kumpulan tweet nasehat islami para ulama

kumpulan tweet nasehat islami para ulama
“Jika tanganmu terlalu “pendek” untuk membalas kebaikan sahabatmu, maka “panjangkanlah lisanmu” dengan memperbanyak terima kasih dan mendo’akannya”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

“Keamanan terbesar bagi seorang insan adalah ia bisa leluasa memperbaiki amalannya, serta dapat menjauhkan dirinya dari kesalahan dan dosa.”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Banyak diantara kita sering membicarakan niat dan maksud seseorang tentang apa yang mereka kerjakan. Tidak bisakah kita hanya memperhatikan niat dan tujuan kita masing-masing terhadap apa yang kita kerjakan sendiri..”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Wahai Al Mushlih! Wahai orang yang melakukan perbaikan! Allah ingin menjaga agama-Nya melalui dirimu, bukan menjaga duniamu dengan menggunakan agama-Nya (!). Karenanya jika hilang sesuatu dari duniamu di jalan agamamu, maka itu adalah konsekuensi dari perjanjianmu dengan Rabb-mu. Karena sungguh Allah telah membeli jiwamu…”

@AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

“Tersenyum dan tertawa itu baik karena dapat meringankan beban. Akan tetapi tentu dalam batas-batas yang tidak mengesampingkan akhlaq dan kehormatan kita. Nabi juga tersenyum dan bercanda dan beliau tidak berkata kecuali kebenaran.”

@_salehalsultan (Dr. Shalih As Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Membangun SDM dan mendidik akal, lebih utama dari membangun menara-menara dan meluaskan lahan pertanian”

@s_almajed Syaikh Sulaiman Al Majid, Anggota majelis syura Saudi Arabia, pengasuh berbagai majelis ilmu di kota Riyadh, website beliau www.salmajed.com 

“Saat umat ini menghadapi musuh-musuhnya dengan “tahmisyan”, keliru, maka tunggulah saatnya untuk “tahsyiman”, hancur”

@s_almajed Syaikh Sulaiman Al Majid, Anggota majelis syura Saudi Arabia, pengasuh berbagai majelis ilmu di kota Riyadh, website beliau www.salmajed.com 

“Allah berfirman, “Apakah kamu tidak melihat orang yang berpaling (dari al Quran)? Dia memberi sedikit lalu menahan sisanya” (An Najm: 33-34). Makna “menahan sisanya” adalah “memutuskannya”. Maka ayat ini mengandung dorongan untuk tetap konsisten dalam beramal shalih dan celaan bagi orang yang beramal baik kemudian putus atau tidak konsisten”

@slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

“Ketika orang mengkritikmu atau mencelamu, maka perhatikan celaannya. Apabila ada kekurangan itu pada dirimu, maka perbaikilah langkahmu dan luruskan kesalahanmu. Namun apabila kekurangan itu tidak ada pada dirimu, berkatalah, “Alhamdulillah”, dan janganlah celaan itu mengganggu langkahmu”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Definisi orang miskin : orang yang merasa tidak cukup atas rezeki yang telah diperolehnya.”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

“Ketika engkau meninjau hasil yang telah engkau dapat, jangan berkata bahwa itu cukup, namun katakan “Aku ingin lebih dari ini!”, niscaya engkau akan mudah mencapainya.”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Aku cermati sejarah 30 negeri yang telah hancur, dan aku dapati bahwa kehancuran negeri-negeri tersebut berawal dari penyakit yang dihembuskan dari dalam melalui tangan kaum munafiqin, kemudian barulah musuh-musuh dari luar melemahkan dan menguasai negeri-negeri tersebut.”

@AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

“Saat pakaian kita kotor, kita pasti akan segera mencucinya. Namun apakah demikian juga yang kita lakukan dengan hati kita? Cara mencuci hati adalah degnan tangisan air mata penyesalan dan ucapan istighfar serta senantiasa berdzikir mengingat Allah Ta’ala”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

“Membantah pelaku bid’ah jika tidak dimaksudkan untuk menjelaskan kebenaran, memberi petunjuk kepada manusia, atau mengasihi dan berbuat baik kepada mereka (melalui bantahan tersebut), maka itu bukanlah termasuk amal shalih”

— Ibnu Taimiyah via @assdais Syaikh Abdurrahman bin Shalih As Sudais, penulis kitab-kitab ilmiah diantaranya Syarh ‘Aqidah Ath Thahawiyah, beberapa artikel beliau dalam masalah hadits dapat dibaca di sini.

“Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berlindunglah kepada Allah dari khusyu’ nifaq”, maksudnya ialah khusyu’ yang nampak terlihat dari tingkah laku, namun tidak diiringi khusyu’nya hati. Sabda Nabi, “Hal pertama yang dihilangkan dari ummatku ialah rasa khusyu’”

@mishari_alafasy Syaikh Misyari Rasyid Al Afasy, qari’ yang masyhur di Timur Tengah dan Indonesia, Imam Masjid besar Kuwait dan alumnus Universitas Islam Madinah Fakultas Studi Islam dan Al Qur’an

“Ciri-ciri orang bodoh : diam dari apa yang bermanfaat untuk dirinya, dan bicara akan hal-hal yang justru akan memberinya madharat”

— Ibnu Hazm via @Dr_Alsadhan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al Imam. Biografi selengkapnya klik di sini.

“Saat si bodoh merasa “ikhlas” dengan kebodohannya, di saat itulah si ‘alim tengah bersedih dengan ilmunya”

@AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu maka ambillah dia sebagai musuh” (QS. Faathir : 6). Ibnu Katsir berkata setelah ayat ini : Kita memohon kepada Allah agar Dia juga menjadikan kita sebagai musuh syaitan.”

@slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

“Nasihatku untuk setiap muslim, jangan jadikan hari-harimu berlalu tanpa membaca Al Qur’an atau mendengarnya, walaupun satu halaman saja. Boleh jadi Allah memberimu rahmat-Nya karena amalanmu itu.”

@slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

“Sesungguhnya yang menyebabkan kita mampu senantiasa memperbaiki rangkaian amal, adalah sikap muhasabah (introspeksi) yang diterapkan di seluruh amalan yang dikerjakan”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

sumber:

http://twitulama.tumblr.com/page/3

About these ads

3 thoughts on “kumpulan tweet nasehat islami para ulama

  1. kumpulan tweet nasehat bijak para ulama – kata-kata mutiara islami para ulama – kalimat bijak ulama

    http://twitulama.tumblr.com/page/4

    “Ujian merupakan sebuah momen untuk mendalami makna: (1) tawakkal secara syar’i; (2) Al Luju’ (berlindung) dan Al I’timad (bersandar) hanya kepada Allah; (3) tidak mengandalkan daya upaya sendiri. Maka yakin kepada Allah, dapat menguatkan hati!”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Dalam sebuah hadits shahih, “Sesungguhnya malaikat telah meniupkan pada janin agar tidak mati seorang sampai rizkinya habis sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rizki!” Dalam hadits itu ada hikmah untuk tenang dan bagus dalam mencari rizki. Di antara makna bagus mencari rizki adalah tidak menyita semua pikiran, menghabiskan semua waktu dan menyibukkan diri sampai melupakan hak Allah. Di antara makna bagus mencari rizki adalah tidak melupakan hak orang lain, keluarga, orang tua, saudara, tetangga. Juga tidak terjatuh pada perkara yang haram seperti riba, penipuan, berbohong, pemalsuan dan manipulasi.”
    — @dr_alyahya Dr. Yahya bin Ibrahim Al Yahya, doktor dalam bidang ilmu hadits, pernah menjabat sebagai dosen dan wakil rektor bidang kemahasiswaan Universitas Islam Madinah, biografi beliau dapat dilihat di sini.

    “Ibnul Mubarak pernah mengatakan sebuah perkataan yang “mubaarak” (penuh berkah), “Sedikit dalam adab lebih kita perlukan daripada Ilmu yang banyak”. “Yaa laita qaumii ya’lamuun”, seandainya kaumku memahaminya..”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Manusia diuji dengan kebaikan, sebagaimana ia diuji dengan keburukan. Maka jika engkau mendapat suatu kebaikan, namun engkau lihat kebaikan itu justru menjauhkanmu dari Rabb-mu, maka sungguh engkau tengah diuji, dan ketahuilah bahwa kebaikan itu sejatinya ialah keburukan. “Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan)” (QS. Al Anbiya’ : 35)”
    — @AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

    “Jangan bayangkan ikhlas itu mudah dan ringan untuk dikerjakan. Ikhlas merupakan sesuatu yang sulit, namun mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah. Seorang muslim harus senantiasa bersungguh-sungguh dan berlatih keras untuk ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala.”
    — @saltaweel Syaikh Salim Al Thawil, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsamin, tulisan-tulisan beliau dapat dilihat di sini.

    “Wahai pemuda Islam! Bersungguh-sungguhlah dalam menghafal al Quran! Janganlah kalian menjadi lemah dan malas. Kalian adalah tulang punggung masa depan dan generasi yang dinanti. Di saat manusia berlomba untuk dunia dan orang-orang yang berilmu berguguran dan orang-orang bodoh tidak mau belajar, kalau bukan kalian yang berada di atas kebenaran, siapa lagi..?!”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Rela mati demi membela orang-orang yang berkhianat kepada agama dan negeri mereka bukanlah perbuatan yang terpuji secara syariat. Jangan sampai engkau membela mereka kemudian engkau malah jatuh dalam kondisi yang sulit karena mereka. “Dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang yang berkhianat” (QS. An Nisaa: 105)”
    — @DrAbdullahsulmi Dr. Abdullah As Sulmi, pengajar fiqh di Perguruan Tinggi Kehakiman, Riyadh, pakar dalam fiqh jual beli kontemporer, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

    “Ujian/tes/ulangan merupakan momen untuk belajar bagaimana menempuh sebab-sebab yang dibenarkan agama, bukan momen untuk menyontek, membeli soal, menebar jawaban via email ataupun menyogok”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Seorang mukmin yang menghadapi masalah dan tekanan, bagaikan adonan kue dalam tangan. Apabila adonan tersebut ditekan, maka ia akan keluar dari sela-sela jari. Begitulah seorang mukmin tidak hanya diam menghadapi masalah, tapi dia tetap dan terus beramal mencari jalan keluar”
    — @dr_alhabdan Dr. Muhammad Al Habdan, anggota Rabithah Ulama’ Al Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin) http://www.alhabdan.net

    “Dalam setiap masa, kelompok pertama yang menentang kebenaran adalah pembesar-pembesarnya, kemudian diikuti oleh orang-orang lemah. “Dan demikianlah kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat pada setiap negeri agar mereka berbuat makar di negeri itu” (Al An’am 123). Sebaliknya, kelompok pertama yang menentang kebatilan adalah orang-orang yang lemah kemudian diikuti oleh para pembesar.”
    — @AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

    “Bersemangatlah mengulang-ulang hafalan Al Quran secara rutin, dan perbanyaklah membaca hafalan Quran-mu pada sholat-sholat sunnah dan qiyamullail (shalat malam). Hal ini akan membantu mengokohkan hafalanmu dan menguatkannya di dalam hatimu”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Lihatlah purnama, dan ingatlah bahwa ahli surga kelak melihat Rabb-nya, sejelas mereka melihat purnama. Ya Allah! Jadikanlah aku dan kedua orangtuaku penghuni surga!”
    — @Dr_Alsadhan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al Imam. Biografi selengkapnya klik di sini.

    “Salah satu kata hikmah yang indah : “Jika Anda tidak mampu menatap ke depan karena masa depan yang kelam, tidak pula mampu memandang ke belakang karena masa lalu yang menyakitkan, maka lihatlah ke atas, niscaya akan Anda temukan Allah di hadapanmu, dan tersenyumlah!”

    @yalshubaily Dr Yusuf Al Syubailiy, Riyadh, pengajar fiqh di Ma’had ‘Ali (perguruan tinggi) Hukum, anggota Asosiasi Ahli Fiqh Syari’ah Amerika

    “Shalat yang khusu’ merupakan nikmat terbesar di dunia bagi seorang hamba, dan ia merupakan sebaik-baik penolong/penenang ketika kita menghadapi musibah/kesulitan. Ya Allah, jadikanlah aku dan anak cucuku sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku. [Ibrahim : 40]”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua hal yang dibenci oleh anak cucu Adam. Dia benci kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada tercebur ke dalam fitnah. Dia pun benci terhadap harta yang sedikit, padahal harta yang sedikit lebih ringan ketika dihisab kelak”

    @salamduhim Syaikh Salam Azh Zhafiri, pengajar di Sekolah Menengah Islam Cordoba, Spanyol

    “Biasakan dirimu untuk memulai SMS dan surat lainnya dengan “Assalamu’alaikum”, semoga engkau akan mendapatinya pada catatan amal solehmu, di hari kiamat kelak.”
    — @almohannam Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Muhanna, anggota Institut Ilmu Kehakiman Saudi Arabia (bagian dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud), dan salah seorang da’i di Kementerian Urusan Islam, KSA

    “T : Apa beda perkataan seorang mufti (biasanya di akhir fatwa -pent) “Wallahul muwaffiq (Dan Allah-lah yang Maha Memberi Taufik)” dengan “Wallaahu a’lam (Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui)”?
    J: “Wallahul muwaffiq” disebutkan pada ijma’ atau dalil yang telah jelas. Berbeda dengan “Wallaahu a’lam”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Segala kebaikanmu, keutamaan-keutamaan yang engkau kerjakan dan kewajiban-kewajiban yang engkau laksanakan, janganlah engkau pikirkan itu semua. Akan tetapi bergegaslah dan bersegeralah untuk menambahnya lagi dan bersegeralah untuk selalu berdzikir mengingat Allah Ta’ala.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Tidaklah keliru, jika hamba mendekati Rabb-nya ketika berbagai ujian menimpa. Tapi yang keliru, adalah jika dia lalai dari Rabb-nya dan lalai dari beribadah kepada-Nya ketika ujian telah usai.”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Perbedaan antara kesetaraan dan keadilan adalah bahwasanya kesetaraan itu menyamakan antara dua hal tanpa membedakan karakteristiknya, karenanya terkadang dapat menimbulkan kedzholiman, adapun keadilan adalah memberikan segala suatu, yang hal tersebut memang sesuai dan layak seseorang untuk mendapatkannya.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Jika tanganmu terlalu “pendek” untuk membalas kebaikan sahabatmu, maka “panjangkanlah lisanmu” dengan memperbanyak terima kasih dan mendo’akannya”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Keamanan terbesar bagi seorang insan adalah ia bisa leluasa memperbaiki amalannya, serta dapat menjauhkan dirinya dari kesalahan dan dosa.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Banyak diantara kita sering membicarakan niat dan maksud seseorang tentang apa yang mereka kerjakan. Tidak bisakah kita hanya memperhatikan niat dan tujuan kita masing-masing terhadap apa yang kita kerjakan sendiri..”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi A

    “Wahai Al Mushlih! Wahai orang yang melakukan perbaikan! Allah ingin menjaga agama-Nya melalui dirimu, bukan menjaga duniamu dengan menggunakan agama-Nya (!). Karenanya jika hilang sesuatu dari duniamu di jalan agamamu, maka itu adalah konsekuensi dari perjanjianmu dengan Rabb-mu. Karena sungguh Allah telah membeli jiwamu…”
    — @AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

    “Tersenyum dan tertawa itu baik karena dapat meringankan beban. Akan tetapi tentu dalam batas-batas yang tidak mengesampingkan akhlaq dan kehormatan kita. Nabi juga tersenyum dan bercanda dan beliau tidak berkata kecuali kebenaran.”
    — @_salehalsultan (Dr. Shalih As Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Membangun SDM dan mendidik akal, lebih utama dari membangun menara-menara dan meluaskan lahan pertanian”
    — @s_almajed Syaikh Sulaiman Al Majid, Anggota majelis syura Saudi Arabia, pengasuh berbagai majelis ilmu di kota Riyadh, website beliau http://www.salmajed.com

    “Saat umat ini menghadapi musuh-musuhnya dengan “tahmisyan”, keliru, maka tunggulah saatnya untuk “tahsyiman”, hancur”
    — @s_almajed Syaikh Sulaiman Al Majid, Anggota majelis syura Saudi Arabia, pengasuh berbagai majelis ilmu di kota Riyadh, website beliau http://www.salmajed.com

    “Allah berfirman, “Apakah kamu tidak melihat orang yang berpaling (dari al Quran)? Dia memberi sedikit lalu menahan sisanya” (An Najm: 33-34). Makna “menahan sisanya” adalah “memutuskannya”. Maka ayat ini mengandung dorongan untuk tetap konsisten dalam beramal shalih dan celaan bagi orang yang beramal baik kemudian putus atau tidak konsisten”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Ketika orang mengkritikmu atau mencelamu, maka perhatikan celaannya. Apabila ada kekurangan itu pada dirimu, maka perbaikilah langkahmu dan luruskan kesalahanmu. Namun apabila kekurangan itu tidak ada pada dirimu, berkatalah, “Alhamdulillah”, dan janganlah celaan itu mengganggu langkahmu”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Definisi orang miskin : orang yang merasa tidak cukup atas rezeki yang telah diperolehnya.”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    kumpulan tweet nasehat bijak para ulama – kata-kata mutiara islami para ulama – kalimat bijak ulama

    http://twitulama.tumblr.com/page/4

  2. kumpulan tweet nasehat bijak para ulama – kata-kata mutiara islami para ulama – kalimat bijak ulama

    http://twitulama.tumblr.com/page/7

    “Adakah hari ini telah kita didik anak-anak kita mencintai para shahabat? Berkata Malik bin Anas, “Para salaf biasa mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan ‘Umar, sama intensifnya seperti ketika mereka mengajarkan hafalan surat-surat Al Quran”
    — @almadani_k Dr. Khalid Azh Zhafiri, Imam dan khatib Masjid As Sa’idi, Kuwait, kini pengasuh web http://www.sahab.net dan beberapa kali mengisi daurah di Indonesia

    “Sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk mengagungkan apa yang Allah agungkan. Maka shalat menjadi sesuatu yang agung pada kehidupan seorang hamba setelah tauhid. Ketika seorang hamba sukses dalam shalatnya, maka urusan yang lain pun akan sukses. Allah-lah yang memberi taufik.”
    — @Alsaadaaa Fadhilatus Syaikh Al Muhaddits Abdullah bin Abdurrahman As Sa’ad, murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu ta’ala, pengampu web http://www.alssad.com/ lihat biografi selengkapnya di sini

    “Bukanlah yang disebut pemenang itu orang yang tertawa duluan. Berapa banyak orang yang tertawa di awal namun berakhir dengan kesedihan.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Hati itu senantiasa haus, tak ada yang bisa memuaskan dahaganya melainkan rasa cinta kepada Allah, dan berdzikir mengingat-Nya.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Allah menakdirkan sebagian kesulitan pada hamba-hambaNya, agar mereka beroleh kebahagiaan yang lebih besar setelahnya. Perhatikan, bagaimana setelah Allah menakdirkan kesedihan pada ibunya Musa (yaitu dengan terpisahnya mereka). Allah kemudian menghapus kesedihan itu dengan mengembalikan Musa kepada ibunya (yaitu menjadi ibu susuan dan bekerja di istana Fir’aun)”
    — Tafsir As Sa’di via @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Jika pintu antara dirimu dan apa yang kamu inginkan telah tertutup, mintalah bantuan dengan berdo’a. Karena do’a yang terucap dengan penuh kejujuran, akan membuka pintu-pintu yang tertutup”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Jangan lihat dosa orang lain sembari menganggap kita adalah pendeta suci. Tapi lihatlah dosa kita sembari menyadari bahwa kita adalah hamba sahaya yang kecil.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Celakalah orang berilmu yang enggan mengajarkan ilmunya kepada orang yang tidak tahu. Dan celakalah orang yang tidak tahu, namun tidak mau menerima ilmu”
    — Ibnu Taimiyyah dalam Mustadrak ‘ala Majmu’ Al Fatawa 2/281 via — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Satu pendapat menyebutkan bahwa Malik bin Anas (Imam Malik rahimahullahu ta’ala) lahir pada tahun wafatnya Anas bin Malik (sahabat, radhiyallaahu ‘anhu)”
    — @aissambachir Dr. ‘Isham Basyir, engineer telekomunikasi di Maroko, sekaligus doktor dalam bidang fiqh dan ‘ushul fiqh

    “Banyak orang membuang-buang waktunya untuk menonton TV, membaca koran, berbincang dengan keluarga dan teman-teman, akan tetapi jika disuruh menghafal Al Qur’an, shalat malam, atau menuntut ilmu, terasa malas dan berat. Mereka berkata, “Harta dan keluarga telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”. Beralasan dengan kesibukan mengejar harta, keluarga, sakit, dan lain sebagainya padahal Allah menyeru, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa ketika diserukan kepadamu, ‘Bergeraklah di jalan Allah!’, engkau justru bermalas-malasan. Apakah engkau lebih ridha dengan kehidupan dunia daripada di akhirat?” Maka bersungguh-sungguhlah!”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Perjalanan menuju Allah, mau tidak mau harus dilalui seorang hamba dengan berbagai dosa dan kesalahan, yang dampak negatifnya dapat dihapus dengan taubat dan istighfar. Maka jagalah lisanmu agar selalu basah dengan kalimat, “Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Gerhana adalah peringatan Allah kepada hamba-hambaNya. Bahwa Dzat yang mampu menutup matahari dan bulan untuk sementara, mampu menutup keduanya untuk selamanya. Bahwa Dzat yang mampu mengubah konstelasi bintang-bintang, mampu mengubah konstelasi benda-benda lain yang lebih besar dari itu”
    — @AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

    “Ibnu Katsir berkata, ‘Di masa pemerintahan khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, banyak dilakukan ekspedisi dan penaklukan ke seluruh penjuru dunia, dikarenakan Utsman banyak melakukan tilawah Al Qur’an’. Maka semakin engkau dekat dengan Al Qur’an, semakin engkau memperoleh barakahnya, sesuai kadar kedekatanmu dengan Al Qur’an. Allah berfirman, “Ini adalah kitab (yaitu Al Qur’an) yang penuh barakah dan kami turunkan”. Barakah itu, jika ada pada yang sedikit, akan menjadikannya banyak. Jika ada pada yang banyak, dia akan menjadikannya bermanfaat.”
    — @slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

    “Butuhnya hati untuk berdzikir mengingat Allah, lebih besar dari butuhnya badan terhadap udara dan air. Tidak ada kehidupan bagi hati yang tidak digunakan untuk berdzikir mengingat Allah. Maka perbanyaklah berdzikir mengingat Allah, agar kalian termasuk orang-orang yang beruntung.”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)
    1

    “Sebisa mungkin jangan keluar dari kebiasaan manusia (yang berlaku), kecuali dalam hal-hal yang diharamkan syari’at”
    — Ibnu ‘Uqail via @q8azm -Dr. Abdul Muhsin Al Muthiri, Doktor dalam bidang tafsir, Fakultas Syari’ah Universitas Kuwait-

    “Pemahaman yang shahih, adalah awal dari amal yang shalih”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Sikap seorang mukmin terhadap amal baiknya : yafrah wala yaghtar, senang namun tidak membuatnya tertipu (dari rasa ujub, bangga misalnya -pent), adapun terhadap amal buruknya : yakhaf wa laa yaqnuth, takut akan adzab-Nya akan tetapi tidak berputus asa dari rahmat Allah, dengan senantiasa bertaubat kepada-Nya”
    — @_salehalsultan (Dr. Shalih As Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Aku terpaku pada sebuah kalimat : “Wahai Ahlus Sunnah -semoga Allah merahmati kalian-, berlemahlembutlah! Karena kalian adalah kelompok manusia yang paling sedikit!” Dan tahukah kalian siapa yang mengucapkannya? Hasan Al Bashri! Seorang tabi’in dari generasi utama. (Maka bagaimana pula di zaman sekarang! -pent)”
    — @Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

    “Ibnu Katsir berkata : “Allah memberi karunia-Nya kepada ahli dzikir, lebih banyak dari yang ia beri kepada ahli do’a. Berdasarkan firmannya, ( فَـاذكرُوني أذكُركم) “Ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kalian”. Mari menjadi ahli dzikir..”
    — @q8azm -Dr. Abdul Muhsin Al Muthiri, Doktor dalam bidang tafsir, Fakultas Syari’ah Universitas Kuwait-

    “Kebenaran itu perlu : (1) dijelaskan dalil-dalilnya (2) teguh di atasnya (3) dijelaskan kepada orang yang masih ada syubhat dengan hikmah (4) orang yang membelanya saling tolong menolong (5) Jangan takut celaan kepada orang yang menyampaikannya, dan; (6) nasihat kepada orang yang memaksiatinya”
    — @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

    “Kunasihatkan kepada diriku, dan saudara-saudaraku yang kucintai, kita wajib mengetahui bahwa setiap kata yang kita ucapkan akan diperhitungkan. “Tidaklah seorang berkata, melainkan disisinya ada malaikat yg siap mencatat”. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan”
    — @fahadalkandri -Fahad Al Kundari, imam masjid besar negara Kuwait, dan insya Allah recital Al Qur’an beliau telah masyhur-

    kumpulan tweet nasehat bijak para ulama – kata-kata mutiara islami para ulama – kalimat bijak ulama

    http://twitulama.tumblr.com/

  3. Nasrani : “Boleh bertanya? Mengapa Rasul anda menikahi 11 atau 12 orang wanita? Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang suka mengumbar nafsu (seks).”

    Muslim : “Pertama, Tolong beritahu saya, orang yang menikah karena nafsu (seks) akan memilih gadis atau janda?”

    Nasrani : “Ia akan memilih gadis.”

    Muslim : “Wanita pertama yang dinikahi Rasulullah adalah Khadijah binti Khuwailid yang berstatus janda dan berusia 40 tahun.
    Kedua, pada usia berapakah nafsu seksual meledak-ledak?”

    Nasrani : “Kurang lebih mulai dari usia 16 tahun sampai 40 tahun, sebagai usia kesempurnaan bagi kejantanan dan kematangan akal.”

    Muslim : “Rasul kami tidak menikah dengan wanita lain setelah Khadijah, kecuali setelah usia beliau mencapai 50 tahun. Jadi, masalahnya adalah untuk kepentingan penetapan syari’at dan hikmah, bukan syahwat/nafsu.”

    Nasrani : “Baiklah… Jika bukan syahwat, kenapa harus menikahi wanita sebanyak itu, 11 atau 12 wanita? Kenapa tidak satu, dua atau empat?”

    Muslim : “Kenapa anda mempermasalahkan Rasul kami? Sedangkan Rasul2 kalian tidak kalian permasalahkan juga?!
    Bukankah anda beriman kepada Nabi Sulaiman? Padahal dalam kitab suci kalian disebutkan bahwa Nabi Sulaiman beristrikan 1000 orang wanita. (Disebutkan di dalam I Raja-Raja [11:2,3]: “…Hati Solomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik…”).
    Begitu juga dengan Nabi kalian yaitu Rehabeam yang memiliki 78 istri. (Disebutkan dalam II Tawarikh: “Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih daripada semua istri dan gundiknya, ia mengambil delapan belas istri dan enam puluh gundik…”).
    Maka bandingkanlah dengan jumlah istri dari Rasul kami yang hanya berjumlah 12 orang, mana yang terbanyak?
    Bagaimana anda mencela poligami Nabi kami dan mencacinya? Dan anda menganggap ini adalah aib dari kedudukan kenabian? Sementara kitab kalian sendiri telah menyebutkan poligami dari Nabi-nabi besar kalian, dan kalian menganggapnya wajar?!”

    Nasrani : “Hmm…Lalu kenapa juga Rasul anda menikahi gadis dibawah umur, yaitu Aisyah yang dinikahi pada usia 6 atau 9 tahun? Bukankah itu adalah aib juga?”

    Muslim : Bagaimana halnya dengan kehidupan kalian sendiri, yang mana wanita2 kalian telah banyak melakukan hubungan intim diluar nikah pada usia dibawah sepuluh tahun? Hal ini sudah diakui oleh berbagai media. Lantas kenapa anda mempermasalahkan Nabi kami yang menikahi wanita dibawah umur, sedangkan wanita2 kalian sendiri sangat banyak yang melakukan perzinahan dibawah umur? Mana yang lebih aib?”

    Nasrani : “Anggaplah wanita2 kami adalah oknum, jadi tidak bisa dijadikan landasan. Adapun Nabi anda adalah seorang yang suci dan mulia, tapi berbuat seperti itu? Lihatlah perbedaan usia yang sangat jauh tatkala Nabi anda menikahi Aisyah yang baru berusia 6 tahun sedangkan Nabi anda berusia 50 tahun, selisih 44 tahun!!”

    Muslim : “Apakah anda lupa atau tidak tahu terhadap sejarah Maria ‘Si perawan suci’? Pada usia berapa dia menikah di dalam sejarah kalian?
    Maria menikah dengan Yoseph ketika usia 12 tahun! Bukankah itu juga dibawah umur?? Sedangkan Yoseph waktu itu sudah berusia 89 tahun (disebutkan dalam Ensiklopedi Katolik). Usia mereka selisih 77 tahun!! Perbedaan yang sangat jauh sekali dibandingkan dengan Nabi kami.”

    Nasrani : “Baiklah… Kami menyerah pada anda dalam konteks Nabi anda, lalu mengapa anda (umat Islam) menikahi 4 orang wanita? Ini adalah penghinaan bagi wanita?!”

    Muslim : “Masyarakat Barat sekarang ini, seorang laki-laki menikahi satu orang wanita saja, tetapi berhubungan intim secara ilegal (haram) atau selingkuh dengan sejumlah wanita, baik teman maupun pacar gelap. Data statistik kontemporer di Barat menunjukkan bahwa populasi wanita lebih banyak daripada laki-laki. Hubungan intim yang dilakukan laki-laki membuat kaum wanita hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu saja. Lalu setelah si laki-laki menyalurkan libidonya, maka si wanita menjadi tidak berharga lagi baginya. Penghinaan terhadap wanita seperti apa yang lebih dahsyat dari itu?!
    Sedangkan agama kami mengharuskan kami untuk memperlakukan semua istri secara ma’ruf (baik) dan memberikan hak-hak mereka secara adil. Selain itu, wanita juga harus diposisikan sebagai bagian dari laki-laki, karena wanita adalah rumahnya, tempat tinggalnya dan pakaiannya. Itu adalah ikatan yang kuat di mana wanita dapat menemukan kehormatannya dan merealisasikan kewanitaannya. Jadi, manakah yang lebih agung dan lebih mulia, wahai para dokter sekalian?!”

    Nasrani : ….(glek…!)

    http://gizanherbal.wordpress.com/2012/01/07/dialog-muslim-dan-nasrani-bag-1/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s