Jilbab Syar’i Lebih Dari Trendi

Written by Rizki Aji
Monday, 24 March 2008

Suasana disebuah distro pakaian disalah satu bilangan Tebet Utara-Jakarta Selatan sangat padat. Hari ini merupakan hari terakhir diskon promosi dari produk yang baru saja di launching beberapa hari lalu. Di pusat penjualan sekaligus distributor utama terlihat seorang gadis muda memasuki kamar pas (fitting room) untuk mencoba pakaian yang baru saja dipilih, kali ini ia memilih sebuah cardigan dengan motif yang bagus layaknya dipakai anak muda saat ini yang sedang trendi, bersama dengan satu buah rompi yang dikenakan oleh Luffy si tokoh dalam alur cerita kartun anak berjudul one piece yang disesuaikan satu kaos polos tanpa motif yang banyak digandrungi beberapa seleb wanita muda di negeri ini.

Setelah sebelumnya beberapa pemuda harapan bangsa di negeri ini berebut masuk kedalam suatu kubangan arus berpakaian bergaya retro vintage yang mengusung kembali gaya celana legging dibalut jaket berwarna cerah seperti kuning dan merah. Kali ini trend busana akan segera merangkak berubah, dan para pemuda masa kini akan segera kembali menutup lemarinya menuju sebuah distro atau minimalnya pasar tradisional yang memiliki sedikit gerai pakaian, sambil mengatakan “selamat tinggal harajuku, hot pants, dan baby doll ku..”

Berbeda dengan di salah satu gerai boutique (baca: butik) karya seorang desainer terkenal, ada ibu muda yang sibuk kesana-kemari melihat manekin-manekin yang telah dibalut busana karya si desainer handal tersebut. Si ibu setengah baya tersebut bergegas mencari padanan yang pas bagi rok yang nantinya akan ia gunakan untuk bekerja. Disamping itu pula si ibu tersebut juga mengusahakan dirinya untuk memesan satu setel gaun malam demi menghadiri resepsi seorang pejabat teras di negeri ini.

Tak mau kalah heboh dengan kedua generasi diatas, para anak kecil merengek kepada orang tuanya untuk melibatkan diri dalam event sebulan sekali orang tuanya. Sebuah event wajib bagi kedua orang tua di setiap awal bulan. Tak lain dan tak bukan ialah mengunjungi sebuah factory outlet di beberapa kota besar semisal Bogor dan Bandung. Sebuah agenda rutin yang tak dapat diganggu-gugat bagi keluarga itu. Dan si anak pun menjadi hobi bergaya di depan kaca pada suatu waktu yang seharusnya bukan sebuah masa baginya.

Lain dulu, lain sekarang. Kali ini trend berjilbab (lebih pas kalau dibaca kerudung) pun makin menemukan muara yang mencerahkan. Adanya kebebasan tuk berekspresi pun sudah tidak lagi membelenggu untuk melakukan inovasi dalam berkerudung. Bahkan ada sebuah buku karya seorang model top di Indonesia yang telah menemukan sebuah jalan ‘kebenaran kepada Islam’ dimana buku tersebut beredar luas di pasaran tentang bagaimana cara memvariasikan model-model dalam berkerudung. Tak sampai disitu seorang artis yang pernah tenar namun kini mengenakan sebuah kerudung pun banyak melakukan terobosan baru dalam bidang perkerudungan di Indonesia. Hampir setiap gaya berkerudung yang ia tampilkan di muka publik, maka dengan menunggu hitungan jari beberapa hari lagi kaum wanita sudah ada yang menirunya.

Itulah beberapa potret realitas yang jangan sampai termarjinalkan di pikiran seorang muslim saat ini. Betapa sangat indahnya ketika semua berwarna, dan betapa sangat anggunnya ketika semua penuh corak dan ragam. Pembicaraan mengenai wanita dan dunia, memang tidak akan pernah menghasilkan titik temu yang pas dalam kehidupan ini.bila disandarkan kepada opini pribadi yang berasal dari kulkas-kulkas pikiran orang kebanyakan Selalu ada paradigma baru yang terbentuk, stereotype yang senantiasa berubah, dan asumsi yang justru kadang memperburuk atau memperindah suasana pun semakin berada di areal abu-abu. Semua di klaim sah-sah saja, tanpa sekat dan pembatas dan dinding yang panas. Tapi selalu saja bila mengangkat tema tentang wanita, pikiran posmodernisme yang terkesan melompat pagar pembatas pun bergulir ke banyak isu. Mulai dari tema kekerasan dalam rumah tangga, kesetaraan gender, bahkan selentingan miring “mengapa harus selalu wanita yang disalahkan..? apakah kaum lelaki juga tidak punya salah ? wajar dong kalau saat ini kami berubah dan bangkit melawan kungkungan otoritarian para lelaki!” dan seabrek pembelaan lainnya.

Padahal adalah sebuah perkataan super dahsyat dari seorang manusia yang telah dijamin surga pernah bertutur tentang wanita ini dengan sabdanya “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita”. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari).

Pembicaraan kita kali ini, semoga tidak berada pada wilayah abu-abu yang menyisakan kebingungan tersendiri nanti, bukan pula sebuah bentuk hirarki patriarkis dari kaum lelaki yang tertuduh mau menang sendiri. Tidak, sekali lagi tidak, bahkan apa yang dituliskan disini semoga dapat memberikan manfaat yang sekalipun itu sedikit setidaknya memberikan pencerahan dan membuka pikiran yang terpenjara oleh figur dan sosok di layar kaca.

Adalah sebuah realita yang merangsek menjadi fenomena tersendiri di tengah arus budaya pop kota megapolis di negeri pangkuan ibu pertiwi ini. Kesemuanya bersinergi untuk mengisi kekosongan peran yang masih terbuka kesempatan didalamnya, hatta untuk orang-orang yang pernah dipenjara karena menyebarkan virus keseatan agama dan pemikiran.

Sungguh tak ada satu pun yang menyangkal bahwa Islam itu adalah agama yang sempurna dan indah seandainya kaum muslimin mengembalikan semua aspek kehidupan dengan sebenar-benarnya kepada dua pusaka yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tinggalkan sesuatu untuk kalian. Bila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik, Al-Hakim dan dihasankan oleh Al-Albani). Cukuplah perkataan beliau yang kita angkat sebab beliau adalah sebaik-baik petunjuk. Bukan para cendikiawan muslim yang semakin hari bertingkah kewalahan mendengarkan aspirasi ummat, tapi semua terhenti pada sebatang rokok kretek di balik meja kantornya dengan tambahan Islam dibalik lembaganya.

Wanita adalah sebuah ladang kemuliaan dalam Islam, padanya terdapat sejuta manfaat dan kebaikan. Dari mulai sebuah kebaikan yang diberikan hingga balasan surga bagi kaum wanita yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka itulah hakikat sebuah perhiasan yang senantiasa menentramkan hati suami, anak-anak, dan keluarganya. Islam sangalah melindungi hak-hak wanita. Namun sungguh jauh sekali di era masa kini, jaman semakin terbalik yang benar mejadi batil, dan yang batil menjadi benar. Semua bersepakat diatas kebanyakan orang dan asas tenggang rasa berlabel hak asasi manusia.

Saudari muslimah. Islam sangat menghargai hak-hak yang dimiliki oleh muslimah, Allah telah melindungi kaum muslimah dengan banyak kemudahan yang diberikan dan keringanan beban tak seperti kaum pria. Kaum muslimah memiliki garis perjuangan yang berbeda dengan kaum pria dalam beberapa hal, semisal berjihad dan amalan lain yang dibebankan kepada para pria.

Maka hendaknyalah saat ini, saudari muslimah berfikir dengan cermat tentang hakikat kehidupan yang akan saat ini, dan yang akan datang. Begitu juga dengan berpakaian yang sesuai syariat. Sesungguhnya kaum wanita di masa keemasan Islam tidak sama dengan kaum wanita saat ini yang banyak mengumbar aurat dan sajian segar menimbulkan fitnah di pinggir jalan, pusat perbelanjaan, dan di media cetak harian.

Berpakaian sesuai syariat ialah sebuah kewajiban bagi setiap muslimah yang mengharapkan keridhaan Rabbnya. Keridhaan dalam kehidupannya hingga keberkahan dalam setiap aktivitasnya. Tak jarang hal ini dilupakan seiring dengan hilangnya penerapan syariat Islam di muka bumi ini secara keseluruhan. Batasa-batasan aurat menjadi tak jelas dan rancu, bentuk penyimpangan pun semakin bersifat ambigu.

Padahal dengan jelas dan tajam setajam pisau membelah jantung, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59).

Dan juga dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur : 31).

Dari ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa ada banyak faidah yang diberikan oleh Allah kepada setiap muslimah yang menjaga auratnya dan berbusana sesuai dengan syariat Islam yang mulia ini, dari mulai tidak diganggu orang hingga mendapatkan keberuntungan. Bahkan ada banyak lagi faidah yang bisa didapatkan dari kedua hal tersebut sebagaimaa yang banyak dijelaskan oleh para ‘ulama pakar tafsir.

Maka saudariku muslimah, berpakaianlah sesuai syariat dan jagalah dirimu dari perbuatan berhias secara berlebihan di depan umumnya manusia yang bukan menjadi mahram bagimu, sebagaimana yang Allah firmankan, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al Ahzab : 33).

Tutuplah dan jagalah kehormatanmu dengan pakaian yang di syariatkan karena itu lebih baik bagimu, jilbab syar’i bukan hanya sekedar trendi melainkan itu adalah pakaian peka jaman yang senantiasa digunakan sepanjang masa tanpa mengenal cuaca dan iklim. Berbeda dengan pakaian masa kini yang semakin terbuka, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang para wanita yang terlihat berpakaian namun ia kenyataannya telanjang. Sebagaimana dalam sebuah hadits, beliau bersabda “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, pertama: satu kaum yang memiliki cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua: para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menyimpangkan lagi menyelewengkan orang dari kebenaran. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring/condong. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga sudah tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.” (HR. Muslim no. 5547).

Maka hendaklan saat ini kaum muslimah, senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Karena tidaklah ada suatu beban yang diberikan melainkan pasti didalamnya terdapat hikmah yang sangat besar, tidaklah semua itu memberatkan melainkan saudari muslimah belum pernah melaksanakan. Laksanakanlah perintah Rabbmu wahai muslimah dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam dengan banyaknya jumlah kaum wanita di neraka tidak terkena pada diri kita. Ingatlah akan semua nikmat Allah yang telah diberikan kepada anda, dan segeralah bertaubat kepada Allah terhadap kesalahan-kesalahan yang telah lalu dengan kembali kepada jalan Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan senang terhadap apa yang kita lakukan, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang berbunnyi, “Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira” (HR. Muslim).

wallaahu a’lam bish-shawab

http://sobat-muda.com/content/view/14/39/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s