Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (Dimanakah Kita dari Akhlaq Salaf) : => “PANDUAN AKHLAQ SALAF”

Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (Dimanakah Kita dari Akhlaq Salaf) : => “PANDUAN AKHLAQ SALAF”

Bismillahirrahmaanirrahim
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya

Amma Ba’du

Tulisan-tulisan ini diambil dari terjemahan kitab “Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf” karya Abdul Azis bin Nashir Al-Jalil Baha’uddien ‘Aqiel yang diterjemahkan oleh Ustadz Abu Umar Basyir Al-Medani dan diterbitkan oleh Penerbit At-Tibyan Solo.

Sebagaimana muqaddimah dari kitab tersebut, kami memandang perlunya untuk turut berperan serta menyebarkan tulisan ini sebagai bacaan yang Insya Allah sangat bermanfaat bagi kaum muslimin karena didalamnya terdapat pelajaran-pelajaran yang berharga berupa ungkapan-ungkapan dan kejadian yang dialami generasi salafus shalih berupa akhlak yang mulia dalam berbagai sisi kehidupan.

Penulis mengatakan:

“Sesungguhnya tidak samar bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat, bahwa berpegang teguh pada ajaran Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam dengan pemahaman ulama As-Salaf adalah bahtera penyelamat bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dirinya.

Demikian pula bukanlah hal yang samar bagi penuntut ilmu yang menghendaki kebenaran bahwa yang dimaksud dengan istilah As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi-generasi utama di bawah bimbingan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan orang-orang sesudah beliau, yakni para Sahabat yang mulia serta para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan melaksanakan kebajikan.

Beliau melanjutkan :

”Namun ada persoalan penting berkaitan dengan manhaj As-Salaf yang belum mendapatkan perhatian yang layak dan belum menjadi kunci pendidikan, sementara nilai urgensinya dan bahwa ia adalah modal dasar dalam manhaj sudah kita akui; yakni yang berkaitan dengan akhlak dan adab-adab mereka. Dan sudah dimaklumi, bahwa kalau kita berbicara tentang manhaj As-Salaf -Rahimahullah-, tidaklah kita maksudkan sekedar ilmu dalam otak semata, namun meliputi aqidah, persepsi, akhlak dan tingkah laku mereka.”

Beliau berkata pula:

“Maka menjadi satu keharusan, apabila kita menyodorkan manhaj As-Salaf dan mendakwahkannya, untuk menyodorkannya dalam bentuk yang meliputi sisi akidah mereka, pemahaman, akhlak dan tingkah laku mereka. Bilamana seseorang yang berpegang pada perilaku As-Salaf dan menyisihkan sisi aqidahnya, tidaklah bisa diterima. Demikian juga tidaklah boleh seseorang memahami akidah As-Salaf tanpa berpegang pada akhlak dan perilaku mereka. Bila kita menengok kepada biografi para ulama As-Salaf, akan kita dapati gambaran yang terbaik untuk manhaj yang multi kompleks ini.”

Mengenai metode penulisan beliau (penulis) mencukupkan diri dengan mengumpulkan riwayat-riwayat dan menyusunnya dalam alinea-alinea yang berurut rapi tanpa diberikan komentar. Karena riwayat-riwayat tersebut sudah berkomentar dengan sendirinya. Sebagian besar riwayat bersumber dari kitab ” Siyaru A’laamin Nubalaa’ karya Imam Adz-Dzahabi dan kitab “Shifatush Shafwah” karya Ibnul Jauzi yang merupakan ringkasan dari kitab “Hilyatul Awliyaa” karya Abu Nu’aim disamping sumber lainnya.

Kami tidak mengambil semua riwayat yang terdapat dalam kitab “Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf”, bagi pembaca yang ingin membaca lebih lengkap silakan membacanya di kitabnya yang asli atau terjemahannya yang berjudul “Panduan Akhlak Salaf” terbitan PT At-Tibyan, solo.

Akhirnya kami memohon keikhlasan hati kami kepada Allah dalam beramal sehingga diterima oleh-Nya dengan baik. Bagi-Nya segala puji di dunia dan di akhirat

Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf

a. Salaf dan Khosyyah mereka kepada Allah :

Sahabat :

Dari Abdullah bin Dinar berkata :

Saya pergi bersama Ibnu Umar ke Makkah, ditengah perjalanan, kami berhenti sebentar untuk untuk istirahat. Tiba-tiba ada seseorang anak gembala turun dari bukit menuju kearah kami, Ibnu Umar bertanya kepadanya ; Apakah kamu penggembala, ya …jawabnya. Lanjut Ibnu Umar lagi ; Juallah kepada saya seokor kambing saja (ibnu mar ingin mengetahui kejujurannya) penggembala menjawab : Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba sahaya. Katakan saja pada tuanmu, bahwa ia dimakan srigala, kata Ibnu Umar membujuk. Lalu dimanakah Allah Azza wa-Jalla ? jawab penggembala mantap (Ibnu Umar bangga dengan jawaban penggembala) dan berguman ; ya, benar dimanakah Allah ? Kemudian beliau menangis dan dibelinya hamba sahaya tadi lalu dimerdekakan. (Thabrani rijalnya Tsiqqoh. III/216)

Dari Salm, bin Qosyier, bahwasanya Abu Huroiroh menangis dikala sakit. Ditanyakan kepadanya, apa yang membuat anda menangis, ? beliau menjawab : Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi karena jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki, lalu turun menuju Jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang akan kutuju. (II/625)

Tabi’in :

Sa’id bin Jabair berkata :

Sesungguhnya khasyah itu adalah engkau takut kepada Allah, sehingga rasa takutmu itu menghalangimu dari kemaksiyatanmu. Khasyah dan dzikir adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Barang siapa taat kepada Allahmaka ia telah berdzikir kepadaNya dan barang siapa yang tidak taat kepadaNya bukanlah seorang pedzikir, walaupun ia memperbanyak tasbih dan tilawah Qur’an. [IV/326]

Dari Mughirah bin Hakim telah berkata Fatimah putri Umar bin Abdul Aziz bahwasanya dia lebih banyak shalat dan berpuasa daripada manusia pada waktu itu, saya tidak pernah melihat seseorang yang takut kepada rabbnya selain dari Umar bin Abdul Aziz. Adalah beliau bila shalat Isya’ beliau duduk didalam masjid kemudian beliau mengangkat kedua tangannya lalu beliau menangis terus-menerus sehingga kedua matanya bengkak, lalu beliau masih meneruskan do’anya seraya menengadahkan tangannya dan menangis sampai bercucuran air matanya. Yang seperti itu dia lakukan terus menerus setiap malamnya lantaran takutnya kepada Allah. [V/137]

Abu Sulaiman ad-Dary berkata :

Ia (Atha’ as-Sulaimy) sangan takut kepada Allah, dia tidak menanyakan jannah tapi menanyakan pengampunan. Dikatakan, adalah dia jika menangis, menangis selama tiga hari tiga malam. (VI/87)

Atha’ al-Khaffaf berkata :

Tidaklah aku bertemu dengan Sufyan ats-Tsaury kecuali dalam keadaan selalu menangis. Aku bertanya, apakah penyebabnya, ? Ia menjawab : Saya sangat takut jika di lauhil mahfudl saya tertulis dalam golongan orang-orang yang celaka. (VII/266)

Dari asy-Sya’by : Adalah Sulaiman bin Abdul Malik (Amirul Mukminin sebelum Umar bin Abdul Aziz) menunaikan haji bersama Umar bin Abdul Aziz, tatkala beliau melihat rakyatnya berjubel dihari raya haji itu, beliau berkata kepada Umar bin Abdul Aziz; Apakah engkau tidak melihat orang-orang itu yang tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah semata, dan tidak ada yang mencukupi rizki mereka kecuali Allah juga. Umar bin Abdul Aziz menimpali,Wahai Amirul Mukminin, hari ini mereka adalah rakyat anda, dan besok dihari qiamat mereka adalah musuh-musuh anda disisi Allah. Mendengar hal itu Sulaiman bin Abdul Malik menangis keras dan berkata : Hanya kepada Allhlah aku meminta pertolongan. (Al Bidayah IX/187)

Qeis bin Muhammad berkata :

Setiap sore adl-Dlohhak menangis. Maka ia ditanya tentang hal itu. Jawabnya : Aku tidak tahu, adakah diantara amal-amalku hari ini ada yang diterima olehnya. (IV/600)

Tabi’ut Tabi’in :

Abu Abdurrahman al-Asady berkata :

Aku bertanya kepada Sa’id bin Abdil Aziz : Kenapa anda menangis dalam didalam shalat, Beliau menjawab : Wahai anak saudaraku, untuk apa anda bertanya seperti itu ? Aku menjawab : Semoga Allah memberi manfaat darinya. Beliau berkata : Aku tidak berdiri melakukan shalat, kecuali seolah-olah aku berada di Jahannam. (VIII/31)

al-Qosim bin Muhammad :

Kami pergi safar bersama Ibnul Mubarak. Aku selalu bertanya dalam hati, Apa kelebihan orang ini yang menyebabkannya sangat terkenal. Kalau dia sholat, kami juga sholat. Kalau dia shoum, kami juga shoum. Kalau dia berperang, kami juga berperang. Kalau dia pergi haji, kami juga melakukan hal yang sama. Ia berkata : Pada suatu saat, ditengah perjalanan ke Syam, kami makan malam disebuah rumah. Kebetulan lampu padam. Sebagian dari kami berdiri (masuk kamar) untuk menyalakan lampu. Tidak lama kemudian ia datang dengan lampu menyala. Saya melihat kepada Ibnul Mubarak, ternyata janggutnya telah basah dengan air mata. Aku berkata dalam hati : Dengan khasyah ini, rupanya beliau lebih baik dari pada kami. Mungkin ketika lampu padam, ruangan jadi gelap gulita, beliau iangat hari kiamat. (Sifatus-Sofwah IV/129)

b. Salaf dan Ketawadlu’an mereka

Sahabat :

Dari Ghudloif bin al-Harits (Sighorus-shohabat) Beliau mendengar Umar ra berkata : Sebaik-baik orang adalah Ghudloif. Setelah itu saya berjumpa dengan Abu Dzar al-Ghifary. Kata beliau, Abu Dzar berkata : Wahai saudaraku, mintakanlah ampun kepadaku. Saya menjawab, tidak. Andalah termasuk kibar sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam . Andalah yang lebih berkhak memintakan ampun untukku. Tidak, sebab saya pernah mendengar perkataan Umar, sebaik-baik pemuda adalah Ghudloif dan Rasulullah pun pernah bersabda : Sesungguhnya Allah … ….melalui lesan Umar dan hatinya. (HR. Ahmad. disahihkan al-Hakim dan disepakati adl-Dzahaby. Shahih. Abu Dawud Ibnu Majah. Siyar /454)

Ali radhiyallahu anhu berkata :

Tidak ada orang yang tegar dijalan Allah (beramar ma’ruf dan nahi munkar) tidak peduli dengan celaan para pencela selain Abu Dzar, dan tidak juga saya …(II/63)

Tabi’in :

Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq berkata ;

“Saya telah melihat al-Qasim bin Muhammad sedang shalat. Ketika itu datanglah kepada beliau seseorang dari kampung, lalu dia berkata ; M<anakah yang lebih pandai kamukah (seraya menunjuk ke al-Qasim) atau Salim, ? Maka jawab beliau ; Maha suci Allah seluruhnya akan menjadikan kamu menjadi baik dengan ilmu itu. Lalu dia berkata ; Mana diantara kamua yang lebih pinter ? . Jawab beliau : Maha suci Allah. Lalu diulanginya jawaban tersebut dan kata beliau ? IOtu Salim telah datang. Pergilah kamu menemuhinya dan bertanyalah kamu kepadanya !. Maka Diapun kemudian berdiri menuju ketempat Salim. Berkata Ibnu Ishaq, Beliau enggan menyebutkan : Saya lebih pandai, demi kesucian dirinya (keikhlasan) Sedangkan enggan menyebutkan Salim lebih tahu dari aku karena ia takut terjerembab kedalam kebohongan. Sebenarnya al-Qasim dialah yang lebih pandai daripadanya. (Salim) V/56

Syaqiq bin Jamal pernah ditanya ;

Siapakah yang lebih besar, anda ataukah Rabi’ bin Khutsain? Ia menjawab ; Aku lebih besar darinya dari segi umur dan dia lebih besar dariku akalnya. [IV/

Tabi’ut Tabi’in :

Seorang bertanya kepada Yusuf bin Asbath ;

Apakah puncak tawadlu’ itu ? Ia menjawab : Jangan kamu bertemu dengan seorang kecuali kamu lihat ia mempunyai keutamaan yang tidak kamu miliki. (IX/170)

Berkata Hasan :

Ketika Abdullah bin Mubarak berada di Kufah dibacakan kepadanya kitab manasik haji, ketika sampai pada suatu masalah disebutkan, Dari Abdullah bin Mubarak, dan pendapat ini yang kami ambil …. Beliau berkata : Siapa yang menulis ini dari pendapatku ? Maka beliau mulai menghapus dengan tangannya sampai beliau kembali mengajar. Beliau berkata : Siapa aku ini, hingga ditulis pendapatku. (Sifat IV/122)

c. Salaf dan kezuhudan mereka terhadap dunia.

Sahabat :

Dari Jabir Radhiyallahu anhu. ;

Kami telah berhijrah bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam demi mencari ridla Allah ta’ala dan tertulislah pahala disisihNya. Akan tetapi sebagian dari kami telah kami ke hadliratNya, sedang belum menikmati sedikitpun balasan (dunia)nya. diantara mereka adalah Mus’ab bin Umairra yang syahid pada perang Uhud, sedang tidak ada (kafan) kecuali sehelai kain woll, bila kami tutupkan kemukanya terbukalah kakinya, dan jika kami tutupkan ke kakinya, tampaklah wajahnya. Lalu Rasulullah saw bersabda : Tutuplah kepalanya dan taruhlah dikedua kakinya, reru.. (Bukhari-Muslim) I/146

Ketika Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengadakan inspeksi ke Syam, ia ditemui oleh para pemimpin dan pembesar pasukannya. Beliau bertanya ; Dimanakah saudaraku Abu Ubaidah ?. Maka datanglah Abu Ubaidah Radhiyallahu anhu mengendarai seekor unta dan memberi salam padanya, lalu memerintah kepada pasukannya, Tinggalkanlah kami (berdua). Kemudian keduanya berjalan-jalan hingga sampai di kediaman Abu Ubaidah ra. Keduanya turun dan (masuk kedalamnya), akan tetapi tidak didapatkan dirumahnya kecuali hanya pedang, tameng dan perlengkapan kudanya. Maka Umar bin Khattab berkata : akenapa tidak engkau ambil suatu barang (lainnya) ? {I/16}

Dari Nu’man bin bin Hamid : Saya menemui Salman radhiyallahu anhu bersama pamanku, sedangkan Salman sedang menganyam daum kurma. Saya mendengar beliau berkata : Saya membeli bahannya satu dirham,kemudian saya anyam, lalu saya jual dengan tiga dirham. Satu dirham saya gunakan untuk modal, satu dirham sebagai nafkah keluargaku, dan satu durham saya sedekahkan. Seandainya Umar ra melarangku aku tidak akan berhenti dari pekerjaan ini. {I/547} Padaha gaji Salman 5000 dirham dan diinfakkan.

Sam’an at-Taimy berkata :

Ali bin Abi Thalib telah keluar dengan pedangnya pergi kepasar lalu beliau berkata : Siapa yang akan membeli pedangku ini, kalaulah aku mempunyai empat dirham untuk membeli kain sarung, niscaya aku tidak menjual pedangku ini. Muksam berkata dari Ibnu Abbas : Ali telah membeli baju gamis dengan harga tiga dirham sedang pada waktu itu beliau menjadi khalifah. Lalu beliau memotong ujung lengannya seraya berkata : Al-hamdulillah inilah tempat pakaian yang menjadi kemewahan. (Bidayah IV/4)

Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu anhu berkata :

Sa’ad ra dan Ibnu Mas’ud ra menemui Salman ketika beliau akan wafat, lalu ia menangis. Ketika ditanya, kenapa anda menangis ? Ia menjawab : Sebuah janji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap kami, sedang kami tidak mampu menetapinya. Beliau shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : ليكن Hendaklah dunia seseorang diantara kamu, seperti perbekalan seorang musafir. Tsabit berkata : Saya mendengar harta peninggalan Salman ra dua puluh dirham lebih sedikit. (I/553)

Tabi’in :

Abu Ja’far al-Baqir (Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali) berkata ;

Barang siapa hatinya dimasuki oleh sesuatu yang murni dari dien Allah, hatinya tidak akan sempat berpaling kepada yang lain dari urusan dunia, dan itu tidak akan terjadi. Apalah dunia selain kendaraan yang kunaiki, baju yang kukenakan atau wanita yang kunikahi.. [IV/405]

Dari Maslamah bin Abdul Malik berkata ;

Saya telah masuk ke kamar Umar bin Abdul Aziz, sedangkan baju gamisnya kotor, maka aku katakan kepada anaknya yaitu saudara Maslamah, cucikanlah pakaian dia itu, ia menjawab ; ya, kami akan kerjakan. Lalu akupun kembali ke rumah Umar bin Abdul Aziz namun aku temui baju beliau sebagaimana semula (kotor), maka aku katakan kepadanya, cucilah pakaian Umar bin Abdul Azizi itu, jawabnya ; Demi Allah Sungguh dia hanya memiliki satu baju gamis saja (yang dipakai). V/134

Dan sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya ;

Apakah kamu memiliki uang untuk membeloi buah anggur, ? ia menjawab ; tidak. ia berkata lagi ; apakah kamu meiliki uang, Ia menjawab ; tidak. Bukankah kamu Amirul Mukminin ? Kenapa kamu tidak memiliki harta sedikitpun ? Beliau berkata, sungguh hal tersebut akan sangat memudahkan seseorang tergelincir kedalam jahannam. [V/187]

Berkata Abdullah bin Abi Zakariya;

Saya belum pernah memegang harta satu dinarpun, tidak pula satu dirham dalam hidupku ini, dan belumlah aku membeli sesuatu untuk kesenangan dunia inipun sekalipun, akan tetrapi aku hanya menjual sesuatu dalam hidupku sekali saja. [V/287]

Sufyan ats-Tsaury : Zuhud itu bukan dengan makanan yang keras (murah) atau baju yang lusuh, akan tetapi zuhud adalah pendeknya angan-angan dan selalu mengingat mati. (VII/243)

Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang memiliki harta 1000 dinar, adakah dia termasuk orang zuhud ? Beliau menjawab : Ya, dengan syarat, hendaklah tidak gembira jika bertambah dan tidak sedih jika berkurang. (Madarijus-Salikin II/11)

Hasan al-Basry berkata :

Demi Allah, tidaklah aku heran terhadap sesuatu sebagaimana heranku pada seseorang yang menganggap bahwasannya mencintai dunia bukan termasuk dosa-dosa besar. Sedangkan Allah mengatagorikan mencintai dunia termasuk dari dosa-dosa besar. Lalu apakah mereka akan beribadah kepada Allah, dan bersama itu mereka mencintai dunia ? Apakah mereka tidak dikatakan, mengibadahi berhala ? Bukankah bermaksiyat kepada Allah adalah sebab dari cinta dunia ? Maka orang yang bijak pasti tidak memisahkannya. Tidak merusak untuk bertaqorrub kepada-Nya. Dan tidak pula dia segan untuk meninggalkannya (dunia) (Hilyatul Auliya’ : VI/13, Siyaru A’lam, VII/259)

Abu wa’il ra (kun-yah Sayaqiq bin Salamah) mempunyai gubuk dari bambu. Ia tinggal disana bersama kudanya. Apabila ia berangkat berperang, ia cabut gubuk itu dan ia sedekahkan. Lalu jika ia pulang, ia membuat lagi gubuk yang baru. (IV/ )

Tabi’ut Tabi’in :

Muhammad bin al-Mutsanna berkata : Dari Basysar, jika salah seorang mencintai dunia, sungguh ia tidak menintai mati. Barang siapa zuhud terhadap dunia, pasti dia mencintai untuk bertemu dengan kekasihNya. (X/446)

d. Salaf dan kezuhudan mereka terhadap kepemimpinan

Sahabat :

Suatu ketika Utsman bin Affan sakit, beliau memanggil Humran dan berkata : Tulislah ‘Ahd untuk Abdurrahman sepeninggalku untuk menjadi Khalifah. Maka Humran menulis dan bersegera menemui Abdurrahman. Ia berkata : Kabar gembira. Abdurrahman bertanya : Apakah itu ? Humran menjawab : Sungguh Utsman telah menulis janji untuk anda sepeninggalnya. Maka Abdurrahman berdiri diantara kubur dan mimbar Nabi saw berdo’a : Ya Allah, kalaulah ini pengangkatan dari Utsman untukku, maka cabutlah nyawaku sebelum Engkau cabut nyawanya. Maka tak lebih dari enam bulan berlalu, Abdurrahmanpun wafat. (I/88)

Tabi’in :

Berkata Ibnu Uyainah : Telah memberitahukan kepadaku dari seseorang yang yang berperang di Dabiq. Ketika itu manusia berkumpul dalam peperangan, maka meninggallah Sulaiman di daerah Dabiq tersebut, lalu pulanglah Raja’ Ibnu Haiwah teman dalam kepemerintahannya. Kemudian dia keluar untuk menemuhi manusia dan menghabarkan kepada mereka, atas kematian Sulaiman.

Lalu dia naik keatas mimbar, ia berkata ; Sesungguhnya Amirul mukminin telah meninggalkan surat wasiyat dan telah menetapkan satu keputusan, maka saya umumkan kematian beliau. Lalu apakah kalian akan mendengar dan ta’at, mereka menjawab ; ya. Kami akan mendengar dan ta’at. Berkatalah Hisyam, kami akan mendengar dan ta’at jika kami diperintah kembali oleh seseorang dari bani Abdul Malik. Dia berkata : Dia akhirnya ditarik oleh manusia sehingga terpelantinglah Ia ketanah. Mereka berkata ; kami akan mendengar dan ta’at. Raja’ berkata ; Berdirilah kamu wahai Umar, Umar bin Abdul Azizi menjawab ; tidak . Ia berkata ; wahai Umar, berdirilah agar kamu dibai’at oleh manusia, Umar menjawab ; Sesungguhnya urusan ini Allah akan meminta pertanggung jawabannya. V/125.

Sufyan ats-Tsaury berkata : Saya akan mendapatkan bahwa zuhud yang paling langka adalah zuhud dalam hal kepemimpinan. Engkau bisa mendapatkan seseorang yang zuhud dalam makanan, harta dan bajunya, tetapi ketika telah mendapatkan kepemimpinan, ia akan mempertahankannya dengan seluruh tenaganya dan memusuhi/melampaui batas. (VII/262)

e. Salaf dan rasa takut mereka akan Ujub

Tabi’in :

Mutharrif berkata ; Tidur semalaman (tidak bangun malam) lalu pagi harinya menyesal lebih akau sukai daripada bangun malam semalaman dan dipagi hari ada rasa ujub dalam diriku. [IV/190]

Dari Salam berkata : Adalah Ayyub as-Sakhtiyany bangun pada seluruh malam. Beliau menyembunyikannya. Menjelang subuh beliau mengeraskan suaranya seakan-akan (hanya) bangun pada waktu itu. (VI/17)

Tabi’ut Tabi’in :

Suatu hari Fudhoil bin Iyadl dan Sufyan ats-Tsaury berkumpul, saling mengingatkan. Maka Sufyan mulai menangis dan berkata : Aku berharap majlis ini membawa rahmad dan berkah. Fudhoil menimpali : Akan tetapi wahai Abu Abdullah, aku takut justru kalau hari ini adalah hari yang paling berbahaya bagi kita. Bukankah kamu telah mengatakan hal-hal yang baik, dan begitu juga denganku. Aku takit, jangan-jangan kamu menghiasi perkataan karena diriku dan begitu pula dengan aku. Maka Sufyan menangis (lagi) dan berkata : Engkau telah mengingatkanku, semoga Allah menjagamu.(VIII/439)

Muhammad bin Manshur : Kami berada di majlis Imam Bukhory. Tiba-tiba seorang membawa suatu kotoran dari janggutnya, dan melemparkan ke lantai. Aku melihat Imam Bukhari melihat kepadanya dan kepada manusia. Ketika manusia lupa dari hal itu, aku melihat beliau mengambilnya dan menyembunyikan-nya dibalik lengan bajunya. Dan ketika keluar dari masjid, aku lihat beliau melemparkan kotoran itu ketanah. (Sifatus-Sofwah IV/148)

al-Husain al-Marwazy : Berkata Ibnul Mubarak : Jadilah orang yang tidak dikenal, dan tidak suka terkenal. (Syuhrah) Dan janganlah engkau tampakkan bahwa dirimu tidak suka terkenal sehingga dirimu akan merasa tinggi. Karena pengakuan bahwa engkau seorang yang zuhud telah mengeluarkanmu dari zuhud itu sendiri, karena hal itu menyebabkan engkau mendapatkan pujian dan sanjungan (IV/124)

f. Salaf dan semangat mereka dalam mengikuti al-Haq.

Sahabat :

Ibnu Umar ditanya tentang haji tamattu’, Beliau membolehkan dan menganjurkannya. Si penanya berkata : Apakah anda pantas menyelisihi bapak anda ? Lalu Ibnu Umar menerangkan bahwa Umar pun ra tidak menolaknya. Ketika sang penanya mengulang-ulangi pertanyaan tadi, Ibnu Umar berkata : Lalu, Kitabullah ataukah Umar yang pantas untuk diikuti. (al-Baihaqi, al-Majmu’ VII/158)

Tabi’ut-Tabi’in :

Seorang berkata pada Imam Syafi’i, Anda memakai hadits ini Abu Abdullah ?, Maka Imam Syafi’i menjawab : Kapan saja, aku meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah tetapi aku tidak menjadikannya sebagai dalil, maka aku bersaksi kepadamu bahwa akalku telah pergi.

g. Salaf dan semangat mereka dalam menuntut ilmu.

Sahabat :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu : Ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam wafat, saya berkata pada seorang pemuda dari Anshar : Marilah kita menuntut ilmu kepad para Sahabat Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, mumpung mereka masih hdup. Ia berkata : Anda ini aneh, wahai Ibnu Abbas ! Apakah anda mengira manusia akan membutuhkanmu sedangkan para Sahabat senior ada diantara mereka ? Ia enggan untuk itu. Kemudian saya serius dan betanya dari para Sahabat Kadang saya mendengar ada seorang sahabat yang memiliki seorang hadits, maka saya datangi Ia. Pada wakti itu Ia tidur siang, Saya tunggu didepan rumahnya hingga debu-debu mrngenai wajah ini.

Ketika Ia keluar Ia kaget dan berkata : Wahai anak paman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam , apakah keperluan anda ? kenapa tidak engkau utus seseorang kepadaku agar aku mendatangi anda ? Ibnu Abbas berkata : Tidak, saya yang lebih berhak untuk mendatangi anda, saya mendengar bahwa anda mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, dan saya ingin mendengarkan dari anda. Pada suatu saat pemuda Anshar tadi melihatku, sedang orang-orang berkumpul dan bertanya kepadaku. Saat itu para Sahabat senior sudah pada wafat. Ia berkata ; Pemuda itu lebih pintar dariku. (al-Hakim I/106. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’u Bayanil Ilmi. I/85)

Tabi’in :

Sa’id bin Musayyib berkata : Aku benar-benar menempuh perjalanan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mendapatkan sebuah hadits.[IV/222]

Abul ‘Aliyah berkata :

Aku menempuh perjalanan berhari-hari kepada seseorang untuk belajar darinya. Maka aku melihat shalatnya, Jika aku dapatkan bagus akau menetapinya. Tetapi jika aku dapatkan ia menyia-nyiakannya, maka aku pergi lagi, dan tidak jadi belajar darinya. Aku katakan terhadap selain shalat ia lebihmenyia-nyiakan. (Siyar IV/209)

Abdurrahman bin Ardak bercerita :

Suatu ketika Ali bin Husain memasuki masjid. Ia meminta jalan kepada mereka yang hadir sehingga ia duduk di halaqohnya Zaid bin Aslam. Melihat hal itu Nafi’ bin Jubair berkata : Semoga Allah mengampuni anda.! Anda adalah Sayyi dari sekalian manusia. Anda bersusah-susah untuk menghadiri majlis hamba sahaya ! Maka Ali bin Husain berkata : Ilmu itu dibutuhkan, didatangi dan dicari dimanapun ia berada. (IV/388)

Yahya bin Abi Katsir berkata :

Tidaklah ilmu itu akan didapatkan dengan istirahatnya badan. (Sifat IV/70)

h. Salaf dan kehati-hatian mereka dalam berfatwa

Sahabat :

Abu Darda’ berkata : perkataan “Aku tidak tahu” adalah separoh ilmu.

Tabi’in :

‘Asy’ats berkata apbila Ibnu Sirin ditanya, tentang halal dan haram, maka wajahnya berubah sehingga kamu akan mengatakan sepertinya ia bukanlah yang tadi. (IV/316)

Berkata Abdul Aziz Ibnu Rafi’, telah ditanya Atha’ tentang sesuatu maka dikatakan kepadanya saya tidak tahu, jawabnya. Apakah kamu atidak berkata dengan memakai pendapatmu ? Jawabnya, sesungguhnya aku sangat malu dihadapan Allah jika aku mendahulukan pendapatku diatas bumi Allah ini. Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena mereka berlebih-lebihan dalam mendahulukan suatu perkataan tanpa kebenaran dari kitabullah atau mereka tidak memerintahkan perbuatan yang makruf dan mencegah dari yang munkar, apakah kamu akan berbicara dalam hidupmu yang mesti kamu jalankan ini tanpa dasar ilmu ? sedang kamu mengingkari tidak ada Malaikat yang selalu mengawasi diri kamu untuk mencatan segala amal perbuatan kamu dari berbagai arah. Sesungguhnya apa-apa yang kamu lafatkan dari satu ucapan, kecuali semua itu ada malaikat raqib dan atid yang menulisnya. Apakah kamu tidak takut salah satu dari kamu jika dibagikan kepada kalian catatan amal yang keseluruhannya tidak tertulis kecuali yang ada didalamnya ? Lalu bagaimana jika kamu tidak mendapatkan balasan di akhirat ? (V/84)

Berkata Abu Hilal : Saya telah bertanya kepada Qotadah dalam satu masalah, dia menjawab : Saya tidak tahu, katanya padanya. Katakan, Apa pendapatmu tentangnya, dia berkata ; Saya sejak 40 tahun lamanya tidak mengatakan sesuatu dengan pendapatku. Berkata Abu Hilal, sedang umurnya pada waktu itu 50 tahun. Imam adz-Dzahabi mengomentari : Peristiwa diatas membuktikan bahwa dia tidak mengatakan/berfatwa pada satu masalah melainkan dengan ilmu dan tidak berkata walaupun hanya sebatas pendapatnya sendiri. (V/272-273)

Berkata Dawud al-Audy, Asy-Sya’bi pernah berkata kepada saya, tetaplah disini bersama saya, hingga engkau saya ajari suatu ilmu, dan bahkan ia puncak segala ilmu. Saya berkata : Apa yang engkau berikan kepadaku itu, ? Asy-Sya’by menjawab : Jika engkau ditanya tentang sesuatu yang engkau tidak mengetahui jawabannya, katakanlah, Allahu A’lam. Sesungguhnya (jawaban) itu ilmu yang baik. (Al-Bidayah IX/240)

Tabi’ut Tabi’in :

Suhnun berkata : Sebagian dari orang-orang yang telah berlalu, berkeinginan untuk mengutarakan satu kalimat, andaikan mereka mengatakannya, tentu banyak orang yang mengambil manfaatnya. Akan tetapi mereka tidak mengatakannya karena takut bergangga diri. Dan apabila diam membuat mereka kagum, mereka berbicara. Suhnun melanjutkan dan berkata : Orang yang paling berani berfatwa adalah yang paling sedikit ilmunya. (XXII/66)

I. Salaf dan Amar Makruf Nahi Munkar.

Sahabat :

Bahwasannya Ubadah bin as-Shamith hidup bersama Muawiyah. Suatu hari dikumandangkan adzan, berdirilah seorang khatib, lalu memuji-muji dan menyanjung-nyanjung Muawiyah. Ubadah bin as-Shamith segera bangkit dengan tangan menggenggam pasir, lalu dilempar kemulut sang khatib. Muawiyah marah, tetapi Ubadah berkata kepadanya : Sesungguhnya anda tidak ikut bersama kami ketika Rasulullah membaiat kami -di Aqobah- agar kami mendengar dan ta’at dalam keadaan senang, susah, malas , ataupun benci dan agar kami menegekkan kebenaran dimana saja kami berada, tetap membela dijalan Allah, tidak takut terhadap celaan para pencela. Dan Rasulullah saw bersabda : Bila kalian melihat penyanjung yang berlebihan, maka lemparkanlah pasir ke mulut mereka. (II/7)

Diriwayatkan (dalam satu riwayat oleh Ibnu Utsman an Nahdi) bahwa datang tukang sihir dari negeri Babil, mendemontrasikan kebolehannya dihadapan orang banyak. Ia mengikatkan tali dipelataran masjid, kemudian berjalanlah seekor gajah diatasnya. Lalu ia perlihatkan seekor himar berjalan cepat menuju kearah mulut gajah, masuklah himar tadi ke mulut gajah dan keluar lewat duburnya. Kemudian ia memenggal leher seseorang hingga putus dan kepalanya menggelinding ke tanah. Setelah itu ia berucap ; (Wahai kepala) bangunlah, serta merta menempellah kepala tadi dan ia kembali hidup. Melihat kemungkaran tersebut Jundubin Ka’ab menghnus pedang, menghampiri kerumunan orang yang menyaksikan tukang sihir. Segeralah ia mengayunkan pedang ketukang sihir hingga melukai kepalanya, seraya beliau berseru ; Sembuhkan dirimu (namun ia tidak bisa) . (III/176-177, Tahdlib. Ibnu Asyakir III/414)

j. Salaf dan Qiyamul-Lail

Sahabat :

Dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwasannya beliau menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul-lail. (setelah lama) beliau bertanya kepadaku, wahai Nafi’ Apakah sudah tiba waktu Sahur, Saya menjawab : Belum, Kemudian beliau melanjutkan shalat hingga saya menjawab; Ya, sudah tiba waktu sahur. Kemudian beliau duduk, beristighfar dan berdo’a hungga datang Subuh. (III/235)

Dari Ibnu Abi Malikah berkata : Saya pernah menemui Ibnu Abbas dari Makkah ke Madinah, adalah beliau jika (tiba malam hari) beristirahat dengan qiyamul lail, jika membaca ayat

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. (QS. 50:19)

selalu diulang-ulang hingga menangis sesenggukan. (III/342)

Tabi’in :

Adalah Shilah bin Asy-Syam shalat malam hingga tidak dapat kembali ketempat tidurnya. (III/497)

Adalah Zubaid bin al-Haris membagi waktu malamnya dengan tiga bagian : Bagian pertama untuk dirinya, bagian kedua untuk anaknya dan bagian ketiga untuk anaknya yang lain (Abdurrahman). Pada waktu malam dia shalat. Setelah itu dia membangunkan anaknya seraya berkata : Ayo sholat jangan malas, kemudian dia membangunkan anak yang lainnya. Katanya, bangun jangan malas. Ayo Shalat, maka shalatlah seluruh keluarganya diwaktu malam. (V/296)

Dari Malik bin Anas berkata : Adalah Sufyan bin Sulaiman shalat pada musim dingin dan musim panas diserambi rumahnya yang paling dalam. Beliau selalu bangun malam baik cuaca panas ataupun dingin. Beliau shalat malam hingga waktu subuh. Sampai-sampai jika kami melihat kedua kakinya, seperti tongkat yang kokoh karena banyaknya sholat malam. (V/365)

Tabi’ut-Tabi’in :

Dari … Bahwa Rabi’ah selalu Shalat semalam sentuk. Bila terbit fajar beliau tidur sebentar sampai fajar menguning. Kudengar beliau berkata : Hai diri ! telah berapa lama kamu tidur, dan sampai kapan kamu akan terjaga. Aku khawatir kalau kau tidur, kau tidak terbangunkan. Tiba-tiba hari kiamat kau dibangunkan. (VIII/242)

Mufadhol menjabat Qodli dikalangan kami, do’anya selalu terkabulkan, dan walaupun lemah badannya, beliau selalu berdiri lama dalam shalatnya. (VIII/168)

Sumber : Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000

Diambil dari http://tawashou.co.cc/

http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/11/10/aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-1/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s