cara mendaftar sms tausiyah/nasehat islami harian gratis

Bagi yang ingin mendapat kiriman sms tausiyah (sms nasehat/dakwah islam) berkala, gratis, silahkan daftar dgn cara kirim sms berisi tulisan: SMST-nama-umur-alamat-nomer HP .

kirim ke 085643118003 atau 085228375345 . Sudah ada 4000 orang yang mendaftar.

demikian yg tertulis di papan pengumuman Masjid Mardliyah (selatan RS Sardjito, barat FK UGM)

bisa juga kirim sms berisi: NAMA,NMR HP, ALAMAT, kirim ke: 085292791530 (beda dgn yg diatas)

==================================================

SMS Tausiah – sms tausiyah

berikut ini kumpulan koleksi SMS Tausiah – sms tausiyah

sumber: http://suryaningsih.wordpress.com/2008/06/10/koleksi-sms-tausiyah/

Abu ‘Ashim :
“Semenjak aku ketahui bahwa ghibah (menggunjing orang lain) adalah haram maka aku tidak berani menggunjing orang sama sekali (Tarikh Al-Kabir, 4/336).

Ibnu Mas’ud :
“Tidak ada anggota tubuh yang lebih perlu untuk dikekang dalam waktu lama, selaindari lisanku (Minhajil Qashidin, 215)

Abdullah bin Mas’ud:
“Orang beriman memandang dosa-dosanya seolah batu besar di puncak bukit, ia takut kalau-kalau menimpanya.” (HR. Bukhari: 5949).

Ka’ab Al-Ahbar:
“Menangis karena takut kepada allah lebih aku sukai daripada bersedekah dengan 2 kg emas. (Tarikhul Islam III/39).

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang selalu merasa cukup dan berusaha menyembunyikan amalnya. (HR. Muslim. 2965).

Al-Ghazali :
“Berteman & Bergaul dengan orang baik akan mewariskan sikap baik. Karena tabiat manusia cenderung selalu meniru dan mengikuti (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42).

Umar bin Abdul Aziz :
“Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada-Nya.” (Tazkiyah An Nafs 9 8)

“Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (yang bersifat sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Al Mukmin: 39).

Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR. Muslim)

“Sebaik-baik puasa sesudah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (Muharram) & sebaik-baik shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.”(HR. Muslim, 1163)

Di samping puasa asyura tgl 10, disunnahkan juga untuk puasa tasu’a tgl 9 Muharram. Rasulullah: Insya Alloh tahun depan kita akan puasa hari ke-9.” (HR. Muslim, 1916)

Rasulullah: “Saya mohon kepada Alloh agar puasa Asyura (10 Muharram) menjadi penghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, 1976)

Salman: ”Orang yang banyak mencari fadhilah amalan sunnah tapi tidak menyempurnakan amalan wajib bagai pedagang yang rugi tapi ingin mencari keuntungan.” (Tanbihul Mughtarin: 159)

Hasan bin Sholih: “Mengerjakan kebaikan adalah kekuatan di badan, cahaya di hati, dan sinar di mata.” (Hilyatul Auliya’ VII/330)

“Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku sebagai orang yang mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrohim: 40)

“Barangsiapa berangkat ke Masjid untuk sholat jama’ah maka satu langkah menghapus kesalahan dan langkah yang lain menulis satu kebaikan, pulang dan pergi.” (Sholih At-Yafghib: 229)

Sa’id bin Musayyib: “Barangsiapa bisa menjaga sholat lima waktu secara berjama’ah maka ia telah memenuhi daratan dan lautan dengan ibadah.” (Hilyatul Auliya’ II/160)

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari keempat hal itu.” (Shohih An-Nasai III/1113).

Harist bin Qois: “Jia setan mendatangimu ketika sedang sholat, lalu dia berkata, “Kamu pamer!” maka perpanjanglah sholatmu!” (Hilyatul Auliya’ IV/132).

“Sesungguhnya kematian itu dapat melenyapkan kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang dilipti oleh kenikmatan itu, oleh sebab itu carilah kenikmatan yang tidak ada kematiannya (Abdullah bin Mutharif rahimahullah)

Sa’id bin Abdul Aziz: “Setiap kali aku berdiri dalam sholatku, aku selalu terbayang-bayang neraka jahanam. (Hilyatul Auliya’ VII/274)

“Beramallah untuk duniamu sesuai keadaan tinggalmu di sana. Dan beramallah untuk akhiratmu sesuai kadar kekekalanmu di sana”. (Sufyan Ats Tsauri rahimahullah).

Muadz bin Jabal: “Jika kamu sholat, maka sholatlah seperti orang yang berpamitan. Jangan mengira bahwa kamu akan kembali kepadanya untuk selamanya.” (Hilyatul Auliya’ I/234)

Hudzaifah: “Sesuatu yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’ dan sesuatu yang paling terakhir hilang dari agama kalian adalah sholat.” (Hilyatul Auliya’ “I/281)

“Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al Baqoroh: 45)

Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Marilah kita membandingkan dalam satu hari, berapa jamkah kita menjadi mayat dan berapa jam kita menjadi orang yang benar-benar hidup.

Abu Darda: “Jadikanlah ucapanmu dalam rangka berdzikir dan diammu dalam rangka berfikir serta renunganmu dalam rangka mengambil pelajaran.” (Al Aqdul Farid 3/110)

Ibnu Mas’ud: “Sungguh seandainya Allah menerima dariku satu amalan, maka hal itu lebih aku sukai daripada emas yang memenuhi bumi.” (Kanzul Amal: 3/69 8)

Rasulullah: “Di antara kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi).

Janganlah kamu meminta kebutuhanmu kepada anak Adam. Mintalah hanya pada yang pintu-Nya tak pernah tertutup. Allah akan murka jika kamu meninggalkan bermohon kepada-Nya, sedangkan anak Adam akan murka jika kamu memohon kepadanya. (Tazkiyatun Nafs: 55)

Jabir bin Zaid: “Aku lebih suka bersedekah satu dirham kepada anak yatim atau orang miskin daripada menunaikan ibadah haji setelah haji wajib.” (Hilyatul Auliya’: 3/89)

Hasan: “Carilah kenikmatan dalam tiga hal: Sholat, Al Qur’an, dan dzikir. Jika kamu menemukannya maka teruskanlah dan bergembiralah.” (Hilayatul Auliya’: 6/171)

Shilan bin Farwah: “Aku menemukan bahwa sikap menunda adalah salah satu prajurit iblis yang telah banyak membinasakan makhluk Allah.” (Hilyatul Auliya’: 6/42)

Kholid bin Mi’dan: “Jika pintu kebaikan dibukakan untukmu maka bergegaslah menuju ke sana. Karena kamu tidak tahu kapan pintu itu ditutup.” (Hilyatul Auliya’: 5/211)

Doa dari Al Qur’an: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.” (QS. Thaahaa: 25-27)

Yahya bin Mu’adz: “Dunia adalah jembatan akhirat. Maka seberangilah ia dan janganlah kamu menjadikannya sebagai tujuan.” (Siyaathul Quluub: 35)

“Barangsiapa yang ingin mendapatkan kelezatan iman, hendaklah dia mencintai seseorang dengan tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (Shalih Al-Jami’: 6163)

Yahya bin Mu’adz: “Seandainya akal dapat melihat hiburan surga melalui mata imannya, niscaya akan leburlah jiwa ini karena rindu kepadanya.” (Siyaathul Quluub: 34)

Yahya bin Mu’adz: “Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada Allah, niscaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya.” (Siyaathul Quluub: 33)

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzzammil: 20)

“Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (yang bersifat sementara) dansesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Al Mu’min: 39)

Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang selalu takwa, selalu merasa cukup, dan berusaha meyembunyikan amalnya.” (HR. Muslim, 2965)

Wahab bin Munabih: “Waspadalah terhadap hawa nafsu yang dituhankan, teman yang jahat, dan keterpukauan dengan diri sendiri.” (Siyaru Alaamin Nubala IV: 549)

Rasulullah: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang merasa cukup, dan yang rajin beribadah secara diam-diam.” (HR. Muslim)

Ibnul Jauzi: “Waktu akan semakin berharga bila dijaga dengan baik, tapi aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah dilalaikan.” (Thabaqat Hanabilah I: 281)

Raghib As-Sirjani: “Indikasi terkabulnya doa adalah semakin ringan beramal shalih, tertarik dengan segala ketaatan, selalu berhasrat untuk berbuat baik, takut balasan maksiat, dan tersentuh ketika mendengar bacaan Al-Quran, hadits, dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat.” (Risalatui ila shabab Al Ummah)

Ibnu Mubarak: “Aku melihat dosa-dosa mematikan hati. Sungguh melakukannya terus-menerus akan membuahkan kehinaan.” (Ashirul Maknun fi riqratil qulub, 53)

Rasulullah: “Tanda –tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berkata bohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Muttafaqun ‘alaih)

“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan Rabbmu dan surga yang luasmnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al Hadid: 21)

Ibnu Mubarak: “Berapa banyak amalan kecil menjadi besar pahalanya karena niat dan berapa banyak amalan besar menjadi kecil pahalanya karena niat pula.” (Jami Ulum wal Hikam, 12)

Rasulullah: “Waspadalah terhadap sifat dengki karena sesungguhnya dengki itu dapat memakan pahala kebaikan. Seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Umar bin Khotob: “duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)

Umar bin Khotob: “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126)

Rasulullah: “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang banyak bertaubat.” (HR. At Tirmizi)

Umar bin Khotob: “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)

Rasulullah: “Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang tersembunyi di hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasulullah: “Sesungguhnya Allah merasa puas terhadap hamba-Nya yang bila makan selalu memuji-Nya dan bila minum juga selalu memuji-Nya.”(HR. Muslim)

Abu Hurairah: “Jadilah orang yang selalu puas dengan rizki Allah, niscaya engkau akan jadi orang yang paling bersyukur.” (Ibnu Majah: 4217)

Hasan Al Bashri: “Perbanyaklah untuk menyebut nikmat-nikmat ini, karena menyebut nikmat itu merupakan bentuk syukur.” (Kaifa Tasyakuru An-Ni’am: 3 8)

Umar bin Khattab: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)

“Ya Allah, bantulah Aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah secara baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud II/ 76)

“Hendaknya seorang hamba selalu berharap cemas kepada Allah, jangan merasa berjasa pada Allah dan jangan pernah putus asa dari Rahmat-Nya.” (Tahzibul Hilyah I/ 60)

Rasulullah: “Orang bijak adalah orang yang menghitung dirinya (menghisab/interopeksi diri) dan beramal untuk kehidupan sesudah mati.” (Jami’ At-Tirmidzi: 2459)

Rasulullah: “Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang dalam kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan di dunia dan akhirat.” (Shahih At Targhib wat Tarhib: 69)

“Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 3)

“Cobaan demi cobaan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada diri dan anaknya hingga ia bertemu Allah pada hari kiamat tanpa membawa kesalahan.” (Jami’ At Tirmidzi : 2399)

“Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah hapuskan dosanya, sampai duri yang menusuknya sekalipun.” (HR. Bukhari : 5640, Muslim : 2572)

Abu Bakar Ash Shiddiq : “Ketika aku mengingat ahli surga, aku bergumam : “Aku takut jangan-jangan aku tidak termasuk bagian dari mereka.” (Tahdzibul Hilyah, 1/ 60)

Hudzaifah bin Yaman : “Sesungguhnya fitnah selalu ditampakkan kepada hati, jika hatimu merasa senang dengannya maka satu titik hitam digoreskan padanya dan jika ia ingkari maka satu titik putih diletakkan padanya.
HAYYAkumullah

“Suatu kebaikan tidak akan sempurna, tanpa tiga hal :
1. Menganggapnya kecil.
2. Menyegerakan melakukannya.
3. Menyembunyikannya.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin, 51)
4. Sungguh-sungguh dalam beramal
(Syarah Tsalatsatul Ushul, Ibnu Utsaimin)

Ziyad bin Amru : “Semua manusia tidak menyukai kematian dan pedihnya luka. Akan tetapi manusia berbeda-beda derajatnya dengan kesabaran.” (Ash Shabr, 44).

Al Hasan Al Bashri : “Hai Bani Adam, janganlah kalian menyakiti orang lain dan jika kalian disakiti, maka bersabarlah !” (Ash Shabr, 26).

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan bagi mereka pengampunan dan pahala yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Rasulullah: “Kemenangan selalu bersama kesabaran, setelah kesusahan pasti ada kesenangan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad I/307)

“Ya, Allah, berilah aku manfaat terhadap apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah ilmuku.” (Ash-Shahihah, 1511)

Rasulullah: “Hikmah adalah milik muslim yang hilang, dimana saja dia menemukannya, maka ia berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi, 2611)

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44)

“Tidaklah 2 orang saling mencintai karena Allah melainkan orang yang paling dicintai Allah di antara keduanya adalah yang paling besar kecintaannya pada saudaranya.” (Al Musnad V/ 259)
Ibnul Qayyim: “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan…” (Taisirul Azizil Hamid)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu: “Ridholah terhadap apa yang telah Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (Siyar A’lam an Nubala, I/497)

Rosulullah bersabda: “Tidaklah kelembutan ditempatkan pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya.” (HR. Muslim)

“Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 7 8)

Rasulullah bersabda: “Tidaklah dikatakan orang beriman seandainya diasuka melaknat, mencerca dan suka berkata kotor dan keji.” (Shahih Tirmidzi 8/189)

“Jika ada dua orang yang saling mencaci maka dosa perbuatan itu akan ditanggung orang yang memulainya selama orang yang dicaci tidak melampaui batas dalam membalas.” (HR. Abu Dawud 4/274)

“Wahai orang-orang beriman, janganlah seseorang mengolok-olok orang lain. Boleh jadi orang yang diolok-olok lebih baik daripada orang yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)

“Tidaklah seorang menuduh saudaranya dengan kefasikan/ kekafiran. Apabila tuduhan itu tidak benar maka tuduhan itu pasti akan kemabali pada dirinya sendiri.” (Fathul Bari 10/464)

“Allah berfirman: “Aku menyediakan bagi hamba-hambaKU yang shalih sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik dalam kalbu manusia.” (HR. Bukhari)

Rasulullah: “seutama-utama amal shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman.”
(Shahih Jamius Shagir no. 1096)

Rasulullah: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat mengurus aib orang lain.”
(HR. Al-Bazzar dengan sanad yang hasan)

Rasulullah: “Maka jika kamu meminta sesuatu dari Allah, mintalah AL-Firdaus. Karena ia adalah surga yang paling utama & paling tinggi.”
(HR. Bukhari XI/214)

“Barangsiapa yang ingin ,merasakan nikmatnya iman, hendaknya dia mencintai saudaranya, dimana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.”
(HR. Ahmad II/29 8)

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan & janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 20 8)

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nisa’: 7 8)

Al-Hasan: “Kalian berangan-angan mendapatkan umur seperti umur Nabi Nabi nuh, sedangkan kematian selalu mengetuk kalian setiap malam.”
(Al-Hasan Al-Bashri, Az-Zuhd)

Rabi’ bin Khaitsam: “di pagi ini aku berada dalam keadaan lemah & penuh dengan dosa, kita memakan rizki sambil menunggu ajal kita.”
(Shifatush Shafwah, III/67)

Ibnu Mas’ud: “Usiamu semakin berkurang seiring dengan perjalanan waktu, sementara segala amalan akan tersimpan dan kematian datng secara mendadak. (Al-Fawaid, 147)

Amar bin Yasir radliyallahu’anhu: “Cukuplah kematian sebagai petunjuk, yakin sebagai kekayaan dan ibadah sebagai amalan.” (Tazkiyatun Nafs, 65)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali-Imran: 185)

Mustaurid:“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat kecuali seperti jari telunjuk yang dimasukkan ke laut, lihat berapa tetes air yang keluar.”
(HR. Muslim, 285 8)

“Jika dosa yang dilakukan adalah hak Allah, taubat memiliki 3 syarat: PENYESALAN, BERHENTI dari DOSA, & TEKAD untuk TIDAK MENGULAGINYA.”
(Tazkiyah An-Nafs, h.144)

Ziyad bin Amru : “Semua manusia tidak menyukai kematian dan pedihnya luka. Akan tetapi manusia berbeda-beda derajatnya dengan kesabaran.”
(Ash Shabr, 44).

Al Hasan Al Bashri : “Hai Bani Adam, janganlah kalian menyakiti orang lain dan jika kalian disakiti, maka bersabarlah !” (Ash Shabr, 26).

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan bagi mereka pengampunan dan pahala yang agung.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Rasulullah: “Kemenangan selalu bersama kesabaran, setelah kesusahan pasti ada kesenangan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan.”
(HR. Ahmad I/307)

“Ya, Allah, berilah aku manfaat terhadap apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah ilmuku.” (Ash-Shahihah, 1511)

Rasulullah: “Hikmah adalah milik muslim yang hilang, dimana saja dia menemukannya, maka ia berhak mengambilnya.” (HR. Tirmidzi, 2611)

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada mereka sendiri.”
(QS. Yunus: 44)

“Tidaklah 2 orang saling mencintai karena Allah melainkan orang yang paling dicintai Allah di antara keduanya adalah yang paling besar kecintaannya pada saudaranya.” (Al Musnad V/ 259)

Ibnul Qayyim: “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan…” (Taisirul Azizil Hamid)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu: “Ridholah terhadap apa yang telah Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”
(Siyar A’lam an Nubala, I/497)

Rosulullah bersabda: “Tidaklah kelembutan ditempatkan pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya.” (HR. Muslim)

“Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 7 8)

Rasulullah bersabda: “Tidaklah dikatakan orang beriman seandainya dia suka melaknat, mencerca dan suka berkata kotor dan keji.”
(Shahih Tirmidzi 8/189)

“Jika ada dua orang yang saling mencaci maka dosa perbuatan itu akan ditanggung orang yang memulainya selama orang yang dicaci tidak melampaui batas dalam membalas.” (HR. Abu Dawud 4/274)

“Wahai orang-orang beriman, janganlah seseorang mengolok-olok orang lain. Boleh jadi orang yang diolok-olok lebih baik daripada orang yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)

“Tidaklah seorang menuduh saudaranya dengan kefasikan/ kekafiran. Apabila tuduhan itu tidak benar maka tuduhan itu pasti akan kembali pada dirinya sendiri.” (Fathul Bari 10/464)

“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami & hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami & wafatkanlah kami beserta orang-orang yg banyak berbakti.”
(QS Ali’Imran 193)

Al-Hasan bin Ali:”Bacalah Al-Quran sehingga bisa mencegahmu dari dosa. Jika belum demikian maka pada hakekatnya anda belum membaca.”
(Kanzul ’Ummal I/2776)

Abu Ubaid:”Jgnlah seorg hamba bertanya pada dirinya kecuali ttg AL-QURAN. Maka jika ia mencintainya berarti ia mencintai Allah & Rasul-Nya.”
(Mushannaf Ibn Abi Syaibah X/485)

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri.”
(QS Al A’raaf:126)

Abu Darda’:”Brngsiapa melindungi kehormatan saudaranya, maka Allah akan melindungi wajahnya dari api neraka pd hari kiamat.”
(Shahih Sunan At-Tirmidzi:1575)

Allah berfirman: “Dan bekerjalah, niscaya Allah, Rasul, & orang-orang mukmin pasti akan melihat apa yang telah kamu kerjakan.”(QS.At-Taubah:105)

Rasulullah:”Kecelakaan atas org yg berbicara & berdusta demi membuat org lain tertawa. Celakalah dia…celakalah dia…”
(Shahih Sunan At-Tirmidzi:1885)

Abu Umamah Al-Bahili:”Ssungguhnya Allah tdk akan menerima amal kebaikan, kecuali yg murni krnNYA & mengharapkan ridhaNYA.”(Shahih Al-Jami’ 1852)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau & main-main, & ssungguhnya akhirat itulah yg sbenarnya kehidupan, kalau mrk mngetahui.”
(QS.Al-Ankabut:64)

Rasulullah:”Sungguh Allah telah mengharamkan bagi neraka orang yg mengucapkan Laailaahaillallah yg dg itu ia mengharap ridha Allah.”
(Riyadhus Sholihin:389)

Rasulullah:”Brgsiapa yg ucapan akhir hidupnya berupa:Laailaahaillallaah(tdk ada Tuhan yg berhak disembah selain Allah)pasti masuk surga.”
(HR.Abu Daud:3116)

Filed under: – alsofwah.or.id |

One thought on “cara mendaftar sms tausiyah/nasehat islami harian gratis

  1. 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
    Posted on Juli 29, 2009 by Perdana Akhmad S.Psi

    TAHUN 1996, aku bekerja di salah satu supermarket ternama di bilangan Jakarta Timur. Aku bekerja di bagian penjualan. Dari sana, hubunganku semakin luas. Tiap hari bertemu dengan pelanggan-pelanggan yang baru kukenal. Semua itu membuat sikapku semakin luwes. Aku lebih mudah berkomunikasi dengan sekian banyak watak dan karakter seseorang. Setelah sekian lama bekerja, masuklah pegawai baru. Tono, namanya. la masih kuliah. Untuk menambah pengalaman lapangan, Tono memilih kerja paruh waktu. Malam kuliah, siangnya bekerja. Orangnya pendiam dan tidak banyak bergaul dengan wanita. Kata pepatah, trisno jalaran songko kulino. Cinta itu datang kapan saja, lantaran seringnya pertemuan, menjadi kenyataan. Sikapnya yang ulet dan pantang menyerah membuatku tertarik.

    Ya, dalam usia yang baru delapan belas tahun itu aku mulai menjajaki suasana baru. Singkat kata, aku berpacaran dengan Tono. Setelah tiga bulan berpacaran, Tono menawariku untuk dipertemukan dengan orang tuanya, di Solo, Jawa Tengah. Terus terang, aku senang mendengar ajakan itu. Hatiku berbunga-bunga. Siapa yang tidak ingin bertemu dengan calon mertua? Wah, aku terlalu GR (gedhe rumongso) waktu itu. Tapi itulah kenyataannya. Aku mengartikan bahwa Tono tidak main-main dengan hubungan di antara kami.

    Meski kepergian ke Solo itu adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang tua Tono, tapi aku tidak mau pergi berdua saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Syetan bisa masuk dan mengacaukan segalanya. Tono memang pacarku, tapi dia belum menjadi suamiku. Hubungan di antara kami hanya sebatas itu. Artinya, dia masih orang lain. Ada banyak hal yang tidak boleh kami lakukan. Karena itulah, aku mengajak Winda, teman kerja, untuk menemaniku. Tono tidak keberatan. Hubungan di antara kami bertiga selama ini memang baik. Jadi kehadiran Winda tidak menjadi masalah bagi Tono.

    Bertiga, kami berangkat dari terminal Pulogadung ke Solo. Dalam perjalanan aku lebih banyak ngobrol dengan Winda yang duduk sejajar denganku, sementara Tono memilih kursi di belakangku.

    Dari terminal Solo perjalanan kemudian dilanjutkan dengan angkutan pedesaan. Ya, rumahnya Tono memang agak ke pelosok. Pada detik itu, aku makin kagum padanya. la berhasil kuliah di Jakarta dan juga tidak malu untuk bekerja demi kelangsungan kuliahnya. la memang tipe seorang pemuda yang mandiri.

    Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di rumahnya Tono. Kampungnya tidak jauh dari hutan. Dikelilingi hamparan sawah yang menghijau. mengingatkanku dengan kampung orang tuaku di Jawa Barat. Setidaknya, setahun sekali bapak mengajakku bersilaturrahmi kepada keluarga yang masih menetap di desa.

    Rumahnya luas. Berdinding kayu dengan halaman yang juga luas. Rumah bergaya kuno. Rumahnya Tono memang agak terpisah dari rumah sekitarnya. Tono mempersilahkanku dan Winda masuk ke ruang tamu. la sendiri langsung ngeloyor ke dalam mencari orang tuanya. Di ruang tamu itu, kulihat sebongkah tengkorak kepala sapi menempel di dinding. Entahlah, apakah itu tengkorak kepala sapi yang sesungguhnya atau sekadar hiasan dinding yang terbuat dari plastik. Yang jelas kehadiran tengkorak itu menambah seram rumah yang terkesan sepi ini.

    Tak lama kemudian, Tono keluar lagi dengan membawa kendi minuman yang terbuat dari tanah. “Dimana orang tuamu?” tanya Winda sambil menyeruput air putih. “Masih di kebun. Sebentar lagi juga datang,” jawabnya sambil berlalu ke dalam.

    Lepas tengah hari, kedua orang tua Tono pulang. Mereka nampak agak terkejut dengan kehadiranku dan Winda di rumahnya. Wajar, selama ini Tono pasti belum berbicara dengan orang tuanya tentang diriku. Atau memang Tono belum pernah mengajak teman wanita ke rumahnya. Ibunya Tono memperhatikan diriku, lebih dari perhatiannya kepada Winda. Padahal, ia juga belum pernah bertemu dengan Winda. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas, hatiku merasa tidak tenang diperhatikan seperti itu. Setelah berbincang sejenak, orang tua Tono meninggalkan kami berdua. “Nur, sepertinya orang tua Tono tidak suka denganmu,” celetuk Winda dengan pelan. Rupanya, ia juga memperhatikan perbedaan sikap orang tua Tono kepadaku. Waktu itu, aku tidak memedulikan komentar Winda, toh ia juga belum lama bertemu denganku. Semoga pandangannya nanti juga akan berubah.

    Setelah makan siang, Tono mengajakku dan Winda untuk jalan-jalan ke tepi hutan. “Pemandangannya indah,” kata Tono meyakinkan. Bertiga, kami melewati jalanan berbatu dan pematang sawah untuk sampai di tempat yang dituju. Kuakui, pemandangannya memang indah. Gemericik air yang jatuh di bebatuan padas menjadi nyanyian tersendiri. Kami bergantian mengabadikan momen itu dengan foto bersama.

    Tak terasa hari telah menjelang senja, kami pun pulang dengan wajah sumringah. Sesampai di rumah, orang tua Tono tidak banyak berbincang-bincang dengan diriku. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Akhirnya aku dan Winda masuk ke dalam kamar yang disediakan untuk kami berdua.

    Selepas Isya’ kepalaku terasa agak pusing. Aku dan Winda memilih tidur duluan. Tengah malam, sekitar jam dua aku terbangun. Kepalaku masih terasa pusing. Aku bermaksud ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah.

    Betapa terkejutnya diriku, malam itu, kulihat ibunya Tono duduk bersila di halaman tengah dengan asap kemenyan meliuk-liuk ke udara. la sedang melakukan ritual tertentu. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Susana malam yang hening, semakin menambah seram suasana. Ya, rasa takut mulai menyeruak ke relung hatiku. Kupercepat langkah kakiku ke kamar mandi lalu meneruskan tidur kembali.

    Keesokan harinya, kuperhatikan sikap orang tua Tono tidak berubah. Ibunya masih menampakkan perasaan tidak senangnya kepada diriku. Sementara itu sikapnya kepada Winda biasa saja. Keadaan itu membuatku tidak betah untuk berlama-lama di sana. Siang harinya aku dan Winda memutuskan untuk balik ke Jakarta. Tono yang rencananya ingin tinggal beberapa hari di rumahnya, akhirnya juga ikut kembali ke Jakarta bersama kami. la merasa tidak enak dengan sikap ibunya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

    Ketika menunggu bis jurusan Jakarta di terminal, kami dikejutkan oleh kehadiran bapaknya Tono. Ia menyusul kami naik ojek. “Ini buat bekal di jalan,” katanya sambil menyodorkan bungkusan kain kepada Tono. Ternyata bungkusan itu berisi nasi dan seekor ayam kampung. Wah, senang rasanya. Kami tidak khawatir kelaparan di tengah jalan atau tidak harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan.

    Enam Bulan Tergeletak di Tempat Tidur

    Setelah dua hari di Solo dalam suasana yang tidak menyenangkan, aku kembali menghirup udara Jakarta. Berkumpul kembali dengan keluarga yang sangat menyayangiku. Ada nuansa yang sangat jauh berbeda kurasakan. Kesejukan, kedamaian dan ketenangan hati yang tidak kurasakan ketika di Solo kembali merasuki jiwaku. Namun, kepulanganku dari Solo membawa cerita sedih. Kepalaku yang sedari pulang terasa pusing, kian menyakitkan. Aku bahkan muntah-muntah. Awalnya kukira aku hanya masuk angin. Hingga obat-obatan yang dijual bebas di pasaran menjadi incaranku.

    Lain kali aku merasakan ada sesuatu yang dingin masuk. Entahlah apa itu. Yang jelas sakitku makin parah. Aku dibawa bapak berobat ke dokter. Bolak-balik ke dokter tetap tidak diketahui penyakitku. Dari hari ke hari, sakitku makin parah. Hingga akhirnya aku hanya tergeletak di atas tempat tidur. Tono yang menjengukku ke rumah pun ditanya sama ibu. “Ini kenapa Mas, kok Nurma menjadi begini?” tanya ibu. “Nggak tahu Bu,” jawab Tono sambil menundukkan pandangan.

    “Kejadiannya di sana memang bagaimana?” cerca ibu lagi. “Ya begitu. Ibu saya kurang suka,” kata Tono. “Ya sudah, Mas bilangin saja ke ibu, biar anak saya tidak begini,” kata ibu. Tono semakin merasa bersalah. Selanjutnya ia hanya terdiam. Kurasa Tono memang tidak tahu apa yang terjadi, meski sebenarnya ia menyadari bahwa ibunya tidak suka denganku. Pada sisi lain, ibunya tergolong penganut kejawen yang sangat kental.

    Karena kondisiku yang makin kritis, berdasarkan saran dari keluarga dan tetangga, aku dibawa berobat ke seorang tabib di Jakarta Timur. Saat itu, aku sudah tidak lagi bisa berjalan. Untuk berobat pun aku harus dibopong. Tono ikut menemaniku juga ke tabib. Setelah beberapa saat memeriksaku, tabib mengatakan bila penyakit yang kuderita itu non medis. “Nurma memang ada yang mengganggu,” katanya kepada bapak. Tanpa tedeng aling-aling, tabib menunjuk seseorang sebagai pelakunya. Tak lain dia adalah ibunya Tono.

    “Kamu jelaskan kepada orang tuamu, agar anak ini cepat sembuh,” kata tabib kepada Tono. Tebakan tabib itu mengejutkan kami sekeluarga. Bapak belum bercerita apa-apa tentang diriku, tapi tabib itu sudah menebaknya. Tono yang langsung ditunjuk batang hidungnya, makin tidak berkutik. Ia hanya terdiam tanpa usaha membela diri sama sekali. Sepulang dari tabib, Tono berpamitan mau pulang ke Solo. Ia akan menemui orang tuanya dan melepaskan jeratan sihirnya kepadaku. Tapi yang terjadi kemudian Tono menghilang. Ia sama sekali tidak muncul ke rumah. Kakak yang berusaha mencari dimana keberadaannya dibuat kesal oleh kakak sepupunya yang tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. “Kamu cari saja sendiri ke Solo,” katanya kepada kakak dengan nada yang kurang bersahabat. Padahal kakak datang dengan baik-baik dan bertanya dengan baik-baik. Semenjak itu, keluargaku tidak lagi berusaha mencari Tono. Toh, ia bukan apa-apaku.

    Walau kondisiku juga tidak kunjung membaik. Nyaris tiap malam, aku tidak bisa tidur. Mataku selalu melotot. Yang lebih mengerikan, aku sering merasakan kehadiran makhluk yang tidak kelihatan, namun kurasakan kehadirannya. la selalu menindihku dari belakang.

    Setelah beberapa kali ke tabib dan belum banyak perubahan yang berarti, kakak pergi ke Ciamis untuk mencari pengobatan. Waktu itu, aku tidak dibawa karena kondisiku yang makin parah. Kakak pulang membawa air dalam botol. Katanya, air itu harus kupakai mandi. Ketika air itu diguyurkan ke tubuhku, adik yang sedang membaca al-Qur’an di lantai atas, tiba-tiba menjerit-jerit. Kami sekeluarga dikejutkan dengan kejadian yang aneh itu. Adik seperti orang yang kerasukan jin.

    Meski pengobatan itu menimbulkan reaksi pada adik, tapi aku tidak mengalami kejadian apa-apa. Aku tetap sakit. Badanku sesekali masih merasakan hawa dingin sebagai pertanda ada jin yang masuk ke tubuhku. Berbagai pengobatan itu menguras simpanan orang tuaku. Sampai ibu merelakan untuk menjual empang yang di kampung. Meski demikian, kondisiku tidak kunjung membaik.

    Orang tuaku tidak berputus asa. Dimana dikatakan di sana ada pengobatan yang mujarab, aku pun dibawa kesana. Seperti yang dilakukan di Bekasi Selatan. Di sana, setelah dimandikan air, aku justru diikat di pohon. Aneh memang. Aku yang datang ke sana dengan dibopong karena tidak bisa jalan itu tetap harus diikat di pohon. Meski demikian, bapak tidak banyak komentar. Bapak menurut saja ketika disuruh mengikatku ke pohon yang berada tidak jauh dari rumah orang pintar paruh baya itu.

    Pengobatan demi pengobatan yang tidak membawa hasil itu, kembali mempertemukanku dengan tabib yang di Jakarta Timur. Di sana, aku disuruh memperbanyak membaca al-Qur’an, ayat Kursi dan juga shalat. Kuakui selama ini, aku memang jarang shalat. Ketika ke Solo juga jarang shalat. Ketika kuturuti nasehat dan saran tabib, berangsur-angsur kondisiku membaik. Meski belum bisa dibilang sembuh total.

    Dipertemukan dengan Jodoh di Tern pat Kursus

    Setelah kondisiku membaik, aku kembali bekerja di supermarket. Masalahnya, kehadiranku untuk yang kedua kalinya di sana, juga tidak berlangsung lama. Hanya seminggu, lalu aku mengundurkan diri. Aku merasa tidak enak dengan atasan, karena setelah bekerja seminggu, aku kembali tidak sadarkan diri dan tidak masuk kerja. Hal yang sama selalu berulang, ketika kondisiku membaik dan aku diterima kerja di tempat yang baru, aku hanya masuk sebulan atau dm bulan. Setelah itu aku mengundurkan diri. Masalahnya selalu sama. Kalau kecapekan, keesokan harinya aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Badanku lemas. Beberapa atasanku juga merasa heran dengan keadaanku. Katanya, kerjaku bagus. Tapi mengapa selalu tidak sadarkan diri?

    Meski tidak lagi kuliah, aku memang selalu menambah wawasan dengan ikut kursus. Itu mungkin yang membuatku berbeda dengan teman-teman kerjaku yang enggan meningkatkan kemampuan. Di tempat kursus pula, aku dipertemukan dengan suamiku. Mas Fahmi, begitu aku biasa memanggilnya. Orangnya terkesan dewasa. Waktu itu Mas Fahmi bekerja sebagai staf di tempat kursusku. Tak perlu proses yang lama, kami pun menikah. Terus terang, aku tidak cerita kepada Mas Fahmi tentang sakit kepala yang sering menderaku. Aku juga tidak cerita bila dulu sempat sakit enam bulan lamanya. Aku hanya berpikir, biarlah nanti waktu yang memberitahunya.

    Saat resepsi pernikahan digelar, sebenarnya, aku juga merasakan sakit kepala, dan perut yang melilit. Beberapa kali aku sempat muntah-tnuntah. Tapi semua itu tidak kusampaikan kepada Mas Fahmi. Hanya ibuku yang kuberitahu. Kujalani hidup baru sebagai sepasang pengantin baru. Kami pun pindah ke rumah kontrakan. Meski di rumah kontrakan, tapi aku ingin merajut hari dengan kenangan manis. Meninggalkan masa lalu di belakang dan tidak perlu ditengok kembali.

    Waktu terus berjalan, kebahagiaan kami semakin lengkap dengan lahirnya anak kembar kami. Ya, Allah memberi kami amanah dua anak langsung. Anak yang manis dan lucu-lucu. Di tengah kebahagiaan itu, sesekali aku masih merasakan kehadiran makhluk asing tersebut. Puncaknya setelah tiga puluhan hari melahirkan, aku merasakan ada bisikan-bisikan di dalam diri yang semakin kuat. Sebelumnya, bisikan tersebut memang pernah kurasakan, tapi tidak terlalu parah.

    Sebelum kejadian itu, aku melihat Ustadz Junaidi di salah satu stasiun televisi menjelaskan tentang ruqyah syar’iyyah. Berbekal informasi dari televisi tersebut aku minta diantar Mas Fahmi ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah yang dulu di percetakan negara. Mas Fahmi kuajak begitu saja. Padahal saat itu ia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Baru setelah aku menjalani terapi ruqyah, dan jin yang berada di dalam diriku berbicara dengan bahasa China, Mas Fahmi tahu bila selama ini aku mengalami gangguan jin.

    Berkali-kali aku menjalani terapi ruqyah. Saat itu, kurasakan ada sesuatu yang keluar dari punggung dan kakiku. Kondisiku pun semakin membaik. Kejadian itu, membuat Mas Fahmi bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Kuceritakan semuanya apa adanya. Dari awal sampai akhir. Meski demikian, aku tahu bahwa tidak semua jin yang merasuk ke dalam diriku sudah keluar. Karena sesekali aku masih merasakan kehadirannya. Kurasakan hawa dingin masuk ke dalam tubuhku, selanjutnya aku merasa berat.

    Bisikan-bisikan jahat pun sesekali masih terdengar. Bisikan itu semakin sering ketika hatiku kesal. Kesal kepada anakku atau kesal kepada Mas Fahmi. Suatu hari, ketika Mas Fahmi sedang menjemur pakaian, ada bisikan jahat di telingaku. Bunuh saja anakmu. Bunuh saja anakmu. Tanpa sadar, aku melangkah ke dapur. Kuturuti bisikan itu dan kubiarkan anakku tergolek di atas ranjang. Pisau yang tergeletak di meja kuambil. Hanya satu tujuanku. Mengikuti perintah dari bisikan yang terus terngiang di telingaku. Bunuh anakmu. Bunuh anakmu.

    Aku bersyukur di saat yang genting itu, Allah menyadarkanku. Betapa terkejutnya diriku, menyadari apa yang telah kulakukan. Kulempar pisau itu dan berkali-kali aku beristighfar. Aku tidak menceritakan peristiwa itu kepada suamiku, karena khawatir semakin memperuncing perselisihan di antara kami. Selama ini, kami sering bertengkar, meski tidak sampai terdengar oleh tetangga. Perselisihan itu hanya menjadi konsumsi kami berdua.

    Telah puluhan kali aku menjalani terapi ruqyah. Dan berkali-kali gangguan itu datang. Tapi aku tidak lagi menempuh cara yang dulu, mencari kesembuhan dari jalan yang tidak diridhoi-Nya. Aku tidak lagi ke ‘orang pintar’ yang melakukan terapi dengan cara-cara yang aneh. Seminggu kemudian, aku dirawat di rumah sakit. Badanku panas. Kepalaku pusing. Ketika Mas Fahmi menjengukku di rumah sakit, ia merasakan ada keanehan dalam diriku. Katanya, ia meminta agar aku meluruskan kaki, tapi aku tidak mau. Katanya, kakiku juga terasa dingin.

    Melihat gejala yang aneh itu, Mas Fahmi membaca ayat Kursi. Aku menjerit dan meronta-meronta. Karena merasa tidak enak dengan pasien sebelah, akhirnya Mas Fahmi menghentikan bacaannya. la hanya meminjat’memijat kakiku. Anehnya, tak lama kemudian, kakiku kembali menghangat.

    Saat itu juga Mas Fahmi menyadari bahwa sakitku ini bukan penyakit medis. Ada jin yang kembali merasuk ke dalam diriku. Karena itulah, aku dibawa kembali ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah yang pindah ke depan PGC (Pusat Grosir Cililitan). Reaksinya tetap sama. Ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, aku kembali meronta-ronta seperti dulu. Semoga Allah menguatkan diriku untuk terus menapaki jalan yang benar. Semoga aku diberi kesabaran yang berlipat untuk menjalani terapi ruqyah. Aku tidak ingin terjebak dalam kesalahan masa lalu. Kembali ke dukun lantaran ketidaktahuan.

    Majalah GHOIB Edisi 109 Th.4 Kesaksian “Nurma : 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua”

    http://metafisis.wordpress.com/2009/07/29/12-tahun-aku-%E2%80%98disiksa%E2%80%99-jin-calon-mertua/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s