Yang Muda Yang Bercinta (Ketahuilah wahai hamba Allah… ) – pesan cinta terindah

Bicara soal cinta selalu menarik. Makanya nggak perlu heran, film-film seputar kisah cinta banyak penontonnya. Laku bak kacang goreng. Film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet pun begitu heboh. Sleepless In Seattle-nya Tom Hanks dan Meg Ryan begitu romantis untuk diceritakan.

Pun tak ketinggalan kisah-kisah cinta film Iokal Iaris manis diserbu penonton. Sebut saja film Yang Muda Yang Bercinta karya sutradara beken Syumanjaya, yang dibintangi WS. Rendra waktu masih muda. Wuih, film itu jadi favorit ibu-ibu kamu saat remajanya. Meski konon kabarnya kontroversial, tapi film tahun 70-an itu tetap mendapat tempat anak muda di Iamannya. Bagaimanapun cinta memang berpengaruh besar dalam kehidupan.

Dan seperti nggak mau kalah dengan sukses para pendahulunya, film-film remaja saat ini sarat dengan tema cinta. Sebut Baja serial tivi seperti Dawson’s Creek, Beverly Hills 90210, atau film Iayar lebar teranyar keluaran 20th Century Fox garapan sutradara John Schultz, Drive Me Crazy. Tentu tema sentral tetap cinta. Film yang sepertinya khususan buat para remaja ini memang pinter bikin remaja kesengsem berat. Sepanjang nonton film ini, para remaja juga bakal larut dalam lagu-lagu keren’ milik Steps, Backstreet Boys dan Britney Spears. Lagi-Iagi cinta memang bikin hidup Iebih berarti, katanya.

Tapi jangan salah, kamu nggak bisa seenak udel kamu berbuat dalam hidup ini. Sebagai seorang muslim, tentu selalu terikat dengan aturan main dalam Islam. Bagaimana pun juga kamu harus terikat hukum syara. Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak sembarangan, Iho. Lagi pula masa remaja bukan waktu untuk sah-sah saja berhura-hura dan bebas bertingkah laku. Bisa gawat!

Jangan Mendewakan Cinta

Perlu diingat, meski cinta bisa bikin hidup asyik dan oke punya, bukan berarti cinta menjadi dewa. Segalanya hanya untuk cinta dan demi cinta. Nggak begitu, say. Walau bagaimanapun juga kamu tetap seorang muslim, yang dalam hidupnya harus selalu waspada, agar tak kecemplung ke dalam jurang maksiat.

Cinta harus dipahami sebagai sesuatu yang sakral. Sesuatu yang suci. Nggak bisa sembarangan. Karena cinta dan kasih sayang bukan cuma untuk dilampiaskan dalam gelimang kebebasan dan dosa. Nggak kawan. Nggak serendah itu. Setiap orang punya cinta. Kamu juga punya. Kita semua memiliki cinta. Tapi terus terang, cinta kan bukan cuma hubungan dua Iawan jenis Iaki dan perempuan. Bukan cuma sebagai hubungan sempit seperti itu, yang kemudian dijadikan pemuas nafsu liar kamu. Tapi cinta begitu Iuas. Karena ia merupakan perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Yang tentu diberikan oleh Allah SWT. Kita jadi khawatir sama kamu yang menilai cinta cuma sebagai hubungan antara cowok sama cewek. Soalnya, takutnya cinta maIah menjadi malapetaka. Banyak kasus gara-gara mendewakan cinta, malah akhirnya berantakan. lya, kan? Aborsi contohnya, adalah buah dan cinta terlarang. Jauh sebelum melakukan aborsi, pelakunya pasti aktif menjalin hubungan gelap atas nama cinta. Nggak perlu mengajukan alasan macem-macem untuk memperkuat penilaian kamu dalam mendewakan cinta. Cukup, mendewakan cinta itu berbahaya.

Hati-hati Dengan Pesonamu

Punya tampang secute Jason Behr atau segagah James Van Der Beek dan seganteng David Beckham, jangan terlalu mengumbar pesona. Hati-hati, soalnya bagi kebanyakan kaum Hawa, tampang yang begitu bisa bikin jantung berdegup lebih kencang. Suer, tampang kamu yang seperti itu bisa bikin para cewek histeris. Tak mustahil bila kemudian mereka ingin memburu kamu dan menobatkan sebagai cowok idaman. Tentu sesuai dengan kriteria ideal para cewek itu. Makanya, rumusan lagu Backstreet Boys yang berjudul I Want it that way bisa jadi lagu kebangsaannya, meski dalam praktek nggak selalu indah. Bener nggak Non?

Emang yang punya pesona cuma kaum Adam? Ya, nggak dong sayang. Cewek juga bisa bikin laki-laki gemeteran. Coba, temen-temen cowok yang ngeliat cewek secantik Natalie Portman bisa bikin telap. Barangkali efek samping kopi yang bisa bikin jantung berdegup kencang pun masih kalah dengan pengaruh sorot macanya yang tajam milik aktris yang pernah main dalam The Prafesional, dan berperan sebagai Ratu Amidaia di Star Wars: Episode I-The Phantom Menace ini. Malah disebut-sebut Natalie Portman ini sebagai reinkarnasi dan Audrey Hepburn, aktris cantik yang beken banget di tahun 60-an. Bukan cuma Natalie, yang bisa bikin pusing tujuh keliling kaum cowok, tipe Katie Holmes pun bisa membuat suasana hati kaum Adam berbunga-bunga.

Jadi, kalo di sekolah kamu ada tipe cowok dan cewek yang bisa bikin kamu deg-degan seumur-umur, kamu harus menasihatinya agar jangan sembarangan mengobral pesona. Karena kata orang, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta, dan mata turun ke hati. Jadi, pandangan mata adalah tahap awal. Bila tak dikendalikan dengan baik, bisa bikin berabe. Ujung-ujungnya bisa macem-macem. Cinta bisa membuat kamu gembira, senang, sedih, kecewa dan nyesel, termasuk rugi. Nggak percaya, yang bikin rugi itu adalah cinta terpadu alias terpaksa pakai duit. Lebih celaka lagi bila cinta kamu tak berbalas alias bertepuk sebelah tangan, bias-bisa terpadunya diplesetkan jadi terpaksa pekai dukun! Bisa gawat, Brur!

Nah, berarti sekarang harus hati-hati dengan pesona yang kamu miliki. Nggak boleh diobral kesana kemari. Bahaya!

Aduh, tapi gimana dong, kita kan ingin menikmati cinta juga. Kok sepertinya nggak boleh. Huss.. bukan nggak boleh, tapi harus dikendalikan. Jangan dibiarkan liar kagak karukaruan. Nggak baik, dan yang jelas nggak benar.

Boleh Nggak Pacaran?

Ah, kamu memang pandai dalam urusan ngotot. Begini sayang. Sekali lagi, cinta bukan untuk direndahkan nilainya dengan aktivitas seperti itu. Betul kalo cinta nggak bisa dimatikan, kita juga sependapat dengan pernyataan itu. Tapi, bukan berarti kemudian dipropagandakan dengan gencar lewat aktivitas frontal seperti itu. Pacaran, bagaimana pun juga adalah salah satu aktivitas yang bisa mendorong kamu ke dalam dosa bin maksiat. Nggak percaya? Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan yang tercela dan ialan yang buruk “(OS: Al lsra: 32).

Meski tidak secara tentulis dalam ayat itu kata-kata pacaran, tapi maksudnya jangan mendekati zina adalah perbuatan seperti pacaran itu. Coba, kamu bisa Iihat, atau bagi kamu yang masih doyan gaul bebas seperti itu bisa merasakan bahwa aktivitas pacanan itu nggak seru bila cuma ngobrol lewat telepon atau bertatap wajah dari seberang pagar sekolah. Pasti ada acara tambahan yang lain. Misalnya, janjian nonton film di bioskop, atau main ke tempat rekreasi. Tentu saja nggak pake acara bawa-bawa saudara atawa teman, apalagi tetangga. Emangnya mau selametan? Cuma kamu bendua. Di situlah aktivitas itu bisa lebih mengarah kepada penzinahan.

Percaya saja deh kalo dikatakan bahwa pacaran bisa mendekati perzinahan. Betul, Non. Ngobrol dengan lawan jenis di tempat yang sepi apalagi gelap bisa bikin setan tergoda untuk jadi provokator. Bayangkan, setan aja tergoda. Kalo sang iblis sudah menjadi provokator, pasti ia mengetuk-ngetuk pintu hatimu agar berjalan semakin jauh. Selain mengetuk-ngetuk pintu hatimu, setan aktif memblokir otak kamu agar nggak bisa berpikir dengan akal sehat untuk melihat kebenaran. Walhasil, prosesi perzinahan pun tak mustahil bila terjadi.

“Tapi kan kite pacarannya nggak bakal sejauh itu.” Ah, itu cuma alasan klise. Ngaku deh. Itu kan alasan agar aktivitas kamu yang nyerempet-nyerempet bahaya bisa tetap legal. lya, kan?

Eh, tapi kan ada juga yang pakai jilbab pacaran. Hayo, gimana tuh, boleh nggak?” Aduh, gimana sih. Mau yang pake jilbab atau nggak bukan urusan pokok. Yang penting kalo dia berbuat menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, jelas ia melakukan dosa. Yang pake jilbab juga berdosa kalo pacaran. Jadi, pacaran itu nggak boleh, kawan!

Yang Benar Gimana?

Nan, ini baru pertanyaan. Kita seneng menjawabnya. Begini kawan. Karena celah-celah yang bisa menghantarkan kamu berbuat dosa itu salah satunya kanena akibat gaul bebas, maka peluang itulah yang harus ditutup. Paling tidak ketika kita berhubungan dengan lawan jenis. Itu ada etikanya alias ada batasannya. Nggak sembarangan, lho!

Cowok dan cewek boleh-boleh saja bengaul tapi tentu ada rambu-rambu yang harus ditaati bersama. Ada atunan yang harus diketahui barengan. Kapan boleh gaul kapan harus menjauh. Pada saat seperti apa boleh gaul dan kondisi sepenti apa yang pantang untuk barengan. Juga bagaimana upaya masing-masing dalam menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

Nah, jadi memang Islam nggak melarang gaul. Justru Islam membolehkan gaul. Tapi ada aturan-aturan yang harus ditaati. Tentu saja aturan yang bakal menyelamatkan kamu. Pada dasarnya Islam menetapkan aturan bahwa Iaki dan perempuan itu terpisah kehidupannya, baik dalam kehidupan umum-di masyanakat, seperti di sekolah, jalan umum, bis, angkot, dan di pasar-maupun dalam kehidupan khusus-di tempat pribadi, seperti rumah atau tempat kost. Tapi Islam nggak kejam dengan membiarkan selamanya terpisah seperti itu. Ada saat-saat tertentu yang dibolehkan bagi cowok dan cewek untuk berkumpul dan berinteraksi. Malah dalam beberapa kondisi, pentemuan antara keduanya nggak mungkin dihindani.

Nah, lalu kapan dan dimana boleh bertemu dengan lawan jenis? Kamu boleh-boleh saja berkumpul dan berinteraksi dengan lawan jenis di tempat-tempat umum (tempat dimana seseorang tidak penlu minta ijin untuk masuk ke dalamnya, seperti masjid, sekolah dsb), dalam aktivitas yang dlbolehkan oleh syara. Di pasar misalnya, kamu boleh berkumpul dan berinteraksi dengan penjual lain. Tapi ingat, hanya sebatas urusan jual beli. Nggak boleh ada embel-embel lain yang keluar dan pakem jual beli. Misalkan, mentang-mentang yang jualan cabenya saperti Kate Winslet, yang cowok jadi betah ngobrol ngalor ngidul.

Kemudian tempat lain yang dibolehkan berkumpul dan berinteraksi adalah dalam belajar-mengajar, dalam urusan pengobatan dan bentuk muamalah lainnya. Tapi jangan salah, meski di tempat-tempat umum itu dibolehkan untuk berkumpul dan berintenaksi, mata kamu jangan jelalatan kayak lagi belanja. Tetap harus menjaga pandangan dan juga hal-hal yang bisa menjungkirkan kamu ke dalam jurang kemaksiatan.

Kalau untuk berkumpul di tempat khusus, seperti rumah pribadi, mobil pribadi, dan tempat-tempat pribadi lainnya, kamu nggak dibenarkan untuk berinteraksi dengan lawan jenis secara mutlak kecuali bila kamu disertai mahrom.

Misalnya, jika kamu cowok-terpaksa harus berkunjung ke rumah lawan jenismu karena ada urusan yang sangat penting (masalah dakwah, misalnya)–, pastikan bahwa temanmu disentai mahromnya, bisa bapaknya atau kakaknya, baik yang laki maupun wanita. Jangan nekat jadi slonong boy.

Nah. selanjutnya kita harus tahu apa yang semestinya diperhatikan ketika berinteraksi dengan Iawan jenis. Baik laki maupun wanita, bila keluar rumah harus menutup auratnya. Daerah aurat laki-laki adalah sebatas pusar sampai Iutut. Sedangkan wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Makanya untuk yang wanita, diwajibkan memakai pakaian sempurna yang terdiri dari jilab (pakaian luar] dan kerudung (khimar) sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al Ahzab ayat 59 dan An Nuur ayat 31. Dan jelas konsekuensinya haram bagi wanita yang nekat keluar rumah tanpa busana yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Bener, dosa Non!

Juga bagi para wanita ada Iarangan tersendiri dalam urusan ini, yakni jangan bertabaruj/ alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Firman Allah: ‘..dan langanlah kamu bardandan seperti, dandanan perempuan (JahiIiyah) yang dahulu… (QS.AI Ahzab 33).

Survei membuktikan bahwa kebanyakan malapetaka pelecehan seksual itu berawal dari sikap tampil nekatnya para wanita sendini.

Wajar kan? Nah, makanya bagi kamu yang wanita harap hati-hati. Tak perlu seperti burung merak yang suka pamer bulu-bulu indahnya. Soalnya kamu kan bukan merak. Kamu manusia yang punya akal, jangan sampai dandanmu membuat klepek-klepek kaum Adam.

Khusus untuk urusan busana, yang wanita nggak usah ikut-ikutan gayanya Claudia Schieffer atau Naomi Campbel yang mahir berlenggak-lenggok di atas cat walk dengan body dibalut beberapa helai benang. Apalagi sampai tampil los polos kayak aksi nekatnya Kate Winslet dalam film Titanic dan Demi Moore dalam Streptease.

Langkah berikutnya,. Kamu harus menundukan pandangan ketika interaksi dengan lawan jenismu. Menundukkan pandangan bukan berarti harus terus konsentrasi ke jalan atau ke tanah kayak orang lagi nyari cacing yang lagi ngumpet. Tapi maksudnya adalah harus bisa menahan diri dari pandangan yang diharamkan. Yakni memandang aurat atau kepada selain aurat tapi dibarengi dengan syahwat. Pokoknya kalau kamu sudah bisa menundukkan pandangan alias ghadhul bashar ini, lnsya Allah kamu bisa saling menjaga kesucian dan kehormatan diri.

Kemudian ketika kamu berbicara dengan lawan jenis harus diperhatikan intonasi dan gaya bicaranya. Bagi wanita, jangan sekali-kali ketika berinteraksi dengan anak cowok menggunakan gaya bicara yang mendayu-dayu kayak penyanyi dangdut. Suaranya dibuat merdu merayu hingga menyisakan rasa penasaran yang amat sangat bagi kaum lelaki.

Firman Allah: “Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkani perkataan, nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang balk. ” (QS. Al Ahzab 32).

Masalah yang harus diperhatikan juga adalah, jangan sekali-kali kamu berkhalwat atau berdua-duaan (mojok) dengan lawan jenis. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhawat dengan seorang wanita sedangkan wanita itu tidak bersama mahromnya Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan. (HR. Ahmad).

Nah, meski kita main cinta-cintaan tapi harus tahu aturan mainnya dalam Islam. Walau bagaimana pun juga Islam harus jadi patokan dalam setiap aktivitas kita dalam kehidupan. Termasuk dalam urusan cinta ini. Tentu saja, agar kita nggak nyungsep dalam Iumpur maksiat. Ngeri, Non!

Jadi, cinta jangan dimatikan tapi harus dikendalikan. Syukur-syukur kalo kamu mampu untuk nikah. Nikah aja! Lebih aman. Paham kan?

(Buletin Studia – Edisi 11/Tahun 1)

http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-bercinta

===================================

Pengagungan Kepada Sunnah dan Wajib Mengamalkannya

Sikap Salafus Shalih Pengagungan Terhadap Sunnah

Diriwayakan dari Irbadl bin Sariyah, telah berkata Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam : Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah azza wa jalla. Mendengar dan taatlah sekalipun yang memerintahkan kepada kalian seorang hamba. Karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, dan berhati-hatilah terhadap hal- hal yang baru, karena sesungguhnya seluruh bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Berkata Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu: “Janganlah engkau meninggalkan satu amalan pun yang Rasulullah melakukan amalan tersebut, kecuali engkau beramal dengannya. Sungguh aku sangat khawatir, jika engkau meninggalkan amalan yang diperintahkan oleh Rasulullah, maka engkau akan menyimpang”.

Berkata Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku sangat khawatir hujan batu akan menimpa kalian, aku mengatakan: “Telah berkata Rasulullah”, sedangkan kalian mengatakan: “Telah berkata Abu Bakar dan Umar”.

Berkata Umar bin Abdul Aziz : “Janganlah engkau berpaling kepada seseorang, padahal bersamaan dengan itu telah ada sunnah (ajaran) dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam”.

Berkata imam Adz-Dzahabi: “Jika engkau melihat ahlul kalam berkata: “Tinggalkan kami dari al-Qur’an dan hadits-hadits ahad, dan berikan kepada kami akal”, ketahuilah bahwasanya ia adalah Abu Jahal. Dan jika engkau melihat seorang sufi berkata: “Tinggalkan kami dari naql dan akal, dan berikan kepada kami perasaan dan kecintaan”, ketahuilah bahwa Iblis telah menampakkan dalam bentuk manusia atau ia telah menyatu dengannya. Jika engkau takut kepadanya, menghindarlah. Tapi jika engkau tidak takut, bantinglah ia dan dekaplah dalam dadamu dan bacakanlah padanya ayat Kursi dan cekiklah (lehernya)”.

Ketika imam Syafi’i ditanya tentang satu masalah dan beliau menjawab dengan menyebutkan riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata seorang penanya: “Wahai Abu Abdillah, engkau berkata dengannya?”. Maka beliau bergetar dan menggigil (badannya) dan bergoncang seraya berkata: ……..jika aku telah meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam satu hadits, maka aku tidak berkata dengannya? Ya, wajib bagiku untuk mendengar dan memperhatikannya”.

Berkata Imam Al-Barbahari: “Jika engkau melihat seorang lelaki mencela hadits- hadits, menolak, atau menghendaki selainnya, maka ragukanlah keislamannya. Dan tidak diragukan lagi jika ia adalah ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid’ah”.

Berkata: Abul Qasim al-Ashbahani: “Telah berkata ahlus sunnah dari kalangan salaf: “Jika seorang lelaki mencela atsar-atsar (hadits), maka sepantasnya untuk diragukan keislamannya””.

Dan berkata Imam Ahmad bin Hambal: “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam maka ia telah berada pada jurang kehancuran”.

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 11/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Wajibnya Mengamalkan Sunnah”.)

=================================

Jangan berputus asa dari rahmat Tuhanmu, wahai saudaraku yang berdosa. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari barat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya di siang hari agar pelaku dosa malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya” [Hadits Riwayat Muslim dalam At-Tubah, No. 2759]

Bersegeralah kalian wahai para hamba Allah untuk menuju kepada-Nya, niscaya kalian akan mendapatkannya sebagai Dzat Yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang serta berjalanlah di atas jalan orang-orang mukmin yang bertaubat, niscaya Rabb kalian akan membangkitkan kalian pada kedudukan yang mulia lagi terhormat.

“Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak.

“Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semunya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar : 53]

Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.

Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

Kedua : Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

Ketiga : Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka segera ia membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

Keempat : Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang akan datang.

Kelima : Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” [An-Nisa : 18]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa bertubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya” [Hadits Riwayat Muslim daalm Adz-Dzikir wa Ad-Du’a, No. 2703]

Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[Risalah fi Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1805/slash/0

=============================================

Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”.

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. [Nuh : 10-12]

Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. [Hud : 52]

“Berdo’alah kepada rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” [Al-A’raaf : 55-56]

================================

Oleh karena itu wahai kaum Muslimin, koreksilah dirimu, bertaubatlah kepada rabb-mu, mintalah ampun padaNya, segeralah untuk taat kepadaNya, tinggalkanlah maksiat, tolong menolonglah didalam kebaikan dan taqwa, berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik, bersikap adil-lah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.

Persiapkanlah diri dengan berbagai kebaikan sebelum maut (kematian) menjemput, sayangilah orang-orang yang lemah di antara anda, bantulah orang-orang yang fakir di antara anda, perbanyaklah untuk ingat dan minta ampun kepadaNya, saling memerintahkanlah pada kebajikan, dan saling melaranglah dari yang mungkar, niscaya anda semua menjadi orang-orang yang disayang (Allah), jadikan musibah-musibah yang mengenai orang selain yang disebabkan dosa dan kesalahan mereka sebagai pelajaran.

Allah akan memberi taubat kepada orang yang mau bertaubat dan akan menyayangi orang yang berbuat kebaikan. Dan kesudahan yang baik (khusnul khatimah) hanyalah untuk orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” [Hud : 49]

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” [An-Nahl : 128]

Allah-lah Dzat yang diminta dengan nama-namaNya yang baik, dan sifat-sifatNya yang

[Diterjemahkan oleh Muhyiddin Abu Yahya dari Kitab Wujubut Taubah Ilallah Wadh Dhara’ah Inda Nuzulil Mashaib]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/V/1421H-2001M Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2050/slash/0

===================================

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan.

“Artinya : Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”.

Tetapi kalimat-kalimat diatas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan : “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna” [Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata ” tauba” hal. 76]

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan : “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf” [Riyadhus Shalihin, hal. 41-42]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/933/slash/0

=================================================

“Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat ditangan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba Allah ahli zuhud” [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]

Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia berkata :

“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud0 berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engaku… engkau”.

Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.

Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]

=================

Dan perkara lain yang kita ambil faedah dari kisah diatas bahwasanya Ibnu Mas’ud telah menempuh cara yang “syar’iyyah” (cara yang sesuai dengan agama) yang paling utama dalam merubah kemungkaran, tatkala ia mampu merubah kemungkaran dengan tangannya, maka iapun merubah kemungkaran dengan tangannya, ia pecahkan kendang dan ia hancurkan bejana minuman keras.

Sungguh pada diri Abdullah bin Mas’ud terdapat permisalan yang mengagumkan dalam keberanian dan maju membela kebenaran, serta dalam merubah kemungkaran. Ia tidak takut celaan orang yang suka mencela, padahal ia sendirian dan orang yang dilarang dari kemungkaran lebih dari satu, sebagaimana nampak dalam konteks cerita.

Amr bin Abdul Qais ketika ia berkata : “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan menjadikannya takut terhadap segala sesuatu” [Sifatus Sofwah 3/208]

Dan dengan perbuatan Abdullah bin Mas’ud yang merubah kemungkaran dengan tangannya, kita akan mendapati seberapa besar belas kasih darinya dan seberapa besar kesempurnaan kelembutan dan nasehatnya kepada Dzaadzan. Karena tatkala Dzaadzan mendatanginya dalam keadaan bertaubat, iapun menghadapi dan memeluk Dzaadzan, lalu menangis lantaran gembira dengan taubat Dzaadzan. Dan Abdullah bin Mas’ud menghormatinya dengan ungkapan yang paling indah : “Selamat datang orang yang dicintai Allah”.

Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

Bukan itu saja, bahkan Ibnu Mas’ud mempersilahkannya duduk dan mendekatkannya, dan menghidangkan kurma untuknya.

Demikianlah, ahli sunnah mengetahui kebenaran dan berdakwah kepada kebenaran, ahli sunnah sayang terhadap mahluk dan menasehati mereka.

[Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 09/Th.II /2004M/1424H. Terjemahan Dari Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1944/slash/0

=================================================

“Dahulu ada seorang saudagar yang biasa menghutangi orang, bila dia melihat orang yang kesukaran (dalam membayar hutang), maka dia memerintahkan para pegawainya : “Ma’afkanlah dia mudah-mudahan Allah mema’afkan kita !” Maka Allah-pun mema’afkan dia …” [Hadits Riwayat Bukhari 4/309- Al-Fath]

“Mudah-mudahan Allah merahmati lelaki yang toleran bila menjual, membeli dan menagih” [Hadits Riwayat Bukhari 4/206 -Al-Fath]

“Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkan hutangnya (dianggap lunas tanpa bayar, -pent) , maka Allah akan menyelamatkannya dari kengerian di hari kiamat” [Hadit Riwayat Muslim : 1563]

“Allah telah mengampuni seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kalian dulu, dia mudah bila menjual, mudah bila membeli dan mudah bila memutuskan” [Hadits Riwayat Tirmidzi 1320, dishahihkan oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam Shahihul Jami’ 4038]

“Maukah kalian saya beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka besok (di hari akhir) ? Yaitu orang yang lemah lembut, familiar dan mudah (toleran)” [Shahih Al-Jami’ 2606]

Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan seorang Mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat. Dan barangsiapa memudahkan urusan seorang Mukmin, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”[ Al-Maa-idah: 2]

Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema’afnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah mengangkat (derajat)nya” [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya]

Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya, bahwasanya dia pernah menuntut haknya dari seseorang lelaki, ternyata lelaki tadi bersembunyi darinya, dia bertanya : “Apa yang membuat engkau berbuat demikian ? Jawabnya : “Kesulitan membayar hutang” Maka diapun memintanya bersumpah, iapun bersumpah, lalu dia meminta bon catatan hutangnya dan diberikan kepada lelaki tersebut sembari berkata : “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkan hutangnya, maka Allah akan menyelamatkan dia dari kengerian pada hari kiamat” [Muslim 1563 dan lainnya]

Adalah Qais bin Sa’d bin Ubadah termasuk dermawan yang terkenal hingga pada suatu hari dia jatuh sakit, ternyata saudara-saudaranya tidak segera menjenguknya, diapun bertanya tentang ketidakhadiran saudara-saudaranya tersebut, jawab mereka : “Sesungguhnya mereka merasa malu karena hutang mereka kepadamu” Diapun mengatakan : “Semoga Alllah merendahkan harta yang menghalangi para saudara untuk berkunjung”. Lalu dia menyuruh seseorang untuk mengi’lankan (mengumumkan) : “Barangsiapa yang mempunyai hutang kepada Qais, maka telah dihalalkan untuknya!” Maka, tidak sampai sore hari diambang pintu rumah Qais telah pecah dikarenakan banyaknya orang yang datang untuk menjenguknya” [Lihat Madarijus Salikin 2/292]

Ibnul Qayyim Ragimahullah menggambarkan kepribadian gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, seperti yang diungkapkan berikut ini :”Saya tidak pernah melihat seseorang-pun yang mengumpulkan perangai-perangai ini selain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan rohnya. Sebagai murid senior beliau menyatakan :”Saya ingin terhadap sahabatku seperti beliau mensikapi musuh-musuh dan lawan-lawannya, saya tidak pernah melihat beliau medo’akan kejelekan atas mereka sedikitpun, namun beliau mendo’akan kebaikan buat mereka.

Pada suatu hari saya (Ibnu Qayyim) pernah datang kepada beliau membawa berita gembira tentang kematian musuh beliau yang paling keras dan paling hebat gangguannya, ternyata beliau menghardikku, mengingkari tindakannku dan mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un, kemudian segera bangkit menuju rumah keluarganya untuk bertakziyah sembari berkata : “Saya yang akan menggantikan kedudukan dia buat kalian, tidak ada satu urusanpun yang kalian memerlukan bantuan melainkan aku akan membantu kalian!” Atau ucapan senada, maka keluarga itupun gembira dengan ucapan beliau, mendoakan kebaikan buat beliau dan memuliakan sikap beliau mudah-mudahan Allah merahmatinya dan meridloinya” [Madarijus Salikin 2/345]

[Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy Press, hal. 49-50, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi.]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1045/slash/0

==================================================

Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]

Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. [Hadits Riwayat Muslim]

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia”. [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam ‘Adabul Mufrad’ dan Imam Ahmad. Lihat ‘Silsilah Ash-shahihah 15’]

“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” HR. At-Tirmidzi (no. 1162),

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” HR. At-Tirmidzi (no. 2002)

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. [Ali Imran : 19]

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”. [Saba’ : 28]

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. [Adz-Dzariyat : 56]

Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah Menciptakanmu dan orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. [Al-Baqarah : 21]

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. [As-Sajdah : 16].

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. [Al-Hadid : 7].

… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya ….”. [Al-Baqarah : 177]

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”. [Al-Mukminun : 1-2]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat maruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. [An-Nisaa :114]

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl : 43]

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya.” [Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad]

Seorang wanita masuk neraka karena kucing. Ia menahannya hingga mati. Ia masuk neraka karenanya, karena tidak memberinya makan sebab ia menahannya, dan tidak membiarkannya makan serangga-serangga tanah.” [Diriwayatkan Al-Bukhari

Sesungguhnya siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali pemilik api itu sendiri (Allah).” [Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih]

Ada lima hewan membahayakan yang boleh dibunuh di tempat halal dan haram, yaitu ular, burung gagak yang berwarna belang-belang, tikus, anjing yang suka menggigit, dan burung hudaya (sejenis rajawali).” [Diriwayatkan Muslim]

Allah melaknat oarng yang mencap keledai ini di wajahnya.” [Diriwayatkan Muslim]

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa beselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu, Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” [Hud : 118-119]

Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan” [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan lainnya]

Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?”. Beliau menjawab : “Siapa lagi ?” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali Imran : 105]

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang batasan bid’ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu), beliau menjawab : “Bid’ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) adalah bid’ah penyimpangannya dari Al-Qur’an dan Sunnah masyhur dikalangan ahli sunnah, seperti bid’ah-nya Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji’ah ….” [Majmu Fatawa XXXV/414]

“Amat besar kebencian di sisi Allah, kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.”[As-Shaff :3]

Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul” [An-Nisa : 59]

Maka, khilaf (perselisihan) yang ada di antara para ulama tidak boleh kita kembalikan kepada hawa nafsu (dengan memilih pendapat yang paling enak, -pent), tetapi kita kembalikan kepada syari’at” [Al-Muwafaqat 4/145]

Tiga perkara yang merobohkan agama : “Kesalahan seorang alim, debatnya orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan para imam yang menyesatkan” [Riwayat Ad-Darimi 1/71 dengan sanad yang shahih, dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi 2/110]

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta memberi dia tempat tinggal”. [HR Muslim dari Anas bin Malik]

“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.” (QS al-Hasyr (59) : 14)…

Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh” [Bukhari & Muslim]

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” [Al Fushilat : 34]

Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” [Asy Syuura : 40]

Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri” [Hadits riwayat Muslim]

Bukanlah orang yang kuat itu pegulat, tetapi yang dinamakan orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. [Hadits riwayat Bukhari]

Maka wajib bagimu wahai pemuda, untuk berteman dengan orang-orang yang sudah dikenal berakhlak baik dan menjauh dari akhlak yang jelek dan perbuatan yang hina, hingga engkau mengambil dari teman itu “madrasah” darinya engkau mendapatkan pertolongan untuk berakhlak baik.

======================================

Seringkali kita dengar ucapan-ucapan yang dianggap biasa padahal ucapan-ucapan tersebut merupakan ucapan kafir seperti misalnya saja “Aku tak bisa hidup tanpa dirimu”. Adalah wajib setiap kita untuk memahami aqidah dengan benar sehingga menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup, lahir dan bathin.

Ketahuilah wahai hamba Allah…

Alangkah besarnya bahaya lidah ini sedang kita banyak lalai dari menjaganya…. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberi pena dan kertas lalu dia gunakan untuk mencaci dan menghina orang yang memberikan pena dan kertas tadi? Pasti itu tidak beradab ditinjau dari adab bangsa manapun….. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberikan kendaraan lalu digunakannya untuk menabrak orang yang memberinya kendaraan tersebut? …. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberi lisan oleh Dzat yang di atas langit, yang Maha Pengasih dan Penyayang lalu ia gunakan untuk bermaksiat kepadaNya?

Berapa tetes ludah yang engkau habiskan untuk berdzikir mengingatNya? Berapa banyak pula yang telah tertumpah untuk kata-kata jorok, porno, atau bahkan menghina Allah yang Maha Keras siksa-Nya!!!…. Apa maksudnya menghina Allah? Maksudnya engkau mengatakan sesuatu yang tidak pantas dikatakan, bahkan ini adalah perkataan kufur yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam! Ingatlah saat engkau mengatakan “Aku tak bisa hidup tanpa dirimu…” atau perkataan “Kaulah satu-satunya yang kuinginkan di dalam hidupku“, atau “Hanya ada engkau yang ada di hatiku?” atau “Aku ingin selamanya bersama denganmu..”? Bukankah Allah yang telah menghidupkan kita? Bukankah kita pasti menemuinya dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita? Bukankah bagi seorang muslim hanya Allah yang paling dia cintai lebih dari apapun? Atau menghubung-hubungkan makhluk dengan kejadian seperti “Tuh, lihat gara-gara kamu sih jadi hujan!” atau ketika mendengar petir bukannya memohon perlindungan pada Allah tetapi malah mengatakan “Tuh, petirnya kencang banget, si Fulan pasti lagi marah nih!!!”. Bukankah Allah-lah yang berkuasa atas semua hal yang terjadi di alam ini??? Perkataan mana yang lebih besar dosanya dari perkataan keji seperti ini?!! Ini perkataan syirik yang dosa syirik itu tidak akan diampuni Allah kecuali dengan menyesali dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi (Taubat Nasuha).

Ketahuilah wahai hamba Allah…

Sesungguhnya Allah sangat keras siksanya…engkau, aku dan semua makhluk-Nya demi Allah tak akan sabar menjalaninya…. “Ah, kok serius gitu sih ! kami ‘kan hanya main-main kok?”

Ketahuilah wahai hamba Allah…

Allah berfirman “Dan jika kau tanya mereka tentang ejekan itu maka mereka akan menjawab ‘Sesungguhnya kami hanya senda guaru dan bermain-main’. Katakanlah “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usahlah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman!” (At-Taubah 65-66). Sebab turunnya ayat yang mulia ini ialah karena ada seorang yang pada saat perang Tabuk, maka suatu waktu ia membuat majelis / kumpul-kumpul dan ia bercerita dan berkata “ Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buncit perutnya, lebih takut kepada musuh selain ahli baca Al Quran ini (maksudnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya–ridwanullah’alaihim ajma’in-semoga Alah meridhoi mereka semua–yang kita diperintah untuk mengikuti mereka). Maka ketika diadukan pada beliau, maka turunlah ayat ini dan orang tadi terlihat tersandung-sandung karena mengikuti Nabi yang menaiki kendaraannya untuk minta maaf. Lihatlah, wahai hamba Allah!!. Allah-lah yang mengkafirkan mereka dari atas langit ketujuh melalui ayatnya yang mulia. Adakah alasan lain bagi kita untuk mengelak dengan ‘hanya main-main saja’??

Ketahuilah wahai hamba Allah…

Allah Maha keras siksa-Nya, akan tetapi Allah mempunyai ampunan yang luas, maka bersegeralah untuk menuju ampunan-Nya. FirmanNya “ Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar 53). Firman Allah “ Bersegeralah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulNya.” (Al Hadid 21).

Ketahuilah wahai hamba Allah…

Rasul ‘alaihis sholatu wa salam pernah bersabda ketika ada salah seorang sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu bertanya tentang amalan yang memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka .Beliau jawab “ Beribadahlah hanya pada Allah dan jangan menyekutukanNya, tegakkan shalat, tunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” Selanjutnya beliau menunjukkan pintu-pintu kebaikan ,sabda beliau “Puasa adalah perisai, sedekah menghapus kesalahan seperti aair memadamkan api, dan shalatnya seseorang di akhir malam”. Lanjut beliau “Pokok urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan mahkotanya adalah jihad.” Kemudian beliau bertanya pada Muadz, “Maukah kutunjukkan kunci dari semua itu?” Jawab Muadz “Ya.” Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam memegang lidahnya seraya bersabda “Jagalah ini!” Muadz pun bertanya “Apakah kami akan diadzab gara-gara ucapan kami?” Maka beliau bersabda “Celaka kau! Bukankah tidak ada yang menelungkupkan wajah manusia kedalam neraka –atau hidung-hidung mereka—melainkan karena buah ucapan mereka!!!” (Hadits riwayat At-Tirmidzi, hasan shahih).

Kesimpulan 1. Marilah kita sama-semua menjaga lidah ini yang merupakan kunci dari semua perkara yang disebutkan dalam hadits di atas. 2. Menjauhi perkataan keji seperti diatas dan yang sejenisnya. 3. Haram kita menghina Rasulullah dan para sahabatnya, dan wajib kita mengikuti cara beragama mereka itu (lihat At-Taubah 100, An-Nisaa 115). 4. Tidak boleh menghina ajaran Islam walau kita belum mampu melaksanakannya. 5. Marilah bersegera untuk mendapatkan ampunan dari Allah dan mendalami Islam ini secara benar, yakni mengikuti sahabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum ajma’in. Wallahu a’lam.

Maraji’:

1. Al Quran Al Karim 2. Al-Arba’in Imam An-Nawawi 3. Syarh Ushul Tsalatsah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin. 4. Aqidah Islamiyah Syaikh Al-Jibrin

[Kontributor : Ahmad As-Salafi, 30 Juni 2003 ]

http://www.perpustakaan-islam.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s