Archives

KISAH NYATA : Tiga hari Berjuang Mengusir Jin

Konon, rumah yang dibeli oleh mertua saya itu dahulunya ditinggali oleh orang Nasrani. Ketika dibeli kondisinya sangat berantakan dan kotor sekali. Sepertinya sudah lama sekali ditinggalkan. Tapi lantaran dijual dengan harga yang cukup murah, akhirnya rumah itu dibeli juga. Ketika itu, dari dua puluh empat rumah dalam satu blok di perumahan, baru tiga rumah saja yang terisi. Jadi kondisinya memang sangat sepi. Apalagi kebetulan posisi rumah saya berada di ujung blok, berbatasan dengan tanah persawahan yang sudah tidak digarap. Tanah itu sudah dibeli pihak BTN, tapi belum dibangun.

Setelah direnovasi ala kadarnya, saya, isteri dan satu anak saya boyongan ke rumah baru itu. Seperti dianjurkan dalam hadis saya membaca surat al-Baqarah sampai tamat bergiliran dengan isteri saya.Beberapa hari selanjutnya kami mulai merasakan suasana yang agak aneh. Sejak menempati rumah itu, anak saya yang waktu itu usianya kurang lebih 6 bulanan, setiap malam menangis histeris. Matanya melotot dan sulit sekali didiamkan. Karena tidak biasanya begitu, saya sudah mulai menduga mungkin ada apa-apa.

Setelah itu, suatu malam, isteri saya bercerita, antara mimpi dan tidak ia melihat di salah satu pojok kamar kami, ada dua sosok makhluk, laki-laki dan perempuan. Keduanya berpakaian kotor, berantakan dan lusuh. Seperti siluet. Saya mulai berpikir, apa iya begitu. Sementara kondisi anak saya tidak berubah juga. Malam berikutnya, isteri mengigau, gelisah dan berteriak-teriak. Lalu saya bangunkan dia dan memintanya untuk beristighfar dan membaca ta’awudz. Tubuh isteri saya berkeringat. la bercerita melihat seperti yang pernah ia sampaikan kepada saya kemarin. Saya berpikir lagi, mungkin rumah ini ada penghuninya, jin. Kejadian lainnya juga banyak, seperti suka ada orang yang berjalan diatas genting, pintu bergerak-gerak sendiri dan sebagainya.

Akhirnya isteri dan anak saya ungsikan sementara ke rumah mertua. Maklum, waktu itu tuntutan pekerjaan saya sering menjadikan saya pulang larut malam. Jadi saya juga khawatir bila terjadi apa-apa dan saya tidak ada di rumah. Apalagi lokasi kantor saya cukup jauh dari rumah, memakan waktu lebih darisatu jam perjalanan. Saya sendiri tetap tinggaldi rumah itu. Saya bertekad untuk menghilangkan gangguan itu.

Sore hari menjelang malam, pulang dari kantor, saya masuki rumah itu dengan mengucapkan “assalamu’alaikum.” Meski sudah malam, sengaja tidak satupun lampu rumah yang saya nyalakan. Jadi gelap sekali. Pikiran saya kalau situasinya terang, mungkin makhluk penunggu itu tidak akan muncul. Saya masuk ke dalam kamar dan saya katakan, sebenamya ini tidak boleh, karena seperti menantang: “Kalau anda penghuni rumah ini, tolong munculkan diri anda. Kalau memang anda ada, tolong jangan ganggu saya dan keluarga saya. Bila Anda tetap mengganggu maka saya akan bakar anda!” Kurang lebih begitu. Setelah itu saya shalat dan membaca al-Qur’an surat ash-Shaffat yang sudah saya hafalkan, ayat kursi dan tiga surat terakhir al-Qu’an, al-Ahad(al-Ikhlas), al-Falaq dan an-Nas. Saya bacakan ayat-ayatitu dengan suara keras.

Malam itu saya bermalam di kamar tersebut. Sambil berdzikir, saya menunggu, tapi tidak ada apa-apa sampai saya akhimya tertidur. Malam keesokan harinya, saya melakukan hal yang sama. Setelah membaca Al-Qur’an, saya pun tertidur. Tapi ketika tengah malam, mungkin sekitar jam setengah dua, saya seperti mendengar ada suara yang memanggil-manggil nama saya. Saya pikir, barangkali mimpi, karena setelah saya bangun, suara itu tidak ada. Saya pun tidur lagi. Tapi tidak berapa lama, suara itu terdengar lagi. Terus saya bangun lagi, dan suara itu tidak ada. Saya menyimpulkan bahwa itu memang mimpi sehingga saya berniat untuk tidur lagi. Tapi tiba-tiba saya merasakan ada angin dingin. Waktu itu sekilas saya melihat bayangan dua makhluk besar, seperti yang pemah dikisahkan oleh istti saya. Yang satu berbentuk seperti laki-laki yang tidak mengenakan baju. Di dadanya tergantung tanda salib. Yang satu lagi perempuan, yang pakaiannya kotor, lusuh dan berantakan. Tak lama kemudian saya seperti melihat bayangan tangan besar dariatas kepala saya yang ingin meraih leher saya. Saya segera tersentak dan duduk, lalu baca ayat kursi, surat ash-shaffat dengan suara keras, “a’uudzu billahi minasyaithaanir rajiim, bismillahirrahmanirrahiiim ….” dan seterusnya. Kemudian saya katakan: “Anda siapa? Keluar dari sini! Kalau tidak saya akan bakar anda dengan ayat-ayat al-Qur’an…” seperti itu lah. Selanjutnya saya terus membaca ayat-ayat tadi berulang-ulan g. Setelah lama, lalu saya katakan lagi, “Kalau besok masih seperti ini juga, akan saya bakar anda dengan al-Qur’an!”

Di hari ketiga, saya melakukan hal yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Dan sepanjang malam tidak ada apa-apa. Sehingga keesokan harinya saya pulang ke rumah mertua untuk menyampaikan, bahwa insya Allah sejak sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi. Tapi tanpa setahu saya mertua saya sudah menghubungi orang pintar. la menyuruh saya mencari tiga telor ayam hitam untuk ditanam di halaman. Terus dia juga bilang bahwa di rumah saya ada tiga jin yang sudah dimasukkan ke dalam botol. Syaratnya itu tadi, telor ayam hitam, juga bunga yang harus ditanam di pojok-pojok rumah. Ketika itu saya diam saja. Tapi selanjutnya saya bilang pada mertua tidak usah panggil orang itu, insya Allah saya sendiri juga bisa. Saya sama sekali tidak membeli telor, apalagi menanamnya. Botol itu juga saya buang saja. Keyakinan saya, pertama, sikap seperti itu termasuk dalam syirik seperti yang pernah saya ketahui dalam hadits Rasulullah. Kedua, ya kalau di masukkan ke dalam botol, sifatnya hanya temporer atau sementara saja. Ketiga, ketergantungan pada materi. Jadi dengan begitu kita seolah tidak percaya diri.

Di malam selanjutnya, seperti biasa saya bermalam lagi dan melakukan hal yang sama. Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Akhirnya anak dan istri saya bawa lagi ke rumah, dan – Alhamdulillah – mereka pun tidak mengalami apa-apa. Saya juga yakin bahwa insya Allah, penghuni yang tadinya mengganggu itu sudah menyingkir.

Pelajaran penting yang saya ambil dari pengalaman ini adalah, sebenamya setiap mukmin itu pasti bisa mengusir jin. Tidak musti berguru ke mana-mana, karena syariat lslam sendiri yang mengajarkan. Pastikan bahwa diri kita itu tidak takut, bukan menantang. Dan, yang pasti, jangan sekali-kali ke dukun, karena bisa terjerumus dalam syirik. Yang penting hubungan kita dengan Allah itu baik.

Sebagaimana manusia, jin ada yang baik dan ada yang buruk. Sebenarnya yang lebih bagus lagi bila kita bisa mendakwahinya, lalu mengajaknya masuk lslam.

Seperti diceritakan Abu Ghazi kepada Tarbawi

Sumber : Majalah Tarbawi Edisi 10 Tahun II

http://metafisis.wordpress.com/2010/11/26/kisah-nyata-tiga-hari-berjuang-mengusir-jin/

Melawan Sihir Kiriman Pejabat

Orang-orang memanggil saya Marjo, lahir di Nganjuk 34 tahun yang lalu. Sejak tahun 1994, saya memiliki banyak kegiatan lintas kabupaten di Jawa timur.Mulai dari Nganjuk hingga Surabaya. Bepergian dengan sepeda motor Surabaya – Nganjuk sebanyak dua kali adalah rutinitas mingguan. Namun, sejak tahun 1998 saya mengurangi kegiatan luar kota, karena suatu seab yang saat itu belum saya sadari. Saya lebih banyak aktif di Nganjuk dan mendirikan LSM yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Hasilnya, banyak kecurangan pejabat yang terbongkar.Namun, rupanya mereka tidak rela kecurangannya diketahui banyak orang. Dan dengan cara kejam mereka membalas dendam. Dengan melakukan apa yang sering orang sebut dengan melakukan santet. Dua orang aktifis LSM meninggal. Sungguh licik memang.

Saya sendiri, sejak tahun 1998 sering masuk angin dan mual-mual. Awalnya saya beranggapan itu hanya karena terlalu capek. Ya, capek mengendarai motor Surabaya – Nganjuk dua kali seminggu. Tidak ada pilihan lain saya harus mengurangi aktifitas luar kota, bila tidak ingin merugikan pihak lain. Padahal, saat itu aktifitas saya di Surabaya bisa dibilang padat.

Beberapa aktifitas saya antara lain adalah menjadi Direktur Pendidikan sebuah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu pengetahuan di Surabaya. Menjadi tutor atau dosen di berbagai lembaga Pra Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Mengajar di sebuah Yayasan di Surabaya. Menjadi Pembina karya ilmiah remaja dan jurnalistik di berbagai SMU di Surabaya. Serta mengasuh sebuah media remaja juga di Surabaya 1998-2000.

Melihat kondisi kesehatan yang semakin memburuk, akhirnya pada tahun 2000 saya putuskan untuk meninggalkan semua aktifitas di Surabaya.

Meskipun, aktifitas saya tidak sepadat dulu. Namun, masuk angin dan mual-mual tak kunjung sembuh. Sudah tak terhitung dokter di Nganjuk dan Surabaya yang saya datangi. Tapi saya heran, ternyata diagnosa dokter berbeda-beda. Ada yang mengatakan sakit liver dan ada yang bilang sakit jantung. Saya tidak tahu dokter siapa yang benar. Akhirnya, untuk menenangkan hati dan mempermudah proses penyembuhan saya menjalani berbagai macam pemeriksaan penyakit dalam seperti jantung, asam urat dan lambung. Sungguh di luar dugaan. Ternyata diagnosa para dokter itu tidak benar. Saya tidak menderita sakit seperti yang mereka katakan.

Merasakan Adanya Perubahan Sikap

Semakin hari penderitaan saya tak kunjung berkurang. Bahkan sebaliknya penyakit itu mulai menggerogoti ruhiah saya. Ya, jiwa malas semakin bertambah. Kebiasaan shalat lima waktu berjama’ah di masjid sejak kecil, akhirnya saya tinggalkan. Sehabis maghrib dan shubuh yang biasanya membaca Al-Qur’an satu hingga tiga juz semakin jarang saya lakukan. Bahkan saya mulai lupa membaca Hizb (doa perlindungan) menjelang tidur. Saya juga sering menolak undangan pengajian remaja dan ceramah walimatul ‘ursy dengan alasan takut sakit saya kambuh pada saat pelaksanaan acara.

Bukan hanya itu, saya juga mulai malas menulis karya ilmiah maupun artikel. Padahal, juara nasional penulisan buku Geografi pernah saya raih. Waktu itu saya menghubungkan Geografi dengan isi kandungan Al-Qur’an. Sebuah terobosan baru dalam kurikulum pendidikan nasional.

Memasuki tahun 2003, sakit saya semakin parah hingga harus dirawat di rumah sakit sampai tiga kali. Rawat inap pertama terjadi pada bulan Januari. Seperti biasa, banyak keluarga dan teman saya yang menjenguk sambil mambawa minuman. Saya tidak curiga apa-apa, minuman itu langsung saya minum. Tak lama kemudian, perut saya semakin nyeri, seakan diaduk-aduk. Bahkan sepulang dari rumah sakit saya tidak mampu lagi membaca Al-Qur’an walau satu ayat, badan terasa lemas dan shalat pun gemetaran.

Pada bulan Februari, saya harus kembali rawat inap di rumah sakit selama dua minggu. Kejadiannya tidak jauh berbeda dengan rawat inap sebelumnya. Hari-hari berikutnya saya suka marah. Namun saya tidak tahu mengapa suka marah, padahal sebelumnya saya termasuk tipe penyabar dan mudah bergaul. Pernah suatu saat saya mendamprat teman-teman di kantor, hanya karena masalah sepele. Begitu juga di rumah saya sering marah-marah. Seolah-olah mulut ini ada yang menggerakkan.

Terus terang, selama sakit bertahun-tahun itu saya tidak pernah pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mencari penyembuhan, atau mencari jampi-jampi dari si A atau si B yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang di daerah saya. Saya hanya pergi ke tempat praktek dokter yang lebih bersifat rasional. Namun, tanpa sepengetahuan saya beberapa keluarga dan teman baik saya yang melakukan upaya-upaya penyembuhan dari jampi-jampi itu, tanpa memberitahu saya. Dengan tidak menafikan niat baik mereka yang menginginkan kesembuhan saya, saya sangat menyesal akan hal itu.

Memang, ujian yang bertubi-tubi itu semakin mendewasakan dan menyadarkan saya bahwa kekuatan manusia ada batasnya. Ada satu kekuatan yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha segala-galanya yaitu kekuatan Allah. Akhirnya, saya sepakat dengan istri saya untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Bukan berarti saya tidak berusaha dan hanya diam berpangku tangan. Tidak.

Harapan itu Masih Ada

Awal Juni itu, saya teringat dengan kaset dan buku Ruqyah dan Do’a, kiriman dari kemenakan saya, Rahmat, yang tinggal di Batam. Saya baca dan saya pelajari isinya. Ternyata, buku tipis itu sesuai dengan keyakinan saya yang tidak percaya pada Tahayul, Khurafat dan Bid’ah. Terbayang kembali beberapa peristiwa yang mengundang tanya beberapa bulan sebelumnya.

Pertama, ada kejadian aneh yang menimpa istri saya. la tidak menstruasi selama tiga bulan. Padahal secara ilmiah seharusnya ia tidak hamil. Kedua, kebalikan dari yang pertama istri saya menstruasi selama tiga bulan berturut-turut. Dan ketiga, kedua anak saya yang berumur tiga dan dua tahun menderita sakit secara bergantian. Setelah saya bawa ke dokter akhirnya mereka sembuh. Namun, selang beberapa hari kemudian giliran saya yang sakit. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.

Daftar peristiwa demi peristiwa itu semakin menambah keyakinan bahwa saya terkena semacam santet atau gangguan jin. Akhirnya, saya mulai melakukan persiapan lahir dan batin. Seperti yang tersebut dalam buku Ruqyah dan Do’a. Saya cari benda-benda syirik yang ada di rumah lalu saya bakar semuanya.

Setelah saya perkirakan semuanya beres, saya mulai mendengarkan kaset Ruqyah dan Do’a lalu mengikuti bacaannya. Di luar perkiraan, ternyata saya bisa membaca Al-Qur’an kembali. Kemudian saya semakin intensif mendengarkan kaset ruqyah. Bisa dikatakan hampir dua puluh empat jam selama dua pekan. Hanya berhenti ketika tape sudah panas.

Setelah itu, timbul reaksi yang tidak terduga. Badan saya seakan digoyang-goyang.”Apakah saya sakit jantung?” saya bertanya-tanya. Untuk memastikannya saya opname di rumah sakit untuk ketiga kali sambil terus mendengar kaset ruqyah. Perawatan di rumah sakit, rupanya bukanlah tempat yang pas buat penderitaan seperti yang saya alami. Selama di rumah sakit terus terang- tidak ada perubahan, bahkan reaksi dari santet itu semakin kuat. Akhirnya saya pulang ke rumah dan melanjutkan ruqyah melalui kaset. Tak lupa saya mengintensifkan shalat malam.

Menakjubkan, tangan saya bergerak sendiri dan menunjuk ke sana kemari tanpa digerakkan dengan syaraf motorik. Awalnya saya takut juga, “Kok bisa bergerak sendiri?” Saya pun meminta petunjuk kepada Allah. Saya sadar sepenuhnya bahwa badan yang luar seharusnya bersih terlebih dahulu sebelum diruqyah, baik pikiran maupun lingkungan. Dalam dua hari saya mencari benda-benda syirik seperti kemenyan, rajah, garam dan jimat di lingkungan rumah dan pekarangan. Saya cari buku-buku yang agak ‘porno’ dan pakaian yang tidak pantas dipakai. Saya kumpulkan dan saya bakar semuanya.

Subhanallah, setelah mendengar kaset Ruqyah dan Do’a, tangan saya bisa mencari benda-benda syirik dengan mata terpejam. Hanya dengan panduan dzikir. Tangan saya pernah menemukan kemenyan yang disembunyikan di selokan. lnilah kekuasaan Allah.

Dua hari berikutnya benda-benda syirik itu minta dipulangkan ke majikannya. Tangan saya menunjuk kesana kemari. Sebab jin itu kepanasan. Akhirnya, saya sebutkan nama kiai satu persatu. Bila disebut nama si A, ia mau dan bila di sebut nama si B, tidak mau. Berarti benda sihir itu miliknya si A. Kemudian saya bentak-bentak dan saya pukuli tangan saya.

Begitulah, hingga pada suatu hari, waktu itu hari Sabtu, saya menemui Ustadz Fadzlan di kota Gede, Yogyakarta. Saya minta diruqyah dan nasehat. Setelah dimotivasi dan disuruh banyak berdzikir saya pulang ke rumah.

Kejadian Saat Ruqyah Mandiri

Sewaktu di rumah Ustadz Fadzlan saya tidak mengalami apa-apa. Tapi setelah tiba di rumah saya bisa dialok dengan jin yang masuk ke tubuh saya. Dengan cara memijit tempat yang sakit. Begitu dipijit jin berkata, “Aduh.” Kemudian saya tanya lagi, “Darimana kamu?” ‘Dari pejabat yang mencari kami (sekelompok jin).” Lalu jin itu menyebut tiga tempat. Dua di Jawa Timur dan satu lagi di daerah Jawa Barat.

“Kami sudah menyerangmu sebanyak delapan kall,” demikian jin itu menambahkan. Akhirnya saya bentak lagi, “Saya tidak peduli, yang penting kalian harus keluar.’ Akhirnya keluarlah jin-jin itu. Menurut pengakuannya, jumlah mereka empat, lalu disusul tiga temannya. Yang terakhir keluar adalah jin yang katanya berupa ular.

Besoknya ada lagi jin yang masuk. Ternyata ketika saya sedang dirawat di rumah masih ada orang yang tega mengirim sihir kembali. Saya bentak jin itu dan saya suruh membaca “Allahu Akbar.” Terakhir, setelah saya shalat hajat muncul lagi jin yang mengaku malaikat. “Saya malaikat yang menuntun manusia,” katanya. Dia mengaku malaikat Mikail dan Jibril. Saya katakan, “Tidak ada malaikat yang mengganggu manusia. Ayo, kalau kamu malaikat katakan, Allahu Akbar lima kali.” Demikian saya menantangnya. Akhirnya, baru mengucapkan takbir tiga kali saja jin itu sudah tidak mampu dan hilang tak bersuara.

Ketika dialog dengan jin saya membaca, ayat yang artinya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin : 6).

Juga ayat yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikutijalan yang bukan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam. Sesungguhnya neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Sebenarnya, selama dialog itu saya sempat terkecoh juga. Karena ada jin yang memuji, “Kamu itu hebat, tidak mempan sama sekali digini-ginikan (disihir dengan berbagai cara). Dan ‘kiai’ di Nganjuk itu sudah kalah dengan kamu semua.”

Ya, saya manusia normal yang terkadang terkecoh oleh indahnya pujian. Namun, saya cepat istighfar dan menyadari bahwa ini semua adalah bagian dari tipu daya syetan. Secara umum, jin yang menganggu saya terbagi menjadi tiga kelompok. Anehnya, setiap jin itu berbicara seperti suara orang-orang yang mengutusnya.

Pertama adalah jin kiriman enam orang pejabat yang balas dendam atas terbongkarnya kecurangan mereka dalam birokrasi. Demikian besarnya kemarahan mereka hingga ada seorang pejabat yang sangat intensif mengirimkan jin sampai delapan kali.

Jin kiriman pelabat itu mengaku berasal dari beberapa wilayah yang terkenal sebagai daerah perdukunan di Jawa Timur, juga dari sekitar Nganjuk sendiri. Memang, suara-suara jin itu persis dengan suara orang-orang yang saya kenal.

Kedua adalah orang yang kerjaannya memang mengirim sihir. Katanya ia merasa tersinggung sebab ia pernah saya tindak tegas ketika tertangkap mencuri barang-barang milik tetangga

Ketiga adalah seorang pemuda yang jatuh hati pada istri saya. Meskipun saya tidak mengenalnya. Pemuda itu sempat beberapa kali mengirim sihir. Pertama, ia menggunakan sihir pelet untuk menghalangi pernikahan saya dengan istri saya. Kedua, mengirim sihir dengan menggunakan (maaf) celana dalam wanita yang masih baik tetapi dikotori. Benda sihir itu di belakang rumah saya.

Sekarang, setelah mereka melihat saya dalam keadaan sehat, seakan sihir mereka yang beruntun itu tidak mampu menembus. Mereka menjadi kalang kabut. Bahkan orang yang suka melakukan sihir yang sering disebut orang dengan mengirim tenung yang rumahnya tidak tidak seberapa jauh dari rumah saya, mengetahui kalau dua benda sihir kirimannya itu saya cari dan dan ketemu lalu saya bakar. Mengetahui sihirnya gagal, ia mengirim sihir kembali. Setelah, itu badan saya bereaksi kembali, reaksi yang mengindikasikan datangnya sihir. Lalu saya cari, dan ketemu. Ternyata, ada pagar yang melingkar, saya bakar lagi. Keesokan harinya ia mengirim kembali. Saya cari lagi. Rupanya ada kerikil yang nyasar di tembok. Kemudian saya bakar. Tak terasa dua hari saya perang dengan sihirnya. Saya berdo’a, semoga Allah memberinya hidayah.

Saya bersyukur kepadaAllah SWT, ujian yang saya alami beberapa tahun itu membuka kesadaran saya akan Keagungan wahyu Allah. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan benteng paling kuat mempertahankan diri dari serangan jin. Senjata paling ampuh melawan dan melumpuhkan mereka. Jangan biarkan diri terkecoh tipu daya syetan yang berlindung dibalik manisnya kata. Dan bertopeng manusia.

Saya sangat sadar bahwa hanya dengan penyerahan diri kepada Allah dan tunduk kepada perinah dan larangan-Nya kita bisa selamat dari tipuan syetan apapun bentuknya. Jin adalah makhluk lemah dihadapan orang yang benar aqidahnya, baik pekertinya. Sebaliknya jin menggoda orang-orang yang lemah imannya. Karena itu, marilah kita membentengi diri dengan meningkatkan iman dan amal baik.

http://metafisis.wordpress.com/2010/11/26/melawan-sihir-kiriman-pejabat/

Inilah Penguasa Gunung Merapi dan Laut Selatan

Oleh : Ibnu Fauzy

Sebagian orang meyakini bahwa gunung merapi dan laut selatan dijaga atau dikuasa oleh lelembut yang “mbahureksa” menguasai dan mengatur apa-apa yang ada di kedua tempat tersebut.

Pada gunung merapi, mereka mayakini bahwa gunung merapi dikuasai oleh eyang merapi yang merupakan raja dan wakilnya bernama eyang sapu jagat, kedua eyang ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai Penunggu kawah Merapi inilah yang memegang kunci meledak atau tidaknya gunung tersebut.

Mereka diyakini membawahi beberapa lelembut lain yang tugas masing-masing. diantaranya yakni Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat. Eyang Megantara, Pemuka dedemit yang diyakini berdiam diri di puncak Merapi diyakini mengendalikan cuaca dan mengawasi sekitar kawasan Merapi. Nyi Gadung Melati, diyakini menjaga kesuburan tanaman gunung. Eyang Antaboga, diyakini tugasnya selalu menjaga keseimbangan gunung agar tidak melorot tenggelam kedasar bumi. Kyai Petruk diyakini memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Merapi, mereka percaya dipundak jin inilah keselamatan penduduk tergantung. Kyai Sapu Angin diyakini mengatur arah angin. Kyai Wola-Wali diyakini mengatur teras keraton Merapi. Kartadimejo, diyakini sebgai komandan pasukan mahkluk halus sekaligus menjaga ternak serta satwa gunung, termasuk memberi kepastian kepada penduduk tentang kapan tepatnya Merapi meletus.

Demi menjaga kemarahannya, setiap tahun sekali Kraton Yogyakarta menyelenggarakan ritual labuhan yang di persembahkan kepada mereka.

Adapun laut selatan diyakini dikuasai oleh ratu pantai selatan atau biasa disebut nyi roro kidul. yang diyakini jelmaan putri raja yang kemudian orang2 meyakini bahwa dia yang mengatur apa yang terjadi di laut selatan..

Lihatlah, betapa mereka meyakini ada mahluk2 yang mempunyai kekuatan untuk mengatur alam, bahkan menentukan meletus atau tidaknya suatu gunung, memberi rejeki, barokah dan juga bala bencana, mengatur hujan dan keseimbangan alam serta menjamin rejeki mahluk disekitarnya, BUKANKAH INI ADALAH KESYIRIKAN YANG NYATA ??

Apakah mereka lupa tentang pelajaran sewaktu SD bahwa Allah lah yang menguasai alam semesta ini, Allah lah yang menguasai langit dan bumi beserta apa-apa yang ada didalamnya, Allah lah yang memberi rizki, Allah lah yang mendatangkan manfaat dan mudharat !!

lantas kenapa mereka begitu cepat rusak akidahnya dan menyamakan jin-jin itu dengan Tuhan yang mengatur semuanya ??

Kayakinan Mereka lebih Jelek dari Musyrikin Qurasy !

Ingatlah ketika musyrkin Qurasy ditanya siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang memberi rizki, siapakah yang mengatur alam, siapakah Tuhan semesta alam, mereka menjawab : Allah !!

Namun ketika kita bertanya kepada mereka, siapakah yang menguasai Gunung Merapi dan laut selatan ? niscaya mereka akan menjawab dengan kesyirikan mereka itu !! Bukankah ini lebih jelek dari keyakinan musyrikin Qurasy ??

Jawaban musyrikin Qurasy ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pengingat buat kita.

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” [QS. Ar-Ra’d : 16].

Dan juga firman-Nya :

قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ * قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ * قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [QS. Al-Mukminun : 84-89].

Demikian pula pengakuan mereka (orang-orang Quraisy) ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi ? Dan siapa Rabb langit dan bumi ? Mereka akan mengatakan : ”Allah”. Sebagaimana firman Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

”Dan jika kamu bertanya kepada mereka : Siapakah yang menciptakan tujuh langit dan bumi. Pasti mereka akan mengatakan : Allah” [QS. Luqman : 25].

Demikian pula pengakuan mereka (orang-orang Quraisy) ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi ? Dan siapa Rabb langit dan bumi ? Mereka akan mengatakan : ”Allah”. Sebagaimana firman Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

”Dan jika kamu bertanya kepada mereka : Siapakah yang menciptakan tujuh langit dan bumi. Pasti mereka akan mengatakan : Allah” [QS. Luqman : 25].

Musyrikin Qurasy ketika dalam musibah mereka berdo’a kpd Allah, namun ketika diberi kemudahan mereka kembali kpd berhala mereka, namun, orang-orang pemuja dedemit ini, baik disaat susah ataupun senang mereka berikan pemujaan kepada dedemit-dedemit itu ? mana yang lebih jelek ??

“Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”Yunus ayat 22

Mereka telah menyembah kepada selain Allah..

Mereka takut melebihi takut kepada Allah, mereka harap melebihi harap kepada Allah dan mereka mencintai sesembahan mereka melebihi kecintaan mereka kpd Allah.Mereka berikan peribadatan kepada selain Allah, berdo’a kepada selain Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesem-bahan yang haq melainkan Dia. Yang Mahapemurah lagi Maha-penyayang” [Al-Baqarah: 163]

“Artinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar” [Al-Hajj: 62]

“Artinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengam-bil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Fur-qaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit. Dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat..” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]

Mereka mengingkari bahwa Allah lah yang menjamin rizki semua mahluk-Nya.

“Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, …” [Hud : 6]

Mereka jugaberdo’a memohon pertolongan kepada selain Allah.. Padahal Allah berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” [QS. Al-Fatihah : 5].

Apa yang mereka sembah selain Allah tidak dapat sedikitpun memberi manfaat dan mudhorat kepada mereka..

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah” [QS. Huud : 101].

sesembahan mereka itupun tidak mampu menolong diri mereka sendiri ..

“Patutkah mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tak dapat menciptakan apa-apa? Padahal selain Allah itu adalah ciptaan(Nya). Dan sembahan-sembahan selain Allah itu tidak mampu memberi pertolongan kepada orang-orang musyrik, dan kepada dirinya sendiri pun sembahan-sembahan itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al-A’raf: 191-192)

Bahkan sesembahan mereka itu tidak memiliki walau setipis kulit ari..

“… Dan sembahan-sembahan yang kamu seru, selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu; kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu; dan pada hari Kiamat mereka mengingkari kemusyrikanmu, dan tiada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

Mereka percaya bahwa ada sebagian mahluk yang mengetahui yang ghaib selain Allah, padahal Allah berfirman :

Allah berfirman dalam Surat Al-An’am 59
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”

Allah jalla jalaluhu juga berfirman dalam Surat An-Naml:65

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”,

Dan jin tidak mengetahui yang ghaib, dalilnya adalah firman Allah dalam surat Saba’:14
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan”

“(Dia Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Qs. Al-Jin: 26-27)

Bahkan Nabi saja tidak tahu tentang yang ghaib kecuali sebatas yang diwahyukan kepadanya..

“Katakanlah, “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?”(Qs. Al-An’aam:50)

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)?. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar.” (An Naml ayat 60-64)

Nama- nama dedemit yang mereka sembah adalah tipu daya syaitan untuk menggelincirkan mereka ke lembah jahanam, sama dengan nama-nama berhala yang dahulu diada-adakan..

“Artinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…”[Yusuf: 39-40]

Jika mereka dinasihati niscaya mereka akan mengatakan : kami hanya meniru apa yang dilakukan oleh oarng tua kami, leluhur kami, turun termurun telah jadi tradisi..

Apakah kalian ingin tersesat sebagaimana syaitan telah menyesatkan bapak-bapak kalian ??

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 170:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

Dan lihat keadaan kaum Nabi Sholih ‘alaihissalam:

قَالُوا يَاصَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا

“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?” (QS. Hud: 62)

• Juga perhatikan kaum Nabi Ibrahim ‘alahissalam:

قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (QS. Asy Syuara`: 73)

Ancaman bagi orang yang berbuat syirik :

1. Amalan mereka tertolak

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

2. tidak diampuni dosanya jika meninggal belum bertaubat.

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 116)

3. Haram baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka..

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Musibah yang terjadi akibat ulah mereka sendiri..

“Dan musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang.” (QS. Asy Syura [42]: 30).

Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua untuk menjauhi perbuatan syirik, dan mentauhidkan Allah dengan tanpa dikotori noda syirik, amiin.

http://metafisis.wordpress.com/2010/11/14/inilah-penguasa-gunung-merapi-dan-laut-selatan/

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menilai Sosok Mbah Maridjan ?

Selain meletusnya Gunung Merapi, kematian Mbah Maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir – akhir ini dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai Kuncen (juru kunci,ed)Gunung Merapi dan menjadi korban panasnya debu vulkanik Gunung Merapi. Apalagi diberitakan bahwa dia meninggal dalam keadaan sujud(bukan sujud ke arah qiblat tapi ke arah selatan, ed). Dan tidak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, keberanian dan berbagai alasan lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar di atas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang benar setelah hidayah taufiq dari Allah menilai sosok Mbah Maridjan ? Insya Allah penjelasan sederhana berikut ini akan menjadi penjelas bagaimanakah seharusnya seorang muslim menilai seorang Mbah Maridjan

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permasalahan agama. Cukup dengan mengetahui bahwasannya Mbah Maridjan sebagai seorang “Kuncen” Gunung Merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok Mbah Maridjan dengan benar serta tidak memuji dan mengaguminya. Karena dibalik kata Kuncen terdapat keyakinan – keyakinan sesat, keyakinan -keyakinan syirik. Diantara hal – hal yang menunjukkan kesyirikan yang dilakukan Mbah Maridjanakan dijelaskan dalam beberapa point berikut ini.

1. Mbah Maridjan meyakini ada yang dapat menjadi Rabb selain Allah

Mbah Maridjan menyakini bahwa Gunung Merapi mempunyai penunggu, penguasa (selain Allah), dan bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar. Karena keyakinan itulah Mbah Maridjan melakukan taqarub (pendekatan diri)dengan memberi sesajen dan yang lainnya agar penunggu atau penguasa Gunung Merapi tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Hal ini tentunya merupakan perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang sangat jelas. Diantara perbuatan kesyirikan lainnya yang dilakukan Mbah Maridjan adalah ritual Tapa Bisu dan Labuhan Merapi.Labuhan Merapi adalah ritual tolak bala (memohon agar tidak terjadi hal yang jelek) dengan membuang berbagai macam barang keraton berupa keris dan lainya.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah : “Syirik adalah menjadikan sekutu (atautandingan) bagi Allah di dalam rububiyah-Nya (penciptaan, pengaturan, pemberian manfaat danmudharat / bahaya) dan uluhiyah-Nya (dalam peribadahan kepada Allah)” (Aqidah Tauhid SyaikhShalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ”Bahkan syirik adalah dengan mengalihkan sesuatu yangmerupakan kekhususan Allah diarahkan kepada selain Allah“ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas :18 )

Termasuk kekhususan Allah dalam rububiyah-Nya yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat atau mudharat (bahaya), dan lain sebagainya. Sedangkan Mbah Maridjan telah membuat tandingan bagi Allah di dalam rububiyah-Nya ketika menyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yaitu penunggu Gunung Merapi yang dapat memberikan manfaat dan mudharat.

Padahal Allah Subhaanahu Wata’ala telah berfirman :

الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu” (QS. Az-Zumar : 62)

Artinya : “Katakanlah : “Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atausiapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkanyang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab : “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرّ فَل كَاشِفَ لَهُ إل هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَل رَادّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ”Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرّ فَل كَاشِفَ لَهُ إِلّ هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ”Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapatmenghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepadamu, maka Dia MahaKuasa atas segala sesuatu ” ( Qs. Al – An’am : 18 )

أَيُشْرِكُونَ مَا ل يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَل يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَل أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“Mengapa mereka mempersekutukan Allah dengan berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun ? Padahal berhala itu sendiri diciptakan. Dan berhala itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan”. (Qs. Al A’raaf : 191-192)

Berkata Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah ketika menjelaskan Surat Al A’raaf ayat 191-192 di atas : “Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Hal ini merupakan pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah, penj). Mereka menyembah sesuatu yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan sesembahan itu sendiri diciptakan. Bagaimana bisa mereka memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal, atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj), atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka. Di dalam ayat ini terkandung empat sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu :

1. Bahwasannya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu. 2. Bahwasannya mereka merupakan makhluk yang diciptakan. 3. Bahwasannya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya. 4. Bahwasannya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri.”

( Syarhu Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )

2. Mbah Maridjan mengakui mengetahui hal yang ghaib

Mbah Maridjan mengaku mendapat wangsit kapan Gunung Merapi akan meletus dari penunggu Gunung Merapi atau Mbah Merapi, dan memastikan meletus atau tidaknya Gunung Merapi, dan yang lain sebagainya.

Sedangkan Allah Subhaanahu Wata’ala telah berfirman :

إِنّهُمُ اتّخَذُوا الشّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنّهُمْ مُهْتَدُونَ

”Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya Gunung Merapi termasuk Mbah Maridjan yang katanya mendapat wangsit itu dan orang – orang yang mengikutinya.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

قُلْ ل يَعْلَمُ مَنْ فِي السّمَوَاتِ وَالرَْضِ الْغَيْبَ إِلّ اللهُ

“Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (Qs. An-Naml : 65)

Berkata Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah : “Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Pada sisi Allah-lah kunci – kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Dan tidak sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula. Dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya hanya di sisi Allah-lah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim …” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam ilmu-Nya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat ataupun nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)

3. Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang Mbah Maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang Mbah Maridjan bahwa dia disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa, dan membaca Al Qur’an, akan tetapi disisi lain dia juga menyembah sesuatu selain Allah dengan berbagai macam ritual diantaranya menyediakan sesajen kepada sesuatu yang diyakini sebagai penunggu atau penguasa Gunung Merapi. Hal ini jelas merupakan perbuatan kesyirikan dan kekufuran yang bermula dari kesyirikan dalam rububiyah Allah (telah dijelaskan dalam point pertama, ed) dan berakibat pada perbuatan syirik dalam uluhiyyah Allah.

Islam adalah agama tauhid, yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kita beribadah kepada selain Allah. Baik itu kepada gunung, jin, atau selain mereka. Bahkan tauhid adalah inti agama dan dakwahnya para Rasul.

Allah Ta’ala Berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنّ وَالِنسَ إِلّ لِيَعْبُدُونِ

Artinya : ”Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : “Segala sesuatu ibadah yang ada di dalam Al -Qur’an,memiliki makna tauhid” (Tafsir Al Baghowi, dinukil dari Syarh Qawaidul Arba’ Syaikh Khalid Ar Radadi)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَل تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

إِيّاكَ نَعْبُدُ وَإِيّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Qs. Al Fatihah : 5)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلّ أُمّةٍ رَسُولً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطّاغُوتَ

”Dan sunnguh Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut” ( Qs. An Nahal : 36 )

Berkata Asy Syaikh Al ‘Alaamah Shalih Al Fauzan hafidzahullah : ”Faidah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik” ( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 11 )

Demikian tadi diantara ayat – ayat yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang untuk beribadah kepada selain Allah. Maka apabila seorang mencampur ibadahnya dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dengan kesyirikan yang besar atau beribadah dengan tanpa tauhid maka sia-sialah amalannya.

Berkata Syaikhul Islam Muhammad An-Najdi Rahimahullah : ”Ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah dinamakan sebagai sebuah ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid (pelakunya hanya beribadah kepada Allah semata -pen) sebagaimana tidak dikatakan sholat kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Maka apabila syirik masuk ke dalam ibadah akan membatalkan ibadah sebagaimana hadas apabila masuk ke dalam thaharah “ (Qawaidul Arba’)

Berkata Asy Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah : “Apabila kamu telah mengetahui bahwasannya ibadah tidak diterima kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah semata (mentauhidkan Allah, ed). Demikian halnya sholat tidak diterima kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Maka beribadah hanya kepada Allah semata (tauhid, keikhlasan) merupakan syarat diterimanya ibadah. Demikian juga thaharah (suci) merupakan syarat dari sahnya shalat, dimana tidak sah shalat kecuali dalam keadaan suci (thaharah). Walau seandainya terdapat bekas sujud di dahinya, di siang hari mengerjakan puasa dan di malam hari mengerjakan shalat. Hal ini dikarenakan syarat diterimanya semua ibadah tersebut adalah dilakukan oleh seorang muwwahid (orang yang hanya beribadah kepada Allah semata) yang ikhlas.”

Allah Jalla wa’alaa berfirman :

وَلَ قَدْ أُوحِ يَ إِلَيْ كَ وَإِلَ ىَ الّ ذَِينَ مِ نَْ قَبْلِ كَ لَئِ نَْ أَ شَْرَكْتَ لَيَحْبَطَ نَّ عَمَلُ كَ وَلَتَكُ وَنَنّ مِ نَ

الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشّاكِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi – nabi yang sebelummu, sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. Karena itu hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur” ( Qs. Az Zummar : 65-66 )

Allah Jalla wa’alaa berkata kepada orang kafir

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami perlihatkan segala amal (kebaikan) yang telah mereka (orang kafir) kerjakan, lalu kami jadikan amalan itu bagaikan debu yang berterbangan (tidak diterima)” (Qs. Al Furqan : 23). Selesai perkataan Ast Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam Syarah Al Qawaidul Arba’ : 11

4. Mbah Maridjan menjadikan Gunung Merapi sebagai perantara doanya terhadap Allah

Diantara salah satu perkataan Mbah Maridjan yang menunjukkan hal ini adalah ketika berkata kepada wartawan detik.com saat ditemui di rumahnya (Kamis, 18/5/2006) Mbah Maridjan berkata : “Saya di sana berdoa, minta kepada Allah dengan ‘lantaran’ Merapi”.

Kemudian kita tengok perkataan seorang ulama yang menjelaskan tentang perbuatan – perbuaan yang dapat membatalkan ke-islaman seseorang. Berkata Syaikhul Islam Muhammad An-Najdi Rahimahullah : “Barangsiapa yang menjadikan adanya perantara antara dirinya dengan Allah, mereka berdoa, meminta syafaat dan bertawakal kepada perantara tersebut maka dia telah kafir menurut kesepakatan para ulama “ (Kitab Nawaqidul Islam)

Dalil tentang hal ini adalah firman Allah Ta’ala

أَل لِلّ هَِ ال دَّينُ الْخَالِصَُ وَالّ ذَِينَ اتّ خَذُوا مِنَْ دُونِ هَِ أَوْلِيَ اَءَ مَا نَعْبُ دَُهُمْ إِلّ لِيُقَرّبُونَ اَ إِلَىَ الل هَِ

زُلْفَى إِنّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنّ اللهَ ل يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفّارٌ

“ Ingatlah! hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung berkata : “Kami tidak menyembah mereka melainkan berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Dan sungguh Allah akan memberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan, sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk kepada seorang pendusta dan orang yang kafir” (Qs. Az Zumar : 3 )

Pada ayat yang mulia ini Allah memerintahkan kita untuk beibadah kepada Allah semata, mengikhlaskan agama dan ketaatan hanya untuk-Nya, tetapi mereka justru menyembah selain Allah dengan cara menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah di dalam peribadahan kepada-Nya. Yang mereka menyembah perantara itu dengan berbagai macam ibadah. Kemudian Allah mengatakan tentang mereka di akhir ayat, yaitu sebagai seorang pendusta lagi kafir.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain

وَيَعْبُدَُونَ مِنَْ دُونَِ اللهَِ مََا ل يَضَُرّهُمْ وَل يَنْفَعُهُمَْ وَيَقُولُوَنَ هَؤُلءِ شَُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهَِ قُلَْ

أَتُنَبّئُونَ اللهَ بِمَا ل يَعْلَمُ فِي السّمَوَاتِ وَل فِي الرَْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami dihadapan Allah.” Katakanlah : “Apakah kamu akan memberitahu Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang ada di langit dan di bumi (padahal Allah mengetahui semuanya) ? Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu” (Qs. Yunus : 18 )

Pada ayat ini Allah mensucikan diri-Nya sendiri dari perbuatan syirik yang mereka kerjakan yaitu menjadikan perantara antara diri mereka dan Allah dengan beribadah kepada perantara tersebut. Baik perantara itu berupa berhala, orang ataupun gunung. Lalu Allah mengatakan tentang orang yang melakukan perbuatan tesebut diakhir ayat dengan perkataan “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu”. Allah mengatakan perbuatan mereka sebagai perbuatan syirik, menyekutukan Allah.

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang dosa syirik (menyekutukkan Allah) :

إنِّ اللهَ ل يَغْفِرُ أنَْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى

إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, sungguh dia telah mengerjakan dosa yang besar.” (Qs. An – Nisa : 48)

مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنّةَ وَمَأْوَاهُ النّارُ وَمَا لِلظّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya : “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah di Neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang – orang dzalim itu.” (Qs. Al Maidah : 72)

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi” (Qs. Az Zummar : 65-66)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan “ (Qs. Al Furqan : 23)

Kesimpulan

Insya Allah dari penjelasan di atas kita bisa menilai sosok Mbah Maridjan dengan penilaian yang benar berdasarkan ilmu dan bukan atas kebodohan atau ketertipuan dari pengaruh media massa. Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil diantaranya bahwa :

1. Ternyata Mbah Maridjan adalah seorang yang melakukan kesyirikan di dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, baik kesyirikan yang besar atau yang kecil. 2. Begitu juga dia mengaku mengetahui perkara yang ghaib (kapan meletusnya Gunung Merapi) padahal yang mengetahui perkara yang ghaib hanyalah Allah semata. Dan perbuatan – perbuatan syirik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Dengan kesimpulan ini, apakah masih ada yang menilai Mbah Maridjan sebagai seorang yang shalih, patut dijadikan teladan, dipuji, dan dikagumi ?

Berkata Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin ketika menjelaskan pengertian orang yang shalih : “Orang shalih adalah orang yang menunaikan hak Allah dan hamba – hamba-Nya” (Syarh Kasyfu Subhaat). Hak Allah yang terbesar adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah semata. Kalau hak Allah yang terbesar saja tidak dipenuhi oleh Mbah Maridjan apakah dia pantas dikatakan sebagai seorang shalih dan dianggap mati dalam keadaan khusnul khatimah (kesudahan yang baik) ?

Wahai kaum muslimin jagalah aqidah dan keimananmu dari segala kesyirikkan, khurafat, dan perdukunan. Dan bertakwalah (takutlah kepada Allah, ed) wahai para pengelola media massa janganlah kalian jerumuskan umat ke gelapnya kebodohan dan najisnya kesyirikkan, kepada kekufuran dan perdukunan. Dunia ini hanya sementara dan kelak kalian akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua yang telah kalian kerkajan.

Sumber : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2010/11/01/bagaimana-seorang-muslim-menilai-sosokmbah-maridjan/

Macam-Macam Sentuhan Setan Pada Diri Manusia

Ruqyah-online.blogspot.com-Sentuhan setan itu ada tiga macam, yaitu sentuhan berupa kesurupan, sentuhan menembus jasad manusia tanpa kesurupan, dan sentuhan dengan menguasai dan menimbulkan sakit.

a. Sentuhan Berupa Kesurupan

Sentuhan berupa kesurupan ini terjadi jika jin menguasai badan manusia seperti halnya api menguasai besi. Jin ini menundukkan manusia hingga ia kehilangan kemampuan berpikir dan kemampuan indrawi. Di badannya pun akan tampak sifat, tingkah laku, dan kekuatan jin. Ia tidak lagi bersifat manusia. Hal itu bisa berlangsung selama beberapa detik atau menit atau bahkan terkadang lebih dari satu jam atau hari.
Orang yang mengetahui kesurupan itu merasa bahwa orang yang dilihatnya tidak dalam kondisi yang sadar (tidak normal). Jenis sentuhan ini akan mengenai orang yang lemah dalam beragama.

Allah swt, berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila ….” (Al-Baqarah : 275)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa mereka bangkit dari kubur seperti orang yang sadar dari kesurupan dan kemasukan setan. Tujuannya adalah untuk menegakkan kemungkaran.

Ya’la bin Murrah berkata, “aku melihat Rasulullah saw, tiga kali. Tidak seorang pun melihat beliau sebelumku dan tidak pula orang lain melihat beliau setelahku. Aku keluar bersama beliau dalam suatu perjalanan. Apabila kami sampai di sebagian perjalanan, kami melewati seorang wanita. Saya tidak mengetahui berapa kali kejadian itu.

Wanita itu berkata, ‘Ya Rasulullah, ini bayiku, tertimpa bala, kami tertimpa bala itu beberapa kali dalam sehari. Beliau bersabda, ‘Bawalah (bayi itu) kepadaku. Maka ia pun mengangkatnya kepada beliau, maka bayi itu berada antara beliau dan kelompok musafir. Beliau mendekatkan mulut lalu mengembuskan kepadanya tiga kali dengan mengucapkan, Dengan nama Allah, aku hamba Allah, usirlah musuh Allah.’

(Perawi) berkata, ‘Kami pun kemudian pulang, lalu kami menemui (wanita itu) di tempat yang sama dengan tiga ekor kambing. Beliau bertanya, ‘Apa yang dilakukan bayimu ?” (wanita itu) di tempat yang sama dengan tiga ekor kambing.Wanita itu menjawab, ‘Demi yang mengutusmu dengan haq, kami tidak merasakan sesuatu darinya hingga hari Kiamat.’ Lalu beliau menyembih kambing-kambing itu seraya bersabda, “Turunlah, ambillah satu darinya dan kembalikan sisanya.” (HR. Ahmad)

Utsman bin Abil Ash berkata, “Ketika Rasulullah menjadikan aku sebagai utusan ke Thaif, muncul sesuatu dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku kerjakan. Ketika aku sadari, aku mendatangi Rasulullah saw. Beliau menyapa,’Ibnu Abil Ash ?” Aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya,’Apa yang terjadi padamu?” Aku menjawab,’Ya Rasulullah, muncul sesuatu dalam shalatku hingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku kerjakan.’ Beliau bersabda, ‘Itu setan. Mendekatlah (ke sini).’

Aku pun mendekati beliau dan duduk di atas perut kakiku. (Perawi) berkata,’ Beliau memukul dadaku dengan tangan beliau dan meludah pada mulutku seraya mengucapkan, ‘Keluarkan wahai musuh Allah.”Beliau melakukannya tiga kali kemudian berkata,’Lakukan amalanmu ini.” Utsman berkata, aku yakin setan itu tidak akan menggangguku setelahnya.” (Shahih Ibnu Maajah)

Abdullah bin Ubaidillah berkata,”Aku mendengar Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Ali al-Abkari. Datang kepada kami seorang dari Abkari pada bulan Zulka’dah tahun 352. Ia berkata,’Ayahuku menceritakan kepadaku dari kakekku, ia berkata, ‘Aku berada di dalam masjid Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, maka datanglah kepada al-Mutaakkil, temannya, untuk memberi tahu bahwa seorang budah miliknya kesurupan. Ahmad memintanya untuk mendoakan kepada Allah agar disembuhkan. Lalu Ahmad mengambil dua sandal kayu dari tempat wudhu lalu diberikan kepada temannya. Bawalah ini ke kampung Amirul Mu’minin. Duduklah engkau pada bagian kepala budak ini. Lalu engkau katakan kepada jin dalam tubuhnya. Ahmad berkata kepadamu, ‘Manakah yang lebih engkau sukai, keluar dari budak perempuan ini atau terkena tampar dengan sandal ini tujuh puluh kali ?’

Teman ini pun pulang dan mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ahmad. Maka jin itu berkata melalui lisan wanita budak ini, ‘(Aku) mendengar dan taat kalau Ahmad memerintahkan kami untuk tidak tinggal di Irak, maka kami tidak menetap di Irak. Ia orang yang taat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada Allah, maka setiap sesuatu (Allah) jadikan taat kepadanya. Jin itu pun keluar dari budak perempuan lalu budak ini merasa tenang dan melahirkan beberapa anak.”

Ketika Ahmad meninggal, jin ini kembali ke budak wanita tadi. Al-Mutawakkil pun mendatangi temannya, Abu Bakar al-Maruzi dan memberitahukan kondisinya. Lalu al-Maruzi mengambil sandal dan membawa ke budak itu. Lalu ifrit mengatakan kepadanya melalui lisan budak itu, ‘Aku tidak akan keluar dari wanita ini. Aku tidak menaatimu dan tidak menerima perintahmu. Ahmad bin Hanbal menaati Allah, maka Allah memerintahkan kepada kami untuk menaatinya.”
Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Sesungguhnya mereka berkata, “sesungguhnya jin tidak dapat masuk ke dalam badan orang yang kesurupan.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, ‘Tidak ada para imam kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengingkari hal itu dan mengaku bahwa syara’ mendustai kejadian itu, maka ia telah berdusta terhadap syara’ tidak ada dalil syar’i yang menafikan hal itu.”

Ibnu Hazam menyatakan, “Hal yang benar adalah setan masuk ke dalam tubuh manusia karena Allah memberikan kemampuan kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dan mengembuskan tabiatnya yang kelam dan embusan yang bisa naik ke kepala, sebagaimana ia memberitakan dirinya kepada setiap orang yang kesurupan. Maka Allah jadikan orang itu dalam keadaan kesurupan kala itu sebagaimana yang kita saksikan. Ini merupakan nash Al-Quran.”
Al-Qurthubi menyatakan, “Akal tidak memustahilkan adanya tingkah laku para jin dalam diri manusia. Jasad jin itu halus dan sederhana sebagaimana dikatakan oleh sebagian manusia, bahkan kebanyakan mereka mengatakan,’Andai tubuh itu tebal, benar pula yang mengatakan hal itu.”

Ibnu Hajar berkata,”Kesurupan itu kadang disebabkan karena datangnya jin. Hal ini tidak akan menimpa kecuali terhadap jiwa yang jelek, baik karena jin menganggap baik penampilan manusia atau bahwa kesurupan yang menimpakan penderitaan kepadanya. Ibu Hajar menarjihkan bahwa kesurupan yang menimpa Ummu Zafar seorang sahabiah yang meminta kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar sembuh karena kemasukan jin. Perawi berkata,’Periwayatan ini dari berbagai jalan yang menjelaskan bahwa yang menimpa Ummu Zafar adalah kesurupan jin, bukan kesurupan al-akhlath (kesurupan karena faktor medis) .”

Imam’adz-Dzahabi rahimahullah berkata,”Apabila engkau melihat seorang ahli bidah berkata,’Jangan sebutkan kepada kami dalil dari Al-Quran dan Sunnah tetapi coba buktikan dengan logika, maka ketahuilah bahwa ia adalah Abu Jahal.’ Jika Anda mendapat orang yang mencari ketauhidan seraya berkata, ‘Jangan sebutkan dalil naqli dan aqli, namun buktikan kepada kami dengan perasaan dan emosional, maka ketahuilah bahwa ia adalah iblis yang menampakkan diri dalam bentuk manusia atau menjelma bentuk manusia, maka hindarilah. Jika tidak, maka jidalilah (bantahan keras) dia, dan duduklah di atas dadanya, bacalah ayat kursi kepadanya dan cekiklah ia.”

Salah satu peristiwa yang menjelaskan hal ini adalah bahwasanya al-Hajjal bin Yusuf hendak berpegang dengan opini umum manusia. Ia pun keluar dalam keadaan kurang puas. Ia menemui syekhnya. Ia berkata, “Apa pendapatmu terhadap para pemimpinmu ?” Syekh itu menjawab, “sesungguhnya mereka dalam kegelapan yang menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang memadai (kehidupannya).’ Hajjaj bertanya lagi, ‘Bagaimana pendapatmu tentang pemimpinmu al-Hajjaj ?” Ia menjawab, ‘Sesungguhya ia bersifat dengan etika rendahan dan tidak memiliki fadhilah.’

Maka al-Hajaj merasa sedih dengan pertanyaanya itu seraya membaca ayat, “Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu…..” (Al-Maa’idah : 101)
Al-Hajjaj kemudian berkata kepada syekh, Tahukah engkau siapa saya ?’ Syekh itu, menjawab, ‘Tidak’. Al-Hajjaj berkata,’Aku adalah al-Hajjaj.’ Syekh berkata, ‘Saya Zaid bin Amir yang kesurupan setan setiap hari. Aku sedang kesurupan, sehingga aku tidak tahu apa yang aku katakan. Karena itulah manusia tidak menghukumku terhadap perkataan atau perbuatanku dan hal yang timbul tiba-tiba dariku, maka Al-Hajjaj memaafkan karena kepandaiannya untuk mengelak.”

b. Sentuhan yang Menerobos Badan, Tanpa Kesurupan

Jin yang menerobos tubuh manusia dapat terjadi pada orang yang saleh dan yang tidak. Dengan begitu maka akan terasa sakit, tanpa ada kesurupan dan kadang kala berubah menjadi kesurupan. Hal ini terjadi karena si penderita lalai berzikir dan lainnya. Jin tidak mampu menyebabkan kesurupan pada manusia dengan terobosannya kecuali jika ada faktor yang mendukung. Dalam hadits tentang hal ini, diriwayatkan Muslim dan Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. beliau saw. Bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu menguap maka hendaklah ia menaruh tangannya pada mulutnya, karena setan dapat masuk. (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Masuknya jin ke dalam badan itu ada dua macam:

Pertama, masuknya dengan mengganggu. Dalam hal ini, jin mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah hingga membisiki hati dan dada, mengganggu dengan sesuatu yang melalaikan orang itu dari amal saleh, sehingga melupakannya pekerjaan apa yang dilakukannya dan apa yang hendak dikerjakannya, orang itu tidak tahu di mana jin itu dan mengapa hal itu terjadi.

Dari Shafiah binti Huyai, istri Nabi Saw, ia berkata bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Sesungguhnya setan itu mengalir pada anak Adam di tempat aliran darah.” (HR. Bukhari)

Syekh Abdul Aziz as-Salman menyatakan bahwa setan menerobos badan manusia dan mengalir sebagaimana aliran darah.

Al-Amit ash-Shan’ani berkata,”Hakikatnya adalah sesungguhnya iblis memiliki tentara yang terdiri dari jin dan manusia yang merupakan bantuan terbesar dalam usaha untuk menyesatkan seorang hamba. Allah telah memberikan kemampuan kepada iblis untuk masuk kedalam tubuh manusia, mengganggu dan membisiki hati manusia dengan”belalainya”. Ia juga masuk ke dalam mulut berhala (patung) dan menyampaikan ucapannya ke dalam pendengaran kaum penyembahnya. Ia juga melakukannya pada orang yang menyembah kuburan karena Allah Ta’ala telah mengizinkannya untuk menerobos anak Adam dengan kuda tunggangan dan kakinya.”

Sebagian orang menyangka bahwa adanya jin yang mengalir di dalam tubuh manusia seperti yang disebutkan dalam hadits Shafiah yang lalu bukanlah dalam arti mengalir yang sebenarnya, melainkan bermakna majaz. Inilah sejumlah dugaan yang ada karena hadits yang menyebutkan masalah ini merupakan keterangan yang pasti dan jelas, tidak ada qarimah (indikasi lain), sehingga dipahami bukan secara makna zahir dan tidak pula secara ilmu kedokteran atau secara logika yang menafikan hal itu.

Jin memiliki kemampuan yang besar untuk itu yang tidak dapat dicapai oleh manusia sebagaimana manusia tidak mampu untuk mengetahui bagaimana cara terjadinya kesurupan. Para jin dapat menggambarkan sesuatu di dalam mimpi dan memberitahukan apa yang ada di dalam hati. Hal ini juga telah disebutkan dalam Sunnah.

Al-Alamah bin Baz rahimahullah berkata, “Bahwa hal yang wajib adalah memahami hadits tersebut secara zahir tanpa menakwilkan dengan pemahaman yang berlawanan dengan makna zahirnya, karena setan merupakan jenis makhluk yang tidak diketahui rincian ciptaannya dan caranya untuk menguasai anak Adam. Hanya Allah swt, yang mengetahui hal itu.”

Kedua, Sentuhan yang menggerakkan. Dalam sentuhan menggerakkan ini, setan menerobos tubuh manusia. Ia melakukan wakhz yaitu menusuk dari dalam tubuh, kadang menembus hingga keluar. Lebih lanjut, ia bereaksi buruk hingga menyebabkan penyakit berat seperti kolera dan lainnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Abu Musa ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,“Umat ini musnah karena tusukan (peperangan) dan thaun (koleral) Mereka bertanya, “ Ya Rasulullah, tusukan ini kami mengetahuinya, apa itu tha’un ?” Beliau menjawab, ‘Tusukan musuhmu yakni jin dan setiap yang merupakan syahadah (syahid bagi yang mati karenanya).” (Shahih al-Jaami’)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan mengenai sabda wakhz. Ahli bahasa berkata yaitu tusukan apabila tidak mengenai sasarannya, disebut dengan wakhz karena ia menusuk dari dalam batin manusia ke keluar. Pengaruh yang ditimbulkannya terjadi dari dalam terlebih dahulu, kemudian baru memberi efek keluar. Terkadang tusukan itu tidak tertembus, berbeda dengan tusukan manusia yang dimulai dari luar kemudian ke dalam dan meninggalkan bekas di bagian luar dulu kemudian bari ke bagian dalam.

Himnah binti Jahsy mengatakan pernah aku mengeluarkan haid yang sangat banyak, lalu aku menemui Nabi saw. Aku berkata, “Ya Rasulullah, aku perempuan yang sangat banyak berhaid. Apa pendapatmu tentang itu yang menyebabkan menghalangi untuk shalat dan puasa ?” Beliau menjawab, ‘Aku menjelaskan Anda tentang al-Kursuf, karena ia dapat menghilangkan darah.” (Perawi) berkata, ‘(Darah) lebih banyak daripada itu. Beliau bersabda, “Gantungkanlah.”(Perawi) berkata, ‘Hanya ia mengalir (banyak). Beliau bersabda kepadanya, ‘(itu) hanyalah salah satu gerakan (yang dilakukan) setan.” (HR. Abu Dawud)

Al-Jauhari berkata, ar-rakdhu, gerakan seseorang, di antara firman Allah Ta’ala, “(Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shaad : 42)
Imam Badruddin menyatakan bahwa setan bereaksi dalam hal cairan khusus. Dengan demikian ia dapat menyebabkan berlebihannya cairan badan. Karena itu pula, tukang sihir dengan bantuan setan bereaksi untuk mencucurkan darah pada wanita dan aliran darah dari kemaluannya., sehingga hampir saja membinasakannya. Inilah yang dinamakan sebagai an-nazif. Dalam hal ini para tukang sihir dibantu oleh setan, begitu pula dengan darah (pada kemaluan perempuan). Maka ucapkan Nabi saw. Sebagiannya membuktikan kebenaran, ini merupakan pengobatan dan penjagaan diri.

c. Sentuhan Berupa Tusukan dan Menguasai

Pertama, Sentuhan tusukan. Dalam hal ini setan memukul dengan kakinya dan menusuk dengan dua jarinya dari luar dan melemparkan anak panahnya dan seterusnya yang merupakan usahanya untuk menimbulkan pemusuan antara dirinya dan anak Adam. Rasulullah saw, bersabda, “Tidak (seorang bayi pun) yang dilahirkan melainkan ia disentuh setan lalu (bayi) itu menangis kecuali Maryam dan anaknya, karena firman-Nya kepada ibunya,

Allah Ta’ala berfirman: ‘… dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.” (Ali Imran : 36)

Dalam riwayat Abu Hurairah Nabi saw berkata,“Setiap bani Adam ditusuk setan pada lambungnya dengan dua jarinya ketika dilahirkan, kecuali Isa bin Maryam, (setan) datang untuk menusuk maka ia menusuk pada hijab (penghalang).”

Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa tusukan itu berlaku umum adalah riwayat Ibnu Maajah dari hadits Zainab istri Abdullah bin Mas’ud r.a, “Sesungguhnya ruqyah (syirkiyyah), tamimah dan tiwalah itu syirik.”

(Perawi) mengatakan lalu aku keluar pada suatu malam. Aku melihat seseorang air mataku menetes bila memandangnya. Apabila aku membaca ruqyah, maka air mata pun berhenti (bercucuran), apabila tidak (membacanya lagi) maka air mata bercucuran. Ia berkata, “Itulah setan, apabila engkau menaatinya maka ia meninggalkanmu, dan apabila engkau mengingkarinya maka ia menusuk dengan jarinya pada matamu, namun jika engkau melakukan sebagaimana yang diperbuat Rasulullah saw, maka itulah yang lebih baik bagimu dan lebih pantas untuk kesembuhanmu. Berkorbanlah dengan cucuran air matamu dan katakanlah. “Hilanglah penyakit, wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan (dari)-Mu, yang tidak terulang lagi penyakit.” (HR Ibnu Maajah)

Kedua, Sentuhan istihwaz. Yaitu seseorang yang dikelilingi setan dari segala sudut. Sebagian mereka ada yang mengganggu, ada yang menyembur dan ada pula yang menguasainya dengan mengganggunya, dan menyemburnya terhadap yang tidak ber-ta’awwuz dan doa. Orang yang dikuasainya itu kebingungan. Ia tidak dapat membedakan mana yang makruf sehingga ia menganggap mungkar. Ia tidak mengetahui yang mungkar sehingga ia menganggap makruf. Hal itu tentu memberikan pengaruh bagi jiwa dan anggota badan dengan kondisi keragu-raguan. Orang yang itu akan mengerjakan sesuatu tanpa tujuan. Ia merasa senang mengerjakan sesuatu yang bukan keinginannya karena setan menguasainya. Mereka yang mengalaminya adalah kaum fasik dan pelaku maksiat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.” (Al-Mujaadalah : 19)

Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya bahwa setan menguasai hati mereka sehingga sering melupakan mereka untuk berzikir kepada Allah azza wa jalla. Ia meriwayatkan dari Abu Darda bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah tiga kampung atau pelosok yang tidak dilaksanakan shalat di antara mereka melainkan setan menguasai mereka, maka hendaklah kamu berjamaah karena serigala hanya memakan kambing yang berpisah (dari jamaahnya)” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Ia menambahkan bahwa as-Saib berkata mengenai shalat berjamaah. Firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Tuhan) yang maha pemurah (Al-Qyran), kami adakan baginya setan(yang menyesatkan maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf : 36)

Al-Baghawi menyatakan mengenai berpaling dari zikir kepada Ar-Rahman, sehingga ia tidak merasa takut kepada siksa-Nya dan tidak mengharapkan ganjaran-Nya. Nuqayyidh lahusy syaithan artinya kita yang dipengaruhi setan dan dikuasainya, yang dijadikan teman, tak pernah berpisah dengannya, dihiasai sifat buta kepadanya dan mengkhayalkan bahwa itulah hidayah.

http://ruqyah-online.blogspot.com/2007/12/macam-macam-sentuhan-setan-pada-diri.html

KERASUKAN JIN MENURUT PARA IMAM DAN AHLI TAFSIR

ruqyah-online.blogspot.com-Tafsir Firman Allah SWT,
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”(QS.al-Baqarah (2) : 275)

Berikut ini akan kami sampaikan perkataan para ahli tafsir (mufassir) tentang pengertian atau tafsir dari ayat di atas:

Al-Hafizh Ibnu Katsir ad-Dimasyqi mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan berdiri dari kubur mereka pada hari Kiamat melainkan seperti berdirinya orang-orang yang sedang digilakan oleh setan.” Kemudian ia berkata, “Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ‘Auf ibn Malik, Sa’id ibn Jabir, Rabi ibn Anas, Qatadah, Muqatil ibn Hiyam, dan lain-lain.”

Al-Qurthubi, di dalam kitab tafsirnya, mengatakan, “Ayat ini menjadi dalil atas kelirunya pendapat yang mengingkari adanya kerasukan jin dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah sebuah kewajaran dan bahwa setan tidak dapat menganggu manusia sama sekali.”

Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari, di dalam kitab tafsirnya, mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka dijadikan gila di dunia oleh setan. Kata “mass” maksudnya adalah gila”. Al-Baqhawi juga berpendapat demikian.

Abu Ja’far ibn Jarir, tentang tafsir ayat ini, mengatakan, “Mereka akan dibuat gila di dunia ini oleh setan.”Kata Baghawi juga mengatakan demikian.

Ibnu ‘Athiyyah menerangkan, “Ini adalah sebuah perumpanan, dimana orang-orang yang memakan riba di dunia ini adalah bagaikan orang gila akibat gangguan jin, sebagaimana dikatakan kepada orang yang berkelakuan aneh (tidak karu-karuan), ‘Sungguh ia telah dirasuki oleh jin.”

Dalam tafsir al-Khazin disebutkan, “Maksud dari kata ‘yatakhabbathussyaithan” di dalam ayat itu adalah bahwa itu terambil dari kata “khabath” yang berarti “memukul” dan “menusuk” dari segala arah. Misalnya, unta yang khabbuth (kata khabbuth ini segala arah. Misalnya, unta yang khabbuth (kata khabbuth ini terambil dari kata khabath) adalah unta yang memukul-mukulkan kakinya ke tanah dan menusuk (menendang) siapa pun yang ada disekitarnya. Orang yang bertindak sembrono dan asal-asalan terhadap suatu urusan disebut juga dengan khabath. Jadi makna ayat tersebut adalah bahwa pemakna riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat seperti orang gila yang tidak bisa bertindak atau berprilaku seperti orang normal.” Imam Fakhrurrazi, di dalam kitab tafsirnya Mafath al-Ghaib, juga menyebutkan demikian.

Imam Muhammad ibn ‘Ali asy-Syaukani, mengatakan, “Ayat ini telah ditafsirkan oleh kebanyakan ahli tafsir. Mereka mengatakan, ‘Bahwasannya para pemakan riba itu dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan seperti orang gila adalah sebagai pembalasan dan kemurkaan bagi mereka pada saat itu ditengah-tengah sekalian makhluk. Dikatakan bahwa ini adalah sebuah perumpamaan, dimana orang yang ingin beruntung dalam perdagangannya namun dengan cara yang tidak halal (yakni dengan riba) sama seperti orang gila yang tidak sadar apa-apa yang sedang dan akan diperbuatnya. Dan ayat ini menjadi dalil atas kelirunya pendapat yang mengingkari adanya kerasukan jin dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah sebuah kewajaran, dan bahwa setan tidak dapat mengganggu manusia sama sekali. Padahal Nabi Muhammad saw sendiri telah berlindung kepada Allah dari gangguan setan tersebut.”

Al-Alusi menyebutkan, “Maksud dari kata ‘mass’ di dalam ayat itu adalah gila. Disebut demikian adalah lantara pikiran dan perangainya menjadi tidak karuan sebab telah dikuasai oleh setan. Dan ini tidak bertolak belakang dengan kesimpulan para dokter jiwa yang menyatakan bahwa faktor utama penyebab kegilaann adalah depresi mental, sebab depresi mental itu adalah faktor internal, sedangkan yang diisyaratkan oleh ayat ini adalah faktor eksternal, yang kedua-duanya tidak bertentangan. Terkadang seseorang diganggu oleh setan, namun ia tidak menjadi gila karenannya, atau sebaliknya, yakni ia menjadi gila dengan sendirinya tanpa ada gangguan sedikitpun dari setan itu. Dan ada juga yang menjadi gila semata-mata akibat gangguannya, yang tanda-tandanya dapat diketahui oleh dokter-dokter ‘mahir’. “

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni’ mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka akan dibangkitkan dari dalam kubur kelak di akhirat dalam keadaan tidak dapat berdiri dengan lurus, mereka berjalan sempoyongan dan akhirnya terjatuh ke lantai, dan ia kembali berdiri namun jatuh kembali. Ini adalah sebagai ciri khas mereka nanti di Akhirat, sehingga orang-orang lain dapat mengenalnya.”

Ibnu Hiyan mengatakan, “Secara tersurat, ayat ini menjelaskan bahwa setan diberi kemampuan oleh Allah untuk mencelakakan sebagian orang sehingga mereka menjadi gila karenanya, dan ini dapat diterima oleh akal manusia. Namun ada yang mengatakan bahwa hal itu bukanlah perbuatan setan, melainkan perbuatan Allah terhadap mereka lantaran telah teramat jatuh ke dalam kegelapan, sedangkan penisbahan perbuatan ini kepada setan hanyalah sekadar majaz (perumpamaan), bukan hakiki (sebenarnya).”

Dan di dalam kitab ath-Thibun-Nabawi, karya Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman adz-Dzahabi, disebutkan, “Sesungguhnya jin itu adalah makhluk halus yang tidak diragukan lagi dapat menyusup ke dalam roh manusia. Sungguh banyak hikayat dan riwayat yang membuktikan kebenaran perkara ini, yang tidak muat disebutkan semuanya dalam bab ini.”

1. Imam Ahmad Menyuruh Jin

Diriwayatkan dari ‘Ali ibn Ahmad ibn ‘Ali al-‘Abkari bahwa kakeknya bercerita kepada ayahnya :

Ketika aku sedang berada di tempat ‘Abdullah Ahmad ibn Hambal (Imam Ahmad), datanglah seorang utusan kepadanya dari Khalifah Mutawakkil. Utusan itu memberitahukan kepadanya tentang seorang perempuan muda di istana yang sakit gila akibat gangguan jin, dan memintanya untuk mendoakan perempuan itu agar sembuh dari penyakitnya. Maka ia menyerahkan bakiaknya kepada utusan tersebut seraya berkata kepadanya, “Kembalilah engkau ke istana, lalu duduklah di dekat perempuan itu dan katakan kepadanya yakni kepada jin yang berada di tubuhnya bahwa Imam Ahmad bertanya, ‘Manakah yang lebih engkau sukai, keluar dari tubuh perempuan ini atau dipukul dengan bakiak ini sebanyak tujuh puluh kali ?”

Maka kembalilah utusan itu ke istana dan melaksanakan apa-apa yang disampaikan Imam Ahmad kepadanya. Lalu berkatalah jin itu kepadanya melalui lisan perempuan tersebut,’Aku patuh kepada Imam Ahmad. Bahkan, sekiranya ia memerintahkan agar kami tidak bermukim lagi di Irak ini, tentu kami akan keluar dari kota ini, sebab, ia adalah seorang yang taat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada-Nya, maka ia akan ditaati oleh siapa saja.”

Kemudian, keluarlah jin itu dari tubuhnya, dan perempuan itu kembali normal seperti biasa, bahkan ia sempat melahirkan beberapa orang anak setelah itu. Namun, setelah Imam Ahmad meninggal dunia, jin itu datang lagi kepadanya sehingga Khalifah Mutawakkil memanggil lagi seseorang untuk mengobatinya, namun ketika Abu Bakar al-Marwazi untuk mengobatinya, namun ketika Abu Bakar al-Marwazi ini mencoba menyuruh jin itu untuk keluar darinya, jin itu berkata, “Aku tidak mau keluar dari tubuh perempuan ini dan aku tidak mau taat kepadamu. Kami mau keluar darinya karena yang menyuruhku waktu itu adalah Ahmad ibn Hanbal yang taat kepada Allah .”

2. Ibn Taimiyah Mengobati Orang Gila Karena Gangguan Jin

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Aku sendiri menyaksikan guruku yakni Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menyuruh jin yang berada di dalam tubuh seseorang untuk keluar darinya, dengan mengatakan kepadanya, Keluarlah kamu dari tubuh orang ini, karena tidak halal bagimu bercokol di sana.’ Karena jin itu tidak mau keluar, maka ia memukulnya dengan cara memukul tubuh orang itu dengan sebuah tongkat. Setelah itu, barulah jin itu keluar darinya, dan sembuhlah orang itu dari sakitnya, ia tidak merasakan sakit sama sekali sewaktu tubuhnya dipukul oleh Ibn Tamiyyah. Kami dan orang-orang lain selain kami, telah beberapa kali menyaksikan kejadian itu secara langsung darinya. Dan bacaan yang paling banyak ia ucapkan di telinga orang yang sakit itu adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main [saja], dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ?” (QS. al-Mu’minum [23] : 115)

Dalam riwayat lain, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Ketika Ibn Taimiyah memukul jin itu dengan cara memukul tubuh orang yang ditempatinya dengan sebuah tongkat, berkatalah jin itu kepadanya, ‘Janganlah engkau suruh aku pergi dari orang ini, sebab aku mencintainya.’ Dijawab oleh Ibn Taimiyah, ‘Sungguh ia tidak cinta kepadamu.’ Ia berkata lagi,’Baiklah!’ Aku akan keluar dari tubuh orang ini karena menatati Allah dan Rasul-Nya.’ Maka keluarlah jin itu dari tubuhnya. Setelah itu, orang itu duduk dari tidurnya dan menoleh ke kiri dan ke kanan sambil bertanya kepada yang hadir, ‘Dimanakah aku ? Mengapa aku sampai berada di tempat ini ? Apakah yang telah terjadi pada diriku ?” Dari perkataannya itu, jelaslah bahwa ia tidak merasakan sakit sewaktu tubuhnya dipukul tadi oleh Ibn Taimiyyah.”

Ibn Taimiyyah juga berkata,”Jin itu berbicara melalui lisan orang yang dirasukinya, sedang orang tersebut tidak menyadarinya sama sekali. Jika ia telah sembuh, ia tidak mengetahui apa-apa yang telah terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, terkadang orang yang gila karena jin itu dipukul dengan pukulan yang keras dan berulang-ulang agar jin itu keluar darinya. Sebab, betapa pun kerasnya pukulan yang diberikan kepadanya, ia tidak akan merasa sakit sedikit pun, karena merasakan sakit adalah jinnya, bukan dia.”

3. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha Mengobati Kesurupan Jin

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menceritakan, “Pada suatu malam, seorang nelayan di negeri al-Qalmun, Syiria, pergi ke laut untuk mencari ikan. Namun tidak seperti biasanya, pada malam itu ia mendengar sebuah suara aneh dan merasa bahwa sekelompok jin telah menyerangnya lantaran ia, menurut tuduhan mereka, telah memperkosa salah seorang jin perempuan dari mereka. Setelah itu ia jatuh sakit dan menjadi seperti orang yang kesurupan. Maka datanglah keluarganya meminta bantuan kepadaku untuk mengobatinya, dan aku pun pergi ke tempatnya. Sesampainya di sana, aku perhatikan ia dalam ke tempatnya. Sesampainya di sana, aku perhatikan ia dalam keadaan tidak sadar sama sekali dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi anehnya, waktu itu ia berkata, ‘Sungguh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha telah datang. ‘Melihat keadaan seperti itu, dengan penuh ikhlas dan khusyu’ karena Allah, aku usap kepadanya sambil membacakan, “Bismillahirrahmanirrahim. Fa sayakfikahumullahu wa Huwas-Samiul-‘Alim (maka Allah akan memelihara kamu dari mereka, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).” (QS. al-Baqarah [2] : 137) Tiba-tiba, ia membuka kedua matanya lalu bangkit dari tidurnya setelah sudah kembali normal seperti biasa.

4. Beberapa Pendapat Para Ulama Kontemporer

Dr. al-Husaini Abu Farhah, dosen Pasca Sarjana di Universitas al-Azhar, Mesir, berkata, “Jin itu dapat mempengaruhi sebagian orang, baik laki-laki maupun perempuan, dan menyusup ke tubuhnya. Kemudian, kadang-kadang ia memaksa orang itu untuk melakukan apa-apa yang diinginkannya, kadang-kadang merasukinya. Sampai saat ini, masih tetap ada orang yang kerasukan jin, dari semua kalangan.”

Dr. Abdul Ghaffar ‘Aziz, kepala Bidang Da’wah di Universitas al-Azhar, Mesir, berkata, “Kebanyakan dari ulama, khususnya ulama yang ternama, seperti Ibn Taimiyah dan lain-lain, telah mengakui bahwa sebagian jin dapat mempengaruhi sebagian orang dengan jalan menyusup ke tubuhnya. Bahkan ia bisa sampai ke taraf menguasai orang itu, dan memaksanya untuk melakukan apa-apa yang diinginkannya, baik berupa hal-hal yang bertentangan dengan syari’at maupun hal-hal yang tidak terpikir sama sekali oleh akal sehat. Biasanya, orang yang dapat dipengaruhi dan dikuasainya ini adalah orang yang dapat dipengaruhi dan dikuasainya ini adalahorang yang berjiwa lemah, yang tidak mampu melawannya.”

Ia (Dr.Abdul Ghaffar ‘Aziz) menceritakan, “Salah seorang dari kerabatku telah diganggu oleh jin beberapa kali. Jin yang mengganggunya itu amat jahat, dimana ia sering membangunkan kerabatku itu dari tidurnya, lalu menyuruhnya untuk membakar rumah, membuka tutup gas, memecahkan perabot, atau membunuh suaminya sekalipun. Akan tetapi, ia mampu melawannya dengan jalan menentang seluruh perintahnya itu, meninggalkan rumah tersebut (pindah ke rumah lain), dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga jin itu tidak pernah lagi datang mengganggunya.”

Ia juga berkata, “Aku sendiri pernah mengalaminya, yaitu ketika aku berada di tanah suci, Makkah al-Mukarramah, tahun 1408 H. Di mana, pagi suatu pagi, ketika aku sedang berpakaian ihram di rumah sewaanku yang tak jauh dari Masjidil Haram, tiba-tiba seorang jin berusaha mencekik leherku dan mendorong dadaku dengan kuat. Aku tidak merasakan melainkan hanya dua buah tangan raksasa yang sedang menekanku. Jin itu baru pergi meninggalkanku setelah aku bacakan kepadanya beberapa ayat al-Qur’an, membalas serangannya, mengatakan kepadanya, ‘Enyahlah engkau, wahai musuh Allah,’ sebanyak tiga kali, dan mengancamnya akan mendoakannya agar dibakar oleh Allah SWT jika belum juga pergi dariku. Setelah itu, ia tidak pernah lagi dating kepadaku.”Katanya lagi, “Di Kairo pun aku pernah mengalami kejadian yang serupa, yaitu saat aku tidur sendirian di balkon rumahku, di Nasr City dan ia tidak pergi dariku pada waktu itu melainkan setelah aku bacakan beberapa doa dan ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya surah al-Falaq dan an-Nas.”(ruqyah-online.blogspot.com)

Pembuktian Adanya Kesurupan Secara Pragmatis

Ruqyah-online.blogspot.com-Sesungguhnya berpegang teguh dengan keyakinan bahwa jin mampu menjadikan seseorang kesurupan dan menampakkan dhahirnya dalam diri manusia itu, hal itu akan mengekspos akidah salah mengenai jin. Ciri khas orang yang kesurupan adalah sebagai berikut :

a. Lisan dan Dialeknya Berubah

Lisan, dialek, dan bahasa orang yang kesurupan itu berubah menjadi bahasa yang tidak biasa dipakainya. Ini merupakan hal yang nyata. Dalam salah satu kuliah yang disampaikan Syekh al-Umir, salah seorang dokter bertanya, “Apakah anda mendapatkan bahwa anda ada salah satu jin yang berbicara tidak dengan bahasa Arab ?”

Syekh al-Umri menjawab, ‘Pernah seseorang menceritakan seorang wanita dari badui yang menceritakan ini adalah orang Amerika-aku tidak memahami bahasanya hingga datang perawat menerjemahkan omongannya kepada kami…….. ‘Lelaki itu bertanya kepada wanita kesurupan, ‘Anda dari mana ….?” Dari Amerika, “Demikian pula datang kepada saya orang Pakistan yang berbicara dengan wanita dari Amerika.”

b. Pandangan Orang yang Kesurupan Berubah

Hal ini jelas tampak pada setiap orang yang kesurupan karena jin. Pandangannya benar-benar berbeda dengan penglihatan orang yang kesurupan. Perubahan ini mencakup raut wajah yang awalnya lebar menjadi menyempit atau sebaliknya. Dalam Sunnah, hadits Umm Abban, ia berkata mengenai anak yang sembuh dengan doa Nabi saw., “Sesungguh ia melihat kembali dengan pandangan yang benar, bukan seperti pandangannya yang pertama.” (HR.ath-Thabrani)

c. Merasa Sakit ketika Mendengar Ruqyah

Ia berteriak karena mendengar ayat-ayat azab atau ayat-ayat yang membatalkan sihir atau ayat-ayat yang mencela agama Yahudi dan Nasrani. Orang yang sakit itu tidak mengingkari hal itu sama sekali ketika ia sembuh.

d. Merasa Sakit ketika Minum Air yang Diruqyah

Menurut berbagai eksperimen, apabila jin muncul di dalam tubuh orang yang kesurupan, bisa jadi hal itu karena orang yang mengobatinya memberi minum air yang diruqyah dengan ayat-ayat yang membatalkan sihir. Dengan begitu, jin akan berteriak dan kesakitan. Apabila diberikan air yang diruqyah itu dengan ayat-ayat yang menyembuhkan, maka ia merasa tenang. Hal ini berarti bahwa orang yang kesurupan itu minum untuk dirinya. Ia telah menguasai kembali badannya. Ketika orang kesurupan itu sembuh, ia berkata, “Aku tidak minum dan tidak merasa sakit.”

e. Pengakuan Jin Bila Muncul di Badan Orang Kesurupan

Terkadang jin menyebut nama, jenis dan agamanya. Kadang ia menyebutkan penyebab ia masuk ke dalam orang yang kesurupan itu. Ia juga menyebutkan ilmu yang tidak diketahui si sakit apabila diberitakan mengenai ilmu itu.

Jin memiliki sifat yang masyhur ketika ia keluar dari badan orang yang kesurupan. Banyak orang yang mengobati menyaksikannya pada banyak orang yang kesurupan. Ini merupakan sifat yang konstan. Terkadang jin itu berkata, “Aku tidak dapat menghimpun diriku, aku berusaha kemudian ia mulai dengan kaki kiri, kemudian ia menariknya, kemudian ia memulai keluar lagi dengan teriakan yang menyebabkan orang sakit mulai sadar.”

Allamah Syekh Abdullah al-Jibrain mengungkap hal ini. Ia menyatakan sebagian orang yang dapat disembuhkan dengan memukul, menyakiti, dan mengancamnya, sehingga jin itu keluar dan dapat disaksikan keluarnya dari salah satu jari-jari, yaitu mencelupkan tangan itu ke dalam tanah, dan meloncat dari jasad. Kebanyakan mereka mati dengan pukulan atau bacaan dan terbakar dengan doa-doa serta wirid yang dibaca. Disaksikan pula jin berkumpul di bagian badan tertentu seperti benjolan yang terasa sakit sehingga menonjol secercak darah. Semua ini dapat diketahui dengan melihatnya. Hal ini tidak diingkari kecuali oleh orang jahil atau orang yang ingkar.

Sifat itu masyhur pula di kalangan ahlul kitab. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Almasih Isa as memerintahkan jin dan menggertaknya agar ia keluar dari badan si penderita. Jin itu lalu berteriak dengan suara lantang, kemudian si penderita yang kesurupan pun tenang dan sembuh.

Dalam Injil Markus 1/23 : dalam perkumpulan mereka orang yang dihuni roh najis pada dirinya, ia pun berteriak. Yasu’ (Isa) menghardiknya seraya berkata,”Tuli engkau, keluarlah darinya.”Roh najis itu keluar dari orang itu seraya berteriak dengan suara lantang.

8. Kesurupan Jin dan Histeri Nafsiah (Pribadi)

Sebagian orang sulit membedakan antara kesurupan jin dan histeri pribadi. Mereka menyangka bahwa yang dinisbatkan kepada jin oleh pengobatannya itu sebenarnya hanyalah histeri pribadi. Hal yang benar adalah jin dapat berada dalam tubuh manusia untuk mendiaminya, menimbulkan beberapa penyakit, dan menggerakkan beberapa tingkah laku. Begitu pula dengan nafsiah. Ada perbedaan antara keduanya dari segi hakikat, sebab, gerakan yang ditimbulkannya, serta cara penyembuhannya, yakni sebagai berikut :

Yang Pertama : Dari Segi Sebab

Sebab ini membedakan antara yang timbul dari jin dan yang timbul dari akal batini.Akal dapat menggerakkan peristiwa histeris (pribadi) akibat beberapa peristiwa emosional dari orang lain, ditambah dengan adanya masalah lain. Hal ini tidak hanya berasal dari diri orang itu sendiri, namun jin ikut menimbulkan dan mengadakan gangguan yang mengakibatkan terjadinya kesurupan, khususnya bagi orang yang tidak pernah berzikir kepada Allah dan jiwa yang lemah.
Perbedaan antara yang dimunculkan jin dan yang dimunculkan akal batin.

Dalam ilmu kejiwaan dapat ditemukan unsur-unsur akal batini dan perasaan melalui suntikan abstraski yang menghilangkan kesadaran pada titik tertentu. Dengan begitu, memungkinkan akal batin untuk melalu dapat diketahui hakikat dari penyakit dan penderitaan yang di alaminya.

Dr. Adil Shadiq mengatakan bahwa suntikan abstraksi itu merupakan esensi untuk memunculkan akal batini secara berhadapan tanpa pengawasan. Tujuannya adalah untuk mengetahui faktor perasaan dan kesurupan yang terpendam serta keinginan yang dicapai. kebiasaan membaca beberapa ayat-ayat Al-Quran akan memberi bekas kepada penderita. Penderita itu pun tidak mampu untuk menahan diri (dengan tidak berbicara) dibandingkan dengan penderita lainnya yang disebabkan oleh tukan sihir. Orang kesurupan akan berbicara dan menahan diri ketika hilang kesadarannya.

Apabila orang kesurupan itu hilang kesadaran tanpa disuntik, maka kita tidak berbicara dengan alam batini namun kita berbicara dengan hal-hal yang berkaitaan dengan itu. Dengan begitu, maka tidak lain hanyalah yang berteriak dengan bacaan Al-quran dan menjadi kerdil dengan bacaan basmalah serta terbakar dengan zikir dan doa. Hal itu karena Al-Quran tidak menjadikan akal hilang kesadaran, karena semua takkif (beban syara) bergantung kepada akal. Tidak diragukan bahwa Al-Quran akan menampakkan akal batini karena merupakan penyembuhan dan obat.

Yang Kedua : Dari Sisi Harga Diri

Perbedaan antara percakapan dengan jin dan percakapan dengan akal batin.
Di sela-sela dialog, jin menimbulkan permusuhan dengan orang yang kesurupan dan orang yang menyembuhkannya. Jin mengancam atau menjelaskan kecintaannya dan sikap ihsannya kepada orang kesurupan itu dengan dialek dan keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam. Jin tidak menimbulkan permusuhan dengan orang yang menyembuhkannya tidak pula dengan akal kesadaran tidak pula menjadikan akal sadar sebagai penanggungjawab keluarnya (akal batini) dari tempat hunian yang dalam, dan tidak mengaku dirinya sebagai akal batini, tidak pula mengaku bahwa dirinya merupakan penyebab timbulnya masalah histeris itu, tidak pula mengaku kecintaannya terhadap orang sakit, dan tidak pula kebencian kepadanya.

Ia tidak pula memiliki pengetahuan yang bermacam-macam dengan mengatakan bahwa dia dengan orang yang sakit itu merupakan dua hal yang berbeda. Kenyataannya, keduanya merupakan materi yang satu, tidak bergetar dengan bacaan ayat-ayat Al-Quran tertentu, tidak sama dengan yang kemasukan jin, dan tidak berubah bahasanya.

Perbedaan antara gambaran yang muncul akibat penyakit histeris dan kesurupan jin dengan semakin berkembangnya gambaran yang muncul dari jin terhadap badan orang yang kesurupan kadang kala tangan kanan atau kiri seperti lumpuh, kadang berbicara dengan suara lelaki atau perempuan, dan kadang dengan suara keras menantang. Setelah diruqyah maka tampak lemah menghina (diri) atau tetap. Akan tetapi pada penyakit histeris tidak mengubah kondisi si sakit. Jika si sakit muntah-muntah dalam keadaan sakit, maka inilah gambaran bentuk setiap kali penyakit itu datang. Jika dalam bentuk berubah akalnya, maka jika penyakit itu datang ia bersikap keragu-raguan, kecuali apabila si sakit dalam hidupnya mengalami segala macam musibah yang menimbulkan semua gambaran itu, dan sangat besar kemungkinannya.

Demikian pula disela-sela penyakit histeri insyiqaqiyah (ketika si sakit keluar dari kepribadian aslinya, ia melupakannya sama sekali. Ia sekarang itu berada dalam kepribadian baru yang tidak mengetahui orang-orang yang pernah dikenal sebelumnya ketika ia berada dalam keadaan kesurupan jin). Sebabnya adalah karena jin itu mengikat dhahirnya dengan orang yang kesurupan itu dengan hal-hal yang masa lalu dalam kehidupan si yang disurupi yang menunjukkan adanya hubungan kuat dengannya, dalam waktu yang bersamaan ia memberitakan tentang rahasia gaib tentang si sakit dan hadirin, kemudian ia mengerjakan perbuatan yang tidak pernah si sakit kerjakan sebelumnya, kemudian si sakit mengingkari hal itu semua, sebagaimana ia bertasbih di sungai atau berbicara dengan bahasa tertentu yang ia tidak mengetahui sebelumnya. Hal itu tidak mungkin terjadi pada penyakit histeri al-insyiqaqiyah.

Perbedaan antara berhentinya jin dari aksinya dan penyakit histeris dari perbuatannya. Penyakit histeris itu berhenti dengan suntikan bius opium atau lainnya, atau detakan listrik, sedangkan gangguan jin, maka pengaruhnya akan dihilangkan dengan membaca ayat-ayat Al-Quran dan azan atau dengan menekan pada dua urat leher.

Perbedaan antara kondisi keluar jin dari badan dan keluar akal batin dan dari areal dialog psikologi pada dokter. Ketika jin keluar dari badan orang yang kesurupan, maka ia menyampaikan salam kepada yang hadir, kadang kala memegang kaki kanannya, lalu melakukan beberapa gerakan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya dari Syekh Abdullah al-Jibrain. Kemudian orang yang kesurupan itu sakit, dalam keadaan tidak sadar apa yang terjadi, terjadi antara dua periode, perbedaan waktu yang jelas menyebabkan perubahan sifat orang yang kesurupan itu ketika terjadi dialog pisikis dokter dengan akal batini, karena ia membutuhkan waktu perlahan-pelahan, sokongan dan rayuan, (kadang kala berulang beratus kali), kemudian membiarkannya. Jelasnya, dalam hal ini tidak ada perbedaan waktu antara gangguan akal batini yang muncul pada kondisi orang yang kesurupan karena jin.

Yang Ketiga : Dari Segi Obat dan Penyembahan

Obat dokter tidak dapat mencegah kesurupan jin. Disebutkan dalam Sunnah yang sahih, “Setiap penyakit ada obatnya, maka apabila obat itu tepat untuk penyakit tersebut maka sembuh dengan izin Allah Swt.”

Hal ini menunjukkan bahwa obat-obat itu tergantung kekuatan kerja dan efeknya juga dosis yang digantung obat itu, kriterianya, dan kekuatan sakit dan orang yang sakit. Kehendak Allah ada di atas itu semua. Berdasar hal itu, maka setiap penyakit ada obat yang cocok. Orang yang berpengalaman tentang orang yang ditimpa penyakit karena jin, tahu secara yakin bahwa banyak obat dokter tidak dapat menyembuhkan penyakit ini bahkan justru akan menambah sakitnya memburuk.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “mengenai kesurupan ruh, para dan ilmuman mengakui keberadaannya dan tidak mampu menolaknya. Mereka juga mengakui bahwa penyembuhannya adalah menghadapkan ruh mulia terhadap ruh jahat. Dengan begitu maka sirnalah efeknya melawan aksinya dan menghilangkanya.”

Abqarath menyebutkan hal itu dalam beberapa bukunya mengenai pengobatan kesurupan. Ia berkata bahwa hal ini bisa dijadikan penyembuhan pada orang yang kesurupan karena ahlath dengan material (semburan).

Saya mengatakan bahwa demikian pula, dokter jiwa tidak dapat mengobatinya dalam kondisi kesurupan seperti ini. Sebagian para dokter jiwa mengakui keterbatasan keilmuannya dalam masalah obat dan penyakit. Keterbatasan ini tidak dimungkiri bagian kesehatan penyakit jiwa dan dokternya yang berkerja dalam bidang ini, bahwasannya ia merupakan material yang tidak berubah, maka beda antara ia dengan pelakunya. Mereka berpendapat bahwa ada obat kedokteran yang menyebabkan orang sakit menjadi bahagia dan senang. Akan tetapi, jika efek obat itu hilang, maka pengaruh negatif akan muncul. Mereka menduga bahwa hal itu setara dengan perilaku dalam jiwa, yang tidak berbeda dengan standar suatu alat yang dipakai. Mereka lupa akan iman kepada Allah Ta’ala dalam mengoreksi kondisi jiwa, membaikkannya dan meluruskannya. Karena itulah menyebabkan parahnya si sakit terhadap kondisi penyembuhan semacam itu. Dengan begitu, maka diagnosis dan obat yang diberikan tidak berfaedah

http://ruqyah-online.blogspot.com/2007/12/pembuktian-adanya-kesurupan-secara.html

Kapan Saja Setan Dapat Mempengaruhi Manusia dan Akhirnya Dapat Merasuki Tubuhnya ?

Ruqyah-online.blogspot.com-Ada beberapa keadaan yang dapat membuat setan mempengaruhi dan merasuki tubuh manusia penjabarannya adalah:

a. Yang pertama adalah, ketika manusia jauh dari Tuhannya dan mengikuti syahwatnya serta lupa untuk mengingat Allah.

b. Membiasakan diri dengan kemaksiatan hingga seseorang melupakan Allah, contohnya banyak sekali, seperti pesta-pesta yang dibuat pada masa sekarang ini, semuanya penuh dengan kemaksiatan dan dosa, dengan bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Para wanita menari-nari di depan laki-laki dengan nyanyian dan musik yang diharamkan. Ini semua adalah salah satu cara yang membantu iblis untuk memperalat manusia, karena seseorang akan terlena dengan kesenangan dan tidak ingat lagi kepada Allah, serta terus menerus dalam kemaksiatannya.

c. Kesedihan yang mendalam yang membuat seseorang lupa kepada Allah. Kebanyakan orang jika ditimpa suatu musibah akan sangat berduka dan bersedih hati, dan lupa bahwa musibah dan cobaan adalah ketentuan Allah SWT, sebagian mereka menolak qadha dan qadar (ketentuan) Allah. Terkadang mereka menggerutu kepada Allah, “Kenapa Engkau lakukan ini wahai Tuhan?” atau “Apa yang telah aku lakukan hingga Engkau melakukan ini kepadaku?” dan seterusnya yang menggambarkan kesesatan.

Orang-orang seperti yang dicontohkan di atas, sangat mudah dirasuki oleh setan. Sedangkan orang mukmin, maka di antara sifatnya adalah ridha (menerima), sabar dan memuji Allah atas ketentuan Nya. Firman Allah SWT:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Al-Baqarah : 156-157)

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berkata kepada para malaikat, ‘Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Ya,’ Allah berkata, ‘Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya.’ Mereka menjawab,’Ya’. Allah kemudian berkata lagi, ‘Lalu apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?” Mereka berkata, ‘Ia memuji-Mu (atau mengucapkan al-hamdulillah) dan mengembalikannya kepada-Mu (atau mengucapkan al-hamdulillah) dan mengembalikannya kepada-Mu (atau mengucapkan inna lillahi wa inna ilahi raajiun). Kemudian Allah berkata, ‘Buatlah sebuah rumah untuk hambaku di surga dan namakan rumah itu dengan rumah pujian.

d. Ketakutan yang sangat mendalam, sehingga ia lupa untuk mengingat Allah. Adapun ketakutan terbagi menjadi dua ; ketakutan jibili, dan ketakutan dari Allah.

Ketakutan jibili adalah ketakutan alami yang merupakan ketakutan bawaan manusia seperti seseorang yang melihat singa atau ular, ini merupakan sesuatu yang biasa.

Allah telah menjelaskan ketakutan ini dalam Al-Qur’an ketika menceritakan tentang Musa as dengan para penyihir:
“(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, ‘Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa, ‘Silahkan kamu sekalian melemparkan.’ Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka dilemparkan, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka, Maka, Musa merasa takut dalam hatinya.” (Thaha : 65-67)

Rasa takut adalah tabiat manusia, akan tetapi kalau rasa takut ini disertai dengan hubungan hamba kepada Tuhannya dan mengingat-Nya, maka ketakutan tersebut tidak akan membahayakannya. Sedangkan ketika ketaatan telah hilang dari diri hamba dan lupa untuk mengingat Allah, maka setan yang menambah-nambahkan ketakutan kepada hamba tersebut, sehingga ia merasa sangat ketakutan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran : 175)

Ketika seseorang berada dalam ketakutan dan lalai untuk mengingat Allah serta tidak menyebut nama-Nya, maka saat itulah setan dengan mudah dapat merasuki dan memperalatnya serta menambah ketakutannya. [*]

http://ruqyah-online.blogspot.com/2007/12/kapan-saja-setan-dapat-mempengaruhi.html

KAJIAN ILMIAH TENTANG KERASUKAN JIN

Ruqyah-online.blogspot.com-Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan manusia dewasa ini tidaklah menjadi penghalang bagi minat mereka untuk mengkaji masalah kerasukan jin atau setan ini. Sebaliknya minat tersebut justru kian bertambah, bahkan telah menghasilkan beberapa kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

1. Pengertian Kemasukan Jin Menurut Ilmu Pengetahuan Modern

Secara sederhana, kerasukan jin menurut kesimpulan ilmu pengetahuan sekarang berarti terserangnya akal dan perasaan manusia oleh roh jahat yang mengakibatkan tidak berfungsinya sebagian dari organ tubuh.

Sudah tentu roh jahat yang dimaksudkan oleh pengertian di atas adalah setan, bukan roh manusia, sebab manusia yang telah meninggal dunia, rohnya tidak akan berpindah ke tubuh manusia lain, apalagi sampai berbuat jahat tanpa alasan, melainkan akan berpindah ke alama lain (alam barzakh) serta menjalani kehidupannya di sana.

2. Pembahasan Para Ilmuan Mengenai Kerasukan Jin

Karston, seorang anggota Lembaga Kajian Kejiwaan di Amerika Serikat, di dalam bukunya yang berjudul Fenomena Kejiwaan Terbaru, ketika menjelaskan tentang kerasukan jin, mengatakan, “Sudah jelas bahwa kerasukan jin adalah sebuah fakta yang benar-benar terjadi, yang tidak bisa diatasi sama sekali dengan pengobatan medis. Malah fenomena ini menjadi semakin meruak ke mana-mana dan sudah sampai ke tingkat yang mengkhawatirkan, sehingga perlu bahkan harus diadakan sebuah studi untuk mempelajarinya. Studi yang saya maksudkan bukanlah studi akademis semata, melainkan lebih jauh dari itu. Sebab, ratusan bahkan ribuan masyarakat kita akan terkena penyakit ini dimasa mendatang.

Dr. James mengatakan, “Kerasukan adalah pengaruh yang luar biasa dari jin terhadap jiwa dan raga seseorang yang tidak mungkin lagi diingkari kebenarannya.”

Dr. Waykland mengatakan, “Seandainya penyakit kerasukan jin itu diobati oleh dokter-dokter, maka ruang rawat inap di rumah sakit jiwa akan kekosongan separuh penghuninya.”

Dr. Abdurraziq Nufal mengatakan, “Terdapat beberapa penyakit yang tidak dapat dikategorikan kepada penyakit manapun yang telah terdeteksi oleh para ilmuan. Sekali pun penyakit-penyakit tersebut ada kemiripannya secara fisik dengan penyakit-penyakit tersebut ada kemiripannya secara fisik dengan penyakit-penyakit lain, namun mereka (para ahli tetap kebingungan mendeteksi jenisnya, sekaligus mencarikan obat untuknya. Mereka hanya mampu mencapai kesimpulan bahwa penyakit-penyakit ini adalah lain dari yang lain.”

Ia meneruskan, “Pada abad ini yakni pada zaman yang terkenal dengan zaman teknologi, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi telah mencapai perkembangan yang luar biasa, tak terkecuali dalam bidang kedokteran para ilmuan telah menanamkan penyakit-penyakit seperti itu dengan penyakit kerasukan roh, yaitu terjadinya serangan roh jahat terhadap seorang manusia yang masih hidup sehingga menyebabkannya menderita gangguan pada akal dan fisiknya. Bahkan, terkadang ia terdorong untuk melakukan kejahatan, baik terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri. Kepada si penderita harus dibisikkan dengan suara pelan tentang hal-hal yang tidak bermanfaat baginya dan juga bagi orang lain. Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang hari demi hari namun apapun yang dicapainya, sesungguhnya Al-Qur’an sudah lebih dahulu mengabarkannya. Hanya saja cara masing-masing berbeda akibat berbedanya sumber pegangan yang satu dari Tuhan (Allah SWT), sedang yang satu lagi dari hamba (para ilmuan).”

Tambahnya lagi, “Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa penyakit itu adalah akibat kerasukan jin. Jadi, semakin hari ilmu pengetahuan tersebut berkembang dan mampu mengungkap hal-hal yang belum terungkap sebelumnya. Namun demikian, betapapun pesatnya ilmu pengetahuan, ia tidak akan bisa mencapai apa-apa yang telah dicapai oleh Al-Qur’an al-Karim. Kitab suci ini telah mengemukakan hal ini sejak 14 abad silam dalam sebuah firman-Nya yang berbunyi,

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukkan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. al-Baqarah [2] : 275).

3. Kerasukan Jin Menurut Departemen Pendidikan Inggris

Departemen Pendidikan Inggris menyebutkan, “Keberadaan roh yang menakutkan dan mencelakakan bagi manusia memang sudah harus diakui, karena telah banyak kasus yang membuktikannya. Biasanya roh-roh jahat itu menguasai orang-orang yang bodoh dan lemah jiwa tapi tidak jahat, dan memang tidak ada orang yang jahat pada dasarnya.”

4. Pengakuan Para Dokter Terhadap Kerasukan Jin

Adalah aneh apabila dari hari ke hari makin kita temukan penjelasan di sana sini dari dokter melalui Koran-koran atau majalah yang berisi pengingkaran terhadap kerasukan jin, dan mendakwahkan bahwa kerasukan jin itu hanyalah semacam khurafat dan bid’ah yang berkembang di tengah masyarakat awam, yang tidak ada dasarnya sam sekali, baik dari agama maupun ilmu.

Ibn al-Qayyim mengatakan, “Adapun kegilaan yang disebabkan oleh jin, maka para dokter dan ilmuwan telah mengakui keberadaannya dan tidak membantahnya. Mereka juga menyakini bahwa pengobatan terhadapnya hanyalah dengan mempertemukan roh-roh yang baik, mulia dan tinggi dengan roh-roh jahat lagi keji tersebut (jin/setan), sehingga roh-roh yang pertama akan mendepak pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh roh-roh kedua, menentang aksinya, dan melumpuhkannya. Inilah yang disebutkan oleh Baqrath (seorang dokter ahli di bidang penyakit jiwa) yang digelari dengan bapaknya para dokter di dalam sebuah bukunya. ia juga menuliskan di dalamnya tentang pengobatan terhadap orang yang terkena sakit jiwa. ‘Pengobatan terhadap yang saya sampaikan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang terkena penyakit kejiwaan biasa, bukan penyakit kejiwaan yang berasal dari roh-roh jahat lagi keji (setan).’ Adapun “dokter-dokter rendahan” dan orang-orang yang percaya kepada zandaqah (kekufuran), maka mereka mengingkari kenyataan ini dan tidak mengakui kebenarannya. Kesimpulan mereka bahwa hal itu bukanlah disebabkan karena jin, melainkan oleh depresi mental atau gangguan kejiwaan semata hanyalah benar (berlaku) pada sebagian keadaan saja, bukan untuk keseluruhan. Mereka (dokter-dokter zindiq) itu tidak mengakui melainkan hanya terhadap depresi mental atau gangguan kejiwaan saja, sebuah kesimpulan bodoh yang membuat tertawa orang-orang berakal dan mempunyai makrifat.”

5. Pendapat Dekan I Fakultas Kedokteran Universita al-Azhar, Mesir

Dr. Ali Muhammad Muthawi, Dekan I pada Fakultas Kedokteran Universitas al-Azhar, Mesir, mengatakan, “Kata “al-mass” yang terdapat di dalam ayat 275 surah al-Baqarah, serta penyakit-penyakit lain yang ditimbulkan olehnya mencakup penyakit hysteria, epilepsy, dan penyakit-penyakit kejiwaan, terutama keguncangan jiwa, dan termasuk juga keraguan-keraguan. Dan yang menyakiti manusia adalah setan-setannya jin, baik jin laki-laki maupun jin perempuan.”

Ia juga mengatakan, “Karena sabda Rasulullah yang berbunyi, ‘kaum perempuan itu kurang akal dan agamanya,‘ jin menjadi lebih banyak datang kepada perempuan ketimbang laki-laki. Jika jin itu telah merasuk ke dalam tubuh seseorang, ia tidak akan selamanya berada kedalam tubuh seseorang, ia tidak akan selamanya berada di dalamnya, melainkan akan meninggalkannya beberapa saat dan kembali lagi kepadanya. Pada saat ia keluar itulah si penderita kelihatan normal dan tidak menunjukkan kejanggalan apa pun. Jika jin yang merasuk itu adalah setan, maka orang itu akan tidak mau mendengarkan Al-Qur’an dan melaksanakan shalat kecuali bila dipaksa. Ia akan senang berlama-lama di dalam kamar mandi atau kakus dan suka menyendiri.”

Dr. Malik Badri, seorang guru besar Universitas Kharthoum mengatakan, “Selaku orang Islam, kita percaya kepada jin sebagai makhluk halus yang tidak terlihat secara kasat mata namun ia ada dan bisa memberi pengaruh terhadap tingkah laku manusia, terutama memberi rasa was-was kepadanya. Hal ini jelas-jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an yang bunyinya, “yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia, dari [golongan] jin dan manusia.” (QS. an-Nas [114] : 5-6) semua orang baik yang sakit maupun yang normal akan terkena pengaruh dari kejahatan makhluk halus ini, minimal sekadar rasa was-was darinya. Sebagian peneliti telah menemukan bahwa di antara orang yang sakit jiwa itu ada mendengar suara-suara yang samar lalu tanpa sadar mereka telah menuruti apa-apa yang dikatakan oleh suara itu.”

6. Pendapat para Dokter Ahli dari Barat

Dr. Abdurraziq Nufal mengatakan : “Sebagian dokter barat berpendapat bahwa di antara penyebab kegilaan pada seseorang adalah terkuasainya diri orang itu oleh roh jahat yang mengakibatkan terjadinya berbagai keguncangan dan kerusakan. Dr. Bowirz, seorang dokter ahli saraf di Kalifonia, Amerika Serikat, menceritakan, “Sewaktu masih muda dulu aku selalu menertawakan pendapat yang mengatakan bahwa roh-roh jahat yang tidak kelihatan itu dalam keadaan-keadaan tertentu mampu menimbulkan keguncangan pada tubuh dan akal sebagian orang ….”

‘Allamah Muhammad Farid Wajdi berkata, “Dr. Hizlub, seorang professor di Amerika Serikat membuat selebaran untuk seluruh dokter di rumah-rumah sakit jiwa di dunia barat yang mengatakan bahwa kegilaan itu bukan hanya disebabkan oleh sakit syaraf (otak), melainkan terkadang juga disebabkan oleh adanya gangguan terhadap otak oleh roh-roh jahat yang obatnya bukan obat yang biasa mereka gunakan. Gaung dari professor ini bergema di Eropa dan menjadi berita utama yang dimuat oleh berbagai media massa. Kami sendiri mengutip kabar ini dari majalah ar-Ruhiyyah.”

Kartjhon, anggota tim riset penting di Amerika menyatakan, “Jelas bahwa kondisi kesurupan merupakan keadaan yang jarang terjadi, yang secara ilmu eksakta tidak mampu dibuktikan, dan tidak difokuskan selama tidak ada hakikat yang mengejutkan sebagai penguat eksistensinya. Selama hal itu begitu, maka pembahasannya menjadi hal yang wajib, tidak hanya dari pihak akademis saja. Sekarang, penyembuhannya memerlukan diagnosis cepat dan penyembuhan segera. “

DR Carlington adalah seorang berkebangsaan Amerika, merupakan anggota Yayasan Penelitian Psikologi Amerika. Dalam pengakuannya tentang gangguan setan yang merasuki manusia, ia mengatakan:

“Sudah jelas keadaan gangguan jin ini paling tidak merupakan keadaan yang nyata, ilmu tidak dapat meremehkannya selama ditemukan atau dijumpai berbagai kenyataan yang mengejutkan lagi membuktikan keberadaannya. Selama telah terjadi seperti itu, maka mempelajari dan menelitinya merupakan suatu kewajiban, bukan saja dipandang dari segi-segi ilmiahnya saja, tetapi karena beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dimasa sekarang mengalami gangguan seperti ini, dan mengingat kesembuhan mereka diperlukan terapi yang cepat dan pengobatan yang segera. Manakala kita telah mengakui keadaan gangguan setan ini bila ditinjau dari sudut teori, maka terbukalah dihadapan kita lapangan yang luas guna melakukan penelitian dan penyelidikan. Hal ini menuntut dilakukannya metode sebagaimana yang dilakukan oleh ilmu masa kini, juga pengkajian secara psikologi, yaitu menuntut adanya perhatian, pelayanan, dan ketekunan.” ***

http://ruqyah-online.blogspot.com/2007/12/kajian-ilmiah-tentang-kerasukan-jin.html

Kesurupan Dalam Timbangan Islam

Fenomena kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Kalangan yang menolak, (lagi-lagi) masih menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”. Semoga, kajian berikut bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil, bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.

Muqaddimah

Peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang. Peristiwa yang lebih dikenal dengan istilah kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan) ini acap kali menjadi polemik di tengah masyarakat kita yang heterogen. Sehingga sekian persepsi bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada yang membenarkan dan ada pula yang mengingkari. Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai perkara dusta dan termasuk dari kesyirikan.

Para pembaca yang mulia, sebagai muslim sejati yang berupaya meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbeda pendapat’ haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al- Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Demikianlah timbangan adil yang dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini, maka kami bermaksud menyajikan –di tengah-tengah anda– beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin ini. Dengan harapan, ini bisa menjadi pelita dalam gelapnya permasalahan dan pembuka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin…

Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata:

“Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang haus akan petunjuknya. Amma ba’du:

Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H, sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yang ringkas dan ada yang detail– tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku di kota Riyadh, yang sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah. Sebelumnya, jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri, seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yang kerasukan itu dan berdialog dengan jin itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan kedzaliman yang diharamkan, saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari tubuh si wanita. Jin itu pun patuh, kemudian menyatakan keislamannya di hadapan saudara Abdullah ini.

Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita kepadaku, agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang kepadaku.

Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia berbicara melalui mulut si wanita itu, akan tetapi suaranya adalah suara seorang laki-laki dan bukan suara wanita yang ketika itu sedang duduk di kursi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan Abdullah bin Musyarraf yang tidak jauh dari tempat dudukku.

Sebagian masyayikh (para ulama) pun menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yang telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memintanya keluar dari tubuh si wanita serta tidak menzaliminya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan: “Aku merasa puas dengan agama Islam.”

Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak kaumnya untuk masuk Islam setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Dia menjanjikan hal itu, lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan terakhir yang dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu, barulah si wanita mulai berbicara dengan suara aslinya dan benar-benar merasakan kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.

Selang sebulan atau lebih, si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara laki-laki, paman, dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran- pikiran kotor yang bertentangan dengan syariat. Pikirannya selalu condong kepada agama Budha serta antusias untuk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini, setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut, sirnalah berbagai pikiran yang menyimpang itu.

Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa ini adalah penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yang dibawa oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. (Seketika itu juga –pen.), kuminta kaset rekaman tentang dialogku dengan jin tersebut. Setelah kudengarkan secara seksama, aku pun yakin bahwa suara itu adalah suara jin. Sungguh aku sangat heran dengan pernyataan yang dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi, bahwa itu adalah rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/alat rekam yang bisa ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement yang sulit untuk diterima.

Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa masuk Islamnya seorang jin oleh seorang manusia bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي

“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” (Shad: 35)

Tidak diragukan lagi, pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yang keliru, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah.

Masuk Islamnya seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman (di atas). Karena sungguh telah banyak jin yang masuk Islam (dalam jumlah besar) melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَّدَ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ {رَبِّ هَبْ لِيْ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي}، فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي

“Sesungguhnya setan telah menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalahkannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” Demikianlah lafadz yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari. Adapun lafadz Al- Imam Muslim adalah sebagai berikut:

إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللهَ أَمْكَنَنِيْ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِيْ سُلَيْمَانَ {رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي} فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِئًا.

“Sesungguhnya ‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalahkannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga kalian semua dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”

Para pembaca yang budiman, peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan, telah ada keterangannya di dalam Kitabullah (Al-Qur`an), Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ (kesepakatan) umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi orang yang tergolong intelek (berpendidikan) untuk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu dan petunjuk ilahi. Bahkan karena semata-mata taqlid kepada sebagian ahli bid’ah yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan untuk anda –wahai pembaca– beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini, insya Allah.

Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)

 Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia, yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila (rusak akalnya).”

 Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu gila/hilang akal. Seseorang disebut مَمْسُوْسٌ (gila/hilang akal) jika dia menjadi gila atau rusak akalnya.”

Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya, yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan (dari kuburnya) di hari kiamat dalam keadaan gila (rusak akalnya).’ (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim). Seperti itu pula yang diriwayatkannya dari Auf bin Malik, Sa’id bin Jubair, As-Suddi, Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan (tentang ayat tersebut).”

 Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia, serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia.”

Perkataan para ahli tafsir yang semakna dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari, insya Allah akan mendapatkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa (19/9-65), –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh karena itu, sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i, Abu Bakr Ar-Razi, dan yang semisalnya, mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan, namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu (menurut mereka) karena dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang adanya jin, walaupun sesungguhnya (pendapat) mereka itu keliru. Karena itu, Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka (yakni Ahlus Sunnah) menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’ Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa (24/276-277) juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah (para pendahulu umat ini) dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia, juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)

Di dalam kitab Ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’

Apa yang Al-Imam Ahmad katakan ini adalah perkara yang masyhur. Sangat mungkin seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan keras pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan, niscaya akan kesakitan. Sebagaimana ia tidak menyadari pula apa yang diucapkannya. Seorang yang kesurupan, terkadang dapat menarik tubuh orang lain yang sehat. Dia juga dapat menarik alas duduk yang didudukinya, serta dapat memindahkan berbagai macam benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan sebagainya. Siapa saja yang menyaksikannya, niscaya meyakini bahwa yang berbicara melalui mulut orang yang kesurupan itu dan yang menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yang kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.”-sekian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-

Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (4/66-69) berkata: “Kesurupan ada dua macam:

1. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini.

2. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik yang amat buruk.

Jenis kedua inilah yang dibahas oleh para dokter, berikut faktor penyebab dan cara pengobatannya.

Adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat (di antaranya jin/setan, -pen), para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka, pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya, bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.

Keyakinan semacam ini telah dinyatakan oleh Buqrath (Hipocrates) dalam beberapa bukunya, berikut beberapa jenis pengobatan untuk kesurupan. Buqrath mengatakan: ‘Pengobatan ini hanya berfungsi untuk kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik dan masuknya zat-zat tertentu ke dalam tubuh. Sedangkan kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh-roh jahat (termasuk jin/setan), maka pengobatan di atas tidaklah bermanfaat.’

Adapun sebagian dokter yang bodoh dan rendah –terlebih yang mengagungkan paham zandaqah (zindiq/kafir, tidak percaya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala)– mengingkari kesurupan. Mereka juga tidak mengakui adanya efek buruk roh-roh tersebut terhadap tubuh orang yang kesurupan. Mereka sesungguhnya telah dikuasai oleh kebodohan. Sebab menurut ilmu kedokteran sendiri, jenis kesurupan semacam ini benar-benar ada dan tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita.

Berkenaan dengan klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik, memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan saja dan tidak secara keseluruhan.” –Hingga perkataan beliau–: “Kemudian datanglah para dokter dari kalangan zanadiqah yang tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yang diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yang berakal dan mengetahui (hal ihwal) roh berikut gangguannya, akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka (para dokter) itu.

Untuk mengobati kesurupan jenis ini, perlu memperhatikan dua hal:

1. Berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri.

2. Berkaitan dengan orang yang mengobatinya.

Adapun yang berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri, maka dengan kekuatan jiwanya dan kemantapannya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala) serta kesungguhannya dalam meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat pertempuran, yang mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dengan senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar tajam, dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya, maka senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, dan kemantapan dalam menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu lebih dari itu, yakni dia tidak memiliki senjata.”

Sedangkan yang berkaitan dengan orang yang mengobati, dia pun harus memiliki dua hal yang telah disebutkan di atas. Sampai-sampai (ketika kedua hal tersebut telah terpenuhi, -pent.) di antara orang yang mengobati itu ada yang cukup mengatakan (kepada jin/setan tersebut): ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’ atau ‘Laa haula wala quwwata illa billah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Aku adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Aku (Ibnul Qayyim, -pent.) pernah menyaksikan Syaikh kami (yakni Ibnu Taimiyyah, -pent.) mengutus seseorang kepada orang yang sedang kesurupan, untuk menyampaikan kepada roh (jin) yang ada pada diri orang yang kesurupan itu: “Syaikh menyuruhmu untuk keluar (dari tubuh orang ini), karena perbuatan itu tidak halal bagimu!” Seketika itu sadarlah orang yang kesurupan tersebut. Dan terkadang beliau menanganinya sendiri. Ada kalanya roh itu jahat, sehingga untuk mengusirnya pun harus dengan pukulan. Ketika orang yang kesurupan itu tersadar, dia tidak merasakan rasa sakit akibat pukulan tersebut.

Sungguh kami dan yang lainnya sering kali menyaksikan beliau rahimahullahu melakukan pengobatan semacam itu.” –Hingga perkataan beliau–: “Secara garis besar, kesurupan jenis ini berikut pengobatannya tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang minim ilmu, akal, dan pengetahuannya.

Kebanyakan masuknya roh-roh jahat ini ke dalam tubuh seseorang disebabkan minimnya agama dan kosongnya hati serta lisan dari hakekat dzikir, permintaan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta pembentengan keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ketika ia tidak lagi memiliki senjata dan kosong sama sekali dari pembentengan diri, masuklah roh-roh jahat itu kepadanya.” -sekian nukilan dari Ibnul Qayyim-

Dari beberapa dalil syar’i yang telah kami sebutkan dan juga ijma’ ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang kemungkinan masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan), maka menjadi jelaslah bagi para pembaca akan batilnya pernyataan orang-orang yang mengingkari permasalahan ini. Menjadi jelas pula kekeliruan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi dalam pengingkarannya tersebut. Dia berjanji untuk rujuk kepada kebenaran kapan pun tampak baginya. Maka dari itu, hendaknya dia kembali kepada kebenaran setelah membaca keterangan kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1586-1595)
Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu

Suatu hari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Adakah dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia?”

Beliau menjawab: “Ya. Ada dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia.

Dari Al-Qur`anul Karim, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya.”

Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah berkata: “Bahwasanya mereka –yakni Ahlus Sunnah– menyatakan: ‘Sesungguhnya jin dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan’.” Beliau berdalil dengan ayat (275 dari surat Al-Baqarah) di atas.

Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’

Ada beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi: “Bahwasanya seorang bocah gila didatangkan di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (kepada jin yang merasukinya, -pent) :Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adalah Rasulullah.’ Maka sembuhlah bocah tersebut.” (Al-Musnad, no. 17098, 1713)

Dari sini engkau dapat mengetahui bahwa permasalahan masuknya jin ke dalam tubuh manusia ada dalilnya dari Al-Qur`anul Karim dan juga dua dalil dari As-Sunnah.

Inilah sesungguhnya pendapat Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan para imam dari kalangan as- salafush shalih. Realita pun membuktikannya. Walaupun demikian kami tidak mengingkari adanya penyebab lain bagi penyakit gila seperti lemahnya syaraf atau rusaknya jaringan otak, dll.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah Min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1563-1564)

Penutup

Pembaca yang budiman, demikianlah sajian ilmu dari dua ulama besar Ahlus Sunnah Wal Jamaah jaman ini seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan), yang berpijak di atas dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama terpercaya umat Islam. Adapun kesimpulannya, sebagai berikut:

1. Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya.

2. Masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan/ kerasukan setan), benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya serta realita pun membuktikannya.

3. Para pemuka dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin, sebagaimana keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga, barangsiapa mengklaim bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah berdusta atas nama syariat itu sendiri.

4. Masuk Islamnya jin melalui seorang manusia, diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي
“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.”

Wallahu a’lam.

http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/02/kesurupan-dalam-timbangan-islam.html