Budaya Porno, Kuno!

Buletin Gaul Islam
03 April 2006 – 04:46

Budaya Porno, Kuno!

STUDIA Edisi 287/Tahun ke-7 (3 April 2006)

Pornografi dan pornoaksi udah lama bikin gara-gara di negeri kita. Peredarannya yang liar tak terkendali baik di dunia nyata, layar kaca, apalagi di dunia maya bikin resah masyarakat.

Buktinya, meski menuai banyak protes, majalah Playboy versi Indonesia tetep ngotot bakal nongol bulan April 2006 ini. Di layar kaca, menurut sebuah penelitian yang dilakukan tim Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, dari beragamnya program acara yang ditayangkan, hampir separo nyaris berpotensi menampilkan visualisasi yang berbau pornografi (jawapos.com, 25/01/06). Di dunia maya, cyberporn berceceran nggak karuan. Kata Direktur Manajer Aneka CL- Jejak Kaki Internet Protection, William B Kurniawan, hingga saat ini lebih dari 1.100 situs lokal terlarang ditemukan di dunia maya (Media Indonesia Online, 27/01/06)

Tuh kan sobat, gimana bisa hidup tenang kalo media porno mengepung kita dengan rapat dari delapan penjuru mata angin. Rada mending pemerintah negeri ini mau bersusah payah ngegodok Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Tapi kok gak mateng-mateng ya tuh RUU? Ya gimana mo mateng kalo masih ada pro-kontra dan nggak serius dari dulu. Hehehe…

Bener lho. Selain karena adanya pro-kontra, juga emang nggak serius. Bahkan harus tarik-ulur dan akhirnya banyak pasal yang kompromistis (khas sekularisme-lah).

Pro-kontra RUU APP
Saat ini masyarakat Indonesia terbagi pada dua kubu terkait rencana pengesahan RUU-APP oleh pemerintah. Satu kubu menolak mentah-mentah dan kubu lainnya mendukung mateng-mateng.

Sedikitnya 13 LSM yang mengusung hak perempuan tegas-tegas menolak RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi disahkan jadi UU (23/2/2006). Di Yogyakarta, himpunan elemen mahasiswa bersama sejumlah aktivis perempuan membubuhkan tanda tangan sebagai penolakan atas RUU APP (Detik.com, 08/03/06). Nggak ketinggalan para selebritis seperti Dian Sastro yang bergabung dalam Aliansi Mawar Putih, mengajak rekan-rekan profesinya untuk ikut membuat petisi penolakan RUU APP. (Fajar Online, 10/03/06).

Yang mendukung, jumlahnya jauh lebih banyak. Seperti yang tergabung dalam aksi solidaritas yang digelar MUI, berbagai elemen masyarakat dan organisasi Islam pada ahad (26/03/06) lalu. Bahkan menurut ketua pansus RUU-APP, Balkan Kaplale, dari 167 lembaga masyarakat yang menemui pansus, 144 menyatakan setuju dan 23 menolak. Itu artinya, yang menolak keliatan banyak karena dibesarkan oleh pemberitaan media massa. Padahal mah, dikit tuh!

Selain yang pro dan kontra, ternyata ada kubu ketiga yang belon kesebut dan malu memperkenalkan diri. Mereka adalah pihak yang ragu bin nggak berani nentuin sikap. Suara hatinya sih mungkin ngedukung abis usaha pemerintah negeri ini untuk memerangi pornografi dan pornoaksi. Tapi kalo nggak boleh pake pakaian seksi atau nggak boleh bermesraan ama bokin di tempat umum, gimana yaa?

Ada apa dengan penolakan RUU-APP?
Yup, kita wajib tahu alasan yang dipake para penolak RUU APP. Biar kita bisa menilai apakah alasan mereka itu masuk akal atau cuma akal-akalan. Yuk!

Pertama, RUU APP dianggap bias gender karena wanita yang selalu disalahkan sebagai biang keladi penghancur moral masyarakat. Padahal nggak ada tuh dalam draf RUU kata-kata wanita atau perempuan. Yang dicantumkan, ‘setiap orang’. Mereka aja kalee yang kegeeran lantaran suka pake busana yang mini dan berperilaku sensual. Makanya busana tuh digunakan sesuai fungsinya untuk menutup aurat, bukan malah mengumbar aurat di depan umum. Kena deh!

Kedua, mengancam pariwisata terutama di Pulau Dewata. Waduh, ini alasan apa kejujuran. Kita malah sedih denger pernyatan ini. Berarti selama ini daya tarik wisata kita dengan panorama alam yang indah cuma dijadiin tempat bule-bule nggak pake baju berjemur di pantai. Atau pake baju irit bahan berkeliaran di tempat-tempat umum. Udah gitu mo dipertahankan cuma karena alasan ekonomi dan devisa. Nggak mikir apa budaya Barat sekuler yang dibawa para turis asing itu justru bakal ngancurin budaya negeri ini? Teganya…teganya…!

Ketiga, RUU APP dikhawatirkan bakal menghilangkan budaya tradisional kebanggaan bangsa seperti pakaian koteka di Papua, kemben di Jawa, atau kostum penari adat di Bali. Pemikiran yang aneh. Masa’ kita rela ngebiarin mereka tetep ngelakonin kehidupan jahiliyah dengan mengumbar aurat. Padahal kita sendiri bakal ogah bin malu van tengsin kalo kudu hidup kayak mereka. Ya, karena kita tahu itu udah bukan jamannya lagi. Apalagi setelah Islam datang dengan aturannya yang memuliakan manusia dalam kehidupan. Emangnya mo balik ke jaman Flinstone?

Keempat, memasung kreasi seni. Kasian banget ya para seniman kalo karya mereka dianggap eksis cuma karena bisa bikin yang sensual dan cenderung vulgar. Seolah-olah kreasi para seniman mati kutu kalo nggak mengeksplorasi daya tarik seksual dan memposisikan wanita sebagai objek. Kalo memang ngerasa seniman tulen yang punya cita rasa dan apresiasi seni yang luhur dan mulia, tentu nggak perlu risau dengan RUU APP ini. Justru seneng lantaran nama baiknya tidak tercoreng oleh oknum seniman yang cuma punya modal otak mesum. Iya nggak seh?

Kelima, isi RUU APP yang mengatur cara berpakaian dan ekspresi cinta dianggap ikut campur ruang privat rakyatnya. Padahal aturan itu mencakup perilaku sensual yang dibawa ke tempat umum. Makanya ada kata-kata ‘dipertontonkan’, ‘disebarluaskan’, atau ‘disiarkan’. Jadi kalo di luar rumah pake baju seksi bin full pressed body atau kissing di tempat umum dianggap privasi dan nggak mau diatur, mending jadi peliharaan manusia aja. Lantaran RUU APP ini nggak akan diberlakukan bagi ayam, bebek, burung, kucing atau kambing dan sejenisnya. Dijamin aman deh!

Sobat, ternyata alasan penolakan terhadap RUU APP ini kebanyakan karena mereka ngotot kalo aturan pornografi nggak boleh masuk dalam area seni, budaya, pariwisata, kebebasan berekspresi, atau ruang privasi. Lha, kalo pengertian pornografi cuma setengah-setengah atau malah nunggu semua pihak sepakat, alamat nggak akan pernah kelar pengesahan RUU APP. Sama aja pengen tetep melestarikan budaya porno yang gencar menyerang kita. Piye iki?

Pake definisi yang pasti!
Dalam Islam, pengertian porno itu berarti menampilkan auratnya baik cewek maupun cowok di tempat umum. Makanya Islam punya batasan yang tegas bin jelas tentang aurat. Kalo batasan aurat cowok mah udah hapal kalee. Yup, antara pusar dan lutut. Sementara aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Itu berarti lehernya–meski jenjang–tetep aurat. Begitu juga dengan rambut walau indah, hitam, panjang, dan no ketombe tetep aurat yang kudu ditutupi kalo keluar rumah. Nggak boleh keliatan sehelai pun.

Nabi saw. pernah berkata kepada Asma‘ binti Abu Bakar: “Wahai Asma‘ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” (HR Abu Dawud)

Dalam sudut pandang Kapitalisme-Sekularisme, pengertian pornografi jadi kabur alias nggak jelas. Seperti yang diutarakan oleh Dr. Janet E. Steele, pengajar di Universitas George Washington. Ia mengatakan: Tidaklah mungkin menarik garis (tegas) dengan mengatakan apa yang disebut pornografi dan yang bukan pornografi, sehingga bahkan tidak ada gunanya mencoba membuat batasan (yang tegas). Nah lho, gimana tuh?

Di kepala kaum kapitalis-sekuler, pornografi udah jadi komoditi bisnis. Pekerja seni, budayawan, fotografer, perancang busana, artis, dan selebriti ngerasa bebas ngartiin pornografi untuk membenarkan apa yang mereka perbuat. Makanya sebagian mereka menolak keras pengesahan RUU APP yang dianggapnya bakal mengancam kehidupan mereka. Emangnya wabah flu burung?

Buat kita selaku remaja muslim, tentu cuma kacamata Islam yang wajib dipake untuk menilai pornografi. Biar jelas, tegas, dan pastinya dapet ridho Allah. Bukan ngikutin hawa nafsu. Betul?

Oya, dalam pandangan Islam, aturan menutup aurat itu selain ketika keluar rumah, juga ketika di dalam rumah tapi ada orang asing (bukan mahram) saat mereka bertamu atau berkunjung. Eh, suami-istri boleh kok ciuman, tapi di dalam rumah dong. Kalo di luar rumah? Wah, nggak etis aja, gitu lho. Malu atuh diliat sama orang. Entar orang lain tergoda deh.

Ada yang sama pentingnya…
Sobat, kalo kita telusuri jejak hadirnya pornografi dan pornoaksi di negeri kita, nggak akan terlepas dari pola hidup sekuler Barat yang menjajah kita. Pola hidup yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan ini turut membidani lahirnya orang-orang matre bin individualis. Rela menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan pribadi. Walhasil, tiap orang bebas mo ngapain aja sepanjang nggak ganggu orang laen secara kriminal.

Orang-orang model gini yang gampang ngiler ngeliat keuntungan yang dijanjikan bisnis birahi yang makin diminati. Mereka terjun menekuni usaha yang menjual ‘aset-aset berharga’ yang dimiliki setiap wanita or lelaki. Biar nggak disumpahin orang lantaran jadi biang kehancuran moral masyarakat, mereka berlindung di balik kreasi seni, kebebasan berekspresi, tren fashion, hingga tuntutan skenario. Basi deh!

Kondisi seluruh kehidupan saat ini seharusnya menjadi perhatian kita juga selain pro-kontra RUU APP. Sebab, masalah kriminalitas, korupsi, kemiskinan, ketidakadilan pelaksanaan hukum dll sama pentingnya dengan masalah pornografi untuk segera diselesaikan. Jangan dibiarin tambah parah. Lantaran pola hidup ini yang jadi biang kehancuran setiap sisi kehidupan kita. Nggak cuma dalam masalah pornografi. Kalo tetep dibiarkan, boleh jadi meski RUU APP berhasil disahkan, masalah pornografi tetep ada. Bukan apa-apa, karena pola hidup yang diciptakan Kapitalisme-Sekularisme inilah yang ikut membina kader-kader pelaku bisnis media porno, pekerja seni pembangkit birahi, sampe wanita-wanita yang rela di foto telanjang untuk majalah Plaboy edisi Indonesia dengan bayaran $US 200! Walah!

Sehingga cara yang pas untuk beresin setiap masalah yang ada di negeri kita, termasuk kasus pornografi dan pornoaksi adalah dengan membabat abis aturan hidup Kapitalisme-Sekularisme beserta anak-cucunya. Nggak cuma menggolkan RUU APP, tapi yang penting adalah penerapan seluruh aturan Islam oleh negara. Caranya? Ganti sistem Kapitalisme dengan Islam sebagai ideologi negara. Itu baru Te O Pe Be Ge Te.

Budaya porno itu kuno
Sobat, dalam pelajaran sejarah atau film kartun Flinstone kita diperkenalkan kehidupan manusia primitif. Yang paling keliatan banget dalam peradaban primitif itu adalah cara berbusana mereka. Yup, bahannya irit banget sehingga nggak semua bagian tubuhnya tertutupi. Yang penting badannya nggak kedinginan atau kepanasan. Dalam berbuat pun mereka cenderung bebas tanpa aturan, karena sekadar memenuhi kebutuhan hidup aja.

Kondisi kayak gini akan senantiasa menyapa kita kalo kehidupan Sekulerisme-Kapitalisme masih dipelihara. Padahal Islam udah hadir di tengah-tengah kita dengan membawa aturan hidup yang memuliakan manusia dalam berpakaian maupun perbuatan. Makanya aneh, setelah Islam datang kok mau-maunya kembali ke jaman kuno dengan ngotot mempertahankan budaya porno. Itu namanya nggak beradab.

Itu sebabnya, kita sekarang kudu gencar menyuarakan penerapan syariat Islam oleh negara yang bisa menjaga kehidupan kita beradab dan mulia. Kalo nggak kita, siapa lagi yang mau peduli. Padahal entar kita-kita juga yang kena batunya. Karena itu, saatnya untuk belajar Islam dan terjun bersama dalam barisan dakwah untuk mengkampanyekan penerapan syariat Islam oleh negara.

Sekarang pilih mana: kembali ke jaman kuno, yakni jaman purba yang bebas berbuat tanpa aturan, atau kembali kepada Islam? Orang cerdas pasti pilih syariat Islam. Oke? [Hafidz: hafidz341@telkom.net]

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/budaya-porno-kuno.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s