181, Fathul Bari, 10/57)
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah nama bagi setiap alat musik yang dimainkan, seperti seruling, gitar, dan klarinet (sejenis seruling), serta simba.” (Siyar A’lam An-Nubala`, 21/158)Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata bahwa al-ma’azif adalah seluruh jenis alat musik, dan tidak ada perselisihan ahli bahasa dalam hal ini. (Ighatsatul Lahafan, 1/260-261)

Mengenal Macam-Macam Alat Musik

Alat-alat musik banyak macamnya. Namun dapat kita klasifikasi alat-alat tersebut ke dalam empat kelompok:

  • Pertama: Alat-alat musik yang diketuk atau dipukul. Yaitu jenis alat musik yang mengeluarkan suara saat digoncangkan, atau dipukul dengan alat tabuh tertentu, (misal: semacam palu pada gamelan, ed.), tongkat (stik), tangan kosong, atau dengan menggesekkan sebagiannya kepada sebagian lainnya, serta yang lainnya. Alat musik jenis ini memiliki beragam bentuk, di antaranya seperti: gendang, kubah (gendang yang mirip seperti jam pasir), drum, mariba, dan yang lainnya.
  • Kedua: Alat musik yang ditiup. Yaitu alat yang dapat mengeluarkan suara dengan cara ditiup padanya atau pada sebagiannya, baik peniupan tersebut pada lubang, selembar bulu, atau yang lainnya. Termasuk jenis ini adalah alat yang mengeluarkan bunyi yang berirama dengan memainkan jari-jemari pada bagian lubangnya. Jenis ini juga beraneka ragam, di antaranya seperti qanun dan qitsar (sejenis seruling).

 

 

  • Ketiga: Alat musik yang dipetik. Yaitu alat musik yang menimbulkan suara dengan adanya gerakan berulang atau bergetar (resonansi), atau yang semisalnya. Lalu mengeluarkan bunyi saat dawai/senar dipetik dengan kekuatan tertentu menggunakan jari-jemari. Terjadi juga perbedaan irama yang muncul tergantung kerasnya petikan, dan cepat atau lambatnya gerakan/getaran yang terjadi. Di antaranya seperti gitar, kecapi, dan yang lainnya.
  • Keempat: Alat musik otomatis. Yaitu alat musik yang mengeluarkan bunyi musik dan irama dari jenis alat elektronik tertentu, baik dengan cara langsung mengeluarkan irama, atau dengan cara merekam dan menyimpannya dalam program yang telah tersedia, dalam bentuk kaset, CD, atau yang semisalnya.

(Lihat risalah Hukmu ‘Azfil Musiqa wa Sama’iha, oleh Dr. Sa’d bin Mathar Al-‘Utaibi)

Dalil-Dalil tentang Haramnya Musik dan Lagu

Dalil dari Al-Qur`an

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Luqman: 6)
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini telah ditafsirkan oleh para ulama salaf bahwa yang dimaksud adalah nyanyian dan yang semisalnya. Di antara yang menafsirkan ayat dengan tafsir ini adalah:

Abdullah bin ‘Abbas c, beliau mengatakan tentang ayat ini: “Ayat ini turun berkenaan tentang nyanyian dan yang semisalnya.” (Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 1265), Ibnu Abi Syaibah (6/310), Ibnu Jarir dalam tafsirnya (21/40), Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, Al-Baihaqi (10/221, 223), dan dishahihkan Al-Albani dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Tharb (hal. 142-143)).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab: “Itu adalah nyanyian, demi Allah yang tiada Ilah yang haq disembah kecuali Dia.” Beliau mengulangi ucapannya tiga kali.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim (2/411), dan yang lainnya. Al-Hakim mengatakan: “Sanadnya shahih,” dan disetujui Adz-Dzahabi. Juga dishahihkan oleh Al-Albani, lihat kitab Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 143)

‘Ikrimah rahimahullahu. Syu’aib bin Yasar berkata: “Aku bertanya kepada ‘Ikrimah tentang makna (lahwul hadits) dalam ayat tersebut. Maka beliau menjawab: ‘Nyanyian’.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Tarikh-nya (2/2/217), Ibnu Jarir dalam tafsirnya, dan yang lainnya. Dihasankan Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 143). Mujahid bin Jabr rahimahullahu. Beliau mengucapkan seperti apa yang dikatakan oleh ‘Ikrimah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 1167, 1179, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abid Dunya dari beberapa jalan yang sebagiannya shahih).

Dan dalam riwayat Ibnu Jarir yang lain, dari jalan Ibnu Juraij, dari Mujahid, tatkala beliau menjelaskan makna al-lahwu dalam ayat tersebut, beliau berkata: “Genderang.”
(Al-Albani berkata: Perawi-perawinya tepercaya, maka riwayat ini shahih jika Ibnu Juraij mendengarnya dari Mujahid. Lihat At-Tahrim hal. 144)

Al-Hasan Al-Bashri, beliau mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan tentang nyanyian dan seruling.”
As-Suyuthi rahimahullahu menyebutkan atsar ini dalam Ad-Durrul Mantsur (5/159) dan menyandarkannya kepada riwayat Ibnu Abi Hatim. Al-Albani berkata: “Aku belum menemukan sanadnya sehingga aku bisa melihatnya.” (At-Tahrim hal. 144)
Oleh karena itu, berkata

Al-Wahidi dalam tafsirnya Al-Wasith (3/441): “Kebanyakan ahli tafsir menyebutkan bahwa makna lahwul hadits adalah nyanyian.

Ahli ma’ani berkata: ‘Termasuk dalam hal ini adalah semua orang yang memilih hal yang melalaikan, nyanyian, seruling, musik, dan mendahulukannya daripada Al-Qur`an.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ. وَتَضْحَكُونَ وَلاَ تَبْكُونَﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ“Maka apakah kalian merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kalian menertawakan dan tidak menangis? Sedangkan kalian ber-sumud?” (An-Najm: 59-61)

Para ulama menafsirkan “kalian bersumud” maknanya adalah bernyanyi.
Termasuk yang menyebutkan tafsir ini adalah:

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata: “Maknanya adalah nyanyian. Dahulu jika mereka mendengar Al-Qur`an, maka mereka bernyanyi dan bermain-main. Dan ini adalah bahasa penduduk Yaman (dalam riwayat lain: bahasa penduduk Himyar).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (27/82), Al-Baihaqi (10/223). Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan sanadnya shahih.” (Majma’ Az-Zawa`id, 7/116)

‘Ikrimah rahimahullahu. Beliau juga berkata: “Yang dimaksud adalah nyanyian, menurut bahasa Himyar.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Syaibah, 6/121)
Ada pula yang menafsirkan ayat ini dengan makna berpaling, lalai, dan yang semisalnya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan makna ayat sebagaimana telah disebutkan, bahwa yang dimaksud sumud adalah lalai dan lupa dari sesuatu.
Al-Mubarrid mengatakan: ‘Yaitu tersibukkan dari sesuatu bersama mereka.’

Ibnul ‘Anbar mengatakan: ‘As-Samid artinya orang yang lalai, orang yang lupa, orang yang sombong, dan orang yang berdiri.’
Ibnu ‘Abbas berkata tentang ayat ini: ‘Yaitu kalian menyombongkan diri.’

Adh-Dhahhak berkata: ‘Sombong dan congkak.’
Mujahid berkata: ‘Marah dan berpaling.’

Yang lainnya berkata: ‘Lalai, luput, dan berpaling.’ Maka, nyanyian telah mengumpulkan semua itu dan mengantarkan kepadanya.”
(Ighatsatul Lahafan, 1/258)3.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Iblis:وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَولاَدِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا
“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (Al-Isra`: 64)

Telah diriwayatkan dari sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud “menghasung siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu” adalah melalaikan mereka dengan nyanyian. Di antara yang menyebutkan hal tersebut adalah:

Mujahid rahimahullahu. Beliau berkata tentang makna “dengan suaramu”: “Yaitu melalaikannya dengan nyanyian.” (Tafsir Ath-Thabari)

Sebagian ahli tafsir ada yang menafsirkannya dengan makna ajakan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Jarir berkata: “Pendapat yang paling benar dalam hal ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan kepada Iblis: ‘Dan hasunglah dari keturunan Adam siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu,’ dan Dia tidak mengkhususkan dengan suara tertentu. Sehingga setiap suara yang dapat menjadi pendorong kepadanya, kepada amalannya dan taat kepadanya, serta menyelisihi ajakan kepada ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka termasuk dalam makna suara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudkan dalam firman-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata tatkala menjelaskan ayat ini: “Sekelompok ulama salaf telah menafsirkannya dengan makna ‘suara nyanyian’. Hal itu mencakup suara nyanyian tersebut dan berbagai jenis suara lainnya yang menghalangi pelakunya untuk menjauh dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa, 11/641-642)

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Satu hal yang telah dimaklumi bahwa nyanyian merupakan pendorong terbesar untuk melakukan kemaksiatan.” (Ighatsatul Lahafan, 1/255)

Dalil-dalil dari As-Sunnah.

Hadits Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا؛ فَيُبَيِّتُهُمْ اللهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Akan muncul di kalangan umatku, kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik. Dan akan ada kaum yang menuju puncak gunung kembali bersama ternak mereka, lalu ada orang miskin yang datang kepada mereka meminta satu kebutuhan, lalu mereka mengatakan: ‘Kembalilah kepada kami besok.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan mereka di malam hari dan menghancurkan bukit tersebut. Dan Allah mengubah yang lainnya menjadi kera-kera dan babi-babi, hingga hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari, 10/5590)

Hadits ini adalah hadits yang shahih. Apa yang Al-Bukhari sebutkan dalam sanad hadits tersebut: “Hisyam bin Ammar berkata…” tidaklah memudaratkan kesahihan hadits tersebut. Sebab Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu tidak dikenal sebagai seorang mudallis (yang menggelapkan hadits), sehingga hadits ini dihukumi bersambung sanadnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “(Tentang) alat-alat (musik) yang melalaikan, telah shahih apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya secara ta’liq dengan bentuk pasti (jazm), yang masuk dalam syaratnya.” (Al-Istiqamah, 1/294, Tahrim Alat Ath-Tharb, hal. 39.
Lihat pula pembahasan lengkap tentang sanad hadits ini dalam Silsilah Ash-Shahihah, Al-Albani, 1/91)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata setelah menyebutkan panjang lebar tentang keshahihan hadits ini dan membantah pendapat yang berusaha melemahkannya: “Maka barangsiapa –setelah penjelasan ini– melemahkan hadits ini, maka dia adalah orang yang sombong dan penentang. Dia termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak masuk ke dalam surga, orang yang dalam hatinya ada kesombongan walaupun seberat semut.” (HR. Muslim) [At-Tahrim, hal. 39]
Makna hadits ini adalah akan muncul dari kalangan umat ini yang menganggap halal hal-hal tersebut, padahal itu adalah perkara yang haram.
Al-‘Allamah ‘Ali Al-Qari berkata: “Maknanya adalah mereka menganggap perkara-perkara ini sebagai sesuatu yang halal dengan mendatangkan berbagai syubhat dan dalil-dalil yang lemah.” (Mirqatul Mafatih, 5/106).

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ، وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ
Dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat: seruling ketika mendapat nikmat, dan suara (jeritan) ketika musibah.” (HR. Al-Bazzar dalam Musnad-nya, 1/377/755, Adh-Dhiya` Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah, 6/188/2200, dan dishahihkan oleh Al-Albani berdasarkan penguat-penguat yang ada. Lihat Tahrim Alat Ath-Tharb, hal. 52)

Juga dikuatkan dengan riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا نُهِيْتُ عَنِ النَّوْحِ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ: صَوْتٍ عِنْدَ نَغْمَةِ لَهْوٍ وَلَعِبٍ وَمَزَامِيرِ شَيْطَانٍ، وَصَوْتٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ خَمْشِ وُجُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةِ شَيْطَانٍ
“Aku hanya dilarang dari meratap, dari dua suara yang bodoh dan fajir: Suara ketika dendangan yang melalaikan dan permainan, seruling-seruling setan, dan suara ketika musibah, mencakar wajah, merobek baju dan suara setan.” (HR. Al-Hakim, 4/40, Al-Baihaqi, 4/69, dan yang lainnya. Juga diriwayatkan At-Tirmidzi secara ringkas, no. 1005)

An-Nawawi
rahimahullahu berkata tentang makna ‘suara setan’: “Yang dimaksud adalah nyanyian dan seruling.” (Tuhfatul Ahwadzi, 4/75)

Hadits Abdullah bin ‘Abbas c, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيَّ -أَوْ حُرِّمَ الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْكُوبَةُ. قَالَ: وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atasku –atau– diharamkan khamr, judi, dan al-kubah. Dan setiap yang memabukkan itu haram.” (HR. Abu Dawud no. 3696, Ahmad, 1/274, Al-Baihaqi, 10/221, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 2729, dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani, lihat At-Tahrim hal. 56).
Kata al-kubah telah ditafsirkan oleh perawi hadits ini yang bernama ‘Ali bin Badzimah, bahwa yang dimaksud adalah gendang. (lihat riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 12598)

Hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاءَ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan khamr, judi, al-kubah (gendang), dan al-ghubaira` (khamr yang terbuat dari bahan jagung), dan setiap yang memabukkan itu haram.” (HR. Abu Dawud no. 3685, Ahmad, 2/158, Al-Baihaqi, 10/221-222, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan Al-Albani dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 58)

Atsar dari Ulama Salaf

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ“Nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati.” (Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, 4/2, Al-Baihaqi dari jalannya, 10/223, dan Syu’abul Iman, 4/5098-5099. Dishahihkan Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 10. Diriwayatkan juga secara marfu’, namun sanadnya lemah)

Ishaq bin Thabba` rahimahullahu berkata: Aku bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullahu tentang sebagian penduduk Madinah yang membolehkan nyanyian. Maka beliau mejawab: “Sesungguhnya menurut kami, orang-orang yang melakukannya adalah orang yang fasiq.” (Diriwayatkan Abu Bakr Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf: 32, dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 244, dengan sanad yang shahih)
Beliau juga ditanya: “Orang yang memukul genderang dan berseruling, lalu dia mendengarnya dan merasakan kenikmatan, baik di jalan atau di majelis?”Beliau menjawab: “Hendaklah dia berdiri (meninggalkan majelis) jika ia merasa enak dengannya, kecuali jika ia duduk karena ada satu kebutuhan, atau dia tidak bisa berdiri. Adapun kalau di jalan, maka hendaklah dia mundur atau maju (hingga tidak mendengarnya).” (Al-Jami’, Al-Qairawani, 262).

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullahu berkata: ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu menulis sebuah surat kepada ‘Umar bin Walid yang isinya: “… Dan engkau yang menyebarkan alat musik dan seruling, (itu) adalah perbuatan bid’ah dalam Islam.” (Diriwayatkan An-Nasa`i, 2/178, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 5/270. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 120)

‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash-Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148)

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abid Dunya (45), dari Al-Qasim bin Salman, dari Asy-Sya’bi, dia berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat biduan dan biduanita.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 13)

Ibrahim bin Al-Mundzir rahimahullahu –seorang tsiqah (tepercaya) yang berasal dari Madinah, salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari t– ditanya: “Apakah engkau membolehkan nyanyian?” Beliau menjawab: “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang melakukannya menurut kami kecuali orang-orang fasiq.” (Diriwayatkan Al-Khallal dengan sanad yang shahih, lihat At-Tahrim hal. 100)

Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Para tokoh dari murid-murid Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu mengingkari nyanyian. Para pendahulu mereka, tidak diketahui ada perselisihan di antara mereka. Sementara para pembesar orang-orang belakangan, juga mengingkari hal tersebut. Di antara mereka adalah Abuth Thayyib Ath-Thabari, yang memiliki kitab yang dikarang khusus tentang tercela dan terlarangnya nyanyian. Lalu beliau berkata: “Ini adalah ucapan para ulama Syafi’iyyah dan orang yang taat di antara mereka. Sesungguhnya yang memberi keringanan dalam hal tersebut dari mereka adalah orang-orang yang sedikit ilmunya serta didominasi oleh hawa nafsunya.

Para fuqaha dari sahabat kami (para pengikut mazhab Hambali) menyatakan: ‘Tidak diterima persaksian seorang biduan dan para penari.’ Wallahul muwaffiq.” (Talbis Iblis, hal. 283-284)

Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: “Termasuk hasil usaha yang disepakati keharamannya adalah riba, upah para pelacur, sogokan (suap), mengambil upah atas meratapi (mayit), nyanyian, perdukunan, mengaku mengetahui perkara gaib dan berita langit, hasil seruling dan segala permainan batil.” (Al-Kafi hal. 191)

Ath-Thabari rahimahullahu berkata: “Telah sepakat para ulama di berbagai negeri tentang dibenci dan terlarangnya nyanyian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 14/56)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullahu di atas. (Majmu’ Fatawa, 11/576)

Coba tela’ahlah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, serang Nabi yang diutus, seorang Rosul yang benar dan dibenarkan; sebagaimana telah dikisahkan oleh Abu ‘Amir al-‘Asy’ary rodhiyallohu anhu, demi Alloh beliau tidak berdusta, bahwa beliau mendengar Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Niscaya kelak akan ada beberapa kaum dari sebagian umatku yang menghalalkan zina, sutra (bagi kaum laki-laki), khomer (miras dengan berbagai jenis dan mereknya), serta alat-alat musik”. HR. Bukhori no: 5268

Perhatikan dan telaah dengan seksama hadits Nabi kita shollallohu alaihi wasallam di atas. Jangan berprasangka apa-apa. Berangkatlah dari hati yang rindu kebenaran yang dibawa oleh Nabi kita. Menjauhlah dari hawa dan tinggalkan nafsu. Lalu dengan hati nurani dan akal pahamilah setiap kata dalam kalimat Nabi kita di atas.

Dengan sejelasnya sabda Nabi kita di atas menunjukkan bahwa sejak dari semula musik hukumnya haram. Dan seandainya kita katakan musik itu halal, maka menurut hadits tersebut di atas berarti kita lah yang terdakwa telah menghalalkannya. Berarti pula benarlah kenabian Nabi kita shollallohu alaihi wasallam dengan bukti adanya kaum dari umat beliau yang menghalalkan musik padahal hukumnya adalah haram.

Hal ini sebab hukum halal dan haram adalah hak Alloh ta’ala, Pembuat syari’at, dan hak Rosululloh, rosul utusan Alloh. Sehingga kalaulah ada umat beliau yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan beliau maka tidak akan merubah status hukum haram tersebut menjadi halal. Semoga hal ini bisa dipahami.

Adapun alat musik yang boleh ditabuh saat pesta walimah ialah “duff”, yaitu rebana murni (tanpa kepingan logam atau yang lain).

Berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam:

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ

“pembeda antara yang halal dan yang haram adalah (tabuhan) duff dan lantunan (syair-syair) saat (pesta) pernikahan” HR. Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dan dihasankan oleh at-Tirmidzi.

Kebolehan menabuh rebana seperti ini disyaratkan hanya khusus di kalangan kaum wanita, tidak disertai alat musik lainnya, tidak didendangkan lagu dan nyanyian. Boleh pula didendangkan syair-syair penggugah semangat ibadah maupun yang membawa kebaikan lainnya yang didendangkan oleh anak-anak perempuan yang belum baligh, selagi tidak diperdengarkan kepada kaum laki-laki.

Imam asy-Syaukani rohimahulloh mengatakan: ”pada hadits tersebut terdapat dalil bahwasannya boleh ditabuh rebana-rebana dalam pesta pernikahan. Boleh juga didendangkan beberapa kalimat semisal (syair); kami datang kami datang…dst; dan semisalnya selagi bukan lagu-lagu yang membangkitkan kekejian dan kejahatan, yang menyebut-nyebut kecantikan dan keelokan, perbuatan dosa maupun menyemangati untuk meminum khamer. Yang demikian itu hukumnya haram baik pada pesta pernikahan maupun di luar pesta pernikahan, sama halnya haramnya seluruh alat musik yang melenakan.”

(tanya-jawab musik saat walimah – Abu Ammar al-Ghoyami)

Berdasarkan kesaksian dari orang-orang yang telah bertobat dan meninggalkan musik, diperoleh fakta bahwa dalam 3-4 minggu sejak meninggalkan musik :

  • Meningkatnya daya ingat
  • Menjernihkan pandangan dan mempertajam pemikiran
  • Daya analisa jauh meningkat
  • Menghilangkan “Moody”
  • Shalat lebih khusyu dari sebelumnya

Silahkan anda buktikan sendiri !

Masih banyak lagi pernyataan para ulama yang menjelaskan tentang haramnya musik beserta nyanyian.
Semoga apa yang kami sebutkan ini sudah cukup menjelaskan perkara ini.
Wallahu a’lam.

Nikahi Aku, Bukan Pacari Aku

Nikahi Aku, Bukan Pacari Aku

Cowok: “Aku mencintaimu, sungguh-sungguh jatuh cinta kepadamu.”

Cewek: “Kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau mengajakku pacaran?”

Cowok: “Hah, Bukankah karena aku mencintaimu maka karena itulah aku ingin menjadikanmu pacarku?”

Cewek: “Aku tahu. Aku bukan orang bodoh. Jika kau mencintaiku, kenapa menginginkanku melakukan hal yang tak berguna untuk hidupku?”

Cowok: “Hal yang tidak berguna, bukankah pacaran merupakan satu jalan untuk mencapai kesaling-mengenalan antara aku dan kau?”

Cewek: “Aku tidak sependapat denganmu. Maafkan aku.”

Cowok: “Tidak apa-apa.”

Cewek: “Apa kau masih ingin menjadikanku pacarmu?”

Cowok: “Iya. aku tidak akan menyerah.”

Cewek: “Kalau begitu, sampai kapanpun aku tidak akan mau menerimamu. Karena kau hanya ingin menjadikanku lampiasan nafsumu.”

Cowok: “Tapi aku mencintaimu.”

Cewek: “Tidak, aku tidak percaya kau mencintaiku. Kita sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan sia-sia. Hidup ini serius dan pasti akan ada pertanggungjawabannya.”

Cowok: “Akan aku buktikan kepadamu. Aku serius.”

Cewek: “Akan kau buktikan dengan apa. Dengan menungguku sampai aku mau? Ah basi. Banyak orang melakukannya begitu, dan banyak pula perempuan yang berhasil dibodohi. Sayangnya aku tidak sama dengan kebanyakan perempuan lain. Kau tidak akan berhasil.”

Cowok: “Lalu dengan apa aku membuktikannya?”

Cewek: “Serius kau ingin membuktikannya?”

Cowok: “Iya.”

Cewek: “Datanglah kepada kedua orangtuaku dan minta ijinlah kepada mereka untuk menikahiku. Bukan memacariku. Sanggup?”

Cowok: “Baiklah. Aku sanggup.”

http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2012/10/04/nikahi-aku-bukan-pacari-aku/

Sudah Benarkah Waktu Subuh Kita… ?? (SHOLAT SEBELUM MASUK WAKTUNYA BISA TIDAK SAH)

SUDAH BENARKAH WAKTU SUBUH KITA?

Beberapa waktu lalu yaitu tepatnya hari Senin, 17 Agustus 2009 diadakan sebuah kajian oleh Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Tema yang dibahas cukup hangat untuk di bicarakan (tapi bukan tentang kemerdekaan RI lho..) yaitu mengenai kontroversi waktu sholat subuh di negri kaum muslimin, termasuk Indonesia.

Cukup mengaggetkan memang, kenapa? Karena ternyata sholat Subuh kita selama ini terancam tidak sah dikarenakan waktunya yang tidak pas / tidak sesuai dengan waktu yang di tetapkan oleh syariat. Dalam hal ini berdasarkan dari hasil survey dilapangan dengan jadwal sholat abadi ternyata lebih cepat 20 menit..
20 Menit…!!! Padahal, Allah Berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa`: 103)

Hal inilah yang sekarang menjadi masalah dan dilematis, terutama bagi kita yang hidup ditengah masyarakat yang awam akan ilmu agama. Sangat susah untuk langsung menerapkan ilmu yang baru didapatkan ini ke masyarakat. Makanya kami merasa perlu untuk menyampaikan setidaknya berusaha sesuai dengan kemampuan melalui tulisan ini kepada para pembaca sekalian. Harapanya kita bisa saling sharing dan tukar informasi dengan masalah baru ini. Karena hal ini merupakan masalah serius kaum muslimin yang harus segera diselesaikan. Semoga artikel ini bisa bermanfaat sehingga dapat disebarkan dan didakwahkan kepada seluruh kaum muslimin sebagai bentuk rasa keprihatinan atas kejadian seperti ini. Berikut kami paparkan penjelasan-penjelasan lebih mendetail mengenai masalah ini. Sumber yang kami peroleh dari Majalah Qiblati melalui situsnya.

Latar Belakang Kesalahan

Sesungguhnya jadwal waktu shalat yang dipakai sekarang ini hampir di semua Negara Islam, diambil dari penanggalan Mesir yang dibuat oleh seorang insinyur Inggris pada saat penjajahan Inggris atas Mesir. Insinyur ini ingin membuat penanggalan untuk penentuan waktu di Mesir. Ia bersama beberapa guru besar dari Al-Azhar berkumpul di Padang Sahara Jizah, kemudian dari tempat itu, juga berdasarkan letak garis bujur dan garis lintang, berdasarkan perhitungan waktu Greenwich, dibuatlah penentuan waktu harian, diantaranya adalah waktu shalat.

Orang-orang Mesir sendiri waktu itu mengakui bahwa penentuan waktu tersebut menyelisihi waktu-waktu shalat yang dipakai pada masa Muhammad Ali Basya dan Negara Turki Utsmaniyah, yang mengandalkan bayangan (matahari) dan analoginya serta berdasarkan terbitnya fajar shadiq.

Penanggalan Mesir yang dibuat tersebut tidak dihitung berdasarkan penentuan waktu shalat yang benar, melainkan berdasarkan perhitungan garis lintang dan garis bujur yang sekarang ini diberlakukan secara luas (umum) pada setiap Negara. Sepengetahuan saya, tidak ada satu negara pun melainkan memakai perhitungan dengan cara ini. Termasuk yang paling mengherankan adalah negara-negara ini mengakhirkan (menunda) shalat dari setelah adzan lima menit untuk shalat maghrib hingga dua puluh lima menit untuk shalat-shalat yang lain. Itu dilakukan agar kesalahan penentuan waktu bisa sedikit dihindari. Tentu ini tertolak, karena masuknya waktu berdasarkan perintah syariat adalah adzan, bukan iqamah.

Masuknya waktu adalah syarat sahnya shalat

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa`: 103)

Agar tidak berpanjang lebar, perlu kami jelaskan langsung kapan sebenarnya mulai dilaksanakan waktu subuh, karena termasuk syarat terpenting bagi sahnya shalat adalah masuknya waktu. Ibn Abdilbarr mengatakan, “Shalat tidak sah sebelum waktunya, ini tidak diperselisihkan di antara ulama.” Dari kitab al-Ijma’ karya Ibn Abdilbarr -Rahimahullah-, hal. 45.
Makna fajar menurut ahli bahasa dan ulama fikih:
Menurut Ibn Mandzur, al-Fajr adalah, “Cahaya Subuh, yaitu semburat merah di gelapnya malam karena sinar matahari.
Ada dua fajar,
1. Meninggi (mustathil) seperti ekor serigala hitam (sirhan), disebut fajar kadzib
2. Melebar (memanjang, mustathir) disebut fajar shadiq, yaitu menyebar di ufuk, yang mengharamkan makan dan minum bagi orang yang berpuasa. Subuh tidak masuk kecuali pada fajar shadiq ini.” Lisanul Arab (5/45)

Dengan demikian, kita mengetahui kata al-Fajr dalam bahasa Arab dimaksudkan awal terangnya siang hari, dan bahwa fajar itu ada dua, yang pertama fajar kadzib, dan fajar shadiq, dan bahwa yang berkaitan dengan hukum syariat seperti menahan diri dari makan dan minum bagi orang yang puasa, serta awal waktu shalat, serta shalat sunnah Subuh, yaitu fajar shadiq.
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir , Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda:“Fajar ada dua, fajar yang seperti ekor serigala tidak boleh shalat dan tidak mengharamkan makanan. Adapun fajar yang menyebar di ufuk maka boleh shalat dan tidak boleh makan.” (Shahihul Jami’ no. 4278)

Syaikh Ibn Utsaimin -Rahimahullah- mengatakan, “Para ulama menyebutkan bahwa antara fajar kadzib dan fajar shadiq ada tiga perbedaan:

1. Fajar kadzib mumtad (memanjang) tidak mu’taridh (menghadang); Mumtad maksudnya memanjang dari timur ke barat. Sedangkan fajar shadiq melebar dari utara ke selatan.
2. Fajar kadzib masih gelap, artinya cahaya fajar ini sebentar kemudian gelap lagi. Sedangkan fajar shadiq tidak dalam keadaan gelap, bahkan semakin lama semakin terang cahayanya (karena merupakan awal siang).
3. Fajar shadiq bersambung dengan ufuk, tidak ada kegelapan antara fajar ini dengan ufuk. Sedangkan fajar pertama, terputus dari ufuk, ada kegelapan antara fajar kadzib dan ufuk.

Kerusakan akibat adzan sebelum fajar shadiq

1. Kebanyakan jama’ah, menyegerakan dalam melaksanakan shalat sunnah fajar, langsung setelah masuk masjid, dengan begitu ia telah shalat sunnah fajar sebelum waktunya.
2. Bersegera dalam makan sahur, tentu ini menyelisihi sunnah nabi –Shalallahu alaihi wasalam-.
3. Shalatnya orang sakit dan orang tua di rumah-rumah, atau orang yang begadang semalaman hingga waktu fajar, yang langsung setelah adzan.
4. Shalatnya kaum wanita di rumah-rumah, yang kebanyakan mereka langsung mengerjakan shalat selesai adzan.
5. Manusia yang sedang di stasiun, terminal dan bandara, langsung melaksanakan shalat setelah adzan. (yang berarti shalat mereka tidak sah karena dilakukan sebelum waktunya).

Fajar pertama ini (kadzib) tidak berkaitan dengan hukum syariat apapun, tidak menjadi awal menahan diri dari makan minum ketika puasa, tidak pula awal masuknya waktu Subuh. Hukum-hukum yang disebutkan ini berkaitan dengan fajar kedua, yakni fajar shadiq.” Syarhu Al-Mumti’ (2/107-108).

Beberapa ikhwah kita telah membuktikan langsung kelapangan yaitu ke salah satu pantai di Yogyakarta pada tanggal 20 Agustus 2009. Saat itu fajar shodig baru mulai muncul pada pukul 04.45 sedangkan adzan di sebagaian besar Masjid di Yogyakarta ini rata-rata mulai pukul 04.30. Hal ini merupakan sebuah fakta yang menjadi keprihatinan kita bersama sebagai umat muslim untuk segera membenahi kekeliruan yang ada.

Demikianlah paparan singkat dari kami. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua kaum muslimin. Terutama bagi mereka kaum muslimin yang sedang udzur tidak sholat berjamaah dimasjid dan kepada kaum wanita yang sholat dirumah, setelah membaca artikel ini harap segera memperhatikan waktu sholat subuhnya.Diharapkan pula kepada seluruh kaum muslimin yang mempunyai media untuk menyampaikan artikel tentang masalah ini baik dengan blok, website, facebook, madding masjid, dll.

Sesungguhnya Kami dan (selaku sumber rujukan kami) ketika mengutip makalah yang sangat serius ini dari Majalah Qiblati semata mengharapkan wajah Allah, kemudian untuk memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang agama dan shalat kaum muslimin, mengingat penting dan seriusnya masalah sementara orang yang menyadarinya tidak sebanding dengan besarnya persoalan. Harapannya adalah ketika setiap muslim memahami masalah ini, kemudian serius mengkaji dan menelaah serta mencoba memberikan dan mencarikan solusi, sehingga pada akhirnya kita bisa menjalankan kewajiban shalat Subuh dengan hati tenang, dan lebih dari itu, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh syariat. Dengan kata lain menjadi amalan yang sah dan diterima di sisi Allah.

Kami Ucapkan Jazaakumulllahu Khoiron kepada Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhair dan team majalah Qiblati yang telah merelakan waktu dan pikirannya untuk menyampaikan masalah penting ini.

(Sumber : http://elkofarma.wordpress.com/2009/08/26/sudah-benarkah-waktu-subuh-kita%E2%80%A6/)

KESAKSIAN DAN FATWA PARA ULAMA

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (Mesir, w. 1354 H/ 1935)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Termasuk sikap ghuluw (berlebihan) kaum khalaf (generasi belakangan) dalam menetapkan batasan-batasan lahiriyyah tetapi mengabaikan perbaikan batin dengan iman dan takwa adalah mereka menetapkan awal fajar dan mengikatnya dengan hitungan detik, serta menambah 20 menit sebelumnya untuk imsak (bagi yang puasa) demi kehati-hatian, padahal kenyataannya terangnya putih siang (fajar) tidak nampak pada manusia kecuali kira-kira setelah 20 menit.” (Tafsir al-Manar: 2/184)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

بالنسبة لصلاة الفجر المعروف أن التوقيت الذي يعرفه الناس ليس بصحيح، فالتوقيت مقدم على الوقت بخمس دقائق على أقل تقدير، وبعض الإخوان خرجوا إلى البر فوجدوا ان الفرق بين التوقيت الذي بأيدي الناس وبين طلوع الفجر نحو ثلث ساعة، فالمسألة خطيرة جدا، ولهذا لا ينبغي الإنسان في صلاة الفجر أن يبادر في إقامة الصلاة، وليتأخر نحو ثلث ساعة أو (25) دقيقة حتى يتيقن ان الفجر قد حضر وقته

“Sehubungan dengan shalat Fajar, (Sebagaimana) yang diketahui bahwa penentuan waktu yang dikenal manusia sekarang tidaklah benar. Penentuan waktu tersebut mendahului waktu Fajar yang benar dengan perkiraan minimal 5 menit sebelum masuk fajar shadiq. Sebagian saudara kami pergi keluar menuju ke tanah lapang (pedalaman) dan mereka mendapatkan bahwa selang waktu antara waktu berdasarkan penanggalan yang dikenal manusia dan terbitnya fajar sekitar sepertiga jam (20 menit). Masalah ini sangat serius, karena itu tidak seharusnya seseorang bersegera melaksanakan shalat, dan hendaknya mengakhirkan hingga sepertiga jam (20 menit) atau 25 menit, hingga benar-benar yakin bahwa fajar telah masuk.” (Syarh Riyadhussalihin, 3/216)

Syaikh juga mengatakan:

“Alamat atau tanda-tanda ini (fajar shadiq) di zaman kita sekarang menjadi samar, dan manusia lebih mengandalkan penanggalan serta jam, akan tetapi semua sistem penanggalan ini berbeda. Jika ada dua penanggalan berbeda, yang keduanya sama-sama dari pakar hisab atau perhitungan waktu, maka kita memilih yang lebih lambat pada setiap waktu shalat, karena hukum asalnya adalah belum masuk waktu. Para ulama telah menyatakan hal ini, sekiranya seseorang berkata kepada dua orang, “Tolong kalian perhatikan munculnya fajar!” Kemudian salah satunya berkata, “Telah terbit”, sedangkan yang kedua mengatakan, “Belum terbit,” maka ia boleh makan dan minum hingga keduanya bersepakat, di mana orang yang kedua mengatakan, “Benar, Fajar telah terbit.” Maka saya pribadi akan memilih penanggalan yang lebih lambat.” (Syarhu Al-Mumti’, 2/48)

Beliau juga berkata:

“Sesungguhnya, jika seseorang merasa yakin bahwa fajar belum muncul, maka haram baginya mengumandangkan adzan, karena masalah waktu ini sangat serius, sebab seandainya ia adzan sebelum waktunya sekalipun satu menit, kemudian ada orang yang bertakbir takbiratul ihram sebelum masuk waktu subuh, maka tidak diragukan lagi orang yang mengumandangkan adzan telah menipu manusia dan mengharuskan mereka shalat sebelum masuk waktunya.”

Beliau menambahkan, “Yang harus dilakukan adalah meneliti hal ini, karena sangat bermasalah, dan yang tampak bagi saya bahwa adzan Subuh pada setiap waktu sepanjang tahun dilakukan sebelum waktu yang sebenarnya. Ada pendahuluan sekitar 5 menit sepanjang waktu setahun.” (Liqa` al-bab al-maftuh, 7/41)

Ini adalah pendapat Syaikh Ibn Utsaimin dalam beberapa acara yang berbeda, yang semuanya menunjukan adanya kesalahan.

Berikutnya mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam masalah ini:

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri berkali-kali dari rumah saya di gunung Himlan -sebelah tenggara Amman (Yordania)- hal itu memungkinkan saya untuk meyakinkan kebenaran yang disebutkan sebagian orang yang memiliki kecemburuan terhadap agama, untuk meluruskan ibadah kaum muslimin, bahwa adzan Fajar di sebagian Negara Arab dikumandangkan sebelum fajar shadiq dengan lama waktu berkisar antara 20-30 menit, bahkan sebelum muncul fajar kadzib sekalipun. Sering saya dengar iqamah untuk shalat fajar dari sebagian masjid bersamaan dengan terbitnya fajar shadiq, artinya mereka talah adzan sebelum itu sekitar setengah jam. Dengan demikian, berarti mereka telah shalat sunnah fajar sebelum waktunya, dan bisa jadi mereka menyegerakan melaksanakan kewajiban (puasa) sebelum waktunya di bulan Ramadhan. Dalam hal ini tentu mengandung penyempitan bagi manusia dalam hal menyegerakan menahan diri dari makanan (sahur), serta menyebabkan shalat fajar terancam batal. Semua itu disebabkan karena mengandalkan penentuan waktu berdasarkan perhitungan falak (penanggalan) dan berpaling dari penentuan waktu berdasarkan syariat sbagaimana disebutkan dalam firman Allah (al-Baqarah: 187). Juga hadits Nabi r:

وكُلُوا واشْرَبُوا حتى يَعْتَرِضَ لكُم الأحْمَرُ

“Makan dan minumlah hingga nampak (menghadang) pada kalian garis merah (sinar merah awal pagi, Astronomical Twilight).”

Ini adalah peringatan, sedangkan peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (Silsilah al-Shahihah, nomor 2031, 5/52)

Di sini Syaikh Al-Albani juga menegaskan adanya kesalahan, dan bahwa di bulan Ramadhan hal itu lebih banyak terjadi, sebab orang yang memperhatikan perbedaan waktu antara adzan fajar di bulan Ramadhan dan lainnya, ia bisa mengetahui bahwa di bulan Ramadhan bertambah dari 5 hingga 10 menit.

Syaikh Dr. Taqiyyuddin al-Hilali al-Husaini (Maghribi Afrika Utara, w. 1407 H/ 1987 M).

Syaikh Dr. Taqiyyuddin al-Hilali dalam Risalnya yang berjudul al-Fajr al-Shadiq halaman 5 mengatakan: “Saya dapatkan berdasarkan penelitian, pembuktian dan pengamatan yang maksimal dan berkali-kali dari orang-orang yang sehat pandangan matanya, dan saya termasuk didalamnya, karena saya pada waktu itu melihat sendiri fajar dengan jelas tanpa kesamaran bahwa waktu Maghribi (Maroko, Afrika Utara) untuk adzan subuh tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh syariat. Muadzin menyuarakan adzan sebelum jelasnya kemunculan fajar menurut ukuran syar’i. Maka adzannya pada waktu itu tidak menghalalkan shalat subuh dan tidak mengharamkan makan sahur. Maka saya menfatwakan yang demikian dan mengamalkannya hingga hari ini, tahun 1394 H)

Syaikh Musthafa Al-Adawi Al-Mishri dalam risalahnya yang berjudul Mawaqitu Al-Falati fi Mawaqiti As-Shalati (hal. 127), mengatakan, “Di sebagian Negara Arab, bahkan pada sebagian besarnya, adzan fajar dikumandangkan sebelum fajar kedua terbit, yaitu fajar shadiq. Saya sendiri telah meneliti munculnya fajar di kampung saya, ternyata benang putih (Al-Khaitu Al-Abyadh) yakni fajar shadiq muncul setelah dikumandangkannya adzan berdasarkan waktu yang mengandalkan penanggalan, dengan jeda waktu sekitar sepertiga jam (20 menit).”

Perlu diketahui, bahwa kesalahan yang terjadi di negara-negara Arab, itu masih lebih sedikit jika dibandingkan di Indonesia. Dan Saudi Arabia terbilang paling baik dan paling minim kesalahannya di antara semua Negara Arab. Karena orang yang shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabi, ia bisa melihat setelah selesai shalat semburat sinar terang yang merupakan tanda awal siang, sementara di Indonesia tidak kami temui (semburat terang itu) kecuali kira-kira setelah lebih 20 menit berikutnya.

Sekalipun Saudi Arabia merupakan Negara yang paling baik dalam hal ini, akan tetapi para ulama tetap memberikan perhatian, dan mereka sangat menganjurkan untuk mengakhirkan waktu adzan. Jika demikian, bagaimana lagi dengan Indonesia, padahal faktanya seperti yang telah kita ketahui sebelumnya?

Kalender-kalender Islam.

Sesungguhnya sistem penanggalan di Negara-negara Islam tidaklah muncul dari orang-orang yang spesialis dalam bidang syariat, tidak pula di bawah pengawasan instansi agama. Pada sebagian negara kita dapati bahwa yang bertanggung jawab atas sistem penanggalan adalah departemen keuangan. Di sebagian negara yang lain penanggungjawabnya departemen wakaf, dan disebagian lagi di bawah departemen kehakiman. Sebatas yang saya ketahui tidak ada departemen agama di Negara Islam yang bertanggung jawab dalam penentuan penanggalan. Sekali lagi ini sebatas yang saya ketahui!

Sungguh sangat disayangkan, panitia atau kelompok yang menyiapkan penanggalan di Negara-negara Islam, tidak dilibatkan di dalamnya ulama syari’ah –sepengetahuan saya– karena ulama syari’ah mampu menentukan terbitnya fajar shadiq sebagaimana dalam sunnah Nabi r, dan setelah itu para pakar hisab bisa membangun perhitungan penanggalan berdasarkan arahan dari ulama syari’ah.

Ini tidak berarti bahwa melihat fajar shadiq merupakan masalah sulit, akan tetapi hanya dibutuhkan orang yang paham dan mengenalnya. Penentuan munculnya fajar shadiq adalah masalah mudah, karena bisa dilihat dengan mata telanjang di tempat manapun. Fajar shadiq tidak seperti hilal yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang yang bermata tajam atau dengan alat penginderaan jauh. Bahkan fajar shadiq termasuk hal yang bisa dilihat oleh semua orang, besar maupun kecil, orang alim maupun jahil. Ia tidak mengandalkan apapun selain penglihatan mata.

Jalan keluar dan solusi:

1. Kajian terhadap masalah ini dari pihak yang bertanggungjawab, kemudian melihatnya dengan penuh pertimbangan dan perhatian, sehingga shalat kaum muslimin tidak masuk dalam katagori batal (tidak sah).

2. Membentuk sebuah kelompok kerja yang terdiri dari ulama dan pakar astronomi (hisab) untuk meneliti ulang penentuan waktu shalat yang ada dalam sistem penanggalan.

3. Kami nasehatkan kepada para muadzin untuk mengakhirkan adzan Subuh, begitu pula mengakhirkan iqamah sebisa mungkin.

4. Kami nasehatkan kepada para imam dan muadzin untuk harus mengenal dan mengetahui fajar shadiq sebagaimana disebutkan dalam sunnah Nabi, dan jangan sampai mereka menanggung batalnya shalat kaum muslimin.

5. Kami nasehatkan kepada kaum wanita dan orang-orang yang sakit yang shalat di rumah, agar tidak menjadikan adzan di masjid-masjid (sekarang) sebagai ukuran masuknya waktu, tetapi hendaknya mengakhirkan hingga selesainya jamaah di masjid-masjid, kira-kira 25 menit sesudah adzan.

6. Kami nasehatkan saudara-saudara yang tidak mau ikut shalat berjamaah di masjid-masjid (sekarang) untuk tetap menetapi jama’ah dan nasehat dengan penuh adab dan ketenangan, karena dosa akan dipikul pihak-pihak yang bertanggungjawab, begitu pula pada pundak-pundak muadzin dan imam di setiap masjid.

Penutup

Sesungguhnya Majalah Qiblati ketika menurunkan makalah yang sangat serius ini semata mengharapkan wajah Allah, kemudian untuk memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang agama dan shalat mereka, mengingat penting dan seriusnya masalah sementara orang yang menyadarinya tidak sebanding dengan besarnya persoalan. Harapannya adalah ketika setiap muslim memahami masalah ini, kemudian serius mengkaji dan menelaah serta mencoba memberikan dan mencarikan solusi, sehingga pada akhirnya kita bisa menjalankan kewajiban shalat Subuh dengan hati tenang, dan lebih dari itu, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh syariat. Dengan kata lain menjadi amalan yang sah dan diterima di sisi Allah.

Selanjutnya Majalah Qiblati akan menjalankan perannya, dengan menyampaikan masalah ini -insyaallah- kepada Departemen Agama Republik Indonesia, MUI, serta pihak-pihak terkait sebagai pelepasan tanggung jawab di hadapan Allah nanti.

Perlu diketahui, bahwa jumlah serial makalah dalam hal ini sedianya lebih dari 3 seri, akan tetapi kami ringkas, agar kita bersegera dapat ikut andil membantu instansi yang berwenang memberikan solusi. Hal-hal yang belum kami sebutkan, insya Allah akan kami turunkan dalam pembahasan khusus ketika menjawab pertanyaan atau tanggapan dari para pembaca yang mulia, jika ada.

Kami mohon kepada Allah agar memberikan kepada pihak yang berwenang petunjuk kepada kebaikan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk itu. [*]

(Sumber : Majalah Qiblati Edisi 10 Volume 4)

JAWABAN SYAIKH MAMDUH FARHAN ALBUHAIRI TERKAIT KONTROVERSI WAKTU SUBUH

SOAL : Ada sebagian ahli Falak yang bertanya tentang keahlian syaikh mamduh dalam ilmu falaq.

JAWAB : Siapa yang bertanya dengan pertanyaan seperti ini dengan maksud bahwa hal itu sebagai syarat untuk diterimanya pernyataan dan tulisan seseorang dalam tawqit (jadwal) shalat, maka pertanyaan itu adalah bukti kelemahan ilmunya, karena hal ini berarti bahwa tidak ada seorangpun bisa sholat fajar di padang pasir, hutan, dan pedalaman kecuali orang2 ahli falak!? dan seluruh orang arab sejak zaman dulu, yang memahami bahasa arab (bahasa alquran dan hadits), tidaklah sholat fajar pada waktunya yang benar, karena mereka bukanlah ahli falak, dan tidak ditemukan pada diri mereka keahlian dalam bidang ilmu falak?!
Cukuplah pertanyaan ini mengandung kekurangan besar dalam memahami masalah fajar shadiq, karena mereka jauh dari keahlian syar’i. Bagi sebagian mereka seakan-akan ilmu syar’i itu tidak memiliki nilai dalam permasalahan ini? Dan tentu saja, ini merupakan kekurangan dan aib besar atas mereka. Meskipun kami sangat menghormati saudara2 kami para ahli astronomi, namun kami meragukan keahlian mayoritas mereka. Mereka telah gagal, karena tidak mungkin bersepakat atas suatu derajat tertentu yang bisa mereka amalkan secara bersama2. Pertanyaannya adalah, mengapa perselisihan terjadi di antara mereka sehingga kita menjadi ragu terhadap keahlian mayoritas mereka? Jika tidak demikian (artinya mereka benar dalam penentuan sholat karena dibangun di atas landasan ilmu falak), maka akal tidak bisa menerima perselisihan mereka dalam memilih derajat yang masanya terpaut jauh, kemudian mereka berusaha meyakinkan manusia bahwa masing2 mereka memiliki keahlian?!!
Kami telah menetapkan pada edisi 11 th.IV (Fajar Shadiq (4) bahwa selisih jauh antara ahli falak dalam penentuan waktu fajar shadiq mencapai 20 derajat. Tahukah anda apa penyebabnya? penyebab perselisihan tersebut adalah bahwa mereka berpegang pada teori ilmiah falakiyyah, tanpa membuktikannya di alam terbuka dan melihat dengan mata kepala sebagaimana yang disyariatkan oleh alQur’an dan assunnah dan praktek salaf shalih. Cukuplah bagi kami pengakuan salah seorang mereka, bahwa menurutnya tidak disyaratkan bagi seorang peneliti untuk meneliti di alam dan melihat secara langsung. Kemudian, sesungguhnya fajar shadiq ini pertama kali terikat dengan ilmu syar’i kemudian yang kedua terkait dengan ilmu falak. kami telah menetapkan kesalahpahaman ahli falak terhadap nash2 nabawi. Saya kira hal ini tidak lagi memerlukan bukti, karena perkara ini lebih terkenal daripada api yang ada di atas (tiang) bendera. Maka di manakah keahlian syar’i yang seharusnya dituntut pertama kali (sebelum yang lain)?!

SOAL : Terdapat seorang da’i yang berkata, bahwa ada sekelompok manusia ahli yang melihat fajar shadiq untuk Abdullah bin Ummi Maktum, dan tidaklah semua sahabat bisa melihat, maka apa tanggapan Anda?

JAWAB : Ini adalah sebuah celaan besar kepada sebagian besar para sahabat. ini juga sebuah penghinaan terhadap keilmuan mereka. jika para sahabat yang guru mereka adalah Nabi tidak mengetahui waktu fajar shadiq, maka siapakah yang mengetahuinya?! Bagaimana orang2 arab badui yang memahami bahasa arab, mengetahui fajar shadiq sementara para sahabat tidak mengetahuinya padahal mereka mengambil ilmu langsung dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam?!
maka mudah2an Allah mengampuni orang yang mengaku punya ilmu tersebut yang secara tidak langsung telah mencela para sahabat, sekalipun saya berhusnuzhon kepadanya bahwa hal itu keluar darinya tanpa maksud demikian. sungguh ini musibah besar, jika dikatakan bahwa dia mengetahui fajar shadiq sementara para sahabat tidak mengetahuinya.
lalu darimana dia membawa keterangan bahwa dulu ada orang2 khusus (yang ditunjuki) untuk melihat fajar bagi ibnu ummi maktum, dan bukan keseluruhan atau sembarang sahabat?! yang kami inginkan, mana sumbernya?
sesungguhnya kami, dari mimbar majalah qiblati menuntutnya dan yang semisalnya untuk menjelaskan fajar shadiq di alam terbuka agar manusia bisa melihat tingkat kejujuran mereka.
sebagaimana kami bersama sebagian orang yang menuntut adanya koreksi, kami telah keluar dengan kelompok2 yang berbeda di sebagian wilayah indonesia, dan kami telah menetapkan fajar shadiq keluar kurang lebih 20 menit setelah adzan, serta kami kuatkan hal itu dengan foto. dari sini kami meminta pihak lain, apakah mereka para dai atau ahli ilmu falak untuk mengutus satu tim hingga mereka menetapkan bagi manusia bahwa keluarnya fajar shadiq telah sesuai dengan jadual waktu adzan yang berlaku di indonesia, dan menguatkan hal tersebut dengan foto sebagaimana yang kami lakukan.
jika seseorang dimuliakan Allah dengan ilmu, maka ia akan mengecek kebenaran satu masalah baru kemudian berbicara, bukan berbicara dulu tanpa mengecek kebenaran masalah tersebut. kami bersyukur kepada Allah, mereka telah melibatkan diri dalam permasalahan ini, karena akan tersingkaplah kebenaran fajar shadiq, cepat atau lambat dengan izin Allah.

SOAL : Ada ummahat menelepon seorang da’i, dan memberitahukan bahwa dia telah melihat fajar kadzib, yang kemudian diikuti oleh fajar shadiq dari lantai atas rumahnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh qiblati. maka dai itupun tidak mempercayainya, dengan dalih bahwa fajar shadiq itu telah terbit sebelumnya dan tempatnya tidak cocok untuk melihat fajar shadiq, dan sebelum itu sang dai menyebut bahwa majalah qiblati adalah orang2 kerdil.

JAWAB : Pertama, aku memohon kepada Allah agar memberikan segenap taufik kepada wanita tersebut di dunia dan akhirat atas semangatnya mengikuti sunnah sebagaimana aku juga memohon kepada Allah agar Allah meninggikan derajatnya, sebagai ganti atas ketidakpercayaan dai tersebut kepadanya. mudah2an Allah membalasnya dengan segenap kebaikan.
Adapun jawaban dai tersebut -mudah2an Allah memberinya hidayah kepada alhaq- adalah sebuah jawaban yang dengannya dia ingin mengaburkan masalah ini atas manusia, serta membela diri dengan kebatilan. jika tidak, maka kami tuntut dia untuk menjelaskan kepada manusia tentang fajar shadiq yang telah terbit sebelum itu dengan disertai satu tim yang terpercaya, karena perkara ini sangat sederhana.
kami ingin, saat masuknya adzan subuh di kotanya, dia mengisyaratkan tangannya ke ufuk dan mengatakan, “Lihat, inilah fajar shadiq!” pada saat itu, semua orang akan menjadi yakin siapakah sebenarnya yang berhak mendapatkan gelar orang2 kerdil, sebuah gelar yang dia berikan kepada kru majalah qiblati, yang lisan2 kami menghindari seorang manusia, jika dia bukan seorang dai, maka minimal dia tidak mengatakan perkataan seperti itu agar manusia tidak berkata bahwa keluarganya tidak baik dalam mendidiknya. Mudah2an Allah memberinya hidayah kepada alhaq.

SOAL : Salah satu dai menyalahkan majalah qiblati seraya mengatakan: “Apakah mungkin, penetapan para ulama di dunia semenjak bertahun2 yang lalu terhadap kebenaran jadwal, dan sesuainya jadwal tersebut dengan waktu2 sholat, serta kesepakatan yang telah diwarisi dari satu generasi ke generasi ini bisa dibandingkan dengan majalah qiblati yang bukan apa2? kemudian dia berdalil dengan firman Allah :”Katakanlah: ‘adakah sama orang2 yang mengetahui dengan orang2 yang tidak mengetahui?” (QS.azZumar:9)

JAWAB : aku tidak tahu, apakah anda itu menukil ucapan seorang ustadz atau ucapan orang awam. karena hal itu tidak akan diucapkan oleh seorang manusia yang mengetahui abc-nya ilmu. Pada ucapannya bahwa para ulama sejak masa yang lampau telah menetapkan kebenaran jadwal sholat ini mengandung kerancuan dan pemalsuan dari sisi bahwa dia ingin memahamkan kepada manusia bahwa seluruh ulama telah sepakat atas jadwal tersebut!
ini sama sekali tidak benar, dan tertolak. kami menuntutnya, dengan segenap kemudahan untuk menyebut nama seluruh ulama tersebut yang menetapkan kebenaran jadwal. karena dia tidak akan mungkin melakukannya, maka orang2 berakal akan menjadi yakin bahwa tidak semua ulama menetapkannya, seperti yang dia inginkan untuk mengaburkan masalah ini kepada mereka. hadahullah.
kemudian, hingga sebagian ulama, saat mereka menetapkan jadwal tersebut, mereka menetapkannya dengan adanya perbedaan masa pada taqwim (jadwal) itu, maka bagaimana mereka itu adalah sebuah kebenaran yang disepakati?!
apakah masuk akal bahwa para ulama di sebuah negri menetapkan keabsahan jadwal mereka yang berpegang pada 18 derajat, kemudian kita jadikan sesuai dengan para ulama di negri lain yang menetapkan keabsahan jadwal mereka yang berpatokan pada 19 derajat?! jadi saling mewarisi. jika hal itu terjadi maka itu adalah saling mewarisi sesuatu yang dibangun di atas kesalahan, dan apa yang dibangun di atas kesalahan adalah sebuah kebatilan. lalu bagaimana kita jadikan saling waris yang memiliki perbedaan antara satu kesatuan dan kesepakatan?! kita tidak akan mengatakan hal itu kecuali kalau kita adalah para pengikut hawa nafsu, mudah2an Allah melindungi kita dan para pembaca serta kaum muslimin semua darinya.
dengan qiyas ini, dia telah mendatangkan madharat kepada dakwah dari arah yang tidak dia ketahui. karena berdasarkan logika seperti ini, akan menjadikan orang lain mengatakan bahwa tawasul dan isthigotsah (meminta hajat) kepada orang yang telah mati adalah benar, karena itu diwarisi dari ulama2 kami, berabad2 sebelum diterbitkannya jadwal, jadi warisan kami lebih utama untuk dihormati, karena ia lebih tua!?
dengan qiyas tersebut, orang2 syiah rafidhah akan mengatakan bahwa agama mereka benar, karena mereka warisi dari para ulama kami sejak berabad2 yang lalu, dan warisan ini lebih utama dihormati daripada jadwal sholat yang belum genap satu abad?!
jadi, warisan itu tidak selamanya menjadi dalil bagi kebenaran. oleh karena itulah, tidak layak menjadikan warisan itu sebagai dalil, bahkan dalil itu dari alquran dan sunnah, itulah hujjah dan bukti. sekalipun demikian kami mengalah, dan menerima warisan tersebut, akan tetapi dengan syarat, dia tunjukkan kepada kami kemunculan fajar shadiq yang sesuai dengan adzan indonesia. jika dia bisa, maka silahkan dia sendiri yang menentukan tempat dan waktu yang tepat.
adapun ucapan bahwa majalah itu bukan apa2, maka ini adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah taala. saya kira pembaca memiliki akal, dan memahami bagian kedua dari ayat yang dia gunakan : “Katakanlah: ‘adakah sama orang2 yang mengetahui dengan orang2 yang tidak mengetahui?” (QS. azZumar:9).

SOAL : Teman saya tanya kepada seorang utadz yang insya Allah dia nyunnah, tapi dia bilang mengakhirkan waktu subuh karena menunggu fajar shodiq adalah bid’ah, alasannya itu karena pergeseran rotasi bumi. Mohon penjelasan ustadz karena ana sedih dan kecewa dengan jawaban ustadz yang belum melihat bukti dan dalil, sudah bilang bid’ah.

JAWAB : Wa’alaikumussalam. semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita semua. ada baiknya jika antum (atau teman antum) tanyakan kepada beliau, pengaruh rotasi bumi terhadap ufuk dan posisi matahari, seberapa signifikan, berapa derajat, berapa menit, dst. Mengapa demikian? sebab upaya koreksi jadual sholat subuh ini juga disuarakan oleh ahli falak atau pakar astronomi, bukan omong kosong yang hanya bisa ditepis dengan alasan2, seperti “Ah sudah ada ahlinya kok?” atau “Ngapain repot2 sih?” atau “Ulama sejak abad 9 sudah menjelaskan hal ini” atau “Dari zaman Nabi hingga sekarang, sholat subuh ya begini” dan semisalnya. itu semua tidak mungkin menghasilkan manfaat ilmiah, ketika berhadapan dengan argumentasi yang didukung oleh fakta dan bukti empiris. Pendek kata, kesempatan masih ada dan terbuka lebar, pembuktian masih sangat mungkin, klarifikasi kepada para ahli juga bukan perkara yang mustahil, apalagi yang tersisa? Hanya kemauan. Ya, siapa yang punya “mau” maka ia akan mengambil sebab, melakukan ikhtiar kemudian tawakkal. Entah itu dengan mulai membaca permasalahan dengan seksama dan teliti, atau bertanya, atau mendengar ceramah, dan masih banyak cara yang lain.
terakhir, kami sangat mengharagai kepedulian saudara kami abu wildan, tetapi nasehat untuk kami juga untuk anda khususnya, mari kita pahami masalah berdasarkan bekal dan kemampuan yang kita miliki, kemudian boleh sharing dan bertukar pikiran dengan yang lain, tetapi tanpa harus selalu larut dan mengikuti arus tanpa punya pegangan. ketika saya membaca tentang masalah fajar dan jadual yang ada, kemudian saya sudah menemukan bukti dan ilmunya, maka setelah itu apapun dan siapapun jika tidak mampu membuktikan bahwa ilmu yang sudah saya dapatkan ada kesalahan, maka selama itu pula saya akan memeganginya sebagai prinsip bagi saya. Barangkali itulah yang harus kita miliki bersama, cari ilmu, jangan taklid, dan jangan selalu jadi ekor (imma’ah) serta tidak punya prinsip.
Adapun anggapan mengakhirkan waktu subuh karena menunggu fajar shadiq adalah bid’ah maka sebaik2 jawaban adalah serial iqamat shalat subuh menurut para ulama. (kolom khusus pada majalah qiblati mengenai anjuran ahli ilmu syar’i tentang waktu yang ditetapkan antara adzan ke iqamat beserta penjelasannya: bin baz menganjurkan lebih 25 menit dari jadwal ummul Qura, Sholih Fauzan menganjurkan lebih 20-30 menit dari jadual ummul qura, Salim bin ied alhilali menganjurkan lebih 20 menit dari jadual jordan, Muhammad bin Musa alu Nashr menganjurkan lebih 24 menit dari jadual Yordan, Masyhur Hasan Salman menganjurkan lebih 24 menit dari jadual Jordan, dan akan dimuat lagi pada edisi2 berikutnya dari pendapat ahli ilmu dunia yang lain).
semoga allah melimpahkan rahmat dan hidayah dan rahmatNya kepada anda, kami, dan saudara2 kaum muslimin semua, amin.

SOAL : Assalamualaikum. Ana mendukung kajian tawashau bil haq. Namun yang membuat ana prihatin upaya mulia ini disalahpahami sebagai menyebar keresahan, seperti diucapkan seorang ustadz terkenal di radio, bahkan dengan mengutip fatwa syaikh Fauzan. mohon klarifikasinya.

JAWAB : Waalaikumussalam. Kami juga ikut mendengarkan ceramah tersebut melalui bantuan beberapa teman, itu juga yang kami sayangkan. Percaya atau tidak, hampir semua komentar yang keberatan kemudian mendatangkan pendapat para ulama untuk membantah tulisan qiblati, muaranya sama, yaitu berangkat dari salah memahami maksud qiblati. seakan2 kami membuat waktu tersendiri dan kriteria tersendiri mengenai fajar shodiq yang sama sekali berbeda dengan seluruh ulama Islam dari masa ke masa. Padahal yang kami inginkan sangat sederhana, yaitu fajar shodiq dengan kriteria yang mereka sebutkan dari para ulama. ketika adzan di tempat kita yang berdasarkan penanggalan berkumandang, apakah fajar seperti itu sudah benar2 muncul? itu saja. kalau memang sudah muncul, mengapa harus gundah dan marah2? lalu meracau mengatakan bahwa ini adalah upaya memecah belah umat, atau tasykik (memunculkan keraguan) dst.
kalau kami ditanya, mengapa anda menulis masalah seperti ini? maka kami akan menjawab dengan bukti dan pengamatan, seperti yang kami ulas dalam majalah. silahkan antum semua mempelajari bukti2 tersebut. sebaliknya jika ada pihak yang menentang qiblati dan meyakini bahwa jadual sudah sesuai quran dan sunnah, maka kami minta bukti, mana buktinya?
adapun tentang mengikuti fatwa yang mulia syaikh Fauzan, maka masalahnya berbeda. penanggalan yang dibela oleh beliau adalah penanggalan yang sedikit beda dengan yang berlaku di indonesia. apakah bisa nyambung berargumen seperti itu? apalagi, syaikh fauzan sendiri bangga dan membanggakan sholat fajar yang ditunda 20-30 menit dari jadual ummul qura. apalagi yang bisa dijadikan argumen? belum lagi kalau sejak tanggal 1 muharram 1431 H ini jadual ummul qura untuk fajar shadiq benar2 akan dimundurkan sampai 4 menit, maka gugurlah pembelaan itu dan terbuktilah bahwa koreksi itu bermanfaat walaupun harus memerlukan waktu yang cukup panjang. kemudian mestinya mereka yang berpegang kuat dengan sikap syaikh fauzan hafizhahullah, harus cermat, minimal mereka juga ikut mengakhirkan sholat 22-32 menit dari jadual Depag seperti yang beliau banggakan. semoga Allah mengampuni kami, saudara2 kami, dan kaum muslimin, serta menunjuki kita semua jalan hidayah, amin.

KOMENTAR SALAH SATU AHLI FALAK INDONESIA : SOFYAN SAID, MANTAN STAF B2TKS-BPPT

Kebanyakan saya lihat jadwal2 shalat di berbagai tempat dibuat dengan merujuk jadwal sholat kota besar. Memang ada koreksi plus minus untuk tmpat2 yang jauh dari kota besar. tapi mengandung banyak yang tidak akurat. mungkin ada baiknya setiap masjid/lokasi yang jaraknya lebih 50 km dari kota besar untuk menghitung sendiri jadwal sholat di tempatnya dengan menggunakan software gratis dari “islamic finder” (bisa didownload di internet). ini bisa membantu kaum muslimin yang ada di pedesaan dan pulau2 terpencil. jadi cukup mengukur koordinat posisi tempat (masjid), lalu masukkan data tersebut ke dalam software yang dimaksud di atas.
oleh karena ternyata parameter sudut elevasi matahari saat subuh tidak tetap sebagaimana yang orang duga selama ini (karena tidak ada keinginan menelitinya), yakni parameter tersebut variatif (bentuk sinus) selama setahun, dengan maksimum 15,1 derajat – minimum 14 derajat dan rata2 14,6 derajat. hal ini dipengaruhi oleh perubahan sudut deklinasi matahari selama kurun waktu setahun. dengan kata lain software yang gratisan tersebut belum mengadopsi 365 variasi perubahan tersebut. jadi sebagai jalan keluarnya, tetap kita menggunakan software yang sekarang dengan menganggap/mengambil nilai rata2nya yaitu 14,6 derajat. maka tingkat kesalahan waktu subuh dengan menggunakan parameter ini adalah plus/minus antara 0,6 derajat dan 0,4 derajat atau sebutlah 0,5 derajat. ini setara dengan plus/minus 2 menit (kecil). dan perlu diketahui rata2 orang adzan memerlukan waktu 3 menit. jadi waktu adzan ini bisa menutupi kesalahan kalau penetapan subuh 2 menit lebih awal. dan tidak terlalu fatal apabila penetapan subuh lebih lambat 2 menit.
yang mengherankan kalau kita sudah menggunakan jadwal subuh yang baru (sesuai dengan kaidah fajar shadiq), maka bersamaan kita sholat, ayam2 peliharaanpun pada berkokok melengking menyongsong fajar shadiq. jadi, rupanya ayam lebih peka melihat/membaca perubahan cahaya di ufuk timur. sekian, semoga bermanfaat. wassalam.

JADWAL SHOLAT ALTERNATIF YANG MENGIKUTI FAJAR SHADIQ:

1). Jadwal Sholat yang ditetapkan ISNA (Islamic Society of North America).
2). – Buka www.Qiblati.com, buka menu pojok fajar di kanan atas, download software jadwal di pojok kanan bawah.
– Buka File, lalu ketik di pojok kiri atas, nama kota/kabupaten yang anda inginkan dan sudut subuh: 15 derajat lalu print out.
– Anda bisa mengisi dengan sudut yang lain untuk perbandingan. di pojok kiri bawah ada menu markaz yang berisi daftar kota yang telah ditulis titik koordinatnya.

(Sumber : Majalah Qiblati edisi 02 tahun V, 01-1431 H)

 

 

http://www.facebook.com/note.php?note_id=269713628611&refid=21

JADWAL AWAL MASUK WAKTU SHOLAT SUBUH PEMERINTAH TERLALU CEPAT 20 MENIT ?

sumber: http://www.facebook.com/notes/abu-umarov-al-mazdabovsky/fajar-shodiq-waktu-sholat-shubuh/433493800021099

FAJAR SHODIQ: WAKTU SHOLAT SHUBUH

Setiap muslim pasti ingin shalatnya tepat waktu, namun sayang untuk waktu shalat subuh banyak yang tidak menyadari bahwa ternyata jadwal yang ada problematis. Bagaimana tidak? Saat berkumandang adzan, fajar shadiq belum tampak membentang di ufuk timur. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Fajar itu ada dua; pertama, fajar yang halal di dalamnya makan (sahur) dan haram shalat (subuh). Kedua, fajar yang haram di dalamnya makan dan halal shalat (subuh)“. Sahabat Ibn Abbas berkata, “Fajar yang menyebar di atas puncak-puncak gunung itulah yang mengharamkan (sahur, dan menghalalkan shalat subuh)“. Imam Syafi’i (w. 204) berkata, “Dan apabila telah tampak terang fajar terakhir secara membentang maka halal shata subuh, dan barangsiapa shalat subuh sebelum tampak terangnya fajar kedua membentang maka (wajib) mengulangi…“.

 

Pada malam Senin 11 Oktober 2009 dalam acara Liqo Maftuh (acara tanya jawab) Syeikh Dr. Muhammad bin Musa Ali Nasr mendapatkan pertanyaan tentang seputar polemik waktu subuh.

Berikut ini transkrip dari penjelasan Syeikh Muhammad bin Musa ali Nasr ditambah dengan keterangan tambahan dari Syeikh Masyhur bin Hasan al Salman. Penjelasan dua murid al Muhaddits al Albania ini bisa dijumpai di VCD al Liqo al Maftuh lil Jami’ yang diterbitkan oleh Tasjilat Adz Dzakhirah tepat pada menit 21:44 sampai  26:39.

سائل يقول: فضيلة الشيخ قد انتشر عندنا و حصل الأخذ و الرد فيما بيننا في مسألة توقيت صلاة الصبح من قبل الحكومة حيث صدرت الفتوي أن هذا التوقيت وقت قبل أوانه و أن وقته الصحيح بعد أذان صلاة الصبح بثلاثين دقيقة-أن أذان صلاة الصبح يؤذن قبل وقوع طلوع الفجر بثلاثين دقيقة – فماذا تري في هذا؟

Syeikh Muhammad bin Musa membacakan pertanyaan yang diajukan kepada beliau secara tertulis, “Wahai syeikh, telah tersebar di tengah-tengah kami suatu hal yang menimbulkan pelomik di antara kami sendiri, itulah permasalahan jadwal shalat subuh yang ditetapkan oleh pemerintah. Ada fatwa yang mengatakan bahwa jadwal subuh tersebut itu sebelum waktunya yang benar. Waktu shalat subuh yang benar adalah 30 menit setelah adzan shalat subuh. Dengan kata lain, adzan subuh dikumandangkan 30 menit sebelum terbit fajar. Apa pendapatmu tentang hal ini?

الشيخ محمد موسى: ثلاثين دقيقة كثير, لو قال قائل عشرين ممكن. حقيقة أنا كنت أظن أن هذه المشكلة في بلادنا فقط, في بلاد الشام. لكني حيث ما تيممت وجهي وجدت هذه المشكلة قائمة و للأسف.

Jawaban Syeikh Muhammad bin Musa, “Selisih 30 menit itu banyak sekali, kalo dikatakan selisihnya adalah 20 menit mungkin lebih tepat. Sebenarnya dahulu aku beranggapan bahwa problem ini (jadwal subuh yang terlalu cepat, pent) hanya ada di negeri kami yaitu negeri Syam. Akan tetapi ternyata kemana pun aku pergi kujumpai problem ini. Suatu hal yang sangat disayangkan.

و هذه المشكلة قديمة, جديدة متجددة. أشار إليها شيخ الإسلام ابن تيمية في حقيقة الصيام و الحافظ ابن حجر العسقلان في فتح الباري في كتاب الصيام.

Problem ini adalah permasalahan yang sudah lama namun selalu saja muncul. Adanya permasalahan ini telah diisyaratkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam buku beliau, Haqiqoh al Shiyam dan al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari tepatnya di bab puasa.

شيخ الإسلام ابن تيمية سئل- كما في حقيقة الصيام- ما حكم من شرب أو أكل أو جامع بعد سماع الأذان الثاني يعني أذان الفجر الصادق؟ فبدأ أجاب- رحمه الله- قال: إذا كان أذان المؤذنين, يؤذنون قبل دخول الفجر تمكينا للوقت كما يفعل المؤذنون عندنا في دمشق الشام فلا حرج لو أكل أو شرب أو جامع في وقت يسير.

هذا كلام ابن تيمية في حقيقة الصيام.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam buku Haqiqah al Shiyam mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa hukum orang yang minum, makan, dan mengadakan hubungan badan setelah mendengar adzan kedua yaitu adzan yang dikumandangkan saat fajar shadiq?”

Jawaban beliau, “Jika adzan tersebut dikumandangkan sebelum tibanya fajar dalam rangka hati-hati sebagaimana yang dilakukan oleh para muazin di tempat kami yaitu di kota Damaskus, Syam maka tidak mengapa andai makan, minum atau berhubungan badan asalkan sebentar”. Demikian perkataan Ibnu Taimiyyah di Haqiqoh al Shiyam.

الحافظ ابن ححر العسقلاني يقول: و من البدع القبيحة أنه يؤذنون في الفجر- الأذان الثاني- قبل دخول الوقت بنحو ثلث الساعة تمكينا للوقت- زعموا-.

Sedangkan al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani berkata, “Diantara bid’ah yang jelek adalah dikumandangkannya adzan subuh yaitu adzan yang kedua kurang lebih 20 menit sebelum waktunya dalam rangka hati-hati. Demikian sangkaan mereka”.

و الآن عندنا ما يسمي بأذان الإمساك, هذا من البدع التي لا أصل لها في الدين.

Sekarang di tempat kita ada yang disebut dengan imsak. Hal ini termasuk bid’ah yang tidak ada dalilnya dalam agama.

فهذه المشكلة قديمة زمانا من قبل ابن تيمية. بيننا و بين ابن تيمية قرون و قرون. و هذه المشكلة قائمة و لا زالت تحول وزارة الأوقاف أن تحل هذه المشكلة ولكن هيهات هيهات. ما زالت المشكلة قائمة. و لا أدري من وراء هذه المؤامرة على أمة الإسلام لإفساد صلاتهم.

Jadi permasalahan ini sudah ada sejak tempo dulu, sebelum masa Ibnu Taimiyyah. Padahal antara kita dengan Ibnu Taimiyyah saja sudah berabad-abad. Meski demikian permasalahan ini tetap saja eksis. Departemen Agama selalu berusaha untuk mengakhiri problem ini akan tetapi sedikitpun tidak membuahkan hasil. Permasalahan ini tetap saja eksis. Aku tidak tahu siapa aktor di balik konspirasi terhadap umat Islam untuk merusak shalat mereka.

إن الصلاة على المؤمنين كتابا موقوتا.

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya shalat itu menjadi kewajiban orang-orang beriman pada waktu-waktu yang telah ditentukan” (QS an Nisa:103).

و الواجب على حكومة الدول الأسلامية و وزارة الأوقاف على وجه الخصوص أن يشكل الرجال الشرعية تتحقق من ذلك و تعدل هذه المواقيت و هذه التقاويم بحيث يقع الأذان على الوقت.

Menjadi kewajiban pemerintah berbagai negara Islam dan departemen agamanya secara khusus untuk membentuk tim yang terdiri dari para pakar syariat sehingga revisi jadwal sholat bisa diwujudkan. Tim tersebut bertugas untuk merevisi jadwal yang ada sehingga adzan dikumandangkan pada waktunya yang tepat.

فانظر كم-يمكن في بعض كثير من المساجد يعني يختارون فيؤخرون الصلاة

عندنا يؤخرون الصلاة نصف الساعة في أكثر المساحد. كي يتنافون هذه المشكلة. لكن تلك المراة التي في البيت وذاك الشيخ الكبير المقعد في البلد الذين يصلون على الوقت مجرد أن يسمعوا الأذان. ما هي حال صلاتهم؟

Mungkin sebagian masjid memilih untuk menunda pelaksanaan shalat. Di negara kami (Yordania, pent) mayoritas masjid menunda pelaksanaan shalat sampai setengah jam dari jadwal. Hal ini mereka lakukan untuk menyiasati masalah ini. Akan tetapi para wanita yang shalat di rumah, demikian pula orang tua yang tidak mampu berjalan ke masjid dan semua orang yang mengerjakan shalat begitu mendengar suara adzan. Bagaimana status shalat mereka?

و أنا في الحقيقة كتبت رسالة قديمة قبل أكثر من عشرين سنة

و أوردت شهادة أكثر من خمسة عشر طالب العلم و عالم في أن الفجر في بلادنا أذان الفجر يقع على غير وقته أو قبل وقته بأربع و عشرين دقيقة.

و هذه الرجل الشيخ علي من هؤلاء الشهداء في هذا الكتاب و هو فتح الغفور في تعجيل الفطور و تأخير السحور.

Sebenarnya semenjak lebih dari 20 tahun yang lewat saya telah menulis sebuah buku tentang hal ini. Dalam buku tersebut aku bawakan persaksian lebih dari 15 orang penuntut ilmu dan ulama yang menyatakan bahwa adzan subuh di negara kami (Yordania, pent) itu dikumandangkan tidak pada waktunya yang tepat tepatnya 24 menit sebelum waktu yang seharusnya. Syeikh Ali al Halabi adalah diantara orang yang memberikan persaksian tersebut dalam buku tadi. Buku tersebut berjudul Fath al Ghafur fi Ta’jil al Futhur wa Ta’khir al Sahur (Ilham Allah yang maha pengampun tentang menyegerakan berbuka dan menunda makan sahur, pent).

و الحقيقة هذه المشكلة لا تحصي, ينبغي أن تحل حلا جيدا و العهدة و المسؤولية في ذمة المسؤولين في وزارة الأوقاف في العالم الإسلامي

Sebenarnya permasalahan ini demikian luas sehingga sepatutnya diselesaikan dengan baik. Beban dan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini ada di pundak para pemegang kewenangan di berbagai departemen agama yang ada di berbagai negara di dunia Islam”.

الشيخ مشهور: أضيف إلى فضيلة الشيخ أنه قد ثبت عن النبي- صلى الله عليه و سلم- سيأتي في أخر الزمان أمراء يؤخرون الصلاة عن ميقاتها. قالوا: ما نفعل يا رسول الله؟ قال: صلوا وراءهم و اجعلوها سبحة أي اجعلوها نافلة.

Syeikh Masyhur mengatakan, “Sebagai tambahan keterangan atas apa yang telah disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Musa kuingatkan bahwa terdapat hadits sahih yang dalam hadits tersebut Nabi menceritakan akan adanya para penguasa yang menunda pelaksanaan shalat sehingga dikerjakan di luar waktunya. “Apa yang harus kami lakukan wahai Rasulullah?”, tanya para sahabat. Jawaban Nabi, “Hendaknya kalian tetap shalat bermakmum kepada mereka namun niatkanlah shalat yang kalian kerjakan bersama mereka sebagai shalat sunah”.

Saat Beliau ditanya tentang hadits: “Laksanakan shalat subuh pada waktu isfar,” apakah itu artinya seseorang atau imam mengakhirkan shalat subuh, maka beliau menjawab:

اَلْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ، وَلَفْظُهُ يَقُوْلُ : (أَسْفِرُوْا بِالْفَجْرِفَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ، وَفِي لَفْظٍ: (أَصْبِحُوْا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُوْرِكُمْ)، وَالْمَعْنَى عِنْدَ أَهْلِالْعِلْمِ عَدَمُ العَجَلَةِ حَتىَّ يَتَبَيَّنَ الصُّبْحُ, وَحَتىَّ يَتَّضِحَ الصُّبْحُ، وَلَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُصَلِّي بَعْدَالْغَلَسِ، لاَ، السُّنَّةُ باِلْغَلَسِ، كَانَ النَّبِيُّ  يُصَلِّي بِاْلغَلَسِ بَعْدَ ضِيَاءِالصُّبْحِ، لَكِنْ هُنَاكَ بَقِيَّةٌ مِنْ بَقِيَّةِ اللَّيْلِ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ يَكُنْ بَيْنَهُمَا بَيْنَ الظُّلْمَةِ وَبَيْنَ الصُّبْحِفِيْهِ بَعْضُ اْلغَلَسِ, وَالْحَدِيْثُ لاَ يُخَالِفُ ذَلِكَ، (أَصْبِحُوْا بِالصُّبْحِ) يَعْنِي لاَ تَعَجَّلُوْا حَتىَّ يَنْشَقَّالْفَجْرُ وَحَتىَّ يَتَّضِحَ اْلفَجْرُ، لَكِنْ مَعَ بَقَاءِ بَعْضِ الْغَلَسِ هَذَا هُوَ الْأفْضَلُ، وَلَوْ أَخَّرَهَا حَتىَّ اتَّضَحَالْفَجْرُ بِالْكُلِّيَّةِ وَذَهَبَ اْلغَلَسُ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ فَلاَ بَأْسَ لَكِنْ لاَ يُؤَخِّرُ الصُّبْحَ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِيَجِبُ أَنْ تُؤَدَّى كَامِلَةً قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ، لَكِنِ اْلأَفْضَلُ وَالْأَحْسَنُ أَنْ يُؤَدِّيَهَا فِي حَال ِالغَلَسِ بَعْدَطُلُوْعِ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ نِصْفٌ إِلاَّ خَمْسٌ حَوَالَيْهَا يَكُوْنُ هُنَاكَ غَلَسٌ وَهُنًاكَ ضِيَاءُ الصُّبْحِ وَاضِحٌ.

“Hadits itu shahih. Redaksinya, Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda: “Laksanakan shalat fajar pada waktu isfar (terang) karena ia lebih agung pahalanya.” Dalam satu lafazh: “Laksanakan shalat subuh pada waktu subuh, karena ia lebih besar bagi pahala kalian.” Artinya menurut para ulama: Jangan tergesa-gesa sampai subuh benar-benar nyata, sampai subuh benar-benar terang. Bukan maksudnya melaksanakan shalat subuh setelah hilang waktu ghalas (gelap remang-remang), bukan, karena sunnahnya dilaksanakan di waktu ghalas. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- melaksanakan shalat pada waktu ghalas setelah cahaya subuh, akan tetapi ada sisa dari sisa-sisa malam. Inilah yang sunnah, antara keduanya; antara gelap dan cahaya pagi, yang mengandung sebagian ghalas (gelap remang-remang. Hadits ini tidak menyalahi hal tersebut. “Laksanakan subuh di waktu subuh,” artinya jangan tergesa-gesa hingga fajar memancar dan hingga fajar menjadi nyata, akan tetapi masih ada sebagian ghalas. Inilah yang utama. Seandainya ia mengakkhirkan shalat subuh hingga fajar menjadi nyata secara total dan lenyap ghalas sebelum terbitnya matahari maka tidak masalah, akan tetapi tidak boleh mengakhirkan subuh hingga terbitnya matahari. Wajib ditunaikan semua sebelum terbit matahari. Akan tetapi yang paling utama dan yang paling bagus adalah melaksanakan shalat subuh pada waktu ghalas setelah terbitnya fajar, kira-kira setengah jam kurang 5 menit, di sana ada ghalas dan ada cahaya subuh yang terang.”

(http://www.binbaz.org.sa/mat/14769)

*Majalah Qiblati Edisi 3 Volume 5

 

Sholat Subuh sebelum fajar Shodiq

Serial al-Huda wan-Nur kaset nomer 43, menit ke 16,47

oleh: Abu Hamzah al-Sanuwi

تفريغلسؤال الشيخ أبو اسحاق الحويني الشيخ الالباني عن صلاة الفجرسلسة الهدي والنور الشريط رقم 43 بداية من الدقيقة 16.47

الحويني : لنا أخوة من السلفيين بالإسكندرية يؤذنون للفجر أذانين. والأذان المعترفبعد ثلث ساعة من الأذان العادي و يقولون بالفجر الصادق والكاذب، هذا طبعاله خطورة من ناحية الصيام فماذا ترون في هذة المسألة, وما موقف بقيةالجمهورية كلها من أنه إذا ثبت أن الفجر يؤخر ثلث ساعة فهم يصلون قبلالوقت علي هذا الاعتبار.

الألباني : )) هذة مصيبة ألمت بالكثير من الأقاليم الإسلامية مع الأسف حيث أنهم يحرّمونالطعام قبل مجئ وقت التحريم ويصلون صلاة الفجر قبل دخول وقت الصلاة وهذانحن لمسناه في هذه البلاد.. وبخاصة أن داري –وهذا من فضل الله علي – مُشْرِفَة فأنا أري في كل صباح و مساء طلوع الشمس وغروبها , طلوع الفجر الصادق , فأجد أنهم فعلا يصلون قبل الوقت –أي صلاة الفجر – وهذا من الأسباب التيتحملي أن أتي إلي هذا المسجد وأصلي الفجر لأني لا أجد في المساجد التيحولي إلا أنهم يبكّرون بالصلاة علي الأقل لا يصلون السنة إلا قبل الفجرالصادق..، ولم يقف الأمر فقط في هذة البلاد، فقد علمتُ أن أحد إخواننا السلفيينفي الكويت ألف رسالة وهو يذكر فيها تماما كما اذكر أنا هنا .كذلك .. لعلكتسمع به إن كنت لا تعرفه شخصيا، الدكتور تقي الدين الهلالي له رسالة يقولنفس الكلام في المغرب هو أنهم يؤذنون لصلاة الفجر قبل الوقت بنحو ثلث ساعةأو 25 دقيقة, كذلك علمت مثله بواسطة الهاتف عن الطائف فقد ورد إلي سؤال منأحدهم يقول: عندنا الشيخ سعد بن فلان يقول بان القوم هنا يصلون صلاة الفجرعلي التوقيت الفلكي وأن ذلك يخالف الوقت الشرعي تماما كما نتحدث عن هناوهناك ((

أعود للإجابة عن سؤال إخواننا في الإسكندرية فهم من حيث أنهميؤذنون أذانين فقد أصابو السنة لكن ما ادري إذا كانوا دقيقين في أذانهمالثاني هل هم يؤذنون حينما يبرُق الفجر ويسطَع وينفجر النور فإن كانوايفعلون ذلك فقد أحيوا سنة أماتها جماهير المسلمين، أما إن كانوا يؤذنون عليالرُزناماتو التقاويم فهذة لا تعطي الوقتالشرعي أبدا فيكونوا قد خلطوا عملا صالحا وأخر سيئا، أي جمعوا بين الأذانينوهذا سنة، لكن ما حددوا الوقت الشرعي بالأذان الثاني.

الحويني : بالنسبة لنا في القاهرة بهذة الصورة ستضيع علي أنا صلاة الصبح جماعة لأنجميع المساجد تقريبا تغلق أبوابها ويكونوا انتهوا من الصلاة قبل فِعْلاً دخولالوقت الشرعي فأنا ماذا أفعل ؟الالباني : أنت في هذة الحال تصلي ورائهم تطوع ثم تعود الي دارك فتصلي بأهلك فرضا.الحويني : إذا ما قيمة أن أنزل؟الالباني : مشاركة الجماعة..الحويني : أنكم ترون ان الجماعة واجبة ؟الالباني : كيف لاوهو كذلك…سائل يقول : صحيح يا شيخ …,, يأتي زمان يؤخرون الصلاة عن وقتها النبي امر ان نصلي معهم التطوع و نرجع الي بيوتنا فنصلي الفريضة.الالباني : لهذا حديث في صحيح مسلم.الحويني : لكن هذا قال يميتون الصلاة أي يصلون بعد الوقت.الالباني:سواء كان هذا أو ذاك ، لماذا أمرهم عليه السلام أنهم إذا أدركوا ذلك الوقت أن يصلوا معهم ثمقال صلوها انتم في وقتها ثم صلوها معهم فإنها تكون لكم نافلة واضح منالحديث أن الرسول عليه السلام يأمرهم بأن يصلوا الصلاة في وقتها لكن فيالوقت نفسه أمرهم بأن يصلوا الصلاة التي يصلونها في غير وقتها ، السبب فيذلك هو المحافظة علي جماعة المسلمين ، ولا فرق و الحالة هذه بين امام يقدمالصلاة أو يؤخر الصلاةالحويني : بالنسبة للحكم علي صلاة الناس، يعني السواد الأعظم من الناس يصلون قبل الوقت.الالباني : طبعا هؤلاء،المسؤولية تقع علي أهل العلم، فعلي من كان عنده علم أن يبلغ الناس فمنبلغه الحكم ثم أعرض عنه فصلاته باطلة، ومن لم يبلغه الحكم أنت تعرف أن لامسؤولية والحالة هذه .

((حديث صحيح مسلم « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِى أُمَرَاءُ يُمِيتُونَالصَّلاَةَ فَصَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ صَلَّيْتَ لِوَقْتِهَاكَانَتْ لَكَ نَافِلَةً وَإِلاَّ كُنْتَ قَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ»))

TERJEMAHAN DIALOG:

Al-Huwaini (Hw): Kami mempunyai Teman-teman salafiyyin di Iskandariyyah, mereka mengumandangkan adzan 2 kali untuk (shalat) fajar. Adzan yang diakui adalah adzan setelah sepertiga jam (20 menit) dari adzan biasa. Mereka mengatakan dengan fajar shadiq dan fajar kadzib. Tentu ini berbahaya dari sisi puasa. Bagaimana menurut anda dalam masalah ini. Lalu bagaimana sikap seluruh republik ini dari kenyataan bahwa jika fajar mundur 20 berarti mereka shalat subuh sebelum waktunya, berdasarrkan penilaian ini.

Syaikh al-Albani (Bn) mengatakan: “Ini adalah musibah yang melanda banyak kawasan Islam. Sangat disayangkan mereka menghalangi manusia dari makan sahur sebelum datang waktu keharamannya dan shalat fajar sebelum masuk waktunya. Ini yang kami rasakan di negri-negri ini…. Apalagi rumah saya -alhamdulillah- tinggi; sehingga saya melihat setiap pagi dan setiap sore terbit dan terbenamnya matahari, serta munculnya fajar shadiq. Memang benar-benar saya dapatkan mereka shalat sebelum waktu- maksudnya shalat fajar-. Inilah yang membuat saya datang ke masjid ini dan shalat subuh di sini, karena saya tidak mendapatkan masjid-masjid di sekitarku kecuali mereka cepat-cepat melaksanakan shalat, minimal mereka tidak shalat sunnah qabliyah subuh sebelum fajar shadiq.

Tidak hanya di negri sini (Yordania), saya mengetahui salah seorang salafi (sunni pengikut salaf shaleh) di Kuwait telah menulis risalah, yang di dalamnya ia menyebut persis seperti apa yang sebutkan di sini. Begitu pula, barang kali engkau mendengarnya, meskipun tidak mengenal secara pribadi, Dr. Taqiyyuddin al-Hilali, ia memiliki risalah yang mengatakan hal yang sama terjadi di Maghribi (Maroko), bahwa mereka mengumandangkan adzan subuh sebelum waktu sekitar sepertiga jam atau 25 menit. Begitu pula saya mengetahui hal yang sama terjadi di Thaif, melalui telpon salah seseorang mereka bertanya: di sini ada Syaikh Sa’ad ibn Fulan mengatakan bahwa orang-orang melakukan shalat fajar berdasarkan penentuan jadwal waktu menurut almanak, dan hal itu menyalahi waktu syar’i. Persis sama dengan yang kita bicarakan di sini.

Saya kembali kepada jawaban untuk teman-teman kita di Iskandariyah. Dari sisi mereka mengumandangkan adzan 2 kali maka mereka telah menghidupkan sunnah. Akan tetapi saya tidak tahu apakah mereka jeli (detil) dalam adzan mereka ke dua. Apakah mereka adzan saat terbit fajar, mumcul dan merebak cahaya? Jika mereka melakukan hal itu maka mereka telah menghidupkan sunnah yang telah dimatikan oleh mayoritas kaum muslimin. Adapun jika mereka adzan berdasarkan Roznama kalender (jadwal harian almanak) maka ini tidak memberikan waktu yang syar’I sama sekali, sehingga mereka telah mencampur amal shalih dan amal lain yang buruk. Artinya mengumpulkan antara dua adzan, dan ini adalah sunnah, tetapi mereka tidak menetapkan waktu syar’I berdasarkan adzan kedua.”

Hw: Sehubungan dengan kita di Kairo, dengan gambaran seperti ini maka akan hilang atas saya sahalat subuh berjamaah, karena semua masjid kira-kira ditutup pintunya dan mereka telah selesai shalat sebelum masuknya waktu. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Bn: Engkau pada kondisi ini shalat di belakang mereka (dengan niat) tathawwu’(sunnah) kemudian engkau kembali pulang ke rumahmu, lalu engkau shalat dengan keluargamu secara fardhu.

Hw: Kalau begitu apa nilainya saya turun (ke Masjid)?

Bn: Mengikuti jama’ah.

Hw. Anda melihat bahwa jama’ah itu wajib?

Bn: Bagaimana tidak? Ia memang wajib.

Penanya lain: Betul wahai Syaikh,.. Akan datang zaman mereka mengakhirkan shalat dari waktunya, Nabi saw memerintahkan agar kita shalat bersama mereka kemudian kita kembali ke rumah kita lalu kita shalat fardhu.

Bn: Untuk ini ada hadits dalam shahih Muslim*

Hw: Tetapi ini berkata: mereka mematikan shalat, maksudnya mereka shalat setelah waktunya.

Bn: Sama saja, yang ini atau yang itu. Mengapa Nabi memerintahkan mereka agar shalat bersama mereka jika mendapati mereka pada saat itu kemudian beliau bersabda: Shalatlah kalian tepat pada waktunya kemudian shalatlah bersama mereka karena ia menjadi nafilah untuk kalian. Jelas dari hadits bahwa Rasul saw memerintahkan mereka agar shalat tepat pada waktunya. Tetapi pada waktu yang sama beliau memerintahkan agar melakukan (mengikuti) shalat yang mereka shalat di luar waktunya, sebabnya adalah menjaga keutuhan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada bedanya kondisi ini antara imam memajukan shalat (sebelum waktunya) atau mengakhirkan shalat (setelah keluar waktunya).

Hw: Kaitannya dengan hukum shalatnya manusia, maksudnya mayoritas manusia yang shalat sebelum waktunya?

Bn: Mereka itu, tanggung jawabnya dipikul oleh ahli ilmu. Maka orang yang punya ilmu harus menyampaikan kepada manusia, maka barang siapa sampai kepadanya hukum ini kemudian berpaling daripadanya maka shalatnya batal. Dan barang siapa tidak sampai kepadanya hukum ini maka engkau mengetahui tidak ada tanggungjawab dalam kondisi seperti ini.

*Hadits shahih Muslim:

» يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِى أُمَرَاءُ يُمِيتُونَالصَّلاَةَ فَصَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ صَلَّيْتَ لِوَقْتِهَاكَانَتْ لَكَ نَافِلَةً وَإِلاَّ كُنْتَ قَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ«

“Wahai Abu Dzar, sesungghnya akan ada sesudahku amir-amir yang mematikan shalat, maka shalatlah kamu tepat pada waktunya, jika engkau telah shalat tepat pada waktunya maka ia (yaitu shalat bersama mereka) bagimu menjadi nafilah (tambahan), jika tidak (Shalat bersama mereka lagi) maka engkau telah melindungi shalatmu.”(Silsilah al-Huda wan-Nur, kaset nomor 43, menit 16: 47 dst).

Malang, Sabtu 12 J. Tsaniyah/ 6-6-2009

·Ini adalah sebagian makalah pada edisi 10. Jka ingin lengkap silakan ikuti majalah Qiblati

 

oleh: Abu Hamzah al Sanuwy

Pernah ditanyakan kepada Syaikh Abdurrahman al-Barrak: “Kami dengar bahwa waktu adzan shalat subuh sesuai dengan fajar kadzib bukan shadiq, maka apa yang harus kita kerjakan?

والله هذه المشكلة عندنا وعندكم لكن الذي ننصح به أن يتأنى الأئمة ولا يستعجلون في أداء الصلاة حتى يكونوا على يقين من دخول الوقت، أما الاعتماد على مجرد التقويم مع وجود هذا الإشكال الكبير الذي طرحه كثير من الناس وذكروا أن التقويم متقدم على طلوع الفجر الصادق ينبغي للأئمة ولمن يصلي في البيوت أن يتأنوا ولله الحمد. يتأنى يعني الفرق عندي أقل منهم يعني ربع ساعة أو ثلث ساعة للاطمئنان ليس عندي علم قاطع بصحة ما يقوله هؤلاء لكني لا أستطيع أن أدفعه فالمخرج هو الاحتياط.”

“Demi Allah ini problem pada kami dan pada kalian, akan tetapi yang kami nasehatkan adalah agar para imam melambatkan diri dan tidak tergesa-gesa dalam menunaikan shalat subuh hingga benar-benar yakin tentang masuknya waktu. Adapun hanya sekedar mengacu pada kalender sementara ada problem besar yang dilontarkan oleh banyak orang, yang menyebutkan bahwa taqwim yang ada ini terlalu cepat dari kemunculan fajar shadiq (maka tidak), seyogjanya para imam dan orang-orang yang shalat di rumah melambatkan diri. Alhamdulillah, melambatkan diri, artinya perbedaannya menurut saya lebih sedikit dibanding mereka, yaitu sekitar 15 menit atau 20 menit untuk ketenangan. Saya tidak memiliki ilmu pasti tentang benarnya apa yang dikatakan oleh mereka, akan tetapi saya juga tidak bisa menolaknya, maka solusinya adalah hati-hati (dengan mengakhirkan tadi).”

*Majalah Qiblati Edisi 5 Tahun 5

 

http://qiblati.com/iqamat-shalat-subuh-menurut-para-ulama-2.html

http://qiblati.com/media-transkrip-dauroh-trawas-1430-h-tentang-polemik-waktu-subuh-2.html

http://qiblati.com/media-waktu-gholas-menurut-syeikh-abdul-aziz-bin-baz-rahimahullah-2.html

http://qiblati.com/media-dialog-syaikh-al-albani-dan-syaikh-abu-ishaq.html

http://qiblati.com/media-waktu-subuh-menurut-syaikh-abdurrahman-al-barrak.html

 

 

 

 

 

puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami

puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
==============

puisi cinta ke-1

Wahai Hati…
Bersabarlah dalam menanti,
Yakinlah janji_Nya adalah pasti..
Pada akhirnya kebahagiaanlah yg kelak kan diraih.

Wahai Jiwa…
Tenanglah dalam lara,
Percayalah bahwa janji_Nya adalah nyata.

Jangan pernah ragu dengan kehendak_Nya
DIA lebih tau mana yang terbaik untuk para hamba2_Nya.

Wahai Raga…
Tetaplah istiqomah dalam asa,
Cinta yang suci sedang menguji keimanan kita..

Seberapa sabar kita dalam menunggu…
Seberapa kuat kita saat tertatih…
dan seberapa tegar kita disaat rapuh…

Segala uji dan coba_Nya tak pernah ada yang sia2,Dibalik itu semua pasti ada hikmah dan barokahnya, bersabarlah untuk suatu Keindahan..

Kebahagiaan itu pasti kan datang untukmu,
Disaat yang Indah di waktu yang
tepat…

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-2

UKHTI AKU CEMBURU PADAMU

Ukhti aku cemburu padamu..
Saat kau marah kau mampu memadamkan amarahmu..
Dan kau memilih menyimpannya daripada meluapkannya..
Padahal ku tahu saat itu hatimu sedang terluka..

Ukhti aku cemburu padamu..
Saat mereka jalan-jalan, kau habiskan waktumu untuk hal yang berguna..
Kau tak hiraukan ajakan mereka dan kau sibukkan dirimu dengan cinta ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dan cinta Rasulullah SAW.

Ukhti aku cemburu padamu..
Ketika mereka berkata dengan emosi yang meledak-meledak dengan nada ancaman dan kasar..
Tapi kau balas dengan penuh kasih sayang..
Kau tetap jalin persahabatan dan pertemanan..

Ukhti aku cemburu padamu..
Setiap hari kau panjangkan jilbabmu..
Kau tebarkan senyum semangatmu..
Padahal kau tahu saat itu mereka berbisik-bisik tentang perubahanmu itu..

Ukhti aku cemburu padamu..
Aku cemburu dengan diammu..
Dengan tunduknya pandanganmu saat kau berhadapan dengan yang bukan muhrimmu..
Kau hanya bicara seperlunya saja..
Karena kau takut pada fitnah dunia..

Ukhti aku cemburu padamu..
Disaat mereka semua sibuk ber-sms ria dengan canda dan perhatian..
Tapi kau dengan tegas tidak memperdulikannya..
Karena kau percaya jodoh itu ada pada_Nya..
Tanpa sms riapun jodoh pasti akan datang..
Kerana kau tahu cinta seharusnya datang karena ALLAH..
Bukan karena bersms ria..

Ukhti aku cemburu padamu..
Aku cemburu dengan keta’atanmu pada Rabb kita..

Aku cemburu saat kau bisa melakukan hal yang DIA senangi dan meninggalkan segala hal yang DIA benci..

Ukhti sungguh aku cemburu padamu..
Rabbi pasti sangat menyayangimu ukhtii..
IA pasti sangat mencintaimu..
Karena keta’atanmu pada_Nya..

Ukhti..
Darimu aku banyak belajar arti hidup..
Iyaa tentang hidup..

Karena kepuasan hidup bukan didapat saat segala hal yang kita ingin bisa terpenuhi, tapi tentang kepuasan saat kita bisa melawan bisikan-bisikan setan..

♥ Muhammad Arbi Al-Zulkifli ♥

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-3

ღ☆ღ UNTUKMU AKHI ღ☆ღ

♥ Pria terindah di mata wanita bukanlah yang paling tampan raut wajahnya, melainkan yang paling menawan keimanan dan budi pekertinya..

♥ Pria terjantan di hadapan wanita bukanlah yang paling berani mengungkap kata cinta, melainkan yang paling berani menemui wali sang hawa untuk meminangnya..

♥ Pria teromantis di hati wanita bukanlah yang paling mesra mengungkap kata cinta,
melainkan yang berani mempertanggungjawabkan kata cinta di hadapan ALLAH dengan berazam untuk menghalalkannya..

♥ Pria tergagah di hadapan wanita bukanlah yang paling kekar tubuhnya, melainkan yang mampu bertanggungjawab menopang keluarga..

♥ Pria terkaya di angan wanita bukan hanya terbanyak hartanya, melainkan yang kaya hatinya sehingga pandai bersyukur atas segala karunia-Nya..

♥ Pria terpandai di benak wanita bukanlah yang paling banyak ilmunya, melainkan yang paling peduli untuk membimbing kepada jalan yang diridhai-Nya..

♥ Pria paling dermawan di hadapan wanita bukanlah yang paling banyak sedekahnya, melainkan yang paling perhatian memenuhi kewajiban keluarga..

Akhi..
Sejatinya nilai diri kaum pria bukan hanya karena tampan, jantan, romantis, gagah, kaya, pandai dan dermawan namun sejauh mana ia mampu mengasah keimanan dan perilakunya agar lebih menawan.

Kaum pria begitu berharga jika ia mampu mempertanggungjawabkan segala ucapan dan perbuatan di hadapan ALLAH Yang Maha Menyaksikan

InsyaALLAH

•»Muhammad Arbi Al-Zulkifli«•

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-4

* Bismillahirrahmanirrahiim *~

Dalam cinta ada kepercayaan..
Saling mengingatkan, saling menjaga
keutuhan dan do’a untuk terjaga dari
segala godaan..

Kerana cinta adalah anugrah Allah yang indah bagi insan yang pendai mensyukuri dan menghargainya..

Ya Allah…Ya Rabb, semikanlah cinta di
hati kami, hanya untuk pasangan yang
Engkau ridhai..

Jadikanlah rumah tangga kami sakinah, mawadah,warahmah .Senantiasa jauh dari
segala fitnah, godaan dan gangguan..
ternaungi dari dusta dan kecurangan
bersama tak hanya dalam indah
dunia, juga dalam kedamaian syurga_
Mu..

Aamiin Ya Rabbal’alamiin..

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-5

Sahabat SEHB

KETIKA TANGAN ITU menyentuhmu,,KETIKA TUBUHNYA MENDEKAPMU Sebelum dia halal bagimu..

KETIKA TANGAN ITU menyentuhmu,,KETIKA TUBUHNYA MENDEKAPMU Sebelum dia halal bagimu..
,,,,engkau kemanakan perisai malu mu sedangkan dia bukan suami mu??? engkau kemanakan ilmu yang kau tahu sedangkan Ditikam dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya, LUPAKAH DENGAN ILMU YANG PERNAH KAU PELAJARI??
Atau kau MEMANG SENGAJA LUPA KARENA NAFSU YANG KAU PERTURUT…KAN??

Sahabat SEHB..
Ketika suaranya menghanyutkanmu.. Rayuan dan sanjungannya meluluhkan hatimu…. Ingatkah engkau akan hari pembalasan nanti?? Hari di mana video kehidupanmu kau tonton sendiri.. dan disana akan engkau dapati maksiat demi maksiat yang kau lakoni… TAK TAKUT KAH?? TAK MALU KAH???

Sahabat SEHB..Setiap manusia punya masa lalu,,Dan setiap dari kita mempunyai kesempatan sama untuk bertaubat,,,ALLAH Maha Pengampun kalau kita mau bertaubat dan memohon ampun, namun jika kita tetap berdiri ditempat dengan hal yang sama,bagaiman mungkin ALLAH mengampuni dosa kita???

Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Sahabat SEHB..

Seorang wanita yang memiliki keteguhan hati dan bahagia bukanlah ia yang didatangi laki-laki,”Maukah engkau menjadi PACARKU?”

Tapi,wanita yang memiliki keberanian dan keteguhan hati ia akan dengan tegas menyuruh si laki-laki “Jika cintamu memang karena ALLAH,datanglah menemui kedua orang tuaku,dan khitbahlah Aku dihadapannya.jangan kau menjadi pengecut yang mengajakku mendekati zina dan ma’shiyat.Namun,jika memang kau belum siap menikah,maka berpuasalah dan janganlah mengajakku tuk jadi pacarmu tapi jadikanlah aku makmummu kau imamku dalam keluarga karna aku ingin pacaran setelah menikah itu yg terbaik..

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Sahabat SEHB….Wahai wanita hiasan dunia,ingatlah: “kamu mampu tersenyum dan bangga bila tidak menutup aurat di dunia,tapi jangan kamu lupa setiap perbuatan akan dihitung.aurat bukan untuk ditayang,tapi untuk disimpan..ingatlah, jika kamu “SEKSI DI DUNIA,KAMU AKAN SIKSA DI AKHIRAT”..apakah disaat itu kamu masih punya rasa bangga??

Salam santun salam ukhuwah fillah

======================

Kak, malam minggu ada acara gak.

Ngga ada tuch..Emangnya kenapa dik..

Yaaa,, kan teman-teman kakak sibuk mikirin jalan-jalan sama pacar.”..

Idich, pake acara pacaran.. Adikku sayaaang,kita kan tahu kalau dalam agama pacaran gak boleh, kalau mau ta’aruf itupun menurut syar’i,..kalau kita tahu pacaran itu gak boleh, terus suka bilang hukumnya haram, eh kita jalanin juga, bukan munafik namanya.” Gak apa-apa mereka ini yg pacaran yg penting kita tidak dan kita sudah berusaha nasehatin,kalau gak ada tanggapan,yaa mereka sendiri yg dapat sebab akibat.”.

Janganlah iri saat melihat mereka bermesraan,itu memang kelihatan asik… Namun lihatlah saat mereka tak lagi bermesraan..yang satu menangis yg satu berusaha menghiburnya,,Yang satu mencak-mencak yg satu ngotot.dan masalahnya pun hanya mereka yg tahu, serta kebanyakan cintan
ya selalu pupus karna tak puas dgn apa yg ada padanya.

Sudah jangan iri dengan sebuah pacaran,acara kita malam minggu,sama seperti hari-hari biasanya..Menanti malam tiba kita bercinta dalam alunan tasbih berharap ridho-Nya.Biarlah kamu bermesraan dalam kasih-Nya yang selalu ada dalam setiap alunan tasbih, yang menjadi butir-bitur mutiara dalam air mata yg ikut merasakan, bahwa jiwa ini butuh dekapan kasih sayang ALLAH AZZA WA JALLA.”….Indahnya pacaran setelah menikah..

Dengarlah adikku yg bawel…kaka hanya ingin bermesraan setelah kaka halal bersama pilihan ALLAH AZZA WA JALLA mendapatkan keridhaan-Nya, Selain itu kebahagian penuh berkah, namun juga kebahagian penuh pahala dalam segala ridho-Nya.”….

Semoga ALLAH AZZA WA JALLA memilihkan yg terbaik tanpa ada sebuah pacaran…Aamiin ya Rabbal’alamin.

Salam santun salam ukhuwah fillah

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-6

♥ Jika kau mencintaiku karena ALLAH jangan dekati aku ♥
♥ Jika kau mencintaiku karena ALLAH jangan menggodaku ♥
♥ Jika kau mencintaiku karena ALLAH jangan merayuku ♥
♥ Jika kau mencintaiku karena ALLAH jaga izzahmu denganku ♥
♥ Jika kau mencintaiku karena ALLAH jangan menyentuhku ♥
♥ Jika Mencintaiku karena ALLAH jagalah hatimu dan hatiku agar tetap Mencintai-NYA ♥

ღ☆ღ Jika Benar Ikhwan Itu Mencintaimu ღ☆ღ

♥ Dia tidak akan menyentuhmu sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia tidak akan memanggilmu sayang sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia tidak akan melihat auratmu sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia takkan menyebabkanmu
lalai dari menjadi Hamba ALLAH yang Baik ♥

ღ☆ღ Ûñtûkmu Wahai Ukhti ღ☆ღ

☆ Inginku menyayangimu, tapi tak sekarang ☆
☆ Inginku mencintaimu, tapi tak sekarang ☆
☆ Inginku memilikimu, tapi tak sekarang ☆

Pasti nanti suatu saat,
dalam sebuah ikatan suci yang di Ridhai oleh-NYA.

Karena jika kini ku penuhi keinginanku, maka aku akan menodai kasih putih sang Illahi dan menodai cinta sucimu ^_^

☆ Nantikanku Di Batas Waktu ☆

© Muhammad Arbi Al-Zulkifli ®

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-7

Seorang lelaki yg dibutuhkan wanita ialah seorang lelaki sholeh yg ketika berada di dekatnya ia merasakan kedamaian..

Batinnya terasa tentram.Mampu menghapus airmata kesedihannya..

Menjadi Nahkoda yg baik dalam mengarungi samudra kehidupan hingga bersandar pada pelabuhan syurga-Nya..

Untukmu Suami..

engkau adalah imam dalam keluarga.Ibarat kapal,engkau adalah nahkodanya,anak dan istrimu sebagai penumpangnya..

mereka akan mengikuti kemanapun engkau berlabuh maka labuhkanlah kapalmu di lautan firdaus-Nya..

dengan keimanan dan ketaqwaanmu,untuk itu dari sekarang belajarlah ilmu agama yg banyak tuk dijadikan bekal dalam berlabuh nanti..

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-8

Imamku Untuk Akhiratku

Sahabat SEHB Mari kita Aamiin kan bersama…

Ya ALLAH Ya Rohman.. Pertemukanlah kami dengan jodoh yang Engkau janjikan..dekatkanlah kami dengan orang-orang yang mengerti..

Orang-orang yang mampu menunjukkan betapa indahnya hidup dengan Kehadiran-Mu..

Menunjukkan betapa luar biasanya memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran..

Ya ALLAH ya Rohim.. Anugerahkan Kesholehan Ibrahim .. Ketaatan Islamil.. keikhlasan Siti Hajar..dan keberkahan Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam kepada kami.. Agar kami selalu menjadi manusia yang patuh kepada-MU.,. selalu berjalan menuju Ridho-MU.. Dan Istiqomah dalam agama-MU..

Anugerahkan kepada kami Imam yang baik,menjaga kami dari kemunafikan dunia dan mengajak kami berjalan menuju surga-Mu..

Ingatkan kami selalu ya ALLAH yang maha penguasa Alam semesta..semoga Engkau selalu memberi kesabaran atas segala ujian yang ada..

Baikkanlah kami,untuk menjemput jodoh yang baik pula Untuk kami….Aamiin Ya Robbal’alamiin

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Sahabat SEHB

Ukhti : ana merasa tidak pantas untuk antum.
Akhi : Kenapa?

Ukhti : antum dari kalangan orang terpandang.Sedangkan ana?
Akhi : Di Mata ALLAH,hanyalah orang yang takwa yang dimuliakan.

Ukhti : antum pintar,antum juga banyak yang suka.
Akhi : Banyak yang suka? ana tidak membutuhkan mereka.ana hanya perlu pendamping dan pembimbing untuk anak-anak ana kelak.

Ukhti : ana juga tidak begitu paham ilmu Agama.
Akhi : Kita bisa belajar mendalami bersama-sama nantinya.

Ukhti : ana tidak cantik seperti mereka.
Akhi : ALLAH malah lebih menyukai wanita yang cantik akhlaknya.

Ukhti : antum ini kenapa? Sudah ana katakan ana ini tidak pantas untuk antum.Kita ibarat bumi dan langit.Terlalu banyak perbedaan.
Akhi : Perbedaan akan membuat kita saling melengkapi.Saling mengisi kekurangan..

Ukhti : antum terlalu sempurna bagi ana.
Akhi : ana akan merasa sempurna jika ukhti ada di sisi ana.

Ukhti : Cukuplah,ana tidak mau dengar ucapan antum lagi.
Akhi : Seribu bungapun takkan mampu membuat Ukhti melunak juga?

Ukhti : Temuilah Ayah ana saja.Itu lebih berharga bagi ana daripada seribu bunga dan ungkapan cinta dari antum.

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Sahabat SEHB..
Wahai yang sedang dirundung cinta.Mengapa sering kau tebar janji-janjimu? Kau begitu takut ia akan meninggalkanmu,seakan ia adalah jodohmu.Pantaskah kau sandarkan harapanmu kepada manusia daripada kepada ALLAH AZZA WA JALLA?

Tinggalkan syahwat yang tampak dihadapanmu.Yakinlah,janji ALLAH AZZA WA JALLA yang tak tampak dihadapanmu.Yakinlah,tulang rusukmu takkan pernah tertukar.

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-9

Sebelum engkau halal Bagiku.

Aku tak pernah mengharapkan apa-apa darimu,karna aku tau bahwa dirimu belum tentu jadi milikku..

Sebelum engkau halal bagiku,aku tak pernah menyatakan cinta padamu, karna aku hanya akan mengungkapkan rasa cintaku pada Sang Maha Pemberi Cinta..

Sebelum engkau halal bagiku,aku tak pernah menyentuhmu,
karna aku hanya akan menyentuh yg HALAL untukku..

Sebelum engkau halal bagiku,aku tak pernah merayu,karna aku hanya akan merayu Pendampingku hidupku kelak..

Sebelum engkau halal bagiku,mungkin aku hanya diam membisu seribu bahasa, taukah kamu apa yg aku lakukan,? Sebenarnya aku sedang ISTIQOMAH memohon petunjuk-Nya disujud sepertiga malamku, jika memang kita berjodoh agar didekatkan dgn jalan-Nya..

Sebelum engkau halal bagiku,mungkin aku banyak menyendiri, taukah kamu apa yg aku lakukan.sebenarnya aku sedang melihat KESABARANMU.,sejauh mana rasa keikhlasanmu menerima semua ini..

Sebelum engkau halal bagiku, aku tak berani menggodamu,karna aku tak ingin menimbulkan HARAPAN dibenakmu,jaka suratan takdir-Nya berkata lain yg akan kau temui hanyalah penderitaan dihati, untuk itu mengertilah akan sikapku,aku tak ingin menodai hatimu..

Sebelum engkau halal bagiku,aku hanya menitipkan do’a disetiap sujudku, jika memang kita ditakdirkan untuk membina mahligai kehidupan yg SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH pasti akan bersama dgn jalann-Nya yg indah,…Aamiin ya Rabbal’alamin.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Bismillahhirahmannirahiim…

12 kata “JANGAN MENUNGGU” yg perlu dihindari :

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum,tapi tersenyumlah,maka kamu akan bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah,tapi bersedekahlah,maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak,tapi bergeraklah,maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli,tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan ….

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orang itu,maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.tapi menulislah,maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja,tapi bekerjalah,maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai,tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang,tapi hiduplah dengan tenang.Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah,maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan,tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa!

Dan … Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang anda kenal … sehingga kita semua tersadar ….

Salam Erat Silaturahmi dan Salam Santun Ukhuwah fillah.

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Cintailah seseorang itu dengan Sederhana,
Andaipun suatu saat kita tak bisa saling memiliki,
Takan sulit melepaskannya.

Cinta sebelum nikah itu adalah cinta semu,
Sementara cinta setelah menikah ,
Itulah cinta sebenarnya yg tlah diberkahi dengan ridha-Nya

Hidup memang Pilihan!
Apa kita harus tenggelam dlm cinta semu?
Atau tenggelam dlm Cinta-Nya….

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

puisi cinta ke-10

Ketika kamu tetap tersenyum,meskipun merasa sakit….

Ketika kamu tetap memberi,meskipun tak pernah dibalas…

Ketika kamu tetap ceria,meskipun terluka…

Ketika kamu tetap diam,meskipun perih…

Dan ketika kamu bahagia,meskipun kehilangan….

Disitulah ketulusan hati sedang diuji.

Kesedihan mengajarkan tentang indahnya kebahagiaan… Seperti juga sakit,mengajarkan tentang nikmatnya sehat…dan apabila sakit,..ALLAH yg menyembuhkanya.

Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan.

Padahal ALLAH AZZA WA JALLA telah memberi janji bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan,pasti ada jalan keluar yg begitu dekat.

Salam Erat Silaturahmi Dan Salam Santun Ukhuwah fillah..

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

Menjadi istri sholehah tentunya menjadi dambaan dan cita-cita semua wanita…namun mungkin untuk meraihnya perlu perjuangan dan perjalanan yg panjang semoga ALLAH AZZA WA JALLA memberikan kemudahan kepada kita semua untuk meraihnya Aamiin ya Rabbal’alamin…

Berikut adalah Ahklaq dari istri yang sholehah…

“AS-SABAR

“ASH-SHIDIQ (jujur)

“AL-IFFAH (menjaga diri dari perbuatan tercela)).

“AL-ITSAR (Mengutamakan suami)).

“AR -REDHA ( rela terhadap suami).

“AT -TAWADHU (bersipat tawadhu/rendah hati).

“AL-HAYA (menutupi diri dengan rasa malu).

“BERADAB (beradab terhadap suami, tidak meninggikan suara).

“ASY-SYUKUR (pengakuan hati bahwa segala nikmat yang dimiliki adalah karunia Allah (sentiasa bersyukur).

“AL-HALIM (seorang istri yg memiliki sifat lembut akan selalu bijak dalam langkah yang ditempuhinya.

“TAQWA..takut terhadap keberadaan ALLAH AZZA WA JALLA yang maha kuasa (selalu mempersiapkan diri untuk keberangkatan yang abadi)).

Semoga para wanita Muslimah khususnya yg hadir di status ini adalah istri dan calon istri yang sholehah dunia akhirat….Aamiin ya Rabbal’alamin…

===========
puisi cinta , kumpulan puisi cinta romantis islami , puisi cinta islam , puisi religi tentang cinta romantis , puisi-puisi cinta islami
===========

sumber: http://www.facebook.com/pages/Sebelum-Engkau-Halal-BagiKu/138509376220354

penulis: unknown