Hidup Ini, Hanya Sekali dan Sesaat Saja

gaulislam edisi 166/tahun ke-4 (21 Muharam 1432 H/ 27 Desember 2010)

Bro en Sis, makasih udah setia nungguin gaulislam setiap pekannya. Nggak terasa ya, edisi pekan ini adalah edisi terakhir di tahun 2010, karena pekan depan insya Allah kita sudah berada di awal tahun 2011, dan tentunya kita semakin tua. Itu artinya pula, kian berkurang saja jatah hidup kita di dunia ini. Semoga hidup kita senantiasa lebih baik dari hari ke hari. Dan, insya Allah kamu semua tetap akan mendapatkan informasi, yang tidak saja menarik, tetapi juga bermanfaat dari buletin gaulislam. Sebabnya apa? Karena kami di gaulislam sangat sayang sama kamu semua. Cieee.. ini bukan rayuan gombal maupun rayuan gembel, tapi jujur ini datangnya dari lubuk linggau, eh maaf, dari lubuk hati yang paling dalam. Semoga saja kami di gaulislam bisa selalu memberikan yang terbaik untuk kamu semua dalam belajar Islam. Insya Allah ya.

Kamu mungkin bertanya-tanya kali ya, kenapa sih gaulislam bahas tema beginian? Kenapa nggak bahas soal kekalahan timnas sepakbola Indonesia yang dibantai timnas sepakbola Malaysia 3 gol tanpa balas di Final leg 1 AFF Cup? Bukankah kita semua udah paham bahwa hidup kita memang hanya sekali dan hanya sesaat di dunia ini? Ya, memang benar. Hidup kita hanya sekali dan sesaat saja di dunia ini. Semua orang insya Allah banyak yang tahu dan sudah sering dibahas. Namun, saya juga masih menyimpan rasa khawatir, khususnya buat kamu para remaja. Why? Yup, karena meski kelihatannya udah tahu dan ngerti, tetapi sering LUPA. Catet ya, saya tulis dengan huruf kapital semua: LUPA. Kita dan kamu semua bukan berarti tidak tahu bahwa hidup di dunia ini singkat. Nggak, bahkan sangat paham. Tapi sayangnya banyak yang lupa kalo hidup ini ternyata singkat. Kadang malah kita juga lupa identitas kita sebagai muslim dan cinta Islam. Buktinya ya lebih kecewa timnas sepakbola Indonesia keok ketimbang kecewa bahwa banyak kaum muslimin yang melanggar syariat. Ya, itu namanya lupa dalam menentukan prioritas amal perbuatan, termasuk dalam menentukan cara berpikir dan berperasaan. Kok bisa lupa?

Bisa saja, Bro en Sis. Namanya juga manusia. Tempatnya salah dan dosa. Memang harus diakui juga bahwa ada manusia yang menyadari kesalahan dan dosa yang diperbuatnya, sehingga ia benar-benar bertobat dan ada juga yang nggak nyadar-nyadar sampe wafat. Nah, kamu mau pilih yang mana? Manusia yang mau mengakui kesalahannya atau tetap bangga dengan kesalahannya?

Ih, manusia yang normal pasti milihnya yang baik-baik dong ya. Pasti ingin mengakui kesalahan dan memperbaikinya di lain waktu. Tidak mengulanginya lagi, sekaligus berusaha menambah terus kebaikannya. Itu baru hebat, Gan!

Namun, jika melihat kenyataan yang ada, kita perlu waspada dan sedih juga menyaksikan banyak remaja muslim yang seolah tidak menyadari bahwa hidupnya di dunia ini hanya sekali dan sesaat pula. Amal yang diperbanyak bukan amal shalih, tetapi malah amal salah. Maksiat dibanggakan, sikap taat syariat malah diabaikan. Gaya hidup hedonistik sepertinya sudah akrab dalam gaya gaul remaja. Kamu tahu hedonis kan? Sip, hedonis adalah memuja kenikmatan jasadi dan materi demi kesenangan semata. Untuk mendapatkan kedua jenis kenikmatan itu, rela menghalalkan segala cara karena yang terpentinng adalah bisa memuaskan hawa nafsunya dalam memenuhi kenikmatan jasadi dan materi. Kalo pengen jelas, bisa kamu temukan di kamus. Salah satunya penjelasan ini: Dalam Kamus Inggris-Indonesia karangan John M. Echols & Hassan Shadily, “hedonism” diartikan sebagai “Paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata-mata”. Suatu way of life alias jalan hidup yang mengedepankan kesenangan itu, meliputi pola pikir dan perasaan, penampilan lahiriah dan perilaku.

Boys and gals, kita juga merasa sedih jika melihat banyak teman remaja yang kurang bergairah menghadapi hidup. Baru mendapat tantangan sedikit saja langsung loyo dan nggak mau bangkit, terus memilih KO. Padahal kita harusnya optimis dan sangat semangat memanfaatkan setiap detik waktu yang diberikan Allah Swt. agar kita mampu menjadi pribadi yang hebat dengan jatah waktu hidup yang hanya sekali dan singkat.

Saat kita diciptakan

Rasulullah saw. yang mulia, para sahabatnya, para khalifah, para ulama, ilmuwan muslim di masa kejayaan Islam, pejuangnya dan orang-orang hebat dan mulia karena keimanan dan ketakwaan lainnya diciptakan dengan proses penciptaan yang sama. Berawal dari sel sperma yang membuahi sel telur dan atas izin Allah Swt, jadilah embrio, lalu dalam waktu tertentu tumbuh sebagai janin dan akhirnya lahir ke dunia. Bagaimana dengan para begundal macam Fir’aun, Abu Jahal, Hitler, Mussolini, George W Bush dan orang yang sejenis perilakunya dengan mereka, apakah diciptakan dari bahan yang berbeda dengan orang-orang yang mulia? Nggak. Sama, Bro. Semua manusia diciptakan sama. Bahan bakunya sama: sel sperma (air mani) dan ovum (sel telur).

Allah Swt, menyampaikan penjelasan ini dalam firmanNya (yang artinya): “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,” (QS al-Qiyaamah [75]: 37-38)

Dalam ayat lain (yang artinya): “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS al-Insaan [76]: 2)

Tuh kan, amat jelas. Bahwa yang beriman dan yang kafir diciptakan oleh Allah Swt. dari bahan yang sama. So, yang membedakan mereka satu sama lain ketika sudah lahir ke dunia adalah informasi dan cara belajarnya untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Apa yang diperbuatnya di dunia inilah yang akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat kelak.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS al-Mu’min [40]: 67)

Juga dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS Kahfi [18]: 37)

Kalo kamu masih belum puas, Allah Swt. juga berfirman (yang artinya): “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.?” (QS an-Nahl [16]: 4)

Ayat-ayat ini membuktikan kepada kita bahwa manusia (anak keturunan Adam) diciptakan dari “bahan baku” yang sama. Orang yang sekarang beriman, berilmu dan gemar beramal shalih ditempatkan di rahim ibunya sebelum lahir ke dunia. Orang yang pikirannya korengan dan hatinya borok alias gemar maksiat dan tak mengimani Allah Swt. pun sebelum lahir ditempatkan sama di rahim ibunya. Tak ada bedanya.

Kalo dalam penciptaan saja sama, dan saat itu kita lemah kenapa harus merasa berkuasa dan menentang Allah Swt.? Kalo memang perkasa, harusnya nggak lemah dan bisa menghidupi diri sendiri sejak “menciptakan diri sendiri” sampai lahir ke dunia. Iya nggak sih? Nah inilah renungan buat kita semua, bahwa kita sejak awal penciptaan tak dibedakan prosesnya.

Bro en Sis, dalam hadis Qudsi Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku telah menetapkanmu dalam kandungan ibumu. Aku telah menyelubungi wajahmu dengan lapisan agar kau tak bisa keluar dari rahim. Kujadikan wajahmu mengarah kepada punggung ibumu agar bau makanan tidak mengganggumu. Aku buat dirimu bisa berputar ke kanan dan ke kiri. Sesungguhnya yang ada di sebelah kananmu adalah hatimu dan di sebelah kiri adalah limpa. Aku ajarkan dirimu cara berdiri dan duduk selama engkau berada dalam kandungan. Setelah tiba waktumu, Aku utus malaikat yang bertanggung jawab untuk mengeluarkanmu dari rahim. Ia pun mengeluarkanmu darinya dengan bulu-bulu dari sayapnya. Tiada gigi yang bisa menggigit yang bisa menggigit kau miliki, tiada juga tangan yang bisa menggenggam, ataupun kaki yang bisa melangkah. Lalu timbulkan bagimu dua pembuluh darah dalam dada ibumu yang mengalirkan susu untukmu. Ia akan terasa panas di musim dingin dan dingin di musim panas. Aku tanamkan cintamu dalam hati kedua orang tuamu. Mereka tidak akan pernah kenyang hingga kau kenyang dan tidak akan tidur hingga kau tertidur.” (Dr. Musfir bin Said az-Zahrani, at-Taujiih wal irsyaadun nafsi minal Qur’anil karim was-Sunnatin Nabawiyyah (eds. terjemahan), hlm. 82)

Oya, ini juga menjadi proses kesadaran bagi kita bahwa kita tak perlu merasa minder dengan orang yang hebat saat ini. Kita hanya perlu memahami bahwa “start” semua orang sama. Semua manusia lahir ke dunia setelah melalui proses yang sama. Itu sebabnya, tidak ada alasan bahwa kita harus menyerah dan tak semangat dalam hidup. Sebaliknya, siapkan diri untuk berprestasi. Karena hidup tak sekadar tumbuh, tapi juga harus berkembang. Kalo cuma tumbuh, kita jadi nggak ada bedanya dengan ‘peradaban’ hewan. Justru kelebihan manusia dari hewan adalah karena manusia memiliki akal untuk berpikir. Contoh nyata, manusia dengan pemikirannya bisa mengembangkan kehidupannya. Hewan tidak. Jika manusia kedinginan ia akan mencari kehangatan. Tidak puas dengan sekadar duduk di depan api unggun, manusia menciptakan pakaian pelindung, menciptakan tempat tinggal yang bukan saja melindunginya dari dingin, tapi juga sengatan matahari. Hewan? Malah manusia yang membuatkan rumah, eh kandangnya. Silakan eksplorasi sendiri perkembangan yang berhasil dibuat oleh manusia. Amat banyak dan bahkan teramat terbanyak. Allah Swt. memberikan semua itu untuk kebaikan manusia. Tetapi ternyata masih aja ada manusia yang nggak menyadarinya. Ngeyel bener deh tuh!

Hiasi dengan iman, ilmu dan amal

Para orangtua kita mungkin sering banget nasihatin kita soal kehidupan. Maklumlah, mereka kan lebih banyak waktu yang dihabiskannya di dunia ini ketimbang kita. Usianya aja jelas jauh beda ama kita. Iya dong, kalo seumuran namanya temen, bukan ortu. So, wajar banget dong kalo nasihatin kita-kita soal hidup. Karena ortu kita udah pengalaman puluhan tahun lebih lama di dunia ini ketimbang kita-kita. Tul nggak sih?

Sobat muda muslim, kita juga jadi bisa belajar kepada ortu atau siapa pun yang lebih pengalaman dan lebih tahu tentang bagaimana menjalani hidup dengan nyaman, aman, dan tentunya menikmatinya dengan senang hati. Meski, tentu saja, bukan hidup namanya kalo nggak ada rintangan, halangan, dan bahkan tekanan. Karena kehidupan itu sendiri adalah ladang ujian buat kita, sekaligus ladang ibadah dan amal. Kalo kita bisa menjalaninya dengan baik, maka ujian hidup itu akan memberikan kita pengalaman yang sangat berarti.

Itu sebabnya, kita wajib heran kalo ada orang yang menjalani kehidupan tanpa mimpi, tanpa cita-cita, tanpa target, tanpa evaluasi, dan bahkan tanpa belajar. Sebab, hidup di dunia ini harus ada bekasnya. Baik untuk diri sendiri, orang lain, untuk agama kita, dan juga untuk ibadah kepada Allah Swt. Tolong dicatet ya.

Bro en Sis, banyak ilmu dan amal tapi nggak beriman, percuma. Banyak amal tapi tanpa disertai ilmu yang benar juga kayaknya sia-sia banget, apalagi nggak beriman. Jadi, formula yang tepat itu adalah, kita beriman terlebih dahulu, kemudian belajar sehingga berilmu dan mengamalkan ilmu untuk kebaikan sesuai tuntunan dari Allah Swt dan RasulNya. Lengkap deh namanya.

Maka, supaya kita bisa menikmati hidup ini dengan tenang dan enak, hiasi hidup ini dengan iman, ilmu dan amal shalih. Keimananlah yang membedakan antara seorang mukmin dengan seorang kafir. Allah Swt. sudah menjanjikan ganjaran surga di akhirat kelak bagi orang-orang yang beriman: “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 82)

Allah Swt. juga meninggikan orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana dalam firmanNya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)

Sobat, insya Allah iman kita, ilmu kita, dan amal shalih kita akan memberikan tambahan kenikmatan dalam menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan ajaran yang kita anut selama ini, yakni Islam.

Oke deh, semoga tema yang dipilih gaulislam edisi ke-166 di pekan ini bisa memberikan semangat dan wawasan baru buat kamu semua dalam menjalani kehidupan di dunia. Tetap optimis, sabar, bersyukur dan senantiasa menanamkan kekuatan iman, semangat mengkaji ilmu, dan gemar melakukan amal shalih kepada sesama. Sip deh, jadikan hidup yang memang sekali dan sesaat ini penuh makna dan nikmati sesuai aturanNya. Siap kan? Harus! [solihin: osolihin@gaulislam.com]

http://www.gaulislam.com/hidup-ini-hanya-sekali-dan-sesaat-saja

One thought on “Hidup Ini, Hanya Sekali dan Sesaat Saja

  1. KESAKSIAN PERTAUBATAN USTADZ PENGAMAL ILMU HIKMAH HIZB NASHR
    Posted on Juli 29, 2009 by Perdana Akhmad S.Psi

    Menjadi orang sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara. Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka jangan coba-coba menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur’an. Berikut petikan kisahnya.

    SEJAK KECIL, aku memang punya cita-cita ingin menjadi orang yang sakti mandraguna. Ditembak lakak-lakak, ditombak cengengesan. Darah orang sakti mengalir deras dalam diriku. Kakek terbilang orang sakti. Di kampung ku dia sangat terkenal. Untuk mendapatkan kesaktian itu, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari dengan tetap bertengger di atas pohon kelapa.
    Puasa empat puluh hari saja, banyak yang sudah tidak sanggup, karena bukan sembarangan. Tapi kakek sanggup melakukannya dengan tetap bertahan di atas pohon kelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membaja-lah yang membuat kakek mampu bertahan, semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang sakti. Karena itu, ketika kusampaikan keinginanku menjadi orang sakti, ibu tidak melarang. Toh, lelakon ngelmu itu bukan barang asing bagi ibu.
    Pergulatanku dengan dunia kesaktian dimulai sejak aku duduk dibangku SMP. Awalnya, aku bergabung dengan perguruan silat di kampungku bersama teman-teman. Latihan-latihan fisik menjadi menu harian. Selain itu, aku juga nyantri di beberapa tempat. Lelakon dengan mulai puasa pun mulai kulakukan.
    Sebenarnya, aku belum diperbolehkan puasa. Masih kecil, katanya. Hanya karena keinginan menjadi orang sakti begitu kuat, larangan itu tidak kuhiraukan. Aku nekat puasa yang terbilang berat untuk anak seusiaku.
    Selama tiga hari, aku hanya berbuka dengan tiga suap nasi. Nasi dikasih air kemudian diaduk. Air nasi kemudian diminum seteguk, dua teguk. Kemudian nasinya dimakan tiga suap. Tidak boleh lebih. Setelah itu tidak boleh makan lagi, hingga sahur. Memang tidak ada larangan untuk sahur, tapi karena mulut terasa pahit, aku pun malas sahur. Praktis tiga hari hanya makan tiga suap nasi setiap buka.
    Tiga hari pertama aku lulus. Dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meski badan terasa lemas, tapi aku masih sanggup menyelesaikannya. Terakhir puasa dua puluh satu hari.
    Puasanya memang berat sekali. Apalagi orang disekitarku tidak ada yang berpuasa. Hanya aku sendiri. Cobaannya begitu berat kurasakan. Susah tidur. Ketika ibu menggoreng ikan asin saja, aku sudah ngiler. Karena saking pinginnya. Setelah menyelesaikan puasa dua puluh satu hari, aku bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang selama ini tidak pernah kupelajari.
    Sukses berpuasa selama tiga puluh hari, membuat tekadku semakin kuat. Aku pun mulai berkelana dengan beberapa teman. Sesekali aku berguru ke Jawa Tengah. Tetapi aku tinggal di JawaTimur yang berbatasan dengan Jawa Tengah.
    Kalau ada orang sakti, kudatangi. Biasanya aku datang bersama teman-teman seperguruan. Pernah, ketika bertandang ke ’orang sakti’ aku diisi dengan tenaga dalam tingkatan menengah. Setelah diisi langsung dicoba. Memang, ketika ada teman yang memukulku, dia langsung terpental. Waktu itu aku heran, kok bisa begitu. Aku pun menganggap itu adalah kelebihan yang diberikan Allah.
    Selama berkelana, orang tuaku berpesan, agar aku tidak bekerja sama dengan jin. ”itu ngga boleh,” katanya. Sepengetahuan orang tuaku dukun-dukun itu bekerja sama dengan jin. Tapi apa tang kupelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Aku wiridan dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau doa yang berbahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.

    Wiridan Dua Juta Kali

    Masa-masa SMA tidak jauh berbeda. Aku masih bergelut dengan dunia kesaktian. Entah sudah berapa tempat yang kudatangi. Selain itu, aku juga mulai membiasakan diri bermalam di kuburan. Lebih dekat dengan orang-orang sakti yang jasadnya terbaring di dalam tanah, pikirku. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang angker. Jangankan bermalam disana, untuk melintas siang hari saja banyak yang tidak berani. Rasa takut itu seakan sudah hilang dari diriku. Bagiku, bermalam di kuburan tidak berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Aku merasa nyaman saja disana. Terlebih aku merasa dapat lebih dekat dengan orang-orang sakti disana.
    Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Aku masuk fakultas sastra Inggris. Awalnya, kujalani masa perkuliahan dengan senang. Hingga suatu ketika, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang bernuansa islami. Saat itulah, aku tertegun dengan bacaan al-Qur’an yang di perdengarkan di awal acara. Terasa ada desiran-desiran halus yang merasuk ke dalam jiwa. Ada dorongan yang mengarahkanku untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an.
    Dorongan yang kuat itu tak mampu lagi kutahan. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan bergelut dengan al-Qur’an. Ketika kusampaikan keinginanku itu kepada orang tuaku, mereka tidak melarang. Mereka hanya berpesan, agar aku serius dengan keputusanku. Menjadi seorang penghafal al-Qur’an tidaklah semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan tekad yang membaja agar tak luntur di tengah jalan.
    Nasehat orang tua kusanggupi. Aku pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok tahfidz. Pilihanku adalah Banten, Jawa Barat. Meski di Jawa Tengah juga ada pondok tahfidz, tapi aku lebih memilih Banten. Lokasinya yang jauh dari rumah menjadi alasan tersendiri mengapa aku memilih Banten. Biar tidak pulang terus, jawabku ketika ditanya bapak.
    Waktu pertama ke Banten itu seakan ada yang membimbing. Bukan ke pondok tahfidz, tapi aku diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kesaktian. Ceritanya begini. Aku belum pernah ke Banten. Sementara wilayah Banten itu luas dan banyak pesantrennya. Ketika sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat, kondektur bertanya, ”mau kemana” kujawab saja ”Banten” sambil kuserahkan uang dua ribu lima ratus rupiah.
    Ternyata aku diturunkan di Cadasari. Disana ada pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun juga pas. Dua ribu lima ratus rupiah. Sebenarnya, ketika tiba di daerah Cadasari, rasanya aku sudah ingin turun saja. Sepertinya, hatiku cocok dengan daerah tersebut. Padahal aku belum mendapat informasi apa-apa tentang Cadasari. Apakah ada pondok tahfidz atau pondok yang mengajarkan ilmu-ilmu islam lainnya.
    Setelah bertanya kesana kemari, aku disarankan untuk mondok disebuah pesantren terkenal disana. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku belajar di pondok tersebut. Toh, banyak juga santri dari daerah lain yang juga punya tujuan yang sama denganku.
    Masalahnya, pondok tersebut tidak mengkhususkan diri dalam hafalan al-Qur’an. Ia tak ubahnya seperti pondok-pondok lain yang bergaya salaf yang mengajarkan kitab kuning. Kitab kuning adalah sebutan untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat.
    Di sanalah aku berlabuh. Meski di pondok tersebut tidak ada hafalan al-Qur’an, aku tidak terlalu kecewa. Karena aku mendapat gantinya. Cita-citaku menjadi ’orang sakti’ dapat kembali terasah. Lelakon puasa atau wiridan-wiridan tertentu kembali menjadi menu harianku.
    Untuk menjadi orang yang ’sakti’ aku mengamalkan Hizb Nashr yang diawali dengan puasa tujuh hari. Hari pertama, berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua dengan enam suap, begitu seterusnya hingga hari ketujuh, aku tidak makan sama sekali.
    Berat memang. Tapi karena tekad yang membaja, semua hambatan itu seakan tidak ada artinya. Bersamaan dengan puasa itu, aku juga harus wiridan ayat dan do’a-do’Aceh tertentu setiap selesai solat. Nah, saat mewirid Hizb Nashr itu ada keanehan.
    Dari hidung, mata dan pori-poriku keluar darah. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit. Menurut penjelasan yang kudengar, katanya, darah itu keluar sebagai akibat dari suhu panas dalam badanku yang meningkat saat merapal wirid Hizb Nashr.
    ”kamu tidak usah khawatir. Itu tidak berbahaya. Kalau ingin menghentikannya, bacalah al-Qur’an, maka darah akan terhenti dengan sendirinya,” kata guru memberi wejangan sebelum aku mulai lelakon Hizb Nashr.
    Aneh memang. Darah tidak lagi keluar dari hidung, mata dan pori-pori begitu kubacakan al-Qur’an. Entahlah mengapa hal itu bisa terjadi. Waktu itu aku tidak begitu memperdulikan. Aku hanya ingin menguasai Hizb Nashr, tanpa banyak mempertanyakan keanehannya.
    Hizb Nashr hanya sebagian dari ilmu kesaktian yang kupelajari. Terkadang, aku harus memasang telinga lebar-lebar dimana ada guru yang sakti di Banten. Bila sudah dapat kesanalah aku berguru.
    Untuk menguasai sebuah ilmu aku pernah wiridan sebanyak dua juta kali. Jumlah yang sangat besar memang. Untuk menyelesaikannya, aku tidak keluar kamar selama empat puluh hari.
    Mencuci pakaian saja, aku tidak sempat. Aku meminta tolong salah seorang temanku. Keluar kamar pun aku hanya sesekali. Itu pun hanya untuk berwudhu. Selebihnya aku duduk bersila diri di kamar dengan terus wiridan.
    Orang kampung yang lama tidak melihat kehadiranku ditengah-tengah mereka penasaran. Mereka hanya mendengar kabar dari teman-teman bahwa aku lelakon di kamar. Mereka semakin penasaran. Kok lama sekali, kata mereka. Aku memang akrab dengan warga sekitar. Tidaklah mengherankan bila mereka penasaran.
    Mereka ingin masuk, tapi tidak kutanggapi. Pintu tetap kukunci rapat. Akhirnya mereka menjebol jendela kamar. Begitu jendela kamar terbuka mereka langsung lari terbirit-birit.
    Padahal aku hanya melihat sekilas kearah mereka. Katanya, mereka melihat seekor macan yang hendak menerkam. Sementara dari wajahku terpancar cahaya yang menyilaukan.
    Selama wiridan, aku merasakan ada cahaya yang senantiasa menerangi kamar. Siang dan malam, cahaya itu tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari sumber yang berbeda-beda. Terkadang, ada cahaya yang berasal dari sinar lampu. Sering kali cahaya itu berganti seperti cahaya bulan.
    Pada saat lain berganti dengan cahaya lain. Tepat diatas kepala. Wajar memang bila ada yang membuka jendela kemudian terkejut.
    Selain itu, aku juga sering didatangi orang. Ada yang mengaku guruku. Ada pula yang mengaku Sultan Hasanuddin atau cewek setengah badan. Mereka mengajakku dialog, tapi tak pernah kuhiraukan. Kubiarkan mereka bicara semaunya, hanya kutatap sepintas sebelumnya akhirnya aku larut dalam wiridan. Bagi orang yang terbiasa lelakon seperti diriku, pemandangan seperti itu bukan barang baru. Itu sudah lumrah.
    Setelah menyelesaikan wiridan dua juta selama empat puluh hari, dilanjutkan lagi dengan puasa selama 49 hari. (yang sedang kupelajari itu adalah ilmu taisir maghrobi dan saiful maslul).

    Menjadi Dukun Sejak di Pesantren

    Lima tahun setengah aku mondok di Banten. Dalam rentang waktu itu banyak ilmu kesaktian yang kukuasai. Ilmu kebal, halimunan (menghilang dari pandangan orang), tenaga dalam maupun ilmu pelet.
    Khusus untuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah menghilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. Seakan ada pembatas transparan yang menutup pandangan mereka. Meski demikian, ilmu halimunan ada pantangannya. Ia tidak boleh dipakai untuk mencuri. Kalau pantangan tersebut dilanggar, maka ilmu halimunan akan hilang.
    Dari berbagai ilmu kesaktian itulah aku bertahan hidup di pesantren. Terus terang, aku tidak pernah meminta kiriman uang dari orang tua di kampung. Sementara kebutuhanku terbilang besar. Kalau sekedar untuk makan, memang tidak seberapa. Tapi pengeluaranku terbanyak adalah untuk belajar ilmu kesaktian.
    Untuk menguasai satu jenis ilmu saja dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku harus membayar mahar yang kadang berupa emas sampai seratus gram. Semakin besar mahar yang diberikan, maka keampuhan ilmunya makin hebat. Hizb Nashr misalnya. Sebelum memulai puasa tujuh hari, aku harus menyembelih seekor kerbau. Dagingnya memang untuk dimakan ramai-ramai. Tapi tetap saja, aku harus menyediakannya. Bila belum tersedia kerbau, tentu aku tidak bisa mempelajarinya.
    Lalu dari manakah aku dapatkan uang? Bagi orang sepertiku, untuk mendapatkan uang tidaklah terlalu sulit. Terlebih aku sudah dikenal sebagai ’orang sakti’ sejak merantau ke Banten. Entah bagaimana ceritanya, ada saja orang datang kepadaku. Macam-macam alasannya.
    Ada yang ingin diisi tenaga dalam. Ada pula yang ingin belajar ilmu kesaktian atau juga minta dibantu agar cepat dapat jodoh. Dari merekalah, aku bertahan. Enaknya mondok di Banten itu satu orang menempati satu kamar. Jadi aku tidak perlu khawatir bila tamu-tamuku mengganggu orang lain.
    Ada yang datang dari Lampung, Jakarta atau Banten dan sekitarnya. Tidak jarang pula ada yang mengundang ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu awalnya, bagaimana mereka tahu bahwa aku bisa mengobati.
    Setelah lima tahun setengah di Banten, aku kemudian merambah ke pesantren-pesantren di sekitar Banten. Ke Cianjur, Bandung, Garut maupun pesantren lainnya. Aku pernah pindah ke sebuah pesantren di Cianjur, Jawa barat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Uang pun hanya cukup untuk bekal perjalanan. Selebihnya, tidak tahu. Tapi yakin bahwa Allah itu Maha Kaya.
    Waktu menamatkan shahih Bukhairi di Bandung pun begitu. Kok, tiba-tiba ada yang datang. Ia minta diajari ilmu kesaktian. Orang tahu saja, kalau aku punya ilmu. Padahal aku tidak bilang apa-apa kepada teman-teman baruku. Dengan modal begitu, aku berkelana dari pesantren ke pesantren lain. Kadang, sampai kelelahan mengobati pasien.
    Terkadang, ada kyai yang berguru kepadaku. Waktu itu, aku mondok di pesantren yang mengajar kitab fiqih. Kiai yang juga guruku itu pun datang ke kamarku. Ia minta dikasih ilmu kesaktian. Awalnya, aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tapi kiai sedikit memaksa. ”Mas,” katanya. Kiai memanggilku dengan panggilan Mas. ”Mas, kalau tahu dari dulu, dari dulu, Aa belajar sama Mas,” katanya. Kutolak dengan halus, tapi kiai tetap memaksa. Akhirnya aku ajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan. Lengkap dengan wirid dan cara puasanya.

    Perjalanan Menuju Taubat

    Tahun 2003, aku berpindah lagi sebuah pesantren di Tanggerang, Jawa Barat. Tepatnya di pondok pesantren tahfidzul Qur’an. Setelah sepuluh tahun berkelanan dari satu pesantren ke pesantren lain, barulah aku bertemu dengan pesantren tahfidz.
    Aku diingatkan kembali dengan tujuan awal merantau ke Banten. Tak lain, adalah ingin menghafal al-Qur’an. Ternyata selama sepuluh tahun itu, aku belum bertemu dengan pesantren yang tepat.
    Disana, aku tidak bertahan lama. Karena tidak ada teman seusiaku yang juga menghafal al-Qur’an. Kebetulan, saat itu ada seorang teman menunjukkan sebuah lembaga tahfidz di Jakarta yang pesertanya bukan lagi anak-anak. Rata-rata mereka sudah lulus SMA.
    Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Nah, di lembaga tahfidz tersebut, wawasanku tentang keislaman mulai terbuka. Aku mulai banyak membaca sirah nabawiyah atau buku-buku lain yang mengupas keghaiban.
    Hatiku tergugah, ketika aku merenungkan firman Allah dalam surat al-Jin ayat enam. Kubaca berulang-ulang. Kuresapi artinya secara mendalam. Hingga akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa apa yang kupelajari selama ini ternyata menyimpang dari tuntunan.
    Ayat keenam dari surat al-Jin mengatakan bahwa ada beberapa orang manusia yang meminta bantuan kepada jin, dan itu hanya menimbulkan penderitaan semata.
    Padahal ilmu kesaktian yang kupelajari selama sepuluh tahun itu tidak terlepas dari bantuan jin. Misalnya ketika wiridan dua juta itu, aku menggunakan apel jin atau kemenyan yang dibakar. Kutaruh apel jin di depan tempat duduk. Lain kali, aku juga menggunakan hio seperti yang digunakan orang Cina. Aku membaca wiridan dengan kemenyan mengebul.
    Selain itu, aku baru menyadari bahwa ada sebagian doa permintaan bantuan kepada jin. Meski lafadznya berbahasa Arab. Tapi tetap saja doa itu terlarang.
    Sejak itu, aku menghentikan wiridan-wiridan yang biasa kubaca setiap saat. Kuganti dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menyejukkan jiwa. Selama mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an aku memang tidak merasakan adanya gangguan secara fisik maupun psikis. Tapi hal itu bukan berarti dalam diriku tidak ada jinnya. Aku memiliki sekian banyak jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang kulakukan. Jin-jin tersebut yang membantuku dalam pengobatan. Aku yakin, ketika ilmu kesaktianku tidak lagi kuasah dengan membaca wiridan-wiridannya, maka ilmu tersebut secara perlahan akan menghilang. Seperti pisau yang tidak pernah diasah, maka pisau tersebut makin lama makin tumpul.
    Untuk itu, aku senantiasa melakukan penjagaan diri dengan membaca doa-doa perlindungan maupun mendengarkan kaset ruqyah terbitan ghoib pustaka. Tak lupa pula aku senantiasa melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kuhafal.
    Alhamdulillah setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, aku berhasil menyelesaikan setoran hafalan. Kini, tinggal bagaimana aku bisa membagi waktu, agar hafalan al-Qur’an tidak menguap begitu saja.
    Praktik perdukunan itu telah kutinggalkan di belakang. Kini, jika ada pasien yang datang berobat, aku tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu kesaktian yang pernah kupelajari selama sepuluh tahun. Tapi justru aku meruqyahnya dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist yang shahih.
    Dalam beberapa kesempatan, aku juga diundang mengisi kajian membongkar kesesatan ilmu kesaktian yang selama ini sebagiannya diajarkan di pesantren.

    Bedah Kesaksian
    Jin menyusup Dalam Wiridan Hizib

    Pada kesaksian kali ini kita hadirkan mantan dukun yang telah bertaubat. Bahkan, ia kini telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an dan telah berganti profesi. Ia tinggalkan praktik perdukunan dan menggantinya dengan ruqyah sebagai cara pengobatan.
    Kita layak mengacungkan jempol atas keberaniannya untuk membongkar kesesatan praktik perdukunan yang digelutinya selama ini. Dida. Begitu namanya kita samarkan. Ia sangat berkompeten untuk ‘perselingkuhannya’ dengan jin ketika belajar ilmu kesaktian. Ia paham secara mendalam seluk beluk ilmu yang dipelajarinya. Hingga beberapa kyai akhirnya berguru kepadanya.
    Sepuluh tahun yang lalu, orang tua Dida telah berpesan. Ia telah berpesan. Ia boleh belajar ilmu kesaktian asal tidak bekerja sama dengan jin. Syarat yang simple. Namun bermakna dalam. Ia membebaskan anaknya belajar apa saja, asal tidak menyekutukan Allah.
    Begitulah seharusnya setiap orang tua berpesan setiap tua berpesan kepada anak-anaknya. Sebagaimana dahulu Luqmanul Hakim berwasiat kepada anak-anaknya. Namun sayang. Pemahaman orang tua Dida tentang tipu daya jin masih sebatas kulit. Ia tidak tahu bahwa anaknya telah bekerja sama dengan jin.
    Yang ia tahu, dukun-dukun di daerahnya lah yang bekerja sama dengan jin. Sementara apa yang dipelajari Dida, katanya, berasal dari ayat-ayat al-Qur’an serta do’a-do’a yang berbahasa Arab. Ya, syetan memang licik. Ia memanfaatkan segala peluang yang ada untuk menggelincirkan manusia. Ayat al-Qur’an pun tidak luput dari bagian jerat-jeratnya. Hingga tidak sedikit orang terkecoh. Mereka telah meminta bantuan dengan jin tanpa sadar.
    Kita biarkan Dida membuka kedok ‘perselingkuhannya’ dengan jin saat dia merapal wirid dari hizib-hizib tertentu. Disini, kita mengambil dua contoh saja, dari sekian banyak hizib yang dikuasai Dida. Yang pertama hizib Nashor. Untuk menguasai hizib ini, Dida atau siapa pun orang yang mempelajarinya harus berpuasa terlebih dahulu. Untuk tingkatan pertama, puasa selama empat puluh hari. Tingkatan kedua, puasa selama tiga bulan. Dan tingkatan ketiga puasa seminggu.
    Untuk tingkatan pertama dan kedua, puasanya tidak berbeda dengan puasa yang diajarkan Rasullah. Sedangkan tingkatan ketiga, secara jumlah memang lebih sedikit. Tapi tata cara pelaksanaannya yang memberatkan. Untuk hari pertama, Dida hanya berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua enam suap. Begitu seterusnya, tiap malam ia berbuka dengan bilangan yang semakin mengecil sehingga ditutup dengan puasa ngebleng. Ia tidak makan dan minum selama empat puluh jam. Selain itu ia mengamalkan wiridan-wiridan tertentu setiap habis shalat.
    Dilihat sepintas, hizib nashar seakan tidak bertentangan dengan syari’ah. Karena didahului dengan puasa serta mengamalkan wiridan dan doa-doa tertentu. Tapi justru disinilah syetan menyusup dengan halus.
    Bukankah puasa itu bagian dari ibadah, maka tata caranya juga harus mengikuti apa yang diturunkan Rasulullah. Kita tidak boleh membuat aturan tersendiri. Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadist, “Barang siapa yang mengamalkan suatu perbuatan (ibadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka amalannya itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Sejatinya halal dan yang haram sudah dijelaskan. Tata cara pelaksanaan setiap ibadah juga sudah diterangkan dengan jelas baik melalui al-Qur’an maupun contoh langsung dari Rasulullah.
    Ketika Rasulullah meninggal dunia, agama islam ini mencapai titik kesempurnaannya. Bukalah lembaran al-Qur’an pada surat al-Maidah ayat tiga, maka kita akan menemukan firman Allah. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu….”
    Tata cara puasa telah dijelaskan Rasulullah. Tidak ada penjelasan dalam hadist yang shahih bahwa Rasulullah pernah berpuasa empat puluh hari lalu dilanjutkan dengan tiga bulan dan ditutup dengan puasa seminggu. Kalau Rasulullah tidak mengajarkannnya, maka puasa hizib nashar itu hukumnya tertolak. Ia tidak diterima oleh Allah. Karena diantara syarat diterimanya ibadah adalah tidak menyimpang dari aturan yang telah digariskan Allah.
    Bila demikian, lalu siapakah yang menyusup ke dalam kesaktian yang diperoleh setelah menyelesaikan lelakon hizib nashar? Apakah dia malaikat? Jawabannya adalah tidak.
    Malaikat tidak akan menolong orang yang bermaksiat kepada Allah. Yang datang menolong itu adalah jin. Buktinya, Dida menjelaskan bahwa hizib nashar bisa digunakan untuk pengisian wifiq atau jimat. Yang dimasukkan kedalam wifiq atau jimat itu adalah jin.
    Saat pengisian itu Dida menggunakan apel jin maupun hio yang dibakar. Apel jin dan hio sama dengan kemenyan, hanya harganya lebih mahal. Ketika asap sudah mengepul, maka Dida memanggil khadam jin dan memasukkannya ke dalam wifiq atau jimat dengan membaca ”Ya khodaama hadzihil asma’i….”
    Sementara surat al-Jin ayat enam mengingatkan manusia agar tidak bekerja sama dengan jin. Karena itu waspadalah. Jangan mudah terkecoh oleh tipu daya jin yang berlindung di balik ayat-ayat al-Qur’an. Karena hanya menimbulkan petaka dan bencana. (Dikutip dari majalah Al-Iman bil Ghoib edisi 87 th. 4/26 Rajab 1428 H/10 Agustus 2007 M. Halaman 38-44. )

    http://metafisis.wordpress.com/2009/07/29/aku-beralih-profesi-dari-kyai-dukun-ke-peruqyah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s