Archives

kumpulan artikel menarik

sesungguhnya pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran

1. “emang pacaran dalam Islam nggak boleh ya?” | iya, Rasul melarang segala jenis khalwat (berdua-duaan) yg bukan mahram, termasuk pacaran
2. “walaupun beda negara? LDR gitu” | mau beda negara, mau beda alam, mau beda dunia, mau LDR mau tetangga, tetep aja haram
3. “kan pacarannya nggak ngapa-ngapain?” | nggak ngapa-ngapain aja dapet dosa, rugi kan? mendingan nggak usahlah
4. “tapi kan kita punya perasaan” | so? punya perasaan nggak buat kamu boleh melanggar hukum Allah yang kasi kamu perasaan

5. “kalo pacarannya bikin positif?” | positif hamil maksudnya?
6. “hehe.. jangan suudzann, maksudnya bersamanya bikin rajin shalat geto” | shalatmu untuk Allah atau untuk pacar? pernah denger ikhlas?
7. “nggak, maksudnya kita, dia kan ber-amar ma’ruf..” | halah, dusta, mana ada kema’rufan dalam membangkang aturan Allah :)
8. “kalo orangtua udah restui?” | mau orangtua restui, mau orangutan, tetep aja pacaran maksiat
9. “katanya ridha Allah bersama ridha ortu?” | wkwk.. ngawur, dalam taat pada Allah iya, dalam maksiat? masak ortu lebih tau dari Allah?
10. “jadi nggak boleh nih? kl dikit aja gimana?” | eee.. nawar, emang ini toko besi kulakan?
11. “terus solusinya gimana? kan Allah ciptakan rasa cinta?” | nikah, itu solusi dan baru namanya serius
12. “yaa.. saya kan masih belum cukup umur” | sudah tau belum niat nikah, kenapa malah mulai pacaran?
13. “pacaran kan enak, nikmat” | iya, nikmat bagi lelaki, bagimu penyesalan penuh airmata nanti
14. “pacar saya udah bilang dia serius sih, 6 tahun lagi baru dia lamar saya” | itu mah nggak serius, sama aja teken kontrak unt sengsara
15. “pacar sy bilang nunggu sampe punya rumah baru lamar” | itu agen properti atau calon suami? nggak serius banget
16. “pacar sy bilang nikahnya nanti kalo udah cukup duit” | alasan klise, itulah yg cowok katakan untuk tunjukkin betapa nggak komit dia
17. “pacar sy bilang mau nikah tapi tunggu saudaranya nikah dulu” | ya tunda aja hubungannya sampe saudaranya nikah
18. “pacar sy bilang dia siap, tapi nunggu lulus” | alasan yang paling menunjukkan ketidakseriusan, nggak siap tu namanya
19. “pacar sy siap ketemu ortu sy sekarang juga, tapi sy yg belum siap” | cape deeh (=_=);
20. “ya udah, kakak-adik aja ya?” | wkwk.. maksa banget sih mau maksiat? giliran suruh shalat aja banyak alasan
21. “terus yang serius itu yang gimana?” | yang berani datangi wali-mu, dan dapet restu wali-mu dan menikahimu segera
22. “iya, sy udah putusin pacar, dia mau bunuh diri katanya” | tuh, tau kan mental lelaki pacaran, suruh nguras laut aja lelaki begitu
23. hal terserius yang bisa dilakukan yg belum siap adalah memantaskan diri | bukan justru mengobral diri
24. pahami agama, kaji Islam, perjuangkan Islam sebagai persiapan, itu baru serius | agar pantas dirimu jadi pasangan dan ortu yg baik
25. cinta ada masanya, pantaskan diri untuknya | bukan dengan pacaran, baku syahwat pake badan
26. kl siap walau nikahnya harus besok, barulah ta’aruf | karena ta’aruf bukan mainan bagi yg belum siap
27. jadi serius bagi yg sudah siap adl dengan nikah | sementara serius bagi yg belum siap adl mendekat dan taat pada Allah | kelir?!http://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

Peradaban semakin menelanjangi wanita

••Peradaban semakin menelanjangi wanita.••

Dijaman ini, atau di peradaban yg dikatakan modern ini, perkembangan pemikiran-pemikiran modern semakin memasuki hati-hati kita, hingga banya merubah cara hidup sekeliling kita, termasuk cara berpakaian wanita dan laki2.

Seperti pakaian remaja sekarang semakin ketat, bahkan serba ketat, ada yg wanita pakai celana sepaha, ada wanita yg baju hampir setengah badan, dan mereka katakan MODERN, fhashion, anak jaman, dll.. Dan laki2 juga tidak kalah ketat, seperti celana ketat, dan celana sepaha, padahal kita semua tahu bahwa paha laki2 adalah aurat.

Terima atau tidak terima, perkembangan jaman ini yg dikatakan modern semakin menelanjangi wanita, dari kampung sampai perkotaan sudah banyak menelanjangi wanita, kita lihat wanita yg banyak berpakaian ketat layaknya orang telanjang, ada yg memakai jilbab tapi layaknya orang telanjang karena pakaian serba sempit, dan mereka berkata fashion, modern, jaman ini, ada bermacam-macam alasan mereka, entah itu apa, yg jelas intinya biar tidak kampungan, maka norma agama dibuangnya ke tempat sampah. Orang memakai jilbab besar atau yg pakai cadar dan berpakaian serba longgar dikatakan aliran sesat, sedang berpakaian layaknya orang telanjang dikatakan aliran tidak sesat. Jaman sudah terbalik, dimana yg bathil jadi mulia dan yg mulia jadi bathil, inilah realita sekarang, yg benar jadi aneh, dan yg membuang ajaran islam ketempat sampah jadi benar. Karena apa? Karena tidak mau belajar agama, yg dimau hanya belajar untuk hidup serba wahhh..dan melupakan adanya akherat, dan mengesampingkan ajaran agama.

Pacaran dianggap biasa, zina dianggap biasa, dan orang tidak zina dikatakan aneh, orang tidak apacaran karena takut mendekati zina dikatakan aneh dan kampungan.

Kita semua mau selamat dunia akherat, tapi apakah kita menempuh jalan untuk selamat dunia akherat, atau sekedar hanya keinginan tanpa adanya usaha?

Anda lihat, kakak wanita anda, anak wanita anda, adik wanita anda, sepupu wanita anda, teman wanita anda, sedang ditelanjangi oleh peradaban, mereka sedang ditelanjangi oleh fashion, mereka sedang ditelanjangi oleh modern, tidakkkah anda kasihan pada mereka? Kalau iya maka ingatkanlah, masehatilah, tanpa rasa lelah dan jangan kenal menyerah, karena tugas kita adalah saling mengingatkan dalam kebaikan.

Jangan sampai anak, kakak, adik dan keluarga anda jadi korban keganasan jaman yg semakin hari semakin menjauhkan agama dari kehidupan anak-anak dan remaja muslim.

Kemuliaan dan kebahagiaan hidup itu hanya ada dalam ketaatan kepada Allah.

Kebenaran hanya milik Allah.
_____________________________

• MARI JADI ORANG BAIK •

• JAGA IMAN – JAGA SHALAT – JAGA AKHLAQ – TUTUPLAH AURAT •

• follow twitter @QURANdanSUNNAH

Oleh – Muhammad al islam. (Penyusun buku tuntunan adab sunnah)
twitter @muhammadalislam

BBM SEORANG ISTRI SHOLEHAH YANG AKAN DIPOLIGAMI KEPADA SANG SUAMI

BBM SEORANG ISTRI SHOLEHAH YANG AKAN DIPOLIGAMI KEPADA SANG SUAMI:
Bismillah. Suamiku…sudah cukup panjang waktu yang telah kuhabiskan bersamamu… Banyak sekali kenangan tentangmu yang kusimpan rapi dihatiku… Kenangan indah dan buruk yang telah kita lalui bersama-sama…dengan tangisan dan canda tawa yang menghiasinya.
Suamiku…tidak pernah puas rasanya menghabiskan hari-hariku bersamamu, dan ingin rasanya selalu berada di dekatmu.
Sayang…mendampingimu dan mencintaimu adalah sesuatu yang terindah dalam hidupku.

Walaupun telah banyak deraian air mata yang tercurah untukmu…akan tetapi itu tidak pernah sedikitpun merubah rasa cintaku kepadamu.
Suamiku….Walau bagitu besar rasa cintaku padamu…akupun menyadari kau bukanlah milikku. Aku mencintaimu suamiku…amat sangat mencintaimu.
Aku tahu niatmu amatlah sangat kuat..dan aku ingin membahagiakanmu suamiku. Tidak ada sesuatu yang amat sangat berharga yang dapat aku persembahkan untukmu wahai makhluk Allah yang amat aku cintai selain memberikan apa yang selama ini kamu impi-impikan.

Aku istrimu yang penuh dengan kekurangan, keburukan, dan kehinaan ini, ingin menyatakan sesuatu…: Aku istrimu -dengan mengharap wajah Allah- aku ridho dengan keputusanmu. Menikahlah suamiku…Gapailah impianmu. Aku ridho dengan semua ketentuan Allah dan aku akan terus berusaha mengesampingkan perasaanku.

Aku tahu ini pasti amatlah berat untukku, tetapi aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Semoga Allah memberikan istri yang baik untukmu, seorang istri yang shalihah yang mencintaimu karena Allah. Yang membuat engkau semakin dekat dengan Allah…sehingga kaupun semakin dekat denganku dan anak-anakku..bukan semakin menjauh….

Firanda berkata : Sang suami yang akan berpoligami adalah teman dekat saya….kita doakan semoga Allah tetap menjadikan mereka pasangan yang mesra dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi dan semakin dekat kepada Allah…, dan semoga harapan sang istri yang sholehah juga terwujudkan oleh Allah…aaamiiin

http://www.facebook.com/firanda.andirja

www.firanda.com

_

http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/405818_310682242321914_508564924_n.jpghttp://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/405818_310682242321914_508564924_n.jpg

stop pacaran

 

Dari telinga jatuh ke hati, itulah wanita, mudah terpesona dengan apa yang didengarinya.
Akibatnya, sering tertipu antara pujian hakiki dan tipu daya perangkap.

Dari mata jatuh ke hati, itulah lelaki, mudah terpesona dengan apa yang dilihatnya, hingga kerap terkeliru antara indah hakiki & palsu.

Oleh karena itu, wanita perlu berhati-hati dengan ucapan indah yang didengarnya, & lelaki perlu menjaga pandangannya…

Salam Ukhuwah^_^

http://www.facebook.com/pages/Menjalin-Persaudaraan-Silaturrahmi/198935930140214

Foto: Dari telinga jatuh ke hati, itulah wanita, mudah terpesona dengan apa yang didengarinya.<br />
Akibatnya, sering tertipu antara pujian hakiki dan tipu daya perangkap.</p>
<p>Dari mata jatuh ke hati, itulah lelaki, mudah terpesona dengan apa yang dilihatnya, hingga kerap terkeliru antara indah hakiki & palsu.</p>
<p>Oleh karena itu, wanita perlu berhati-hati dengan ucapan indah yang didengarnya, & lelaki perlu menjaga pandangannya…</p>
<p>Salam Ukhuwah^_^</p>
<p><a href=http://www.facebook.com/pages/Menjalin-Persaudaraan-Silaturrahmi/198935930140214&#8243; width=”403″ height=”403″ />

 

Dimana Allah?

Dimana Allah?

Jika dijawab “Allah di atas Arsy” atau “Allah di langit”, maka benar. Dan ini bukan hanya jawaban budak perempuan dan ulama yang mumpuni. Bahkan ini jawaban Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Lalu Allah bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]. Juga dalam ayat lain: “ Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]. Ini pula pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:
“Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit?” [Muttafaqun 'Alaihi]

Jika dijawab “Sesungguhnya Allah itu dekat” maka ini pun benar. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” [QS. Al-Baqarah: 186]. Namun maksud qoriib (dekat) dalam ayat ini bukan Dzat Allah, namun ilmu-Nya. Dalilnya adalah sehingga lanjutan ayat yg artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu“. Ini menunjukkan bahwa dekatnya Allah dalam hal kekuasaan Allah untuk mendengar setiap doa manusia dan mengabulkannya, dan ini adalah ilmu Allah. Dalil lain adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:
“… Sesungguhnya Allah Yang engkau berdo’a kepada-Nya, lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya.” [Muttafaqun'alaih]

Sekali lagi dalam dalil ini mengaitkan sifat Dekat Allah dengan doa. Maka jelas, yang dimaksud dekatnya Allah bukanlah Dzat-Nya.

Dan ini bukanlah ta’wil, bahkan merupakan tafsir dari ayat, yang artinya:
“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadiid: 4]

Dan dijelaskan oleh para ulama, bahwa ma’iyah (kebersamaan) di sini bukan berarti Dzat Allah menyatu atau menempel dengan makhluqnya. Hal ini ditunjukkan dari sisi bahasa, sebagaimana perkataan dalam bahasa arab yang artinya ‘musafir berjalan bersama bulan’ maka tidak berarti ia menyatu dengan bulan. Hal ini juga telah menjadi ijma ulama (dan ijma adalah dalil) bahwa ma’iyatullah tidak melazimkan bersatunya Dzat Allah dengan makhluq-Nya.

Ringkasnya, tidak ada pertentangan antara dalil-dalil yang menunjukkan Allah itu di atas Arsy dan yang menunjukkan Allah itu dekat.

Ana kutipkan perkataan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di (salah seorang ulama mumpuni): “Apa yang telah dituturkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, bahwa Allah dekat dan bersama makhluk-Nya, tidaklah bertentangan dengan yang Allah firmankan, bahwa Allah Mahatinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala Sifat-Sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, tetapi dekat dalam ketinggian-Nya” (at-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 63-66)

Wallahu’alam.

Sumber:
http://almanhaj.or.id/
– Kajian Ustadz Abu Aisya Al Bakistani (via paltalk)

dalil2 selengkapnya silahkan baca di:
http://muslim.or.id/aqidah/dimanakah-alloh.html
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah

Foto: Dimana Allah?</p>
<p>Jika dijawab “Allah di atas Arsy” atau “Allah di langit”, maka benar. Dan ini bukan hanya jawaban budak perempuan dan ulama yang mumpuni. Bahkan ini jawaban Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Lalu Allah bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]. Juga dalam ayat lain: “ Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]. Ini pula pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:<br />
“Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit?” [Muttafaqun 'Alaihi]</p>
<p>Jika dijawab “Sesungguhnya Allah itu dekat” maka ini pun benar. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:<br />
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” [QS. Al-Baqarah: 186]. Namun maksud qoriib (dekat) dalam ayat ini bukan Dzat Allah, namun ilmu-Nya. Dalilnya adalah sehingga lanjutan ayat yg artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu“. Ini menunjukkan bahwa dekatnya Allah dalam hal kekuasaan Allah untuk mendengar setiap doa manusia dan mengabulkannya, dan ini adalah ilmu Allah. Dalil lain adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:<br />
“… Sesungguhnya Allah Yang engkau berdo’a kepada-Nya, lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya.” [Muttafaqun'alaih]</p>
<p>Sekali lagi dalam dalil ini mengaitkan sifat Dekat Allah dengan doa. Maka jelas, yang dimaksud dekatnya Allah bukanlah Dzat-Nya.</p>
<p>Dan ini bukanlah ta’wil, bahkan merupakan tafsir dari ayat, yang artinya:<br />
“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadiid: 4]</p>
<p>Dan dijelaskan oleh para ulama, bahwa ma’iyah (kebersamaan) di sini bukan berarti Dzat Allah menyatu atau menempel dengan makhluqnya. Hal ini ditunjukkan dari sisi bahasa, sebagaimana perkataan dalam bahasa arab yang artinya ‘musafir berjalan bersama bulan’ maka tidak berarti ia menyatu dengan bulan. Hal ini juga telah menjadi ijma ulama (dan ijma adalah dalil) bahwa ma’iyatullah tidak melazimkan bersatunya Dzat Allah dengan makhluq-Nya.</p>
<p>Ringkasnya, tidak ada pertentangan antara dalil-dalil yang menunjukkan Allah itu di atas Arsy dan yang menunjukkan Allah itu dekat. </p>
<p>Ana kutipkan perkataan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di (salah seorang ulama mumpuni): “Apa yang telah dituturkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, bahwa Allah dekat dan bersama makhluk-Nya, tidaklah bertentangan dengan yang Allah firmankan, bahwa Allah Mahatinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala Sifat-Sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, tetapi dekat dalam ketinggian-Nya” (at-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 63-66)</p>
<p>Wallahu’alam.</p>
<p>Sumber:<br />
– <a href=http://almanhaj.or.id
– Kajian Ustadz Abu Aisya Al Bakistani (via paltalk)

dalil2 selengkapnya silahkan baca di:

http://muslim.or.id/aqidah/dimanakah-alloh.html

http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah&#8221; width=”403″ height=”403″ />

Doa Ketika Galau

Doa Ketika Galau

Zaman sekarang pemuda pemudi pasti tidak asing dengan kata “Galau”, satu kata pendek yang sering didengung-dengungkan ini mampu menggambarkan suatu keadaan yang menggelisahkan hati, susah, gundah gulana baik karena masalah jodoh, pekerjaan, keluarga, atau masalah kehidupan dunia yang lain. Yang paling sering kita pahami dan yang dimaksudkan, kata “Galau” ini dikaitkan dengan masalah yang pertama kami sebutkan, yaitu Jodoh. Entah kenapa konotasinya kebanyakan menuju kesana. Wallahua’lam. Tentu setiap orang akan merasa tidak nyaman jika mengalami kegalauan, dan setiap orang akan berusaha keluar dari zona ini. Tentunya kita harus melampiaskan rasa galau ini dengan segala kegiatan positif terlebih lagi yang membawa pahala, dan jangan sampai kegalauan dilampiaskan dengan kemaksiatan, naudzubillahi min dzalik. Optimis….itulah kuncinya, karena Nabi bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“…..dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) itu bersama kesabaran, dan jalan keluar (dari kesulitan) selalu bersama kesulitan (itu sendiri), dan kemudahan selalu menyertai kesusahan”.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang paham akan ummatnya telah memberikan resep yang manjur untuk mengobati rasa galau ini. Oleh karena itu alangkah baiknya kita menyimak, menghafalkan, serta mengamalkan dzikir yang diajarkan oleh Nabi ‘alayhis sholatu was salam ketika hati ini dirundung kegalauan, kegundahan, atau kesedihan.

Dari ‘Abdulloh ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim ditimpa oleh kegalauan atau kesedihan lalu ia mengucapkan:
– اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

(artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, qadha’Mu adalah adil bagiku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) Mu yang telah Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaklah kiranya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku serta penghilang kegalauanku”)

Melainkan Allah ta’ala akan menghilangkan kegalauannya dan kesedihannya kemudian menggantinya dengan kegembiraan. Salah seorang bertanya: “Wahai Rasululloh, bolehkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya sudah seharusnya orang yang mendengar do’a tersebut mempelajarinya”. (Al-Musnad, HR Imam Ahmad I/391)

Artikel: http://maramissetiawan.wordpress.com/

Foto: Doa Ketika Galau </p>
<p>Zaman sekarang pemuda pemudi pasti tidak asing dengan kata “Galau”, satu kata pendek yang sering didengung-dengungkan ini mampu menggambarkan suatu keadaan yang menggelisahkan hati, susah, gundah gulana baik karena masalah jodoh, pekerjaan, keluarga, atau masalah kehidupan dunia yang lain. Yang paling sering kita pahami dan yang dimaksudkan, kata “Galau” ini dikaitkan dengan masalah yang pertama kami sebutkan, yaitu Jodoh. Entah kenapa konotasinya kebanyakan menuju kesana. Wallahua’lam. Tentu setiap orang akan merasa tidak nyaman jika mengalami kegalauan, dan setiap orang akan berusaha keluar dari zona ini. Tentunya kita harus melampiaskan rasa galau ini dengan segala kegiatan positif terlebih lagi yang membawa pahala, dan jangan sampai kegalauan dilampiaskan dengan kemaksiatan, naudzubillahi min dzalik. Optimis….itulah kuncinya, karena Nabi bersabda,<br />
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً</p>
<p>“…..dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) itu bersama kesabaran, dan jalan keluar (dari kesulitan) selalu bersama kesulitan (itu sendiri), dan kemudahan selalu menyertai kesusahan”.</p>
<p>Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang paham akan ummatnya telah memberikan resep yang manjur untuk mengobati rasa galau ini. Oleh karena itu alangkah baiknya kita menyimak, menghafalkan, serta mengamalkan dzikir yang diajarkan oleh Nabi ‘alayhis sholatu was salam ketika hati ini dirundung kegalauan, kegundahan, atau kesedihan.</p>
<p>Dari ‘Abdulloh ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda,</p>
<p>“Tidaklah seorang muslim ditimpa oleh kegalauan atau kesedihan lalu ia mengucapkan:<br />
– اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.</p>
<p>(artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, qadha’Mu adalah adil bagiku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) Mu yang telah Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaklah kiranya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku serta penghilang kegalauanku”)</p>
<p>Melainkan Allah ta’ala akan menghilangkan kegalauannya dan kesedihannya kemudian menggantinya dengan kegembiraan. Salah seorang bertanya: “Wahai Rasululloh, bolehkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya sudah seharusnya orang yang mendengar do’a tersebut mempelajarinya”. (Al-Musnad, HR Imam Ahmad I/391)</p>
<p>Artikel: <a href=http://maramissetiawan.wordpress.com&#8221; width=”403″ height=”403″ />