SELAMATAN KEMATIAN ( TAHLILAN ) BAGAIMANA HUKUMNYA ?

SELAMATAN KEMATIAN ( TAHLILAN ) BAGAIMANA HUKUMNYA ?

Sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia ketika salah seorang anggota
keluarganya meninggal dunia, maka diadakan acara ritual ” Tahlilan”.
Apakah acara tersebut berasal dari Islam ?

Mari kita simak dengan hati nurani yang murni untuk mencari yang haq dari dien yang kita yakini ini.
Kita lihat acara dalam Tahlilan ( maaf ini hanya sepanjang penulis ketahui, bila ada yang kurang harap maklum )
– Biasanya bila musibah kematian pagi hari maka di malam
harinya diadakan acara Tahlilan ini yaitu dibacakan bersama-sama surat Yasin
atau doa lainnya.
– Kemudian di do’akan untuk ahli mayit dan keluarganya dan
terkadang ahli mayit menyediakan makanan guna menghormati tamunya yang ikut
dalam acara Tahlilan tersebut.
– Bahkan biasanya acara ini bukan hanya pada hari kematian
namun akan berlanjut pada hari ke 40 dan seterusnya.

Saudaraku,
Mari kita simak Hadits Shahih berikut :
” Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, ” Kami ( yakni para Shahabat
semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat )
bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah
ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat ( dapat dipercaya )
atas syarat Bukhari dan Muslim, bahkan telah di shahihkan oleh jama’ah para
ulama’
Mari kita perhatikan ijma’/kesepakatan tentang hadits tersebut diatas
sebagai berikut :
1. Mereka ijma’ atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada
seorang pun ulama’ ( sepanjang yang diketahui penulis-Wallahua’lam ) yang
mendhaifkan hadits tersebut.
2. Mereka ijma’ dalam menerima hadits atau atsar dari ijma’
para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada
seorang pun ulama’ yang menolak atsar ini.
3. Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas.
Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa
melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat
yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal
di negeri kita ini dengan nama ” Tahlillan atau Selamatan Kematian “.

Mari kita simak dan perhatikan perkataan Ulama’ ahlul Ilmi mengenai masalah
ini :
1. Perkataan Al Imam Asy Syafi’I, yakni seorang imamnya para
ulama’, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di
Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam
kitabnya Al Um (I/318) :
” Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit
meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan
memperbaharui kesedihan .” )*

)* : ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi’I menerangkan
menurut kebiasaan
yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih
boleh dilakukan. Sama sekali tidak !

Perkataan Imam Syafi’I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau di
Tafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa : ” beliau dengan tegas
Mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru
berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan
disini sebagai Tahlilan ?”

2. Perkataan Al Imam Ibnu Qudamah, dikitabnya Al Mughni ( Juz 3
halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin
At Turki ) :

” Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak
maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah ( kesusahan )
diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan
menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah. Dan telah diriwayatkan
bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, ” Apakah
mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah
mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab
Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

3. Perkataan Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, dikitabnya :
Fathurrabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :
” Telah sepakat imam yang empat ( Abu Hanifah, Malik,
Syafi’I dan Ahmad ) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk
orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir
bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya
haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya ( yakni berkumpul-kumpul
dirumah ahli mayit ) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.
Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah/melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah, ‘Adapun
duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta’ziyah telah
dijelaskan oleh Imam Syafi’I dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan
kawan-kawan semadzhab atas dibencinya ( perbuatan tersebut ).’ Kemudian
Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab :
Dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta’ziyah.
Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats ( hal yang baru yang
tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

4. Perkataan Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah
Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang Bid’ahnya berkumpul-kumpul
dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab
Asy Syaamil dan ulama lainnya dan beliau menyetujuinya berdalil dengan
hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

5. Perkataan Al Imam Asy Syairazi, dikitabnya Muhadzdzab yang
kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah
Muhadzdzab :
” Tidak disukai /dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit )
dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats
sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

6. Perkataan Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, dikitabnya Fathul
Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut
adalah ” Bid’ah yang jelek “. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang
beliau katakan shahih.

7. Perkataan Al Imam Ibnul Qayyim, dikitabnya Zaadul Ma’aad
(I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit ) dengan
alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah “
yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.

8. Perkataan Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar
(4/148) menegaskan bahwa hal tersebut menyalahi sunnah.

9. Perkataan Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang
masalah ini beliau menjawab :

” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah
mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” ( Masaa-il
Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139 )

10. Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai
membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan
tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian
menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” ( Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal. 93 ).

11. Perkataan Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al
Imam Asy Syafi’I ( I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

Kesimpulan :
1. Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah
BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk
didalamnya imam empat.
2. Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan
makanan untuk para penta’ziyah .
3. Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan
tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.
4. Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Saw
kaum kerabat /sanak famili dan para tetangga memberikan makanan untuk ahli
mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari
semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Saw ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat :
” Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena
sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (
yakni musibah kematian ).”
( Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’I ( I/317), Abu
Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205 )

Wahai Saudaraku,
APAKAH PERKATAAN ORANG-ORANG AHLUL ILMU TERSEBUT MASIH BELUM MEYAKINKAN ?

Marilah kita mencoba merenungi dengan hati yang jernih, janganlah kita
kedepankan hawa nafsu kita. Tentu dalam hati kita senantiasa banyak
pertanyaan yang mengganjal diantaranya :
– Kenapa sejak dahulu, kakek kita, bapak kita, ustadz kita
bahkan kyiai kita
mengajarkannya dan bahkan sudah lumrah dimasyarakat ?
– Darimana mereka ( ustadz/kyiai kita ) mengambil dalilnya apa
hanya budaya ?

Wahai saudaraku,
Dalam menilai sebuah kebenaran bukanlah disandarkan oleh banyak atau
sedikitnya orang yang mengikuti, karena hal ini telah disindir oleh Alloh
SWT dalam QS. Al An’aam 116 :
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang
orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Marilah kita dalam beragama bersandarkan kepada dalil-dalil yang shahih
karena dengan berdasar hujjah ( dalil ) yang kuat maka kita akan selamat.
Kita tidak boleh beragama hanya mengikuti orang lain yang tidak mengetahui
tentangnya karena di akhirat kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban
terhadap yang telah kita lakukan di dunia, perhatikan peringatan Alloh dalam
QS. Al Israa’ 36 ;
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggunganjawabnya.”

MUDAH-MUDAHAN ALLOH SWT MEMBERIKAN TAUFIK SERTA HIDAYAH KEPADA KITA SEHINGGA
MENDAPAT RIDHO DARI ALLOH SWT ATAS AMAL YANG KITA LAKUKAN BUKAN SEBALIKNYA,
AMIN

Maraji, dari kitab ” Al Masaail oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat “

Wallahua’lam bish showab

From: “sanusi”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s