Kusta

Pengertian
Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem muskulo retikulo endotelia, mata, otot, tulang, dan testis.

Etiologi

Mycobacterium Leprae atau basil Hansen, ditemukan oleh GH. Armauer Hansen (Norwegia) tahun 1987. Mycobacterium leprae bersifat tahan asam, bentuk batang, ukuran p=1-2 mikron, l=0.2-0.5 mikron. Hidup dalam jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan

Patogenesis

Cara masuk belum pasti, namun beberapa penelitian memperlihatkan bahwa yang sering melalui kulit yang lecet dan mukosa nasal. Pengaruh terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hiidup pada suhu rendah, waktu regenerasi lama, sifat basal yang avirulen dan nontoksis. Mycobacterium merupakan parasit obligat intraseluler, terutama pada makrofag disekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel schwan di jaringan saraf. Basil masuk ke tubuh, tubuh bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit). Pada tipe LL menyebabkan kelumpuhan sistem imunitas akibatnya makrofag tidak dapat menghancurkan basil. Pada tipe TT, fungsi imunitas masih tinggi dan makrofag mampu menghancurkan basil. Sel Schwan meruapakan sel target untuk pertumbuhan M.Leprae, berfungsi sebagai demielinisasi dan sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Gangguan imunitas tubuh dalam sel schwan, basil bermigrasi dan beraktivasi, akibatnya regenerasi sel saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif

Klasifikasi

Klasifikasi bertujuan menentukan regimen therapi, prognosis dan komplikasi, serta perencanaan operasional. Klasifikasi dibagi menurut Internasional (Madrid, 1953), Ridley-Jopling (1992), dan WHO (1981) dan modifikasi (1988).

Internasional (Madrid 1953)
– Indeterminate
– Tuberkuloid
– Boderline
– Lepromatosa

Ridley-Jopling(1992)
– Tuberkuloid – tuberkuloid (TT)
– Boderline – Tuberkuloid (BT)
– Boderline – Boderline (BB)
– Boderline – Lepromatosa (BL)
– Lepromatosa – Lepromatosa (LL)

WHO(1981) dan modifikasi (1988)
Paucibasiler (PB); termasuk TT, BT, I, T, dengan BTA (-)

Multibasiler (MB); termasuk BB, BL, LL, B, L, dengan BTA (+)

Perbedaan Tipe PB dan MB

Tipe Paucibasiler (PB)
1. Lesi Kulit (makula datar, papula yg meninggi, nodus)
Satu sampai lima lesi, hipopigmentasi/eritema, distribusi tidak simetris, dan hilang
sensasi yang jelas.
2. Kerusakan Saraf; hanya satu cabang

Tipe Multibasiler (MB)
1. Lesi Kulit (makula datar, papula yg meninggi, nodus)
Lesi lebih dari lima tempat, distribusi lebih simetris, dan hilang sensasi
2. Kerusakan Saraf; banyak cabang

Saraf Tepi Terkena dan Kelainannya

1. N. Fasialis; lagoptalmus, mulut mencong
2. N.Trigeminus; anestesi kornea
3. N.Aurikularis magnus; cuping telinga menebal (megalobule)
4. N.Radialis; tangan lunglai (drop wrist)
5. N.Ulnaris; anestesi dan parese/paralisis otot jari V dan sebagian jari IV
6. N.Medianus; anestesi, parese/paralisis otot jari tangan I,II,III, sbgian IV, jari kiting (claw toes), tangan cakar (claw hand)
7. N.Proneus komunis; kaki semper (drop foot)
8. N.Tibialis posterior; anestesi telapak kaki, claw toes

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan pada penemuan gejala utama (Cardinal Sign) usta, yaitu :
1. Kulit dg bercak putih/kemerahan dg mati rasa
2. Penebalan saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa & kelemahan pada otot tangan, kaki dan mata
3. Apusan kulit BTA positif.

Pemeriksaan Fisik

1. Anamnesis
2. Inspeksi
3. Palpasi
– Kelainan kulit, nodus, ulkus,dan sebagainya.
– Kelainan saraf; bandingkan kanan – kiri, membesar atau tidak, bentuk oval/bulat, pembesaran reguler/ireguler, perabaan kenyal/keras, nyeri atau tidak.

Tes Fungsi Saraf
Gunakan kapas, jarum, tabung hangat dan dingin.
• Tes Sensoris :
– Raba “dengan kapas”; rasa nyeri ” dengan jarum”; rasa suhu ” dengan tabung 40oC/20oC.
– Tes Anhidrosis (gangguan berkeringat pada makula).
Tes Gunawan(dengan pensil tinta); pensil tinta digariskan dari kulit normal melewati makula yg diduga hingga kulit normal.
Tes Histamin; daerah kulit pada makula dan perbatasannya disuntik dengan histamin SC: tampak kulit normal berkeringat, sebaliknya anhidrosis tidak berkeringat
• Tes motoris: Voluntary Muscle Test

Pemeriksaan Bakteriologis

• Bakteriologis Indeks (BI), dan Morfologis Indeks (MI)
• Tempat sering diambil: cuping telinga, lengan, punggung, bokong, dan paha (minimun tiga tempat: cuping telinga kiri, cuping telinga kanan, bercak paling aktif).

Pengobatan Kusta

Pengobatan kusat dikenal dengan pengobatan MDT (multi drug therapi), yang terbagi menjadi MDT Tipe-PB dan MDT Tipe-MB.

Reaksi
Reaksi kusta adalah suatu reaksi eksaserbasi akut (mendadak menjadi parah) yang terjadi dari penyakit itu sendiri. Penyebab reaksi belum diketahui, kemungkinan menggambarkan reaksi hipersensitivitas akut terhadap antigen basil, sehingga terjadi gangguan keseimbangan imunitas.

Faktor Pencetus Reaksi
Setelah pengobatan antikusta yang intensif.
Infeksi rekuren.
Pembedahan.
Stress fisik.
Imunisasi.
Kehamilan.
Post partum awal.

Tipe Reaksi Kusta
1.Reaksi Tipe I (Reversal); hipersensitivitas seluler.
Bercak pada kulit mendadak menjadi lebih merah, bengkak, panas, dan sakit, kemudian timbul bercak baru.
2.Reaksi Tipe II (ENL, eritema nodusum leprosum); hipersensitivitas humoral;
Timbul nodul-nodul berwarna merah, sakit, biasanya pada lengan dan kaki

Penanganan Reaksi
1.Mengatasi neuritis untuk mencegah agar tidak berlanjut menjadi paralisis atau kontraktur.
2.Secepatnya dilakukan tindakan untuk mencegah kebutaan bila mengenai mata.
3.Membunuh kuman.
4.Mengatasi nyeri.

Derajat Cacat Kusta (WHO, 1988)
1.Cacat pada tangan dan kaki
Tingkat O : anestesi T,kelainan anatomis T
Tingkat 1 : anestesi R,kelainan anatomis T
Tingkat 2 : kelainan anatomis R

2.Cacat pd mata
Tingkat O : kelainan mata/visus T
Tingkat 1 : kelainan mata R tapi tidak terlihat, visus berkurang.
Tingkat 2 : lagoptalmus R, visus 6/60 (hitung jari jarak 6 meter.

Pencegahan Primer Cacat Kusta
1.Diagnosa dini
2.Terapi teratur & adekuat
3.Penatalaksanaan neuritis, termasuk silent neuritis
4.Penanganan reaksi

Pencegahan Sekunder Cacat Kusta
1.Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka.
2.Latihan fisioterapi.
3.Bedah rekonstruksi.
4.Bedah septik untuk mengurangi perluasan infeksi.
5.Perawatan mata, tangan, kaki yang anestesi/lumpuh.

Sumber : DITJEN PP&PL

http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=4377

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s