sejarah kasus kristenisasi di indonesia

sejarah kasus kristenisasi di indonesia

Pengkristenan Madura Pancing Amarah

“MADURA.” Mendengar kata ini, maka yang terbayang adalah sebuah pulau yang gersang dan kering seluas lebih kurang 5.250 km2 di ujung timur pulau Jawa. Terlintas di benak kita sebuah celurit, karapan sapi dan adat yang keras. Di masyarakat, kata “Madura” akrab dengan sate, becak, besi tua dan rongsokan. Demikianlah, gambaran umum orang lain tentang orang Madura yang dikenal sebagai pekerja keras yang ulet.

Namun, di balik kesan sikapnya yang keras, suku Madura terkenal sangat menjunjung tinggi kehormatan dan agama. Dalam hal penghormatan, orang Madura tidak mau diremehkan maupun meremehkan orang. Sifat demikian termanifestasikan dalam ungkapan “madu ben dara” (madu dan darah), yang berarti bila orang Madura diperlakukan secara baik, sopan dan penghormatan, maka balasannya adalah kebaikan pula. Sebaliknya, bila diperlakukan secara sewenang-wenang dan tidak adil, maka balasannya jauh lebih berat bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah.

Harga diri atau martabat adalah nilai yang sangat mendasar dalam masyarakat Madura. Boleh dibilang, suku yang satu ini pantang menanggung malu. Dasar utama dari harga diri adalah ‘todus’ (rasa malu). Ungkapan lama yang masih populer menyatakan, “tambana todus mate” (obatnya malu adalah mati).

Bagi mereka, lebih baik mati dibanding ada tetapi tiada kehormatan. Kalau mereka sudah ‘todus,’ maka berlaku ungkapan “angoan potenah tolang etembang potenah mata,” artinya: daripada kelihatan putih mata (malu), lebih baik mati (terhormat) kelihatan tulang. Dari tradisi ini lahirlah carok, yakni bertarung menggunakan senjata celurit untuk membela harga diri. “Mun lo’ bengal acarok ja’ ngakoh oreng Madura,” demikian ungkapan Madura yang berarti jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai orang Madura.

Pepatah lainnya, “Oreng lake’ mateh acarok, oreng bine’ mateh arembi” (laki-laki mati karena carok, perempuan mati karena melahirkan). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan carok sebagai ekspresi identitas etnis yang mendapat pembenaran kultural sekaligus persetujuan sosial. Meski dipandang salah menurut kacamata hukum positif.

Bagi orang Madura, kehormatan adalah masalah prinsip yang tak bisa ditawar lagi. Lebih baik mati daripada hidup dilecehkan menanggung malu. Dengan alasan membela kehormatan itulah, maka orang yang melakukan carok dianggap sebagai pahlawan oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Orang yang mengalahkan lawannya saat carok dan lolos dari kematian, dianggap sebagai jagoan yang dijuluki sebagai “oreng blater”. Biasanya pelaku carok yang menang tidak akan melarikan diri. Mereka tidak takut dengan hukuman sebagai konsekuensi yang harus dijalaninya.

Carok adalah jawaban orang Madura jika nilai-nilai harga diri mereka diusik dalam tiga hal: ego, wanita/istri dan agama.

Bicara tentang agama dalam suku Madura adalah identik dengan Islam. Nuansa Islam sangat meresap dan mewarnai pola kehidupan masyarakat. Islam merupakan hal suci yang harus dibela dan dipertahankan, walaupun nyawa jadi taruhannya.

Betapa pentingnya nilai-nilai agama terungkap dari ajaran “abantal syahadat, asapo’ angin, apajung Allah.” Masyarakat Madura sangat religius dan tergolong pemeluk Islam yang taat. Islam tak dapat dipisahkan dari masyarakat Madura, sehingga akan terdengar aneh apabila ada orang Madura yang tidak beragama Islam. “Mateh odik paggun Islam!” Postulat yang berarti “hidup mati tetap Islam” ini sudah mendarah daging dalam suku Madura.

Secara jujur, pihak Kristen mengakui begitu sulit menyebarkan kekristenan ke Madura, baik kepada orang Madura yang masih tinggal di pulau Madura maupun yang sudah eksodus ke luar Madura.

Penerjemahan dan penerbitan Alkitab bahasa Madura misalnya, berkali-kali usaha ini mengalami kegagalan. Usaha ini seolah-olah menabrak benteng baja yang berujung maut.

Pada pertengahan abad ke-19, ada seorang penduduk pulau Jawa keturunan Madura yang bernama Tosari. Setelah ia menjadi orang Kristen pada tahun 1843, Tosari berusaha menyebarkan Injil Kristen ke pulau nenek moyangnya. Karena orang-orang Madura tidak mau menerimanya, maka ia kembali ke Jawa Timur. Beberapa tahun kemudian ia dijunjung tinggi sebagai salah seorang pendekar gereja Jawa, dengan nama kehormatan Kiyai Paulus Tosari.

Salah seorang utusan misionaris dari negeri Belanda yang beroperasi di Jawa Timur pada masa hidup Paulus Tosari adalah Samuel Harthoorn. Pada tahun 1864 Harthoorn dan istrinya itu mulai menetap di Pamekasan, sebuah ibu kota kabupaten di Madura. Selama empat tahun mereka berusaha menjajaki persahabatan dengan penduduk setempat. Mereka berharap agar keakraban itu dapat menjadi suatu jembatan pengkristenan.

Usaha ini gagal dan terhenti setelah terjadi tragedi pada tahun 1868. Ketika Pendeta Harthoorn sedang keluar kota, segerombolan orang Madura di Pamekasan mengepung rumahnya dan membunuh istrinya. Setelah peristiwa yang begitu mengerikan itu, Harthoorn hengkang membawa trauma dan dukanya meninggalkan Madura selama-lamanya.

Sementara itu, di negeri Belanda ada J.P. Esser, seorang pendeta muda yang pandai. Ia belajar teologia dan memperdalam bahasa Madura sampai mencapai gelar doktor. Tahun 1880 ia memasuki pulau Madura dengan misi Kristen. Karena misinya gagal, maka meninggalkan Madura dan menetap di Bondowoso, lalu pindah ke Sumberpakem. Kedua kota kecil di Jawa Timur itu penduduknya banyak yang keturunan suku Madura.

Berkat usaha Dr Esser dan kawan-kawannya, seorang Madura bernama Ebing dibaptiskan di Bondowoso pada 23 Juli 1882. Dialah orang Madura pertama yang memeluk agama Kristen. Tanggal ini kemudian dijadikan tonggak awal berdirinya jemaat Sumberpakem, meskipun peresmian sebagai gereja jemaat baru pada tahun 1900.

Pada tahun 1886, Dr. Esser menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Madura. Lalu ia mengambil cuti dinas ke Belanda, agar terjemahannya itu dapat diterbitkan. Tetapi proyek penerjemahan Bibel bahasa Madura ini kembali mengalami kegagalan karena Esser meninggal dunia pada umur 37 tahun, dan sebagian naskah terjemahan hasil karyanya itu raib.

Pada tahun 1889, seorang pendeta muda bernama H van der Spiegel, berangkat ke Jawa Timur untuk meneruskan misi mendiang Esser. Ia mengerahkan tiga orang Madura untuk menolong penyempurnaan naskah Kitab Perjanjian Baru peninggalan Esser.

Ketika naskah buram terjemahan itu selesai, Spiegel pulang ke Belanda pada tahun 1903 untuk menerbitkan seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Madura. Pada saat Spiegel memperjuangkan proyek penerbitan Bibel bahasa Madura di Belanda, sebuah tragedi terjadi di Madura. Gereja Ebing dibakar massa. Seorang misionaris bersama istrinya nyaris tewas, pada saat rumah mereka dikepung dan dibakar.

Berita buruk ini sampai ke negeri Belanda, sehingga proyek Spiegel terganggu. Akibatnya, hasil karya Spiegel yang diterbitkan hanyalah “Ketab Injil Sotceh see Toles Yohanes” (Kitab Injil Suci Karangan Yohanes).

Salah seorang rekan sekerja Spiegel ialah Pendeta F Shelfhorst. Sejak tahun 1912 ia dan keluarganya tinggal di Kangean Madura. Shelfhorst berusaha menyebarkan kekristenan melalui bantuan sosial dan pengobatan. Tapi, usaha pendeta ini tak membuahkan hasil sama sekali. Tak satu orang pun orang Madura yang masuk Kristen. Hingga pada tahun 1935 Pendeta Shelfhorst pensiun atas permohonannya sendiri. Ia tidak pulang ke Belanda, tetapi menetap di pegunungan Jawa Timur sambil menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Madura. Usaha ini pun gagal karena daerah pegunungan itu dikepung bala tentara Jepang pada tahun 1942. Tiga tahun kemudian, Shelfhorst meninggal dalam sebuah kamp tahanan Jepang di Jawa Tengah. Gagal lagi penerjemahan kitab agama Kristen ke dalam bahasa Madura.

Akhirnya, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Madura baru selesai 130 tahun sejak kegagalan Pendeta Samuel Harthoorn, tepatnya pada bulan September 1994. Penerjemahnya adalah Ny. Cicilia Jeanne d’Arc Hasaniah Waluyo, seorang guru agama Katolik di SMP Pamekasan. Bibel bahasa Madura ini diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan nama “Alketab E Dhalem Basa Madura.”

Kegagalan demi kegagalan selalu dituai oleh para pendeta dan misionaris dalam misi mengkristenkan suku Madura. Penolakan orang Madura yang darah dagingnya sudah Islam itu begitu keras. Dalam hal sosial mereka terbuka untuk kerjasama. Tapi untuk murtad ke Kristen, mereka tak kenal kompromi. Jika mereka dipaksa dan ditipu, maka carok jawabannya.

Carok tak dapat dieliminasi dari kehidupan suku Madura, hanya bisa diminimalisir dengan menghilangkan problem sosial penyebab konflik. Kristenisasi adalah salah satu problem sosial yang bisa memicu aksi carok. Untuk meredam carok akibat gerakan kristenisasi, aparat kepolisian harus bekerjasama dengan tokoh agama dan kiyai Madura. Karena orang Madura lebih patuh kepada figur ulama/kiai ketimbang kepada tokoh formal. Dalam kehidupan sosial budaya orang Madura terdapat ungkapan buppa’-babu’-guru-rato. Makna ini menunjukkan kepatuhan dan ketaatan orang Madura pertama-tama kepada kedua orangtua, kemudian berturut-turut kepada guru (figur ulama/kiai), dan terakhir kepada figur rato (pemimpin formal).

Kristenisasi secara radikal terhadap suku Madura yang dilakukan oleh Pendeta Edhie Sapto dan Pendeta Yosua tidak akan mewujudkan misi “amanat agung” yang dicita-citakannya. Kristen adalah Kristen, Madura tetaplah Islam. Agresivitas pengkristenan suku Madura hanya akan mengulangi daftar pertumpahan darah di Madura yang jelas akan mengganggu stabilitas keamanan.

Publikasi di majalah Midrash Talmiddim yang diketuai oleh Pendeta Yosua tentang kristenisasi dengan target utama orang Madura, justru memprovokasi kerusuhan umat beragama. Terbukti, Pendeta Yosua menerima upah perbuatannya. Dalam perjalanan misi di Bandung, kepalanya dikepruk oleh Ustadz Arsyad yang asli putra Madura (Pikiran Rakyat 5/12/2006; Tribun Jabar 12/12/2006). Siapa menabur angin akan menuai badai.

Semua pihak harus mengambil ibrah dari kasus pemukulan Pendeta Yosua. Tindak pengadilan sipil dengan cara anarkis itu tak seharusnya terjadi, jika gerakan pengkristenan terhadap umat Islam, terutama kepada suku Madura itu dihentikan. Jika tidak, maka kita harus cermati pesan bijak KH Abdurrahman Navis, ulama Madura yang kesohor di Jawa Timur, “Secara kultur orang Madura tidak mungkin masuk Kristen. Lebih baik mati daripada masuk Kristen. Kalau ada yang memaksa, bisa carok.” mai, mag, hbj

Sumber : Majalah Tabligh

http://www.majalah-tabligh.com
http://www.swaramuslim.net
http://www.pakdenono.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s