Untuk orang yang senang mencela dan membid’ahkan

(Untuk orang yang senang mencela dan membid’ahkan)

Oleh : Syekh DR. Abdurrahman As-Sudais (Imam Masjidil Haram Makkah)

Saudara seiman ! sesungguhnya syari’at kita yang mulia mengarah serta menuju kepada persatuan dan kesatuan, menjauhkan dari jalan-jalan perselisihan, bercerai berai dan perpecahan, mengajak kepada kasih sayang dan persaudaraan, memerintahkan pada toleransi saling kasih, membela dan saling menyatu, terlebih lagi sesama ahlul haq, yang sama dalam sumber dan manhaj. Alqur’an dan Sunnah sangatlah sarat dengan keterangan dan dalil yang menunjukkan hal-hal diatas dengan segenap makna yang suci.

Alloh berfirman yang artinya : “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamudari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran : 103)

Dalam ayat ini terdapat keterangan tentang nikmat Allah yang merubah satu keadaan yang kacau kepada keadaan yang teratur dan rapi.

Sementara itu dari Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kita dapati hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

((إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا الموطئون أكنافا الذين يألفون ويؤلفون))

“sesungguhnya termasuk orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku kelak di hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian, yang tawadhu’ (merendah) yang akrab dan bisa diakrabi”.

Wahai umat pengikut Al-Quran dan sunnah! Siapa yang menyembunyikan penyakit maka ia akan tersiksa, merana, meradang, dan menyulitkannya. Sesungguhnya termasuk penyakit yang mestinya dikategorikan sebagai penyakit paling berbahaya dan parah adalah penyakit yang muncul akibat kekerasan hati, sikap saling menjauh, kasar dan saling membelakangi yang sampai pada tingkat tajrih (menilai cacat orang lain) tahdzir (memperingatkan), membodohkan-bodohkan, serta mengumbar aib orang lain yang muncul dari kaum muslimin sebagaian yang satu terhadap yang lain, dari mereka yang menapaki jalan kebenaran secara aqidah, ibadah, maupun perilaku. Juga dari mereka yang menisbatkan diri kepada kebaikan, dakwah dan kecemburuan terhadap perkara-perkara yang diharamkan, begitu pun perhatian terhadap keselamatan ummat dari kesalahan dan ketergelinciran, dan sangat mendambakan persatuan dan membenci perpecahan.

Dan sesungguhnya termasuk musibah yang memalukan adalah sebagian kaum muslimin yang bersikap lancang terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan ulama yang mulia dan para da’i yang terhormat, dengan tujuan menghinakan kedudukan serta melecehkan kehormatan, mengaburkan sisi kebaikan mereka serta mencabut rasa kepercayaan dari diri mereka.

Hal yang memalukan ini semakin menjadi-jadi ketika dibarengi niat untuk menghinakan, mencemooh, dan mengumbar kekurangan mereka melalui satelit dan media massa seperti surat kabar, majalah, stasiun televisi, serta internet. Semua dilakukan dengan segenap kenekadan, jauh dari sifat wara’ atau merasa bersalah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan dan mengancam :

((يًا مًعشر من آمن بلسانه ولم يدخل الإيمان قلبًه, لا بغتابوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم, فإنه من تتبع عوراتهم تتبع الله عورته, ومن تتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته ))

“wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan lisan mereka sementara iman belum masuk ke lubuk hati mereka, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, jangan mencari-cari kesalahan mereka, sbab siapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka pasti Allah akan mencari-cari kesalahan dan kekurangannya. Dan siapa yang dicari-cari kesalahannya oleh Allah, maka pasti ia akan dihinakan (dibongkar semua cacat dan aibnya) sekalipun ia bersembunyi jauh dalam rumahanya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Imam Ahmad berkata, : “menodai kehormatan ulama (mencaci dan menghinakan) –terlebih lagi ulama-ulama besar- termasuk dosa besar! “.

Sedangkan Malik bin Dinar berkata, : “cukuplah keburukan seseorang, jika ia tidak menjadi sholeh, malah menjelek-jelekkan orang saleh”.

Maka bagaimana pula halnya dengan orang-orang dari kaum muslimin –semoga Allh memberikan hidayah kepada mereka- yang mana puncak tujuan duniawinya, harapan dan cita-cita terbesarnya, adalah untuk menelusuri (mencari-cari) kesalahn, berburu kekeliruan dan mengipas-ngipas kesalahan yang sepele sehingga menjadi fitnah, dan mengumbar cacat orang melalui majelis-majelis serta tempat-tempat pertemuan ?! mereka tidak henti-hentinya menghina, tidak bosan-bosannya mencaci, dan tidak pernah sedikit pun meninggalkan cibiran. Ciri mereka adalah membikin rusuh, karakter mereka adalah memprovokasi, dan watak dasar mereka adalah mengganggu dan menghina. Kamus mereka adalah berburuk sangka, kosakata mereka adalah menyakiti dan mengungkit-ngungkit, berebut dalam menuduh, bersegera dalam bersikap keras dan mengucilkan, banyak mencaci dan memarahi, tidak merasa takut untuk mencaci dan mencela, melukai teman sendiri dari samping, serta memberondongkan anak panah dari belakang. Jika merka meliahat anda bergelimang nikmat maka mereka meradang karena hasut, dan jika jauh di belakang, mereka menggungjing anda.

إن يسمعوا هفوة طاروا بها فرحا وما علموا من صالح كتموا

“Apabila mereka mendengar ada kesalahan maka mereka serta merta bergembira dan terbang membawanya, tetapi kebaikan apa saja yang mereka ketahui mereka tutup-tutupi”

Mereka bekerja siang malam untuk menodai dan meremehkan orang, mencela dan menjelekkan citra orang-orang baik yang tidak bersalah, bergerak bak kelelawar di kegelapan malam, beraksi dibalik teralis, jika ada yang melihat mereka pasti wajah-wajah orang yang melihatnya penuh dengan pengingkaran, raut dan air muka mereka bisa berubah karena geram. Dalam keadaan lapang mereka adalah teman, tetapi jika dalam kesempitan mereka berbalik menjadi musuh paling kejam, yang tidak bisa membedakan mana kerabat dan sahabat dekat,. Mereka tidak mau mencarikan alasan untuk memaafkan saudaranya. Selalu berupaya menjatuhkan orang-orang mulia dan ternama, menebarkan aib dan kekurangan mereka,, mengada-adakan hasutan dan provokasi untuk menghantam mereka, Subhanalloh al-’Adzim,.!! Tidakkah mereka merasa takut pada Alloh Rabb semesta alam? Hanya kepada Allah tempat kita mengadu wa la hawla wala Quwwata illa billahil ‘aly al-’Adzim.

Lebih dari itu, mereka selalu memanfaatkan situs-situs di internet, atau sebut saja situs-situs ular berbisa, dengan menklaim mereka hendak menjelaskan kebenaran, padahal sebenarnya mereka seperti lalat yang selalu mengerumuni luka-luka. Mereka tidak ambil pusing apakah mereka mendapat berita dari orang-orang yang buruk atau kedustaan, atau melalui buku-buku yang lolos dari koreksi atau tidak tersentuh oleh komentar dan penjelasan para ulama.

Kemudian berdasarkan dugaan atau kesalahan persepsi yang masih memungkinkan untuk difahami atau dimaafkan karena tenggelam dalam lautan kebaikan, mereka membangun konsep al-wala’ dan bara’, sikap boikot, memusuhi, sayang dan memerangi, yang dilakukan melalui tashnif (menggolong –golongkan orang), ta’asshub (fanatisme), dan tahazzub (fam golongan yang sempit).

Akibatnya para pencari ilmu yang baru belajar, atau kaum terdidik dan para pejuang kebaikan tersibukkan dengan fitnah mereka apalagi orang awwam. Di sisi lain, orang-orang yang berkepentingan dan memiliki ambisi di setiap tempat menelan mentah-mentah fitnah tersebut. Akibat lainnya adalah banyak kekuatan, potensi dan waktu terbuang percuma karena disibukkan antara yang membantah dan yang dibantah. Diadakan perhelatan dalam rangka menodai kehormatan dengan kata-kata yang kasar dan melukai, peda, dan menyakitkan, disertai tuduhan-tuduhan yang seakan-akan jilatan api yang menyala-nyala, yang menghasut dan mengadu domba akibat buruknya niat dan keinginan, me,mbentur kesucian diri dengan kesucian lisan dengan segenap kekuatan, padahal yang lebih utama semestinya menggunakannya untuk memusuhi dan membidik kelompok-kelompok menyimpang yang memusuhi kaum muslimin, berupaya untuk menggerogoti rasa aman dan kemurniannya. Saya peringatkan kepada orang-orang baik dan pencari kebaikan, jangan sampai menyerupai sifat dan karakter kelompok sesat yang mana kita telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti dalam riwayat Ahmad dan Bukhori Muslim :

((قوم يقرؤون القران, لا يجاوز حناجرهم, يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية, يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان))

“mereka adalah kaum yang membaca Al-Qur’an, tidaklah ayat-ayat itu melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari islam sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya, mereka membunuhi kaum muslimin sementara para penyembah berhala mereka biarkan!”.

BERSAMBUNG…

sumber: majalah qiblati http://www.qiblati.com

http://www.alinshof.com/2010/01/khutbah-fadhilatus-syekh-drabdurrahman.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s