Archives

kumpulan artikel menarik

sesungguhnya pacaran adalah perbuatan haram, maka janganlah berpacaran

1. “emang pacaran dalam Islam nggak boleh ya?” | iya, Rasul melarang segala jenis khalwat (berdua-duaan) yg bukan mahram, termasuk pacaran
2. “walaupun beda negara? LDR gitu” | mau beda negara, mau beda alam, mau beda dunia, mau LDR mau tetangga, tetep aja haram
3. “kan pacarannya nggak ngapa-ngapain?” | nggak ngapa-ngapain aja dapet dosa, rugi kan? mendingan nggak usahlah
4. “tapi kan kita punya perasaan” | so? punya perasaan nggak buat kamu boleh melanggar hukum Allah yang kasi kamu perasaan

5. “kalo pacarannya bikin positif?” | positif hamil maksudnya?
6. “hehe.. jangan suudzann, maksudnya bersamanya bikin rajin shalat geto” | shalatmu untuk Allah atau untuk pacar? pernah denger ikhlas?
7. “nggak, maksudnya kita, dia kan ber-amar ma’ruf..” | halah, dusta, mana ada kema’rufan dalam membangkang aturan Allah :)
8. “kalo orangtua udah restui?” | mau orangtua restui, mau orangutan, tetep aja pacaran maksiat
9. “katanya ridha Allah bersama ridha ortu?” | wkwk.. ngawur, dalam taat pada Allah iya, dalam maksiat? masak ortu lebih tau dari Allah?
10. “jadi nggak boleh nih? kl dikit aja gimana?” | eee.. nawar, emang ini toko besi kulakan?
11. “terus solusinya gimana? kan Allah ciptakan rasa cinta?” | nikah, itu solusi dan baru namanya serius
12. “yaa.. saya kan masih belum cukup umur” | sudah tau belum niat nikah, kenapa malah mulai pacaran?
13. “pacaran kan enak, nikmat” | iya, nikmat bagi lelaki, bagimu penyesalan penuh airmata nanti
14. “pacar saya udah bilang dia serius sih, 6 tahun lagi baru dia lamar saya” | itu mah nggak serius, sama aja teken kontrak unt sengsara
15. “pacar sy bilang nunggu sampe punya rumah baru lamar” | itu agen properti atau calon suami? nggak serius banget
16. “pacar sy bilang nikahnya nanti kalo udah cukup duit” | alasan klise, itulah yg cowok katakan untuk tunjukkin betapa nggak komit dia
17. “pacar sy bilang mau nikah tapi tunggu saudaranya nikah dulu” | ya tunda aja hubungannya sampe saudaranya nikah
18. “pacar sy bilang dia siap, tapi nunggu lulus” | alasan yang paling menunjukkan ketidakseriusan, nggak siap tu namanya
19. “pacar sy siap ketemu ortu sy sekarang juga, tapi sy yg belum siap” | cape deeh (=_=);
20. “ya udah, kakak-adik aja ya?” | wkwk.. maksa banget sih mau maksiat? giliran suruh shalat aja banyak alasan
21. “terus yang serius itu yang gimana?” | yang berani datangi wali-mu, dan dapet restu wali-mu dan menikahimu segera
22. “iya, sy udah putusin pacar, dia mau bunuh diri katanya” | tuh, tau kan mental lelaki pacaran, suruh nguras laut aja lelaki begitu
23. hal terserius yang bisa dilakukan yg belum siap adalah memantaskan diri | bukan justru mengobral diri
24. pahami agama, kaji Islam, perjuangkan Islam sebagai persiapan, itu baru serius | agar pantas dirimu jadi pasangan dan ortu yg baik
25. cinta ada masanya, pantaskan diri untuknya | bukan dengan pacaran, baku syahwat pake badan
26. kl siap walau nikahnya harus besok, barulah ta’aruf | karena ta’aruf bukan mainan bagi yg belum siap
27. jadi serius bagi yg sudah siap adl dengan nikah | sementara serius bagi yg belum siap adl mendekat dan taat pada Allah | kelir?!http://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

Peradaban semakin menelanjangi wanita

••Peradaban semakin menelanjangi wanita.••

Dijaman ini, atau di peradaban yg dikatakan modern ini, perkembangan pemikiran-pemikiran modern semakin memasuki hati-hati kita, hingga banya merubah cara hidup sekeliling kita, termasuk cara berpakaian wanita dan laki2.

Seperti pakaian remaja sekarang semakin ketat, bahkan serba ketat, ada yg wanita pakai celana sepaha, ada wanita yg baju hampir setengah badan, dan mereka katakan MODERN, fhashion, anak jaman, dll.. Dan laki2 juga tidak kalah ketat, seperti celana ketat, dan celana sepaha, padahal kita semua tahu bahwa paha laki2 adalah aurat.

Terima atau tidak terima, perkembangan jaman ini yg dikatakan modern semakin menelanjangi wanita, dari kampung sampai perkotaan sudah banyak menelanjangi wanita, kita lihat wanita yg banyak berpakaian ketat layaknya orang telanjang, ada yg memakai jilbab tapi layaknya orang telanjang karena pakaian serba sempit, dan mereka berkata fashion, modern, jaman ini, ada bermacam-macam alasan mereka, entah itu apa, yg jelas intinya biar tidak kampungan, maka norma agama dibuangnya ke tempat sampah. Orang memakai jilbab besar atau yg pakai cadar dan berpakaian serba longgar dikatakan aliran sesat, sedang berpakaian layaknya orang telanjang dikatakan aliran tidak sesat. Jaman sudah terbalik, dimana yg bathil jadi mulia dan yg mulia jadi bathil, inilah realita sekarang, yg benar jadi aneh, dan yg membuang ajaran islam ketempat sampah jadi benar. Karena apa? Karena tidak mau belajar agama, yg dimau hanya belajar untuk hidup serba wahhh..dan melupakan adanya akherat, dan mengesampingkan ajaran agama.

Pacaran dianggap biasa, zina dianggap biasa, dan orang tidak zina dikatakan aneh, orang tidak apacaran karena takut mendekati zina dikatakan aneh dan kampungan.

Kita semua mau selamat dunia akherat, tapi apakah kita menempuh jalan untuk selamat dunia akherat, atau sekedar hanya keinginan tanpa adanya usaha?

Anda lihat, kakak wanita anda, anak wanita anda, adik wanita anda, sepupu wanita anda, teman wanita anda, sedang ditelanjangi oleh peradaban, mereka sedang ditelanjangi oleh fashion, mereka sedang ditelanjangi oleh modern, tidakkkah anda kasihan pada mereka? Kalau iya maka ingatkanlah, masehatilah, tanpa rasa lelah dan jangan kenal menyerah, karena tugas kita adalah saling mengingatkan dalam kebaikan.

Jangan sampai anak, kakak, adik dan keluarga anda jadi korban keganasan jaman yg semakin hari semakin menjauhkan agama dari kehidupan anak-anak dan remaja muslim.

Kemuliaan dan kebahagiaan hidup itu hanya ada dalam ketaatan kepada Allah.

Kebenaran hanya milik Allah.
_____________________________

• MARI JADI ORANG BAIK •

• JAGA IMAN – JAGA SHALAT – JAGA AKHLAQ – TUTUPLAH AURAT •

• follow twitter @QURANdanSUNNAH

Oleh – Muhammad al islam. (Penyusun buku tuntunan adab sunnah)
twitter @muhammadalislam

BBM SEORANG ISTRI SHOLEHAH YANG AKAN DIPOLIGAMI KEPADA SANG SUAMI

BBM SEORANG ISTRI SHOLEHAH YANG AKAN DIPOLIGAMI KEPADA SANG SUAMI:
Bismillah. Suamiku…sudah cukup panjang waktu yang telah kuhabiskan bersamamu… Banyak sekali kenangan tentangmu yang kusimpan rapi dihatiku… Kenangan indah dan buruk yang telah kita lalui bersama-sama…dengan tangisan dan canda tawa yang menghiasinya.
Suamiku…tidak pernah puas rasanya menghabiskan hari-hariku bersamamu, dan ingin rasanya selalu berada di dekatmu.
Sayang…mendampingimu dan mencintaimu adalah sesuatu yang terindah dalam hidupku.

Walaupun telah banyak deraian air mata yang tercurah untukmu…akan tetapi itu tidak pernah sedikitpun merubah rasa cintaku kepadamu.
Suamiku….Walau bagitu besar rasa cintaku padamu…akupun menyadari kau bukanlah milikku. Aku mencintaimu suamiku…amat sangat mencintaimu.
Aku tahu niatmu amatlah sangat kuat..dan aku ingin membahagiakanmu suamiku. Tidak ada sesuatu yang amat sangat berharga yang dapat aku persembahkan untukmu wahai makhluk Allah yang amat aku cintai selain memberikan apa yang selama ini kamu impi-impikan.

Aku istrimu yang penuh dengan kekurangan, keburukan, dan kehinaan ini, ingin menyatakan sesuatu…: Aku istrimu -dengan mengharap wajah Allah- aku ridho dengan keputusanmu. Menikahlah suamiku…Gapailah impianmu. Aku ridho dengan semua ketentuan Allah dan aku akan terus berusaha mengesampingkan perasaanku.

Aku tahu ini pasti amatlah berat untukku, tetapi aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Semoga Allah memberikan istri yang baik untukmu, seorang istri yang shalihah yang mencintaimu karena Allah. Yang membuat engkau semakin dekat dengan Allah…sehingga kaupun semakin dekat denganku dan anak-anakku..bukan semakin menjauh….

Firanda berkata : Sang suami yang akan berpoligami adalah teman dekat saya….kita doakan semoga Allah tetap menjadikan mereka pasangan yang mesra dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi dan semakin dekat kepada Allah…, dan semoga harapan sang istri yang sholehah juga terwujudkan oleh Allah…aaamiiin

http://www.facebook.com/firanda.andirja

www.firanda.com

_

http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/405818_310682242321914_508564924_n.jpghttp://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/405818_310682242321914_508564924_n.jpg

stop pacaran

 

Dari telinga jatuh ke hati, itulah wanita, mudah terpesona dengan apa yang didengarinya.
Akibatnya, sering tertipu antara pujian hakiki dan tipu daya perangkap.

Dari mata jatuh ke hati, itulah lelaki, mudah terpesona dengan apa yang dilihatnya, hingga kerap terkeliru antara indah hakiki & palsu.

Oleh karena itu, wanita perlu berhati-hati dengan ucapan indah yang didengarnya, & lelaki perlu menjaga pandangannya…

Salam Ukhuwah^_^

http://www.facebook.com/pages/Menjalin-Persaudaraan-Silaturrahmi/198935930140214

Foto: Dari telinga jatuh ke hati, itulah wanita, mudah terpesona dengan apa yang didengarinya.<br />
Akibatnya, sering tertipu antara pujian hakiki dan tipu daya perangkap.</p>
<p>Dari mata jatuh ke hati, itulah lelaki, mudah terpesona dengan apa yang dilihatnya, hingga kerap terkeliru antara indah hakiki & palsu.</p>
<p>Oleh karena itu, wanita perlu berhati-hati dengan ucapan indah yang didengarnya, & lelaki perlu menjaga pandangannya…</p>
<p>Salam Ukhuwah^_^</p>
<p><a href=http://www.facebook.com/pages/Menjalin-Persaudaraan-Silaturrahmi/198935930140214&#8243; width=”403″ height=”403″ />

 

Dimana Allah?

Dimana Allah?

Jika dijawab “Allah di atas Arsy” atau “Allah di langit”, maka benar. Dan ini bukan hanya jawaban budak perempuan dan ulama yang mumpuni. Bahkan ini jawaban Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Lalu Allah bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]. Juga dalam ayat lain: “ Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]. Ini pula pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:
“Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit?” [Muttafaqun 'Alaihi]

Jika dijawab “Sesungguhnya Allah itu dekat” maka ini pun benar. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” [QS. Al-Baqarah: 186]. Namun maksud qoriib (dekat) dalam ayat ini bukan Dzat Allah, namun ilmu-Nya. Dalilnya adalah sehingga lanjutan ayat yg artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu“. Ini menunjukkan bahwa dekatnya Allah dalam hal kekuasaan Allah untuk mendengar setiap doa manusia dan mengabulkannya, dan ini adalah ilmu Allah. Dalil lain adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:
“… Sesungguhnya Allah Yang engkau berdo’a kepada-Nya, lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya.” [Muttafaqun'alaih]

Sekali lagi dalam dalil ini mengaitkan sifat Dekat Allah dengan doa. Maka jelas, yang dimaksud dekatnya Allah bukanlah Dzat-Nya.

Dan ini bukanlah ta’wil, bahkan merupakan tafsir dari ayat, yang artinya:
“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadiid: 4]

Dan dijelaskan oleh para ulama, bahwa ma’iyah (kebersamaan) di sini bukan berarti Dzat Allah menyatu atau menempel dengan makhluqnya. Hal ini ditunjukkan dari sisi bahasa, sebagaimana perkataan dalam bahasa arab yang artinya ‘musafir berjalan bersama bulan’ maka tidak berarti ia menyatu dengan bulan. Hal ini juga telah menjadi ijma ulama (dan ijma adalah dalil) bahwa ma’iyatullah tidak melazimkan bersatunya Dzat Allah dengan makhluq-Nya.

Ringkasnya, tidak ada pertentangan antara dalil-dalil yang menunjukkan Allah itu di atas Arsy dan yang menunjukkan Allah itu dekat.

Ana kutipkan perkataan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di (salah seorang ulama mumpuni): “Apa yang telah dituturkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, bahwa Allah dekat dan bersama makhluk-Nya, tidaklah bertentangan dengan yang Allah firmankan, bahwa Allah Mahatinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala Sifat-Sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, tetapi dekat dalam ketinggian-Nya” (at-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 63-66)

Wallahu’alam.

Sumber:
http://almanhaj.or.id/
– Kajian Ustadz Abu Aisya Al Bakistani (via paltalk)

dalil2 selengkapnya silahkan baca di:
http://muslim.or.id/aqidah/dimanakah-alloh.html
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah

Foto: Dimana Allah?</p>
<p>Jika dijawab “Allah di atas Arsy” atau “Allah di langit”, maka benar. Dan ini bukan hanya jawaban budak perempuan dan ulama yang mumpuni. Bahkan ini jawaban Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Lalu Allah bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]. Juga dalam ayat lain: “ Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]. Ini pula pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:<br />
“Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit?” [Muttafaqun 'Alaihi]</p>
<p>Jika dijawab “Sesungguhnya Allah itu dekat” maka ini pun benar. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:<br />
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” [QS. Al-Baqarah: 186]. Namun maksud qoriib (dekat) dalam ayat ini bukan Dzat Allah, namun ilmu-Nya. Dalilnya adalah sehingga lanjutan ayat yg artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu“. Ini menunjukkan bahwa dekatnya Allah dalam hal kekuasaan Allah untuk mendengar setiap doa manusia dan mengabulkannya, dan ini adalah ilmu Allah. Dalil lain adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:<br />
“… Sesungguhnya Allah Yang engkau berdo’a kepada-Nya, lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya.” [Muttafaqun'alaih]</p>
<p>Sekali lagi dalam dalil ini mengaitkan sifat Dekat Allah dengan doa. Maka jelas, yang dimaksud dekatnya Allah bukanlah Dzat-Nya.</p>
<p>Dan ini bukanlah ta’wil, bahkan merupakan tafsir dari ayat, yang artinya:<br />
“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadiid: 4]</p>
<p>Dan dijelaskan oleh para ulama, bahwa ma’iyah (kebersamaan) di sini bukan berarti Dzat Allah menyatu atau menempel dengan makhluqnya. Hal ini ditunjukkan dari sisi bahasa, sebagaimana perkataan dalam bahasa arab yang artinya ‘musafir berjalan bersama bulan’ maka tidak berarti ia menyatu dengan bulan. Hal ini juga telah menjadi ijma ulama (dan ijma adalah dalil) bahwa ma’iyatullah tidak melazimkan bersatunya Dzat Allah dengan makhluq-Nya.</p>
<p>Ringkasnya, tidak ada pertentangan antara dalil-dalil yang menunjukkan Allah itu di atas Arsy dan yang menunjukkan Allah itu dekat. </p>
<p>Ana kutipkan perkataan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di (salah seorang ulama mumpuni): “Apa yang telah dituturkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, bahwa Allah dekat dan bersama makhluk-Nya, tidaklah bertentangan dengan yang Allah firmankan, bahwa Allah Mahatinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala Sifat-Sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, tetapi dekat dalam ketinggian-Nya” (at-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 63-66)</p>
<p>Wallahu’alam.</p>
<p>Sumber:<br />
– <a href=http://almanhaj.or.id
– Kajian Ustadz Abu Aisya Al Bakistani (via paltalk)

dalil2 selengkapnya silahkan baca di:

http://muslim.or.id/aqidah/dimanakah-alloh.html

http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah&#8221; width=”403″ height=”403″ />

Doa Ketika Galau

Doa Ketika Galau

Zaman sekarang pemuda pemudi pasti tidak asing dengan kata “Galau”, satu kata pendek yang sering didengung-dengungkan ini mampu menggambarkan suatu keadaan yang menggelisahkan hati, susah, gundah gulana baik karena masalah jodoh, pekerjaan, keluarga, atau masalah kehidupan dunia yang lain. Yang paling sering kita pahami dan yang dimaksudkan, kata “Galau” ini dikaitkan dengan masalah yang pertama kami sebutkan, yaitu Jodoh. Entah kenapa konotasinya kebanyakan menuju kesana. Wallahua’lam. Tentu setiap orang akan merasa tidak nyaman jika mengalami kegalauan, dan setiap orang akan berusaha keluar dari zona ini. Tentunya kita harus melampiaskan rasa galau ini dengan segala kegiatan positif terlebih lagi yang membawa pahala, dan jangan sampai kegalauan dilampiaskan dengan kemaksiatan, naudzubillahi min dzalik. Optimis….itulah kuncinya, karena Nabi bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“…..dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) itu bersama kesabaran, dan jalan keluar (dari kesulitan) selalu bersama kesulitan (itu sendiri), dan kemudahan selalu menyertai kesusahan”.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang paham akan ummatnya telah memberikan resep yang manjur untuk mengobati rasa galau ini. Oleh karena itu alangkah baiknya kita menyimak, menghafalkan, serta mengamalkan dzikir yang diajarkan oleh Nabi ‘alayhis sholatu was salam ketika hati ini dirundung kegalauan, kegundahan, atau kesedihan.

Dari ‘Abdulloh ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim ditimpa oleh kegalauan atau kesedihan lalu ia mengucapkan:
– اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

(artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, qadha’Mu adalah adil bagiku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) Mu yang telah Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaklah kiranya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku serta penghilang kegalauanku”)

Melainkan Allah ta’ala akan menghilangkan kegalauannya dan kesedihannya kemudian menggantinya dengan kegembiraan. Salah seorang bertanya: “Wahai Rasululloh, bolehkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya sudah seharusnya orang yang mendengar do’a tersebut mempelajarinya”. (Al-Musnad, HR Imam Ahmad I/391)

Artikel: http://maramissetiawan.wordpress.com/

Foto: Doa Ketika Galau </p>
<p>Zaman sekarang pemuda pemudi pasti tidak asing dengan kata “Galau”, satu kata pendek yang sering didengung-dengungkan ini mampu menggambarkan suatu keadaan yang menggelisahkan hati, susah, gundah gulana baik karena masalah jodoh, pekerjaan, keluarga, atau masalah kehidupan dunia yang lain. Yang paling sering kita pahami dan yang dimaksudkan, kata “Galau” ini dikaitkan dengan masalah yang pertama kami sebutkan, yaitu Jodoh. Entah kenapa konotasinya kebanyakan menuju kesana. Wallahua’lam. Tentu setiap orang akan merasa tidak nyaman jika mengalami kegalauan, dan setiap orang akan berusaha keluar dari zona ini. Tentunya kita harus melampiaskan rasa galau ini dengan segala kegiatan positif terlebih lagi yang membawa pahala, dan jangan sampai kegalauan dilampiaskan dengan kemaksiatan, naudzubillahi min dzalik. Optimis….itulah kuncinya, karena Nabi bersabda,<br />
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً</p>
<p>“…..dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) itu bersama kesabaran, dan jalan keluar (dari kesulitan) selalu bersama kesulitan (itu sendiri), dan kemudahan selalu menyertai kesusahan”.</p>
<p>Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang paham akan ummatnya telah memberikan resep yang manjur untuk mengobati rasa galau ini. Oleh karena itu alangkah baiknya kita menyimak, menghafalkan, serta mengamalkan dzikir yang diajarkan oleh Nabi ‘alayhis sholatu was salam ketika hati ini dirundung kegalauan, kegundahan, atau kesedihan.</p>
<p>Dari ‘Abdulloh ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda,</p>
<p>“Tidaklah seorang muslim ditimpa oleh kegalauan atau kesedihan lalu ia mengucapkan:<br />
– اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.</p>
<p>(artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, qadha’Mu adalah adil bagiku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) Mu yang telah Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaklah kiranya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku serta penghilang kegalauanku”)</p>
<p>Melainkan Allah ta’ala akan menghilangkan kegalauannya dan kesedihannya kemudian menggantinya dengan kegembiraan. Salah seorang bertanya: “Wahai Rasululloh, bolehkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya sudah seharusnya orang yang mendengar do’a tersebut mempelajarinya”. (Al-Musnad, HR Imam Ahmad I/391)</p>
<p>Artikel: <a href=http://maramissetiawan.wordpress.com&#8221; width=”403″ height=”403″ />

kumpulan nasehat ramadhan

kumpulan nasehat ramadhan
Masuk area konser musik yg bayar ratusan ribu bahkan jutaan pada desak2an, masak masuk masjid yg gratis ga pake tiket pada ogah?

www.pacaranituharam.wordpress.com

Foto: Masuk area konser musik yg bayar ratusan ribu bahkan jutaan pada desak2an, masak masuk masjid yg gratis ga pake tiket pada ogah?</p>
<p><a href=http://www.pacaranituharam.wordpress.com”; width=”403″ height=”402″ />

Sahabat yang baik adalah yang tulus mendoakan dan mengingatkanmu pada Allah.

Yang mengenal dirimu dan senantiasa menjaga ukhuwah, memberi ketenangan saat bersamanya, ada inspirasi amal shaleh saat melihatnya,

Dalam diamnya dia mendoakan, dalam senyumnya dia menenangkan, dalam nasihatnya dia bangkitkan semangat mencintai kebaikan…

http://www.facebook.com/pages/Al-Ukhuwah-Wal-Ishlah/118924971457368

http://www.facebook.com/pageislamituindah

Foto: Sahabat yang baik adalah yang tulus mendoakan dan mengingatkanmu pada Allah.</p>
<p>Yang mengenal dirimu dan senantiasa menjaga ukhuwah, memberi ketenangan saat bersamanya, ada inspirasi amal shaleh saat melihatnya,</p>
<p>Dalam diamnya dia mendoakan, dalam senyumnya dia menenangkan, dalam nasihatnya dia bangkitkan semangat mencintai kebaikan…</p>
<p><a href=http://www.facebook.com/pages/Al-Ukhuwah-Wal-Ishlah/118924971457368

http://www.facebook.com/pageislamituindah&#8221; width=”403″ height=”332″ />

Yaa Ilahi…
Jika dosa-dosa ini sangat besar karena melanggar laranganMU
Maka ia akan mengecil karena pemaafan dari MU…

Wahai Rabb, tunjukkanlah pada pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu.
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus.
Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu,
merapat kepada hidayah-Mu.

Yaa Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang,
Dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secerah sinar kebenaran.
Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.
Yaa Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka,
Dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.
Yaa Rabbi Rahmatilah kami semuanya
Jadikanlah kami orang-orang yang mendapatkan ampunanMu
Dan muliakanlah kami dengan ketaqwaaan …
Ya Allah…Ya Rabbi pindahkanlah kami dari hinanya kemaksiatan
Kepada kemuliaan Taat….
Aamiin Ya Rabbal alamiin…

https://www.facebook.com/pages/titiktemu/117096173090

Foto: Yaa Ilahi...<br />
Jika dosa-dosa ini sangat besar karena melanggar laranganMU<br />
Maka ia akan mengecil karena pemaafan dari MU…</p>
<p>Wahai Rabb, tunjukkanlah pada pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu.<br />
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus.<br />
Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu,<br />
merapat kepada hidayah-Mu.</p>
<p>Yaa Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang,<br />
Dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secerah sinar kebenaran.<br />
Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.<br />
Yaa Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka,<br />
Dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.<br />
Yaa Rabbi Rahmatilah kami semuanya<br />
Jadikanlah kami orang-orang yang mendapatkan ampunanMu<br />
Dan muliakanlah kami dengan ketaqwaaan …<br />
Ya Allah…Ya Rabbi pindahkanlah kami dari hinanya kemaksiatan<br />
Kepada kemuliaan Taat….<br />
Aamiin Ya Rabbal alamiin…</p>
<p><a href=https://www.facebook.com/pages/titiktemu/117096173090&#8243; width=”403″ height=”403″ />

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

http://amininoorm.wordpress.com/2012/02/23/pacaran-bikin-hidup-lebih-redup/

Foto: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)</p>
<p><a href=http://amininoorm.wordpress.com/2012/02/23/pacaran-bikin-hidup-lebih-redup/&#8221; width=”403″ height=”403″ />

Jika engkau terlanjur terjatuh pada dosa, janganlah hal itu membuatmu putus asa untuk bisa beristiqamah bersama Tuhanmu , sebab bisa jadi itulah dosa terakhir yang ditetapkan atasmu

***
Dihadapan Yang Maha Kuasa , dosa tidak boleh membuatmu putus asa. Boleh jadi dosa dan kesalahan yang membuatmu merasa tertampar adalah jalan yang akan membuatmu makin tersadar.

Perasaan hina dan rendah dirimu dihadapan NYA mesti diiringi dengan penyesalan dan perbaikan. Bukan malah membuatmu menjauh dari NYA. Merasa tidak pantas hanyalah bisikan lembut nafsumu yang masih ingin terus bebas.
Dengan membuatmu jauh dari istiqamah , dia berharap engkau makin lemah. Bukankah kita tidak pernah tahu mana kebaikan dan keburukan kita yang terakhir?

Jadi cermatlah berpikir, berlarilah kepada-NYA , dan teruslah berzikir! Engkau layak meraih prestasi menjadi hamba-NYA yang kembali disaat-saat terakhir. Jangan banyak buat alasan untuk menutupi kemalasan !
(- Al-Hikam)

http://www.facebook.com/pages/BERANDA-KITA/153300751403292

Foto: Jika engkau terlanjur terjatuh pada dosa, janganlah hal itu membuatmu putus asa untuk bisa beristiqamah bersama Tuhanmu , sebab bisa jadi itulah dosa terakhir yang ditetapkan atasmu</p>
<p>***<br />
Dihadapan Yang Maha Kuasa , dosa tidak boleh membuatmu putus asa. Boleh jadi dosa dan kesalahan yang membuatmu merasa tertampar adalah jalan yang akan membuatmu makin tersadar.</p>
<p>Perasaan hina dan rendah dirimu dihadapan NYA mesti diiringi dengan penyesalan dan perbaikan. Bukan malah membuatmu menjauh dari NYA. Merasa tidak pantas hanyalah bisikan lembut nafsumu yang masih ingin terus bebas.<br />
Dengan membuatmu jauh dari istiqamah , dia berharap engkau makin lemah. Bukankah kita tidak pernah tahu mana kebaikan dan keburukan kita yang terakhir?</p>
<p>Jadi cermatlah berpikir, berlarilah kepada-NYA , dan teruslah berzikir! Engkau layak meraih prestasi menjadi hamba-NYA yang kembali disaat-saat terakhir. Jangan banyak buat alasan untuk menutupi kemalasan !<br />
(- Al-Hikam)</p>
<p><a href=http://www.facebook.com/pages/BERANDA-KITA/153300751403292&#8243; width=”403″ height=”303″ />

Obat Penyakit Hati dan Sempitnya Dada

*Obat Penyakit Hati dan Sempitnya Dada*

Saudaraku, berikut kami nukilkan beberapa sebab dan sarana pengobatan yang sangat bermanfaat bagi berbagai penyakit hati, sekaligus penyembuh yang sangat ampuh untuk menghilangkan kegoncangan jiwa. Semoga kita bisa mengamalkannya secara jujur dan penuh keikhlasan sehingga kita bisa mendapatkan manfaat darinya berupa kebahagiaan hidup dan ketenangan hati. Aamiin..

1. Mengikuti petunjuk, memurnikan tauhid, dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja, sebagaimana kesesatan dan syirik itu merupakan faktor terbesar bagi sempitnya dada.

2. Menjaga iman yang Allah sematkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya dan juga amal shalih yang dilakukan seseorang.

3. Mencari ilmu syar’i yag bermanfaat. Setiap ilmu syar’i seseorang bertambah luas, maka akan semakin lapang pula hatinya.

4. Bertaubat dan kembali melakukan ketaatan kepada Allah yang Maha Suci, mencintai-Nya dengan sepenuh hati, serta menghadapkan diri kepada-Nya dan menikmati ibadah kepada-Nya.

5. Terus menerus berdzikir kepada-Nya dalam segala kondisi dan tempat. Sebab dzikir mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam melapangkan dan meluaskan dada, menenangkan hati, serta menghilangkan kebimbangan dan kedukaan.

6. Berbuat baik kepada sesama makhluk sebisa mungkin. Sebab, seseorang yang murah hati lagi baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya dan paling bahagia hatinya.

7. Mengeluarkan berbagai kotoran hati dari berbagai sifat tercela yang menyebabkan hatinya menjadi sempit dan tersiksa, seperti dengki, kebencian, iri, permusuhan, dan kedhaliman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam pernah ditanya tentang sebaik-baik manusia, maka beliaupun menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya,kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya ?” Beliau menjawab, “yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.” [1]

8. Keberanian dalam membela kebenaran. Orang yang berani mempunyai dada yang lebih lapang dan hati yang lebih luas.

9. Meninggalkan sesuatu yang berlebihan dalam memandang, berbicara, mendengar, bergaul, makan, dan tidur. Meninggalkan hal itu semua merupakan salah satu faktor yang dapat melapangkan dada, menyenangkan hati, dan menghilangkan keduakaan dan kesedihan.

10. Menyibukkan diri dengan amal atau ilmu syar’i yang bemanfaat karena hal tersebut dapat menghindarkan hati dari hal-hal yang menimbulkan keraguan hati.

11. Memperhatikan kegiatan hari ini dan tidak perlu khawatir terhadap masa yang akan datang serta tidak sedih terhadap keadaan yang terjadi pada masa-masa lalu. Seorang hamba harus selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, baik dalam hal agama maupun dunia. Juga memohon kesuksesan kepada Rabb-Nya dalam mencapai maksud dan tujuan serta memohon agar Dia membantunya dalam mencapai tujuan tersebut. Ini akan dapat menghibur dari keduakaan dan kesedihan.

12. Melihat kepada orang yang ada di bawah dan jangan melihat kepada orang yang ada di atas dalam ‘afiat (kesehatan dan keselamatan) dan rizki serta kenikmatan dunia lainnya.

13. Melupakan hal-hal tidak menyenangkan yang telah terjadi pada masa lalu, sehingga tidak larut memikirkannya.

14. Jika tertimpa musibah maka hendaknya berusaha meringankan agar dampak buruknya bisa dihindari, serta berusaha keras untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuannya.

15. Menjaga kekuatan hati, tidak mudah tergoda serta tidak terpengaruh angan-angan yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran buruk, menahan marah, serta tidak mengkhawatirkan hilangnya hal-hal yang disukai. Tetapi menyerahkan semuanya hanya kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, serta memohon ampunan dan afiat kepada Allah.

16. Menyandarkan hati hanya kepada Allah seraya bertawakal kepada-Nya. Berhusnudzan kepada Allah, Rabb Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sebab, orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan dipengaruhi oleh kebimbangan dan keraguan.

17. Seseorang yang berakal menegetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang bahagia dan tenang. Karena kehidupan itu singkat sekali, karena itu, jangan dipersingkat lagi dengan adanya berbagai kesedihan dan memperbanyak keluhan. Karena justru hal itu bertolak belakang dengan kehidupan yang benar dan sehat.

18. Jika tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan hendaknya ia membandingkannya dengan berbagai kenikmatan yang telah dilimpahkan kepadanya, baik berupa agama maupun duniawi. Ketika orang itu membandingkannya maka akan tampak jelas kenikmatan yang diperolehnya jauh lebih banyak dibandingkan musibah yang dia alami. Disamping itu, perlu kiranya ia membandingkan antara terjadinya bahaya di masa depan yang ditakutkan dengan banyaknya kemungkinana keselamatan. Karena kemungkinan yang lemah tidak mungkin mengalahkan kemungkinan yang lebih banyak dan kuat. Dengan demikian akan hilanglah rasa sedih dan takutnya.

19. Mengetahui bahwa gangguan dari orang lain tidak akan memberikan mudharat atau bahaya kepadanya, khususnya yang berupa ucapan buruk, tatapi hal itu justru akan memberikan mudharat kepada diri mereka sendiri. Hal itu tidak perlu dimasukkan ke dalam hati dan tidak perlu dipikirkan, sehingga tidak akan membahayakannya.

20. Mengarahkan pikirannya terhadap hal-hal yang membawa manfaat bagi dirinya, baik dalam urusan agama maupun dunia.

21. Hendaklah dia tidak menuntut terima kasih atas kebaikan yang dilakukannya, kecuali mengharapkan balasan dari Allah. Dan hendaklah dia mengetahui bahwa amal yang dia lakukan, pada hakekatnya merupakan muamalah (jalinan) dengan Allah, sehingga tidak mempedulikan terima kasih dari orang terhadap apa yang dia berikan kepadanya. Allah berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih”. (QS. Al-Insan:9)

22. Memperhatikan hal-hal yang bermanfaat dan berusaha untuk dapat merealisasikannya, serta tidak memperhatikan hal-hal yang buruk baginya, sehingga otak dan pikirannya tidak disibukkan olehnya.

23. Berkonsentrasi pada aktivitas yang ada sekarang dan menyisihkan aktivitas yang akan datang, sehingga aktivitas yang akan datang kelak dikerjakan secara maksimal dan sepenuh hati.

24. Memilih dan berkonsentrasi pada aktivitas yang bermanfaat, dengan mengutamakan yang lebih penting. Hendaklah ia memohon pertolongan pada Allah, kemudian meminta pertimbangan orang lain, dan jika pilihan itu telah sesuai dengan kemantapan hatinya, maka silahkan diamalkan dengan penuh tawakal pada Allah.

25. Menyebut-nyebut nikmat Allah dengan memujinya, baik yang dhahir maupun yang batin. Sebab, dengan menyadari dan menyebut-nyebut nikmat Allah, maka Dia akan menghindarkan dirinya dari kebimbangan dan kesusahan.

26. Hendaklah bergaul dan memperlakukan pasangan (suami maupun istri) dan kaum kerabat serta semua orang yang mempunyai hubungan secara baik . jika menemukan suatu aib, maka jangan disebarluaskan, tetapi lihat pula kebaikan yang ada padanya. Dengan cara ini, persahabatan dan hubungan akan terus terjalin dengan baik dan hati akan semakin lapang. Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah bersabda, “Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan (istri) seandainya dia membenci suatu akhlaknya, maka dia pasti meridhai sebagian lainnya.” (HR. Muslim)

27. Do’a memohon perbaikan semua hal dan urusan. Dan doa paling agung berkenaan dengan hal itu adalah :

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا

مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى

كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Allahumma ashlihlii diinii lladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlihlii dunyaya llatii fiihaa ma’asyii, wa ashlihlii akhirotii llatii fiihaa ma’adii, waj’alilhayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarr.” (HR. Muslim)

Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini penambah kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejelekan.

Demikian juga dengan do’a berikut ini :

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ

كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Allahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii thorfata’ainin wa ashlihlii sya’nii kullahu, laa ilaha illa anta.”

Ya Allah hanya rahmatMu aku berharap mendapatkannya. karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau

28. Jihad di jalan Allah. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shalallu’alaihi wassalam, “ Berjihadlah di jalan Allah, karena jihad di jalan Allah merupakan pintu dari pintu-pintu surga, yang dengannya Allah menyelamatkan dari kedukaan dan kesedihan.”

Sumber : Do’a dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Pustaka Imam Syafi’i.

Artikel Muslimah.or.Id

[1] Lafal hadits tersebut berbunyi,

أفضل الناس كل مخموم القلب صدوق اللسان ، قالوا : صدوق اللسان

نعرفه فما مخموم القلب ؟ قال : التقي النقي ، لا إثم فيه و لا بغي و لا

غل و لا حسد

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.”

HR. Ibnu Majah 4216 dan Ibnu ‘Asakir (17/29/2). Syaikh Albani berkata, “Hadits ini memiliki sanad yang shahih dan rijal yang tsiqat (terpercaya)”. (As-Silsilah Ash-Shaihah no.948, Maktabah Asy-Syamilah-red)

http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/obat-penyakit-hati-dan-sempitnya-dada.html

http://www.facebook.com/pages/httpmuslimahorid/215781025194

Syarat-Syarat Busana Muslimah

Enggan berjilbab karena merasa hatinya belum bersih? Ingin menjilbabi hati dulu baru kemudian menjilbabi badan? Anggapan ini tidaklah benar, sebab hati dan badan harus diperbaiki semua. Berjilbab tidak mengharuskan berhati sempurna. Justru dengan berjilbab, diharapkan pemakainya akan lebih mudah dalam menjilbabi hatinya.

Barokallohu fiikum.

www.hatibening.com
http://www.facebook.com/Taman.Hidayah
http://bloghidayah.wordpress.com/

======================

Syarat-Syarat Busana Muslimah

Para ulama mempersyaratkan busana muslimah berdasarkan penelitian dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai berikut:

Harus menutupi seluruh tubuh, hanya saja ada perbedaan pendapat dalam hal menutup wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah QS. An-Nuur : 31 serta QS. Al-Ahzab : 59. Sebagian ulama memfatwakan bahwa diperbolehkan membuka wajah dan kedua telapak tangan, hanya saja menutupnya adalah sunnah dan bukan sesuatu yang wajib.

Pakaian itu pada hakikatnya bukan dirancang sebagai perhiasan. Dalilnya adalah ayat yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa tampak.” (QS. An-Nuur : 31) Sebagian perempuan yang komitmen terhadap syari’at mengira bahwa semua jilbab selain warna hitam adalah perhiasan. Penilaian itu adalah salah karena di masa Nabi sebagian sahabiyah pernah memakai jilbab dengan warna selain hitam dan beliau tidak menyalahkan mereka. Yang dimaksud dengan pakaian perhiasan adalah yang memiliki berbagai macam corak warna atau terdapat unsur dari bahan emas, perak dan semacamnya. Meskipun begitu penulis Fiqhu Sunnah li Nisaa’berpendapat bahwa mengenakan jilbab yang berwarna hitam itu memang lebih utama karena itu merupakan kebiasaan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pakaian itu harus tebal, tidak boleh tipis supaya tidak menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagiamana tercantum dalam Shahih Muslim) Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang tipis sehingga justru dapat menggambarkan lekuk tubuh dan tidak menutupinya. Walaupun mereka masih disebut orang yang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka itu telanjang.

Harus longgar, tidak boleh sempit atau ketat karena akan menampakkan bentuk atau sebagian dari bagian tubuhnya. Dalilnya adalah hadits Usamah bin Zaid yang menceritakan bahwa pada suatu saat beliau mendapat hadiah baju yang tebal dari Nabi. Kemudian dia memberikan baju tebal itu kepada isterinya. Namun karena baju itu agak sempit maka Nabi menyuruh Usamah agar isterinya mengenakan pelapis di luarnya (HR. Ahmad, memiliki penguat dalam riwayat Abu Dawud) Oleh sebab itu hendaknya para perempuan masa kini yang gemar memakai busana ketat segera bertaubat.

Tidak perlu diberi wangi-wangian. Dalilnya adalah sabda Nabi: “Perempuan manapun yang memakai wangi-wangian kemudian berjalan melewati sekelompok orang agar mereka mencium keharumannya maka dia adalah perempuan pezina.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmidzi dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari) Bahkan Al-Haitsami menyebutkan bahwa keluarnya perempuan dari rumahnya dengan memakai wangi-wangian dan bersolek adalah tergolong dosa besar, meskipun dia diizinkan oleh suaminya.

Tidak boleh menyerupai pakaian kaum lelaki. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum laki-laki yang sengaja menyerupai kaum perempuan dan kaum perempuan yang sengaja menyerupai kaum laki-laki.” (HR. Bukhari dan lain-lain) Dari Abu Hurairahradhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad sahih)

Tidak boleh menyerupai pakaian khas perempuan kafir. Ketentuan ini berlaku juga bagi kaum lelaki. Dalilnya banyak sekali, diantaranya adalah kejadian yang menimpa Ali. Ketika itu Ali memakai dua lembar baju mu’ashfar. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah pakaian kaum kafir. Jangan kau kenakan pakaian itu.” (HR. Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

Bukan pakaian yang menunjukkan ada maksud untuk mencari popularitas. Yang dimaksud dengan libas syuhrah (pakaian popularitas) adalah: Segala jenis pakaian yang dipakai untuk mencari ketenaran di hadapan orang-orang, baik pakaian itu sangat mahal harganya –untuk memamerkan kakayaannya- atau sangat murah harganya –untuk menampakkan kezuhudan dirinya- Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhumamengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakai busana popularitas di dunia maka Allah akan mengenakan busana kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan lighairihi) (syarat-syarat ini diringkas dengan sedikit perubahan dari Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382-391)

dikutip dari
http://www.facebook.com/notes/httpmuslimahorid/mengobral-aurat-merusak-masyarakat/10150860229903732

Foto: Enggan berjilbab karena merasa hatinya belum bersih? Ingin menjilbabi hati dulu baru kemudian menjilbabi badan? Anggapan ini tidaklah benar, sebab hati dan badan harus diperbaiki semua. Berjilbab tidak mengharuskan berhati sempurna. Justru dengan berjilbab, diharapkan pemakainya akan lebih mudah dalam menjilbabi hatinya.</p>
<p>Barokallohu fiikum.</p>
<p><a href=http://www.hatibening.com

http://www.facebook.com/Taman.Hidayah

http://bloghidayah.wordpress.com/

======================

Syarat-Syarat Busana Muslimah

Para ulama mempersyaratkan busana muslimah berdasarkan penelitian dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai berikut:

Harus menutupi seluruh tubuh, hanya saja ada perbedaan pendapat dalam hal menutup wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah QS. An-Nuur : 31 serta QS. Al-Ahzab : 59. Sebagian ulama memfatwakan bahwa diperbolehkan membuka wajah dan kedua telapak tangan, hanya saja menutupnya adalah sunnah dan bukan sesuatu yang wajib.

Pakaian itu pada hakikatnya bukan dirancang sebagai perhiasan. Dalilnya adalah ayat yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa tampak.” (QS. An-Nuur : 31) Sebagian perempuan yang komitmen terhadap syari’at mengira bahwa semua jilbab selain warna hitam adalah perhiasan. Penilaian itu adalah salah karena di masa Nabi sebagian sahabiyah pernah memakai jilbab dengan warna selain hitam dan beliau tidak menyalahkan mereka. Yang dimaksud dengan pakaian perhiasan adalah yang memiliki berbagai macam corak warna atau terdapat unsur dari bahan emas, perak dan semacamnya. Meskipun begitu penulis Fiqhu Sunnah li Nisaa’berpendapat bahwa mengenakan jilbab yang berwarna hitam itu memang lebih utama karena itu merupakan kebiasaan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pakaian itu harus tebal, tidak boleh tipis supaya tidak menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagiamana tercantum dalam Shahih Muslim) Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang tipis sehingga justru dapat menggambarkan lekuk tubuh dan tidak menutupinya. Walaupun mereka masih disebut orang yang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka itu telanjang.

Harus longgar, tidak boleh sempit atau ketat karena akan menampakkan bentuk atau sebagian dari bagian tubuhnya. Dalilnya adalah hadits Usamah bin Zaid yang menceritakan bahwa pada suatu saat beliau mendapat hadiah baju yang tebal dari Nabi. Kemudian dia memberikan baju tebal itu kepada isterinya. Namun karena baju itu agak sempit maka Nabi menyuruh Usamah agar isterinya mengenakan pelapis di luarnya (HR. Ahmad, memiliki penguat dalam riwayat Abu Dawud) Oleh sebab itu hendaknya para perempuan masa kini yang gemar memakai busana ketat segera bertaubat.

Tidak perlu diberi wangi-wangian. Dalilnya adalah sabda Nabi: “Perempuan manapun yang memakai wangi-wangian kemudian berjalan melewati sekelompok orang agar mereka mencium keharumannya maka dia adalah perempuan pezina.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmidzi dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari) Bahkan Al-Haitsami menyebutkan bahwa keluarnya perempuan dari rumahnya dengan memakai wangi-wangian dan bersolek adalah tergolong dosa besar, meskipun dia diizinkan oleh suaminya.

Tidak boleh menyerupai pakaian kaum lelaki. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum laki-laki yang sengaja menyerupai kaum perempuan dan kaum perempuan yang sengaja menyerupai kaum laki-laki.” (HR. Bukhari dan lain-lain) Dari Abu Hurairahradhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad sahih)

Tidak boleh menyerupai pakaian khas perempuan kafir. Ketentuan ini berlaku juga bagi kaum lelaki. Dalilnya banyak sekali, diantaranya adalah kejadian yang menimpa Ali. Ketika itu Ali memakai dua lembar baju mu’ashfar. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah pakaian kaum kafir. Jangan kau kenakan pakaian itu.” (HR. Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

Bukan pakaian yang menunjukkan ada maksud untuk mencari popularitas. Yang dimaksud dengan libas syuhrah (pakaian popularitas) adalah: Segala jenis pakaian yang dipakai untuk mencari ketenaran di hadapan orang-orang, baik pakaian itu sangat mahal harganya –untuk memamerkan kakayaannya- atau sangat murah harganya –untuk menampakkan kezuhudan dirinya- Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhumamengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakai busana popularitas di dunia maka Allah akan mengenakan busana kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan lighairihi) (syarat-syarat ini diringkas dengan sedikit perubahan dari Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382-391)

dikutip dari

http://www.facebook.com/notes/httpmuslimahorid/mengobral-aurat-merusak-masyarakat/10150860229903732

—” width=”403″ height=”403″ />