KERASUKAN JIN MENURUT PARA IMAM DAN AHLI TAFSIR

ruqyah-online.blogspot.com-Tafsir Firman Allah SWT,
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”(QS.al-Baqarah (2) : 275)

Berikut ini akan kami sampaikan perkataan para ahli tafsir (mufassir) tentang pengertian atau tafsir dari ayat di atas:

Al-Hafizh Ibnu Katsir ad-Dimasyqi mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka tidak akan berdiri dari kubur mereka pada hari Kiamat melainkan seperti berdirinya orang-orang yang sedang digilakan oleh setan.” Kemudian ia berkata, “Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ‘Auf ibn Malik, Sa’id ibn Jabir, Rabi ibn Anas, Qatadah, Muqatil ibn Hiyam, dan lain-lain.”

Al-Qurthubi, di dalam kitab tafsirnya, mengatakan, “Ayat ini menjadi dalil atas kelirunya pendapat yang mengingkari adanya kerasukan jin dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah sebuah kewajaran dan bahwa setan tidak dapat menganggu manusia sama sekali.”

Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari, di dalam kitab tafsirnya, mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka dijadikan gila di dunia oleh setan. Kata “mass” maksudnya adalah gila”. Al-Baqhawi juga berpendapat demikian.

Abu Ja’far ibn Jarir, tentang tafsir ayat ini, mengatakan, “Mereka akan dibuat gila di dunia ini oleh setan.”Kata Baghawi juga mengatakan demikian.

Ibnu ‘Athiyyah menerangkan, “Ini adalah sebuah perumpanan, dimana orang-orang yang memakan riba di dunia ini adalah bagaikan orang gila akibat gangguan jin, sebagaimana dikatakan kepada orang yang berkelakuan aneh (tidak karu-karuan), ‘Sungguh ia telah dirasuki oleh jin.”

Dalam tafsir al-Khazin disebutkan, “Maksud dari kata ‘yatakhabbathussyaithan” di dalam ayat itu adalah bahwa itu terambil dari kata “khabath” yang berarti “memukul” dan “menusuk” dari segala arah. Misalnya, unta yang khabbuth (kata khabbuth ini segala arah. Misalnya, unta yang khabbuth (kata khabbuth ini terambil dari kata khabath) adalah unta yang memukul-mukulkan kakinya ke tanah dan menusuk (menendang) siapa pun yang ada disekitarnya. Orang yang bertindak sembrono dan asal-asalan terhadap suatu urusan disebut juga dengan khabath. Jadi makna ayat tersebut adalah bahwa pemakna riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat seperti orang gila yang tidak bisa bertindak atau berprilaku seperti orang normal.” Imam Fakhrurrazi, di dalam kitab tafsirnya Mafath al-Ghaib, juga menyebutkan demikian.

Imam Muhammad ibn ‘Ali asy-Syaukani, mengatakan, “Ayat ini telah ditafsirkan oleh kebanyakan ahli tafsir. Mereka mengatakan, ‘Bahwasannya para pemakan riba itu dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan seperti orang gila adalah sebagai pembalasan dan kemurkaan bagi mereka pada saat itu ditengah-tengah sekalian makhluk. Dikatakan bahwa ini adalah sebuah perumpamaan, dimana orang yang ingin beruntung dalam perdagangannya namun dengan cara yang tidak halal (yakni dengan riba) sama seperti orang gila yang tidak sadar apa-apa yang sedang dan akan diperbuatnya. Dan ayat ini menjadi dalil atas kelirunya pendapat yang mengingkari adanya kerasukan jin dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah sebuah kewajaran, dan bahwa setan tidak dapat mengganggu manusia sama sekali. Padahal Nabi Muhammad saw sendiri telah berlindung kepada Allah dari gangguan setan tersebut.”

Al-Alusi menyebutkan, “Maksud dari kata ‘mass’ di dalam ayat itu adalah gila. Disebut demikian adalah lantara pikiran dan perangainya menjadi tidak karuan sebab telah dikuasai oleh setan. Dan ini tidak bertolak belakang dengan kesimpulan para dokter jiwa yang menyatakan bahwa faktor utama penyebab kegilaann adalah depresi mental, sebab depresi mental itu adalah faktor internal, sedangkan yang diisyaratkan oleh ayat ini adalah faktor eksternal, yang kedua-duanya tidak bertentangan. Terkadang seseorang diganggu oleh setan, namun ia tidak menjadi gila karenannya, atau sebaliknya, yakni ia menjadi gila dengan sendirinya tanpa ada gangguan sedikitpun dari setan itu. Dan ada juga yang menjadi gila semata-mata akibat gangguannya, yang tanda-tandanya dapat diketahui oleh dokter-dokter ‘mahir’. “

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni’ mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa mereka akan dibangkitkan dari dalam kubur kelak di akhirat dalam keadaan tidak dapat berdiri dengan lurus, mereka berjalan sempoyongan dan akhirnya terjatuh ke lantai, dan ia kembali berdiri namun jatuh kembali. Ini adalah sebagai ciri khas mereka nanti di Akhirat, sehingga orang-orang lain dapat mengenalnya.”

Ibnu Hiyan mengatakan, “Secara tersurat, ayat ini menjelaskan bahwa setan diberi kemampuan oleh Allah untuk mencelakakan sebagian orang sehingga mereka menjadi gila karenanya, dan ini dapat diterima oleh akal manusia. Namun ada yang mengatakan bahwa hal itu bukanlah perbuatan setan, melainkan perbuatan Allah terhadap mereka lantaran telah teramat jatuh ke dalam kegelapan, sedangkan penisbahan perbuatan ini kepada setan hanyalah sekadar majaz (perumpamaan), bukan hakiki (sebenarnya).”

Dan di dalam kitab ath-Thibun-Nabawi, karya Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman adz-Dzahabi, disebutkan, “Sesungguhnya jin itu adalah makhluk halus yang tidak diragukan lagi dapat menyusup ke dalam roh manusia. Sungguh banyak hikayat dan riwayat yang membuktikan kebenaran perkara ini, yang tidak muat disebutkan semuanya dalam bab ini.”

1. Imam Ahmad Menyuruh Jin

Diriwayatkan dari ‘Ali ibn Ahmad ibn ‘Ali al-‘Abkari bahwa kakeknya bercerita kepada ayahnya :

Ketika aku sedang berada di tempat ‘Abdullah Ahmad ibn Hambal (Imam Ahmad), datanglah seorang utusan kepadanya dari Khalifah Mutawakkil. Utusan itu memberitahukan kepadanya tentang seorang perempuan muda di istana yang sakit gila akibat gangguan jin, dan memintanya untuk mendoakan perempuan itu agar sembuh dari penyakitnya. Maka ia menyerahkan bakiaknya kepada utusan tersebut seraya berkata kepadanya, “Kembalilah engkau ke istana, lalu duduklah di dekat perempuan itu dan katakan kepadanya yakni kepada jin yang berada di tubuhnya bahwa Imam Ahmad bertanya, ‘Manakah yang lebih engkau sukai, keluar dari tubuh perempuan ini atau dipukul dengan bakiak ini sebanyak tujuh puluh kali ?”

Maka kembalilah utusan itu ke istana dan melaksanakan apa-apa yang disampaikan Imam Ahmad kepadanya. Lalu berkatalah jin itu kepadanya melalui lisan perempuan tersebut,’Aku patuh kepada Imam Ahmad. Bahkan, sekiranya ia memerintahkan agar kami tidak bermukim lagi di Irak ini, tentu kami akan keluar dari kota ini, sebab, ia adalah seorang yang taat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada-Nya, maka ia akan ditaati oleh siapa saja.”

Kemudian, keluarlah jin itu dari tubuhnya, dan perempuan itu kembali normal seperti biasa, bahkan ia sempat melahirkan beberapa orang anak setelah itu. Namun, setelah Imam Ahmad meninggal dunia, jin itu datang lagi kepadanya sehingga Khalifah Mutawakkil memanggil lagi seseorang untuk mengobatinya, namun ketika Abu Bakar al-Marwazi untuk mengobatinya, namun ketika Abu Bakar al-Marwazi ini mencoba menyuruh jin itu untuk keluar darinya, jin itu berkata, “Aku tidak mau keluar dari tubuh perempuan ini dan aku tidak mau taat kepadamu. Kami mau keluar darinya karena yang menyuruhku waktu itu adalah Ahmad ibn Hanbal yang taat kepada Allah .”

2. Ibn Taimiyah Mengobati Orang Gila Karena Gangguan Jin

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Aku sendiri menyaksikan guruku yakni Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menyuruh jin yang berada di dalam tubuh seseorang untuk keluar darinya, dengan mengatakan kepadanya, Keluarlah kamu dari tubuh orang ini, karena tidak halal bagimu bercokol di sana.’ Karena jin itu tidak mau keluar, maka ia memukulnya dengan cara memukul tubuh orang itu dengan sebuah tongkat. Setelah itu, barulah jin itu keluar darinya, dan sembuhlah orang itu dari sakitnya, ia tidak merasakan sakit sama sekali sewaktu tubuhnya dipukul oleh Ibn Tamiyyah. Kami dan orang-orang lain selain kami, telah beberapa kali menyaksikan kejadian itu secara langsung darinya. Dan bacaan yang paling banyak ia ucapkan di telinga orang yang sakit itu adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main [saja], dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ?” (QS. al-Mu’minum [23] : 115)

Dalam riwayat lain, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Ketika Ibn Taimiyah memukul jin itu dengan cara memukul tubuh orang yang ditempatinya dengan sebuah tongkat, berkatalah jin itu kepadanya, ‘Janganlah engkau suruh aku pergi dari orang ini, sebab aku mencintainya.’ Dijawab oleh Ibn Taimiyah, ‘Sungguh ia tidak cinta kepadamu.’ Ia berkata lagi,’Baiklah!’ Aku akan keluar dari tubuh orang ini karena menatati Allah dan Rasul-Nya.’ Maka keluarlah jin itu dari tubuhnya. Setelah itu, orang itu duduk dari tidurnya dan menoleh ke kiri dan ke kanan sambil bertanya kepada yang hadir, ‘Dimanakah aku ? Mengapa aku sampai berada di tempat ini ? Apakah yang telah terjadi pada diriku ?” Dari perkataannya itu, jelaslah bahwa ia tidak merasakan sakit sewaktu tubuhnya dipukul tadi oleh Ibn Taimiyyah.”

Ibn Taimiyyah juga berkata,”Jin itu berbicara melalui lisan orang yang dirasukinya, sedang orang tersebut tidak menyadarinya sama sekali. Jika ia telah sembuh, ia tidak mengetahui apa-apa yang telah terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, terkadang orang yang gila karena jin itu dipukul dengan pukulan yang keras dan berulang-ulang agar jin itu keluar darinya. Sebab, betapa pun kerasnya pukulan yang diberikan kepadanya, ia tidak akan merasa sakit sedikit pun, karena merasakan sakit adalah jinnya, bukan dia.”

3. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha Mengobati Kesurupan Jin

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menceritakan, “Pada suatu malam, seorang nelayan di negeri al-Qalmun, Syiria, pergi ke laut untuk mencari ikan. Namun tidak seperti biasanya, pada malam itu ia mendengar sebuah suara aneh dan merasa bahwa sekelompok jin telah menyerangnya lantaran ia, menurut tuduhan mereka, telah memperkosa salah seorang jin perempuan dari mereka. Setelah itu ia jatuh sakit dan menjadi seperti orang yang kesurupan. Maka datanglah keluarganya meminta bantuan kepadaku untuk mengobatinya, dan aku pun pergi ke tempatnya. Sesampainya di sana, aku perhatikan ia dalam ke tempatnya. Sesampainya di sana, aku perhatikan ia dalam keadaan tidak sadar sama sekali dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi anehnya, waktu itu ia berkata, ‘Sungguh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha telah datang. ‘Melihat keadaan seperti itu, dengan penuh ikhlas dan khusyu’ karena Allah, aku usap kepadanya sambil membacakan, “Bismillahirrahmanirrahim. Fa sayakfikahumullahu wa Huwas-Samiul-‘Alim (maka Allah akan memelihara kamu dari mereka, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).” (QS. al-Baqarah [2] : 137) Tiba-tiba, ia membuka kedua matanya lalu bangkit dari tidurnya setelah sudah kembali normal seperti biasa.

4. Beberapa Pendapat Para Ulama Kontemporer

Dr. al-Husaini Abu Farhah, dosen Pasca Sarjana di Universitas al-Azhar, Mesir, berkata, “Jin itu dapat mempengaruhi sebagian orang, baik laki-laki maupun perempuan, dan menyusup ke tubuhnya. Kemudian, kadang-kadang ia memaksa orang itu untuk melakukan apa-apa yang diinginkannya, kadang-kadang merasukinya. Sampai saat ini, masih tetap ada orang yang kerasukan jin, dari semua kalangan.”

Dr. Abdul Ghaffar ‘Aziz, kepala Bidang Da’wah di Universitas al-Azhar, Mesir, berkata, “Kebanyakan dari ulama, khususnya ulama yang ternama, seperti Ibn Taimiyah dan lain-lain, telah mengakui bahwa sebagian jin dapat mempengaruhi sebagian orang dengan jalan menyusup ke tubuhnya. Bahkan ia bisa sampai ke taraf menguasai orang itu, dan memaksanya untuk melakukan apa-apa yang diinginkannya, baik berupa hal-hal yang bertentangan dengan syari’at maupun hal-hal yang tidak terpikir sama sekali oleh akal sehat. Biasanya, orang yang dapat dipengaruhi dan dikuasainya ini adalah orang yang dapat dipengaruhi dan dikuasainya ini adalahorang yang berjiwa lemah, yang tidak mampu melawannya.”

Ia (Dr.Abdul Ghaffar ‘Aziz) menceritakan, “Salah seorang dari kerabatku telah diganggu oleh jin beberapa kali. Jin yang mengganggunya itu amat jahat, dimana ia sering membangunkan kerabatku itu dari tidurnya, lalu menyuruhnya untuk membakar rumah, membuka tutup gas, memecahkan perabot, atau membunuh suaminya sekalipun. Akan tetapi, ia mampu melawannya dengan jalan menentang seluruh perintahnya itu, meninggalkan rumah tersebut (pindah ke rumah lain), dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga jin itu tidak pernah lagi datang mengganggunya.”

Ia juga berkata, “Aku sendiri pernah mengalaminya, yaitu ketika aku berada di tanah suci, Makkah al-Mukarramah, tahun 1408 H. Di mana, pagi suatu pagi, ketika aku sedang berpakaian ihram di rumah sewaanku yang tak jauh dari Masjidil Haram, tiba-tiba seorang jin berusaha mencekik leherku dan mendorong dadaku dengan kuat. Aku tidak merasakan melainkan hanya dua buah tangan raksasa yang sedang menekanku. Jin itu baru pergi meninggalkanku setelah aku bacakan kepadanya beberapa ayat al-Qur’an, membalas serangannya, mengatakan kepadanya, ‘Enyahlah engkau, wahai musuh Allah,’ sebanyak tiga kali, dan mengancamnya akan mendoakannya agar dibakar oleh Allah SWT jika belum juga pergi dariku. Setelah itu, ia tidak pernah lagi dating kepadaku.”Katanya lagi, “Di Kairo pun aku pernah mengalami kejadian yang serupa, yaitu saat aku tidur sendirian di balkon rumahku, di Nasr City dan ia tidak pergi dariku pada waktu itu melainkan setelah aku bacakan beberapa doa dan ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya surah al-Falaq dan an-Nas.”(ruqyah-online.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s