BERHENTILAH WAHAI SAUDARAKU

Artikel Buletin An-Nur :

BERHENTILAH WAHAI SAUDARAKU
Rabu, 11 April 07

Saudaraku tercinta! Sesungguhnya alam semesta ini, yang besar maupun yang kecil, semuanya menghadap kepada Allah subhanahu wata’ala, bertasbih kepada-Nya, mengagungkan dan bersujud kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya”. (QS. Al-Isra: 44).

Sesungguhnya seluruh makhluk yang Allah ciptakan menundukkan kepalanya, merendahkan diri kepada-Nya dan mengakui keutamaan-Nya. Akan tetapi, tinggal di alam semesta ini makhluk kecil yang rendah dan hina. Diciptakan dari setetes air hina (mani) tiba-tiba saja ia menjadi penentang yang nyata. Dia berada di suatu lembah dan seluruh alam semesta di lembah yang lain. Ia meninggalkan ketaatan, tidak mau tunduk dan bertasbih kepada-Nya, meskipun segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tekun berdzikir dan bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Makhluk kecil ini ialah manusia yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Alangkah dahsyatnya kebatilan ini! Alangkah besarnya kedunguan ini! Dan Alangkah rendah dan hinanya ketika ia menjadi penyakit di alam yang teratur ini.

Berapa banyak ditawarkan kepada nya pertaubatan namun ia enggan untuk bertaubat. Berapa kali ditawarkan kepadanya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, namun dia enggan untuk kembali, malah sebaliknya ia berlari dari-Nya. Berapa banyak ditawarkan kepadanya perdamaian bersama kekasihnya namun ia enggan berdamai dan mengangkat kepalanya menyombongkan diri.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala berpikirlah sejenak tentang dunia ini dan kehinaannya. Berpikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyiksa mereka dengan siksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling pahit. Membuat mereka sedikit tertawa dan banyak berlinang air mata.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala bepikirlah tentang kehidupan akhirat dan kekekalannya. Ia adalah kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah tempat kembali. Ia adalah penghujung perjalanan.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala pikirkanlah sejenak tentang api neraka, bahan bakarnya, gemuruhnya, kedalaman jurangnya dan kedahsyatan panas apinya. Bayangkanlah betapa pedihnya siksa yang dirasakan penghuninya. Mereka di dalam air yang sangat panas dalam keadaan wajah yang tersungkur. Di dalam neraka mereka seperti kayu bakar yang menyala-nyala.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala,wajib bagimu untuk berpikir tentang surga dan apa yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mentaati-Nya. Di dalam surga terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, telinga belum pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas dalam hati dan benak manusia, berupa puncak kenikmatan dengan kelezatan yang paling tinggi berupa berbagai macam makanan, minuman, pakaian, peman dangan, dan kesenangan-kesenangan yang tidak akan disia-siakan kecuali oleh orang-orang yang diharamkan untuk memasukinya.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, ingatlah berapa lama engkau akan hidup di dunia ini? Enam puluh tahun, delapan puluh tahun. Seratus tahun, seribu tahun? Kemudian apa setelah itu? Kemudian kematian pasti akan datang. Apakah yang akan engkau tempati? Surga-surga yang penuh dengan kenikmatan ataukah neraka jahim?

Saudaraku tercinta! Yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya, bahwasanya Malaikat Maut yang telah mengunjungi orang lain, sesungguhnya ia sedang menuju ke arahmu. Hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, bahkan hitungan menit dan detik ia akan meghampirimu. Lalu engkau hidup seorang diri di alam kubur. Tiada lagi harta, keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Camkanlah dan renungkanlan gelapnya kubur dan kesendirianmu di dalamnya, sempitnya ruangannya, sengatan binatang-bintang berbisa, ketakutan yang mencekam dan kedahsyatan pukulan Malaikat Adzab.

Saudaraku tercinta! Ingatlah hari Kiamat. Hari di mana kehormatan di tangan Allah subhanahu wata’ala. Ketika rasa takut mengisi hati. Ketika engkau berlepas diri dari anakmu, ibumu, ayahmu, istrimu, dan juga saudaramu. Ingatlah kondisi dan keadaan-keadaan saat itu. Ingatlah hari di mana neraca diletakkan dan lembaran-lembaran amal manusia beterbangan. Berapa banyak amal kebaikan di dalam bukumu? Berapa banyak celah-celah kosong dalam amal-amalmu? Ingatlah tatkala engkau berdiri di hadapan Al-Malikul Haqqul Mubin Dzat Yang engkau berlari dari-Nya. Dzat Yang memanggilmu namun engkau berpaling dari-Nya. Engkau berdiri di hadapan-Nya dan di tanganmu lembaran catatan amal yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.

Maka lisan manakah yang engkau gunakan untuk menjawab pertanyaan Allah subhanahu wata’ala,ketika Ia bertanya kepadamu tentang umurmu, masa mudamu, perbuatanmu, dan juga hartamu. Maka kaki manakah yang engkau gunakan untuk berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala? Dengan mata yang mana engkau memandang-Nya? Dan dengan lisan manakah engkau menjawab-Nya ketika Ia berkata kepadamu, “Hamba-Ku, engkau menganggap remeh pengawasan-Ku padamu, Engkau anggap sebagai orang yang paling hina dari orang-orang yang memperhatikanmu. Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu? Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Lalu mengapa engkau mendurhakai-Ku padahal aku telah memberi nikmat kepadamu.”

Saudaraku tercinta! Tidakkah engkau bersabar menjalankan ketaatan kepada subhanahu wata’ala di hari-hari yang pendek ini? Detik-detik ini begitu cepat, setelah itu engkau akan meraih kemenangan yang sangat besar yang engkau akan bersenang-senang di dalam kenikmatan yang abadi.

Saudaraku tercinta! Di sana terdapat segolongan manusia yang berkeyakinan bahwasanya mereka diciptakan sia-sia belaka dan dibiarkan begitu saja. Kehidupan mereka hanya diisi dengan senda gurau dan permainan belaka. Penglihatan mereka tertutup, telinga mereka tuli untuk mendengar petunjuk, hati mereka terbalik, mata mereka buta dan nurani mereka tak berfungsi sama sekali. Engkau akan mendapati di majlis-majlis mereka segala sesuatu kecuali Al-Qur’an dan untaian dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.

Mereka meninggalkan Allah subhanahu wata’ala, padahal mereka adalah hamba-hamba-Nya yang berada di hadapan dan genggaman-Nya. Allah subhanahu wata’ala memanggil mereka namun mereka tidak memenuhi panggilan-Nya, mereka lebih mendahulukan panggilan syetan, keinginan, dan hawa nafsu mereka. Luar biasa keadaan mereka! Bagaimana mereka memenuhi ajakan syetan dan meninggalkan seruan Allah subhanahu wata’ala. Ke manakah perginya akal mereka?!

Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj:46).

Apa yang dilakukan Allah subhanahu wata’ala terhadap mereka sehingga mereka mendurhakai dan tidak menaati-Nya?! Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan mereka? Bukankah Dia telah memberi rizki kepada mereka? Bukankah Dia telah mencukupi harta mereka dan menyehatkan tubuh mereka? Apakah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Lembut dan Maha Mulia telah menipu mereka?

Apakah mereka tidak takut jikalau kematian mendatangi mereka di saat sedang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala? Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99).

Hindarilah dirimu untuk menjadi bagian dari mereka dan jauhkanlah dirimu dari mereka. Beramallah untuk sesuatu yang karenanya engkau diciptakan (beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala). Sesungguhnya -demi Allah- engkau diciptakan untuk sebuah masalah yang sangat agung. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS.Adz-Dzariyat:56).

Saudaraku tercinta! Wahai engkau yang sedang bermaksiat kepada Allah!! Kembalilah kepada Tuhanmu dan takutlah akan api neraka. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang berbagai kesulitan. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang dua pilihan, kehidupan penuh nikmat atau lingkungan hidup penuh siksa. Sesungguhnya di hadapanmu terhampar kalajengking-kalajengking, ular-ular dan masalah-masalah sukar dan pelik. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, tawa tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Nyanyian-nyanyian, film-film, dan perkara-perkara hina tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Aneka surat kabar dan majalah-majalah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Isteri, anak-anak, teman dan sahabat tidak dapat memberi manfaaat kepadamu. Harta yang melimpah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Tidak ada yang bisa memberi manfaat kepadamu kecuali kebaikan-kebaikan dan amal-amal shalih yang engkau kerjakan selama hidupmu di dunia.

Saudaraku tercinta! Demi Allah tidaklah aku menulis perkataan ini melainkan karena kekhawatiranku kepadamu. Aku khawatir wajah putihmu ini berubah menjadi hitam pada hari Kiamat. Aku khawatir wajah bercahayamu ini akan berubah menjadi gelap. Aku khawatir tubuh yang sehat ini akan dilalap oleh api neraka. Maka bersegeralah -semoga Allah subhanahu wata’ala memberi taufik kepadamu- untuk membebaskan dirimu dari api neraka. Umumkanlah ia sebagai bentuk taubat yang sebenarnya dari sekarang. Yakinlah bahwasanya selamanya engkau tidak akan menyesal melakukan itu. Bahkan sebalikya -dengan izin Allah subhanahu wata’ala- engkau akan merasakan kebahagiaan. Hindarilah keraguan atau mengakhirkan semua itu. Sesungguhnya aku -demi Allah- menjadi penasihat bagimu.
(Zainal Abidin)
Disarikan dari, “Akhil Habib Qif”, Ibrahim Al-Ghamidy.

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=423

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s