Bungkam Atas Kecelakaan

Bungkam Atas Kecelakaan
Senin, 14/03/2011 07:56 WIB | email | print

Oleh Anung Umar

Setelah sekian lama disibukkan dengan kuliah, akhirnya, suatu hari, sempat juga saya bertemu dan berbincang dengan salah seorang kerabat. Bagaimana keadaan si fulan? Bagaimana dengan si Anu? Saya bertanya kepadanya tentang keadaan beberapa kerabat.

Di antara kerabat yang saya tanyakan kabarnya yaitu salah seorang kerabat yang pernah mengalami “kecelakaan” (baca: hamil di luar nikah) beberapa tahun lalu. “Kecelakaan” ini membuat geger keluarga besar ketika itu, makanya saya yakin kejadian itu pasti masih membekas dalam ingatan para kerabat.

Saya tanya kepadanya tentang keadaan fulanah (yang mengalami “kecelakaan”) ini. Ia jawab begini dan begitu. Tapi entah kenapa, tahu-tahu pembicaraan jadi menyinggung adiknya. “Dia (adiknya) sama aja kayak kakaknya, sudah ngelakuin itu juga (zina), “ ujarnya. Tersentaklah saya.

Tertularkah ia oleh kakaknya? Sudah separah inikah keadaan keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di pikiran saya. Tak sedikitpun komentar yang muncul dari lisan ini. Saya hanya membisu di tengah keterkejutan saya atas ‘vonis’ yang ia ucapkan.

Setelah beberapa hari berlalu pembicaraan itu, baru sadarlah saya bahwa permasalahan yang ia katakan itu sangatlah besar, melebihi besarnya keterkejutan saya atas berita yang saya dengar itu sendiri. Entah apa yang menyebabkan saya menjadi bungkam atas kemungkaran ini. Apakah ini karena kelalaian saya atau syaithanlah yang menjadikan saya lalai?

“Dan orang-orang yang menuduh zina terhadap muhshonat (wanita-wanita yang baik-baik) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian terima kesaksian mereka selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (An-Nur: 4-5)

Dalam ayat di atas, Allah mengancam kepada siapapun yang menuduh zina terhadap seorang mukmin dan mukminah sedangkan ia tidak mendatangkan empat saksi atas itu, maka baginya tiga hukuman:

1. Dicambuk delapan puluh kali.

2. Tidak diterima kesaksiannya selama-lamanya

3. Mendapat gelar kefasikan.

Kecuali bila bertaubat setelah itu maka kesaksiannya kembali diterima dan terhapus darinya gelar kefasikan.

Jadi, siapa saja yang menyatakan tentang saudaranya bahwa ia pezina atau telah berzina, bila ingin selamat dari 3 hukuman ini, ia harus mendatangkan empat saksi. Ya, empat saksi yang jujur. Dan itu pun harus melihat dengan jelas, tidak samar-samar.

Tak cukup menyatakan telah berzina, hanya karena melihat mereka berdua masuk ke kamar.

Tidak cukup dikatakan berzina, cuma karena melihat mereka berdua sudah tak berbusana.

Tak cukup dikatakan berzina, semata-mata karena mereka sudah tidak berbusana dan (maaf) berpeluk-pelukan. Semua itu tidak cukup, sampai terlihat “timba masuk sumur”!

Itulah yang diterangkan dosen yang mengajarkan tafsir di kelas beberapa tahun lalu.

Dosen lain yang juga mengajarkan materi yang sama menerangkan bahwa syarat ini (mendatangkan empat orang saksi yang jujur) bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar lagi.

Bila seseorang menyatakan bahwa orang lain telah berzina sedangkan yang bersaksi bersamanya hanya satu orang, maka mereka berdua berhak mendapatkan tiga hukuman di atas. Bila yang bersaksi bersamanya dua orang, maka mereka bertiga juga berhak mendapatkan tiga hukuman itu. Dan bila yang bersaksi bersamanya cuma tiga orang, maka mereka semua berhak pula mendapatkan tiga hukuman tadi, meskipun mereka semua menyaksikan dengan jelas “timba masuk sumur”, sampai ia mendatangkan empat saksi yang jujur yang menyaksikan itu dengan jelas, tidak samar-samar.

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. “ (An-Nur: 13)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada sisi Allah artinya menurut hukum Allah.

Jadi meskipun seseorang melihat dengan mata telanjang dan sangat jelas bahwa orang yang ia lihat telah berzina, namun jika ia bersaksi dengan penglihatannya itu tanpa disertai dengan kesaksian empat orang yang jujur, maka ia dihukumi telah berdusta menurut hukum Allah.

Ada yang merasa sesak mendengar itu. “Tapi kan, si fulan itu bukan orang ‘baik-baik’! “ujarnya.

Betul, ia memang seperti kakaknya (dalam akhlak), bukan orang yang ‘baik-baik’. Saya sendiri mendengar, melihat dan mendapatkan kabar dari beberapa kerabat, memang lahiriahnya tidak menunjukkan bahwa ia orang yang ‘baik-baik’. Ia tidak memakai busana syar’i, tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis, dan tidak pula berakhlak karimah. Akan tetapi ‘sayang’nya, keadaannya yang seperti itu bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk menyebarkan aib yang telah ia lakukan.

Berkata Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, “Terdapat isyarat yang halus pada penyebutan Allah dalam ayat dengan kata ‘ihshon’ (baik/ menjaga kehormatan) yaitu bahwa siapa yang menuduh zina terhadap seseorang yang tidak ihshon (tidak baik/ menjaga kehormatan) baik itu pria maupun wanita, maka ia tidak dihukum layaknya seorang yang menuduh zina terhadap orang yang tidak berhak. “

Tapi jangan ‘gembira’ dulu, sebab beliau berkata, “Namun, dengan tidak adanya hukum had pada lima kasus ini (menuduh berzina terhadap seorang anak kecil, gila atau kafir atau budak atau orang yang bukan baik-baik), bukan berarti orang yang menuduh berzina terhadap lima kelompok di atas tidak berhak mendapatkan hukuman, bahkan ia berhak untuk mendapatkan ta’zir (‘pelajaran’ dari yang berwenang selain hukum had) yang sekeras mungkin, karena ia telah menyebarkan fahisyah/kekejian(aib perzinaan), sedangkan Allah telah memperingatkan tentang itu dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kalian tidak mengetahui. ” (An-Nur: 19)” (Rawai’ul bayan Tafsiru Ayatil Ahkam minal Quran hal. 42&46)

Demikianlah syariat kita memandang besar permasalahan ini. Karena semua ini menyangkut kehormatan seorang muslim. Sedangkan agama kita sangat menjaga kehormatan seorang muslim.

“Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringannya, semisal seseorang yang bersetubuh dengan ibunya. Dan sesungguhnya riba yang paling parah adalah pelanggaran terhadap kehormatan seorang muslim. “ (HR. Ibnu Majah: 2275)

Mengingat agungnya kehormatan seorang muslim itulah, mengapa Rasulullah di akhir hayatnya, di haji terakhirnya, mengingatkan tentang hal tersebut,

“ Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian terjaga, seperti terjaganya hari kalian ini (hari arafah), di negeri kalian ini (tanah suci) dan di bulan kalian ini (Dzulhijjah). Kelak kalian bertemu Rabb kalian dan Dia akan menanyakan tentang amalan-amalan kalian….Bukankah telah kusampaikan? Bukankah telah kusampaikan? Para Shahabat menjawab, “Ya. “ Beliau berkata, “ya Allah, saksikanlah..”(HR. Bukhari: 3197 dan Muslim: 1679)

Maka hati-hatilah wahai hamba Allah, jangan sampai lisanmu ringan untuk menjatuhkan kehormatan saudaramu.. Jagalah mulutmu. Perhatikanlah ucapanmu. Sebelum lisanmu Allah bisukan. Sebelum hatimu Ia matikan. Sebelum dirimu Ia rendahkan, ia campakkan, ia binasakan dalam kehinaan..

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak ternyata itu menjerumuskannya ke dalam neraka melebihi jarak antara timur dan barat. (HR. Bukhari: 6477 dan Muslim: 2988)

Jakarta, 6 Rabi’uts Tsani 1432/11 Maret 2011

anungumar.wordpress.com

Filed under: – – – dari eramuslim.com |

One thought on “Bungkam Atas Kecelakaan

  1. PENGETAHUAN RUQYAH : SELUK BELUK BUHUL / TALI PENGHUBUNG SIHIR (volume 1)
    Posted on Oktober 7, 2011 by Perdana Akhmad S.Psi

    Pengetahuan tentang rahasia dibalik buhul/tali penghubung sihir ini berdasarkan pada Al-Qur’an dan sunnah, penjelasan para ulama, pengalaman saya pribadi dan para peruqyah (yang sudah sangat berpengalaman) dalam menghadapi berbagai kasus sihir. Pengetahuan dalam artikel yang saya buat ini selain untuk dipahami oleh orang awam saya buat juga bagi praktisi ruqyah.

    Kita sebagai praktisi ruqyah sering menghadapi kesulitan untuk mengeluarkan jin dalam tubuh pasien karena ada banyak jin yang mengaku terikat dengan buhul. Selain itu kita sering dibuat kesulitan menghadapi fenomena berulangnya kerasukan jin atau berulangnya gangguan dan serangan sihir walaupun pasien sudah membaca ayat-ayat perlindungan. Apakah rahasianya hingga walaupun pasien sudah berdoa serangan sihir masih dapat tembus juga.

    Selain itu saya juga akan membongkar rahasia tekhnik sihir kerajaan setan dalam mengirimkan sihir melalui sarana kabel/tali penghubung yang menghubungkan tubuh pasien dengan pusat benda sihir.

    Pembahasan:

    Sebelum saya membahas rahasia buhul sihir ada baiknya rekan-rekan peruqyah sekalian membaca dulu penjelasan Syaikh ‘Allamah Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan (seorang Ulama Salafy yang sangat terkenal di saudi Arabia) yang menjelaskan bahwa buhul harus dihancurkan agar sihir hilang atau tidak berulang :

    Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan

    1. Metode-metode syar’i apakah yang bisa anda nasehatkan untuk membentengi atau memelihara seseorang dari sihir? Dan apa langkah penyembuhan yang harus dilakukan jika seseorang telah terkena sihir (santet, tenung, guna-guna dan sejenisnya)?

    Jawab:

    Metode syar’i yang bisa digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari pengaruh sihir adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al ‘alamah Ibnul Qoyyim. Beliau berkata: “Dan telah diriwiyatkan dari Nabi tentang cara penyembuhan bagi seseorang yang telah terkena sihir. Cara tersebut ada 2 macam:

    Salah satunya, dan cara ini adalah yang paling utama yaitu Menemukan atau mengeluarkan buhul-buhul sihir dan menghancurkannya. Sebagaimana telah shohih dari Nabi ketika beliau terkena sihir, beliau meminta kepada Allah agar diperlihatkan tempat buhul-buhul sihir itu. Maka Allah mengabulkan permohonan beliau. Lalu beliau mengeluarkan buhul-buhul sihir itu dari dalam sumur. Maka ketika buhul-buhul itu telah dikeluarkan, maka hilanglah pengaruh sihir pada diri Nabi, seakan-akan dilepaskan tali dari (ikatan) simpulnya.”

    Sampai kemudian Ibnul Qoyyim mengatakan :”dan termasuk langkah penyembuhan yang paling bermanfaat dalam menghilangkan sihir adalah dengan pengobatan ilahiyah berupa dzikir-dzikir, membaca ayat-ayat Qur’an dan do’a-do’a yang disyariatkan…

    Ini adalah cara kedua untuk menyembuhkan seseorang dari pengaruh sihir yaitu dengan do’a-do’a yang disyariatkan, membaca Al Qur’an kepada orang yang terkena sihir (ruqyah),yaitu dengan membaca surat Al fatihah, surat Al Ikhlash, surat An Naas, surat Al Falaq, dan surat-surat yang lain, dan meniupkan dengan air ludah yang sangat sedikit (bukan meludah) kepada orang yang diruqyah. Dengan idzin Allah pengaruh sihir itu akan hilang.

    (Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari majmu’ fataawa Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan, Muraja’ah Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid) Sumber : Buletin Dakwah Al-Atsary, Semarang Edisi XX / 1427H Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik )

    JIka kita kaji dari fatwa Syaikh Fauzan kita dapatkan kesimpulan bahwa untuk menuju kesembuhan yang sempurna harus menghancurkan buhul dan cara menghancurkannya harus dengan sarana ruqyah dengan membacakan ayat suci Al-Qur’an dan Doa rasulullah.

    Pengertian buhul : Buhul adalah benang halus/tali penghubung/ikatan berupa kabel ghoib yang menghubungkan antara benda sihir (jimat, tumbal,boneka vodo dll) sebagai pusat transmisi yang terhubung dengan target yang saling mengikat satu sama lainnya.Benda sihir yang diikat sering juga langsung disebut sebagai buhul.

    Pada Surat Al-Falaq dijelaskan “ Katakanlah, Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai Shubuh, dari kejahatan mahluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus buhul-buhul dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki”. [Al-Falaq: 1-5]

    Al-Qurthubi mengemukakan: “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, yakni tukang-tukang sihir wanita yang menghembuskan pada buhul-buhul pada saat membaca mantra”. [Tafsir al-Qurthubi (XX/257)]

    Al-Hafizh Ibnu Katsir, mengatakan, Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul:

    Mujahid, Ikrimah, al-Hasan, dan adh-Dhahhak mengemukakan, yakni, para tukang sihir. [Tafsir Ibnu Katsiir (IV/573). ]

    Ibnu Jarir ath-Thabari mengungkapkan, ‘Yakni, dari kejahatan para tukang sihir wanita yang menghembuskan buhul-buhul pada saat membaca mantra, Al-Qasimi mengatakan, Pendapat itu pula yang dikemukakan oleh para ahli tafsir”.[Tafsir al-Qaasimi (X/302).]

    Rahasia buhul

    Ketika tulang sihir menggunakan sarana boneka sihir / tumbal/jimat dengan ditempel foto/bagian tubuh seseorang sebagai target yang akan disihir lalu mengucap mantra sihir dan mengembuskan mantra itu ke benda sihir, maka kerajaan jin mengutus pasukannya (jin) yang menanamkan kabel transmisi yang berawal dari benda sihir yang terhubung langsung ke target, biasanya kabel transmisi sihir ini dibawa oleh pasukan jin lalu pasukan jin itu masuk kedalam tubuh manusia dan mengikatkan kabel sihir ini kebagian tubuh tertentu, jika ingin menguasai dan menyakiti seluruh tubuh manusia biasanya diikat masuk keubun-ubun dan terkunci diotaknya, setiap buhul yang terhubung ada khodam penjaganya, jika kabel sihir tertancap dikepala maka didalam otak target ada khodam jin penjaga yang bertugas sebagai operator untuk menjaga transmissi gelombang sihir agar sempurna menyakiti target (biasanya khodam inipun diikat dengan buhul juga oleh pimpinan mereka agar tidak kabur dan bisa tetap menjadi operator sihir) .

    Ketika buhul sihir sudah sempurna terpasang maka tukang sihir bisa melakukan sihirnya seperti menusuk dengan jarum diperut maka target akan merasa sangat sakit diperutnya, perasaan sakit ini akibat stimulasi rangsang sakit dibagian otak target direkayasa hingga otak tanpa sebab yang jelas melalui syaraf neurotransmitter mengirimkan sinyal rasa sakit kebagian tubuhnya sendiri.

    Kabel sihir ini adalah semacam satelit yang akan memudahkan orang yang mengerahkan sihir mengendalikan media tersebut sesuai dengan keinginannya. Kabel ini sepengetahuan saya sangat sering menancap masuk kedalam kepala. Artinya (otak “target tersebut dijadikan “titik pusat pusaran energy”) sehingga energy sihir yang dikerahkan bisa menyakiti target. “energy sihir” dari kabel buhul ini bekerja sesuai dengan keinginan sang penyihir, misalnya sang penyihir menginginkan agar target melakukan hal-hal yang memalukan seperti jika tukang sihir ingin menyuruh target tertawa maka tertawalah target tanpa dapat dia tahan, atau jika tukang sihir ingin target sakit maka akan sakitlah target.

    Sihir jenis ini ibarat sebuah stasiun radio atau telefisi, yang akan bekerja sesuai dengan siaran dari stasiun itu sendiri. Radio atau televise ini akan terus berfungsi manakala “Stasiun pemancar” tetap ada. Karenanya orang yang menjadi korban sihir ini biasanya sangat sulit diobati oleh peruqyah yang tidak berpengalaman, bahkan banyak peruqyah yang mengeluh kepada saya karena pasiennya sakitnya sembuh sebentar lalu sakit lagi/jinnya habis dalam tubuh lalu beberapa waktu kemudian masuk lagi jin yang baru. Sebab walaupun khodam penjaga yang berada diotak bisa dihancurkan/dibunuh namun jika buhul/kabel transmisi masih terpasang maka tukang sihir akan tetap bisa untuk melancarkan sihirnya.

    Maka untuk menghilangkan secara sempurna sihir tersebut “stasiun pemancar” ( Boneka Vodo, tumbal dll) harus dihancurkan, atau kabel pemancar gelombang sihir harus diputuskan bahkan lebih dari itu implant teknologi sihir yang ada didalam otak penderita harus dibuang. Yang paling sulit adalah menghancurkan “stasiun pemancar” sebab bisanya berada ditangan tukang sihir atau berada ditempat tersembunyi ( biasanya dikubur dalam tanah/disembunyikan ditempat rahasia) (insya Allah saya mempunyai tekhnik untuk menghancurkan pusat pemancar/transmisi sihir tanpa harus menemui tukang sihir,bahkan bisa mengetahui lokasi pusat pemancar sihir tanpa perlu meminta bantuan jin sedikitpun dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 %, artikelnya sedang saya tulis).

    Media yang digunakan adalah udara, dengan memanfaatkan energy gelombang/energy listrik sehingga sihir ini dapat diaktifkan kapan saja dan dimana saja tak terlepas ruang dan waktu. Karena kecanggihannya pula, sihir ini juga bisa digunakan untuk apa saja, seperti menghilangkan kesadaran orang, membuat sakit, menceraikan suami istri, atau bahkan menembakkan “senjata kimia/racun” dengan tujuan menghilangkan nyawa orang. Inilah salah satu bentuk kecanggihan teknologi sihir alam jin.

    KISAH NYATA 2 PERUQYAH MENGHADAPI BUHUL SIHIR

    Kisah nyata M. sadat ismail (penulis buku The Magic of Kyai, kemusyrikan dibalik selubung kesalehan, penerbit Mediacita). Kisah ini diceritakan M.sadat Ismail ketika menghadapi lemparan benang/tali/serabut sihir yang menyerang diri dan keluarganya karena perbuatan seorang Kyai Sesat yang menyihir dirinya. Berikut ini Kisahnya ;

    Dini hari sekitar jam 00.30 WIB, entah kenapa saya ingin keluar rumah. Seketika kaki melangkah, tiba-tiba saya melihat sesuatu berkelebat-kelebat muncul dari berbagai arah. Sejenak terperangah, namun kemudian saya berusaha untuk bersikap tenang dan mengamati apa saja yang tertangkap oleh penglihatanku dengan penuh perhatian. Semakin lama semakin banyak dan berseliweran, muncul dari beberapa rumah tetangga sebelah. Ada pula yang berasal dari depan rumah. Meski sunyi dan sendiri saya sama sekali tidak merasa takut atau ngeri. Tapi justru diliputi oleh rasa ingin tahu yang besar sekali. Lalu sesuatu itu tertangkap jelas oleh penglihatanku berbentuk hitam menanjang seperti ijuk, dengan percik-percik api di ujungnya, seperti kembang api itu semuanya menuju kearahku, masuk kedalam rumahku. Dengan perasaan tak menentu, saya pun semakin ingin tahu. Setelah itu perhatianku tertuju pada rumahku. Saya masuk kedlam rumah. Didalam rumah, “kembang-kembang api” itu ternyata berubah menjadi serabut-serabut (benang/tali halus) seperti rambut. Memenuhi seisi rumah hingga bernapaspun susah.

    Esok hari sekitar pukul tujuh pagi, ternyata tali serabut halus itu dating lagi. Tapi percik-percik apinya tidak sejelas ketika malam hari,mungkin karena ada sinar matahari. Tidak beberapa lama kemudian, pada pukul Sembilan”kembang-kembang api” itu kembali datang. Dan ketika masuk kedalam rumah, kembali menjadi tali serabut seperti rambut, menyusup kesetiap sudut. Tiga jam kemudian, tepat pada pukul 12 siang, “kembang-kembang api” itu datang lagi dan kali ini serabut-serabut tersebut sudah mulai merambah ke luar rumah, melayang-layang diudara seperti jarring laba-laba.

    Saya mulai bertanya-tanya, ini apa? Tanpa sengaja saya berusaha menyingkirkannya, membuang keluar rumah dan bahkan saya kembalikan keasalnya hingga rumahku bersih dari serbut-serabut itu. Saya katakan tanpa sengaja karena saya tidak pernah mempelajari hal-hal seperti ini atau pun berguru untuk mendapatkan ilmu metafisik tertentu (ilmu melihat alam ghoib).

    Akhirnya saya berkesimpulan bahwa ini murni atas kuasa Allah SWT. Barangkali Dia mengutus seorang “malaikat” tertentu dengan maksud ingin menunjukkan kepada sebagian hamba-hamba-Nya bahwa”tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja dia datang”(QS. Thaha:69). Konon sihir seperti itu termasuk dalam kategori sihir tingkat tinggi. Sihir ini menampakkan diri sebagai sesuatu yang menakjubkan:”dan mereka pun mendatangkan sihir yang menakjubkan”(QS.Al-A’raf:116)

    Kisah Admin:

    Saya pribadi pernah didatangi suami istri yang menderita serangan sihir yang berat. Setiap sore hari suami (sebut saja namanya Pak P) selalu merasakan panas dan sakit dalam tubuhnya dan amarahnya meledak-ledak tanpa sebab yang jelas, lalu hilang kesadarannya lalu mengamuk tiada bedanya juga dengan istrinya. Selama 3 hari saya ruqyah Alhamdulillah sihirnya hilang dan tidak ada reaksi keras lagi, setelah pasien pulang kerumahnya beberapa hari kemudian kambuh lagi penyakitnya lalu mereka kembali menemui saya. Saya lalu kembali meruqyah Pak P, ternyata setelah saya selidiki jin-jin sihir yang membuat sihir ini adalah jin suruhan yang baru.

    Seluruh jin sihir ini ternyata terikat dengan buhul ditubuh mereka semua. Saya bisa saja kembali membunuh seluruh jin tidak peduli walau mereka mengakunya terikat dan setelah seluruh jin mati pasien akan sembuh, namun ini tidak akan menyelesaikan masalah sebab walau kelompok jin itu saya bunuh tetap saja pusat kerajaan jin yang berkolaborasi dengan tukang sihir manusia kembali mengirim jin baru yang juga diikat lagi dengan buhul dan pasien akan kembali lagi sakit.

    Saya lalu bermunajad kepada Allah meminta petunjuk dari-Nya dan pasien saya suruh berdoa juga dan saya bacakan beberapa doa sembari tangan saya memegang kening Pak P dan saya hembuskan.Lalu Alhamdulillah pasien tersebut melihat adanya tali/kabel berbentuk seperti rantai yang masuk kedalam kedua telapak kakinya hingga berakhir ke dengkul pasien tersebut, ketika saya suruh melihat ujungnya pasien tersebut tidak dapat melihat ujung dari rantai sersebut karena saking panjangnya.

    Saya lalu berusaha untuk memutus buhul rantai itu dengan membaca ayat ” pedang” namun tidak dapat putus juga walaupun sudah berulangkali saya tebas hingga memercikkan api (dalam penglihatan pasien), bahkan saya mencoba membakar rantai tersebut namun tidak juga hancur dan akibatnya pasien merasa sangat kesakitan karena rantai tersebut dirasakannya menarik-narik kakinya. Saya berbaik sangka pada ALLAH yang belum mentakdirkan saya memutus buhul sihir yang mengikat pasien tersebut, pasti ada hikmahnya.

    Setelah beristirahat sejenak, Saya lalu meminta pasien tersebut menelusuri ujung rantai yang masuk kedalam kakinya, saya lalu membacakan ayat-ayat pendinding untuk melindungi jiwa dan raga pasien tersebut dan saya suruh pasien tersebut menyelusuri rantai buhul itu, tak disangka ternyata ujung rantai itu berakhir di suatu pantai (menurut pengakuan jin yang sudah menyerah adalah pantai di Bangka sumatera selatan)

    Rantai itu berujung pada suatu rumah pondokan yang didalamnya ternyata dipenuhi dengan sesajen, aneka patung dan keris juga ada foto Pak P kalau saya tidak salah ingat Pak P melihat fotonya ditempelkan di buah kelapa muda yang ditusuk jarum. (kisah ini masih ada lanjutannya nanti saya ceritakan lagi😀 )

    …………………………………bersambung………………………………..

    lihat lanjutannya di http://metafisis.wordpress.com/2011/10/07/kehilangan-bayi-akibat-buhul-sihir-lanjutan-dari-artikel-seluk-beluk-buhul/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s