KETIKA INDUK BINATANG BERBICARA TENTANG CINTA (AMAZING!!! -FULL PICS-)

dicopy dari: http://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/20/ketika-induk-binatang-berbicara-tentang-cinta-amazing-full-pics/

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan ditahan disisi-Nya untuk dibagikannya kelak di hari akhirat, sedangkan yang satu bagian diturunkan-Nya ke bumi untuk dibagi kepa da seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Dengan rahmat yang satu bagian itu seluruh makhluk saling menyayangi sampai-sampai engkau melihat seekor induk binatang mengangkat kakinya karena khawatir anaknya terinjak olehnya.” (HR Mutafaqun Alaihi)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam berpergian dan Rasulullah sedang pergi berhajat, kami melihat seekor burung yang mempunyai dua anak, maka kami ambil kedua anaknya kemudian datanglah induknya terbang diatas kami, maka datang Nabi shalallahu alaihi wasallam dan bersabda: “Siapakah yang menyusahkan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan kepadanya anaknya.” (HR: Abu Dawud).

 

Dari Amir Ar-Raam, Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami, kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepalanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.

Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”

Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.

“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kepada para sahabat yang ada waktu itu.

“Benar, ya Rasulullah” jawab para sahabat.

“Ketahuilah,” kata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba- Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”

“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.

Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”

Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”

Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264)

INDUK KERA MENYELAMATKAN ANAKNYA DARI SERANGAN ANJING

INDUK AYAM MENYELAMATKAN ANAKNYA DARI SERANGAN ANJING

INDUK TUPAI MENYELAMATKAN ANAKNYA DARI SERANGAN ANJING

INDUK SINGA MENYELAMATKAN ANAKNYA YANG JATUH KE JURANG

INDUK GAJAH MENYELAMATKAN ANAKNYA DARI TERKAMAN BUAYA

MENYELAMATKAN INDUK DAN BAYI GAJAH DARI LUMPUR

Kisah Abu Abdillah Al-Qalanisi dengan Seekor Gajah

Dalam sebuah perjalanan Abu Abdillah Al-Qalanisi dengan mengendarai perahu, tiba-tiba angin kencang menggoncangkan perahu yang ditumpanginya. Seluruh penumpang berdoa dengan khusyuk demi keselamatan mereka dan mereka mengucapkan sebuah nazar.

Para penumpang berkata kepada Abu Abdillah, “Masing-masing kami telah berjanji kepada Allah dan bernazar agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernazar dan bersumpah kepada Allah.” Dia menjawab, “Aku ini orang yang tidak peduli dengan dunia, aku tidak perlu bernazar.”

Tetapi mereka memaksaku. Lalu aku bersumpah, “Demi Allah, sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku maka aku tidak akan makan daging gajah.”

Mereka bertanya, “Apakah boleh bernazar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah?” Aku menjawab, “Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu.”

Benar, tidak lama kemudian kapal itu pecah. Para penumpang terdampar di sebuah pantai. Berhari-hari kami berada di pantai tersebut tanpa makan sesuatu pun.

Ketika kami sedang duduk beristirahat, ada anak gajah lewat di depan kami. Mereka menangkap anak gajah tersebut, menyembelih lalu memakannya. Mereka menawariku makan seperti mereka. Aku menjawab, “Aku telah bernazar dan bersumpah kepada Allah untuk tidak makan daging gajah.”

Mereka mengajukan alasan, bahwa aku dalam keadaan terpaksa, sehingga dibolehkan untuk membatalkannya. Aku menolak alasan mereka, aku tetap memenuhi sumpahku. Setelah makan, mereka merasa kenyang lalu tidur.

Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalanan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya .

Induk gajah itu pun sampai di tempat perisitirahatan kami. Aku memperhatikannya. Satu demi satu orang dia ciumi. Setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kaki atau tangannya sampai mati. Kini mereka semua telah mati.

Tiba saatnya induk gajah mendekatiku, ia menciumku tapi tidak mendapatkan bau daging anaknya pada diriku. Lalu ia menggerakkan tubuh bagian belakangnya, ia memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.

Dari gerakan tubuh gajah itu aku mengerti bahwa ia menghendaki agar aku menungganginya. Lalu aku naik, duduk dia atasnya. Ia memberi isyarat agar aku duduk dengan tenang di atas punggungnya yang empuk. Ia membawaku berlari kencang, sehingga malam itu juga tiba ku di sebuah perkebunan yang banyak pepohonan. Ia memberi isyarat agar aku turun dengan bantuan kakinya, maka aku pun turun. Kemudian ia berlari lebih kencang daripada larinya saat ia membawaku tadi.

Di pagi hari, aku menyaksikan di sekelilingku terdapat hamparan sawah, perkebunan, dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut membawaku ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintaku berbicara. Kemudian, aku ceritakan tentang diriku dan kejadian yang dialami sekelompok orang dan rombongan dalam perahuku.

Juru bicara itu bertanya kepadaku, “Tahukah kamu berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah itu?” Aku jawab, “Tidak tahu!” Ia menjawab, “Sejauh perjalanan selama 8 hari! Sementara gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam.”

Selanjutnya, aku diperkenankan tinggal bersama mereka di desa tersebut sehingga aku mendapat pekerjaan. Setelah itu, aku pulang ke kampungku. (Al-Hilyah: 10/160. Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan ke-5, Shafar 1430/2009).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Tirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925).

BONUS:

SADIS!! MENCULIK ANAK DAN MEMBUNUHNYA DI HADAPAN IBUNYA!

Pada suatu pagi, Ibu bebek membawa anak2nya untuk berenang di danau yang sejuk.

Tiba-tiba datang seekor burung bangau besar, dan membuat keluarga itu takut bukan kepalang.

Karena panik, mereka tercerai berai dan satu anak terpisah jauh dan langsung ditangkap oleh sang bangau besar.

Ternyata si bangau memang datang untuk memangsa salah satu anak bebek dan dengan mudahnya ia mencengkeram si anak bebek yang kecil itu dengan paruhnya yang kuat.

Sang ibu bebek berusaha untuk menghalau si bangau dengan harapan anaknya akan dilepaskan.

Tapi apa dayanya…? Sang bangau memang terlalu besar dan kuat untuknya.

Ibu bebek tetap berusaha menghalau sang bangau, tapi tetap saja… ia tak berhasil.

Saat sang bangau terbang menjauh, si ibu bebek mengejarnya.. tetap dengan harapan yang mungkin sia-sia… agar ia dapat menyelamatkan anaknya.

Akhirnya sang bangau berhenti dengan si anak bebek tetap berada di paruhnya sambil melihat ke arah ibu bebek. Dengan jambul yang meninggi ia memberi tanda bahwa ia mulai marah dan tidak akan segan-segan menyerang si ibu bebek. Si ibu bebek memandangi sang bangau dengan pandangan memelas untuk meminta belas kasihan sang bangau karena ia tau bahwa melawan memang tak mungkin baginya.

Apa yang akhirnya dilakukan sang bangau…??? apakah ia akan melepaskan anak bebek itu demi rasa kasihan kepada sang ibu yang tengah memandangnya dengan pandangan memelas…???

Sang bangau…

kemudian…

melakukan…

hal…

yang …..

.

.

.

.

Sadis!!!!… Anak bebek itu akhirnya ditelan di hadapan ibunya…!!!

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

 

Baca juga:

BERUNTUNG IBU KITA TIDAK SEPERTI INI…

Referensi:

http://www.lintasberita.com

http://www.kaskus.us

http://merahitam.com

http://meauwpetshop.info

http://tradisi-jambi.blogspot.com

http://www.klikunic.com

http://kisahmuslim.com

http://gizanherbal.wordpress.com

3 thoughts on “KETIKA INDUK BINATANG BERBICARA TENTANG CINTA (AMAZING!!! -FULL PICS-)

  1. KETIKA AYAHMU MENJADI PENAKUT DAN PELIT

    Jangan engkau anggap ayahmu penakut & bakhil…
    Karena sebelum engkau diciptakan, ayahmu adalah seorang pemberani & dermawan, sedangkan saat itu dia belum dipanggil Abu fulan (bapaknya si fulan). Namun ketika engkau hadir di dunia ini, maka ia menjadi penakut karena mengkhawatirkanmu, dan ia menjadi lebih hemat demi memberikan sesuatu yang sempurna untukmu.
    Sementara engkau hanya melihat masa depanmu saja…

    Itulah kenapa Islam lebih gencar memberikan wasiat untuk anak2 agar berbakti kepada orangtua, daripada memberikan wasiat untuk orangtua agar berbuat baik kepada anak2nya.

    Bapak ana pernah cerita, tatkala ana masih kecil (balita), ana pernah sakit dengan demam yang sangat tinggi, sehingga bapak ana sangat sedih melihatnya. Dengan rasa kasih sayang seorang bapak ke anaknya, maka bapak ana berdoa agar sakitnya ana dipindahkan ke dirinya. Biarlah bapak ana yg sakit asalkan ana sehat dan tdk sakit.

    Sifat seperti itu tidak sanggup dimiliki oleh ana, bahkan setiap anak sekalipun. Hingga akhirnya barulah ana memiliki sifat seperti itu tatkala ana memiliki anak. Ana rasakan sifat yang sama, yg dimiliki oleh bapak, tatkala anak ana sakit, ingin rasanya sakit anak ana dipindahkan ke tubuh ana agar anak ana bisa kembali sehat.

    Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/26/ketika-ayahmu-menjadi-penakut-dan-pelit/

  2. INSYA ALLAH ADA JALAN

    Insya Allah ada jalan…

    Jika kita tidak mampu beramal dari pintu bersedekah karena kurangnya harta, maka carilah pintu lain yang dapat menambah keutamaan dan amalan kita.
    Jika kita tidak mampu banyak berpuasa karena tubuh yang lemah, maka carilah pintu2 yang lain.
    Jika kita tidak mampu berbakti kepada orangtua karena mereka sudah tiada, maka cari juga pintu yang lain.
    Jika kita mampu berjihad karena faktor kondisi, maka carilah pintu2 yang lain.
    Jika kita tidak mampu menuntut ilmu di pesantren atau ma’had, maka carilah pintu2 yang lain yang pintu2 itu dapat menjadikan kita memiliki keutamaan dan kelebihan dibanding mereka yang mampu.

    Seperti halnya Uwais al Qarniy, yang mana beliau tidak mampu untuk bertemu dengan Rasulullah, tidak mampu duduk di majelisnya Rasulullah dan menuntut ilmu langsung kepada Rasulullah, namun beliau bisa memiliki keutamaan dan kelebihan seperti halnya para shahabat Nabi yang selalu bertemu langsung dengan Rasulullah, duduk di majelisnya Rasulullah, dll, bahkan Rasulullah menyuruh Umar dan Ali untuk minta di doakan oleh Uwais. Dari mana Uwais bisa mendapatkan keutamaan seperti itu? Yaitu dari pintu Birrul Walidain (Berbakti kepada ibunya).

    Maka itu, jangan kita pesimis dalam beramal… Insya Allah ada jalan…

    Al Hafizh Ibnu Abdill Barr menyatakan dalam at Tamhid, “Inilah yang kutulis berdasarkan hafalanku sementara catatan aslinya hilang dariku, ‘Abdullah al Umari, seorang ahli ibadah, pernah menulis surat kepada Imam malik yang menganjurkan beliau agar menyepi dan beribadah. Maka Imam Malik membalas suratnya, “Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki. Terkadang seorang dibuka pintu hatinya untuk banyak shalat, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk shaum. Yang lainnya dibukakan pintu hatinya untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk banyak shaum. Ada juga orang yang dibukakan pintu hatinya untuk berjihad. Sementara menyebarkan ilmu adalah amal kebajikan yang paling utama, dan aku sudah merasa senang dengan dibukakannya pintu hatiku dalam hal itu. Saya tidak menganggap kebiasaan ini lebih rendah derajatnya daripada kebiasaanmu. Dan saya berharap agar masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan.”
    (Siyar A`lamin Nubala` : VIII/116, oleh Imam Adz Dzahabi).

    Dalam Shahih al Bukhari, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

    Tidak ada penyakit yang menular sendiri, dan tidak ada kesialan. Optimisme (yaitu) kata-kata yang baik membuatku kagum.[HR al Bukhari (10/181) dan Muslim (2224)]

    Al Hulaimi rahimahullah mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka dengan optimisme, karena pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah Azza wa Jalla tanpa alasan yang jelas. Optimisme diperintahkan dan merupakan wujud persangkaan yang baik. Seorang mukmin diperintahkan untuk berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi”. [Fathu al Bari (10/226).]

    Abu Fahd Negara Tauhid

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/26/insya-allah-ada-jalan/

  3. CERITA BAPAK TUA

    Bapak Tua Penjual Amplop Itu

    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

    Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

    Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

    Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    (Sumber: http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/)

    =====================

    Kakek Penjual Dawet

    Dan penjual dawet itupun memikul dagangannya dengan bahu kanan. Dia berjalan perlahan melewati pinggiran jalan raya yang penuh dengan truk dan mobil berkecepatan tinggi. Dia tergesa-gesa mengejar adzan jum’at berkumandang. Tinggal seratus meter lagi menuju masjid. Lelaki tua itu, lelaki tak kenal lelah. Memasuki pelataran masjid. Membasuh tubuhnya dengan air wudhu dan sesekali meminum air itu. “daripada minum dawet, lebih baik aku minum air masjid ini”, begitu mungkin pikirnya.

    Aku memandangnya dari jauh. Kulihat sesekali dia menoleh ke barang dagangannya. Takut ada yang mencuri mungkin. Maklumlah, modal yang dipakai pas-pasan. Jangan sampai dagangannya hilang atau rusak oleh ulah tangan jahil. Ketika adzan jum’at berkumandang. Dia memilih sholat di dekat dagangannya.

    Kasihan engkau kakek. Di umur senjamu, engkau masih harus bekerja keras sendiri. Dimana anak cucumu kek?

    Bahkan ketika sholat jum’at telah selesai. Sang kakek duduk di dekat dagangannya. Berharap ada satu atau dua jamaah yang menoleh dan membeli es dawetnya. Sayang beribu sayang. Mungkin jum’at ini bukan jum’at yang baik baginya. Tak satupun jamaah masjid membeli. Jangankan membeli, menolehpun tidak. Kakek itu hanya terpaku melihat satu per satu jamaah keluar dari halaman masjid.

    Peluh mulai membasahi tubuhnya. Bayangan akan lembaran uang lenyap bersamaan dengan sepinya masjid itu….

    Aku… yang sedari tadi duduk di halaman masjid, hanya diam tak bergerak. Kuamati sampai berapa lama sang kakek akan bertahan di pelataran masjid itu.

    Masjid mulai sepi. Hampir semua jamaah telah pulang. Yang tersisa hanyalah takmir masjid dan beberapa pengurus masjid yang sibuk menghitung uang hasil infak para jamaah. Sang kakek menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada lagi jamaah tersisa. Tinggal aku dan motor plat merahku. Akupun hanya terdiam. Ingin aku membeli es dawetnya. Tapi apa daya, satu-satunya uang sepuluh ribuan yang kubawa, telah kumasukkan ke dalam kotak infak masjid. Sementara pengurus masjid sibuk menghitung infak, sang kakek harus sibuk menggotong kembali barang dagangannya yang tak laku sama sekali.

    Sang kakek, dengan tatapan tegar. Kembali berjalan. Dia keluar dari pelataran masjid menuju ke arah utara, arah dimana rumah dinasku berada.

    Kupacu motorku cepat. Kudahului sang kakek, kutunggu dia di depan puskesmas.

    Dua puluh menit berlalu dan dari kejauhan, sang kakek akhirnya nampak. Kupanggil dia keras-keras.

    “Paaak!!! Paaakk!!!!”

    Dan sang kakek pun mendekat. Dia bertanya, “mau beli dawet ta nak?”

    “iya”, jawabku mantap.

    “berapaan pak satu gelasnya?”

    “seribu nak”, jawabnya jujur.

    “Masya Allah!!!! Dawet segelas dijual cuman seharga seribu!!! Kapan balik modalnya coba!!!!”, batinku

    “yasudah pak, sini masuk, saya mau beli”

    Sang kakek berjalan mengikutiku masuk ke ruang rawat inap para pasien.

    Singkat cerita. Aku membeli duapuluh gelas dawet untukku dan untuk para keluarga penunggu pasien.

    Sang kakek melayani permintaanku dengan senyum mengembang di wajahnya. Kulihat gentong berisi air dawetnya mulai berkurang setengah. Masih sisa setengah lagi.

    “sudah pak, berapa semuanya?”

    “duapuluh ribu nak”, katanya berkaca-kaca.

    “ini pak, bawa saja sisa kembaliannya”, kuserahkan lembaran limapuluh ribu ke tangan kakek itu.

    Dan sang kakek bertanya, ‘lho berarti sampeyan shodakoh ini ke saya?”

    “apalah kek itu namanya, intinya kembaliannya aku kasih buat kakek….”

    “ini namanya shodakoh nak. Matur nuwun nak. Kulo doakan semoga sampeyan lancar rejeki”

    “amin ya Allah”, jawabku singkat.

    Sang kakek pun kembali memikul dagangannya. Kali ini jalannya semakin cepat. Mungkin karena bahagia atau karena berat gentong dawetnya sudah berkurang setengah.

    Tak terasa air mata merembes di pelupuk mataku.

    ***

    Dan tahukah engkau teman. Keesokan harinya, uang limapuluh ribu itu, dikembalikan dengan cara yang sangat ajaib oleh Allah. Dia kembali ke tanganku bukan lagi sebesar limapuluh ribu, melainkan satu juta. Rejeki yang sangat tidak aku perhitungkan bakal kudapat minggu ini. Dan berkat itu, aku bisa menabung 2,5 juta untuk minggu ini. Sejuta lebih banyak dibanding minggu2 sebelumnya.

    Kakek….

    Terimakasih atas doamu…

    Sebenarnya bukan aku, melainkan engkau, yang memberi shodakoh.

    Doamu, adalah pembuka pintu rejeki untukku.

    Terimakasih banyak, kek….

    Jetis, 23 juli 2011

    Setelah sempat terlupa untuk mengucap syukur padaNYA

    (Sumber: http://alvast.multiply.com/journal/item/124)

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/23/cerita-bapak-tua/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s