Archives

sms ramal – sms astrologi – sms klenik – sms ramalan cinta – sms zodiak – sms primbon – sms weton – sms feng shui – sms ramalan bintang – sms perbintangan – sms dukun – sms perdukunan – sms ramalan hidup – sms ramalan – sms ramalan karir – sms ramalan jodoh

sms ramal – sms astrologi – sms klenik – sms ramalan cinta – sms zodiak – sms primbon – sms weton – sms feng shui – sms ramalan bintang – sms perbintangan – sms dukun – sms perdukunan – sms ramalan hidup – sms ramalan – sms ramalan karir – sms ramalan jodoh
================================================

“Motivasi yang menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan.”

Tunggu dulu! Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas saudara terutama bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober – 21 November atau seringnya orang menyebut saudara berbintang Scorpio. Akan tetapi kalimat di atas adalah secuplik kalimat ramalan astrolog yang kami ambil dari sebuah koran ternama di kota pelajar dalam rubrik perbintangan.

Dilihat dari nama rubriknya, dapat diketahui bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan pemikirannya dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit. Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar nanti.

Apabila kita perhatikan ramalan di atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah-olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib seseorang. Dengan dasar ini ia memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan dengan kata-kata manis. Bagi orang yang senang akan rubrik seperti tersebut di atas atau yang suka membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong) terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang menjadi permasalahan, darimana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?

Sesungguhnya perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal ini, Allah berfirman :

“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27)

Barangsiapa mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka akan dijawab : “Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada saudara.” Darimana dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya? Sebenarnya hal ini tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang, misalnya) hanyalah tipuan belaka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)

Sungguh benar kabar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri berita dari langit. Diceritakan dalam sebuah hadits :

Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Seorang dukun atau paranormal yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“ … Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Meskipun demikian, masih banyak orang yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau astrolog atau para dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan ekonomi rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal ini para dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40 malam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)

Pada kesempatan lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka tergolong orang-orang yang ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” (HR. Abu Dawud)

Ancaman dalam hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik membenarkan atau tidak. (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 1979)

Tujuan Penciptaan Bintang-Bintang

Alam dan segala isinya diciptakan dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat yang memiliki sifat Maha Memberi Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui apa yang di depan dan di balik ciptaan-Nya. Sehingga mustahil Allah mencipta makhluk dengan main-main. Sebab itu, kewajiban atas makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima berita, perintah, dan larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan pembahasan kali ini ialah penciptaan bintang-bintang di langit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu ialah untuk penerang, hiasan langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan yang mencuri wahyu yang sedang diucapkan di hadapan para malaikat. Sebagaimana Dia firmankan :

“Dan sungguh, Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk : 5)

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan bintang-bintang itu untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat pelempar setan, dan rambu-rambu jalan. Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus ke dalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih Bukhari di atas adalah ucapan Qatadah rahimahullah)

Hukum Mempelajari Ilmu Falak

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari ilmu perbintangan atau ilmu falak (astrologi). Qatadah rahimahullah (seorang tabi’in) dan Sufyan bin Uyainah (seorang ulama hadits, wafat pada tahun 198 H) mengharamkan secara mutlak mempelajari ilmu falak. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq rahimahullah memperbolehkan dengan syarat tertentu. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As Sulaiman Al Qarawi –yang berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama di atas– bahwa mempelajarinya adalah :

Pertama, kafir bila meyakini bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas makhluk di bumi. Ini yang pertama.

Kedua, mempelajarinya untuk menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi semua itu diyakini karena takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini hukumnya haram.

Ketiga, mempelajarinya untuk mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut jumhur ulama hal ini diperbolehkan (jaiz).

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib menyebabkan pelakunya kafir. Sedangkan mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, hukumnya haram, baik ia membenarkan atau tidak. Dan yang disebut dukun sekarang ini banyak julukannya. Kadang ia disebut orang pintar atau paranormal, astrolog, fortuneteller, atau yang lainnya. Walaupun begitu, hakikatnya sama saja. Penggunaan julukan yang berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja (atau agar terkesan tidak ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu falak yang ditujukan untuk meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan tindakan kekufuran. Tujuan penciptaan bintang adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dan para ulama, bukan untuk mengetahui perkara ghaib seperti yang diyakini oleh sebagian besar astrolog. Ayat yang mengatakan :

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat petunjuk).” (QS. An Nahl : 16)

Maksudnya, agar manusia mengetahui arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan untuk mengetahui perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan tujuan yang dilarang syariat, seperti hadits :

“Barangsiapa mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang ilmu sihir … .” (HR. Ahmad[1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Sementara Islam mengharamkan orang yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena menandingi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sifat Rububiyah. (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)

Wallahul Musta’an.

[1] Hadits hasan, dihasankan oleh Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor 793.

(Dinukil dari MAJALAH SALAFY XIX/1418/1997/AQIDAH, ditulis oleh Ustadz Ahmad Hamdani)

sumber; http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=193

==========================================

sms ramal – sms astrologi – sms klenik – sms ramalan cinta – sms zodiak – sms primbon – sms weton – sms feng shui – sms ramalan bintang – sms perbintangan – sms dukun – sms perdukunan – sms ramalan hidup – sms ramalan

astrologi – ilmu nujum – klenik – jimat – sesaji – rajah – zodiak – feng shui – ramalan bintang – dukun – sihir – santet – bertentangan dengan ajaran islam

astrologi – ilmu nujum – klenik – jimat – sesaji – rajah – zodiak – feng shui – ramalan bintang – dukun – sihir – santet – bertentangan dengan ajaran islam

Betapa banyak ritual kesyirikan yang dipersembahkan untuk hewan keramat seperti Kyai Slamet, tokoh-tokoh rekaan macam Nyi Roro Kidul, atau benda/tempat “keramat” yang jumlahnya tak terhitung lagi. Juga “aksesoris” kesyirikan berupa jimat, rajah penolak bala, dsb. Di dunia modern pun kita mengenal astrologi, feng shui, dan sejenisnya. Pertanyaannya, di mana pengakuan bahwa Allah Maha Pelindung, bahwa Allah yang mengatur segala urusan makhluk-Nya termasuk rizki, karir, jodoh, dan lainnya?

Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah yang disebut dengan Tauhid Uluhiyyah. Setelah ini, kita akan meringkas penyebutannya dengan satu kata saja yaitu tauhid. Karena inilah intisari dari seluruh jenis tauhid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bagi manusia berbagai sarana dan prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadahan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rizki. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)

Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitrah. Namun asal fitrah ini bisa dirusak oleh bujuk rayu setan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para setan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan manusia dengan ucapan-ucapan yang indah.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Termasuk keutamaan tauhid adalah:

1. Dapat menghapus dosa-dosa.

2. Merupakan faktor terbesar dalam melapangkan berbagai kesusahan serta bisa menjadi penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Mencegah kekekalan dalam api neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam keimanan sebesar biji sawi. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak bila dia menyempurnakannya dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.

4. Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.

5. Merupakan sebab satu-satunya untuk menggapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala-Nya. Orang yang paling bahagia dalam memperoleh syafaat Muhammad Subhanahu wa Ta’ala adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.

6. Penerimaan seluruh amalan dan ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi tergantung kepada tauhid seseorang. Demikian pula penyempurnaan dan pemberian ganjarannya. Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap tatkala tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menguat. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

7. Memudahkan seorang hamba untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah. Seorang yang ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid akan merasa ringan untuk melakukan ketaatan-ketaatan karena dia mengharapkan pahala dan keridhaan Rabbnya. Meninggalkan hawa nafsu yang berupa maksiat terasa ringan baginya, karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa Rabbnya.

8. Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang, Allah menjadikan pemiliknya mencintai keimanan serta menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah menjadikan pemiliknya membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Lalu Allah menggolongkannya ke dalam orang-orang yang terbimbing.

9. Meringankan segala kesulitan dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semua itu sesuai dengan penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba. Sesuai pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan dan rasa sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan ridha terhadap ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyakitkan.

10. Melepaskan seorang hamba dari perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan dan beramal untuk makhluk. Inilah keagungan dan kemuliaan yang hakiki. Bersamaan dengan itu, dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

11. Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang dan terealisasi lengkap dengan keikhlasan yang sempurna, amalnya yang sedikit akan berubah menjadi banyak. Segenap amal dan ucapannya berlipat ganda tanpa batas dan hitungan. Kalimat ikhlas (La ilaha illallah) menjadi berat dalam timbangan amal hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala ini sehingga tak terimbangi oleh langit dan bumi beserta seluruh makhluk penghuninya. Perkara ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dan hadits tentang sebuah kartu yang bertuliskan La ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan 99 gulungan catatan dosa, padahal setiap gulungan sejauh mata memandang. Hal itu karena keikhlasan orang yang mengucapkannya. Betapa banyak orang yang mengucapkannya tetapi tidak mencapai prestasi ini, sebab di dalam hatinya tidak terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti atau mendekati yang terdapat dalam hati hamba-Nya itu. Ini termasuk keutamaan tauhid yang tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.

12. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin kemenangan dan pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan, petunjuk, kemudahan, perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan ucapan dan perbuatan bagi pemilik tauhid.

13. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghindarkan orang-orang yang bertauhid dan beriman dari keburukan-keburukan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka kehidupan yang baik, ketenangan kepada-Nya dan kenyamanan dengan mengingat-Nya.

Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan ini baik dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah. Wallahu a’lam.

Dengan demikian, cukup besar dan banyak keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa menggapai seluruh keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik orang-orang yang mampu menyempurnakan tauhid sepenuhnya. Tentunya manusia bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak berada pada satu tingkatan. Masing-masing menggapai keutamaan tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid.

“Itulah keutamaan Allah, Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan Allah adalah Dzat yang memliki keutamaan yang besar.” (Al-Jumu’ah: 4)

Wallahu a’lam bish-shawab.

sumber: Tauhid Uluhiyyah, Inti Tauhid; Penulis: Al-Ustadz Abdul Mu’thi
http://www.asysyariah.com

===========================
astrologi – ilmu nujum – klenik – jimat – sesaji – rajah – zodiak – feng shui – ramalan bintang – dukun – sihir – santet – bertentangan dengan ajaran islam

SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN

 

 

SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN

1. Pacaran


Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.

Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.

 

2. Tukar Cincin
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani) 3. Menuntut Mahar Yang Tinggi
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil 6, hal. 347-348).

4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.

Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. (Al-Maaidah : 50).

Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).

 

5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah


Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa’ Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.

Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa’ Wal Banin. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”.
‘Aqil menjelaskan :

“Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum” (= Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).

 

 

 

Do’a yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah :

“Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir”

Do’a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a : (Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148).

 

6. Adanya Ikhtilath


Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. 7. Pelanggaran Lain
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar. [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Th I/1415-1994. Diterbitkan Oleh Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt II Kartopuran 241A Surakarta 57152]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/0

CERITA SUFI – KISAH SUFI – HIKAYAT SUFI – LEGENDA SUFI

CERITA SUFI – KISAH SUFI – HIKAYAT SUFI – LEGENDA SUFI

===================================

Saya mengenal Syaikh dari tarekat Syadzaliyyah yang memiliki penampilan dan akhlaq yang baik. Terkadang ia datang berkunjung ke rumahku dan terkadang saya yang berkunjung ke rumahnya. Saya kagum dengan kelembutan ucapan dan perkataannya serta ketawadhuan dan kedermawanannya. Saya meminta kepadanya wirid-wirid tarekat Syadzaliyya, lalu ia memberiku wirid-wirid khusus tarekat ini.

Meraka biasanya duduk-duduk berkelompok di pojok masjid yang dihadiri oleh beberapa orang pemuda. Disitulah mereka berdzikir-dzikir setelah sholat.

Suatu ketika, saya bertandang ke rumahnya. Saya melihat gambar-gambar para syaikh tarekat Syadzaliyyah tergantung di atas dinding. Lalu saya mengingatkannya tentang larangan menggantungkan gambar-gambar. Tetapi ia tidak mengindahkan peringatan saya. Padahal hadits tentang itu sangat jelas, dan iapun tahu itu, yaitu sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, tidak akan dimasuki oleh para malaikat” (HR. At-Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih).

Kira-kira setahun kemudian, ketika dalam perjalanan umroh, saya ingin singgah mengunjungi syaikh ini. Lalu ia mengundangku untuk makan malam bersama anakku dan temanku.

Setelah selesai, ia bertanya kepadaku:’Apakah Anda ingin mendengar nasyid-nasyid agama dari para pemuda itu?’ Lalu saya menjawab:’Ya’. Kemudian ia menyuruh para pemuda yang ada di sekelilingnya –sementara jenggot menghiasi wajah mereka- untuk melantunkan nasyid itu. Lalu mereka mulai melantunkannya dengan satu suara. Ringkasan nasyid itu adalah:

Barangsiapa yang menyembah Allah karena ingin mendapatkan Surga atau karena takut kepada Neraka, maka sesungguhnya ia telah menyembah berhala

Lalu saya kepada orang itu:”Allah Azza wa Jalla menyebutkan satu ayat dalam Al-Qur’an yang memuji para Nabi, yang bunyinya sbb:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiyaa’: 90).

Kemudian Syaikh itu berkata kepadaku:”Bait syair ini adalah untuk syaikh Abdul Ghoniy An-Nabulsiy”.

Saya balik bertanya:”Apakah perkataan syaikh lebih didahulukan atas firman Allah, sementara kedua perkataan itu bertolak belakang?”

Salah seorang yang mendendangkan lagu itu menjawab:”Sayidina Ali radhiallahu ‘anhu berkata:”Orang yang menyembah Allah karena ingin mendapatkan Surga adalah ibadahnya para pedagang”

Saya langsung menyanggah:”Di buku mana Anda menemukan perkataan Sayidina Ali radhiallahu ‘anhu ini? Apa benar beliau berkata seperti itu?”.

Kemudian orang itu diam…

Saya berkata kepadanya:”Apakah masuk akal, Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an sementara beliau termasuk salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk diantara orang yang dikabarkan masuk Surga?”.

Kemudian teman saya menoleh dan berkata:”Allah Azza wa Jalla menjelaskan sifat orang-orang mukmin dengan memuji mereka dalam firman-Nya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan” (QS. As-Sajdah: 16).
Tetapi tetap saja mereka belum puas dengan penjelasan ini
Saya meninggalkan perdebatan dengan mereka, lalu pergi ke masjid untuk sholat.

Salah seorang dari pemuda itu menemui kami dan berkata kepadaku:”Kami bersama kalian, kebenaran bersama kalian, tetapi kami tidak dapat berbicara atau mendabat syaikh”.
Saya lalu bertanya kepadanya:”Mengapa kalian tidak mengatakan yang haq?”
”Bila kami berbicara kepada mereka, kami akan dikeluarkan dari penginapan”, demikian ia menjawab.
Inilah cara umum orang-orang shufi.

Para syaikh orang-orang shufi memberi wasiat kepada murid-muridnya agar tidak membantah syaikh mereka, betapapun kesalahan yang mereka lakukan.

Mereka memiliki suatu istilah yang terkenal:Tidak akan beruntung bila seorang murid berkata kepada syaikhnya “mengapa?”.
Mereka sepertinya pura-pura tidak tahu sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR. Ahmad; At-Tirmidzi. Hasan Shahih).
Demikian juga dengan perkataan Imam Malik rahimahullah:

“Setiap perkataan seseorang dapat diambil dan ditinggalkan kecuali perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”.

(kisah syaikh muhammad jamil zainu)

============================

 WWW.SUNNY.WORDPRESS.COM

download buku dan ebook gratis (BUKU-BUKU ISLAM)

DOWNLOAD BUKU-BUKU INI DI:
http://abusalma.wordpress.com/e-books/

1. Hukum – Adab – Keutamaan Dan Peringatan Dari Sebagian Kesalahan Pada Hari Jum’at
    Ukuran file: 349 KB , jumlah halaman: 30 halaman

2. SALAFIYUN MENEPIS TUDUHAN DUSTA
    syaikh ali hasan
    354 KB, 29 halaman

3. PERINGATAN BAGI PARA PEMUDA DARI BAHAYA ISBAL
    Syaikh ‘Abdulloh bin Jarullah Alu Jarullah
    357 KB, 32 halaman

4. PENGANTAR SEJARAH TADWIN (PENGUMPULAN) HADITS
    Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffâr Hasan ar-Rahmânî al-Hindî
    358 KB, 43 halaman

5. HARI RAYA BERSAMA RASULULLAH
    Syaikh Ali Bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari
    359 KB, 34 halaman

6.  WASPADAILAH FITNAH SURURIYAH
     Al-Ustadz ‘Arif Fathul ‘Ulum
    26 HALAMAN

7. FIKIH NIAT
   Al-Ustadz Abul ‘Abbas Khalid Syamhudi, Lc.
   41 HALAMAN

8. NASEHAT Bagi Para Pemuda Ahlus Sunnah
    Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili
   49 HALAMAN

9. JABAT TANGAN DENGAN AJNABIYAH (wanita non mahram) ADALAH HARAM!!!
    28 halaman

10. PERKARA KEIMANAN YANG GLOBAL DARI POKOK-POKOK AQIDAH SALAFIYYAH
      36 halaman

11. KAIDAH EMAS DI DALAM MENGETAHUI RIWAYAT HADITS SHAHIH DAN DHA’IF
      Abu ’Umar Usamah bin Athaya bin Utsman al-Utaibi
     38 halaman

12. DAN BINASALAH YAHUDI…!!!
      42 halaman

13. AL-WAJIZ FI MANHAJIS SALAF (Keringkasan Di Dalam Manhaj Salaf)
      Syaikh Abdul Qodir al-Arna`uth -Rahimahullahu-
      33 halaman

14. RINGKASAN CARA PENYELENGGARAAN JENAZAH
     Asy-Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdil Hamid
     38 HALAMAN

15. RINGKASAN AQIDAH DAN MANHAJ IMAM ASY-SYAFI’I
      40 HALAMAN

16. RACUN FIQHUL WAQI’
      Al-Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA
      30 HALAMAN

17. Bekal-Bekal Pernikahan
      Al-‘Allamah Shalih Fauzan Al-Fauzan
      23 HALAMAN

18. Mengenal Hakikat “Al Ikhwanul Muslimun”
     Al-Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
     35 HALAMAN

19. MEMBONGKAR KEDOK KEDUSTAAN DAN FITNAH HASAN ALI SAQQOF TERHADAP AL-MUHADDITS AL-ALBANI
20. MENEPIS TUDUHAN MEMBELA KEBENARAN
      Bantahan terhadap tuduhan fitnah dan kedustaan tulisan Fauzan al-Anshori (MMI) terhadap Dakwah Salafiyah yang berjudul “Salafiyun Dalam Sorotan”

21. Risalah Ramadhan, 57 halaman

22. Mengenal sejarah nabi, 46 halaman

23. HAKIKAT TASAWUF, 26 halaman

24. ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”
     Fadhilah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy

25.BEKAL-BEKAL ‘IDUL ADHHA, 41 halaman

26. Dunia Ladang Bagi Akhirat, 19 halaman

27. FATWA ULAMA UMAT TERHADAP SAYYID QUTHB, 41 halaman

28. JIHADNYA SEORANG WANITA

29. BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH?
      Ma’ali Syaikh Sholeh bin Abdil ‘Aziz Ali Asy-Syaikh

30. STUDI KOMPREHENSIF Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah

31.MENUJU PENEGAKAN HUKUM ALLAH
      Ustadz Abu Faris an-Nuri, Lc

32. SEPUTAR HUKUM ZAKAT

33. SALAF SHALIH ANTARA ILMU DAN IMAN

34. POLIGAMI DIHUJAT

35. BENCANA GHIBAH

36. SYAIKH AHMAD SURKATI REFORMIS YANG TERANIAYA DAN DIFITNAH

37. SEPERCIK CAHAYA KEINDAHAN ISLAM

38. Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah
      90 HALAMAN

39. UTSMAN BIN AFAN Khalifah Yang Terzhalimi

40. ORIENTALISME PROPAGANDA MUSUH ISLAM

41. BAGAIMANA CARA BER-AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

42. KEPALSUAN TEORI EVOLUSI

43. MERAIH KEJAYAAN UMAT

44. ADAB BERPAKAIAN

45. BEKAL-BEKAL DA’I

46. MALAPETAKA AKHIR ZAMAN

47. MELURUSKAN KERANCUAN ISTILAH-ISTILAH SYARIAT

48. JAWABAN TELAK TERHADAP SYUBUHAT QUBURIYUN

49. KAFIR TANPA SADAR

50. Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah,

51. YESUS DAN BIBLE DALAM SOROTAN

52. Dakwah ke Jalan Alloh dan Akhlak Seorang Da’i

53. FATWA ULAMA SEPUTAR SIKAP EKSTRIM – PENGKAFIRAN DAN FITNAH KHAWARIJ

54. MENGOBATI PENYAKIT DENGAN ALQURAN DAN SUNNAH

55. MELURUSKAN PEMAHAMAN KELIRU TENTANG SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

56. INILAH HADDADIYAH…!!! KENALILAH DAN WASPADALAH DARINYA
Menyingkap Karakter Haddadiyah Yang Tersembunyi Pada Pengaku-ngaku
Salafiyah Yang Hakikatnya Adalah Hizbiyah Yang Membinasakan

57.RISALAH ILMIAH Bantahan Atas Kesesatan, Manipulasi dan Penipuan Agama Syiah

58. Bersatu dan Berkasih Sayanglah Wahai Ahlus Sunnah dan Janganlah Berpecah dan Berselisih

59. SILATURRAHIM

60. PRINSIP ILMU USHUL FIQIH

61. Ikuti Sunnah dan Jauhi Bid’ah

62. BUDI PEKERTI YANG MULIA

63. HIZBUT TAHRIR : DARI MEREKA DAN UNTUK MEREKA

64. KONTROVERSI PUASA SUNNAH HARI SABTU : Haram, Makruh ataukah Mubah ??
dan lain-lain

    DOWNLOAD BUKU DI:
http://abusalma.wordpress.com/e-books/

kumpulan cerita indah – kisah indah – cerita seru – kisah seru – cerita menarik – kisah menarik – cerita inspirasi – kisah inspirasi – cerita teladan – kisah teladan

kumpulan cerita indah – kisah indah – cerita seru – kisah seru – cerita menarik – kisah menarik – cerita inspirasi – kisah inspirasi – cerita teladan – kisah teladan

=========================================
diriwayatkan al-Khathib dan Abu Na’im serta selainnya dari Mu’adz bin Jabal r.a. yang berkata, “Pelajarilah ilmu, sebab mempelajarinya karena Allah adalah ketakwaan, mencarinya ibadah, mengulanginya tasbih, mengkajinya jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu sedekah, mengorbankannya kepada yang berhak adalah kurban (kedekatan kepada Allah). Dengan ilmu, Allah dikenal dan disembah serta diesakan, dengan ilmu halal dan haram diketahui, dan dengan ilmu hubungan rahim disambung.

==========================================

Imam Malik berkata, “Suatu ketika Abu Hurairah diundang ke sebuah walimah. Ia datang, tapi tak diizinkan masuk. Akhirnya beliau pulang dan mengganti baju. Ia datang lagi, dan kali ini diizinkan masuk. Ketika makanan dihidangkan, ia memasukkan lengan bajunya ke hidangan tersebut. Orang-orang serentak menyalahkan. Tapi beliau menjawab, ‘Baju inilah yang diizinkan masuk, makanya dialah yang seharusnya makan.”‘ Ini diceritakan Ibnu Mazin at-Thalithaly dalam kitabnya.

===========================================

Al-Muzany bercerita, ‘Aku mendengar Imam Syafi’i mengatakan bahwa siapa yang belajar Al-Qur’ an, maka nilai dirinya tinggi. Siapa yang mempelajari masalah fikih, maka martabatnya menjadi mulia. Siapa yang mempelajari bahasa, maka perasaannya menjadi halus. Siapa yang mempelajari ilmu hitung, maka pandangannya luas. Siapa yang menulis hadits maka hujahnya akan kuat. Dan siapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak berguna baginya.” Ucapan ini diriwayatkan dari Imam Syafi’i dengan versi yang berbeda-beda.

========================================

Mu’awiyah bertutur bahwa ia dengar al-A’masy berkata, “Barangsiapa tidak menuntut ilmu hadits, aku gemas untuk menamparnya dengan sandalku.” Hisyam bin Ali bertutur bahwa ia mendengar al-‘Amasy berkata, “Jika kamu lihat seorang tua yang tidak membaca Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka tamparlah dia karena dia termasuk syuyuukhul-qamraa \” Abu Shalih bertanya kepada Abu Jakfar, “Apa maksud syuyuukhul-qamraa  itu?” Jawabnya, “Orang-orang tua yang lanjut usia yang berkumpul pada malam-malam terang bulan, mengobrol tentang orang lain sedang tak satu pun dari mereka dapat wudhu dengan baik.”

==========================================

Al-Muzany berkata, “Imam Syafii bila melihat seorang tua maka ia menanyainya tentang hadits dan fikih. Kalau dia tahu sesuatu, maka dipujinya. Tapi bila tidak, maka ia berkata kepadanya,’ Semoga Allah SWT tidak memberimu ganjaran kebaikan atas dirimu dan Islam. Engkau telah menyia-nyiakan dirimu dan menyia-nyiakan Islam.’

=========================================

Alkisah seorang khalifah Bani Abbas sedang bermain catur. Ketika pamannya meminta izin masuk, ia mengizinkannya setelah menutup meja catur. Begitu sang paman duduk, ia bertanya, “Paman, apakah engkau telah membaca Al-Qur”an?”
Jawabnya, “Tidak.”

Ia bertanya lagi, “Apakah engkau telah menulis sebuah hadits?”
“Tidak,” jawabnya.

“Apakah engkau telah membaca fikih dan perbedaan pendapat para ulama?” tanyanya.
Kembali ia menjawab, “Tidak.”

Sang khalifah bertanya lagi, “Apakah engkau telah mempelajari bahasa Arab dan sejarah?”
Ia menjawab, “Tidak.”

Setelah mendengar semua jawaban ini, sang khalifah berkata, “Bukalah meja ini dan lanjutkan permainan!”

Di sini sopan santunnya dan rasa malunya kepada sang paman hilang. Teman bermainnya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau membuka meja catur itu di hadapan orang yang patut kau hormati?”
Sang khalifah berkata, “Diamlah! Di sini tak ada siapa-siapa.”

=============================================

Ru’bah Ibnul ‘Ajjaj bercerita, “Pernah aku mendatangi an-Nassabah al-Bakry, lalu ia bertanya kepadaku, ‘Siapa kamu?’ Jawabku, ‘Aku Ibnul ‘Ajjaj.’

la berkata, ‘Aku tahu. Mungkin kamu seperti orang-orang yang bila aku diam mereka tidak menanyaiku, dan bila aku berbicara mereka tidak paham.’ Aku berkata, ‘Semoga aku tidak seperti itu.’

Ia bertanya, ‘Siapa musuh-musuh muru “ah,( ‘kewibawaan’)?’
Aku berkata, ‘Beritahukanlah kepadaku!’

Ia menjawab, ‘Teman-teman yang jahat. Bila melihat kebaikan temannya, mereka menutup-nutupinya. Tapi bila melihat keburukan, mereka menyebarkannya.’

Ia melanjutkan, ‘Ilmu itu punya aib, kemalangan, dan cacat. Aibnya adalah melupakannya, kemalangannya adalah berdusta dengannya, dan cacatnya adalah menyebarkannya kepada orang yang tidak layak.'”

=======================================

Ibnu Wahb berkisah, “Saat itu aku sedang berada bersama Imam Malik bin Anas, membaca buku di hadapannya dan mempelajari ilmu. Ketika tiba waktu shalat Zuhur atau Asar, aku kumpulkan buku-bukuku dan aku bangkit untuk shalat sunah. Imam Malik bertanya, Apa yang kamu lakukan ini?’ Aku menjawab, Aku hendak shalat.’ la berkata, Aneh sekali! Shalat yang hendak kamu lakukan itu tidaklah lebih afdhal daripada pelajaran itu, jika niatnya benar.'”

=====================================
Ar-Rabi’ mendengar Imam Syafi’i berkata, “Menuntut ilmu lebih afdhal daripada shalat sunah.”

Sufyan ats-Tsaury berkata, “Tidak ada amal yang lebih afdhal daripada menuntut ilmu agama selama niatnya lurus.”

Seorang pria bertanya kepada al-Mu’afy bin Imran, “Mana yang lebih kamu sukai, aku shalat sepanjang malam atau aku menulis hadits?” la menjawab, “Kamu menulis hadits lebih aku sukai daripada kamu shalat dari awal sampai akhir malam.”

la berkata juga, “Menulis satu hadits lebih aku sukai daripada shalat satu malam.”

Ibnu Abbas berkata, “Menelaah ilmu beberapa saat lebih aku senangi daripada shalat sepanjang malam.”

============================================

Dalam Masa ‘il-nya, Ishaq bin Manshur bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang maksud perkataan Ibnu Abbas di atas, “Ilmu apa yang dimaksudnya?” Ahmad menjawab, “Ilmu yang bermanfaat bagi manusia dalam agama mereka.” Ishaq bertanya lagi, “Tentang wudhu, shalat, puasa, haji, talak, dan sejenisnyakah?” la menjawab, “Benar.”

Ishaq berkata lagi, “Ishaq bin Rahawaih berkata kepadaku, ‘Maksudnya memang seperti yang dikatakan Ahmad itu.'”

Abu Hurairah berkata, “Aku lebih senang duduk sesaat untuk memperdalam ilmu agamaku daripada menghidupkan malam dengan tahajjud sampai pagi.”

Ibnu Abdil Barr menyebutkan dari hadits Abu Hurairah, “Segala sesuatu punya pilar. Dan pilar agama ini adalah ilmu. Allah SWT tidak diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhal dari memperdalam ilmu agama.”

Muhammad bin Ali al-Baqir berkata, “Seorang ulama yang ilmunya bermanfaat lebih baik dari seribu abid/orang yang gemar beribadah.” la berkata juga, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah manusia lebih afdhal daripada ibadahnya seribu abid.”

=================================================
dikatakan seorang penyair,

“Sungguh aneh aku rindu kepada mereka
Dan kutanya orang yang kutemui tentang mereka padahal mereka bersamaku
Mataku mencarinya padahal mereka berada di bagian hitamnya
Sedang hatiku merindukan mereka padahal mereka ada di antara tulang
rusukku.”

Yang lain berkata,

“Sungguh aneh seseorang mengadu kejauhan kekasihnya
apakah seorang kekasih itu dapat hilang dari hati kekasihnya?
Bayanganmu di mataku dan sebutanmu di bibirku
tempat tinggalmu di hatiku, maka bagaimana mungkin kamu akan hilang dariku.”

===================================================
Umar bin Qais al-Malaiy (wafat tahun 143
H) berkata, “Apabila anda melihat seorang
pemuda yang tumbuh dewasa bersama
Ahlussunnah maka peliharalah, dan kalau besar
bersama pelaku bid’ah maka jagalah dirimu
darinya. Karena sifat seorang akan tumbuh
dewasa sesuai dengan masa kanaknya”.

Dalam kitab kitab yang sama ditambahkan,
“Sesungguhnya pemuda apabila bergaul dengan
orang alim maka akan selamat, tetapi apabila
bergaul dengan yang lainnya maka akan
terpengaruh

Ibnu Syaudzab (wafat tahun 120 H)
berkata, “Termasuk nikmat Allah kepada pemuda
apabila dewasa diberikan taufik untuk bergaul
dengan pelaku sunnah”

Demikian juga yang dikatakan oleh as-
Sahityani (wafat tahun 131 H), “Termasuk
kebahagiaan bagi seorang apabila diperkenankan
oleh Allah untuk bergaul dengan Ahlussunnah”

==========================================

Ahlus Sunnah memandang bahwa khalifah
setelah Rasulullah secara berurutan adalah Abu
Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma’in.
Barangsiapa yang mencela salah satu di antara
mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai
karena bertentangan dengan nash dan ijma atas
kekhalifahan mereka .Berbeda dengan sikap ahlul
bid’ah dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij
yang mencela dan meremehkan keutamaan para
sahabat.

==========================================

sumber: www.alsofwah.or.id ,
           ighatsatul lahfan karya ibnu qayyim, miftah darus saadah karya ibnu qayyim, dll
kumpulan cerita indah – kisah indah – cerita menarik – kisah menarik – cerita inspirasi – kisah inspirasi – cerita teladan – kisah teladan

cerita islam – cerita islami – anekdot islami – kisah-kisah islami

Yazid bin Al-Walid berkata, “Wahai Bani Umayyah! Waspadalah kalian dari nyanyian, karena ia bisa mengurangi rasa malu, menghancurkan kepribadian, dan ia adalah pengganti khamar, sehingga membuat orang berbuat seperti orang mabuk, jika engkau terpaksa harus melakukannya maka jauhilah wanita, karena nyanyian mendorong kepada zina.”

==========================================

Muhammad bin Al-Fadhl Al-Azdi berkata, “Suatu kali Al-Huthai’ah bersama seorang puterinya menginap di suatu rumah orang Arab gunung. Ketika malam telah larut, ia mendengar suara nyanyian, maka ia pun berkata kepada pemilik rumah, ‘Hentikan nyanyian itu!’ Pemilik rumah pun terperanjat, ‘Kenapa engkau membenci nyanyian?’ Al-Huthai’ah menjawab, ‘Nyanyian adalah pendorong kepada perbuatan keji, dan aku tidak suka jika puteriku mendengarnya. Hentikan nyanyian itu, jika tidak aku akan keluar dari rumahmu sekarang juga!”

========================================

Suatu kali, Umar bin Abdul Azis menulis kepada guru akhlak dari puteranya, “Hendaknya yang pertama kali mereka yakini dari akhlak (yang engkau ajarkan) yaitu membenci berbagai bentuk nyanyian, yang awalnya adalah dari syetan dan berakhir dengan murka Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Sungguh telah sampai padaku dari orang-orang ahli ilmu terpercaya bahwa suara alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian juga keterpengaruhan dengannya bisa menumbuhkan nifaq di hati sebagaimana rumput tumbuh setelah disirami air.”*

=======================================

Ayub As-Sakhtiyani berkata, “Jika orang-orang shalih disebut maka aku adalah orang yang terasing.”

===============================================

Ketika Sufyan Ats-Tsauri dalam sakaratul maut, Abul Asyhab dan Hammad bin Salamah masuk kepadanya. Hammad berkata kepada Sufyan, “Wahai Abu Abdillah, bukankah engkau sudah merasa aman dari sesuatu yang engkau takuti? Dan engkau telah melakukan apa yang engkau harapkan, sedangkan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” Sufyan menjawab, “Wahai Abu Salamah, apakah engkau mengharapkan orang seperti aku ini bisa selamat dari neraka?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, sungguh aku mengharapkanmu demikian.”

===============================================

Yunus bin Ubaid berkata, “Sesungguhnya aku mendapatkan seratus ciri kebaikan, aku tidak tahu apakah dalam diriku terdapat satu daripadanya.”

===============================================

Muhammad bin Wasi’ berkata, “Seandainya dosa memiliki aroma, tentu tak seorang pun yang kuat duduk bersamaku.”

===============================================

Pernah suatu ketika Daud Ath-Tha’i diceritakan di hadapan sebagian para raja, sehingga mereka pun memujinya, maka ia berkata, “Seandainya manusia mengetahui sebagian apa yang ada pada kami, tentu tak sepatah pun lisan yang menyebutkan kebaikan kami selamanya.”

===============================================

Al-Marwazi berkata, “Aku membantu Abu Abdillah berwudhu saat bersama orang banyak, tetapi aku menutupinya dari orang-orang agar mereka tidak mengatakan, ‘la tidak membaikkan wudhunya karena sedikitnya air yang dituangkan.’ Dan jika Imam Ahmad berwudhu, hampir saja (air bekasnya) tidak sampai membasahi tanah.”

===============================================

“Abul Faraj Al-Jauzi* menyebutkan kisah dari Abil Wafa’ bin Uqail, ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, ‘Saya menyelam dalam air berkali-kali tetapi saya ragu-ragu, apakah mandi saya telah sah atau belum, bagaimana menurut pendapatmu?”

Maka Syaikh menjawab, “Pergilah, kamu sudah tidak berkewajiban lagi menunaikan shalat.”

Ia bertanya, “Bagaimana bisa begitu?” Syaikh menjawab, “Karena Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Pena (catat-an amal) diangkat dari tiga jenis manusia: Orang gila hingga sembuh dari kegilaannya, orang yang tidur hingga bangun dan anak kecil sampai ia baligh.’ (Hadits shahih). Dan siapa yang menyelam dalam air berkali-kali lalu ia ragu-ragu, apakah ia telah kena air atau belum, maka dia adalah orang gila!”

=====================================================
“Tidaklah di dunia ini ada orang yang lebih menderita dari pecinta
meski ia mendapatkan cinta itu manis rasanya.
Engkau lihat ia selalu menangis pada setiap keadaan, karena takut berpisah atau karena rindu dendam.
Ia menangis jika mereka jauh, sebab didera kerinduan.
Ia menangis pula saat berdekatan, sebab takut perpisahan.
Air matanya mengalir saat bertemu.
Air matanya mengalir saat berpisah.”

===========================================

Ibnu Syuja’ Al-Kirman berkata, “Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti Sunnah, memakmurkan batiniah-nya dengan muraqabah (penjagaan kepada Allah), menahan nafsunya dari syahwat dan menahan pandangannya dari apa yang diharamkan, serta ia membiasakan diri makan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.”

===========================================

Disebutkan apa yang dilakukan oleh sebagian ahli ilmu di negeri Afrika, “Bahwasanya di pinggir negeri itu terdapat mata air yang disebut dengan mata air penyembuhan. Orang-orang awam terkena fitnah olehnya, sehingga mereka berduyun-duyun dari berbagai negeri mendatanginya. Orang yang belum menikah, belum mempunyai anak akan dikatakan padanya, ‘Ikutlah aku ke mata air penyembuhan.’ Dari sini Al-Hafizh Abu Muhammad mengetahui bahwa di dalamnya ada fitnah. Maka beliau keluar di pagi buta dan melenyapkannya, lalu beliau adzan subuh di atasnya, selanjutnya berkata, ‘Sesungguhnya aku melenyapkan ini karena-Mu, karena itu janganlah Engkau jadikan ada orang yang masih memuliakannya’.” Dan memang setelah itu tidak ada lagi orang yang memuliakannya hingga sekarang.

===============================================

‘Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berpesan kepada pendidik putranya: “Ajarilah dia Kitabullah, puaskan dia dengan hadits dan jauhkan dia dari syair.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 30)

===============================================

‘Ali bin ‘Ashim Al-Wasithi rahimahullahu menceritakan tentang kesungguhan pengorbanan ayahnya, “Ayahku pernah memberiku uang seratus ribu dirham sambil berkata, ‘Pergilah untuk menuntut ilmu, dan aku tak ingin melihat wajahmu kecuali setelah engkau menghapal seratus ribu hadits!’.” ‘Ali pun pergi jauh untuk menuntut ilmu, kemudian pulang untuk mengajarkan ilmu yang didapatkannya, sampai-sampai yang hadir di majelisnya lebih dari tigapuluh ribu orang. (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)

===============================================

Al-Mu’tamir bin Sulaiman mengisahkan tentang pesan sang ayah, “Ayahku pernah menulis surat padaku saat aku berada di Kufah, ‘Belilah buku dan catatlah ilmu, karena harta itu akan musnah, sementara ilmu itu akan kekal’.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)

===============================================

“Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah akan jadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah kumpulkan baginya urusannya yang tercerai-berai, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tidak(?) suka kepadanya. Dan barangsiapa yang dunia menjadi cita-citanya, Allah akan jadikan kefakiran di depan matanya, Dia cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali hanya apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2465, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

===============================================

Ibnul Jauzi rahimahullahu pernah menasihati putranya dan menganjurkannya untuk menyibukkan diri dengan ilmu. Beliau berkata, “Ketahuilah, ilmu itu akan mengangkat orang yang hina. Banyak kalangan ulama yang tidak memiliki nasab yang bisa dibanggakan dan tidak punya wajah yang rupawan.”

===============================================

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

===============================================

“Satu bab ilmu agama yang dipelajari oleh seseorang lebih baik baginya daripada dunia seisinya.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 18)

===============================================

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14)
===============================================

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu padaku.” (Thaha: 114)

 

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (Az Zumar: 9)

www.almanhaj.or.id

www.alsofwah.or.id