Indahnya menikah

Ini khusus untuk para Akhi dan Ukhti yang belum menikah. Setiap bertemu kenalan atau teman muslim dan muslimah yang masih lajang (dan cukup umur), saya selalu berusaha menyindir dengan harapan agar segera menikah. Jadi saya mohon, bukalah hati Anda agar hati Anda dapat ikut membaca tulisan saya ini, bukan hanya mata dan otak saja. Dan juga, tolong sedikit kurangi prosentase logika karena logika Anda tidak bisa memprediksikan dengan tepat apa yang akan terjadi nanti.

Percayakah Anda kalau menikah itu adalah sesuatu yang indah ? Secara lisan mungkin Anda bilang “percaya”, tetapi memang itu sulit dirasakan tanpa menjalaninya, jadi bisa dibilang sebenarnya Anda belum yakin betul. Kadang banyak sekali alasan dari mulut Anda kenapa Anda tidak segera menikah, diantaranya :
Belum selesai kuliah / sekolah.
Secara finansial belum mampu.
Anda sedang menjalani suatu pekerjaan yang mensyaratkan tidak boleh menikah dalam jangka waktu tertentu.
Belum ketemu yang cocok atau belum dapat jodoh.
Masih ingin bersenang-senang menikmati masa muda.
Belum mendapatkan restu dari orang tua (mungkin orang tua Anda merasa tidak cocok dengan calon pasangan Anda).
Takut kepada lawan jenis.
Merasa jelek. Seringnya malah saya ketemu orang yang merasa paling ganteng dan paling cantik sedunia seperti saya dan istri saya, he he he…
Belum berani bertanggung jawab.
dan lain sebagainya…

Dan karena menikah, Anda akan dapat kehilangan :
Waktu untuk berkumpul dengan teman-teman.
Waktu untuk menyalurkan hobi. Malah bisa-bisa Anda kehilangan hobi lama Anda.
Kesenangan-kesenangan pribadi, misalnya merokok, minum, menggosip, memakai pakaian minim, dan sebagainya – yang kebanyakan sebenarnya adalah hawa nafsu Anda.

Semua alasan di atas adalah alasan yang sebenarnya timbul dari dalam hati Anda. Hati adalah sesuatu yang sangat rentan pengaruh, baik dari dalam diri Anda sendiri maupun dari luar. Apabila dapat mempengaruhi hati dengan agama, dengan berdzikir kepada-Nya, menyebut nama-Nya, itu jauh lebih baik. Yakinlah dengan seyakin-yakinnya, ridho Allah SWT jauh lebih baik daripada dunia seisinya.

Dan alasan-alasan tersebut sesungguhnya bisa disiasati. Misalnya, Anda belum selesai kuliah. Seringnya ini dihubungkan dengan tradisi orang-orang tua kita, kalau mau menikah harus “jadi orang” dulu, sekolah » kerja » menikah. Malah ada yang menyisipkan ketentuan harus mempunyai harta yang cukup (bisa cukup tabungan yang banyak, cukup 3 mobil, cukup 1 rumah mewah, dsb). Dan lucunya ini jadi standar wajib. Padahal belajar adalah suatu proses seumur hidup, dari mulai di dalam rahim sampai kita mati. Tidak ada salahnya menikah di saat kuliah. Konsekuensinya mungkin hanya masalah pembagian waktu. Atur waktu agar bisa bekerja paruh waktu. Saat menjalankan waktu untuk kuliah atau belajar atau membuat skripsi, konsentrasikan tenaga dan pikiran Anda. Begitu juga saat Anda bekerja paruh waktu. Kuncinya, atur waktu dan atur konsentrasi.

Bagaimana apabila Anda merasa secara finansial belum mampu ? QS 24. An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Ayat ini adalah motivasi utama untuk yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Anda akan menjadi super yakin apabila Anda sudah menikah dan menjalaninya. Tetapi Anda harus mau sabar dan tawakkal kepada Allah serta tetap berusaha, bahkan saat Anda benar-benar kehabisan uang. Jangan jalani maksiat dan pekerjaan yang haram hanya karena Anda tidak punya uang. Kalau Anda bilang tidak punya uang, saya percaya. Tetapi kalau Anda bilang tidak bisa makan, saya 100% tidak percaya.

Apabila Anda sedang menjalani suatu pekerjaan yang mensyaratkan tidak boleh menikah dalam jangka waktu tertentu, tetaplah jalani pekerjaan tersebut dan jagalah keinginan Anda untuk menikah. Untuk lebih yakin lagi, bilang ke orang tua dan calon mertua dan jelaskan keadaan Anda, berjanjilah untuk segera menikah setelah jangka waktu tersebut lewat dan sekaligus minta restu mereka.

Belum ketemu yang cocok ? Itu tergantung kriteria Anda. Tidak perlu berlebihan dalam hal ini. Yang paling pokok adalah pasangan yang Anda inginkan paling tidak harus seiman dengan Anda. Dan juga lihat diri Anda sendiri. Kalau Anda “begini” kemungkinan Anda akan mendapatkan pasangan yang “begini” pula. Apabila Anda merasa bertampang jelek, ya jangan mengharapkan pasangan yang ganteng atau cantik sekali. Kalau Anda cuma lulusan SMA, ya jangan terlalu berharap dapat yang lulusan S2. Alhamdulillah saya dapat istri yang cantik sekali yang tadinya saya tidak mengira dia mau sama saya. Waktu itu saya minta petunjuk Allah agar saya mantap untuk mengajak nikah dia. Dan ternyata dia benar-benar mau. Kuncinya, batasi kriteria Anda hanya dengan batasan apa yang ada di Al Qur’an dan sunnah Nabi, semakin banyak batasan yang kita tentukan sendiri akan semakin sulit kita bertemu yang cocok. Dan selalu minta petunjuk-Nya.

Jodoh itu termasuk ketentuan Allah yang kita sendiri tidak tahu, tetapi Insya Allah kita pasti akan mendapatkannya. Jalannya bermacam-macam. Orang tua saya dulu bertemu lewat sahabat pena, kakak saya ada yang dicarikan oleh saudara, ada yang dikenalkan temannya dengan hanya melihat fotonya, dan saya sendiri dari chatting via IRC dan Yahoo Messenger. Anda mungkin sudah sering menjumpai ayat ini di undangan pernikahan : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS 30. Ar Ruum ayat 21). Jangan cuma dibaca, saatnya untuk mendapatkan dan merasakan kekuasaan-Nya !

Orang tua juga terkadang belum memberikan persetujuan hanya karena tidak cocok dengan calon pasangan kita. Sebaiknya kita lihat dulu, apa masalahnya. Mungkin orang tua kurang “sreg”, misalnya karena berambut gondrong, terlihat urakan, berkelakuan buruk, mempunyai pekerjaan haram atau suka bermaksiat dsb. Untuk yang semacam ini, ajaklah pasangan Anda untuk memperbaiki diri terutama yang berhubungan dengan akhlak dan bersabarlah. Sering-sering perlihatkan pasangan Anda ke orang tua. Ada pepatah “tak kenal maka tak sayang”, jadi bisa saja karena orang tua Anda belum begitu kenal. Biasanya ini hanya masalah waktu. Berprasangka baiklah kepada Allah dan orang tua.

Tetapi apabila orang tua tidak setuju karena alasan yang “aneh-aneh”, misalnya karena harta atau karena bukan keturunan ningrat (ini biasanya cuma ada di sinetron), terangkan pelan-pelan dengan bahasa yang sopan kepada orang tua bahwa hal semacam itu tidaklah penting. Apabila orang tua masih berkeras juga dan Anda sudah mantap dengan pilihan Anda, mau terus atau mau mematuhi orang tua, ya silahkan saja. Di satu sisi restu orang tua (terutama ibu) itu penting, tetapi kewajiban Anda untuk menurut kepada orang tua hanya apabila itu benar di mata Allah dan tetap berbuat baiklah kepada orang tua.

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS 6. Al An’aam 151)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS 17. Al Israa’ 23)

Kemudian tentang hobi, kesenangan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hawa nafsu. Percayalah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik karena dengan menikah berarti Anda mematuhi perintah Allah dan sunnah Nabi. Allah akan senang kepada hamba-Nya yang mau mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Anda akan merasakan indahnya menikah karena :
Anda bisa mengajak pasangan Anda ke arah kebaikan, menjadi pendakwah bagi pasangan dan anak, dan otomatis Anda akan mengetahui lebih banyak lagi tentang agama sekaligus mempraktekkannya bersama keluarga Anda. Kalau berdakwah ke orang lain mungkin Anda masih malu-malu, tentu saja itu tidak berlaku apabila Anda berdakwah ke pasangan dan anak Anda.
Allah akan selalu menolong Anda dan menikah akan membuat Anda lebih menyadari bahwa Allah selalu memperhatikan Anda. Doa Anda akan lebih cepat dikabulkan.
Ada sesuatu yang tadinya diharamkan menjadi halal karena menikah.
Nafsu duniawi Anda lebih terkontrol.
Saat anak Anda lahir, sang ayah akan mempunyai kesempatan untuk ber-adzan di telinganya.

Kalau buat diri saya, keindahan-keindahan di atas sudah melebihi segala keindahan sebelum menikah. Maka dari itu bersegeralah. Kalau Anda masih bingung tata cara pernikahan, banyak buku yang bisa Anda baca. Kalau Anda masih takut juga untuk menikah, yakinkan diri Anda bahwa menikah adalah salah satu jenis hijrah (merubah diri untuk menjadi lebih baik).

Allah Ya Rahmaan…
Allah Ya Rahiim…

sumber: Untuk anggota LEMBAGA SAKINAH FB
Muadz Rusly 30 Juni jam 14:45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s