Archives

FATWA MATI BAGI PENGHINA NABI (jangan menulis komentar yang menghina ajaran islam di blog ini)

FATWA MATI BAGI PENGHINA NABI (jangan menulis komentar yang menghina ajaran islam di blog ini)

Salah satu kaidah dalam penerapan Sunnah adalah menyampaikan Sunnah dan tidak memperdebatkannya. Karena memperdebatkan Sunnah hanya akan membawa pada pertikaian yang berbuntut pelecehan terhadap Sunnah Nabawiyah itu sendiri. Berkata Imam Malik rahimahullah: “Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian dan menghilangkan cahaya ilmu dari dalam hati, serta mengeraskan hati dan melahirkan kedengkian. (Syiar a’lamin Nubala’, 8/ 106). Demikian pula dikatakan oleh Imam Syafii dan lain-lain. (Syiar A’lamin Nubala’, 10/28)

Dalam pengamalan atau penyampaian sunnah kita hanya diperintahkan untuk menyampaikan dengan jelas dan bukan memperdebatkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan ta’atlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (al-Maidah: 92)

================================
1. Hukuman bagi yang menghina Nabi Muhammad SAW adalah dibunuh,

2. Barangsiapa yang mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia kafir, baik bercanda atau serius. Demikian pula orang yang menghina Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya.

3. Para ulama secara pasti telah bersepakat bahwa ketika seorang muslim mencela dan merendahkan agamanya atau mencela Rasul dan merendahkannya, maka dia murtad, kafir, halal darah dan hartanya. Jika bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak, maka dibunuh.” (Diambil dari Fatawa Nur ‘alad Darbi (melalui) CD)

4. Jika Nabi Ibrahim AS tidak bisa meng-islamkan ayahnya, dan nabi Muhammad SAW tidak bisa mengislamkan pamannya, maka wajar jika kita tidak bisa mengislamkan orang-orang kafir yang menjadi lawan debat/diskusi kita, maka tidak usah memaksakan diri dalam mendebat mereka, bahkan jika mereka keras kepala sebaiknya kita berhenti mendebat mereka, karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang ada di dalam dada merekalah yang buta

5. Tugas kita hanya menyampaikan ajaran islam, jika mereka mau menerima maka itu yang kita harapkan. Dan jika mereka menolak maka mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Jika debat sudah menjurus kearah yang tidak sehat maka sebaiknya dihentikan.

6. Sesungguhnya orang-orang kafir yang keras kepala dan suka mendebat mungkin tidak banyak, tapi karena mereka aktif menggunakan internet maka seolah-olah mereka tampak banyak dan kuat, padahal orangnya hanya itu-itu saja.

7. Jangan heran dengan keras kepala dan sengitnya permusuhan orang-orang kafir, lihat surat al baqarah ayat 120

8. Dalam islam, kebebasan menyampaikan pendapat/pikiran itu ada batasannya, jadi bukan kebebasan mutlak. Dalam negara islam, tidak boleh menyebarkan pendapat yang bertentangan dengan ajaran islam, pelakunya akan dihukum.

9. Dalam negara islam, hukuman bagi orang yang murtad dari agama islam adalah dibunuh
keterangan lebih lanjut bisa dibaca di:
www.asysyariah.com
www.almanhaj.or.id
www.alsofwah.or.id
www.muslim.or.id

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma.

 

                        Ketiganya menyerbu dengan penuh ketangkasan

                        Hidup mereka tiada terpisahkan

                        Mati pun berkumpul tatkala dikuburkan

                        Tak seorang muslimpun yang memiliki mata pengelihatan

                        Mengingkari  yang ada pada mereka berupa keutamaan

 

 

            Tahukah kalian siapakah yang dimaksud oleh Hasan Bin Tsabit Radiyallahu ‘Anhu ” ketiganya menyerbu“?

 

            Sungguh mereka adalah Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam  dan dua sahabatnya, kekasihnya, , wazir beliau dari penduduk dunia, Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma.

 

 

            Saya telah kemukakan contoh-contoh cercaan kaum Syi’ah yang ditujukan pada masing-masing sahabat ini. Kaum Syi’ah masih memiliki ‘stok’ hinaan yang siap ditikamkan kepada kedua sahabat ini secara bersamaan. Saya akan sebutkan beberapa diantaranya”

 

1. Keyakinan mereka akan wajibnya melaknat keduanya.

 

Syi’ah Itsna Asyriyah mewajibkan golongannya melaknat Syaikhoni,Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma dan menyatakan  bahwa sebagian Imam merekapun  telah melaknatnya.

 

Kepada Ali mereka nisbahkan suatu kebohongan, tatkala ada seseorang yang ingin membaiatnya atas apa yang telah dilakukan Abu Bakar ia membentangkan kedua tanganya dan berkata,” Bertepuklah, Allah telah melaknat dua orang”. [94]

 

Sulaim Bin Qois mengatakan Ali senantiasa melaknat syaikhoni[95]. Demikian pula- menurut anggapan mereka- Imam Ja’far Ash Shadiq melaknat keduanya setiap selesai shalat wajib.[96]

 

Kaum Syi’ah juga kreatif mengarang banyak do’a guna melaknat Syaikhani  dalam kitab-kitab mereka. Memalsukan hadits tentang keutamaan do’a tersebut agar orang syi’ah bersemangat dalam membaca, mengulang-ulang dan berdo’a dengannya. Diantaranya satu do’a yang berjudul ” Do’a untuk dua berhala quraisy”. Do’a ini merupakan do’a khusus bagi kaum Syi’ah dalam melaknat Syaikhoni dan dua putrinya yang menjadi isteri Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam. Menurut mereka Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu juga berqunut dengan do’a ini dalam shalat witirnya[97]. Ia berkata,” Sesungguhnya orang yang berdo’a dengannya laiknya orang yang melempar panah bersama Nabi dalam Perang Badar Dan Hunain”. ” Do’a ini merupakan rahasia yang samar dan dzikir yang mulia”[98]. Dan beliau rajin membacanya pada siang, malam maupun diwaktu sahur –menurut anggapan mereka-.[99]

 

Kepada Imam Ahli Bait mereka menisbahkan keutamaan hadits ini- yang semuanya adalah dusta- bahwa barang siapa yang membaca do’a ini sekali Allah akan menulis baginya 70.000 kebaikan, menghapus 70.000 keburukan dan mengangkat 70.000 derajat serta memenuhi puluhan ribu kebutuhannya.[100] Dan Barangsiapa melaknat Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu ‘Anhuma- pada pagi hari, takkan ditulis baginya satu kejelakan pun hingga sore, dan barangsiapa melaknat keduanya pada sore hari, takkan ditulis baginya satu kejelakn pun hingga pagi tiba.[101]

 

Kaum Syi’ah sangatlah memperhatikan do’a ini, mereka menganggapnya termasuk do’a yang masyru[102]. Mereka pun mengarang syarhnya  yang jumlahnya lebih dari sepuluh syarh(penjelasan).[103]

 

Para penulis Syi’ah banyak yang menyebutkan do’a ini, sebagian atau kesuluruhan. Diantara yang menyebutkan secara keseluruhan adalah Al Kaf’amy[104], Al Ka syany[105], An Nury At Tabrasy[106], Asadullah At Tahrany Al Ha’iry[107], Sayyid Murtadzo Husein[108], MandzurBin Husein[109] dan lainnya. Dan yang hanya menyebutkan petikannya saja diantaranya Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahutu fie la’ni Al Jibti wa At Thaghut”[110] dan AL Kasyany dalam “Kurratu Al Ain”[111]. Ad Damadi Al Huseini dalam” Syir’atu At Tasmiyah Fie Az Zamani Al Ghibah[112]’, Al Majlisi dalam ” Mir’atu Al ‘Uqul”[113], At Tusturi dalam ” Ihqaqu Al Haq”[114], Abu Hasan Al ‘Amily dalam Muqadimah tafsir Al Burhannya[115], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[116], An Nury At Tabrasy dalam ” Fashlu AL Khitab”[117], Abdullah Sybr dalam ” Haq Al Yaqin”[118] dan lainnya.

 

Disebut do’ a untuk dua berhala Quraisy karena awalnya berbunyi,” Ya Allah berikanlah salam sejahtera Atas Muhammad dan keluarganya dan laknatlah dua berhala Quraisy, dua jabatihima, dua thagutnya dan kedustaannya dan dua putrinya….dst.

 

Maksud dari dua berhala Quraisy  adalah Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma – semoga Allah meridhai keduanya dan mengadili orang yang membencinnya- sebagaimana banyak diterangkan orang syi’ah dalam banyak literatur mereka. Diantaranya:  Al Kaf’amy dalam syarh do’a ini[119], Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahat”[120], Al Majlisy[121], Ad Damadi Al Huseini[122], At Tusturi dalam ” Ihqaqu Al Haq[123], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[124] An Nury At Tabrasy dalam ” Fashlu Al Khitab”.[125]

 

Sebagian kaum syi’ah tidak secara jelas menyatakan makna kedua berhala itu adalah Abu Bakar dan Umar- ini adalah taktik taqiyah yang mereka gunakan untuk bermuamalah dengan Ahli sunnah tapi hanya menyebutkan isyarat berupa gelar yang dengannya sesama orang Syi’ah akan tahu maksud dari gelar tersebut. Al Kasyani  menyebutkan  :” Maksud dua berhala itu adalah Fir’aun dan Haman”. Ia juga berkata,” Makhluq paling rendah adalah dua berhala Quraisy laknatullah alaih, keduannya adalah Fir’aun dan Haman “[126]. Sedang Fir’aun dan Haman adalah gelar yang mereka sandangkan untuk syaikhoni – Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma-.

 

Abu Al Hasan Al Amily mengisyaratkan makna dua berhala Quraisy dengan “Fulan dan Fulan atau Jibt dan Thaghut[127] yang maksudnya adalah syaikhoni.

 

Do’a yang oleh kaum Syi’ah dinamakan” Do’a Dua Berhala Quraisy “ ini sangat sarat dengan laknat, umpatan,hinaan dan do’a demi kecelakaan untuk syaikhoni[128]. Pula penuh dengan kisah-kisah palsu dan tuduhan keji tak berdasar yang kentara sekali kebohongannya. Semua tuduhan itu mereka hunjamkan pada diri orang yang paling mulia setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam. Sebagai contoh : Dakwaan mereka bahwa keduanya mengingkari wahyu, merubah Al Qur’an, menyelisihi Syar’i, menghapus hukum, membakar negeri, merusak para hamba, merobohkan rumah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam dan banyak lagi kedustaan lainnya yang kesemuanya tidak dilandasi petunjuk atau diperkuat dalil dan hujjah. Sehingga apa yang ada dalam diri Kaum Syi’ah yang sebenarnya tersingkap jelas, yaitu kedengkian yang mendalam serta rasa benci yang tak terkira pada para sahabat Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam, bahkan pada yang paling afdhol dari mereka semua, yang Rasul memerintahkan kita beriqtida’(mencontoh) pada mereka sepeninggal beliau.

 

 

Adapun Aqidah Syi’ah dalam hal bara’ kepada Syaikhoni sebagaiman berikut :

 

Dalam aqidah mereka, berlepas diri dari keduanya juga dari Utsman dan Muawiyah dianggap sebagai dharuriyat mazhab mereka. Barangsiapa tidak berlepas diri dari mereka ia bukan termasuk golongan mereka.

 

Al Majlisi –referensi Syi’ah Muashir- berkata :” Termasuk dari dharuriyat agama Imamiyah adalah bara’ (berlepas diri) dari Abu bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah……..”[129]

 

Bahkan bara’ terhadap mereka dipercaya menjadi sebab hilangnya penyakit dan obat bagi tubuh,[130] barangsiapa yang telah berlepas diri dari mereka kemudian mati pada malam harinya ia akan masuk jannah. Diriwayatkan Al Kulainy dalam Kitabnya ” Al Kafy” –termasuk salah satu dari empat ushul yang terkenal di kalangan Syi’ah- dengan sanad dari keduanya[131] ia berkata,” Barangsiapa berdo’a” Ya Allah aku bersaksi kepadamu dan bersaksi pada malaikat-malaikat Al Muqarrabien, para pembawa Arsy yang terpilih bahwa engkaulah Allah yang tiada ilah selain engkau. Maha pengasih lagi Maha Penyayang dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulMu dan Fulan adalah Imam dan Waliku[132],dan bahwa ayahnya Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam, juga Ali bin Abi Talib, Al Hasan dan Al Husein, fulan, fulan –dan seterusnya hingga berakhir padanya-[133] adalah waliku. Untuk itu aku hidup dan mati serta dibangkitkan dihari Kiamat Aku berlepas diri dari fulan, fulan dan fulan. Jika ia mati pada malam harinya ia akan masuk surga”[134]

 

Yang dimaksud Fulan, Fulan dan Fulan adalah Abu Bakar Umar dan Utsman.

 

Menurut mereka tidak hanya kaum Syi’ah saja yang melaknat dan belepas diri dari Abu Bakar Umar dan Utsman, tapi ada suatu golongan yang Allah ciptakan khusus untuk melaknat mereka.

 

Kaum  Syi’ah menisbatkan riwayat dusta pada Ja’far Ash Shadiq bahwa ia berkata :” Sesungguhnya di balik matahari kalian ini ada empat puluh planet yang didalamnya terdapat makhluk yang banyak. Dan di balik bulan kalian ini ada empat puluh bulan yang didalamnya juga terdapat makhluk yang banyak jumlahnya. Mereka tidak tahu apakah Allah mencipta atau tidak, hanya mereka dilhami satu ilham berupa laknat atas Fulan dan fulan….”.

 

Dalam riwayat Al Kulainy pengarang Al Kafy :” Mereka tidak bermaksiat kepada Allah sekejap matapun dan berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar”[135].Al Majlisi mengkaitkan perkataan ini dengan perkataanya ” Fulan dan Fulan” maksudnya Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma[136].

 

Ringkasnya :

 

Syi’ah Itsna Asyriyah sepakat untuk melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma, berlepas diri dari mereka dan mewajibkannya kepada para pemeluknya.

 

Dan tentu saja, apa yang diyakini  Imam-imam mereka menyelisihi apa yang mereka katakan berkenaan dengan syaikhani khususnya dan para sahabat pada umumnya. Akan kami ketengahkan sebagian perkataan para Imam itu. Dan semua yang mereka nisbahkan pada mereka tidak lain hanyalah kedustaan yang mereka karang. Pernyataan Imam tersebut diantaranya:

 

Adalah Amirul Mu’minin Radiyallahu ‘Anhu melarang sebagian tentaranya  mencela Muawiyah Radiyallahu ‘Anhu –padahal dibanding Syaikhani keutamaan beliau lebih rendah sebagaimana diakui kaum Syi’ah sendiri- dan berkata pada mereka,” Tentang apa yang dinisbahkan kaum Syi’ah dalam kitab-kitab mereka aku tidak menyukainya dan melarang kalian menjadi para pencela dan pelaknat”[137]. Dan menurut pandangan mereka apa yang Ia benci  dari kaumnya ia membenci pula hal itu atas dirinya.

 

Pada dasarnya Amirul Mu’minin tidak saja membenci bahkan menyuruh untuk membunuh orang yang berani melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhu

 

Imam Ahmad dan At Tabrani[138] meriwayatkan dengan sanad hasan dari Amirul Mukninin Ali Bin Abi Talib Radiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata,” Akan datang suatu kaum setelah kita yang mengaku dari golongan kita tapi sebenarnya bukan golongan kita, mereka memiliki An Nibz[139] atau gelar-gelar dan tanda untuk mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma. Jika kalian menemui mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang musyrik”.[140]

 

Tatkala dikabarkan pada beliau bahwa ada orang yang mencela Syaikhani, beliau mengancamnya dengan had (hukuman)  seorang Muftary  (pembuat dusta besar) yaitu 80 kali jilid. Diriwayatkan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahid Al Maqdisy dengan sanadnya dari Amirul Mukminin bahwa telah sampai kabar padanya bahwa ada beberapa orang yang mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma, maka beliau berkata ” Semoga Allah melaknat orang yang dihatinya terdapat perasaan tentang keduanya selain dari yang baik. Lalu beliau naik mimbar dan berkhotbah dihadapan mausia dengan khutbah yang sangat menyentuh dihati :” Apa urusan orang-orang itu menyebut-nyebut dua penghulu Quraisy, dua bapak kaum muslimin?! Saya berlepas diri dari apa yang mereka katakan, dan atas perkataan mereka akan ada balasan. Ketahuilah …demi yang membelah biji dan Yang menghembuskan angin, tidaklah mencintai keduanya selain seorang mukmin yang bertakwa dan tidaklah seseorang membencinya selain pendosa yang rendah”.

 

Kemudaian beliau terus menerus menyebutkan  keutamaan keduanya Radiyallahu ‘Anhuma. Dari keredhoan Nabi ketika wafat, kerelaan manusia membaiatnya, kisah-kisah keduanya dalam kekhalifahan hingga sampai pada perkataannya,” Ketahuilah, barangsiapa yang mencintaiku maka cintailah keduanya, dan barang siapa tidak mencintai keduanya maka ia telah membenciku dan aku berlepas diri darinya. Ketahuliah siapa saja yang pada saat aku mendatanginya mengatakan hal ini- celaan pada Syaikhani-  maka baginya hukuman seorang muftary. Ketahuilah orang terbaik setelah Nabi Adalah Abu bakar dan Umar jika aku mau niscaya aku sebutkan yang ketiga. Aku memohon ampun kepada Allah bagiku dan kalian semua”.[141]

 

Sangat urgen bagi Kaum Syi’ah untuk memperhatikan ucapan agung dari Imam yang mulia ini. Sungguh beliau tidak hanya melarang dari mencela dan membenci dua sahabat tersebut beliau bahkan menjadikan kecintaan terhadap mereka sebagai tanda kecintaan terhadap dirinya yang mulia, mengutamakan keduanya atas dirinya sendiri dengan menjadikan keduanya orang  terbaik  setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam.

 

Dan bahwa dalam mengutamakan keduanya terdapat riwayat yang mutawatir dari beliau dengan berbagai bentuk, suatu ketika beliau naik mimbar Kufah dan seluruh yang hadir pun mendengarnya, lalu berkata :” Sebaik-baik umat setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar!”[142]

 

Al Bukhary dalam shahihnya meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah – beliau putra Ali dari isterinya yang berasal dari kabilah Hanafiyah-  ia berkata,” Aku berkata pada bapakku,” Siapakah manuisa terbaik setelah Nabi ?” Beliau menjawab,” Abu Bakar”. ” Lalu ?” lanjutku.” Kemudian Umar”.[143]

 

Dan ketika Ibnu Saba’ terang-terangan menghina Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib menyuruh untuk membunuhnya tapi sebagian orang memintakan ampunan atasnya maka dibatalkanlah hukuman bunuh ,kemudian dia di asingkan ke Mada’in –sebagaimana diakui oleh sebagian Syi’ah-.[144]

 

Semoga Allah meridhai Amirul Mu’minin dan membalasnya dengan kebaikan atas kebajikannya yang telah menempatkan hak keduanya  sesuai proporsinya dan mengakui keutamaan pada yang memilikinya. Hanyasanya yang mengakui keutaman dari pemilik keutamaan adalah orang yang memiliki keutamaan pula.

 

Keyakinan beliau tentang Syaikhani sebgaimana keyakinan Syi’ah di zaman dahulu. Mereka tidak menghujat Abu Bakar dan Umar. Inilah pernyataan ulama besar Syi’ah, Abu Al Qasim menuturkan bahwa ada seorang bertanya kepada Syuraik bin Abdillah bin Abi Numair – termasuk kibaru sahabat Ali Radiyallahu ‘Anhu – ,” Siapa yang lebih utama, Abu Bakar atau Ali ?” Syuraik menjawab,” Abu Bakar”. ” Apakah engkau  mengatakan hal ini sedang engkau berasal dari golongan kami?”. Lanjutnya.” Ya”, jawab Syuraik” .”Yang disebut orang Syi’ah adalah orang yang mengatakan hal seperti ini. Demi Allah Ali RA telah menaiki kaki-kaki mimbar ini – yang dimaksud adalah mimbar Kufah- dan berkata,” Ketahuilah, umat terbaik setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”. Apakah kita menyanggah perkataan beliau? Atau mendustakannya? Demi Allah beliau tidaklah berbohong.!”[145]

 

Imam Ali Bin Muhammad, Abu Ja’far Al Baqir mutlak melarang laknat dan celaan juga memberitahukan bahwa Allah membenci hal itu, beliau berkata,” Sesungguhnya Allah membenci orang yang suka melaknat, mencela, mencerca,dan suka berbuat fahisah (zina)”. Ini pengakuan salah seorang Syi’ah sendiri[146], maka apakah Imam yang maksum –menurut mereka – melakukan hal yang dibenci Allah?!

 

Beliau juga berwala’ pada Abu Bakar dan Umar RA dan mengkhabarkan bahwa tak seorang Ahli Bait pun yang mencela keduanya. Ketika Jabir Al Ja’fi bertanya kepadanya tentang Syakhani “Adakah diantara kalian, ahli bait yang yang menghina Abu Bakar dan Umar?”, beliau jawab,” Tidak. Dan aku mencintai keduanya, berwala’ dan memohonkan ampun untuk mereka,”[147]

 

Adapun Imam Ja’far Ash Shadiq – Imam Kaum yang keenam- beliau bahkan tidak hanya berwala’ saja tapi juga menyuruh para pengikutnya untuk memberikan wala’nya pada kedua sahabat ini. Al Kulaini meriwayatkan dalam Kitab Al Kafi – Kitab ini menurut Syi’ah setara dengan Sahih Bukhari – dengan sanadnya dari Ash Shadiq bahwa ia berkata pada seorang wanita Syi’ah yang  bertanya kepadanya tentang Abu Bakar, haruskah aku memberikan wala’ pada keduanya?”. “Berwla’lah pada keduanya!” jawab beliau.” “Kemudian jika aku bertemu Rabku aku katakan  pada Nya bahwa engkaulah yang menyuruhku?”. Beliau menjawab ,” Ya”.[148]

 

Zaid Bin Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa beliau belum pernah mendengar dari bapak-bapaknya  seorangpun yang berlepas diri terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma –seperti di nukilkan kaum Syi’ah-[149]. Diantara mereka adalah: Zainul Abidin, Ali Bin Al Husein, Al Hasan Bin Ali, dan Ali bin Abi Talib.

 

Tidakkah kaum Syi’ah bisa berlapang dada sebagaimana Imam mereka dari berwala’ kepada Syaikhani dan ridha terhadap mereka, tidak bara’ ataupun melaknat keduanya?!

 

Tak hanya itu, Zaid Bin Ali bahkan mengaplikasikan wala’nya dengan perbuatan, yaitu tatkala datang padanya satu kaum yang menyatakan diri bergabung dengan Syi’ah dan mencintai Ahli Bait memintanya agar berlepas diri dari dua syaikh tersebut untuk kemudian mereka akan berbaiat kepadanya –terjadi ketika beliau keluar memerangi Umawiyun-.maka beliau mengucapkan kalimat yang membuat mulut-mulut mereka bungkam. Dan beliau menerangkan pada mereka makna tasyayu’ yang benar :” Aku berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari keduanya[150], bara’ah dari Abu Bakar dan Umar berarti bara’ah dariku”[151]. Lalu mereka berkata,” Jika demikian kami menolakmu”.[152]

 

Demikianlah ucapan orang-orang yang dianggap Syi’ah sebagai Imam. Beginilah sikap mereka, berwala’ kepada Abu Bakar dan Umar juga seluruh sahabat. Mengasihi dan tidak berlepas diri serta menghasung manusia agar memberikan wala’nya pada mereka dan mencintai mereka, mewanti-wanti mereka agar jangan membenci ataupun mencela mereka. Maka bagaimana mungkin mereka mengklaim berintisab pada para Imam tersebut sedangkan bara’ah dari syaikhani  dan para sahabat menurut Syi’ah adalah wajib. Sebuah  pertanyaan yang jawabanya kita serahkan pada mereka.

 

2.Anggapan kaum Syi’ah perihal akan dikembalikannya Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma kedunia sebelum hari Kiamat untuk diqishas dan diazab dengan keras.

 

Syi’ah Itsna Asyriyah meyakini, Abu Bakar dan Umar akan dikembalikan kedunia sebelum Kiamat untuk diqishah dengan tangan  Sang Pembangkit Ahli Bait – Mahdi Kaum Syi’ah yang ditunggu-tunggu- . Menurut mereka Al Qur’an Al Kariem memberitahukan akan kembalinya mereka dan akan diazab dengan berbagai macam sikasaan. Mereka mengambil dalil dari AlQuran tentang kisah kaum Musa AS dan peristiwa yang menimpa Fir’aun dan tentaranya.

 

Dan kami hendak memberi karunia kepada oran-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-rang yang mewarisi (bumi)

Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir’aun dan haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. ( Al Qosos Ayat5-6)

 

Maksud dari Firaun dan Haman disitu adalah Abu Bakar dan Umar – sungguh keduanya jauh dari apa yang mereka tuduhkan-. Mereka di bangkitkan oleh Al Qo’im ( Sang pembangkit) di hari Kiamat sebagai obat penawar bagi orang-orang Syi’ah.

 

Muhammad Bin Al Hasan Asy Syaibani dalam kitabnya ” Kasyfi Nahji AL Haq” menyandarkan riwayat pada Muhammad bin Ali Al Baqir dan Ja’far Ash Shadiq Rahimahumallah – keduanya berlepas diri dari tuduhan ini- perkataan keduanya tentang tafsir ayat ini:” Sesungguhnya Firaun dan Haman  disini adalah dua orang dari Jabarah( pembesar) nya[153] Quraisy yang Allah ta’ala hidupkan tatkala bangkitnya Al Qoim dari keluarga Muhammad di akhir zaman untuk kemudian membalas keduanya atas apa yang telah mereka kerjakan di masa lampau”.[154]

 

Sebagian Ulama Syi’ah malah terang-terangan mengatakan bahwa maksud dari Fir’aun dan Haman disini adalah Abu Bakar dan Umar. Lalu Ia akan menyalib keduanya di batang kurma dan membunuhnya setiap hari seribu kali kematian sebagai balasan atas kezaliman yang mereka lakukan serta permusuhan terhadap Ahli Bait.

 

Diantara ulama’ tersebut adalah: Al Bayadhi[155], Hasan Bi nSulaiman Al Ahly[156], At Ayasy an Najsy[157], Al Bahrani[158], Al Jaza’iry[159], Ahmad Al Ahsa’i[160], Ali Al Ha’iry[161], Abdullah Syibr[162] dan lainya.[163]

 

Al Majlisy menta’liq riwayat  Al Kulaini yang diisnadkan pada Ja’far Ash Shadiq satu perkataan yang dinisbahkan kepada Amirul Mu’minin Ali Radiyallahu ‘Anhu ,” Allah telah membunuh Pembesar Quraisy dalam kondisi yang paling baik….membunuh Haman dan membinasakan Fir’aun” dengan perkataanya :” Membunuh Haman maksudnya Umar dan membinasakan Fir’aun[164] maksudnya Abu Bakar bisa juga sebaliknya yang jelas maksudnya adalah dua pendosa ini”.[165]

 

Abu Al Hasan Al Amili[166] mengutarakan hal senada. Al Kasyani menjulukinya ‘Dua berhala Quraisy’[167].

 

 

Adapun anggapan mereka tentang bangkitnya Al Qo’im kemudian menghidupkan Abu Bakar dan Umar  dan menyalibnya serta tuduhan bohong lain banyak terdapat dalam kitab-kitab mereka. Tak sedikit pun mereka menjaga diri dari berdusta atas  nama Allah Azza Wa Jalla yang berfirman :

 

Artinya ” Siapakah yang lebih zalim dari orang yang mengada-adakan kedustaan atas Allah ..”[168]

 

Dan terhadap Rasul Yang bersabda dalam hadits mutawatir :

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار[169]

 

Anda akan melihat mereka berdusta dengan mengatakan bahwa Allah mengkabarkan pada Nabinya peristiwa tersebut pada malam Isra’ :

 

Ash Shaduq menyandarkan pada Ja’far Ash Shadiq kisah tentang Isra’ dan Mi’raj, bahwa Nabi melihat cahaya Imam-imam yang dua belas yang ditengah mereka Muhammad bin Al Hasan Sang Pembangkit, lalu beliau bertanya pada Rabbnya,” Wahai Rabb siapakah mereka..?” Allah berfirman,” Para Imam dan ini adalah Sang Pembangkit yang menghalalkan apa yang aku halakan dan mengharamkan apa yang aku haramkan serta  membalas musuh-musuhku, dialah rahah para waliku. Dia penawar luka pengikutmu dari kejahatan orang-orang zalim, para penentang serta orang kafir. Mengeluarkan Lata dan Uzza lalu membakar keduanya, pada hari itu fitnah keduanya lebih dasyat dari fitnah Sapi dan Samiri.[170]

 

 

Maksud dari” Lata dan Uzza” menurut kaum Syi’ah adalah Abu Bakar dan Umar. Didukung dengan periwayatan salah satu Ulama Syi’ah Syaikh Ad Damadi Al Huseini katanya,” Perhatikanlah, hendaklah basirahmu tak tertutup demi melihat bahwa Lata dan Uzza adalah dua berhala Quraisy yang Amirul Mu’minin mendo’akan keduanya dalam do’anya dan keduanya dikubur di rumah Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam di area makam beliau tanpa seijin ahli baitnya yang suci yang senantiasa melaksanakan perintahNya”.[171]

 

Kaum Syi’ah mengatakan Ali telah mendengar hal itu dari  pengkhabaran Rasulullah kemudian beliau beritahukan pada Umar Radiyallahu ‘Anhu : Ibnu Rustum At Thabary mengisnadkan kepada Abi Tufail Amir bi Watsilah[172] bahwa dia berkata – dan tidaklah beliau mengatakan hal dusta ini- ,” Aku melihat Amirul Mukminin berjalan sendirian  di sudut kota madinah , lalu aku mengikuti beliau hingga sampai di rumah Ats Tsani,[173] lalu beliau meminta ijin dan dijinkan masuk, akupun ikut masuk. Setelah mengucapkan salam kepada Ats Tsani –Umar Radiyallahu ‘Anhu– yang pada waktu itu menjabat khalifah, beliau duduk seraya berkata,” Siapakah yang mengajarimu kebodohan ini hai orang yang tertipu?! Demi Allah jika saja engkau mengendarai Alqafra dan memakai Syir akan lebih baik bagimu dari pada duduk di sini….”sampai pada perkataan,” Demi Allah seakan aku meliahat diriku telah mengeluarkan dirimu dan sahabatmu –Abu Bakar- Toriyaini( kalau tidak salah dalam keadan buta)  untuk disalib di Al Baida’…hingga Umar berkata,” Wahai Abu Al Hasan sungguh aku mengetahui yang engkau katakan adalah kebenaran, dengan nama Allah aku bertanya padamu, apakah Rasulullah menyebut diriku dan Sahabatku ?”. Beliau berkata,” Demi Allah, Rasulullah menyebut dirimu dan sahabatmu…dst”.[174]

 

Kitab-kitab kaum Syi’ah sarat dengan riwayat yang secara dusta mereka nisbahkan kepada sejumlah Imam yang berisi tentang keyakinan mereka bahwa syaikhani akan dibangkitkan dari kubur dan di salib sebelum kiamat tiba serta diazab dengan azab yang sangat pedih……seperti riwayat dusta yang  dinisbahkan kepada Abu Ja’far Al Baqir : mereka menganggap beliau meriwayatkannya dari beberpa perawi Syi’ah semisal Abu Bashir[175], Al Mufdhil Bin Umar[176], Salam bin Al Mustanir[177], Abdul A’la Al Ahlaby[178] dan lainnya. Semua riwayat palsu yang mengada-ada ini berisi seputar kisah dibangkitkannya Syaikhani dari kuburnya Ghodhiyani thoriyani lalu disalib. Hari itu manusia terfitnah karena keduanya.

 

Riwayat dusta yang disandarkan pada Abi Abdullah Ash Shadiq mereka yakini juga diriwayatkan beberapa perawi Syi’ah lainnya seperti Abu Al Jarud[179], Al Mufdhil Bin Umar[180], Basyir An Nubal [181]serta Ishaq bin Amar dan lainnya. Demikian pula Abdul Adhim Bin Abdullah Al Hasani meriwayatkan kisah serupa dari Muhammad bin Ali Al Jawad yang terkenal dengan sebutan Abi Ja’far Ats Tsani.[182]

 

 

Dari Muhammad Bin Al Hasan Al  Askari – Dia adalah Al Qoim yang nantinya menyalib Syaikhani, pada dasarnya beliau bukan anak Al Hasan Al Askari karena ia mandul-, yang meriwayatkan darinya adalah Ali Bin  Abi Ibrahim Bin Mahziar. Riwayat ini berisi kisah panjang yang didalamnya mereka menyebutkan perkataan Muhammad Bin Al Hasan Al Mahdi Al Maz’um : Aku datang ke Yatsrib untuk menghancurkan Batu berikut dua orang didalamnya toriyani ghodiyani . lalu kuperintahkan keduanya menuju Baqi’ untuk disalib di dua batang kayu, keduanya tawarraqa , maka manusia saat itu terfitnah oleh keduanya dengan fitnah yang lebih dasyat dari fitnah pertama…dst.”[183]

 

Suatu keyakinan kotor yang menyelisihi Kitab, Sunnah dan Ijma’ kaum Muslimin ini di kalangan Syi’ah disebut dengan Roj’ah, mereka menganggap hari itu adalah hari dikumpulkannya jasad dan arwah atau serupa dengan Yaumul Hasr pada hari Kiamat. Roj’ah termasuk asas aqidah Syi’ah, mereka mendasarkan aqidah ini pada lebih dari seratus ayat dari Kitab yang mereka takwilkan tanpa dalil yang mendukung atau hujjah yang menguatkan. Bagi Syi’ah, orang yang tidak meyikini roj’ah maka ia tidak disebut Imam atau golongan mereka sama sekali. Oleh itu ,  Abu Bakar dan Umar RA bukanlah orang yang memiliki keimanan, tapi keduanya adalah fariq (sempalan) yang lain dengan dalil: Ijma’ kaum Syi’ah seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka bahwa keduanya akan dibangkitkan dan merasakan berbagai macam siksa di tangan Sang Pembangkit yang diutus untuk membalas dendam atas keduanya, menyalib, memukul mereka dengan cemeti dari neraka, membunuh keduanya seribu kali setiap hari dan menenggelamkan keduanya di laut seperti yang dilakukan Musa terhadap patung sapi lalu  membakarnya,  bahkan Ia juga membunuh orang-orang yang mencintai keduanya.

 

Orang yang membaca buku-buku do’a kaum Syi’ah akan mendapati buku-buku tersebut dipenuhi do’a-do’a kepada Sang Pembangkit agar mengeluarkan Syaikhani dan membalaskan dendam Ahli Bait Rasul SAW. Kebanyakan doa tersebut berbentuk sya’ir seperti :

            Wahai Hujjatullah,wahai makhluk terbaik

            wahai cahaya di kegelapan,

 wahai putra bintang kejora

            Aku berharap pada rabku

            tuk bisa melihat dua terlaknat

            dibangkitkan dari lahat

dengan mata telanjangku

            Seperti sabda Nabiku

            Tanpa keraguan ataupun syubhat

 Tuk disalib didua batang pohon

            Dan dibakar

            Saat itu….

            Hati manusia kan sembuh dari dendam

            Yang sekian lama mendekam

            Dan kesedihan berganti kegembiraan

 

 

            Menurut Syi’ah, masa penyaliban Abu Bakar dan Umar ini tidak hanya pada saat Raj’ah yaitu saat keduanya dibangkitkan di hari Kiamat saja melainkan keduanya di salib setiap tahun sesuai dengan riwayat dari As Sofar dan Al Mufid dengan sanad yang bersambung dengan para pendusta dari Isa Bin Abdillah Bin Abi Tohir Al Alwi meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya  Ia menceritakan Bahwa saat itu   Ia bersama Abu Ja’far Bin Ali Al Baqir di Mina untuk melempar Jumrah, lalu Abu Ja’far melemparkan beberapa batu, manakala tersisa lima batu beliau melemparkan tiga batu ke satu penjuru dan dua batu ke penjuru lainnya, maka kakekku bertanya,” Demi diriku menjadi tebusanmu, Sungguh engkau telah  melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan seorangpun. Aku melihatmu melemparkan beberapa jumrah, lalu engkau melempar lima sisanya, tiga ke satu penjuru dan dua ke yang lain?”. Beliau berkata,” Benar. Pada satiap musim dua orang fasiq yang telah merampas hak dibangkitkan, lalu keduanya dipisah di tempat ini. Tiada yang melihatnya selain Imam yang adil. Karena itu aku melempar yang pertama – Abu Bakar- dengan dua kerikil dan yang kedua – Umar- dengan tiga kerikil karena yang terakhir lebih buruk dari yang pertama”.

 

Beginilah, kaum Syi’ah seakan tak merasa berdosa setiap kali mehujamkan berbagai tuduhan kepada dua orang yang paling utama setelah para Nabi dan Rasul, Abu Bakr dan Umar. Dua wazir Nabi SAW yang telah diakui kedudukannya. Amirul Mukminin Ali bin  Talib pun telah bersaksi akan hal itu :

 

Dari Ibnu Abbas berkata,” Jasad Umar diletakkan diatas ranjang, maka manusia pun mengelilinginya  sebelum diangkat untuk dimakamkan,waktu itu tak satupun orang yang memperhatikanku, tiba-tiba seorang lelaki memegang pundakku yang ternyata beliau adalah Ali Bin Abi Talib, beliau mendoakan kerahmatan atas Umar dan berkata,” Sepeninggalmu tak seorang pun yang lebih aku sukai agar amalku serupa dengan  amalnya ketika berjumpa dengan Allah selain dirimu, demi Allah aku kira Allah akan mempertemukanmu dengan dua sahabatmu, aku telah banyak mendengar Nabi bersabda ,” Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar” aku yakin AllAh akan menempatkanmu bersama keduanya”.[184]

 

Aqidah Raj’ah yang diyakini kaum Syi’ah ini sangatlah bertentangan dengan nash-nash Kitab maupun sunnah :

 

Terdapat beberapa ayat yang dengan jelas membatilkan keyakinan ini :

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu ), sehingga datang kematian kepada seseorang dari mereka dia berkata,” Ya tuhanku kembalikanlah (aku kedunia)

agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak sesungguhnya itu hanyalah perkatan yang diucapkan saja . dan dihadapan mereka ada sampai mereka dibangkitkan .(Al Mukminun 99-100)

 

Tinggal di alam barzakh hingga kiamat tiba adalah hal yang telah disepakati. Dan ayat ini telah memutus angan-angan untuk kembali kedunia, entah itu supaya bisa beramal baik atau sebaliknya.

 

Rabb Tabaraka wata’ala telah menjelaskan akan mustahilnya seseorang kembali kedunia dikarenakan adanya barzakh yang tak seorangpun bisa menembusnya, suatu batas diantara maut dan dan kebangkitan juga dunia dan Akhirat.

 

Ada beberapa hadits yang yang secara sharih menafikan raj’ah sebelum hari Kebangkitan akan tetapi terlalu panjang untuk mencantumkannya.

 

Akan tetapi karena ayat Qur’an ataupun hadits tak sedikitpun memberi pengaruh bagi orang Syi’ah, akan saya kumpulkan aqwal beberapa orang yang mereka anggap sebagai Imam tentang batilnya aqidah raj’ah, agar tampak kedustaan yang mereka nisbahkan pada mereka:

 

1. Diantaranya: Amirul Mukminin Ali Bin Abi  Talib yang dalam beberapa riwayat mengkhabarkan akan mustahilnya seseorang kembali kedunia setelah mati. Seperti perkataan yang mereka  nisbahkan pada beliau dalam Kitab Syi’ah ” Tihajul Balaghah” :” Segeralah beramal, Dan takutlah akan ajal yang sekonyong-konyong. Karena kembalinya umur tak bisa diharapkan seperti kembalinya rizki”. Juga,” Diantara kalian dan surga tak ada sesuatu selain maut yang akan menjemput”,

 

 

 

Ref:

 

[94] Diriwayatkan oleh ash-Shafar dalam Bashairud Darajah Al kubra hal. 412. Al Mufid fie Al Ikhtshas hal. 312

[95] As Saqifah, Sulaim bin Qs

[96] Nufatu Al Lahut, Al Kurky, q 6/alif 774/ba’.

[97] Al Baladu Al Amin, Al Kaf/amy hal.511.Al Misbah.hal 511. Nafhatu Al Nufhatu Al Lahut, Al Kurky., AL Kurky. Q 74/ba’. Ilmu Al Yaqin, Al Kasyani2/701. Fashlul Khitab, An nury At Tabrisi hal.221-222.

[98] idem

[99] idem

[100] Dhiya’u Ash Shalihin hal.513.

[101] idem

[102] Adz Dzari’ah , Agha Bazrak At Tahrani 8/192.

[103] Lihat : [103] Al Baladu Al Amin, Al Kaf’amy hal.511.Al Misbah.hal 551. Nafhatu Al Nufhatu Al Lahut, Al Kurky., AL Kurky. Q 74/ba’. Ilmu Al Yaqin, Al Kasyani2/701. Fashlul Khitab, An nury At Tabrisi hal.221-222. [103] Adz Dzari’ah , Agha Bazrak At Tahrani 8/192.Amalul Amal, Al Hur Al Amili 2/32.

[104] Al Baladul Amien hal.511-514. Al Mishbahu Al Jannah Al Waqiyah hal. 548-557.

[105] Ilmu l Ayqin 2/701-703.[106] Fashlul Khitab hal.9-10.

[107] Miftahul Jinan hal.113-114.[108] Shahifah Alawiyah hal.200.202

[109] Tuhfatul Awam Maqbul 213-214.[110] Qaf 6/alif 74/ba’.

[111] Hal. 426.[112] Qaf 26/alif.

[113] 4/356.[114] Hal. 58. 133-134.

[115] Hal.113, 174, 226, 250, 290, 294, 313, 339.[116] 2/95

[117] 221-222[118] 1/219

[119] 1/219Al Mishbah, Al Kafamy ha’. Hal.552-554.[120] Bukunya yang berjudul  Nufhatu Al Lahut Fie la’ni Jibt w At taghut khusus ia karang untuk melaknat Abu Bakar dan Umar, dau sahabat mulia inilah yang dimaksud dengan Jibt dan At Taghut ia sebutkan dalam buku ini bahwa Ali bin Abi Thalib berkunut dalm shalat witir melaknat dua ‘berhala Quraisy’. Lalu ia berkata : Yang dimaksud Ali adalah Abu Bakar dan Umar, telah kami sebutkan perihal disunahkannya  berdo’a atas musuh-musuh Allah dalam sholat witir.Nufhatu Al Lahut, Al Kurky. Qof.74/ba’.

[121] Mir’atu Al Uqul 4/356.[122] Orang yang mengisyaratkan do’a untuk dua berhala Quraisy berkata,” Maksud dari dua berhala quraisy adalah dau orang yang dimakamkan bersama Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam .” Syir’atu At Tasmyah fie Zamani Al Ghaibah qaf 26/alif.

[123] Hal. 133-134.[124] 2/95. Diantara yang ia katakan ,” Dua berhala Quraisy adalah Abu Bakar dan Umar……keduanya merampas  kekhilafahan setelah Rasulullah…”

[125] hal.9-10. Ia mengatakan seperti yang dikatakan Al Ha’iry.[126] Qurratu Al Uyun , Al Kasyani hal.432-433.

[127] Muqadimah Al Burhan, Al Amily hal.133.[128] Mereka mengakhiri do’a ini dengan ,” kemudian katakanlah empat kali,”Ya Allah azablah mereka denganazab yang Ahli nereka sekalipun memohon selamat darinya….”

[129] Al I’tiqodat, Al Majlisi, Qaf 17.[130] Ilzamu An Nashib, Al Ha’iry.2/9.

[131] Istilah yang dipakai Syi’ah yang bermaksud salah satu dari dua Imam, Ja’far Ash Shadiq atau bapaknya Al Baqir.[132] Disebut Imam Zamannya.

[133] Artinya: sampai pada Imam Zaman itu.[134] Al Ushul min Al Kafi, Al Kulaini 2/389.

[135] Yang meriwyatkan As Shafar dan Al Kulaini dengan sanad keduanya. Basha’iru Ad Darjat Al Kubra, As Shafar hal.510-513.Ar Raudhah min Al Kafi, Al Kulaini hal. 347. Al Kharayij wa Al Jarayih, Ar Rawandi hal.127.Mukhtasar Basha’iru Ad Darajat. Hasan Al halyhal. 12.Kurratu Al uyun, Al Kasyani hal.433.Al Burhan Al Bahrani 1/48,4/216. Mir’atu Al uqul – Syarh Ar Raudhah-, Al Majlisi 4/347.Rajab Al Barsi ikut  meriwayatkan dan menambahkan Utsman bin Affan. Masyariqu Al Anwar.Rajab Al barsi hal.42.[136] Mir’atu Al uqul – Syarh Ar Raudhah-, Al Majlisi4/347

[137] Lihat : Waq’atu As Sifin, Nasr bin Muzahim hal.102.Al Akhbar At tiwal Ad Dainury hal.1965.Syarh Nahju Al balaghah Ibnu Abi Al Hadid 11/92.Ad Darajah Ar Rafi’ah, Asy Syairazi hal.424.[138] Al Haitsami berkata,” Diriwyatkan At Tabrani dan sanadnya hasan. Majma’u Az Zawa’id, Al Haitsami 11/22.

[139] An Nibz : Gelar, dalam Ash Shihah karangan Al Jauhary. Yang mereka maksud adalah menjuluki mereka dengan Ar Rafidhah ( Para pembangkang).[140] Fadha’ilu Ash Shahabah, Imam Ahmad 1/441.

[141] Kitab An Nahyu ‘An Sabbi Al Ahshab Wa Mawarada Fihim  minal Itsmi Wal Iqob. Qof.4/ba’-6/alif.[142] Minhaju As sunnah An Nabawiyah 1/11-12.

[143] Shahih Al bukhari, kitab Fadha’ilu Ashabi An Nabi bab. Hadatsana Al humaidi dan Muhamad Bin Abdullah…[144] Firaqu Asy Syi’ah, Naubakhty hal.44.

[145] Ibnu Taimiyah berkata dalam Minhaju As Sunnah 1/13-14 :”Abul Qasim Al Bakly menyebutkan riwayat ini dalam menyanggah ibnu Rawandi…………….[146] Dia adalah Al Ya’quby dalam tarikhnya 2/321.

[147] Tabaqat Ibnu Sa’ad 5/236.[148] Ar Raudhah min Al Kafi. Al Kulaini hal.101.

[149] Al Intiqodhot Asy Syi’iyah,Hasyim Al Husaini hal. 497.[150] Mir’atu Al Jinan, Al Ya’ifi hal.257.

[151] Al Ansab, Al Baladziri 3/241.[152] Mir’atu Al jinan, Al Ya’ifi hal.257. Muruju Adz Dzahb, Al Mas’udi 3/220.. Raudhatu Al Jannat, Khawanisary 1/324.

[153] Al Jaza’iri, Al Ha’iri, dan Syibr –dari Syi’ah- meletakan nama Abu Bakar dan Umar sebagai ganti dari ” dau orang dari jabarati Quraisy.dan menyandarkan perkataan ini pada As Shadiq saja. Al Anwar An nu’aniyah, Al Jaza’iri 2/89. Ilzamu An Nasib, Al ha’iri 2/366-273.Haq Al yaqin, Syibr 2/10,25,28.[154] Yang menukil darinya adalah Al Bahrani dalam Al Burhan 3/220.Lihat Al Iqadz minal Al  huj’ah, Al Hurry Al Amily. Hl 256-342.Al Anwar An Nu’maniyah , Al Jaza’iry 2/89.Ilzamu An Nasib, Al Ha’iry 1/81-82, 2/66-274-338. Haqqul yaqin, Syibr 2/10-25-28.

[155] As Shirat Al Mustaqim.[156] Mukhtasar Basha’iru Ad Darajah hal.191.

[157] As Syi’ah wa Ar Raj’ah  hal.139.[158] Al Burhan 3/220.

[159] An Anwar An Nu’maniyah 2/89.[160] Ar Raj’ah hal 191.

[161] Ilzamu An Nasib, Al Ha’iry 1/81-82, 2/66-274-338[162] Haqqul yaqin, Syibr 2/10-25-28.

[163] Perlu diketahui , mereka ini termasuk Syi’ah Mutaakhirin, setelah abad kesembilan Hijriyah sampai hari ini. Generasinya menukil dari para pendahulunya dan sepakat atas suatu kebohongan. Hal ini wajar karena  orang-orang tersebut menukil pendapat untuk menguatkan pendapat mereka. Sedangkan telah jelas bagimu wahai saudaraku, pecinta Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam bahwa membenci sahabat apalagi mencela mereka termasuk kaidah Syi’ah dan aqidah dasar  mereka maka janganlah engkau tertipu dengan kesepakatan mereka dalam menukil riwayat busuk ini yang kemudian mereka nisbahkan pada Imam-Imam mereka. Padahal mereka sama sekali suci dari apa yang mereka nisbahkan, karena Syi’ah adalah kaum pembohong dan dien mereka adalah kedustaan.[164] Ar Raudhah minal Kafi, Al Kulaini hal 277

[165] Mir’atu Al uqul –Syarh Ar Raudah, Al Majlisi 4/277.[166] Muqaddimah Al Burhan, A Amily hal.263-341

[167]. Qurratu Al uyun, Al Kasyani hal.432-433[168]. Terdapat dalam Surat Al An’am 21-93, Surat Hud ayat 18, Surat Al Ankabut ayat 68

[169]. Az zubaidi menyebutkan dalam Luqatu Al Lali’ Al mutanatsirah fie al hahadits Al mutawatirah hal261-282 bahwa sebanyak 99 sahabat meriwayatkan hadits ini, diantaranya Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Ditakhrij oleh Bukhari da Muslim dan lainnya[170]. Ikmalu AD Dien, Ash Shaduq hal.246.Lihat muqaddimah Al Burhan, Abi Hasan Al Amili hal 249

[171]. Syir’atu At Tasmiyah fie Zamani Al Ghaibah,Ad Damadi Al Husaini q 26/alif[172] Seorang Sahabat yang wafat pada tahun + 100 Hijriyah. Lihat Al Isti’ab Ibnu Abdil Bar 4/115-118. Al Ishabah, Ibnu Hajar 4/113.

[173]..Menurut  Al Ahsa’i, Umar diganti dengan Ats Tsani hal. 130-133. Yang mereka maksud adalah Amirul mukminin Umar RA karena beliau adalah khalifah kedua setelah Ash shidiq.

[174] Dala’ilu Al imamah, Ibnu Rusum At Tabary hal.257-258. Lihat huliyatu Al Abrar, Hasyim Al Bahrani 5/594-606.Ar raj’ah, Al Ahsa’i hal 130-133.. Lihat juga Kitab-kitab An Nasiriyah  Al hidayah Al Kubra, Al husein bin Hamdan Al Khadiby hal 162-164

[175] Su’du As Sa’ud, Ibnu Tawus 116. Lihat buku-buku Nushairiyah : Al Laftu Asy Syarif riwayatu Al Mufdhil bin Umar Al Ja’fi hal164. [176] Al Iqadh min Al Huj’ah, Al Hurr Al Amili hal.286-288. Muqadimah Al Burhan, Abi Al Hasan Al Amili hal.361. Ilzamu An Nashib, Al Ha’iri 1/81-82.

[177] Ikmalu Ad Dien, As Shaduq 626.[178] Tafsir Al Ayashi 2/57-58. Al Burhan, AL Bahrani 2/81-83.. Biharu Al Anwar, AL Majlisi 13/188-189.

[179] Dala’ilu AL Imamah, Ibnu Rustum Ath Thabari hal.242. Ar Raj’ah, Ahmad Al ihsa’I hal. 128-129.[180] Ikmalu Ad Dien, As Shaduq 392, Uyun Akhbar Ridha miliknya 1/58.Hulyatu Al Abrar, Hasyim Al Bahrani 2/652-676. Biharu Al Anwar, AL Majlisi 25/379,53/1-38, Haqqu Al Yaqin miliknya – farisi- 526. Al Anwar An Nu’maniyah, Al Jaza’iri 2/85. Muqaddimah Al Burhan, AL Amili hal. 360-362. Ar Raj’ah, Al Ihsa’I hal 182-200. Haqqu Al Yaqin 2/23. Ilzamu An Nashib, Al Ha’iri 2/262-337. Bayanu Ghaibah Hadhrata Imam Mau’ud, Muhammad Karala’I qaf 48/qaf55. Asy Syi’ah wa Ar Raj’ah, Thibsi hal. 139. Dawa’iru Al Ma’arif As Syi’iyah, Muhammad Hasan Al A’lami 1/350-351.

[181] Di sandarkan kepada beliau oleh AL Mufdhil bin Syadzan fie Kitab Ar Raj’ah seperti disebutkan Al Majlisi dalam Biharu Al Anwar 52/386.[182] Ikmalu Ad Dien, Ash shaduq, 361.I’lamu Al wara

[183] Mukhtasar Basha’iru Ad Darajah, Al Haly hal.172-177. Al Iqadz min Al Huj’ah, Al huri Al Amily hal.286.[184] Sahih Al Bukhari 5/77. Sahih Muslim 4/1859. masing-masing dalam kitab Fadhoilu As sahabah bab Fadhlu Umar Author: unknown

Dikutip dari: www.hakekat.com

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat

 dikutip dari:

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/10/24/aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat/

Akhir-akhir ini berkembang aliran sesat yang meresakan dikalangan umat Islam, aliran yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang cikal bakal pendirian di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Bogor ini sudah mulai merambah ke propinsi lain di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sesat karena bertentangan dengan ajaran Islam. Karena mempercayai Syahadat baru, mempercayai adanya Nabi/ Rasul baru sesudah Nabi Muhammad SAW, dan tidak mewajibkan pelaksanaan sholat, puasa dan haji. “Kenapa sesat, karena dia itu, pertama mempercayai adanya nabi sesudah nabi Muhammad SAW, padahal itu sudah jelas nabi terakhir yang kedua membuat syahadat baru, yang paling meresahakan sholat, puasa dan juga haji belum wajib dianggap masih periode Makkah, padahal Islam itu sudah sempurna,” jelas Ketua DPP MUI KH. Ma’ruf Amin dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Sehubungan dengan itu, MUI meminta pemerintah untuk melarang menyebaran paham tersebut, serta penegak hukum melakukan penegakan langsung misalnya dengan menangkap tokohnya. Sedangkan, untuk seluruh umat Islam hendaknya berhati-hati untuk mengikuti pengajian, sebab ajaran bukan hanya Al-Qiyadah Al-Islamiyah saja, karena saat ini masih ada aliran yang sedang juga berkembang di kampus-kampus.

“Kepada umat Islam supaya tidak mencari aliran yang aneh-aneh, yang umum sajalah, ormas-ormas yang sudah jelas ajarannya yang sudah baku. Tidak usahlah menjadi muslim yang aneh sebab ini bisa sesat dan menyimpang. Pemerintah diminta untuk menghentikan dan mencegah, jadi eksekusi ada pada pemerintah, “ujar Ma’ruf.

Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai aliran sesat tim yang dipimpinnya itu selama tiga bulan meneliti aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan pada bulan terakhir setelah menimbulkan di Sumatera Barat, Batam, Yogyakarta, dan Jakarta, penelitian diintesifkan dengan mengumpulkan dokumen asli dan mewawancarai tangan kanan Ahmad Moshaddeq.

“Al-Qiyadah didirikan sejak tahun 2000, sejak tahun 2000-2006, itu situasinya tidak ada masalah. Tapi ketika masuk tahun 23 Juli 2006, terjadi hal yang spektakuler, setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mendapat wahyu dari Allah dan diangkat menjadi rasul, dan para sahabatnya membenarkan itu, “ungkapnya.

Di tempat yang sama, Komisi Fatwa MUI Anwar Ibrahim menilai ajaran itu jelas menyimpang dari firman Allah dalam Al-Quran yang menyatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah dan juga nabi penutup, tidak ada nabi lain setelah itu.

Ia mengingatkan kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada, serta tidak main hakim sendiri kepada pengikut aliran sesat itu. (novel)

Al-Qiyadah Al-Islamiyah Anut Sistem Sel Terputus

eramuslim.com – Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang berpusat di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Cibungbulan, 20 KM dari Bogor ini, meski memiliki kesamaan dengan cara penyebaran Islam zaman Rasulullah SAw, tetapi struktur dalam struktur keorganisasiannya tidak saling mengenal.

“Rekrutmen sangat rapi dan rahasia, “ujar Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh dilapangan sistem rekruitmen dikuatkan oleh faktor financial, apabila bisa merekrut 40 orang, akan mendapatkan sumbangan kendaraan roda dua, dan jika berhasil merekrut 70 orang akan mendapatkan kendaraan roda empat,

“Jadi luar biasa sekali, kami tidak tahu dari mana sumber dana itu, tapi itu dengan cara seperti itu dakwah mereka menjadi sangat sistematis, dan optimal, “ujarnya.

Perpaduan Kristen dan Islam?

Lebih lanjut Utang mengatakan, aliran Al-Qiyadah ini selain merekrut orang Islam kalangan ekonomi menengah ke bawah yang masih awan dengan ajaran Islam, juga berisi para sarjana yang bertitel sarjana agama, namun sarjana agama belum pasti berasal dari sarjana Islam. Karena, ketika menyampaikan ajaran agama ada semacam sinkretisme, jadi dipadukan ajaran kristen dan Islam.

Sedangkan untuk profil sang pendiri Al-Qiyadah Al-Islamiyah, MUI belum mengetahui secara jelas, karena masih dirahasiakan dan perlu melakukan penelitian lanjutan. Tetapi berdasarkan keterangan yang didapat, tambanya, Ahmad Moshaddeq merupakan tipe orang sangat luwes, ramah, antusias dengan keluhan dan penderitaan orang. Sehingga, membuat orang cepat tertarik, cepat simpati.

“Dalam situasi psikologi seperti ini, masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi, sedang punya banyak masalah ketika didatangi orang seperti itu, cukup menyejukan mereka, sehingga mereka tertarik untuk masuk jadi pengikutnya, “imbuhnya.

Angka pasti jumlah pengikutnya belum bisa terlacak, tapi dalam laporan rapat akbar 2007, seluruh Indonesia yang masuk pada bulan Juni 1. 349 jiwa, sedangkan pada bulan Juli 1. 412 jiwa, jadi naik 5 persen. Pengikutnya tersebar di kota-kota besar, bahkan pengikut mereka di Batam adalah orang terkaya di Batam. (novel)

salafi.or.id -

Tafsir Al-Quran Gaya Rasul Baru

(Membongkar Kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah)

Penulis: Lajnah pembela sunnah, memerangi bid’ah, dan kesyirikan

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.

2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan Kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.

4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.

Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:


من قال في القرأن برأيه او بما لايعلم فليتبوأ مقعده من النار


“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.”
(Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.

Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Sebagai contoh, bagaimana mereka menafsirkan ayat:
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا


“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu’minuun :27)

Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu….. (lihat tafsir wa ta’wil hal.43).

Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.

Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”

Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.

Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:

A. Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.

Lihat:

1. Tafsir Al-Haqqah:16;21
2. Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma’arij hal 30.
3. Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

B. Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:

1. Ashabul A’raf adalah Assabiqunal awwalun.
2.Ashabul yamin adalah golongan anshar.
3. Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.

C. Penafsiran Malaikat yang memikul ‘Arsy pada surat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.

D. Penafsiran (man fis samaa’/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat ‘uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.

E. Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.

F. Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ….lihat hal. 42 dan 43.

G. Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16…dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.

H. Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A’raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal. 85.

I. Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85.

Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.

Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampuradukan antara Islam dengan Kristen,… dll.

alatsar.wordpress.com

Rusaknya Pemahaman Al-Qiyadah Al-Islamiyah

terhadap Kedudukan Hadits

Ingkarussunnah, apapun namanya senantiasa menolak hadits-hadits dengan berbagai macam kerancuan berpikir. Syubhat-syubhat yang basi mereka lontarkan ketengah-tengah ummat dengan harapan mereka akan meraih pengikut banyak.

Bagi orang yang mengamati perkembangan firqah-firqah dalam Islam, tentunya akan mendapati bahwa sebenarnya sudah dibantah oleh para ulama. Namun kebodohan atawa kejahilan para pengekor Al-Qiyadah Al-islamiyah (pengikar sunnah) ini membangkitkan kembali isu lama yang sebenarnya telah terpendam.

Namun, Subhanalloh, Alloh senantiasa menjaga agama ini dengan membangkitkan generasi yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai Dua pedoman hidup, yang siapa saja berpegang kepada keduanya maka tidak ada sesuatupun yang akan menyesatkan mereka selama-lamanya.

Pengekor Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan kejahilannya melontarkan syubhat-syubhat yang antara lain akan kita perhatikan pembahasannya berikut ini, semoga hal ini menjadi bahan masukan bagi kita untuk menolak segala syubhat-syubhat pengekor Ingkarussunnah. Insya Alloh.

Mereka berkata ;

Kitab al-Qur’anul Karim adalah sebuah kitab yang dipelihara dan dijamin keotentikannya oleh Allah Subhanahu waTa’ala, tidak demikian halnya dengan hadits-hadits. sebagaimana firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Kamilah yang memeliharanya. [al-Hijr 15:09]

Jawaban :

Ketahuilah bahwa jika Allah Ta’ala menjamin keotentikan alQur’an, hal ini bukan berarti sekedar memelihara dan menjaga huruf-hurufnya saja, tetapi meliputi semua yang berkaitan dengan Alqur’an, termasuk memelihara dan menjaga maksud, pengajaran serta qaidah pengamalannya. 3 hal yang terakhir inilah yang diwakili oleh As-Sunnah atau hadits Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.

Maka tidaklah mungkin Alloh hanya memelihara huruf-huruf Alqur’an saja sementara ajaran dan maksudnya dibiarkan saja menjadi mainan yang ditolak dan ditarik sesuka hati oleh ummat. Perlu difahami juga bahwa apabila Allah berjanji memelihara Alquran Alkarim, maka maksud pemeliharaan itu adalah dari dua sudut, yang pertama sudut material yaitu sebutan, lafaz dan susunan ayat-ayat Alquran dan yang kedua adalah dari sudut non material, yakni maksud ayat, pengajaran dan qaidah pengamalan ayat. Hadits dan sunnah Nabi sentiasa dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan adanya para ahli hadits di setiap generasi yang sentiasa mempelajari, menganalisa dan mengkaji kedudukan isnad sebuah hadits untuk kemudian dibedakan antara yang benar dan yang palsu.

Maka, kejahilan para Ingkarussunnah dengan apapun sebutan kelompoknya telah nyata-nyata diketahui banyak orang dari dahulu hingga sekarang. Karenanya Sungguh benar Firman Alloh Ta’ala, “Telah datang Kebenaran maka lenyaplah kebatilan”.

Namun, tentunya selama syeitan belum pensiun akan tetap ada orang-orang yang menebarkan syubhat, racun-racun yang dihembuskan kedalam pikiran ummat islam ini sehingga dengan perlahan-lahan akan keluar dari Agama Islam yang mulia ini.

Kita mohon kepada Alloh agar ditetapkan kaki kita diatas jalan yang benar, yakni jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat atas mereka, jalan generasi salafus sholih.

alatsar.wordpress.com

Kejahilan Al-Qiyadah Terhadap Tafsir

Sudah menjadi ciri pengikut aliran sesat bahwa mereka menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membela alirannya dan pemahamannya, padahal Ayat tersebut jauh dari apa yang mereka fahami, bahkan mereka tidak mengerti Asbabunnuzul nya, serta tafsir ayat yang mereka bawakan.

Ingkarussunnah, demikian pemahaman aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Kebodohan yang menyelimuti kepala mereka telah menyebabkan mereka tidak menyadari bahwa tidak ada hujjah sedikitpun yang dapat mereka gunakan dihadapan Ahlussunah waljamaah, Apalagi dihadapan Alloh Subhanahu wata’ala. Berikut ini mari kita menyimak pembahasan tentang kelemahan serta kejahilan hujjah pengikut atau bahkan pentolan dari Aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Hujah Aneh seorang pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa umat Islam telah membelakangi al-Qur’an dan hanya mengutamakan hadits saja. Sebagaimana disebutkan dalam AlQuran:

Dan berkatalah Rasululloh: “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini satu perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai”. [al-Furqan 25:30]

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Jawaban:

Syubhat ini mudah dijawab apabila kita perhatikan benar-benar kepada siapakah pengaduan Rasulullah tersebut ditujukan. Perhatikan bahwa istilah yang digunakan dalam surah al-Furqan di atas adalah “kaumku” dan bukannya “umatku”. Perkataan kaum lazimnya merujuk kepada satu bangsa, suku atau kabilah, Namun jika dikatakan “umat” maka lazimnya merujuk kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan. Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kaumnya dalam ayat di atas adalah mirip kepada seruan beberapa Rasul dan Nabi sebelum baginda terhadap kaum mereka masing-masing sebagaimana yang telah diungkap oleh al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ

Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan sebab kamu menyembah patung anak lembu itu.” [al-Baqarah 2:54]

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارا

Nabi Nuh berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (supaya mereka beriman).” [Nuh 71:05]

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ

Dan kepada kaum Aad, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Hud ia berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah !” [Hud 11:50]

Nukilan 3 ayat di atas jelas menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul menggunakan panggilan kaumku untuk memaksudkan kepada kaum atau masyarakat yang hidup bersama mereka (Nabi atau Rosul ‘alaihimussalam). Akan tetapi istilah “kaumku” akan berubah kepada “umatku” atau umat saja apabila yang ditujukan adalah sekumpulan manusia yang mengikuti jalan atau pimpinan seseorang Rasul, baik yang hidup sejaman dengan Rasul tersebut ataupun sesudahnya. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ فَإِذَا جَاء رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُون

Dan bagi tiap-tiap satu umat ada seorang Rasul (yang diutuskan kepadanya). [Yunus 10:47]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut.” [an-Nahl 16:36]

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ

Demikianlah, Kami utuskan engkau (wahai Muhammad) kepada satu umat yang telah berlalu sebelumnya beberapa umat yang lain. [ar-Ra’d 13:30]

Perbandingan antara ayat-ayat di atas jelas menunjukkan kepada kita perbedaan antara istilah kaum dan umat. Diulangi bahwa perkataan kaum itu biasanya ditujukan kepada satu bangsa, suku atau kabilah, dan perkataan umat biasanya ditujukan kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan.

Maka Penggunaan Kata kaum, juga berbeda dengan penggunaan kata Umat. Simaklah hadits berikut ini ;

Dari Ibnu Abbas (radiallahu-anhu), beliau berkata, telah bersabda Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam tentang Kota Mekah: “Alangkah baiknya engkau (Mekkah) sebagai satu negeri dan alangkah aku sukai, seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Mekkah), niscaya aku tidak tinggal ditempat selainmu (Mekkah).” [Mu’jam al-Kabir) dan al-Hakim, dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arnuth dalam Sahih Ibnu Hibban – no: 3709 (Kitab al-Hajj, Bab Keutamaan Makkah)]

Namun jika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menyampaikan urusan orang-orang Islam seluruhnya hingga akhir zaman, beliau akan menyebut dengan “umatku” sebagaimana terukir dalam hadits berikut:

Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghisab segala pembicaraan hati umatku selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya.[HR Bukhari, Muslim]

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya yang baik atau akhirnya. [Imam Suyuthi, Jamii-us-Sagheir – hadits no: 8161]

Oleh karenanya pengaduan Rasululloh sallallahu ’alaihi wasallam terhadap “kaumku” dalam ayat diatas sebenarnya merujuk kepada bangsa atau sukunya sendiri pada saat itu, yakni bangsa Quraish.[ al-Zamakhsyari – Tafsir al-Kasysyaf, jld 3, hal 282] Ayat ini tidak ditujukan kepada kita umat Islam karena kita tetap merujuk kepada al-Qur’an serta merujuk kepada Hadits.

Kesimpulan ;

Alangkah Jahilnya orang-orang Al-Qiyadah Al-Islamiyah jika menggunakan ayat tersebut untuk menolak Hadits-hadits Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Mereka tidak mengerti tafsir, tidak juga ilmu hadits.

abasalma.wordpress.com 

 

Permurtadan Dibalik

Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Oleh : Abu Salma Mohammad Fachrurozi

Al-hamdulillah pada Ahad, 29 Juli 2007 saya dapat menghadiri tablig akbar di Masjid Kampus UGM Jogjakarta, dengan tema Pemurtadan Dibalik Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Asy-Syariah ini menghadirkan pemateri Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh di samping itu dihadirkan pula saksi-saksi yang menjelaskan keberadaan kelompok / aliran sesat menyesatkan yang menganggap pemimpinnya adalah Rasul Baru yang bernama Al-Masih Al-Maulud.

Sekilas Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Kelompok ini aliran baru yang muncul di Jakarta dan mulai perengahan 2006 tercium menyebarkan keyakinannya di kota gudeg Jogjakarta dengan obyek dakwah utama adalah para mahasiswa yang secara umum mereka adalah intelektual dalam dunia ilmu pengetahuan, biasa menggunakan akalnya dalam mengambil simpulan-simpulan.

Dari penjelasan para saksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiyah memiliki ajaran-ajaran yag jauh menyimpang dari pokok-pokok Ajaran Islam, antara lain :

  1. Mereka menghilangkan Rukun Islam yang telah dipegangi oleh seluruh Kaum Muslimin dan jelas-jelas bersumber dari hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits yang diterima oleh seluruh kaum uslimin dari kalangan ahlussunnah (Suni)
  2. Mereka menganggap bahwa pimpinannya adalah Rasulullah yaitu bernama Al-Masih Al Maulud (Al Masih yang dijanjikan /dilahirkan)
  3. Menghilangkan syariat sholat lima waktu dalam sehari semalam, dengan diganti sholat lail, mereka mengatakan bahwa dalam dunia yang kotor (belum menggunakan syariat Islam-penulis) seperti ini tidak layak kaum muslimin melakukan sholat lima waktu.
  4. Menganggap orang yang tidak masuk kepada kelompoknya dan mengakui bahwa pemimpin mereka adalah Rasul adalah orang musyrik. Hal ini sesuai yang di ungkapkan oleh seorang saksi yang anak kandungnya sampai saat ini setia dan mengikuti kajian-kajian kelompok ini. Anak kesayangannya tersebut tidak mau pulang ke rumah bersama kedua orang tua karena menganggap kedua orangtuanya musyrikin.
  5. Dalam dakwah, mereka menerapkan istilah sittati aiyyam (enam hari) yang mereka terjemahkan menjadi enam tahapan, yaitu :
    1. Sirron (Diam-diam / Sembunyi-sembunyi / Bergerilya – penulis)
    2. Jahron (Terang-terangan)
    3. Hijrah
    4. Qital
    5. Futuh (Meniru NAbi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, membuka Mekah – Penulis)
    6. Khilafah

Tampak dari enam tahapan ini mereka mencoba mengaplikasikan tahapan dakwah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dalam berdakwah di jazirah Arab dahulu.

Bantahan terhadap kelompok ini.

Salah satu kelebihan Ahlussunnah dan para pengusungnya adalah kepedulian mereka terhadap penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam yang lurus, mereka selalu tapil di garda depan menjelaskan kekeliruan-kekeliruan faham yang tersebar di kalangan kaum muslimin. Al hamdulillah dalam kesibukan yang menyita Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh menyempatkan diri hadir ke Jogja untuk menjelaskan syubhat-syubhat murahan yang berusaha ditebarkan oleh Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Dengan mengutip Ayat-ayat ayat alqur’an dan penjelasan para Ahli Tafsir dengan sabar Al Ustadz membantah satu persatu keyakinan mereka, tidak lupa Beliau membacakan hadits-hadits Nabi yang menjelaskan dan membantah keyakinan mereka. (Maaf karena sempitnya waktu kami tidak uraiakan penjelasan-penjelasan Ustadz Luqman pada kesempatan ini, semoga lain kali ada kesempatan bagi kami atau ikhwah lain yang lebih mumpuni dari saya ambil bagian ini)

Sungguh bagi kita atau siapa saja yang telah merasakan nikmatnya belajar Islam dengan pemahaman Salafush shalih sedikitpun syubhat mereka dengan Ijin Allah tidak akan membingungkan dan merubah keyakinan akidah kita.

Tidak seperti mereka syubhat murahan seperti itu mampu menggoyahkan Iman dan Islam mereka sehingga dengan tegas dan gagah berani meninggalkan orangtuanya dengan menganggap orangtuanya adalah kafir / Musyrik.

Pada kesempatan akhir pembicaraan al Ustadz Luqman menghimbau kepada Sseluruh kaum muslimin dan seluruh lembaga-lembaga terkait untuk mengantisipasi dakwah mereka, karena dakwah mereka akan menjurus kepada ancaman pembunuhan / memerangi terhadap seluruh kaum muslimin yang tidak mengakui ajaran mereka. Hal semacam ini tentunya akan mengancam ketentraman Kaum Muslimin dan mengancam Stabilitas Nasional.

Dijelaskan pula bahwa aliran ini berusaha menyatukan ajaran trinitas yang ada pada agama Nasrani, jadi ditengarahi bahwa aliran ini adalah pemurtadan atas nama Islam.Hal ini ditunjukkan oleh nama-nama mereka setelah masuk kelompok ini berubah semisal Emmanuel Fadhil atau semisalnya.

Mereka juga mengajarkan bahwa Tuhan Bapak adalah Rab, Yesus adalah Al Malik, Ruhul quddus adalah Ilah. Sungguh ini bukan ajaran Islam.

Semoga Allah mudahkan acara seperti ini di kota-kota lain seagaimana yang diucapkan oleh al Ustadz Luqman.

Pelajaran Yang dapat diambil.

Bagi saya sendiri dengan petunjuk dari Allah melalui pengalaman perjalanan keagamaan saya, alhamdulillah saya sedikit dapat mencium model gerakan ini. Model gerakan ini Insya Allah bersumber dari pemikiran wajibnya tegaknya Khilafah / Syariat Islam. Mereka menganggap bahwa tujuan hidup ini adalah menjadikan syariat Islam / Hukum-hukum Islam harus tegak dimuka bumi, harus menggantikan hukum-hukum kafir yang sekarang sedang mendominasi di tubuh kaum muslimin. Dalam perkara ini Al-Qiyadah sebenarnya tidak berbeda dengan gerakan Islam yang lain seperti LDII, Jamaah Muslimin (Hizbullah), NII, Ikhwanul Muslimin, Hizbu Tahrir dll. Hanya saja kelompok-kelompok yang saya sebutkan dengan hidayah Allah mereka masih menggunakan Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sehingga mereka masih melakukan peribadatan selayaknya kaum muslimin. Namun dalam tujuan pokok gerakan mereka adalah sama yaitu menegakkan khilafah dan syariat Islam dan mengajak seluruh kaum muslimin masuk kepada kelompoknya. Siapa yang masuk adalah Ikhwannya adapun kaum muslimin yang belum / tidak mau bukan bagian dari kelompoknya. Inilah Hizbiyyah, semoga Allah selamatkan kita dari hal semacam ini.

Yang paling mirip dengan mereka adalah aliran Isa Bugis, kesamaan pada kedua aliran ini adalah sama-sama menafsirkan al-qur’an dengan akalnya pemimpinnya belaka dan meninggalkan Hadits-hadits rasulullah, sehingga mereka meninggalkan syariat-syariat Islam yang mulia sebagaimana rukun Islam.

Akhirnya saya mengatakan, bahwa bertujuan memwujudkan khilafah, menjalankan syariat Islam adalah tujuan mulia, namun tujuan mulia, niat ikhlas tidaklah cukup. Harus terus ditanamkan pada masing-masing diri kita bahwa kita ini bodoh, butuh bimbingan dari Rasulullah dalam memahami al-Qur’an, butuh penjelasan para ulama ahlussunnah dalam memahami hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Maka marilah terus kita belajar Islam, belajar Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafush sholih agar kita tidak terjebak memahami al-Qur’an dengan nafsu dan ro’yu kita yang bodoh. Wallahu ta’ala a’lam.

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/10/24/aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat/

Penyimpangan Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah” Dan Khomeini

Penyimpangan Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah”

Aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsa-’Asyariyyah” membawa beberapa penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut jelas disebutkan dalam referensi-referensi yang mereka miliki. Dalam artikel ini akan disebutkan beberapa penyimpangan aliran Syi’ah “Imamiyah Al-Itsna-’Asyariyyah” (inhirafu manhaj “Imamiyyah Itsna Asyariyyah”) berdasarkan referensi mereka sendiri.

A. Fatwa-fatwa Sesat dari Khomeini Tentang Aqidah dalam kitabnya Kasyful-Asrar[1]:

1. Meminta Sesuatu Kepada Orang yang Telah Mati Tidak Termasuk Syirik.

“Ada yang berkata, bahwa meminta sesuatu pada orang yang telah mati baik itu Rasul maupun Imam adalah syirik, karena mereka tidak bisa memberi manfaat dan madharrat pada orang yang masih hidup. Maka saya (Khomeini) katakan: Tidak, hal tersebut tidak termasuk syirk, bahkan meminta sesuatu pada batu atau pohon juga tidak termasuk syirik, walaupun perbuatan tersebut adalah perbuatan orang yang bodoh. Maka jika yang demikian itu bukanlah syirik apalagi meminta pada Rasul dan Imam-imam yang telah wafat, karena telah jelas dalam dalil maupun akal bahwa ruh yang telah mati malah memiliki kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat dan ilmu filsafat pun telah membenarkan dan membahas hal tersebut secara panjang lebar.” (hal. 49)

2. Tuduhan Penyimpangan Abubakar dan Umar terhadap al-Qur’an.

“Disini saya katakan dengan tegas bahwa Abubakar dan Umar menyelisihi al-Qur’an dan mempermainkan Tuhan dan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal menurut hawa nafsu mereka dan bagaimana mereka berdua juga telah berbuat kezhaliman dengan melawan Fathimah putri nabi SAW dan oleh karenanya mereka berdua menjadi bodoh terhadap hukum ALLAH dan hukum agama.” (hal. 126)

“Kita juga melihat ketika ia (Umar ra) yang buta mata hatinya itu mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kekafiran dan ke-zindiq-annya, yaitu penolakannya pada al-Qur’an surat an-Najm, ayat-3.” (hal. 137)

3. Dalil-Dalil Tentang Disyariatkannya Taqiyyah (Boleh Berdusta kepada selain orang Syi’ah):

“Dan kami tidak mengerti bagaimana mereka (ahlus-sunnah) menjauhi hikmah dan menyimpang karena hawa nafsu mereka, bagaimana tidak? Sedangkan TAQIYYAH adalah hukum akal yang paling jelas. Dan TAQIYYAH maknanya: Seorang manusia berkata dengan perkataan yang berbeda dengan kenyataannya atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat karena menjaga darahnya, kehormatannya atau hartanya.” (hal. 148) “Maka termasuk bab taqiyyah jika kadangkala diperintahkan menyelisihi hukum-hukum ALLAH, sampai dibolehkan seorang pengikut Syi’ah berbeda dengan apa yang dihatinya untuk menyesatkan selain mereka (Syi’ah) dan agar mereka itu (selain Syi’ah) terjatuh dalam kebinasaan.” (hal. 148)

4. Mengapa Imamah (Aqidah tentang Imam yang Dua Belas -pen) Tidak Disebutkan dalam Al-Qur’an?

“Setelah aku jelaskan bahwa Keyakinan akan 12 Imam adalah ushuluddin (dasar aqidah Islam), dan bahwa al-Qur’an telah mengisyaratkan tentang hal tersebut secara tersirat. Dan aku jelaskan bahwa nabi SAW sengaja menyembunyikan ayat-ayat tentang Imamah dalam al-Qur’an karena takut al-Qur’an tersebut diselewengkan setelahnya, atau karena beliau SAW takut terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin sehingga akan berdampak yang demikian itu terhadap aqidah Islam.” (hal. 149)

5. Khulafa Rasyidun adalah Ahlul Bathil

“Dan telah kukatakan beberapa potongan dari kitab Nahjul-Balaghah[2] yang menetapkan bahwa Ali ra berpandangan bahwa para Khulafa selainnya adalah bathil.” (hal. 186)

6. Penetapan Ratapan atas Husein dan Menjambak Rambut serta Merobek-robek Baju baginya setiap tahun (saat memperingati peristiwa Karbala -pen) sebagai Bagian dari ajaran Agama.

“Tidak ada dalam majlis tersebut kekurangan, karena semua itu adalah pelaksanaan perintah agama dan akhlaqiyyahnya dan tersebarnya fadhilah dan akhlaq yang paling tinggi serta aturan dari sisi ALLAH serta hukum yang lurus yang merupakan pencerminan dari madzhab Syi’ah yang suci yang ittiba’ pada Ali alaihis salam.” (hal. 192)

7. Wilayatul Faqih (Penetapan Kepemimpinan para Ulama Besar Syi’ah sampai saat Bangkitnya Kembali Imam ke-12 Syi’ah -pen)

“Syaikh ash-Shaduq dalam kitab Ikmalud-Din, dan syaikh ath-Thusiy dalam kitab al-Ghaybah, dan at-Thabrasiy dalam kitab al-Ihtijaj menukil dari Imam yang Ghaib (Imam ke-12 Syi’ah yang sekarang sedang menghilang -pen), sbb: Adapun hadits-hadits yang jelas maka hendaklah merujuk pada para periwayat hadits-hadits kami (syi’ah -pen), karena mereka semua adalah hujjahku atas kalian dan aku adalah hujjah ALLAH! Lalu kata Khomeini selanjutnya: Maka wajib atas manusia pada masa ghaibnya Imam (ke-12 tersebut -pen) untuk merujuk semua urusan mereka pada para periwayat hadits (syi’ah) dan taat pada mereka karena Imam telah menjadikan mereka itu hujjahnya.” (hal. 206) “Maka jelaslah dari hadits tersebut bahwa para Mujtahid adalah hakim dan barangsiapa yang menolak maka sama dengan menolak Imam dan barangsiapa menolak Imam maka berarti menolak ALLAH dan menolak ALLAH berarti syirik kepada-NYA.” (hal. 207)

B. Ushul Fiqh Menurut Syi’ah[3]:

1. Bahwa Dalil Sunnah (menurut Syi’ah -pen) adalah Hadits Nabi SAW dan Hadits dari Imam Syi’ah Yang 12 Orang

Dalil Sunnah (menurut Syi’ah -pen) definisinya = Perkataan (qawlan) dari AL-MA’SHUM, perbuatan (fi’li) dan persetujuannya (taqrir). Definisi AL-MA’SHUM (menurut Syi’ah -pen): Semua yang ditetapkan kema’shumannya dengan dalil, yaitu nabi SAW dan 12 orang Imam ahlul-bait. (hal. 22)

Adapun kehujjahan as-sunnah yang bersumber dari ahlul-bait baik perkataan mereka, perbuatan mereka maupun persetujuan mereka maka dikembalikan keimaman mereka, kema’shuman mereka dan kebenaran mereka SAMA DENGAN KEDUDUKAN nabi SAW. (hal. 23)

2. Dirasah Sanad Hadits Menurut Syi’ah:

a. Pembagian Hadits dikelompokkan dari sisi banyak sanadnya dan hubungannya dengan para ma’shum/al-ma’shumiin (yaitu nabi SAW dan 12 Imam Syi’ah -pen) (hal. 26):

i. Hadits yang Terpaut Hati dengan Para Ma’shum (yang dibagi lagi menjadi mutawatir dan muqtarin)

ii. Hadits yang Tidak Terpaut Hati dengan Para Ma’shum (yaitu hadits ahad)

b. Pembagian Hadits dari sisi penerimaannya (mu’tabar) (hal. 29-30):

i. Hadits Shahih (menurut Syi’ah -pen): Yaitu hadits yang seluruh periwayatnya adil dan sesuai dengan aqidah Syi’ah 12 Imam.

ii. Hadits Mawtsiq: Yaitu yang seluruh periwayatnya tsiqah dari muslimin secara umum (ahlus-sunnah -pen), atau sebagiannya dari tsiqat muslimin dan sebagian lagi dari perawi yang adil dari Syi’ah 12 Imam.

iii. Hadits Hasan: Yaitu yang kumpulan perawinya orang yang kurang kuat dari ulama hadits, atau dari percampuran antara yang adil yang tsiqat dan yang kurang kuat, atau dari percampuran antara yang adil dengan yang kurang kuat, atau yang tsiqat dengan yang kurang kuat.

3. Ijma’ Menurut Syi’ah (hal 76):

a. Yaitu kesepakatan jama’ah ulama yang salah seorangnya adalah Imam yang ma’shum (salah seorang dari 12 Imam Syi’ah -pen).

b. Maksudnya adalah tegaknya ijma’ yaitu jika para ulama tersebut mampu menyingkap makna salah satu pernyataan Imam yang ma’shum dalam suatu masalah.

c. Pembagian Ijma’ (hal. 77):

i. Ijma’ Muhshal: Yaitu semua ijma’ yang dihasilkan oleh wilayatul faqih dari dirinya dan sesuai dengan perkataan para mufti.

ii. Ijma’ Manqul: Yaitu semua ijma’ yang tidak dihasilkan oleh wilayatul faqih dari dirinya tetapi hanyalah dinukil darinya oleh para fuqaha yang lain.

___

Catatan Kaki:

[1] Kasyful Asrar, oleh: AyatuLLAH RuhuLLAH Khomeini. Alih-bahasa (dr bhs Parsi): DR Muhammad al-Bandari, Ta’liq hadits: Salim bin ‘Ied al-Hilali, Kata Pengantar: DR Ahmad al-Khatib, Kritik: Nashiruddin al-Albani. Th 1408 H/1987 M. Penerbit: Daar al-’Imaar Lin-Nasyr wat-Tauzi’, Amman-Urdun.

[2] Kitab tersebut adalah kitab palsu yang mengatasnamakan Ali ra (lih. Al-Mizan, oleh Imam Adz-Dzahabi III/124, juga Al-Lisan oleh Imam Ibnu Hajar, IV/223)

[3] Mabadi’ Ushulul Fiqh (Muwajjiz Wafin Li Ahammi Mawdhu’at Ushulul Fiqh: Ta’rifat, Mushthalahat, Adillatisy Syari’ al-Islamiy). Oleh: DR Abdul Hadi al-Fadhli. Penerbit: Mathabi’ Dar wa Maktabah al-Hilal. Th 1986. Bairut-Lubnan.

URL:

http://www.al-ikhwan.net/index.php/aqidah-daiyah/2007/penyimpangan-aliran-syiah-imamiyah-al-itsna-asyariyyah/

Kebebasan Berekspresi: Serangan Budaya

Kebebasan Berekspresi: Serangan Budaya


Jika kita cermati, fenomena kebebasan berekspresi, yang antara lain dipropagandakan lewat film-film seperti Virgin, Buruan Cium Gue, Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel… I’m in Love, Asyiknya Pacaran, dan yang sejenisnya sebetulnya tidak lebih merupakan serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim. Memang, dalam konteks film-film tersebut, Barat bukanlah pelakunya secara langsung, tetapi sebagai “inspirator”. Sebab, kebebasan berekspresi, yang antara lain dipropaganda lewat film-film itu, tidak lain merupakan buah dari demokrasi, sedangkan demokrasi sendiri bersumber dari ideologi sekularisme yang dianut sekaligus dipropagandakan masyarakat Barat. Hanya saja, Barat lalu memanfaatkan agen-agen mereka dari kalangan Islam, baik yang sadar ataupun yang tidak sadar, untuk melancarkan serangannya itu.

Serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim saat ini antara lain berwujud kebebasan seksual (free sex), pergaulan bebas, pamer aurat di depan umum, hedonisme, permissivisme, dan segudang budaya sesat lainnya. Semua itu antara lain diprogandakan lewat film-film di layar lebar maupun di layar kaca (tv).

Serangan budaya Barat ini, disadari atau tidak, bertujuan untuk menghancurkan—secara sistematis—kepribadian kaum Muslim. Mula-mula, hukum-hukum Islam yang terkait dengan kehormatan kaum Muslim disimpangkan. Misal, jilbab dianggap budaya Arab, bukan tuntutan syariat. Lalu Muslimah yang berkerudung dan berjilbab dianggap kuno dan kolot. Setelah itu, kebebasan berbusana yang memamerkan aurat dianggap modern dan maju. Selanjutnya digulirkanlah ide kebebasan berekspresi. Seks bebas dan pergaulan bebas adalah salah satu hasilnya.

Walhasil, serangan budaya Barat pada awalnya sebatas ide, tetapi pada tahap selanjutnya sudah dalam bentuk aksi, baik secara pasif maupun aktif. Secara pasif, misalnya, melalui penyebaran buku-buku, majalah-majalah, dan film-film porno maupun yang “setengah” porno. Singkatnya, masyarakat secara vulgar diberikan pemandangan dan tuntunan yang merusak.

Sedangkan secara aktif, kita menyaksikan banyak public figure secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk berbuat dosa. Mereka berpakaian dan berperilaku tidak islami bukan hanya di sinetron atau di film, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat kita tidak hanya disuguhi pornografi, tetapi juga pornoaksi; bukan hanya di panggung-panggung hiburan, tetapi juga di mal-mal, di pasar-pasar, bahkan di kampus-kampus.

Jika kondisi ini dibiarkan secara terus-menerus maka bisa dipastikan akan terjadi kerusakan iman, kebejatan moral, dan meningkatnya tindakan kriminalitas di kalangan kaum Muslim. Kita bisa menyaksikan betapa banyak seorang bapak memperkosa anaknya, seorang anak memperkosa ibunya, maraknya aborsi akibat hamil di luar nikah, suburnya perselingkuhan, dan fenomena menyimpang lainnya. Semua itu disebabkan masyarakat disuguhi pornografi dan pornoaksi secara terus-menerus, yang mengakibatkan mereka lepas kendali. Sungguh, ini adalah tragedi kemanusiaan yang luar biasa, yang tidak hanya menimpa kaum Muslim saja, tetapi juga seluruh umat manusia.

Mengapa semua ini terjadi? Minimal ada tiga unsur yang mempengaruhi fenomena di atas. Pertama, dari sisi pelaku. Baik artis, sutradara, maupun para pelaku film lainnya telah termasuki paham sesat Barat berupa kebebasan berekspresi yang bersumber dari demokrasi. Mereka beranggapan, apa yang telah mereka lakukan tidak melanggar HAM, karena tidak ada yang dirugikan secara material. Mereka juga beranggapan, bahwa semua itu adalah seni.

Selain itu adalah alasan ekonomi (bisnis). Mereka melakukan semua itu demi uang, tanpa peduli apakah yang dilakukannya itu halal ataukah haram; apakah berakibat baik atau buruk bagi masyarakat.

Selain itu, mereka juga beralasan bahwa mereka sekadar memotret realitas sosial yang ada di masyarakat.

Free sex, pergaulan bebas, dan budaya hewani lainnya menurut mereka—diakui ataupun tidak—adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Padahal sebenarnya, meski fenomena itu ada, itu bukanlah gejala umum di masyarakat. Itu semua adalah penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di lapisan tertentu masyarakat saja. Artinya, semua itu adalah realitas yang jauh dari masyarakat; ia hanyalah penyakit sosial.

Sayangnya, penyakit sosial itulah yang justru ingin disebarkan oleh mereka melalui pornografi dan pornoaksi kepada kaum Muslim.

Kedua, diamnya masyarakat. Para penggagas ide kebebasan berekspresi dan berperilaku biasanya berlindung di balik jargon demokrasi. Ketika mereka menyuguhkan pornografi atau pornoaksi, mereka cukup berkata, “Biarlah masyarakat yang menilai, karena masyarakat sekarang sudah dewasa. “Celakanya, meski sebagian besar masyarakat tidak setuju terhadap fenomena di atas, mereka diam.

Jangankan melakukan aksi menentang keberadaan fenomena di atas, sekadar berkomentar dengan nada sinis saja tidak bisa. Sikap diam masyarakat ini akhirnya dijadikan pembenaran oleh penggagas ide sesat di atas sebagai ’tanda setuju’ terhadap apa yang mereka lakukan, karena tidak ada protes apalagi pemboikotan.

Ketiga, dukungan pemerintah. Pemerintah, secara sadar atau tidak, justru menjadi pendorong utama bagi tumbuh-suburnya penyimpangan sosial di atas. Betapa tidak? Pemerintah telah mengadopsi demokrasi dan HAM sebagai mainstream (arus utama) dalam menata negeri ini. Sebagaimana kita ketahui, yang menjadi alasan utama para penggagas dan pelaku penyimpangan sosial di atas adalah demokrasi dan HAM. Dari sinilah kita bisa mengerti mengapa pemerintah tidak bisa melarang bahkan menghapus praktik-praktik sesat di atas.

Kebebasan Beragama: Serangan Akidah


Kebebasan beragama sesungguhnya adalah serangan Barat terhadap kaum Muslim dari sisi akidah. Melalui ide kebebasan beragama, setiap orang bukan saja dibiarkan untuk memilih agama, tetapi juga untuk tidak beragama. Melalui ide ini, seorang Muslim tidak boleh dihalangi-halangi untuk murtad dan memeluk agama lain.

Melalui ide ini pula, orang-orang non-Muslim, seperti Kristiani, tidak boleh dihalang-halangi untuk membangun rumah peribadatan di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Karena itu, bagi para penganut kekebasan beragama, SKB Dua Menteri di atas dianggap melanggar HAM dan demokrasi, diskriminatif, dan menghambat kebebasan beragama.

Dari fenomena di atas, ide kebebasan beragama ini jelas sangat berbahaya bagi kaum Muslim. Melalui ide ini, tidak mustahil, akan banyak kaum Muslim yang murtad; akan banyak gereja dibangun berdampingan dengan masjid; akan banyak kaum Muslim melakukan doa bersama, merayakan Natalan bersama; dll. Semua ini jelas mengancam akidah kaum Muslim sehingga mengakibatkan semakin lunturnya keimanan mereka. Justru, fenomena seperti inilah yang diharapkan oleh Barat. Ketika keimanan kaum Muslim semakin luntur karena tercerabut dari akarnya, mereka tidak akan lagi berpegang teguh dengan syariat mereka, syariat Islam.

Ketika mereka tidak lagi berpegang teguh dengan syariat Islam, akan semakin mudah bagi Barat untuk menguasai mereka, bahkan menghancurkan mereka. Sebaliknya, dengan itu semua, akan semakin sulit kaum Muslim untuk bangkit dalam upaya mereka meraih kembali posisi sebagai khair ummah (umat terbaik). Inilah yang sebetulnya dikehendaki Barat.

Seruan

Wahai kaum Muslim,


Marilah kita bersama-sama menghadapi serangan Barat yang berupaya untuk menghancurkan Islam. Kita tidak boleh berdiam diri. Sebab, jika demikian, kita akan dianggap menyetujui mereka walau kita sebenarnya menolak. Bukankah Rasul saw. telah bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيمَانِ»

Siapa saja yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika masih tidak mampu, dengan kalbunya. Itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubur gagasan dan sistem demokrasi yang dianut oleh negara dan sebagian masyarakat, sekaligus menggantinya dengan sistem Islam. Marilah kita menata hidup kita berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Pencipta kita, Allah SWT, bukan dari hawa nafsu manusia.

Wahai para ulama,


Sungguh, Anda adalah para pewaris nabi; pewaris bagi upaya tegaknya syariat Islam. Bukankah Rasul saw. dan para nabi yang lain mencurahkan segenap hidupnya bagi tegaknya syariat Islam? Persoalan umat bukanlah hanya seputar masalah ibadah ritual semata. Sungguh, persoalan di atas tidak kalah penting dengan masalah ibadah ritual. Untuk itu, sudah selayaknyalah Anda senantiasa lantang menyerukan syariat Islam. Sebab, syariat

Islam adalah solusi bagi kehidupan. Hanya dengan syariat Islamlah semua persoalan kita akan dapat diatasi.

Wahai para penguasa,


Sungguh, menjaga akidah umat, menerapkan syariat Islam, dan menciptakan nuansa kehidupan Islam adalah tugas dan tanggung jawab Anda. Untuk itu, sudah sepatutnya, dengan kekuatan yang ada di tangan Anda, Anda segera menegakkan sistem Islam dengan cara menerapkan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, bukan malah terus mempertahankan sistem sekular yang bersumber dari Barat, yang sudah terbukti banyak menimbulkan kerusakan.

Untuk itu, marilah kita semua kembali pada aturan-aturan Allah, bukan malah terus berpaling darinya. Sebab, Allah SWT telah berfirman:
[وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى]

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124).

Wallâhu a‘lam bi ash-Shawâb.

Sumber: www.swaramuslim.net – redaksi –

Hizbut tahrir

Mengenang Nurcholish Madjid

Oleh: Abu Qori
Polemik mengenai pikiran Nurcholish Madjid sudah berlangsung sejak 1970-an ketika ia melontarkan gagasan tentang sekularisasi, yang kemudian dibantah oleh Prof Dr HM Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama.

Para penentang keras lainnya tercatat nama-nama: Endang Saefuddin Anshari, Abdul Qadir Djaelani, Hartono Ahmad Jaiz, Adian Husaini, Daud Rasyid, Abu Ridho dan Muhammad Yaqzhan, Hidayat Nur Wahid, Adnin Armas, Syamsuddin Arif, Hamid Fahmi Zarkasyi (tiga nama terakhir bukan langsung menghadapi Nurcholish namun mengkritrik pemahaman model Nurcholish) dan masih banyak nama lainnya.

Hidayat Nur Wahid, waktu awal-awal baru pulang dari Madinah tahun 1992, termasuk penentang Cak Nur, tapi belakangan ini tidak, bahkan ketika matinya Nurcholish Madjid, Senin 29 Agustus 2005, HNW yang jadi ketua MPR menyampaikan kata-kata yang banyak mengandung pujian lewat radio swasta di Jakarta.

Kritikan lewat pengajian-pengajian pun banyak, di antaranya dilakukan oleh KH Abdul Rasyid AS, KH Ahmad Kholil Ridwan, H Husen Umar, Abdul Hakim Abdad, Zainal Abidin dan mubaligh-muballigh Jakarta lainnya. Dari Bandung, ada KH Athian Ali Da’i, Heddy Muhammad, dan lain-lain.

Meskipun banyak musuhnya, Nurcholish Madjid juga ada pembela-pembelanya, bahkan pemujinya. Yang sangat memuji Nurcholish Madjid adalah tokoh Katolik, Romo Frans Magnis Suseno, yang menyarankan agar faham teologi inklusivisme Nurcholish Madjid diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Inggris. Inklusivisme dimaksud adalah, agama saya (Islam) mungkin salah, agama orang lain mungkin betul, maka saling mengisi.

Ini sama dengan tidak meyakini kebenaran Islam secara mutlak, dan meragukan kebenaran mutlak Al-Qur’an.

Dawam Rahardjo juga membela sejadi-jadinya. Sehari setelah meninggalnya Nurcholish Madjid, tulisan Dawam di halaman depan harian Media Indonesia 30 Agustus 2005 terpampang judul SANG PEMBARU. Dawam menegaskan, “agar terjadi penyegaran pemikiran, Cak Nur mengusulkan dilakukannya liberalisasi dan sekulerisasi.” Juga menurut Dawam, lahir gagasan Nurcholish Madjid mengenai pluralisme agama. Dawam tidak malu-malu menjunjung Nurcholish Madjid dengan sekulerisasinya, liberalisasi, dan pluralisme agama yang diusung Nurcholish Madjid. Padahal itu semua telah diharamkan oleh Fatwa MUI dalam Munas ke-7 di Jakarta 26-29 Juli 2005, karena paham itu menurut Fatwa MUI bertentangan dengan Islam.

Di antara pembela Nurcholish Madjid adalah Luthfi Assyaukanie yang bekerja di Paramadina Mulia yang rektornya adalah Nurchlish Madjid. Luthfi membela Nurcholish di antaranya kami kutipkan tulisannya sebagai berikut:

Penyakit “mensetankan orang” juga menghinggapi sebagian kaum terpelajar Muslim di Indonesia, yang merasa terkejut dan tak aman karena berhadapan dengan dunia di sekelilingnya yang dianggap mengancam. Dalam sebuah artikel pendek, saya menemukan seorang pelajar Muslim (yang sebetulnya tidak bodoh, karena terbukti telah menggondol gelar PhD), yang membuat tulisan sangat provokatif, berjudul “Diabolisme Intelektual” (Intelektual Pemuja Iblis).

Dalam tulisan itu, ia mengerahkan seluruh energi amarahnya untuk mensetankan siapa saja yang dianggapnya sesat. Dengan memilih potongan-potongan ayat Al-Qur’an (yang pasti diseleksi dengan tidak jujur), dia menganggap para tokoh pembaru Islam seperti Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Tak sampai di sini, dia juga mensetankan beberapa ulama besar Islam seperti Suhrawardi dan Hamzah Fansuri, karena dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam. (Demonisasi Oleh Luthfi Assyaukanie Editorial JIL, 20/06/2005).Cendekiawan Iblis


Luthfi menulis seperti itu gara-gara ada tulisan yang menyoroti tentang adanya cendekiawan Iblis. Cuplikannya sebagai berikut:

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut.
Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-‘inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-‘Aqa’id, dalam Majmu, min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”. Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an (7:146): “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya.”

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-‘preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ‘syatan’, yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (‘asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah’wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a’malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya’iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi’u l-‘adawah wa l-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’mur bi l-fahsya’ wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya’ al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir’aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Qur’an pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa “sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik” (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a’lam.

(Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual, Kamis, 30 Juni 2005, hidayatullah.com, penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman).

Pembela Nurcholish dibantah


Luthfi yang dari Paramadina rupanya disahut Adian Husaini dari INSIST, cuplikannya sebagai berikut:

Tulisan “Diabolisme Intelektual” sangat bagus, jelas, jernih, dan punya sikap. yang salah katakan salah. Perlu disebut bagian mana dari tulisan itu yang salah. Iblis tidak malu-malu dan bersikap fair menyatakan dirinya sebagai Iblis dan terus terang berjanji akan menyesatkan manusia. Yang repot jika pengikut Iblis justru mengaku sebagai penyeru kebenaran dan kemaslahatan. Tapi, al-Quran sudah mengingatkan dan memberi ciri-ciri yang gamblang makhluk jenis ini yang disebut sebagai “munafik”. Jadi, tidak usah ragu-ragu melakukan demonisasi, meskipun juga harus hati-hati. Saran saya, agar tidak rumit, yang Iblis, ngakulah Iblis, yang memang setan, katakan setan, siapa yang kafir, ngakulah kafir. Tidak usah ragu-ragu, masing-masing sudah ada tempatnya. Yang paling ditakutkan oleh Rasulullah saw adalah “kullu munafiqin ‘aliimul lisaan.” (insistnet@yahoogroups.com, adian husaini <ADIANH@Y…)

Sebenarnya Syamsuddin Arif tidak menulis secara eksplisit nama Nurcholish Madjid. Tetapi justru Luthfi yang menulis nama itu. Adian Husaini pun hanya menyarankan agar mereka mengaku saja, karena iblis juga mengaku akan menyesatkan orang.

Polemik ini cukup sengit di saat Nurcholish Madjid sedang sakit, yang dua bulan kemudian dia meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 bulan.

Sekularisasi dan Cangkok Hati


Dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz dikemukakan:

Nurcholish Madjid, dosen di IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Wakaf Paramadina dan rektor Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Pada saat naskah ini ditulis, dia sedang dirawat sudah 3 bulan, dan dicangkok hatinya dengan hati orang Cina Tiongkok di Cina lalu dibawa ke rumah sakit di Singapura untuk perawatan saluran pencernaan yang terserang infeksi.

Nurcholish Madjid dulu (1970) mencoba mengemukakan gagasan “pembaharuan” dan mengecam dengan keras konsep negara Islam sebagai berikut: “Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep “Negara Islam” adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi.” [1]

Pada tahun 1970 Nurcholish Madjid melontarkan gagasan “Pembaharuan Pemikiran Islam”. Gagasannya itu memperoleh tanggapan dari Abdul Kadir Djaelani, Ismail Hasan Meutarreum dan Endang Saifuddin Anshari. Sebagai jawaban terhadap tanggapan itu Madjid mengulangi gagasannya itu dengan judul “Sekali lagi tentang Sekularisasi”. Kemudian pada tanggal 30 Oktober 1972, Madjid memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan judul “Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”. Salah satu kekeliruan yang sangat mendasar dari Nurcholish Madjid ialah pemahamannya tentang istilah “sekularisasi”. Ia menghubungkan sekularisasi dengan tauhid, sehingga timbul kesan “seolah-olah Islam memerintahkan sekularisasi dalam arti tauhid”. [2]

Di samping itu Nurcholish mengemukakan bahwa Iblis kelak akan masuk surga. Ungkapannya yang sangat bertentangan dengan Islam itu ia katakan 23 Januari 1987 di pengajian Paramadina yang ia pimpin di Jakarta. Saat itu ada pertanyaan dari peserta pengajian, Lukman Hakim, berbunyi: “Salahkah Iblis, karena dia tidak mau sujud kepada Adam, ketika Allah menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah?” Dr. Nurcholish Madjid, yang memimpin pengajian itu, menjawab dengan satu kutipan dari pendapat Ibnu Arabi, dari salah satu majalah yang terbit di Damascus, Syria bahwa: “Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni.” Nurcholis juga mengatakan, “Kalau seandainya saudara membaca, dan lebih banyak membaca mungkin saudara menjadi Ibnu Arabi. Sebab apa? Sebab Ibnu Arabi antara lain yang mengatakan bahwa kalau ada makhluk Tuhan yang paling tinggi surganya, itu Iblis. Jadi sebetulnya pertanyaan anda itu permulaan dari satu tingkat iman yang paling tinggi sekali. Tapi harus membaca banyak.” [3]

Itulah ungkapan pembela Iblis. Padahal Iblis jelas kafir, dan yang kafir itu menurut QS Al-Bayyinah ayat 6 tempatnya di dalam neraka jahannam selama-lamanya.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-baqarah: 34).

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinah (98: 6).

Masalah hati Nurcholish Madjid dicangkok dengan hati Cina di Negeri Cina, ada yang mengaitkan dengan kualatnya Nurcholish Madjid dalam beberapa hal:
Pertama: Nurcholish Madjid mempidatokan di universitas-universitas terkemuka di Eropa, Ramadhan 2002, bahwa Islam adalah agama hibrida. Pidatonya itupun dimuat di situs JIL, islamlib.com. Nurcholish Madjid hanya mengemukakan secuil bukti yang dia ada-adakan, yaitu katanya, di Al-Qur’an ada lafal qisthas dari bahasa Yunani Justis yang artinya adil. Dan di Al-Qur’an ada lafal kafuro, menurut Nurcholish, dari bahasa Melayu, kapur barus. Dua potong kata yang tanpa bukti ilmiah itu kemudian Nurcholish simpulkan bahwa Islam adalah agama hibrida, maka bukan Islamnya yang hibrida, tapi hati dia yang dihibrida dengan hati Cina Komunis.

Kedua, di tahun 1980-an, Bambang Irawan Hafiluddin gembong Islam Jama’ah dan Hasyim Rifa’i da’i Islam Jama’ah (keduanya kemudian keluar dari Islam Jama’ah karena menyadari aliran yang kini bernama LDII itu benar-benar sesat jauh) berkunjung ke rumah Nurcholish Madjid di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Kedua tamu ini kaget ketika Nurcholish Madjid mereka tanya, Negara mana yang di dunia ini pantas untuk ditiru sebagai teladan. Ternyata jawaban Nurcholish: Negara Cina Tiongkok, karena di sana tidak ada perzinaan, pencurian dan sebagainya. Kedua tamu ini terheran-heran. Sampai dua puluh tahun keheranannya itu baru terjawab ketika mereka mendengar berita bahwa Nurcholish Madjid hatinya dicangkok dengan hati Cina Komunis di negeri Cina, tahun 2004. Jadi Nurcholish Madjid benar-benar mendapatkan hati teladan (impiannya?).

Ketiga, Nurcholish Madjid menuduh PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap anak-anak Ma’had Al-Qolam Pasar Rumput Jakarta yang memberikan brosur kepada Nurcholish Madjid berupa jawaban/bantahan atas ungkapan Nurcholish Madjid bahwa Iblis kelak akan masuk surga. Peristiwa tuduhan PKI yang terlontar dari mulut Nurcholish Madjid terhadap santri-santri yang berlangsung di tahun 1987 itu ternyata berbalik ke diri Nurcholish Madjid bahwa hati dia dicangkok dengan hati orang Cina Tiongkok yang komunisnya asli, bukan assembling seperti PKI. Debat dan tuduhan Nurcholish Madjid terhadap santri-santri itu dimuat di buku Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.

Demikian tulis Hartono Ahmad Jaiz dalam buku ada Pemurtadan di IAIN, tebitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005.

(Abu Qori).

Sumber: www.swaramuslim.net

www.pakdenono.com

Anand Kreshna Menohok Islam & Menyesatkan Ummat

Anand Kreshna Menohok Islam & Menyesatkan Ummat

CONTOH NYATA BAHAYA PEMAHAMAN
YANG INTINYA PLURALISME DAN TASAWUF

   Anand Kreshna keturunan India kelahiran Solo Jawa Tengah, sangat produktif menulis buku (sekitar 30-an buku) dan diterbitkan oleh Gramedia –kelompok Kompas yang dikenal dengan kelompok Katolik terkemuka. Dengan buku-bukunya itu Anand yang tak jelas agamanya (tampaknya Hindu) ini menyebarkan faham yang sangat menohok Islam, menyesatkan Ummat Islam, dan bahkan menyeret ke pemahaman model  pluralisme (semua agama sama dan paralel), diaduk dengan ajaran tasawuf sesat wihdatul wujud (manunggaling kawula Gusti, menyatunya makhluk dengan Tuhan). Hanya saja anehnya, dalam buku-bukunya itu dia satu sisi mengingkari Tuhan itu sendiri dengan berbagai aturan-Nya atau Syari’at-Nya.

    Anehnya, pemikiran yang sangat berbahaya bagi Ummat Islam itu justru didukung oleh orang-orang dari Yayasan yang disebut Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta  yang dirintis oleh Nurcholish Madjid alumni Chicago Amerika Serikat 1985 dan Utomo Dananjaya, serta sebagian orang IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga ketika salah satu buku Anand Kreshna dibedah di lingkungan IAIN Jakarta oleh DR Komaruddin Hidayat serta Dr Kautsar Azhari  Noer, keduanya dosen di kampus itu –menurut sumber terpercaya yang hadir di acara itu— dua dosen ini menyatakan bahwa di dalam Islam, faham reinkarnasi (nyawa orang meninggal balik lagi ke bumi dan berpindah ke jasad yang baru lagi) adalah dibenarkan. Bahkan disebut sebagai bukti keadilan Tuhan. Lalu Lia Aminuddin tokoh (wanita) sesat yang memproklamirkan agama baru bernama Salamullah dan mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi pun dalam majelis bedah buku itu  mengemukakan bahwa faham reinkarnasi itu adalah benar. Maka ditantanglah oleh seorang yang hadir, agar acara itu segera dibubarkan. Karena, kalau tidak, maka jelas akan menyesatkan Ummat Islam. Terjadilah semacam keributan, kemudian terpaksa acara bedah buku itu dibubarkan. Peristiwa tahun 2000 ini hampir tak terdengar di masyarakat, namun buku Anand Kreshna telah beredar di mana-mana, sehingga koran harian Republika yang edisi mingguannya pernah menampilkan hasil wawancara dengan Anand Kreshna sehalaman penuh, lantas didatangi ramai-ramai oleh  16 tokoh dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) untuk mempersoalkan masalah Anand Kreshna yang fahamnya menyesatkan Ummat Islam itu. Ternyata  peristiwa pada Agustus 2000M itu mendapatkan tanggapan positif dari pihak Republika, sehingga koran yang kadang menampilkan hal yang sesat dan tak sesuai dengan Islam ini menampilkan tulisan tentang sesatnya Anand Kreshna dalam edisi Dialog Jum’at. Akibatnya, konon pihak Gramedia menarik buku-buku Anand Kreshna dari peredaran (sementara?), namun yang jelas telah berpuluh-puluh ribu buku Anand Kreshna berisi penyesatan terhadap Ummat Islam itu beredar dan dibaca oleh masyarakat luas selama ini.

    Sementara itu pihak pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang oleh kelompok-kelompok sesat diucapi dengan kata-kata: “Mumpung Gus Dur jadi Presiden” (yang menandakan masa emas bagi kelompok-kelompok sesat), tampaknya sangat jauh dari menyetop masalah-masalah yang berbahaya bagi aqidah Ummat Islam, karena bekas ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu dikenal aqidah dia sendiri adalah amburadul, yaitu belepotan dengan kepercayaan klenik (tathoyyur, satu jenis kemusyrikan) dan wisik (wangsit) kuburan keramat. Hingga acara  kemusyrikan yang jelas-jelas nyata yaitu ruwatan pun dia hadiri dengan sukarela, bahkan sebelumnya dia dikhabarkan akan diruwat. (Baca tentang ruwatan dan do’a bersama antar agama, dalam buku ini). 

    Berikut ini beberapa contoh kesesatan faham yang dipasarkan Anand Kreshna lewat buku-bukunya serta faham para pendukungnya yang memberi kata pengantar di buku itu. Kami kutip ungkapan Anand Kreshna ataupun pemberi kata pengantarnya, kemudian kami beri tanggapan, komentar, atau bahkan bantahan, agar para pembaca bisa membandingkan antara sesatnya faham mereka itu dan terangnya dalil yang berlawanan dengan mereka.

 

Buku Anand Kreshna berjudul

Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern,
sebuah apresiasi,

terbitan PT Gramedia  Pustaka Utama, Jakarta .

Buku ini mengandung berbagai masalah yang mengaburkan aqidah Islam.
Berikut ini beberapa masalah yang perlu dipersoalkan dalam buku itu:

Kutipan dari halaman XII :

                      Keseimbangan sifat-sifat maskulinitas dan feminitas Tuhan     terungkap secara elegan di ketiga surah ini. (tulisan  Dr Nasaruddin Umar, MA, pembantu rektor IV IAIN Jakarta).

      Tanggapan: Manusia tidak berhak memberikan sifat-sifat kepada Allah, dan hanya Allah lah yang berhak memberikan sifat-sifat-Nya. Karena, manusia sama sekali tidak punya pengetahuan tentang Allah, kecuali yang Allah khabarkan. Sedangkan Allah SWT telah menegaskan larangan mengikuti apa-apa yang kita tidak ada ilmu.

     “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai  pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa’/ 17:36).

    Alah SWT juga berfirman, yang artinya:

   “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…” (QS Al-An’aam/ 6:59).

Lantas, dari mana Dr Nasruddin Umar MA bisa mengungkapkan sifat-sifat yang ia sebut sifat-sifat maskulinitas dan feminitas Tuhan, bahkan ia bisa menimbangnya sehingga dia nilai seimbang itu?

Kutipan dari halaman XII pula:

                   Ini membuktikan bahwa pemahaman Al-Qur’an bukan hanya hak prerogatif sekelompok umat Islam tetapi Al-Quran betul-betul sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin). (tulisan Dr Nasruddin).

    Tanggapan: Bagaimana ini? Satu kasus, yaitu adanya orang non Muslim yang memahami Al-Qur’an semaunya (sebagaimana akan diungkap sebentar lagi, insya Allah) lalu dijadikan alat untuk mengabsahkan hak bagi siapa saja untuk memahami Islam, dengan dalih rahmatan lil’alamin. Sedangkan pemahaman ummat Islam sendiri terhadap Al-Qur’an pun tidak sah kecuali memenuhi syarat, yaitu sesuai dengan kaidah-kaidah. Kaidahnya yaitu di antaranya telah ditegaskan oleh Nabi SAW:

من قال فى القرأن برأيه أو بما لا يعلم فليتبوأ مقعده فى النار.

Barang siapa berkata mengenai Al-Qur’an dengan pendapatnya atau dengan apa-apa yang ia tidak tahu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknnya di dalam neraka.” [1]

    Dengan demikian, betapa beraninya doktor yang memegang jabatan di IAIN Jakarta itu memberikan hak keabsahan kepada orang non Muslim untuk memahami Al-Qur’an sebegitu saja.

Kutipan dari halaman XVII:

Buku ini akan mengajarkan dan menuntun pikiran dan tingkah laku manusia untuk dapat mengekspresikan dirinya sebagai “kebaikan”. (Dr Nasruddin Umar MA).

Tanggapan: Dalam buku ini, apa yang disebut “kebaikan” itu maksudnya adalah Tuhan. Jadi buku ini mengajarkan dan menuntun pembacanya untuk mengekspresikan dirinya sebagai Tuhan. Kenapa seorang doktor di IAIN memberi apresiasi atau semacam penghargaan terhadap buku yang menuntun pada kemusyrikan dan kesesatan seperti ini?

Kutipan dari halaman XVII:

                  Ketiga surah ini mengingatkan manusia akan fungsinya sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan di bumi (khalifatun fi al –ardh).

Sanggahan: Manusia bukanlah representasi atau wakil Tuhan, tetapi hamba Allah. Justru dalam do’a safar/ bepergian, Allah lah sebagai khalifatuna, yang artinya pengganti atau wakil orang yang sedang bepergian.

Kutipan dari halaman XVIII:

              Dalam buku ini Pak Anand Kreshna ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa bukan aspek mistisnya surah-surah ini yang perlu ditonjolkan, melainkan penghayatan maknanya yang begitu dalam dan komprehensif. (Dr Nasruddin Umar MA).

Sanggahan: Pujian itu sangat jauh dari kenyataan, isi buku ini sesat menyesatkan, dan kebohongan besar atas nama Nabi Muhammad SAW, karena Nabi disebut sebagai orang yang mengatakan: Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”.  Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha menguasai! (hal. 43).

   Ini adalah ungkapan kemusyrikan, diatas-namakan Nabi Muhammad SAW.

Kutipan dari halaman 8:       

Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut “Tuhan” dan kejahatan dengan apa yang kita sebut “Setan”.

Tanggapan: Anand Kreshna sudah memulai untuk meniadakan Tuhan, dengan cara mengaburkan tentang pengertian baik dan buruk. Ini arahnya adalah ibahiyah, serba boleh, karena baik dan buruk dianggap hanya ada dalam pikiran kita. Padahal, ukuran baik dan buruk dalam Islam itu landasannya adalah wahyu dari Allah SWT. Singkatnya, inilah contoh dari orang yang menuhankan nafsu, maka nafsunya (yang di sini disebut pikiran) mengadakan baik dan buruk sekaligus menimbangnya, lalu dikaitkan dengan Tuhan dan Setan yang diadakan oleh pikiran itu sendiri. Jadi, Anand Kreshna ini meniadakan Tuhan, lantas mengangkat nafsu/ pikirannya sebagai Tuhan.

Kutipan dari halaman 10:  

  Saya seorang penyelam. Apa salahnya jika saya menyelami lautan Luas Al-Qur’an? Saya bukan seorang ulama, bukan seorang sastrawan, bukan pula seorang cendekiawan atau ahli filsafat. Kemampuan selam saya pun sangat terbatas. Namun dengan segala keterbatasan itu, saya menemukan betapa indahnya perut laut. Betapa indahnya “kandungan”  Al-Qur’an. Saya ingin berbagi rasa, “Begini lho pengalamanku selama menyelami Al-Qur’an.” Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Al-Qur’an memerintahkan, agar orang yang tidak mengerti itu bertanya kepada ahludz dzikr yaitu ahli Al-Qur’an. Bukannya orang tidak tahu, bahkan agamanya Islam atau bukan saja tidak jelas, lalu mengaku-ngaku menyelami Al-Qur’an, kemudian membeberkan aneka macam, diatas-namakan hasil penyelamannnya di Al-Qur’an lewat buku yang disebar luaskan dengan dalih berbagi rasa. Ini diancam oleh Nabi Muhammad SAW:

َمنْ قالَ ِفى الْقرأن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

Barangsiapa berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di nereka.”[2]

Rasulullah SAW bersabda:

   ” Takutlah kamu pada hadits dariku kecuali apa-apa yang kamu ketahui. Maka barangsiapa yang dusta atasku dengan sengaja maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka, dan barangsiapa yang mengatakan tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”  (HR At-Tirmidzi, juz 4, halaman 268).

Ancaman keras dari Nabi Muhammad SAW itu cukup jelas maknanya, tidak bisa dikilahi dengan “sebagai penyelam Al-Qur’an yang ingin berbagi rasa”, atau dikilahi seperti ucapan Dr Nasruddin Umar bahwa “pemahaman Al-Qur’an bukan hanya hak prerogatif  sekelompok umat Islam tetapi Al-Qur’an betul-betul sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin)”. Kilah itu menabrak hadits tersebut.

Kutipan dari halaman 12:

    “…  Menurut pendeta itu, dia pun mulai menghormati ajaran Islam setelah membaca buku-buku Bapak (Anand Kreshna –Ed).”

                       “Bapak harus menulis lebih banyak tentang ajaran-ajaran Islam. Biar banyak lagi buku-buku yang bersifat universal.”

Kutipan dari halaman 12-13:   “Hari ini, saya bisa mengatakan, saya mencintai Islam sebagaimana saya mencintai agama saya sendiri. Saya tidak perlu meninggalkan agama saya. Saya tidak perlu masuk agama Islam. Untuk menghormati nabi Muhammad, saya juga tidak perlu melepaskan keyakinan saya pada Yesus…”

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Ungkapan-ungkapan itu –karena ditulis dalam buku yang berjudul Surah-surah terakhir Al-Qur’anul Kariem–, maka mengandung pengertian: Arah dan isi surah-surah terakhir dalam Al-Qur’an itu agar manusia menjadi seperti itu, tidak perlu Islam. Ini sangat menyesatkan. Bahkan karena ungkapan itu berupa komentar terhadap buku-buku tentang Islam, berarti mengandung pengertian bahwa ajaran Islam yang sebenarnya itu hanyalah menjadikan orang agar tidak perlu Islam. Inilah salah satu cara pemurtadan yang dilancarkan oleh pihak non Islam (Anand Kreshna tampaknya beragama Hindu) dan kelompok Katolik yang dalam hal ini Kompas Grup yakni Gramedia. Tampaknya lunak, tidak apa-apa, namun sebenarnya lebih jahat ketimbang pembunuhan, karena Muslimin yang dibunuh tanpa bersalah insya Allah akan masuk surga, sedang kalau dimurtadkan maka akan masuk neraka selama-lamanya.

Kutipan dari halaman 13:  Bagi para pengkritik, saya hanya ingin menyampaikan satu hal. Jika lewat buku-buku yang anda anggap sangat “pop” dan “tidak cukup bermutu” ini, kita berhasil mempersatukan bangsa kita, jika kita berhasil membuat seorang Kristen mulai menghargai Islam dan seorang Muslim mulai menghargai Buddha dan seorang Buddhis mulai menghargai Hindu, lalau apa salahnya?

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Salahnya, tujuan yang diandai-andaikan itu belum tentu terwujud, dan kalau toh terwujud pun belum tentu Islam menginginkan seperti yang Anand andaikan, sedang ajaran Islam, bahkan ayat-ayat Al-Qur’an telah diacak-acak pengertiannya, secara semaunya, tanpa landasan dan dalil yang benar. Jadi, justru telah merusak Islam secara sengaja dan sistematis, berdalih pengandaian yang tampaknya indah, namun sebenarnya bertentangan dengan Islam. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, ummat Islam berlepas diri dari kekafiran dan penyembahan berhala yang dilakukan oleh musyrikin, dan tegas-tegas ada pernyataan tentang permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Ibrahim As dan pengikutnya terhadap kaum kafir-musyrik:

Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekufuran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” ( QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Apakah pantas, seorang yang menulis buku dengan mengaku menyelami Al-Qur’an namun isi dan tujuannya menentang Al-Qur’an seperti itu?

Kutipan dari halaman 14.    Buku-buku saya adalah hasil “kegelisahan” saya, “kekecewaan” saya terhadap bangsa kita yang sedang dilanda fanatisme kelompok dan agama.

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Kalau gelisah, lalu tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sarana melampiaskan kegelisahan, barangkali masih bisa dimaklumi. Tetapi, kenapa gelisah lalu menjadikan Al-Qur’an dan Islam sebagai alat melampiaskan kegelisahan? Padahal, kegelisahannya itu sendiri bertabrakan dengan Al-Qur’an, karena fanatisme agama (Islam) itu justru wajib dalam Islam, sebagaimana pernyataan Nabi Ibrahim tersebut di atas. (lihat QS 60:4). Kenapa gelisah? Dan kenapa menggunakan Al-Qur’an untuk menohok Al-Qur’an pula?

Kutipan dari halaman 16:    Dalam empat surah ini, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, tersimpan rahasia Al-Qur’an. Inilah pesan Sufi, pesan Injil, pesan Zabur, pesan Taurat, pesan Vedanta dan pesan Buddha. Ini pula pesan Islam!

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Astaghfirullaahal ‘Adhiem.  Empat surat itu adalah Kalamullah, ayat-ayat Allah. Bukan pesan Sufi. Bukan pesan Vedanta, dan juga bukan pesan Buddha. Ini benar-benar melecehkan Al-Qur’an. Kalau memang Anand Kreshna bertanggung jawab, ayat mana yang pesan Sufi, lalu ayat mana yang pesan Vedanta, ayat mana pula yang pesan Buddha? Jikalau benar klaim Anand, beranikah menunjuk bahwa salah satu ayat dari empat surat itu yang benar-benar pesan Taurat, lalu pesan Injil, dan pesan Zabur?  Kalau sudah bisa menunjuknya, dari mana pula keterangan itu didapatkan? Bukankah itu artinya mengacak-acak Al-Qur’an dengan kata-kata yang sama sekali tidak bertanggung jawab? Dan benarkah Sufi (orang yang melakukan atau menganut ajaran tasawuf) itu ajarannya sesuai dengan Al-Qur’an sehingga Anand Kreshna bisa mengatakan bahwa “Inilah  pesan Sufi”?

Kutipan dari halaman 21:   Bagi Sheikh baba  (guru selam Anand Kreshna, pen), Malaikat Jibril adalah “Kesadaran Tinggi” dalam diri Sang Nabi, sewaktu-waktu, ia bisa berkontak dengan “Kesadaran Tinggi” dalam dirinya dan memperoleh tuntunan serta bimbingan” yang dibutuhkannya.                         Beliau (Sheikh Baba, guru selam Anand Kreshna, pen) pernah menjelaskan: “Kesadaran Tinggi” dalam diri manusia adalah pancaran Kesadaran Murni yang disebut Allah, Tuhan, Ishwara, Ahura Mazda, atau Satnaam…”

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Na’udzubillaahi min dzaalik. Di situlah Anand Kreshna menyuntikkan racun-racun faham beruapa Pluralisme, wihdatul Adyan (penyatuan agama-agama), dan tasawuf yang berbahaya bagi aqidah Islam. Sebegitu beraninya Anand Kreshna melandasi uraiannya tentang Surat Al-Ikhlas dengan aqidah kemusyrikan, yaitu Malaikat Jibril itu “Kesadaran Tinggi” dalam diri Sang Nabi. “Kesadaran Tinggi” dalam diri manusia adalah Pancaran Kesadaran Murni yang disebut Allah, Tuhan, Ishwara, Ahura Mazda, atau Satnaam….

Di Dalam Islam, Malaikat Jibril adalah  malaikat yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan   wahyu kepada para  Nabi dan Rasul. Tugas itu dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
 

رفيع الدرجات……..  التلاق.

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki –Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (qiyamat).” (QS Al-Mu’min/ 40:15).

Dalam ayat itu jelas, Malaikat Jibril adalah utusan Allah untuk membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul agar para Nabi dan Rasul itu memberi peringatan kepada manusia tentang hari qiyamat. Malaikat Jibril bukan “Kesadaran Tinggi” dalam diri Nabi yang sewaktu-waktu bisa dikontak seperti yang dikemukakan Anand Kreshna itu. Jibril hanya datang kalau diutus oleh Allah. Demikian pula Jibril bukan di dalam diri manusia ataupun pancaran Allah yang ada di dalam diri manusia seperti yang dikemukakan oleh guru selam Anand. Kenapa bukan? Karena tidak ada ayat maupun hadits yang menjelaskan seperti itu. Bahkan Nabi SAW sendiri pernah gelisah karena lama tidak turun wahyu, berarti Malaikat Jibril tidak datang, yang dalam tarikh Islam dikenal dengan masa fatrotil wahyi, masa jeda tidak turun wahyu. Jadi ungkapan Anand Kreshna dan gurunya itu jelas bukan dari ajaran Islam, namun kenapa untuk memberikan apresiasi terhadap surah-surah Al-Qur’an? Ini namanya merusak pemahaman isi Al-Qur’an, yang hal itu sangat tercela dan berhadapan dengan Ummat Islam sedunia.

      Dengan kesesatan seperti itu maka Ummat Islam perlu waspada. Lebih dari itu, bahkan ada ajaran yang lebih sesat lagi disebarkan oleh Anand Kreshna, dengan mengutip perkataan orang Sufi/ tasawuf bahwa Nabi Muhammad saw berkata:

Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”.  Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha menguasai. (halaman 43).

     Inilah puncak kesesatan yang disebarkan Anand Kreshna, dengan mengutip perkataan orang sufi/ tasawuf, Anand menyebarkan faham wihdatul wujud (manunggaling kawula dengan Gusti, menyatunya hamba dengan Tuhan) satu faham kemusyrikan, dan kemusyrikan itu justru ditimpakan kepada Nabi Muhammad saw. Betapa beraninya orang itu menuduh Nabi Muhammad saw pembawa aqidah tauhid justru dituduh sebagai penganjur kemusyrikan. Na’udzubillahi min dzalik!

   Anehnya, ketika kesesatan Anand Kreshna itu dipersoalkan tokoh-tokoh Islam (seperti tersebut di atas), serta merta para pembela Anand Kreshna yang dirinyapun mengaku beragama Islam masih berani membuka mulut dengan berdalih bahwa Anand Kreshna bukan menafsiri Al-Qur’an tetapi memberikan apresiasi. Terhadap mereka itu, mari kita ajukan pertanyaan: Pantaskah pemberian apresiasi semacam tersebut di atas? Tentu sangat tidak pantas, karena justru sangat menyesatkan Ummat Islam! Di samping itu, melecehkan Al-Qur’an itu sendiri, karena apresiasinya itu mengandung tuduhan-tuduhan yang jauh dari isi dan misi Al-Qur’an.

 

BEBERAPA KUTIPAN DARI BUKU

ISLAM ESOTERIS

Kemuliaan dan keindahannya

Karya: Anand Kreshna

(Penyelaman spritual Anad Kreshna bersama Achmad Chodjim, Moulana Wahiduddin Khan)
Kata Pengantar: Dr. Komaruddin Hidayat
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Ungkapan-ungkapan Anand Kreshna dan pemberi kata pengantar yang bertentangan dengan Islam atau mengaburkan aqidah, langsung kami sertai tanggapan atau sanggahan sebagai berikut:

 

1. Kutipan dari tulisan Dr Komaruddin Hidayat: – Bahkan kita melihat sentimen dan simbul keagamaan   malah menjadi bagian dari pemicu dan konflik-konflik.

-         Jangan-jangan agama malah menjadi bagian dari penyebab krisis ini? Hal.x

Tanggapan: Selayaknya kalimat seperti itu hanya keluar dari mulut orang yang menentang Tuhan atau ragu dengan agamanya sendiri. Dia anggap, orang baru benar dalam beragama kalau tanpa sentimen agama dan tanpa simbul agama. Padahal, orang tak beragama alias kafir pun justru sangat tinggi sentimen kekafirannya, dan fanatik pada simbul kekafirannya. Kalau berani melepas sintemen dan simbul kekafirannya, berarti dia rela untuk mengikuti agama. Kenapa orang beragama justru harus melepaskan sentimen dan simbul keagamaannya? Haruskah mengikuti dan bahkan menjadi orang kafir yang tidak dipersoalkan dalam memegangi sentimen kekafiran dan simbul kekafirannya, karena sentimennya itu bukan sentimen agama tetapi sentimen kekafiran? Mewakili siapakah doktor yang pejabat tinggi di Departemen Agama ini dalam berbicara seperti itu? 

2. Kuitipan tulsian Dr Komaruddin Hidayat: Saya melihat dalam buku ini bangunan argumentasi reinkarnasi diambil dari ayat Al Qur’an yang digabung dengan hasil telaah ayat-ayat kehidupan. Hal. xi

      Bantahan: Reinkarnasi yang bahasa Arabnya at-tanaasukh adalah kepercayaan tentang kembalinya ruh ke bumi lagi setelah wafatnya, dan berpindah kepada jasad lainnya. (Dr A Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Science, Librairie Du Liban, Beirut, cetakan I, 1978, halaman 351). Reinkarnasi itu bicara tentang ruh, dan kepercayaan semacam itu sama sekali tidak sesuai dengan Islam. Betapa beraninya doktor ini bicara tentang ruh, padahal Nabi Muhammad saja dipesan oleh Allah bahwa tentang ruh itu adalah termasuk urusan Allah. Allah berfirman yang artinya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa’/ 17:85).

Kalau terhadap roh yang jelas-jelas Nabi Muhammad saw dipesan seperti itu saja doktor ini berani berbicara serampangan, bahwa Al-Qur’an dia anggap jadi rujukan bangunan arugementasi reinkarnasi, maka betapa lagi dalam hal-hal lainnya. Astaghfirullaahal ‘adhiem.    

3. Kutipan dari tulisan Dr Komaruddin Hidayat: Allah Maha Adil, Maha Kasih dan sekali-kali tidak akan menghukum manusia kecuali manusia sendiri yang menghukum dirinya. Tuhan tidak akan memasukkan hambanya ke neraka.hal. xii

      Bantahan: Perkataan doktor ini coba kita bandingkan dengan ayat Al-Qur’an, yang artinya:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolong pun.” (QS Ali Imraan: 192).

    Dalam ayat itu jelas Allah lah yang memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke neraka.

4. Kutipan dari tulisan Dr Komaruddin Hidayat: Sekarang ini adalah akhirat dari kehidupan sebelumnya dan merupakan dunia bagi kehidupan yang akan datang. Hal. Xiii.

     Tanggapan: Perkataan itu apakah dimaksudkan untuk tidak percaya hari akherat, hari dibalasnya amal yaitu hari qiyamat? Pertanyaan ini perlu diajukan, karena tulisan doktor itu adalah sebagai kata pengantar dari buku Anand Kreshna yang belum tentu dia percaya akherat atau hari qiyamat. Sedang pengantar yang model seperti itu ikut pula menjerumuskan pembaca untuk tidak percaya akherat/ qiyamat. Atau memang sengaja demikian? 

5. Kutipan dari tulisan Dr Komaruddin Hidayat: Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa surga itu berjenjang , Sedangkan neraka adalah sebuah kejahatan …sedangkan surga dan neraka adalah suasana batu dan nasib kehidupan itu sendiri.Hal. xv

     Tanggapan: Sekali lagi, apakah ini sengaja untuk menggiring pembaca agar tidak percaya surga dan neraka  yang akan menjadi tempat bagi manusia di hari qiyamat kelak? Betapa beraninya bermain-main kata seperti itu, padahal menyangkut wilayah aqidah, wilayah ghaib, yang hanya bisa kita berbicara kalau berlandaskan wahyu Allah SWT.

6. Kutipan dari tulisan Dr Komaruddin Hidayat: Surga dan neraka itu adalah ciptaan manusia.hal. xvi

     Tanggapan: Allah menamakan surga atau jannah dengan nama-nama yang Dia jelaskan dalam Al-Qur’an yaitu: Firdaus (QS 18:107; 23:11), ‘Adn (QS 9:72; 13:23; 16:31), Na’iim (QS 5:65; 22:56; 52:17), Daarus Salaam (QS 6:127),  Ma’wa (QS 3:151; 3:162). Sedang neraka dinamakan: Neraka Jahim  (QS 3:119),  Jahannam (QS 3:12), Sya’iir/ yang membakar (QS 4:10), Saqor/ yang menghanguskan (QS 54:48), Huthomah/ yang menghancurkan (QS 104:4), Hawiyah/ api yang menyala-nyala (QS 101:9), Ladho/ yang membakar (QS 70:15).  Surga manakah yang ciptaan manusia, dan neraka manakah yang ciptaan manusia pula dari nama-nama itu? Betapa rancunya perkataan doktor alumni Turki yang termasuk pemimpin di Yayasan Paramadina Jakarta dan orang kesayangan mendiang Harun Nasution di IAIN Jakarta ini. Apakah dia sudah menciptakan surga untuk keluarga dan muqollid-muqollidnya, dan neraka untuk lawan-lawannya?

     Sekali lagi, untuk berbicara masalah ghaib haruslah dengan landasan wahyu. Tidak bisa asal berucap.

7. Kutipan dari tulisan Anand Kreshna: Jika shalat itu memang untuk mempersatukan kita dengan tuhan, dengan Allah, dengan Widi, Tao, Bapak di surga apapun nama yang kita berikan kepadanya maka cara shalat tidak perlu dipermasalahkan lagi. hal. 1

     Tanggapan: Anand Kreshna ini di samping memasarkan faham sesat berupa pluralisme, apakah ia ingin jadi nabi atau sekalian jadi Tuhan? Rupanya Anand sangat menginginkan agar manusia terlepas dari syari’at yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, dan agar Muslimin jadi murtad mengikuti Anand Kreshna saja. Satu propaganda yang amat berbahaya dan mengajak ke neraka, sebagaimana iblis dengan wadyabalanya para syetan yang menggoda manusia untuk menyeretnya ke neraka.

   Beberapa catatan dari buku

Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan

Apresiasi Spiritual terhadap Taurat, Injil dan Al-Qur’an
 

Tulisan Anand Kreshna

Penerbit PT Gramedia Utama Pustaka, Jakarta, 1998

 

1.        Kutipan: Katakan kepadanya (yakni guru agama penanya yang menasihatinya agar berhati-hati terhadap praktek-praktek meditasi Pen.) bahwa karena orang-orang seperti dialah, bangsa kita ini bisa terpecah-pecah. Sebut nama saya dan katakan kepadanya bahwa sebaiknya anda mendalami kembali kitab-kitab agamanya dan menemukan hal-hal yang mempersatukan dia dengan penganut agama lain, bukannya hal-hal yang memisahkan diri dari umat beragama lain.” Hal. 7

Tanggapan untuk Anand Kreshna: Di dalam kalimat itu ada arogansi (takabbur, kesombongan), sok pintar, tuduhan, dan anjuran yang sangat kabur.

2.        Kutipan: Cerita ini (Tentang seorang pangeran yang menganggap dirinya seekor ayam, kemudian bisa disembuhkan oleh rabi Yahudi. Pen.) berasal dari tradisi Hasid, salah satu tradisi spiritual dalam kalangan Yahudi. Cerita ini dapat membantu kita memahami Nabi Musa dan Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Cerita ini dapat membantu kita menyelami Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Hal. 16

Tanggapan: Salah satu ciri kelompok ataupun orang-orang sesat adalah suka melandaskan ajaran-ajarannya kepada cerita-cerita, baik itu cerita orang-orang entah di mana, maupun cerita yang dibuat-buat. Jadi lebih mengunggulkan cerita ketimbang dalil. Demikian pula untuk memahami Nabi-nabi dan kitab suci, dalam kasus ini justru merujuk kepada cerita orang, padahal orang itu sendiri menganggap dirinya bukan orang tetapi seekor ayam. Betapa tidak shahihnya cara yang dia tempuh semacam ini.

3.        Kutipan: Jangan mengira manusia masa kini sudah terbebas dari perbudakan. Manusia masih budak. Ia diperbudak oleh idiologi-idiologi semu. Ia diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan – kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. Ia ibarat bangkai yang kebetulan masih hidup. Hal. 19.

Bantahan: Penghinaan terhadap syari’at Islam yang benar-benar menyakitkan, dan penghinaan terhadap Ummat Islam yang patuh mengikuti Syari’at Allah, dianggap sebagai bangkai yang kebetulan masih hidup. Makhluk macam apa kurangajarnya, kalau Tuhan yang menciptakannya telah dihina sedemikian rupa, sedang hamba-hambanya yang tunduk pada Tuhannya dia hinakan sebagai bangkai hidup? Astaghfirullaahal ‘adhiem…!

4.        Kutipan: Saya bertanya pada seorang wanita, mengapa ia selalu menutup lehernya, Padahal cuaca di Jakarta cukup panas dan saya melihat bahwa ia sendiri kegerahan…”Mengapa kau tidak buka saja itu lehermu?” Saya terkejut sekali mendengarkan jawabannya, “cowok-cowok biasanya terangsang melihat leher cewek, itu sebabnya saya menutupinya”. Ia membenarkan hal itu dengan menggunakan dalil… Lucu, aneh! Ia diperbudak oleh peraturan-peraturan yang sumbernyapun tidak jelas Hal.20.

Tanggapan: Ini jelas melecehkan syari’at Islam, dalam kasus ini syari’at tentang menutup aurat bagi wanita, dianggapnya memperbudak dan tidak jelas sumbernya.

5.        Kutipan: Tuhan, Allah atau nama apa saja yang Anda berikan kepada sang keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus, kehidupan berjalan terus. Betapa bodohnya manusia yang mengagung-agungkan masa lalu, peraturan-peraturan yang sudah kadaluwarsa dan tidak berani meninggalkan semuanya itu. Hal. 23 – 24.

Tanggapan: Ini sangat menghina Nabi Muhammad saw pembawa Islam dari wahyu Allah SWT, menghina syari’at Allah SWT, menghina para sahabat, dan seluruh ummat Islam dari dahulu sampai kini dan nanti. Masih pula orang ini membodoh-bodohkan dan menginginkan agar ummat Islam keluar dari Islam.

6.        Kutipan: Apabila Anda belum sadar bahwa sebenarnya Ia-lah Segalanya dan bahwa Anda merupakan bagian dari-Nya setidaknya jadikan Dia bagian dari hidup Anda. Menjadikan Dia bagian dari hidup Anda tidak mengecilkan Dia. Hal. 29

Tanggapan: Ini jelas keyakinan orang musyrik, mengaku-ngaku bahwa manusia (yang pasti punya dosa ini) merupakan bagian dari Tuhan Yang Maha Suci. Dari mana orang yang tentunya punya dosa itu mendapatkan jaminan bahwa dirinya adalah bagian dari Dzat Yang Maha Suci? Betapa beraninya menyebarkan kemusyrikan dan kekafiran atas nama Tuhan. 

7.        Kutipan: Tuhan tidak berada di suatu tempat yang terpencil, di balik matahari sana. Ia tidak berada di Taman Firdaus yang katanya penuh dengan perawan-perawan, kebun-kebun dan sungai-sungai anggur. Ia senantiasa menyertai anda. Hal. 29

Bantahan untuk Anand Kreshna:

Perkataan batil orang kafir dan semacamnya seperti ini tidak punya dasar, namun dijadikan landasan untuk mengklaim bahwa diri mereka disertai Tuhan dalam makna menyatu dan melebur dengan Tuhan, yang itu adalah kepercayaan orang musyrik. Padahal Allah jelas-jelas mengatakan

  الرحمن على العرش استوى

Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘arsy.” (QS 20 Thaha: 5).Sedang Rasulullah saw bersabda:

” ينزل ربنا إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر.”

Yanzilu Rabbunaa ilas samaaid dun-yaa hiina yabqo tsulutsul lailil aakhiri.

“Tuhan kita turun ke langit yang terendah ketika malam tinggal sepertiga bagian yang terakhir.”

Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS 57 Al-Hadiid:4).

   Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia bersemayam di atas ‘arsy, mengetahui segala sesuatu dan bersama kita di mana saja kita berada.  Sebagaimana disebutkan,  disabdakan pula oleh Nabi saw dalam hadits al-Au’aal:

“والله فوق العرش وهو يعلم ما أنتم عليه.”

“Walloohu fauqol ‘arsyi wahuwa ya’lamu maa antum ‘alaihi.”

  “Allah berada di atas ‘arsy dan Dia mengetahui segala apa yang kamu perbuat.”

   Ibnu Al-Qayyim mengisyaratkan: “Allah telah memberitakan bahwa Dia bersama makhluk-Nya dan Dia pun bersemayam di atas ‘arsy. Dan Allah telah menyebutkan kedua perkara ini secara bersama-sama seperti dalam firman-Nya di surah Al-Hadid (ayat 4). Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, bersemayam di atas ‘arsy dan bersama makhluk-Nya mengetahui amal perbuatan mereka dari atas ‘arsy-Nya. Seperti disebutkan dalam hadits Al-Au’aal: “Allah berada di atas ‘arsy dan Dia mengetahui segala apa yang kamu perbuat.”  Maka keberadaan Allah di atas ‘arsy tidak bertentangan dengan kebersamaan-Nya dengan makhluk, dan kebersamaan-Nya dengan makhluk tidak menggugurkan/ membatalkan keberadaan-Nya di atas ‘arsy, bahkan kedua-duanya sama benar.” (Mukhtashar As-Shawaaiq Al-Mursalah oleh Ibnu Al-Maushili, hal 140, cetakan Al-Imam).

     Bahwa hakekat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah di atas ‘arsy’, soalnya perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk. Contohnya: seperti dikatakan : “Kami masih meneruskan perjalanan dan bul-an pun kami ikuti. “Ini tidak dianggap kontradaksi dan tidak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun di bumi. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu sekalipun berada di atas ‘arsy tentu lebih patut lagi, karena hakekat pengertian ma’iyah (kebersamaan) tidak berarti berkumpul dalam satu tempat.[3]

    Perbedaan Pendapat Mengenai Ma’iyah Allah SWT

    Dalam masalah ma’iyah (kebersamaan) Allah dengan makhluk, terdapat tiga golongan:

Golongan Pertama:  Mengatakan bahwa ma’iyah Allah SWT dengan makhluk, bila umum sifatnya, maka pengertiannya bahwa Dia mengetahui, dan meliputi mereka (makhluk). Tetapi bila khusus sifatnya, maka pengertiannya (adalah) selain itu (yaitu) bahwa Dia menolong dan mendukung. Dengan pengertian bahwa Dzat Allah tetap Maha Tinggi dan bersemayam di atas ‘arsy.

   Golongan ini yaitu Salaf dan madzhab mereka adalah yang haq, sebagaimana telah ditegaskan di atas.

Golongan Kedua: Mengatakan bahwa ma’iyah Allah dengan makhluk berarti bahwa Dia bersama mereka di bumi, dan berarti pula Dia tidak di atas dan tidak bersemayam di atas ‘arsy.

   Mereka itu adalah Al-Hululiyyah (incarnasi, yaitu faham yang menganggap manusia bisa lebur dengan Tuhan, pen) seperti pendahulu Jahmiyah dan sekte lainnya. Madzhab mereka tentu bathil dan munkar, para Salaf sepakat atas kebathilan madzhab ini dan menolaknya, seperti yang telah dijelaskan.

Golongan Ketiga: Mengatakan bahwa ma’iyah Allah dengan makhluk berarti bahwa Dia bersama mereka di bumi disamping Dia pun berada di atas ‘arsy. Golongan ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Majmu’ Fataawa, jilid 5, hal 299).

    Golongan ini menyatakan bahwa mereka telah menunjukkan zhair nash-nash dalam ma’iyah dan ‘uluw (kebersamaan Allah dan makhluk dan keberadaan Dia di atas ‘arsy). Padahal mereka itu tidak benar dan salah dalam masalah ini, akhirnya mereka pun tersesat. Soalnya nash-nash ma’iyah tidaklah menunjukkan apa yang mereka katakan itu yaitu hulul (incarnation), karena hulul adalah faham yang bathil. Dan tidak mungkin dhahir dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya sesuatu yang bathil.

   Catatan:

    Perlu diketahui bahwa penafsiran Salaf tentang ma’iyah (kebersamaan) Allah bahwa Dia bersama makhluq dengan ilmunya tidak berarti hanya mengetahui saja, tetapi berarti pula bahwa Dia meneliti , mendengar, melihat, menguasai, mengatur mereka dan pengertian lainnya yang menunjukkan rububiyyah Allah.

Adapun dalil-dalil dari Kitab atas masalah ini bermacam-macam: QS 2:255,  QS 6: 18, 61,  QS 67:16, QS35:10,  QS70:4, QS3:55, QS16:102, QS32:5, dan beberapa hadits.

   Syekh  Muhammad Shalih ‘Utsaimin menegaskan pula: “Saya katakan dalam tulisan saya itu, secara harfiyah teksnya begini: “Dan kami berpendapat bahwa siapa yang mengatakan bahwa dzat Allah berada di setiap tempat adalah kafir, atau sesat, jika dia meyakininya; atau salah dan berdusta jika dia menisbatkannya kepada salah seorang Salaf atau imam dari umat ini.”[4]    Selanjutnya Syekh ‘Utsaimin menegaskan: “Perlu juga diketahui bahwa setiap kata yang menimbulkan pengertian bahwa  Allah berada di bumi, atau bercampur dengan makhluk, atau menafikan kemaha-tinggian-Nya, atau menafikan bersemayamnya Dia di atas ‘arsy, atau pengertian lain yang tidak layak bagi-Nya, maka kata-kata itu bathil, wajib diingkari terhadap yang mengatakannya, siapa pun orangnya, dan dengan lafazh apapun kata-katanya.”[5]

 Dari uraian yang disaertai dalil-dalil tersebut maka jelaslah ungkapan-ungkapan Anand Kreshna tersebut di atas yang didukung oleh Dr Komaruddin Hidayat, Dr Nasruddin Umar dari IAIN Jakarta, dan orang-orang Paramadina Jakarta di bawah pengaruh Dr Nurcholish Madjid dan Utomo Dananjaya serta diterbitkan secara besar-besaran oleh penerbit Katolik grup Kompas yaitu Gramedia itu adalah jelas sesat lagi menyesatkan ummat Islam.

8.        Kutipan: Dimana ada cahaya, tidak ada kegelapan. Dimana ada Allah, allah lain tidak akan ada. Apabila Anda masih meng-allah-kan kekayaan, meng-allah-kan kedudukan, meng-allah-kan ketenaran, ketahuilah bahwa Matahari Allah belum terbit dalam kehidupan anda. Anda masih hidup dalam kegelapan. Hal. 32

Komentar: Istilah semacam itu tidak pernah ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

9.        Kutipan: Islam memperlakukan kaligrafi “Allah” dan “Muhammad”, “Hajar Aswad” dan lain sebagainya dengan rasa hormat yang sama, sebagaimana Hindu dan Umat Budha memperlakukan patung-patung mereka. Hal. 34

Bantahan: Islam sangat membenci kemusyrikan dan memberantasnya, bahkan ada perintah untuk memeranginya. Kenapa Anand Kreshna justru menimpakan kemusyrikan kepada Islam? Alangkah beraninya.

 10. Kutipan: Musa harus meletakkan dasar-dasar hukum yang menyangkut moralitas dan etika. Adanya hukum-hukum seperti terurai di atas (peraturan tentang Munakahah, Pen.) sudah cukup untuk menjelaskan betapa rendahnya kesadaran orang Israil pada jaman itu…

Pada tingkat itu, satu-satunya rasa yang dikenal oleh mereka adalah rasa cemburu “rasa cemburu”…Itu sebabnya Musa harus menggambarkan Tuhan sebagai Yang Maha Cemburu. Hal. 36 – 39.

Bantahan: Walaupun tuduhan itu dialamatkan kepada Nabi Musa as, namun Anand Kreshna sama juga menuduh Nabi Muhammad SAW dan ummat Islam, karena ungkapan tentang Maha Cemburu atau semacamnya itu juga disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Bukankah kemusyrikan yaitu menyekutukan Allah itu merupakan dosa terbesar dan tak diampuni bila pelakunya sampai meninggal tidak sempat bertaubat? Bukankah itu mengandung makan Maha Cemburu pula?

11. Kutipan: Ia menjawab saya, “Apabila Tuhan menghendaki”…Sebenarnya ia sudah bisa mengatakan “Tidak. Tidak bisa hadir”- selesai. Tetapi, ia harus menggunakan istilah “asing” dan memakai dalil “Tuhan”… Jujur saja, katakan pekerjaan itu diluar kemampuan Anda. Jangan menipu orang, jangan membohongi sendiri dengan ucapan “Apabila Tuhan menghendaki”. Hal. 40 – 41

Tanggapan:

Dalam ajaran Islam, kata “Insya Allah” merupakan ungkapan pengakuan ketidak berdayaan seorang hamba di hadapan kehendak Allah SWT dan do’a supaya diberi kekuatan dan taufiq untuk bisa menuanaikan janji dan tugasnya. Bukan basa-basi untuk mangkir janji. Dan ucapan insya Allah ketika menyanggupi sesuatu untuk masa mendatang itu diperintahkan langsung oleh Allah SWT: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besuk pagi, kecuali (dengan menyebut) : “Insya Allah”. (QS 18 Al-Kahfi: 23-24). Dalam kasus ini Anand Kreshna bukan sekadar melecehkan Ummat Islam namun melecehkan Allah SWT yang mengajarkan ucapan demikian terhadap nabi-Nya.

12. Kutipan: Itu sebabnya di tempat lain ia akan meletakkan peraturan-peraturan bagi penyembelihan hewan untuk upacara-upacara adat. Saya katakan “upacara adat”, karena spiritualitas tidak bisa, tidak akan membenarkan pembunuhan, walapun yang dibunuh, disembelih itu hewan. Lagi pula, apakah Tuhan membutuhkan pengorbanan hewan-hewan tak bersalah itu?  Hal. 48

Tanggapan:

Dalam point ini agama asli Anand Kreshna secara tidak sadar nampak, bahwa ia seorang Hindu. Padahal dia sedang membahas Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Karena hanya dalam ajaran Hindu larangan penyembelihan terhadap binatang itu dikenal, terutama terhadap sapi. Pada prakteknya, mereka pun tidak akan konsisten dengan ajaran ini. Apakah mereka tidak pernah membunuh lalat, kecoak, nyamuk yang menggigit mereka atau memotong pepohonan yang juga sama-sama makhluk Allah SWT.? Sama-sama bernafas?  Kebenciannya terhadap aturan Allah SWT yang muncul dengan tulisannya itu sama dengan menyiapkan dirinya untuk mendapatkan adzab Allah di akehrat kelak, walau dia tidak mempercayainya. Bahkan adzab di dunia pun dia apabila terkena pasti tidak mampu menghindarinya, apalagi di akherat kelak.

13. Kutipan: Meditasi membuat Anda sadar akan jati-diri Anda. Kesadaran mengantar Anda ke pencerahan jiwa…Pencerahan jiwa memperluas pandangan manusia. Ia tidak akan berpikir sempit lagi. Pada etape itu, terjadilah dialog antara manusia dan apa yang anda sebut “Tuhan”. Bahkan sebenarnya, pada etape itu jiwa menyatu, bersatu dengan Tuhan, dengan Keberadaan, dengan Alam Semesta. Pada etape itu, sangat sulit memisahkan manusia dari Tuhan, Tuhan dari manusia. Pada etape itu sangat sulit memisahkan, yang mana kata manusia, yang mana firman Tuhan. Hal. 63

Tanggapan:

Ini adalah akidah wihdatul wujud, menyatunya makhluk dengan Tuhan. Kesesatan yang telah lebih dulu dianut oleh Ibnu Arabi, Al-Hallaj tokoh sufi sesat yang dibunuh oleh para ulama tahun 309H/ 922M di jembatan Baghdad. Faham itulah faham kemusyrikan yang sangat diberantas oleh Islam. Pelakunya adalah musyrik, akan kekal di neraka, apabila dia mati belum sempat bertaubat kepada Allah SWT.

14. Kutipan dari cerita Sufi yang ia sebut syarat dengan makna: “…Sewaktu menyemir sepatu hamba yang sudah robek, hamba baru sadar bahwa Ia (Tuhan, Pen.) sebenarnya berada dalam diri hamba sendiri. Sekarang hamba sudah tidak merindukan-Nya lagi. Hal. 66 -71

Tanggapan: Pelecehan terhadap Syari’at dan kenabian Nabi Musa a.s khususnya, sampai digambarkan: seorang gembala sufi yang mengatakan “ingin menyemir sepatu Tuhan, ingin membereskan tempat tidur-Nya dan memberi-Nya anggur serta buah-buah,” si sufi ini dianggap maqomnya di sisi Allah SWT lebih tinggi dibanding Nabi Musa a.s. Ini jelas-jelas melecehkan Nabi Musa as dan syari’atnya dan mengunggulkan kesufian. Sangat bohong dan dusta, seorang Anand Kreshna yang anti penyembelihan qurban tetapi sikap antinya itu ditulis dalam buku yang ia sebut apresiasi (penghargaan) terhadap Al-Qur’an.  Sedangkan menyembelih hewan qurban itu jelas ada di dalam Al-Qur’an (QS 3:183;  5:27; 46:28).

    Demikianlah aneka kesesatan telah mereka sebarkan secara tolong menolong antara yang berfaham pluralisme, hulul (incarnasi, melebur dengan Tuhan), wihdatul wujud (menyatu dengan Tuhan), sedang mereka itu ada yang beragama Hindu, ada yang mengaku Muslim dengan sering menjajakan tasawwuf, dan didukung oleh kelompok Katolik grup Kompas, yaitu Gramedia yang punya cabang di mana-mana.

   Janganlah Ummat Islam terlena sedikitpun dengan kesesatan yang mereka jajakan setiap saat. Sebab, begitu terlena sedikit, kemungkinan kita bisa terseret sejauh-jauhnya, yaitu aqidah kita dari Tauhid menjadi syirik. Dari menuju ke surga berubah jadi ke neraka. Na’udzubillaah!.    Sikap Islam terhadap perusak ataupun penghina Islam.    Setelah kita mencermati aneka kesesatan dan penghinaan yang ditimpakan kepada Islam dan Ummatnya, maka kita perlu menyimak sikap Islam terhadap pihak-pihak yang memusuhi Islam seperti itu sebagai berikut:

Halal Darahnya:

  Apabila seseorang sudah memenuhi syarat sebagai pelaku nabi palsu, atau berperan menghina, menyindir, mencela, atau merendahkan Allah SWT, ayat-ayat-Nya,  Rasul-Nya, dan ajaran Islam; maka ia wajib dibunuh.

    Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah menukil  perkataan Imam Ahmad: “Barangsiapa yang menyebut sesuatu yang mengejek Allah SWT maka wajib dibunuh, baik dia Muslim atau kafir. Inilah pendapat penduduk Madinah.”  (As-Sharim al-Maslul, hal 555).  Beliau juga menukil perkataan Imam Ahmad: “Siapa saja memaki Nabi SAW, baik Muslim atau kafir maka dia wajib dibunuh.” (as-Sharim al-Maslul, hal 558). (Lihat Majalah As-Sunnah, Edisi 09/ Th IV/ 1421-2000, halaman 37).

   Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”  (At-Taubah: 66).

    ‘Anis-Sya’bi ‘an ‘ali RA anna yahuudiyyatan kaanat tasytumun nabiyya SAW wa taqo’u fiihi fakhonaqohaa rojulun hataa maatat fa abthola Rasuululloohi SAW damaha.

   Diriwayatkan dari As-Sya’bi dari Ali RA bahwa ada seorang Yahudi perempuan mencaci Rasulullah SAW, maka seorang laki-laki mencekiknya hingga mati, maka  Rasulullah SAW membatalkan (tebusan) darahnya. (HR Abu Dawud, shahih).

 Ini berarti orang yang mencaci Rasulullah SAW itu halal darahnya/ dibenarkan untuk dibunuh. (Tulisan ini hasil kerjasama para ustadz di LPPI).
 

[1] (Hadits ditakhrij oleh  At-Tirmidzi dan An-Nasaa’i dari Ibnu Abbas, kata At-Tirmidzi ini hadits hasan).

[2]  (HR At-Tirmidzi juz 4 hal 268, dari Ibnu Abbas).

[3] (Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama Masalah Asma’ dan Sifat Allah SWT, terjemahan M Yusuf Harun MA, Percetakan MUS, Jakarta, cetakan I, 1998, hal. 95).

[4]  (Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, ibid, hal. 102).

[5] (ibid, hal 103).

Sumber: Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
– H Hartono Ahmad Jaiz -
- navigasi & konversi ke format html: nono 2005 –

 

www.pakdenono.com