Dosa-dosa Kita…

STUDIA Edisi 272/Tahun ke-6 (19 Desember 2005)

Rasa-rasanya jarang banget di antara kita-kita yang sering nginget-nginget soal dosa. Justru sebaliknya kita paling asyik dan hot kalo ngomongin tentang kebaikan kita. Mungkin itu naluriah kali ye? Manusia kan punya harga diri. Itu sebabnya manusia bisa malu kalo dirinya dianggap rendah di hadapan orang lain. Siapa sih yang nggak malu kalo ketahuan kita berbuat salah? Pasti malu banget. Loss pride. Iya kan?

Rasa malu ini sebenarnya wajar. Cuma mungkin penempatannya kudu diperhatikan dengan baik. Kalo kita malu sama orang ketika kita berbuat salah, rada-rada mendinglah. Tapi kalo kemudian diem-diem tetap melakukan kesalahan tersebut, nah ini yang bandel. Dan mungkin nggak punya rasa malu sebenarnya.

Lebih hebat lagi kalo kita punya rasa malu sama Allah. Wuih, keren banget tuh. Kalo malu kepada manusia dibilang masih “mending”, tapi malu kepada Allah itu yang luar biasa hebatnya. Kalo kita malu kepada manusia wajar, karena manusia bisa dilihat sama kita dan kita pun bisa melihat manusia lainnya. Jadi dari sisi psikologis kita malu kalo perbuatan kita ketahuan sama orang lain.

Itu sebabnya, minggat dari sekolah pada jam pelajaran, kebanyakan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kalo puasa Ramadhan makan di siang hari, banyak teman kita yang sangat malu. Makanya, pas makan di restoran or sekadar di warteg pasti tuh warung ditutupin pake kain (kayaknya cuma Ramadhan aja tuh warung pake hijab). Begitu pun para pelaku kriminal yang sering jadi bintang utama di acara Buser, TKP, Sergap dan lainnya hampir selalu di antara mereka menutup wajahnya kalo di-shoot sama kamera televisi.

Sobat muda muslim, kita pun rada-rada malu kalo harus nyeritain dosa kita kepada teman-teman. Aib euy. Iya sih, tapi itu masih wajar lho. Yang nggak wajar tuh kalo kita nggak malu dan terus berbuat dosa. Misalnya aja, dengan bangga ada orang yang bilang ke teman-temannya kalo dia tuh udah ngelakuin seks bebas, udah nyoba narkoba, udah ngerampok dsb. Bahkan dengan hebatnya bisa ngitung pasti jumlah maksiat yang dikerjakan. Tapi bukan untuk dijadikan pelajaran dan dia meninggalkan perbuatan itu, tapi malah direken sebagai prestasi hidupnya. Waduh!

Tapi rasanya kita juga harus meluangkan waktu untuk merenung. Berhenti sejenak dari segala aktivitas hidup kita. Kita coba menghitung dosa yang pernah kita lakukan. Kalo yang besar-besar dan mungkin sering kayaknya kita inget. Tapi berapa pasti jumlah keseluruhan dosa yang pernah kita buat mungkin nggak tahu. Karena jarang juga ada yang mau menghitungnya. Mungkin karena malas atau memang nggak peduli.

Sobat, dosa yang kita perbuat memang nggak perlu dipublikasikan kepada orang lain. Tapi kita wajib mengingatnya agar tak pernah lagi kita lakukan di masa yang akan datang. Kita wajib malu sama Allah. Itu sebabnya, kita selalu minta ampunan dalam doa-doa kita setelah selesai sholat. Karena kita sangat yakin, bahwa ada aja dosa besar ataupun kecil yang kita buat dalam hidup ini. Meski kita beramal baik juga, tapi kita senantiasa khawatir kalo-kalo tuh dosa lebih banyak ketimbang amal baik kita. Jadi, pantas banget kan kalo kita memohon ampunan kepada Allah?

Jangan sombong dong, dengan tak pernah minta ampun kepada Allah. Apalagi kalo terus berbuat dosa dengan alasan itu dosa kecil. Inget Bro, kecil juga kalo ditumpuk jadi besar. Sedikit juga kalo ditabung terus jadi banyak. Awalnya malu berbuat dosa, tapi lama-lama bisa tebal muka karena merasa terbiasa. Ini gawat. Maka, dari sekarang deh mulai interospeksi tentang dosa-dosa kita. Siap?

Dosa menghalangi ilmu dan rezeki
Suatu ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik. Ketika itu Imam Malik terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafi’i. Lalu Imam Malik berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Namun pada suatu hari ketika Imam Syafi’i sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, wasiat Imam Malik tersebut ia langgar. Ia melihat tumit seorang wanita. Seketika itu pulalah hafalannya kacau, padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya. Imam Waki’ pun kembali mengingatkan Syafi’i terhadap nasihat Imam Malik, yaitu agar ia meninggalkan dosa sebagai obat manjur menguatkan hafalannya.

Imam Syafi’i kemudian mengakui ‘penyesalannya’ dengan mengatakan, “Kuadukan kepada Waki’ buruknya hafalanku. Maka ia menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat. Ia juga mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.” (Dr. Khalid Abu Syadi, Alangkah Buruknya Dosa, hlm. 13-14)

Sobat, nggak kebayang gimana kalo seandainya orang seperti Imam Syafi’i hidup di jaman kita. Pasti sulit banget untuk terhindar dari dosa. Gimana nggak, begitu keluar rumah aja banyak dijumpai wanita yang bukan mahram kita membuka auratnya. Bukan hanya tumit yang kelihatan seperti yang tak sengaja dilihat Imam Syafi’i , justru bisa jadi jaman sekarang banyak wanita yang kelihatan seluruh tubuhnya kecuali tumitnya.

Duh, mungkin ini juga yang bikin banyak di antara kita yang sangat buruk hafalannya. Karena setiap hari kita menyaksikan aurat wanita di mana-mana. Termasuk buat yang perempuan juga lho, mereka sering ngelihat aurat kaum cowok. Meski mungkin jumlahnya lebih banyak kaum cewek yang ‘terbuka’.

Ya, kayaknya kita juga kudu interospeksi diri kalo banyak di antara kita yang bodoh dan sedikit ilmu. Selain karena nggak pernah belajar (mungkin sebagian lagi karena nggak bisa belajar karena nggak punya duit untuk sekolah), juga karena kita banyak berbuat maksiat. Sehingga ilmu nggak bisa mampir kepada orang yang selalu berbuat maksiat. Kita jadi sulit belajar. Naudzubillahi min dzalik.

Maksiat tuh ngilangin rasa malu
Berbuat dosa alias maksiat kepada Allah bisa ngilangin rasa malu, lho. Suer. Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perkataan (sabda) Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad)

Jangan salah lho, hadis ini pemahamannya bukan berarti bahwa Rasulullah memberikan kebebasan yang membawa manfaat, melainkan mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki, padahal risikonya ditanggung sendiri, tuh. Ungkapan itu seperti firman Allah Swt.:
“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat [41]: 40)

Malu bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Perbuatan yang akan membuatnya merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Dengan malu pula, kita bisa mencegah diri ketika akan melakukan dosa. Secara naluri memang demikian, siapapun orangnya yang masih punya hati nurani. Dan memang hanya rasa malu yang mampu membawa kepada kebaikan. Sabda Nabi yang mulia: “Malu hanya membawa kepada kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga kita supaya sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, kalo ada di antara kita yang pacaran dan gaul bebas, lalu sadar dan merasa bahwa perbuatannya itu bertolak belakang dengan keimanan dan agamanya. Kemudian merasa malu untuk melakukan kebiasaannya, hingga akhirnya menjadi anak yang baik, sholeh, taat sama agamanya. Dengan begitu, insya Allah selamatlah dia. Namun lebih parah lagi, bila ada orang yang sudah sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang salah, tapi ternyata masih getol melakukannya. Benar-benar orang tersebut tidak punya rasa malu.

Tanpa kita sadari, ternyata kita sering mengabaikan sikap yang satu ini. Entah karena kita sudah merasa bahwa tak perlu punya rasa malu lagi, atau memang tak tahu malu. Pepatah baik yang disampaikan kepada kita dari siapapun sering kali kita mendiamkannya. Padahal, saat itu kita sedang melakukan perbuatan yang memalukan. Malu-maluin!

Jangan merasa aman
Kadang kita merasa aneh yang punya bapak heran alias aneh bin heran ketika melihat mereka yang berbuat maksiat itu banyak juga yang malah hidup enak. Hidup berkecukupan. Punya jabatan mentereng, mobil mewah, rumah megah, dan kekayaan melimpah. Kondisi hidupnya itu ditunjang karena hasil dari usaha membuka rumah judi, menjual minuman keras. Sementara kita yang insya Allah taat kepada Allah dan sepenuh hati melaksanakan ajaran Islam, kok malah hidup miskin dan menderita?

Kadang kita heran juga ngelihat George W. Bush yang udah memerintahkan tentaranya nyerbu Irak dan Afghanistan malah aman-aman aja dan hidup tenang dan menikmati kebabasan dan kekayaan yang dimilikinya. Banyak juga yang maksiat tuh pinter-pinter dari sisi akademik. Apa skenario Allah di balik ini?

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu menyaksikan seorang hamba mendapatkan dari Allah Ta’ala apa yang ia sukai dari kehidupan dunia, namun ia terus berkecimpung dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa semua itu hanyalah istidraaj.” (dalam kitab Wa Aswataah Wa In ‘Afauta)

Lalu Rasulullah saw. membacakan firman Allah Swt.:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS al-An’aam [6]: 44)

Sobat, dari ayat ini bisa dipahami tentang makna istidraaj, yakni penangguhan hukuman dan ditundanya azab. Itu sebabnya, jangan merasa aman ketika kita telah begitu banyak dikelilingi kemewahan hasil perbuatan maksiat kita. Jangan merasa bangga hidup berkecukupan meski selalu berbuat dosa. Karena, itu hanya penangguhan saja dari Allah.

Semoga kita cepetan sadar ya. Memang sih anak keturunan Adam nggak bisa lepas dari dosa. Tapi, sebaik-baik yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat. Tobat nggak mau ngelakuin maksiat lagi. Menghindari maksiat dan senantiasa taat kepada Allah dan berharap ampunan dariNya.

Kita pantas untuk waspada, karena Allah sudah menggambarkan tentang keadaan orang-orang kafir. Nggak mau kan kita digolongkan dengan mereka? Allah menjelaskan dalam firmanNya: “Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf [43]: 33-35)

Oke deh, semoga tulisan sederhana di buletin ini membuat kita tercerahkan dan senantiasa mengingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan berusaha untuk bertobat dan tak akan pernah melakukannya lagi. Insya Allah bisa. Yakin itu. [solihin: sholihin@gmx.net]

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/dosa-dosa-kita.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s