Menumbuhkan Kesadaran Iman

Artikel Buletin An-Nur :

Menumbuhkan Kesadaran Iman
Rabu, 07 April 04

Manusia yang diberi anugerah akal oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala, sehingga dengannya ia lebih mulia dan lebih istimewa dibanding makhluq yang lain, seharusnya mempunyai kesadaran imani yang tinggi, menyadari bahwa alam semesta beserta isi-isinya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya semata, termasuk di dalamnya adalah manusia itu sendiri (Baca: Rububiyah Allah). Manusia harus sadar betul, bahwa dirinya adalah merupakan salah satu ciptaan Allah dan milik-Nya. Manusia tidak pernah merencanakan keberadaan dan kehidupannya di dunia ini, dan sebagaimana ketika ia telah hadir di dunia ini pun, tidak pernah merencanakan pula kematiannya. Allah sang Pencipta yang telah merencanakan semua itu.
“Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya”. (Al-Mulk: 2)

Kesadaran akan kepemilikan Allah terhadap diri manusia akan melahirkan sikap yang sangat mulia, yaitu:

1. Rasa Tunduk dan Patuh kepada Allah Sang Pemilik yang Telah Menciptakannya.

Ketika seseorang mengetahui, bahwa dirinya berada dibawah kepemilikan dan kekuasaan Allah, dan menyadari, bahwa Allah menciptakan dirinya agar menjadi hamba-Nya dan menghambakan diri (beribadah) kepada-Nya semasa hidupnya, maka hidup di atas ajaran (syari`at)Nya sebagaimana petunjuk rasul-Nya, patuh dan tuduk kepada Allah Sang Pemilik adalah segala-galanya dan merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar.

2. Merasakan Keagungan dan Kebesaran Allah Subhannahu wa Ta’ala yang Tampak Pada Dirinya dan Pada Alam Semesta.

Alam semesta dengan segala keajaiban-keajaiban yang ada padanya dan manusia yang merupakan makhluk yang sangat unik bila dibanding dengan makhluk lainnya adalah menunjukkan betapa agungnya Allah, betapa besar kekuasaan-Nya, betapa luas pengetahuan-Nya, betapa sempurnanya Dia dan betapa besar karunia-Nya. Keagungan dan kebesaran Allah yang menghiasi hati manusia akan tampak pada kelumit kedua bibirnya, seraya menyadari kenyataan ini dengan mengucapan,
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”. (Ali Imran: 191)

Dari kesadaran ini ia merasakan kerendahan dirinya, kelemahan dan kerapuhannya di hadapan Allah. Maka dari itu ia merasa, bahwa manusia semua adalah sama seperti dirinya, milik dan ciptaan Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak lebih dari itu, dan dalam pandangannya, manusia yang paling mulia adalah dia yang paling bertaqwa di hadapan Allah. Keagungan dan kebesaran Allah yang ia rasakan benar-benar telah menjadikan dirinya tawadhu’ (bersikap rendah hati) terhadap sesama makhluk Allah, membuat dia merasa bersaudara, mendorongnya untuk saling menolong. Tidak terlintas sedikitpun di dalam benaknya rasa sombong terhadap orang lain, karena memang tidak ada yang pantas ia sombongkan, karena ia tahu, bahwa semua apapun kelebihan yang ada pada dirinya adalah karunia dan pemberian dari Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Bahkan lebih dari itu, ia benar-benar merasakan bahwa Allah selalu melihatnya, mengetahui perbuatannya, mendengar segala ucapannya dan mengetahui jalan fikirannya, juga kondisi batinya. Kesadaran ini pada gilirannya membawa dia kepada sikap muraqabah dan hati-hati dalam berbuat, berkata dan bertindak.

3. Rasa Syukur dan Terimakasih atas Segala Karunia yang Telah Dia Berikan Padanya.

Bagi mereka yang sadar akan kepemilikan dan kebesaran Allah serta keagungan karunia-Nya yang ia rasakan akan membuatnya sadar, bahwa tanpa karunia dari-Nya ia tidak akan hadir di muka bumi ini dan tidak akan merasakan betapa kehidupan ini adalah ni`mat dan karunia dari-Nya. Oleh karenanya, mengakui Pemberi karunia, rasa syukur dan ucapan-ucapan terima kasih kepada-Nya akan selalu tampak dalam sikap dan ucapannya, seperti yang tergambar pada sosok hamba paripurna, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam,
“Ya Allah, apapun kenikmatan yang ada padaku pada pagi ini, atau ada pada siapu pun di antara manusia, maka itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu lah segala pujian dan segala kesyukuran”

” Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku (Pencipta, Pemilik dan Pengaturku), tiada sembahah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang mencip-takanku, dan akupun menjadi budak-Mu, dan aku tetap berpegang teguh kepada janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku lakukan; aku mengakui semua karunia-Mu kepadaku, dan aku menga-kui pula dosa-dosaku, maka ampunialah aku. Sesungguhnya tiada yang mengam-puni dosa selain Engkau”.

Do`a dan dzikir yang beliau ucap-kan itu menunjukkan betapa tingginya kesadaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam akan kerububiyahan Allah Subhannahu wa Ta’ala atas dirinya dan atas alam semesta ini (kedua do’a di atas adalah di antara sebagian dzikir pagi dan sore yang warid).

Sebaliknya, ketika manusia tidak sadar akan kepemilikan Allah atas alam semesta dan dirinya, maka lahir sikap dan sifat yang sangat tercela, seperti: sombong, angkuh dan kufur. Dari sinilah lahir berbagai macam penyakit ruhani dan penyakit-penyakit sosial yang sangat berbahaya.

Tidakkah orang yang angkuh dan sombong itu merasa dirinya adalah segala-galanya, tidak ada yang menandinginya, dan memandang orang lain rendah! Lalu dari situ ia berkeinginan agar orang lain menyanjung dan tunduk kepadanya?! Jangan engkau berharap ia tunduk dan patuh kepada manusia seperti anda, kepada Allah sang Pemilik dan Pencipta saja ia tidak mengakui dan tidak menyadarinya!

Lihatlah sosok manusia angkuh nan sombong yang diabadikan kisah-nya oleh Allah di dalam al-Qur’an untuk dijadikan sebagai `ibroh dan pelajaran. Dialah Fir`aun yang memproklamirkan diri sebagai tuhan dan memaksa rak-yatnya agar menyembah kepadanya. Fir`aun benar-benar telah melampaui batas. Dia tidak sadar, bahwa dirinya adalah milik dan ciptaan Allah yang sangat terbatas dan lemah, tidak dapat menghindarkan dirinya dari kematian! Kealpaan dari kesadaran akan kepemilikan Allah dan kekuasaan-Nya dari dirinya telah menyeretnya kepada tindakan merampas hak-hak prerogatif Allah Subhannahu wa Ta’ala. Ia buat atauran-aturan, lalu ia paksa manusia yang tidak berdaya untuk mematuhinya, termasuk keharusan menyembah dan mengagung-agungkannya. Dan jika mereka tidak mau tunduk, maka pedang terhunus selalu siap memenggal leher kepalanya.

Sesungguhnya banyak sekali manusia, kecuali orang yang dilindungi Allah, yang tidak menyadari kenyataan ini, berjalan di permukaan bumi tidak merasa dimiliki Allah, tidak sadar bahwa Allah mengetahui dan melihat seluruh apa yang ia lakukan, dan akan membalasnya nanti di akhirat. Akibat-nya, ia diperbudak oleh hawa nafsu, senang melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa, meninggalkan shalat, enggan bertobat dan berbuat kebajikan.
Untuk itu, sadarlah wahai manusia! Sesungguhnya jasad kita amatlah rapuh bila dibandingkan dengan makhluk lainnya, seperti batu, tanah dan lain-lain. Keistemewaan kita dari makhluk yang lain hanyah terletak pada akal kita. Akal kita pun sangat terbatas kemampuannya bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Maka, jangan anda tertipu dengan kecerdasan akal yang ada pada diri anda. Jangan sekali-kali anda menjadi congkak, sombong dan keras kepala karena akal dan nafsu anda, lalu tidak beriman kepada Hari Kiamat, karena anda pandang tidak masuk akal anda, sebagaimana teguran Allah,
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan, bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), lalu tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata!”. (Yasin: 77)

Mereka adalah manusia-manusia yang lupa akan asal kejadiannya, dan lupa pula ke mana akhir dari kehidupannya. Mereka tidak percaya kalau Allah akan membangkitkan dan menghidupkannya lagi, sebab menurut persangkaan dan akal tidak mungkin tulang belulang yang telah lebur akan hidup lagi, mustahil! Dengan congkaknya mereka menyanggah Allah, sebagaimana telah difirmankan:
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan ia lupa pada kejadian dirinya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”. (Yasin: 78)

Maka Allah pun memberikan jawaban yang telak untuk mereka, “Katakanlah, ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”. (QS. 36:79)

Maka kini giliran manusia yang harus menjawab pertanyaan dari Allah,
“Dan bukankah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu?
Kalau manusia masih belum mau tahu juga, maka Allah telah memberikan jawaban yang begitu gamblang,
“Benar, Dia berkuasa dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui” (QS. 36: 81)

Tunduk dan patuhlah kepada Allah yang telah memberikan kehidupan kepada kita, berimanlah kepada apa yang ia firmankan dan kepada apa yang disabdakan oleh Rasul-Nya. Ingatlah, usia kita bukan makin bertambah, melainkan makin berkurang; dan dengan begitu kematian segera akan menjemput untuk dihadapkan kepada Allah Yang Maha Kuasa Pemilik segala-galanya. Dan kalau ada manusia yang tidak mau tunduk kepada Allah, maka suatu saat dia pasti akan tunduk terhadap salah satu ciptaan Allah, maut! Baik dengan terpaksa maupun sukarela. Jika seluruh manusia tunduk terhadap maut, padahal maut tunduk terhadap Allah, maka apa tidak sepantasnya manusia itu lebih tunduk lagi kepada Penguasa maut?

Bukalah lembaran sejarah hidup-mu kembali, menolehlah ke belakang, lalu tanyakan, apa yang telah saya lakukan untuk hari kemudian?
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendak-lah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhi-rat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 59:18)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS 57:16)

Al Fudhail ibnu ‘Iyadh, ketika mendengar seseorang membaca ayat ini dia berkata, “Benar wahai Rabb, kini sudah saatnya (untuk tunduk)!”. Beliau lalu bertaubat dari pekerjaannya sebagai pembegal, lalu Allah mengaruniakan kepada beliau ilmu. Marilah masing masing kita menjawabnya! Wallahu a’lam bish shawab.
(Musthafa Aini)
( Senin, 17112003M / 22091424 H )

Filed under: buletin An Nur |

One thought on “Menumbuhkan Kesadaran Iman

  1. PENGALAMAN SPIRITUAL MENGHADAPI JIN SIHIR
    Posted on Oktober 6, 2011 by Perdana Akhmad S.Psi

    Penjelasan Admin :

    Artikel ini saya kutip dari tulisan seorang peruqyah, Apa yang terjadi adalah penjelasan dari tuturan kata jin tersebut yang sekali lagi harus kita timbang dari sisi syari’at, ada banyak berita-berita dari jin dalam artikel ini yang kita harus berhati-hati dalam menyikapinya. Saya pribadi tidak menyukai golongan jin terlibat dalam membantu urusan ruqyah, apalagi membantu peruqyah dalam mengatasi serangan sihir, karena peruqyah yang berpengalaman tidak butuh dengan bantuan jin karena sudah mencukupkan diri dengan cara yang disyari’atkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, namun artikel ini bisa dijadikan pelajaran bahwa ada seorang peruqyah yang berani dan mau menceritakan kisah dan tekhniknya dalam meruqyah yang tentunya akan menjadi bahan pengalaman dan ibroh bagi kita semua.

    Perlu diketahui tekhnik dalam meruqyah sangat luas dan beragam tergantung dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman peruqyah itu sendiri namun selalu ada titik temunya yaitu selalu menggunakan sarana Ayat Suci Al-Qur’an dan Sunnah.

    Pesan saya bagi para peruqyah sangat dianjurkan untuk tetap memperdalam tekhnik-tekhniknya dan berhati-hatilah dalam bermuamalah dengan jin! Saya pribadi tidak ada kompromi dengan golongan jin yang tidak mau bertaubat dan saya tidak mau meminta bantuan jin dalam urusan ruqyah!

    Jika ada jin muslim yang kadang datang menawarkan bantuannya maka selalu saya tolak dengan halus dan saya selalu akan mengatakan ” Saya tidak perlu bantuanmu sebab saya hanya meminta bantuan kepada Allah saja” malah jin itu akan saya bekali dengan “senjata” dari Qur’an dan sunnah untuk perlindungan dirinya.

    berikut ini kisahnya :

    Sejak zaman dahulu kala manusia telah berhubungan dengan makhluk halus yang disebut jin. Adanya jin diyakini manusia karena pengalaman sehari-hari dan kita sekarang terutama umat Islam meyakini adanya adanya jin karena disebut berulang kali dalam Al Quranul Karim. Manusia primitive yang belum menganut suatu agama sangat mengandalkan jin dalam segala aspek kehidupan. Untuk membangun tempat tinggal, berlayar, memulai bercocok tanam, mereka bertanya dulu kepada orang yang mampu memanggil jin yang disebut datu, pawang atau dukun. Dengan ritual tertentu sang dukun memanggil, sehingga jin masuk ke dalam tubuh dan apa yang ditanyakan akan dijawab oleh jin yang sedang berada dalam tubuh sang dukun.

    Peristiwa masuknya jin kedalam tubuh sang dukun persis sama dengan yang kita sebut orang kesurupan, hanya bedanya pada orang kesurupan jin itu masuk tubuhnya tidak dengan diundang.

    Menurut sejarah, Kaisar Jengis Khan bila ingin membuat undang-undang dalam negaranya Beliau minum arak dahulu, Kemudian berlari turun naik bukit sampai dia pingsan dan kesurupan. Apa yang diucapkannya selama dalam kesurupan dicatat oleh sekretaris kerajaan dan itu menjadi undang-undang dalam kerajaannya. Undang-undang yang berasal dari jin, bagi kita aneh bukan?

    Pada zaman dahulu bila seseorang ingin berkuasa atau terhormat di tengan masyarakat harus belajar ilmu sihir atau menguasai tukang-tukang sihir untuk membekingnya seperti Firun dan Kaisar Kubilai Khan, yang istananya dipenuhi oleh tukang-tukang sihir. Konon kabarnya bila Kubilai Khan ingin minum, ia tak perlu memegang gelas minumannya tetapi gelas itu melayang di udara dan mendekat ke bibirnya. Dia tinggal menghirup minuman yang tersedia di dalam gelas. Gelas itu digerakkan oleh jin atas perintah tukang-tukang sihir.

    Di zaman modern saat inipun sihir tetap menjadi primadona andalan sebagian orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tak sedikit orang yang pergi ke dukun untuk minta dibuatkan jimat, atau minta tolong menyantet, meneluh lawannya.

    Menurut isu yang berkembang saat ini kemungkinan juga sihir telah digunakan orang-orang tertentu untuk merusak akidah umat Islam seperti yang terjadi di Politani Unand Tanjung Pati pada tahun 2002 yang lalu dimana beberapa mahasiswa fakultas tersebut berulang kali kesurupan yang sangat mengganggu kegiatan perkuliahan. Anehnya pada saat terjadinya kesurupan tersebut ada yang menyebut-nyebut nama Yesus, padahal istilah Yesus tidak ada dalam Islam.

    Pengalaman saya dalam merawat anak seorang anak yang kesurupan dari tanggal 31 Mai sampai 3 Agustus 2010, mengidentifikasi bahwa isu yang selama ini berkembang semakin memperkuat dugaan saya akan kebenaran isu tersebut sekalipun tak dapat dibuktikan secara hukum.

    Adapun kronologis peristiwa yang saya alami itu adalah sebagai berikut :

    Pada tanggal 27 Mai 2010, saya diminta oleh adik saya yang bernama Amri untuk mengobati seorang anak tetangganya yang sakit yang bernama Asti. Sebelumnya anak tersebut telah pernah diobatinya namun belum sembuh. Asti adalah pelajar kelas dua sebuah madrasah Tsanawiyah di Payakumbuh.

    Menurut penuturan orang tuanya, Asti selalu didatangi oleh dua orang ; seorang gadis cantik yang dipanggilnya “Kakak” dan seorang makhluk hitam seram yang sangat menakutkan. Bila ditanya kepadanya ketika dia sadar, seperti apa makhluk yang mengganggunya itu, anak itu kelihatan sangat ketakutan dan bergegas mendekap orang tuanya.

    Di sekolah Asti sering menjerit ketakutan yang katanya dia dicekik oleh makhluk hitam menakutkan itu yang selalu mengancam akan membunuhnya dengan kata-kata, “Kamu akan saya bunuh karena kamu telah membunuh anak saya”. Lain kali Asti tertawa-tawa dan bicara riang, seakan-akan dia bicara dengan seseorang dan ketika sadar dia mengatakan bahwa dia diajak jalan-jalan oleh kakak cantik yang selalu mendampingi nya.

    Berdasarkan keterangan orang tuanya, saya berkesimpulan bahwa Asti mendapat gangguan jin jahat dan karenanya pada malam itu juga dia kami rukyah bersama-sama dirumahnya. Biasanya bila seseorang dirasuki jin jahat jika dibacakan ayat-ayat Al Quran, dia akan mengamuk dan bicara carut-marut tetapi Asti tenang saja dan bahkan ikut membaca Al Quran bersama kami.

    Oleh karena kelihatan sehat Asti dibiarkan orang tuanya pergi ke sekolah yang berjarak kira-kira 12 kilometer dari rumahnya, tetapi ketika upacara bendera anak itu kesurupan. Itu terjadi hari Senin tanggal 31 Mai 2010. Anak tersebut dibawa oleh teman-temannya ke ruang UKS dan disana disiram dengan air mentah yang dibacakan ayat kursi oleh salah seorang temannya. Asti yang kesurupan itu berteriak, “Jangan dibakar!” . Ketika saya tiba di sekolahnya atas permintaan melalui handphone oleh salah seorang gurunya, asti saya dapati telah siuman.

    Ketika ditanya mengapa dia berteriak,” Jangan dibakar! “ ketika kesurupan, Asti menjelaskan bahwa melihat perempuan cantik yang dipanggilnya “ Kakak” berkelahi dengan orang jahat jelek yang ingin memcekiknya dan dilihatnya orang jelek tersebut terbakar.

    Pada hari Selasa tanggal 1 Juni 2010 kira-kira jam tiga belas siang anak tersebut kesurupan lagi di sekolahnya dan ketika saya tiba disana dia telah pula sadar. Saya jadi penasaran karena merasa dipermainkan oleh jin yang mengganggu anak tersebut. Untunglah saya menemukan cara untuk menjebaknya sehingga pada hari Sabtutanggal 5 Juni 2010 jin jahat tersebut berteriak-teriak melalui mulut Asti dengan berkata, “ Saya akan membunuh Asti karena dia telah membunuh anak saya. Anak kesayangan saya yang akan melanjutkan keturunan saya. Saya baru berhenti mengganggunya bila dia beranjak dari sini sejauh 70 kilometer”.

    Asti dibaringkan di tengah rumah kosnya sementara saya serta teman-temannya mengelilingi sambil membaca ayat-ayat suci Al Quran. Kedua orang tuanya bersama dua orang laki-laki pegawai TU sekolahnya kewalahan memegangnya karena dia meronta-ronta dan berteriak carut-marut dengan tenaga yang amat sangat kuat. Dalam kondisi seperti ini kita tidak lagi berhadapan dengan yang punya jasad, melainkan dengan jin yang menguasai tubuhnya, karenanya saya berkata,”Asti tidak pernah membunuh siapapun!”

    Jin : “ Dia membunuh anak saya!”

    Saya : “ Kami manusia tidak bisa melihat jin, maka tak mungkin Asti

    membunuh anakmu.”

    Jin : “ Dia membunuh keong, itu anak saya.”

    Saya : “ Nabi Muhammad SAW mengajarkan, barang siapa memakai baju

    orang lain, jika dia mati darahnya tertumpah sia-sia. Jadi Asti tidak

    bersalah.”

    Jin : “Saya akan membunuh asti, saya akan bals dendam nyawa di bayar

    dengan nyawa!”

    Saya :” Kalau kamu mengganggu asti maka saya akan mengutuk mu dengan Al

    Quran.”

    Setelah berdebat dengan alot akhirnya jin penyurup bersedia berdamai dengan syarat kami harus mensema atau menabur garam disekitar sawah tempat anaknya terinjak dan tewas oleh Asti dan selanjutnya Asti tidak lagi mengulang lagi perbuatannya.

    Selanjutnya saya berkata,”Sekarang keluarlah!”

    Jin menjawab, “Ada pagar.”

    Dengan mencuci kaki si sakit dengan sabun wangi, acara membuka pagar selesai dan jin penyurup keluar. Dalam hitungan detik, Asti anak kesurupan itu sadar dan ketika ditanya apa yang terjadi atas dirinya, dia tak tahu apa-apa. Salah satu janji si Jin yang kami pegang ialah bahwa dia tidak akan mengganggu Asti serta teman-teman kosnya dan siswa tsanawiyah tempat Asti belajar. Namun karena sifat syetan pembohong maka pada hari Sabtu tanggal 12 Juni 2010, seminggu sesudahnya, jin jahat tersebut merasuk lahi ke tubuhnya, padahal ketika itu dia sedang mengikuti ujian kenaikan kelas.

    Setiba saya di sekolahnya kira-kira pukul sembilan pagi, saya dapati dia sedang dipapah oleh teman-tewman serta ayahnya dan terus dibawa ke rumah kos tempat dia ngianap yang jaraknya kira-kira seratus meter dari sekolah.

    Dengan sigap teman-temannya mengambil air wuduk dan kami langsung merukyah asti seperti yang dilakukan sebelumnya. Setelah meyakini bahwa jin yang menguasai anak tersebut benar-benar telah kepayahan dan kepanasan maka saya mulai bertanya,” Mengapa kamu masuk lagi padahal Sabtu yang lalu kamu sudah berjanji tidak akan mengganggu Asti lagi dan kami telah melakukan persyaratan yang kau ajukan?” Jin menjawab melalui mulut Asti,”Saya akan membunuh Asti karena dia telah membunuh anak saya, kecuali bila dia beranjak dari sini sejauh tujuh puluh kilometer.”

    “Kalau kamu membunuh Asti, saya juga akan membunuhmu!” jawab saya tegas sambil mengancamnya denagn air dalam botol yang sudah di rukyah. Melalui wajah Asti saya dapat melihat bahwa sang jin sangat ketakutan mendengar ancaman saya. Mungkin karena ketakutan serta kesakitan, ketika saya mengajak masuk Islam dia menerimanya, namun ketika saya tuntun dia membaca dua kalimat syahadah, bacaanya tidak jelas kedengarannya, walaupun begitu dia tidak boleh dibunuh, karena membunuh orang Islam adalah dosa besar. Si jin saya persilahkan keluar dan kira-kira satu menit kemudian anak itu sadar.

    Dengan keluarnya jin jahat tersebut dari tubuh Asti, kami yang hadir merasa lega, lebuh-lebih kedua orang tuanya, namun kelegaan itu hanya berlangsung beberapa saat saja, kaerna kira-kira lima menit kemudian anak itu merasa kepanasan dan kemudian berteriak-teriak histeris,”Asti akan saya bunuh karena dia telah membunuh anak saya”sembari berulang kali mengeluarkan ancaman, tangannya mencekik lehernya sendiri sehingga susah juga melepaskan dari lehernya.

    Melihat keadaan demikian, jika jin tersebut menguasainya maka bias saja anak tersebut celaka. Apakah dengan menggantung diri atau menabrakkan diri ke mobil atau cara lain yang dikira oarng sebagai kecelakaan biasa.

    Setelah melakukan sholat istikharah dua rakaat maka air mentah yang telah disiapkan sebelumnya saya tuangkan ke mulut Asti dan hanya dengan satu teguk, si sakitterkulai lemas. Saya ucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi raajiun, dan berdiri untuk sholat dua rakaat lagim sedang ayahnya menagis karena seakan-akan analnya yang meninggal dunia. Sesudah sholat saya dapati si sakit telah sadar tetapi kakinya tidak dapat digerakkannya. Berdasarkan pengalaman, hal seperti ini menunjukkkan bahwa jin yang berada dalam tubuhnya sudah mati hangus terbakar. Abunya merupakan racun bagi tubuh manusia dan jika dibiarkan maka sisakit akan lumpuh beberapa hari, walaupun akhirnya akan sembuh juga karena racun tersebut akan keluar berangsur-angsur melalui keringat dan air seninya. Dengan meminumkan air jeruk nipis serta mengoleskan ampasnya mulai dari kelipatan sampai ujung jari kai, maka dalam hitungan detik kaki si sakit telah dapat digerakkan dan dalam tempo kira-kira lima menit dia telah dapat berjalan. Suatu peristiwa yang cukup mengherankan terutama bagi yang pertama kali menyaksikan.

    Jin Sihir Dari Amerika?

    Empat hari kemudian, tepatnya pada hari Rabu 16 Juni 2010 saya menerima telepon dari ayahnya asti bahwa anaknya telah kesurupan lagi di sekolahnya. Saya berjanji akan datang dan menyarankan agar mengajak adik saya Amri untuk ikut ke sana. Saya dapati mereka telah tiba duluan dan saya melihat Asti sedang dipapah oleh ayah dan teman-temannya. Ketika melewati saya asti ketakutan dan berteriak, “ tidaaak!” sambil menutup matanya dan kemudian pingsan.

    Berdasarkan keterangan teman-temannyajin yang masuk ke tubuh Asti menagku datang dari Amerika karena disuruh oleh seorang penyihir yang disebut Patrick. Sesampai di rumah kosnya Asti kami rukyah lagi bersama-sama tetapi jin yang berada dalam tubuhnya tak mau menyerah, tak mau masuk Islam, tak bersedia bersumpah tidak akan mengganggu lagi, sekalipun dia meraung-raung kesakitan dan mohon agar jangan dibunuh. Setelah bermusyawarah dengan yang hadir maka air yang telah disediakan saya tuangkan kemulut si sakit namun anehnya sampai tiga kali tuang, si sakit masih menggerintang dan ketika saya pergi sholat dia duduk sebentar, kemudian baru lemas. Saya mengira jin yang berada dalam tubuhnya sudah mati, rupanya hanya pingsan saja.

    Sekembali kami dari rumah guru kami untuk minta pendapatnya perihal pasien kami, saya dapati Asti sedang tidur. Dia dibangunkan ibunya untuk member tahu kedatangan saya, tetapi lagi-lagi dia kesurupan dan berteriak-teriak minta di keluarkan. Itu berarti si jin masih berada dalam tubuhnya dan minta dikeluarkan.

    Oleh karena dia bersumpah tidak akan mengganggu Asti lagi, maka jij tersebut kami bebaskan. Belakangan saya tahu bahwa jni yang masuk ketika itu berjumlah tiga orang.

    Pada hari Jumat tanggal 18 Juni 2010 setelah sholat Jumat, anak tersebut kesurupan lagi. Setelah diperiksa, ternyata jin yang masuk pada hari itu adalah jin yang telah bersumpah pada hari Rabu sebelumnya, bahwa dia tidak akan mengganggu lagi.

    Saya bertanya, ” Mengapa kamu masuk lagi?”

    Jin :” Karena Asti musuh saya !”

    Saya :” Mengapa dia kamu musuhi?”

    Jin :”Karena dia mendirikan sholat!”

    Mendengar itu orang yang hadir terutama orang tua Asti sangat marah, menghujat serta mengutuk jin syetan tersebut. Oleh karena syetan musuh yang nyata bagi orang beriman, maka dengan tidak banyak soal saya tuangkan air yang telah dirukyah ke dalam mulut si sakit dan langsung layu kayak bunga disiram air panas. Beberapa saat kemudian Asti sadar.

    Pada hari Sabtu tanggal 19 Juni 2010, yaitu hari yang kedua puluh saya merawat anak tersebut, tiba-tiab sekitar pukul sepuluh pagi, saya menerima telepon lagi dari orang tuanya mengatakan bahwa sakit ankanya kambuh lagi. Saya bergegas ke rumahnya dan disana saya dapati sudah banya orang sedang merukyah Asti. Orang tua Asti bertanya kepada jin yang menguasai tubuh anaknya :” Mengapa kamu masuk lagi ke dalam tubuh anakku?”

    Jin menjawab,” Disuruh Patrick!”

    Ibu Asti……..” Apa maksudnya Patrick itu??”

    Jin…………..” Misinya empat macam, pertama menghabiskan keperawanan anak

    sanawiyah, kedua mencegah mereka sholat, ketiga mencegah

    mereka baca Al Quran, keempat menghancurkan Sanawiyah.”

    Jin itu juga menerangkan bahwa teman-temannya telah mati empat orang dan yang masuk ketika itu berjumlah tiga orang dari jenis tuyul.

    Dia memelas minta jangan di bunuh dan saya mengatakan tidak akan membunuh jika di bersedia balik menyerang dan membunuh Patrick.

    “ Tidak bisa, Pak!” kami tidak sanggup,” jawabnya sungguhan.

    “ Siapa yang bisa membunuhnya ?” Tanya ibu Asti.

    “ Orang Islam bisa!” jawabnya.

    “ Bagaimana caranya?” Tanya ibu Asti lagi.

    “ Bacalah Al Quran satu juz satu malam dan niatkan untuk membinasakan

    Patrick.” sambungnya.

    Kemudian dia bersumpah tidak akan mengganggu Asti lagi karena dia kami bebaskan. Setelah jin keluar Astipun sadar.

    Mengislamkan Jin Kafir

    Sudah berulang kali saya mengobati orang yang kesurupan tetapi belum pernah mengahdapi kesukaran seperti yang dialami kali ini. Yang sudah-sudah hanya dua atau paling tinggi tiga babak, drama kesurupan telah dapat diakhiri.

    Kali ini sejak tanggal 31 mai sampai 21 Juni, pasien saya telah mengalami delapan kali kesurupan. Mulai timbul was-was dan kekhawatiran dalam hati saya. Saya mulai ragu apakah saya mampu mengobati ank tersebut atau tidak. Ibu anak tersebut mulai pula terpengaruh oleh saran familinya agar berobat ke temapt lain. Hanya ayahnya yang tetap bertahan dan yakin bahwa pengobatan yang saya lakukan secara Qurani pasti berhasil.

    Alhamdulillah, kekhawatiran saya jadi terhapus dan keyakinan ayah si sakit mulai terbukti, setelah kesurupan yang dialami Asti pada tanggal 20 Juni 2010.(sabtu)

    Pada hari itu kira-kira jam 16.00 WIB sore saya menerima telepon dari ibunya Asti bahwa anaknya telah kesurupan lagi. Sebelum berangkat terlintas dalam fikiran saya untuk membawa tiga buah kitab untuk diperlihatkan kepada sisakit yang dikuasai jin. Saya persiapkan sebuah Injil Perjanjian Baru, Perjanjian Lama ( Al Kitab) dan sebuah Al Quran ukuran kecil.

    Dalam tempo dua puluh lima menit saya telah sampai di tempat dan mendapati sudah banyak orang yang hadir termasuk adik saya Amri sedang merukyah si sakit dengan membaca surat Yasin. Menurut mereka yang hadir Asti berteriak-teriak sedih jangan dibunuh. Karena dia tidak niat datang kemari tetapi dipaksa.

    “Jangan bunuh saya, Pak, keluarkan saya, Pak! Saya tidak bermaksud datang kemari, tetapi dipaksa, keluarkan saya, Pak!” katanya.

    “Ya, ya, nanti kamu dikeluarkan sesudah jadi abu,” jawab adik saya Amri yang memimpin prosesi perukyatan. Mendengar jawaban adik saya, Asti yang dirasuki jin terlihat sangat ketakutan, sedih dan air matanya mengalir ke luar.

    Dalam kondisi demikian seperti telah disinggung di atas apa yang diucapkan Asti adalah ucapan jin yang menguasai atau yang terkurung dalam tubuhnya, sehingga buat orang yang pertama kali menyaksikan pasti menimbulkan kebingungan dan bahkan ketakutan. Salah seorang bibi si sakit yang datang untuk menjenguk langsung menangis, ketakutan dan langsung pergi meninggalkan rumah sambil berkat,”Saya tidak tega melihatnya.”

    Orang yang hadir meluangkan tempat untuk saya dan sambil memegang tiga buah kitab saya menghampiri si sakit yang tengah dipegang oleh empat atau lima orang termasuk ayahnya. Sewaktu si sakit melihat wajah saya lagi-lagi dia ketakutan dan berteriak,”Tidaaak!”sambil menyembunyikan wajahnya. Saya tahu bahwa yang di hadapan saya adalah seorang jin yang diutus oleh tukang sihir dengan maksud atau misi tertentu dan karenanya saya menguatkan dan meyakinkan diri saya bahwa sihir tidak akan menang dari manapun datangnya, seperti yang disampaikan oleh Allah dalam Al Quran surat Thaha akhir ayat 69. Seterusnya saya berkata,”Pilihlah salah satu di antara kitab ini!”,sambil saya perlihatkan Injil Perjanjian Baru. Si sakit tertawa melihatnya. Kemudian saya lanjutkandengan memperlihatkan Perjanjian Lama(Al Kitab) sambil berkata,”Yang ini!” Si sakit menggelengkan kepalanya, dan terakhir saya perlihatkan Al Quran ukuran kecil dan saya dekatkan ke mukanya. Si sakit berteriak,” Panas!”, sambil memejamkan matanya.

    Kemudian saya melanjutkan,”dalam kitab ini(sambil mengacungkan Injil) kitab orang Kristen tidak ada tertulis satu ayatpun yang mengatakan bahwa agama Kristen itu adalah agama yang benar dan di dalam kitab ini ( sambil mengacungkan Al Kitab) kitab orang Yahudi tidak ada tertulis satu ayatpun yang mengatakan bahwa agama Yahudi adalah agama yang benar dan di dalam kitab agama manapun di dunia ini tidak ada ayatnya mengatakan bahwa agamanya adalah agama yang benar tetapi di dalam kitab ini. Kitabnya agama Islam tertulis bahwa satu-satunya agama di sisi Allah hanyalah Islam. Kamu sendiri telah merasakan kehebatan Al Quran dan seandainya kamu saya pukul denganya, atau saya kutuk denganya, pastilah kamu binasa. Sekarang kamu boleh memilih, mau selamat atau binasa. Maukah kamu masuk agama Islam?”

    Si sakit menngangguk dan wajahnya kelihatan tenang dan ini berarti jin yang menguasai tubuhnya rela dan bersedia masuk Islam.

    “Sekarang ikutilah saya !” kataku melanjutkan.

    Astagfirullahal azim, astagfirullahal azim, astagfirullahal azim, Asyhadu allaailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah.”

    Semua bacaan saya diikutinya dengan lancar dan suasana menjadi sunyi, hening dan semua yang hadir terlena karena suatu kejadian yang belum pernah mereka saksikan. Saya dan orang tua Asti merasa lega, seakan-akan terlepas dari beban yang menghimpit.

    Setelah Asti tenang karena jin yang di dalam tubuhnya sudah merasa aman dari ancaman pembunuhan terhadap dirinya yang sangat mengerikannya, saya suruh si sakit masuk kamarnya karena ada hal yang ingin saya tanyakan kepada jin yang masih terperangkap dalam tubuhnya dan tak perlu didengar orang banyak.

    Kemudian saya bertanya, “ siapa namamu?”

    Jin, “ Sundel Bolong.”

    Saya, “ Kamu laki-laki atau perempuan?”

    Jin, “ Saya perempuan.”

    Saya “ Mengapa kamu mengganggu siswa Sanawiyah dan tidak mengganggu

    gurunya?”

    Jin, “ Gurunya tidak perawan lagi.”

    Saya, “ Kalu begitu ganggulah teman-teman Asti yang lain!”

    Jin, “ Kasihan dia, Pak!” Dia orang Islam.”

    Saya, “ Sekarang kamu saya beri nama Aminah, maukah kamu?”

    Jin, “ Mau, Pak!”

    Terlihat pada wajah Asti rasa gembira yang berarti jin dalam tubuhnya merasa senang. Saya bawa anak tersebut ke ruang depan dengan dipapah oleh ayahnya. Pintu di buka dan semua orang yang ada disitu saya suruh menghindar karena akan menghalangi keluarnya jin.

    Dengan melayangkan tangan dari wajah sampai kaki, saya berkata,”Keluarlah!” Si sakit mengangkat kaki kirinya dan jatuh pelan-pelan kelantai. Beberapa detik berlalu Asti menyelangkan mata dan terheran-heran melihat orang banyak di rumahnya.

    Melihat peristiwa langka itu orang yang hadir terkesima dan semua menyatakan kekagumannya atas keagungan dan kebesaran Al Quran.

    “ Bertambah keimanan saya terhadap kebesaran agama Islam setelah menyaksikan peristiwa ini,”kata salah seorang di antara mereka .”Saya heran, kita empat orang dengan susah menguasai Asti, sedangkan oleh Pak Ibun (panggilan saya di kampung) hanya diiringkan saja masuk keluar kamar,”kata yang lain pula. Saya merasa sangat lega dan bersyukur kepada Allah karena telah diberinya hidayah untuk menundukkan salah seoarang jin kafir dan membawanya ke dalam Islam. Saya sangat yakin bahwa jin yang saya beri nama Aminah, masuk Islam dengan ikhlas berdasarkan bukti nyata yang di alaminya. Dia pasti menyaksikan teman-temannya tersiksa dan hangus terbakar ketika di rukyah dengan Al Quran dan dia juga merasakannya bahkan ketika saya mendekatkan Al Quran ke wajahnya dia menjerit kesakitan. Saya yakin dia menerima Islam dengan ikhlas dan hidayah dari Allah, karena ketika saya menyuruh mengganggu teman-teman Asti yang lain, Aminah menjawab, “ Kasihan dia, Pak! Dia orang Islam.”

    Ini berarti hidayah Islam telah dimasukkan Allah ke dalam jiwanya yang diajarkan Nya lewat Al Quran, bahwa orang beriman itu bersaudara dan harus berbuat bika kepada sesama mereka. Bandingkanlan dengan manusia yang mengaku Islam dari nenek moyang, masih suka merusak dan menzolimi orang seimannya.

    Perang Melawan Jin Sihir Patrick

    Pengakuan dari jin-jin yang diinterogasi ketika menyurup ke tubuh Asti mengidentifikasikan dahwa kehadiran jin-jin tersebut adalah atas perintah tukang sihir yang membawa misi tertentu merusak umat Islam. Namun isu tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan karena tak mungkin membuktikannya. Kita tak bisa membuktikan siapa Patrick yang selalu disebut-sebut oleh jin yang menyurup ke tubuh si sakit pasien saya, dimana alamatnya, sebab dia hanya menyebutkan dari Amerika dan sebagainya yang menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati kita.

    Saya sadar, bila anda membaca kisah ini pasti akan timbul keraguan dalam hati anda atas kebenarannya tetapi bagi siapa yang telah menyaksikannya atau pernah mengalami akan berbendapat bahwa apa yang saya sampaikan disini bukanlah mengada-ada.

    Berdasarkan pengalaman, bila jin diinterogasi dan terjebak dalam tubuh manusia maka kita dapat berdialog dengannya melalui lisan si sakit atau manusia yang disurupinya dan apa yang disampaikannya dapat kita jadikan masukan sekalipun tidak seratus persen benar.

    Informasi yang di sampaikan oleh jin yang masuk ke tubuh Asti menagtakan bahwa tak ada yang bisa menghancurkan Patrick selain orang Islam, yaitu dengan membaca Al Quran satu juz semalam dan diniatkan untuk menghancurkan Patrick. Saya menyarankan kepada ibu dari Asti untuk merobah niat membaca Al Quran dengan niat yang lebih baik yaitu memohon kepada Allah agar Patrick yang dimaksud di tunjuki Nya hidayah Islam dan jin-jin yang di kuasainya menjadi jin muslim, sebab mendoakan orang kepada kebaikan adalah untuk kita sendiri, seperti yang diajarkan Al Quran surat Bani Israel ayat 7, “ Bila kamu berbuat baik maka kebaikannya untuk kamu dan bila kamu berbuat jahat, maka kejahatannya untuk kamu.”

    Hasil nyata dari doa yang dipanjatkabn kepada Allah oleh kedua orang tua Asti ialah dengan masuk Islamnya salah seorang jin perempuan anak buah penyihir Patrick yang saya beri nama Aminah. Aminah kemudian yang memegang peran dalam perang melawan jin-jin anak buah Patrick, dialah yang member petunjuk bagaimana cara mengobati dan mengantisipasi sihir dari Patrick.

    Aminah juga selalu menyampaikan hal-hal penting kami ketahui, antara lain :

    a. Hari Senin tanggal 21 Juni 2010. Aminah memberi tahu bahwa dia telah bergabung dengan jin muslim dan mereka melindunginya dan dikatakannya juga bagaimana cara mengobati Asti.

    b. Hari itu juga waktu sorenya Aminah datang lagi memberi tahukan bahwa Patrick mencari tukang sihir untuk membantunya karena sihirnya sudah melemah.

    c. Hari Selasa tanggal 22 Juni 2010, jin Aminah datang tiga kali, sebelum asyar, sesudah magrib dan sesudah isya. Kedatangannya sebelum asyar memberi tahu bahwa dia telah berhasil membawa lima belas orang temannya masuk Islam dan telah bergabung dengan dia dalam melawan penyihir Patrick. Dikatakannya juga bahwa penyihir yang membantu Petrick telah tewas dan anaknya Petrick termakan racun yang direncanakannya untuk Asti dan ayahnya. Hal itu diketahui oleh teman-teman Aminah dan diberikannya kepada anak Patrick sehingga tewas pula. Aminah juga menyampaikan terima kasih kepada kami karena telah menyelamatkannya dan membawanya ke dalam Islam. Selanjutnya Aminah menjelaskan bahwa dia dikejar oleh jin-jin yang setia kepada Patrick dan dia merasa kelelahan. Dia minta diberi air yang sudah dirukyah dengan ayat-ayat Al Quran yang sudah tersedia di rumah Asti. Minumnya cukup banyak dan menurut perkiraan adik saya Amri, air tersebut dibawanya untuk dibagi-bagikan kepada teman-temannya sebagai senjata dalam menghadapi jin kafir anak buah Patrick. Dugaan ini diperkuat dengan kedatangan Aminah sesudah magrib, menyurup ketubuh Asti dan menyampaikan bahwa dia telah berkelahi dengan jin yang setia pada Patrick: dan dalam perkelahian itu aminah jatuh terduduk dan muntah. Muntahya mengenai lawannya dan langsung terbakar.

    Aminah menanyakan apakah berdosa telah membakar jin tersebut. Adik saya Amri menjawab,” Tidak berdosa karena yang terbakar itu adalah syetan.”

    Kedatangan Aminah sesudah isya memberi tahukan bahwa jin yang kena muntahnya dan terbakar, telah mati. Dia sedih dan takut berdosa karena telah membunuh.

    d. Hari Kamis 24 Juni 2010, kira-kira pukul 3.50 sore Aminah datang lagi dan menyampaikan bahwa Patrick telah tewas. Berita ini saya sambut dengan kata”Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.”

    e. Hari Kamis tanggal 1 Juli 2010, yangwaktu itu Asti dan orang tuanya berada dirumah neneknya di Mangilang, jin Aminah datang lagi menyampaikan berita bahwa Patrick yang sudah mati qarinnya ( jin pendamping) menjelma menjadi jin kafir, dia memimpin jin-jin Kristen untuk menghancurkan keluarga Asti. Kira-kira pukul delapan malam, orang tua Asti menelepon saya menyampaikan bahwa Asti telah kesurupan jin Patrick dan saya mendengar teriakan-teriakan histerisnya melalui handfhone.

    Orang tua Asti merencanakan untuk membawa anaknya pulang ke rumahnya di kampung saya untuk saya obati dan sayapun bersiap-siap untuk berangkat kerumahnya, tetapi kira-kira setengah jam kemudian adik saya Amri memberi tahu lewat handphonenya bahwa Asti telah sembuh tak kurang suatu apapun. Kabar itu diterimanya dari ayah Asti yang menyampaikan juga bahwa hubungan dengan handphone kurang jelas karena sinyal kurang baik dengan handphone saya. Dijelaskannya bahwa jin Aminah telah datang menolong Asti dan berhasil membunuh jin jahat jelmaan qarin Patrick, dan Asti sekarang sudah sehat.

    Saya mengira bahwa Asti sudah benar-benar sembuh dari sakit yang dideritanya. Sejak tanggal 31 Mai 2010 anak tersebut telah mengalami lima belas kali kesurupan. Betapa sedih dan susah hati keduanya, disamping harus merawat anaknya harus pula mencari nafkah untuk keperluan hidup yang kerjanya hanya sebagai buruh harian. Karena keprihatinan inilah saya merelakan diri untuk merawat dalam menghadapi jin sihir seperti ini, Insya Allah saya akan menang.

    f. Hari Senin tanggal 12 Juli 2010, hari pertama dia masuk sekolah pada sekolahnya yang baru karena pindah untuk keselamatannya, Asti kesurupan lagi dan pingsan. Gurunya di sekolah yang baru menelepon bahwa Asti pingsan di sekolah dan langsung di jemput oleh ayahnya. Setiba saya di rumahnya saya dapati dia sedang dipegang oleh ayah dan kakeknya dan ibunya sedang berdebat dengan jin yang sedang menguasai dirinya. Jin tersebut mengatakan bahwa akan membunuh Asti karena dia telah membunuh anaknya yang berbentuk cacing alasannya ditolak ibu Asti karena berarti dia yang mencari gara-gara untuk mempersalahkan anknya. Oleh karena alasannya tidak diterima si jin mengganti alasannya dengan sebab kematian Patrick.

    “ Patrick telah mati disebabkan oleh Asti dan saya tinggal sendirian.” Katanya berulang kali. Perdebatan antara dia dengan ibu Asti berlangsung a lot dank eras, masing-masing tak mau kalah.

    Seperti halnya ketika menghadapi jin Aminah pada tanggal 20 Juni yang lalu, jin yang terkurung di tubuh Asti kali ini saya ajak masuk Islam. Mula-mula saya berikan kepadanya Al Kitab tetapi dia melemparkannya, saya berikan kepadanya Injil Perjanijian Baru, dia mencium dan memeluk kitab tersebut dengan gembira. Ketika saya mendekatkan Al Quran ke wajahnya (si sakit) dia berteriak kesakitan dan saya berkata, “Kitab ini datang nya dari Allah sedangkan kitabmu itu adalah bikinan manusia. Al Quran ini aslinya tertulis di Luh Mhfuz dan dikawal oleh para malaikat, yang kami sebut Khadamnya Al Quran. Barang siapa umat Islam membaca Al Quran Khadam-Khadam Al Quran itu ditundukkan Allah kepadanya dan akan melindunginya dari segala bahaya dengan izin Nya. Anak ini atau kami tidak pernah membunuh Patrickmu, yang kami lakukan hanya membaca Al Quran dan berdoa, Ya Allah kami hadiahkan pahala bacaan Al Quran ini kepada Patrick, berilah dia hidayah Islam dan masukkanlah jin-jin pengikutnya sebagai jin muslim. Itu doa kami, tetapi lantaran Patrickmu berniat jahat, mungkin dia telah diserang oleh khadam Al Quran yang kami baca sehingga di mati. Sekarang kamu boleh memilih mau sengsara atau selamat. Kalau ingin selamat masuklah ke dalam agama Islam! Bagaimana mau ndak?”

    “Tidaaak!” teriaknya keras.” Patrick sudah mati dan saya tinggal sendirian!” lanjutnya.

    “Kalau begitu sebelum mati kamu harus disiksa dulu. Aminah siksalah dia!”kata saya.

    Kelihatan si sakit seperti di cekik orang, air liurnya menyembur keluar dan dia menggerintang-gerintang. Rupanya jin Aminah yang setia mendampingi kami memang benar-benar melakukan apa yang saya katakan. Namun jin yang berada dalam tubuh si sakit tak mau menyerah dan menantang agar saya membunuhnya.

    “Baiklah, saya mohon izin dulu kepada Tuhanku sebelum membunuhmu,” kataku berdiri untuk sholat istikharah dua rakaat. Selama saya sholat Ides ibu si sakit terus membujuknya, sambil berkata,”Kami sayang padamu, kalau kamu mati maka kamu sengsara dan di akhirat masuk neraka. Cobalah kamu tiru Aminah dia sudah aman bahkan mendapat ilmu dan telah kami beri senjata untuk menghadapi musuh-musuhnya. Sesudah sholat saya hampiri dia lagi dan meminta pendapatnya untuk masuk Islam, tetapi dia tetap menolak sampai akhirnya waktu sholat zuhur masuk dan saya sholat zuhur di ruang depan, tetapi dapat dilihat olehnya, sementara ibu Asti membujuknya agar masuk Islam dan saya menganjurkan agar dia memikirkan masak-masak. Tetapi si sakit yang dikuasai jin menolak dan mengancam kakeknya,”Lepaskan! Nanti cucumu ini akan sakit, yaitu sakit yang tak ada obatnya!”

    “Biarlah, kami ada dokter,”jawab kakeknya karena dia tahu yang bicara itu bukan Asti cucunya, melainkan jinyang menguasainya. Tadi kamu mengatakan tidak takut dengan Pak Ibun, tetapi sekarang kamu tak berani menatap wajahnya. Ayo, tunjukkan keberanianmu”.

    Jin tidak menjawab dan kakek Asti serta ibunya mendesak mengapa dia tak berani menatap wajah saya. Jin menjawab sambil menghardik,”mata saya serasa ditusuk-tusuk karena cahaya!”

    “Kepada kami mengapa kamu tidak takut, apa tak ada cahaya di wajah kami?”Tanya kakek Asti.

    “Ada sedikit”, jawab jin yang dalam tubuh cucunya.

    Selama saya sholat si sakit melihat dan memperhatikan saya sambil berbisik dan mengangguk-angguk seakan-akan sedang berdialog dengan seseorang. Ides ibunya Asti menduga bahwa jin Aminah telah memberikan pengertian kepadnya tentang Islam dan dia mengangguk-angguk mendengarkannya, dan baru saja saya selesai sholat Ides memanggil saya,”Pak, dia mau masuk Islam.”Saya bergegas mendekati si sakit, seraya berkata,”Betulkah kamu mau masuk agama Islam?”Jin menjawab,”Ya!”

    “Ikutilah kata-kata saya,” kataku melanjutkan. Kemudian saya tuntun dia membaca dua kalimat syahadat dan kemudian saya terangkan pokok-pokok ajaran Islam sesuai kemampuan saya.

    Kemudian saya bertanya, Nama siapa?”

    Jin :”kuntilanak.”

    Saya :” itu bukan nama ! Sekarang kamu saya beri nama Abdul Aziz, maukah

    kamu ?”

    Jin :”Mau.”

    Saya :”Berapa tahun umurmu?”

    Jin :”Sembilan ratus tahun.”

    Saya :”Kalau begitu bagaimana saya memanggilmu, bapak atau kakak?”

    Jin :”Kakak.”

    Saya :”Kakak atau abang, sebab kalu di alam jin saya sudah berumur tujuh ratus

    sepuluh tahun tetapi di alam manusia baru berumur tujuh puluh satu

    tahun.”

    Kemudian si sakit saya suruh duduk dan mempersilahkan jin yang berada dalam tubuhnya untuk menyampaikan sesuatu. Dia berkata,”Keluarlah! Kalu terlalu lama anak ini bisa rusak.”Perkataan itu pasti bukan dari si sakit (Asti) tetapi mungkin dari jin Abdul Aziz atau juga dari jin aminah selalu mendampingi kami tetapi kami tidak dapat melihatnya. Anak tersebut dibawa ke ruang depan dan jin yang terkurung dalam tubuhnya yang sekarang sudah masuk Islam dengan nama Abdul Aziz, saya persilahkan keluar.

    Dengan iringan dua kalimat syahadat, sambil tangan saya melayang diatas tubuhnya, si sakit menganggkat kaki kirinya dan pelan-pelan jatuh kelantai. Itu suatu tanda bahwa jin yang dalam tubunya sudah keluar.

    g. Hari Senin, 19 Juli 2010, Asti kesurupan lagi di sekolahnya. Menurut keterangan teman-temannya dia berteriak-teriak dan kemudian pingsan. Setelah dia sadar diterangkannya bahwa jin Aminah sudah datang memberitahu kepadanya, bahwa yang datang sebentar tadi adalah jin Karin jahat yang sering berbuat onar dimana-mana. Dia telah dihadang oleh jin Abdul Aziz dan sekali pukul olehnya jin karin tersebut telah tewas.

    h. Hari Sabtu, 31 Juli 2010, sejak pagi Asti sudah dipengaruhi oleh jin-jin jahat sehingga dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya sejak berangkat sampai pulang sekolah. Yang diingatnya hanya pesan jin Aminah yang menyampaikan dia bahwa dia akan datang dan ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Sewaktu saya datang ke sekolahnya Asti telah pulang dan saya pergi kerumahnya dan menunggu sampai pukul 5.30 sore. Ketika itu hari hujan lebat dan ketika telah reda Asti berkata,” Nenek Aminah mau datang, Bu”.sebentar kemudian matanya redup dan tertidur. Kemudian dia duduk dan berkata, Assalamualaikum!”

    “Alaikumsalam,” jawab kami serentak.

    “Kak Aminah?”, Tanya saya.

    “Ya, Pak,” jawabnya.”Begini, Pak! Sihir yang ditanam Patrick dalam Asti belum sempurna habis, masih tinggal sedikit lagi. Itulah yang mengundang jin-jin jahat masuk ke dalam tubuhnya, tetapi setelah 40 hari kematian Patrick, sihir itu akan habis sendirinya. Setelah itu berilah inggu untuk dimakan Asti.”

    “Ya, ya, saya juga sudah berfikir begitu,” jawab saya. Aminah berkata lagi,”Pak! Pak Abdul Aziz berpesan, dia mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan semuanya karena telah menyelamatkannya dan memasukkannya ke dalam Islam.”

    Saya :”Ya, ya! Kak Abdul Aziz dulu berjanji akan membawa anak cucunya masuk

    Islam. Apa berhasil?”

    Aminah:” Ya, Pak.”

    Saya :” Berapa orang kira-kira yang telah masuk Islam termasuk keluarga kak Aminah,

    sampaikah seratus orang?”

    Aminah:” Lebih, Pak!”

    Saya :” Alhamdulillah. Ya Allah rahmatilah mereka, masukkanlah mereka ke dalam

    golongan hamba-hamba Mu yang saleh dan masukkanlah mereka kelah kedalam

    surga.”(Saya menangis karena terharu).

    Aminah:” Amin ! Tak boleh mengis Pak.”

    Beberpa saat kemudian jin Aminah pamit dan setelah mengucapkan Assalamualaikum dia pergi meninggalkan tubuh pasiensaya dan tak lama kemudian Asti sadar.

    i. hari Senin, 2 agustus 2010. kira-kira pukul 9.00 pagi Asti kesurupan lagi di sekolahnya. Ketika saya sampai disana saya dapati ayahnya sudah disitu dan menyampaikan bahwa Asti sudah sadar dan jin Aminah berpesan melalui Asti bahwa akan ada jin jahat mengganggu Asti antara jam 11.00 dan 12.00 siang. Berdasarkan informasi jin Aminah tersebut kami berjaga-jaga di sekitar sekolah.

    Setelah menunggu agak lama ternyata informasi jin Aminah memang benar. Kira-kira pukul 11.30 di saat pelajaran Agama asti berteriak-teriak dan memaki-maki dengan histeris sehingga guru agama dan ayahnya yang segera dating kewalahan memegangnya. Ketika teman-temannya membaca ayat kursi dia berteriak,”Tidak, tidaaak, sakiiiiit1” Saya menghampiri si sakit dan berkata,”Lihat lah saya !” Asti yang dirasuki jin menjawab,” Tidaaak, serasa ditusuk mata saya.”

    Kemudian saya melanjutkan pertanyaan :

    Saya : Siapa namamu?”

    Jin : Sundel Bolong.”

    Saya : Laki-laki atau perempuan.?”

    Jin : Perempuan

    Saya : Berapa umurmu?”

    Jin : 1300 tahun.”

    Saya : agamamu apa?”

    Jin diam dan berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah saya ajak masuk Islam setelah menerangkan kehebatan dan kebenaran Al Quran, tetapi semua anjuran saya ditolaknya, maka saya berkata :

    “ Kak Aminah, Kak Abdul Aziz ! Siksalah dia!”

    Anak yang dirasuki jin tersebut terlihat seperti benar-benar disiksa orang, matanya terbelalak, dia menggerintang-gerintang. Rupanya jin Aminah serta kawan-kawannya benar-benar melakukan anjuran saya. Kemudian saya berkata,” Coba kamu lihat, siapa yang di samping saya. Tahu kamu? Siapa itu?”

    Jin yang merasuki Asti menjawab,” Haji Burhan.”

    Saya : Bagaimana kalau dia saya suruh menyiksamu.”

    Jin : Tidaaak, jangan Pak !”

    Saya : Kak Aminah, Kak Abdul Aziz ! Berilah dia pengertian tentang Islam!”

    Kemudian saya pergi berwuduk dan solat dua rakaat tidak jauh dari si sakit. Mereka yang hadir melihat Asti yang dikuasai jin mengangguk-angguk, berbisik-bisik seakan –akan sedang berbicara dengan seseorang. Ini berarti bahwa Aminah dan kawan-kawannya yaitu jin-jin yang telah masuk Islam sebelumnya telah berusaha memberi pengertian tentang Islam kepada jin yang terkurung dalam tubuh Asti. Selesai solat saya diberi tahu oleh ayah Asti bahwa si jin telah bersedia masuk Islam bahkan telah dituntunnya membaca kalimah syahadat, walaupun demikian saya ulangi kembali prosesi pengislamannya, saya tutup dengan doa, yang isinya mendoakan agar si jin mendapat ampunan dan rahmat dari Allh dan sebelumnya dia saya beri nama” Fatimah”

    Fatimah merasa dirinya telah saya selamatkan dan sangat senang dengan keislamannya, sehingga pada pukul sembilan malam itu juga saya menerima pesan dari jin Aminah melalui Asti, bahwa Jin Fatimah berterima kasih kepada saya karena telah menyelamatkannya dengan membawa masuk Islam. Jin Aminah juga menyampaikan bahwa besok siang akan ada jin jahat yang akan mengganggu Asti dan mengharapkan agar saya datang untuk merukyahnya.

    j. Pagi-pagi hari Selasa tanggal 3 Agustus adalah hari ke empat puluh kematian penyihir Patrick dan sesuai dengan informasi dari jin Aminah, bahwa hari ke empatpuluh adalah hari terakhir kekuatan sihir yang ditanamnya dalam tubuh Asti; rupanya dimanfaatkan oleh jin-jin jahat dari seantero nusantara, ini terbukti dengan merasuknya seorang jin dari Thailand yang berumur 1.800 tahun ke tubuh Asti.

    Berdasarkan informasi dari jin Aminah, sejak pagi hari saya dan orang tua Asti telah bearada di sekitar sekolahnya guna berjaga-jaga atas segala kemungkinan dan kira-kira pukul 10.30 handphone saya berbunyi karena panggilan dari orang tua anak itu.

    Saya dapati Asti berteriak-teriak,” Ini Asti, Ini Asti, lepaskan,” Anak itu beristigfar dan membaca ayat-ayat Al Quran dan ketika melihat saya dia berkata,” Tuk ini Asti.”

    Rupanya Asti belum benar-benar kesurupan tetapi telah ditanggap oleh orang tua dan teman-temannya. Kemudian anak itu dibawa ke kantor sekolah oleh orang tuanya dan tidak berapa lama kemudian jin Aminah datang menyurup ketubuh Asti dan mengatakan bahwa Asti harus di bawa ke Musalla untuk di rukyah karena sebentar lagi jin-jin jahat akan datang. Anak itu dibawa ke musalla dan tak berapa lama kemudian jin Aminah datang lagi dan memberi tahu lewat mulut si sakit bahwa jin-jin jahat tak berani datang jika Asti di musalla dan hendaknya untuk menjebak jin tersebut, si sakit dibawa keluar. Setelah saya serta guru-gurunya Asti menunggu agak lama; barulah sekitar pukul 11.30 siang tamu yang tak di sukai itu datang.

    Dia dibopong oleh ayahnya dan ditidurkan di tengah-tengah musalla sembari dia berteriak-teriak dan memaki orang sekitarnya. Ketika saya mendekat, saya dihardiknya,” Mengapa kamu kemari ! Mengganggu saya. Ayo pergi !” hardiknya dengan mata galak.

    Seperti halnya ketika menghadapi jin-jin penyurup yang telah berhasil saya Islamkan, kepada jin yang terkurung dalam tubuh Asti saat itu saya ceramahi dengan terlebih dahulu memperlihatkan Kitab Injil Perjanjian Baru. Si sakit yang dikuasai jin tertawa dan memegang kitab tersebut dengan gembira. Tahulah saya bahwa dia adalah jin Kristen dan ketika saya dekatkan Al Quran ke wajahnya dia berteriak kesakitan dan kepanasan. Anehnya, saya menerangkan kebenaran agama Islam tetapi dia melihat kea rah lain dan ketika ibunya ikut bicara, dia mengahardik,” Diam kau!”

    Saya paham bahwa jin yang dalam tubuh Asti sedang mendengar ceramah dari teman-temannya yang telah lebih dahulu masuk Islam. Dia tersenyum, mengangguk-angguk dan kemudian memandang kearah saya. Saya agak heran, karena sebelumnya jin-jin penyurup ke tubuh Asti tak berani menatap wajah saya sebelum dia bersyahadat terlebih dahulu tetapi yang satu ini berani menatap saya dan bahkan menggertak saya menyuruh pergi. Beberapa saat berlalu dan kemudian ibunya menawarkan agar masuk Islam. Asti mengangguk sebagai tanda bahwa jin yang menguasainya telah bersedia masuk Islam.

    Setelah jin yang terkurung dalam tubuh Asti saya tuntun mengucapkan kalimat syahadat dia saya beri nama “ Siti Azizah.”kepadanya saya berpesan agar membawa anak cucunya masuk Islam dan dia menyetujuinya; kemudian saya pesankan juga kepada jin-jin yang lain yang pasti hadir pada saat itu, agar mulai hari itu, hari keempat puluh matinya penyihir Patrick, tidak ada lagi acara pengislaman syetan dan akan langsung dikutuk dengan Al Quran.

    Berdasarkan pengalaman saya ketika mengislamkan jin Aminah tanggal 20 Juni 2010, maka kepada setiap jin yang bersyahadat setelah dirukyah dengan ayat-ayat Al Quran, perlu diobati dengan meminumkan air yang telah dirukyah untuk membunuh jin itu sendiri. Mengapa? Ketika kita membaca Al Quran dengan niat mengusur jin yang terkurung dalam tubuh seseorang maka jin tersebut luka-luka terbakar, tetapi manakala dia bersyahadat air itu akan menjadi obat dan penyembuh baginya seperti yang dimaksud oleh Al Quranul Karim surat Bani Israil ayat 82.

    Demikianlah juga halnya dengan jin Siti Azizah yang baru bersyahadat saya suruh minum air yang telah dirukyah dengan persetujuannya sendiri, tiba-tiba sedang minum pandangannya melotot ke depan dan menyembur dengan air kearah teman-teman Asti. Teman-teman Asti kaget dan segera menghindar, disangka mereka Asti yang tengah disurupi jin marah kepada mereka. Sebenarnya si jin marah kepada teman-temannya yang masih kafir yang memperolok-olokannya karena masulk Islam. Menurut perkiraan saya ada jin yang memperolok-olokan yang terbakar karena semburan air dari Siti Azizah. Patut juga saya catat, bahwa sebelum minum jin Siti Azizah yang katanya sudah merumur 1.800 tahun dan berasal dari Thailand, saya Tanya apakah tubuhnya sakit setelah dirukyah. Dia menjawab” Ya.” Dan setelah diminumkan air yang dirukyah dia mengatakan tidak ada lagi badanya yang sakit. Subhanallah. Benar Allah dengan segala Firman Nya.

    Kemudian saya persilahkan dia ke luar dan dengan iringan kalimah syahadat jin Siti Azizah meninggalkan tubuh Asti.

    Hanya kira-kira dua-atau tiga menit berlalu, saya menerima pesan dari jin Siti Azizah melalui lisan Asti yang disampaikan oleh jin Aminah bahwa dia berterima kasih kepada saya karena telah menyelamatkannya dan membawanya masuk agama Islam. Jin Aminah juga menyampaikan bahwa jin Siti Azizah telah berhasil mengislamkan tiga puluh orang pengiringnya di tempat itu juga dan sekarang sedang sibuk mengumpulkan anak-cucunya yang tersebar dari Thailand sampai ke Papua yang jumlahnya kira-kira enamratus orang dan sesuai dengan janjinya, dia akan mengislamkan mereka semua.

    Jin Aminah juga memberi tahu bahwa ada sekelompok jin jahat yang berencana mengganggu pelajar sekolah Asti ini dan dia menganjurkan agar ditaburkan garam di sekeliling sekolah, hal itu dilaksanakan oleh ibunya Asti dan sebelum keluar dari tubuh Asti jin Aminah menyampaikan bahwa dia serta teman-temannya akan memelihara semua yang belajar di sekolah Asti ini. Teman-tem,an Asti yang hadir mendampinginya selam kesurupan serentak menjawab,”Amiiin !”

    k. Hari Rabu, 4 agustus 2010 adalah kabar gembira yang disampaikan oleh jin Aminah. Pagi-pagi kira-kira pukul 6.00 Asti menelepon saya dan mengatakan bahwa jin Aminah memberi tahu tentang sihir jahat yang di dalam tubuh Asti telah hilang seluruhnya dan jin-jin jahat yang bermaksud mengganggu, berbalik melarikan diri.

    Dengan berita dari jin Aminah tersebut kegundahan dan kekhawatiran orang tua Asti berakhirlah sudah dan jerih payah saya membatu penyembuhannyan tidaklah sia-sia.

    Alhamdulillah Rabbil Alamin dan terima kasih jin Aminah yang dengan setia mendampingi dan membantu kami dalam mengobati Asti dan dalam usaha dakwah di golongan jin sehingga dengan mudah mereka diajak masuk Islam. Semoga Allah merahmati kita semua dan dipertemukannya di lain kesempatan. Amin !

    http://metafisis.wordpress.com/2011/10/06/pengalaman-spiritual-menghadapi-jin-sihir/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s