TUNGGU AKU, UKHTI…

Dari Rajâ` bin ‘Umar an-Nakha’iy, dia berkata,
“Di Kufah ada seorang pemuda berparas tampan, sangat rajin beribadah dan sungguh-sungguh. Dia juga termasuk salah seorang Ahli Zuhud. Suatu ketika, dia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’ lalu –tanpa sengaja- matanya melihat seorang wanita muda mereka yang berparas elok nan rupawan. Ia pun tertarik dengannya dan akalnya melayang-layang karenanya. Rupanya, hal yang sama dialami si wanita tersebut. Pemuda ini kemudian mengirim utusan untuk melamar si wanita kepada ayahnya namun sang ayah memberitahukannya bahwa dia telah dijodohkan dengan anak pamannya (sepupunya). Kondisi ini membuat keduanya begitu tersiksa dan teriris.
Lalu si wanita mengirim utusan kepada si pemuda ahli ibadah tersebut berisi pesan, ‘Sudah sampai ke telingaku perihal kecintaanmu yang teramat dalam kepadaku dan cobaan ini begitu berat bagiku disertai liputan perasaanku terhadapmu. Jika berkenan, aku akan mengunjungimu atau aku permudah jalan bagimu untuk datang ke rumahku.’ Lantas dia berkata kepada utusannya itu, ‘Dua-duanya tidak akan aku lakukan. Dia kemudian membacakan firman-Nya, ‘Sesungguhnya aku takut siksaan pada hari yang agung jika berbuat maksiat kepada Rabbku.’ (Q.s.,az-Zumar:13) Aku takut api yang lidahnya tidak pernah padam dan jilatannya yang tak pernah diam.’

Tatkala si utusan kembali kepada wanita itu, dia lalu menyampaikan apa yang telah dikatakan pemuda tadi, lantas berkatalah si wanita,
‘Sekalipun yang aku lihat darinya dirinya demikian namun rupanya dia juga seorang yang amat zuhud, takut kepada Allah? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang merasa dirinya lebih berhak dengan hal ini (rasa takut kepada Allah) dari orang lain. Sesungguhnya para hamba dalam hal ini adalah sama.’

Kemudian dia meninggalkan gemerlap dunia, membuang semua hal yang terkait dengannya, mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu (untuk menampakkan kezuhudan) dan berkonsentari dalam ibadah. Sekalipun demikian, dia masih hanyut dan menjadi kurus kering karena cintanya terhadap si pemuda serta perasaan kasihan terhadapnya hingga akhirnya dia meninggal dunia karena memendam rasa rindu yang teramat sangat kepadanya.

Sang pemuda tampan pun sering berziarah ke kuburnya. Suatu malam, dia melihat si wanita dalam mimpi seolah dalam penampilan yang amat bagus, seraya berkata kepadanya, ‘Bagaimana kabarmu dan apa yang engkau temukan setelahku.?’ Si wanita menjawab,
Sebaik-baik cinta, adalah cintamu wahai kekasih
Cinta yang menggiring kepada kebaikan dan berbuat baik

Kemudian dia bertanya lagi, ‘Ke mana kamu akan berada.?’ Dia menjawab,
Ke kenikmatan dan hidup yang tiada habisnya
Di surga nan kekal, milik yang tak pernah punah

Dia berkata lagi kepadanya, ‘Ingat-ingatlah aku di sana karena aku tidak pernah melupakanmu.’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, akupun demikian. Aku telah memohon Rabbku, Mawla -ku dan kamu, lantas Dia menolongku atas hal itu dengan kesungguhan.’ Kemudian wanita itupun berpaling. Lantas aku berkata kepadanya, ‘Kapan aku bisa melihatmu.?’ Dia menjawab, ‘Engkau akan mendatangi kami dalam waktu dekat.’

Rupanya benar, pemuda itu tidak hidup lama lagi setelah mimpi itu, hanya tujuh malam. Dan, setelah itu, dia pun menyusul, berpulang ke rahmatullah. Semoga Allah merahmati keduanya.

(Sumber: al-Maw’id Jannât an-Na’îm karya Ibrâhîm bin ‘Abdullah al-Hâzimy, ha.14-15, sebagai yang dinukilnya dari bukunya yang lain berjudul Man Taraka Syai`an Lillâh ‘Awwadlahullâh Khairan Minhu. www.alsofwah.or.id)

http://gizanherbal.wordpress.com/2011/07/25/tunggu-aku-ukhti/


5 thoughts on “TUNGGU AKU, UKHTI…

  1. “Aih, Kenapa sih,… kok islam melarang pacaran??

    Begitu keluhan fulanah. Buat Fulanah ia melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari pacaran ini. Pacaran atau menurutnya ‘penjajakan’ antara dua insan lain jenis sebelum menikah sangat penting agar masing-masing pihak dapat mengetahui karakter satu sama lainnya (dan biasanya untuk memahami karakter pasangannya ada yang bertahun-tahun berpacaran lho!!). Fulanah menambahkan ,”Jadi dengan berpacaran kita akan lebih banyak belajar dan tahu, tanpa pacaran ?? Ibarat membeli kucing dalam karung!! Enggak deh…!”
    Kemudian ia menambahkan “Bila suka dan serius bisa diteruskan ke pelaminan bila tidak ya,..cukup sampai disini..bye-bye!!, Mudahkan?”

    Hmm… Fulanah tidakkah engkau melihat dampak buruk dari berpacaran ini, ketika masing-masing pihak memutuskan berpisah??…
    Fulanah apakah engkau yakin benar apabila “putus dari pacaran” hati ini tidak sakit? Benarkah hati ini bisa melupakan bekas-bekas dari pacaran itu? Tidakkah hati ini kecewa, pedih, atau ikut menangis bersama butiran air mata yang menetes??
    Sulit dibayangkan! Karena memang begitulah yang saya lihat didepan mata menyaksikan orang yang baru saja putus pacaran…

    Bila memang kita tanya semua wanita muslimah seusia Fulanah (yang sedang beranjak dewasa) maka akan melihat ‘pacaran’ ini dengan sejuta nilai positif. Jadi, jangan merasa aneh bila kita dapati mereka merasa malu dengan kawannya karena belum punya pacar!!..
    Duh,..kasihan sekali…

    Wahai ukhti muslimah… Mari kita tela’ah bersama dengan lebih dalam. Berdasarkan fakta yang ada, bila anda mau menengok sekilas ke surat kabar, tetangga sebelah atau lingkungan sekitar , siapa sebenarnya yang banyak menjadi korban ‘keganasan’ dari pacaran ini? Wanita bukan??.. Bila anda setuju dengan saya, Alhamdulillah berarti hati anda sedikit terbuka. Ya,… coba lihat akibat dari berpacaran ini. Awalnya memang hanya bertemu, ngobrol bareng, bersenda gurau, ketawa ketiwi, lalu setelah itu?? Tentu saja setan akan terus berperan aktif, dia baru akan meninggalkan keturunan Adam ini setelah terjerumus dalam dosa atau maksiat.

    Pernahkah anda mendengar teman atau tetangga ukhti hamil di luar nikah?
    Suatu klinik illegal untuk praktek aborsi penuh dengan kaum wanita yang ingin menggugurkan kandungannya?
    Karena sang pacar lari dengan langkah seribu atau tidak mau kedua orangtuanya tahu?
    Atau pernahkah engkau membaca berita ada seorang wanita belia yang nekat bunuh diri minum racun serangga karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya??
    Sadarkah kita, bahwa sebenarnya kaum hawalah yang banyak dieksploitasi dari ‘ajang pacaran ini?

    Sungguh, islam telah memuliakan wanita dan menghormati kedudukan mereka. Tidak percaya??lihat hadits ini..

    ”janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya” (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).

    Islam melarang laki-laki untuk berduaan tanpa ada orang ketiga karena islam tidak menginginkan terjadinya pelecehan ‘seksual’ terhadap wanita. Sehingga jadilah mereka wanita-wanita muslimah terhormat dan terjaga kesuciannya. Untuk kaum laki-laki pun islam melarang mereka menyentuh wanita yang bukan mahramnya coba simak hadits ini :

    “Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir).

    Nah, jelas bukan mengapa islam melarang pacaran??
    Bila memang seorang laki-laki ingin serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, maka islam telah menyediakan sarananya, yaitu menikah. Karena islam Bukanlah agama yang kaku, maka islam menganjurkan kepada masing-masing pihak untuk saling berkenalan (ta’aruf). Tentu saja tidak berduaan lho, …harus ada pihak ketiganya. Setelah itu? Ya,. selamat bertanya tentang biografi calon pasangan anda, apabila kurang jelas, masih kurang yakin..islam menganjurkan mereka untuk shalat istikharah agar di berikan pilihan yang mantap yang nantinya insya Allah akan berakibat baik bagi dunia dan akhirat kedua belah pihak. Setelah mantap dan yakin akan pilihannya..kuatkan azzam (tekad), dan Bismillah… menikah..!! Indah bukan??

    Dinukil dari : http://jilbab.or.id/archives/436-pacarankenapa-nggak-boleh-sih/. Penulis: ummu raihanah.

    http://gizanherbal.wordpress.com/daftar-isi/

  2. KISAH TELUR DAN TEMPE GOSONG

    Dua puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan
    indah berikut;

    Suatu malam, mama yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam mama selesai menghidangkan makan malam papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

    Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong !, saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.
    Kami menunggu dengan tegang apa reaksi papa yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

    Luar biasa ! Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum, dan bahkan berkata; ” mama terima kasih!”, dan papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah. Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang papa katakan:

    “Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong.”
    Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada papa, saya bertanya apakah papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong ?”

    Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata “Anakku, mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!”

    Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; “BELAJAR MENERIMA KESALAHAN ORANG LAIN, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi.

    Ingtlah emosi sesaat tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, dan selalulah berpikir dewasa mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasan sendiri!!! Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti tapi tidak mau mengerti. (sumber: http://hutantropis.com/cerita-telur-dan-tempe-yang-gosong )

    Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

    Syekh Muhammad Sholeh al-Utsaimin mengatakan, “Tha’am (yang sering diartikan dengan makanan) adalah segala sesuatu yang dinikmati rasanya, baik berupa makanan ataupun minuman. Sepantasnya jika kita diberi suguhan berupa makanan, hendaknya kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Allah berikan dengan mempermudah kita untuk mendapatkannya, bersyukur kepada Allah karena mendapatkan nikmat tersebut dan tidak mencelanya. Jika makanan tersebut enak dan terasa menggiurkan, maka hendaklah kita makan. Namun jika tidak demikian, maka tidak perlu kita makan dan kita tidak perlu mencelanya. Dalil mengenai hal ini adalah hadits dari Abu Hurairah. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya dan tidak mencela makanan tersebut. Misalnya ada orang yang diberi kurma dan kurma yang disuguhkan adalah kurma yang jelek, orang tersebut tidak boleh mengatakan kurma ini jelek. Bahkan kita katakan pada orang tersebut jika engkau suka silakan dimakan dan jika tidak suka, maka janganlah dimakan. Adapun mencela makanan yang merupakan nikmat Allah kepada kita dan hal yang Allah mudahkan untuk kita dapatkan, maka hal ini adalah hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Begitu juga jika ada orang yang membuat satu jenis makanan kemudian disuguhkan kepada kita. Namun ternyata makanan tersebut tidak kita sukai, maka kita tidak boleh mencelanya. Jika masakan ini kau sukai silakan dimakan, dan jika tidak, maka biarkan saja.” (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin Juz VII hal 209-210)

    Hadits dari Abu Hurairah di atas memuat beberapa kandungan pelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut:

    Setiap makanan yang mubah itu tidak pernah Nabi cela. Sedangkan makanan yang haram tentu Nabi mencela dan melarang untuk menyantapnya.
    Hadits di atas menunjukkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah seorang yang memperhatikan perasaan orang yang memasak makanan. Oleh karena itu, Nabi tidaklah mencela pekerjaan yang sudah mereka lakukan, tidak menyakiti perasaan dan tidak melakukan hal-hal yang menyedihkan mereka.
    Hadits di atas juga menunjukkan sopan santun. Boleh jadi suatu makanan tidak disukai oleh seseorang akan tetapi disukai oleh orang lain.
    Segala sesuatu yang diizinkan oleh syariat tidaklah mengandung cacat. Oleh karena itu tidak boleh dicela.
    Hadits di atas merupakan pelajaran yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan meninggalkan tanpa mencelanya. (Lihat Bahjatun Nazhirin Jilid III hal 55)

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/09/06/kisah-telur-dan-tempe-gosong/

  3. 150 CARA BERBAKTI KEPADA IBU

    1. Pilihlah hadiah yang cocok untuk setiap moment yang tepat, seperti di hari raya, pada saat pernikahan putra-putrinya, ketika pulang dari safar, ketika sembuh dari penyakit, dll.

    2. Membuatkan rekening khusus di Bank atas nama ibu, kemudian anak-anak dapat bekerjasama untuk mentransfer uang ke rekening tersebut setiap bulan agar segala kebutuhan ibu dapat terpenuhi.

    3. Memahami kondisi kehidupan ibu, kemudian memperlakukan ibu dengan perlakuan yang sesuai dengan kondisi saat itu.

    4. Berhati-hati dalam memilih kalimat-kalimat yang akan dikatakan di hadapan ibu.

    5. Berusahalah sekuat tenaga agar ibu menjadi orang terakhir yang anda berpamitan kepadanya jika akan bepergian. Jadikanlah ia orang terakhir yang anda lihat sebelum berangkat. Berpamitanlah kepadanya dengan langsung berhadapan muka.

    6. Pastikan bahwa ia adalah orang pertama yang anda datangi jika pulang dari bepergian. Ucapkan salam kepadanya, duduklah bersamanya, dan hiburlah ia. Sebelumnya, beritahukan rencana kepulangan dan kedatangan anda, sehingga ia tidak kaget. Dan jangan menunda-nunda untuk menemuinya, atau anda beranggapan bahwa waktunya belum tepat untuk mengunjunginya.

    7. Selama dalam perjalanan, berusahalah untuk selalu berkomunikasi dengannya setiap hari, sekalipun hanya sesaat dalam waktu singkat.

    8. Berusaha keraslah untuk menjumpainya setiap hari jika anda satu kota dengannya, Janganlah kesibukan dunia menjauhkan anda darinya, dan dari beramah tamah dengannya.

    9. Jika ibu tidak satu kota dengan anda, maka hendaklah anda selalu berkomunikasi dengannya setiap hari.

    10. Hendaknya anda mendekatkan diri dan berkasih sayang dengan siapa pun yang ia cintai.

    11. Kecuplah keningnya atau tangannya atau kakinya ketika berjumpa dengannya.

    12. Ajarilah anak-anak anda tentang tingginya kedudukan ibu anda (yakni nenek mereka). Ajarkanlah itu dengan perkataan dan perbuatan anda.

    13. Berusaha keras untuk memenuhi tuntutannya, dan berusaha keras untuk memenuhi keinginan-keinginan tepat pada waktunya.

    14. Janganlah anda berjanji kepadanya kemudian tidak menepatinya.

    15. Sandarkanlah segala kesuksesan dalam hidup anda kepada Allah, kemudian katakanlah bahwa hal itu berkat didikan dari ibu anda.

    16. Janganlah anda membantahnya, sekalipun anda benar. Akan tetapi gunakanlah cara yang ringan untuk mengemukakan pendapat anda, itupun jika dalam hal itu terkandung suatu manfaat.

    17. Jangan menyepelekan pendapatnya di hadapan orang lain atau di hadapan saudara-saudara anda.

    18. Janganlah ketidaktahuannya terhadap sebagian urusan kehidupan menyebabkan anda kurang menghargainya atau meremehkannya.

    19. Janganlah anda tertawa terbahak-bahak di hadapannya, atau mengeraskan suara di sisinya, atau memandang dengan pandangan yang tajam di hadapannya, atau dengan pandangan kebencian, atau dengan bermuka masam di depannya.

    20. Pastikan bahwa ibu menjadi orang pertama yang mendengar setiap berita gembira dalam hidup anda.

    21. Jaga dan peliharalah kesehatannya.

    22. Buatlah jadwal bulanan untuk medical check up lengkap, untuk memastikan kesehatannya yang membuatnya tenang.

    23. Penuhilah kebutuhan-kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya.

    24. Ketika ia sakit dan ia merasa kesakitan, maka rasakan pula kesakitannya oleh anda. Jika ia kembali sehat, maka tampakkan kegembiraan anda. Lakukanlah ruqyah terus-menerus oleh anda.

    25. Tenangkanlah ia ketika sakit. Katakan bahwa ia akan sehat seperti sedia kala, Insya Allah. Dan jangan beritahukan tentang dampak buruk apa pun dari penyakitnya.

    26. Datangkanlah dokter-dokter spesialis ke tempat tinggalnya.

    27. Tolonglah ibu dalam bersilaturrahim kepada kaum kerabatnya. Bawalah ia untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya serta sanak saudaranya yang dekat di hatinya.

    28. Sediakan kotak khusus untuk ibu, yang selalu diisi dengan berbagai macam biscuit, makanan yang manis-manis, mainan-mainan, dan hadiah-hadiah kecil. Tujuannya agar ibu dapat memberikannya kepada cucu-cucunya ketika mereka mengunjunginya.

    29. Ketika ibu mengadakan safar atau bepergian jauh, maka usahakanlah untuk selalu menghubunginya.

    30. Janganlah anda mengungkapkan kesedihan yang memilukan kepadanya. Jangan pula mengeluhkan rasa sakit kepadanya, karena akan membuat ia sedih.

    31. Janganlah anda membicarakan kesulitan rumah tangga dihadapannya, karena urusan itu akan membuatnya sedih.

    32. Janganlah anda sering memuji isteri anda sendiri di hadapannya.

    33. Demikian pula, janganlah anda ceritakan setiap hubungan anda dengan ibu anda kepada isteri anda. Pereratlah hubungan diantara isteri dan ibu.

    34. Jauhilah dari menghakimi permasalahan rumah tangga yang timbul antara ibu dan ayah.

    35. Jangan mengkritik pakaiannya, penampilannya, pilihannya, suasana hatinya, atau gaya bicaranya, atau cara menangani sesuatu. Carilah jalan untuk mengingatkannya dengan cara yang tidak melukai sehingga hatinya sakit.

    36. Jalinlah hubungan anda bersama saudara-saudara anda dengan kuat, meskipun diantara anda dan saudara anda terdapat masalah, namun jangan anda menampakkannya di hadapan ibu.

    37. Bagaimanapun keadaan rumah tangga kedua orangtua anda, maka janganlah anda mendukung ayah anda untuk menikah lagi. Jika anda terpaksa melakukannya untuk mendukung ayah anda menikah lagi, maka jangan sampai ibu anda mengetahuinya.

    38. Ajarilah ibu perkara-perkara agama dengan bijaksana dan nasehat yang baik.

    39. Janganlah anda menghalanginya untuk menghadiri majelis-majelis ilmu.

    40. Bersemangatlah beramal ketika ibu sedang menunaikan ketaatan atau beribadah, seperti ketika sedang pergi haji.

    41. Ajukanlah permohonan maafmu untuk saudara-saudaramu yang melakukan kesalahan.

    42. Janganlah anda membesar-besarkan kesalahan orang lain di hadapan ibu.

    43. Janganlah anda membuatnya terkejut dengan kabar berita yang menyedihkan atau bencana yang tiba-tiba, tanpa membuat ibu anda siap untuk mendengarnya.

    44. Wanita, tanpa memandang usia, dia akan merindukan kata-kata yang emosional dan romantis. Maka jangan halangi mereka dari mendengar kata-kata puitis yang segar dari suara anda yang manis.

    45. Jangan anda katakan bahwa ia telah tua, dan jangan anda katakan bahwa ia kini tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya, akan tetapi berilah semangat kepadanya.

    46. Janganlah anda mencegah ibu dari menggunakan apa pun yang disukai wanita.

    47. Jika ayah memiliki isteri-isteri yang lain selain ibu, maka janganlah anda memuji mereka di hadapan ibu, dan janganlah anda cenderung membela mereka dan mengorbankan ibu.

    48. Janganlah anda banyak memuji hasil didikan orang lain di depan ibu anda. jangan pula berangan-angan ingin menjadi seperti mereka, atau ingin mencapai derajat seperti mereka.

    49. Ketika ibu berbicara, pasanglah pendengaran anda, juga penglihatan dan hati anda.

    50. Datangilah ibu anda selalu dengan senyum.

    51. Ceritakanlah kejadian-kejadian dunia di sekitarnya.

    52. Pujilah didikannya selamanya, berterima kasihlah atas segala pemberiannya, dan perbanyaklah menyebutkan jasa-jasanya disertai ucapan terima kasih.

    53. Sampaikanlah bahwa obsesi terbesar dalam hidup anda adalah agar ibu anda hidup bahagia.

    54. Berbuat baik kepada ayah dari ibu jika masih hidup.

    55. Wakaflah atas nama ibu untuk menambah kebaikannya.

    56. Ketika ibu menyebutkan kepada anda sebagian dari angan-angannya, atau sesuatu yang berkaitan dengannya, maka janganlah anda menunggu beliau memintanya kepada anda. Akan tetapi bersegeralah anda untuk memenuhi dan mewujudkan angan-angannya itu sesuai dengan kemampuan anda.

    57. Dahulukanlah ibu anda di atas seluruh kesibukan anda.

    58. Hormatilah ibu di rumah anda. Mintalah ia untuk berkunjung ke rumah anda kapan saja. Bujuk ia untuk bermalam di rumah anda.

    59. Bawalah ia bertamasya bersama-sama dengan anda dan anak-anak anda, atau dengan saudara-saudara anda.

    60. Di waktu yang lain, sekali-sekali ajaklah ibu untuk bersama-sama dengan anda menikmati salah satu makanan kesukaannya di restoran cukup baik.

    61. Kunjungilah toko-toko atau tempat belanja bersamanya, untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

    62. Berikanlah hadiah yang cocok untuk kaum pria, yang sekiranya dapat ibu berikan kepada ayah anda.

    63. Memuji ayah anda dan memperlakukannya dengan baik di hadapan ibu.

    64. Memuji apa yang ibu lakukan.

    65. (Jika anda wanita), maka anak-anak wanita pada umumnya lebih dekat kepada ibu daripada anak-anak laki-laki. Maka dari itu, jagalah rahasia ibu, dan biarkan ibu mengetahui rahasia-rahasia anda.

    66. Anak laki-laki akan dibutuhkan oleh ibu dalam menghadapi ujian-ujian hidup dan kesulitan-kesulitan. Oleh karena itu hendaklah mereka menjadi sandaran yang dapat melindunginya dalam menghadapi kesusahan dan penderitaannya.

    67. Kelembutan anda terhadap saudara-saudara perempuan anda, keramahan anda kepada mereka, dan perilaku anda yang baik ketika berurusan dengan mereka, serta memberikan hadiah di setiap periode bagi mereka, semua itu akan memperkokoh kebahagiaan ibu.

    68. Janganlah anda malu dengan tindakan apa pun yang dilakukan oleh ibu yang sesuai dengan usianya, namun tidak cocok dengan dunia di sekitarnya. Justeru berbanggalah dengannya.

    69. Ajarkan kepada anak-anak anda untuk bersikap lemah lembut terhadap ibu.

    70. Peganglah tangannya di masa tuanya, sodorkanlah sepatunya, tuntunlah ketika ia berjalan.

    71. Sediakan hadiah atau penghargaan bagi anak-anak anda yang memperlakukan ibu dengan baik.

    72. Seorang ibu akan mementingkan untuk tinggal di rumahnya. Oleh karena itu, bantulah ia untuk membuat rumahnya nyaman dengan suasana yang terbaik.

    73. Sediakan tempat khusus di kamar tidur ibu.

    74. Berbuat baiklah kepada kaum kerabat ibu, dan bantulah ibu untuk berbuat baik kepada mereka.

    75. Jika ibu anda memiliki hobi tertentu, cobalah luangkan waktu anda bersamanya.

    76. Dalam bidang apa pun hobi anda, persembahkanlah untuk ibu satu karya dari anda sendiri.

    77. Dalam beberapa komunitas masyarakat, seorang ibu akan senang apabila namanya digunakan untuk menamai cucu-cucunya.

    78. Ketika menaiki kendaraan, dahulukanlah ibu anda sebelum anda dan orang-orang selainnya.

    79. Ketika berbicara dengannya, janganlah anda menggunakan kata-kata yang keras, kasar, atau berat (sulit dipahami).

    80. Adakanlah ajang lomba untuk anak-anak anda yang masih kecil demi mendapatkan hadiah yang terbaik. Lalu hadiah itu diserahkan kepada ibu. Hal itu akan melatih mereka untuk memuliakan kedudukan ibu di mata mereka.

    81. Pilihlah waktu-waktu mustajab untuk berdoa, dengan doa yang dikhususkan untuk ibu.

    82. Perlihatkanlah kesan-kesan dan kekaguman teman-teman anda terhadap semua yang diberikan oleh ibu kepada anda.

    83. Anda harus meluangkan waktu khusus untuk duduk bersamanya sepenuhnya.

    84. Kepada para gadis, hendaklah mereka mempersilahkan ibunya untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka.

    85. Banggakanlah ibu di setiap tempat dan kesempatan.

    86. Perdengarkanlah kepadanya kisah-kisah tentang berbuat baik kepada orangtua.

    87. Mintalah ibu untuk mendoakan anda, semoga Allah memberikan rizki berupa dapat berbuat baik kepadanya.

    88. Mintalah selalu keridhaan ibu terhadap anda.

    89. Berlombalah anda dengan semua orang untuk berbuat baik kepadanya. Jadikanlah selalu diri anda sebagai pemenang perlombaan itu.

    90. Janganlah anda menaikkan suara di sisinya. Merendahlah di hadapannya.

    91. Jika anda satu kota dengannya, namun masih dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh antara anda dengannya, maka perdekatlah jarak itu semampu anda.

    92. Jika anda bekerja di kota lain, berusahalah untuk menghubunginya dalam setiap kesempatan.

    93. Jika anda berada di kota lain, maka tidak cukup jika anda berkunjung sendirian. Karena anak-anak dari anak-anak ibu anda pun menempati tempat yang sama (di hati ibu anda).

    94. Dalam banyak hal, anda harus mengalahkan diri anda sendiri dan keinginan nafsu anda pribadi dalam rangka mendahulukan ibu anda.

    95. Intropeksi diri anda sepanjang waktu dan periksalah dengan teliti, apakah anda telah benar-benar berbuat baik kepada ibu, atau masih melalaikannya?

    96. Jadilah anda orang yang memiliki keyakinan (yang tidak tergoyahkan) selamanya, bahwa apa yang anda perbuat terhadap kedua orangtua anda, kelak akan kembali kepada anda, dengan kebaikan anak-anak anda kepada anda, segera atau nanti.

    97. Di saat ibu jatuh sakit, tinggallah bersamanya, awasilah ia dengan segenap perhatian anda.

    98. Pujilah selalu gaun yang ia kenakan.

    99. Ceritakanlah peristiwa-peristiwa dalam perjalanan anda.

    100. Sikapilah keprihatinannya dengan lapang dada. Terimalah kritikannya dengan jiwa besar. Seraplah nasehat-nasehat dan bimbingannya dengan kerendahan hati dan keridhaan.

    101. Ajaklah ibu anda bermusyawarah dalam urusan anda.

    102. Jika duduk di majelisnya, maka duduklah dengan sopan, sesuai dengan kedudukan dan derajatnya.

    103. Pakailah etika makan di hadapannya.

    104. Pelajarilah kepribadiannya, dan perlakukan ia sesuai dengan kepribadiannya.

    105. Hendaklah anak-anak wanita tidak terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya, sehingga tidak memperhatikan ibunya.

    106. Sebagian dari kebutuhan-kebutuhan seorang ibu tidak akan diketahui oleh anak laki-lakinya, maka alangkah baiknya jika anak-anak wanita memperhatikan hal itu, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan tersebut kepada ibunya.

    107. Ketika anda mengunjungi keluarga ibu, maka jagalah anak-anak anda agar tidak mengganggu perabotan rumah.

    108. Ketika anak anda menghancurkan atau merusak beberapa perabotan rumah ibu, maka segeralah anda memohon maaf atas kelalaian anda dalam mengawasi anak anda, dan gantilah barang tersebut dengan yang lebih baik.

    109. Selama ibu sakit, jiwanya akan berubah, maka sebaiknya kita menengoknya dan membantu dia agar dapat melalui ujian ini.

    110. Jika anak cucu ibu anda banyak maka alangkah baiknya disusun jadwal kunjungan kepadanya, agar tidak merepotkan ibu anda.

    111. Bagi orang yang memiliki anak-anak yang banyak, hendaklah ia memilih tempat yang tepat (untuk pertemuan).

    112. Wakaf atas nama ibu.

    113. Disarankan setiap anak menyadari kelebihan masing-masing yang disukai oleh ibunya, lalu dengan kelebihannya itu masing-masing melayani dan membantu ibu mereka dengan potensi yang ada pada mereka.

    114. Sering-seringlah mengunjunginya, karena seorang ibu tidak akan bosan melihat anak-anaknya.

    115. Berilah ibu anda perangkat komunikasi modern.

    116. Jika ibu anda memiliki HP, kirimkanlah ungkapan yang indah melalui pesan atau SMS.

    117. Ketika ibu telah berusia lanjut, anda dapat mengumpulkan hadiah-hadiah untuk diberikan kepada sekelompok teman-temannya.

    118. Ketika menghubungi ibu melalui telephon, maka ucapkanlah salam terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa untuk langsung berbicara.

    119. Terapkanlah etika berbicara ketika anda berada di majelisnya.

    120. Ketika anda baru tiba dari suatu perjalanan ke sebuah negeri, berikanlah kepada ibu anda suatu hadiah yang anda beli dari negeri tersebut.

    121. Bawalah ibu ke tempat-tempat di mana ia lahir dan tumbuh dewasa, atau ke tempat-tempat khusus dimana ia meniti hari-hari pertama pernikahannya.

    122. Mendidik saudara-saudara kita tentang keutamaan berbuat baik kepada ibu.

    123. Ketika kedua orangtua anda berpisah, dan salah satunya meninggalkan yang lain, maka janganlah anda berbuat sesuatu yang tidak disukainya.

    124. Ketika timbul beberapa masalah keluarga dalam rumah tangga, maka berikanlah solusi praktis dengan cara diplomatik untuk menyelamatkan biduk rumah tangga.

    125. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka hormatilah suami ibu.

    126. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka tinggikanlah kedudukannya.

    127. Hubungilah orang-orang yang sulit menghubungi ibu, dan biarkan ibu berkomunikasi dengan mereka.

    128. Di usia lanjutnya, kasihilah ia yang telah lemah.

    129. Jika ibu mengungkapkan pandangan yang berbeda dengan anda, janganlah anda memaksakan diri anda dan pikiran anda sendiri kepadanya.

    130. Jika ibu anda berlangganan beberapa majalah, maka berlanggananlah majalah yang cocok dengannya, lalu berikanlah kepadanya.

    131. Berikanlah uang kepadanya setiap waktu dan kesempatan, jangan biarkan beliau meminta dari anda.

    132. Belikanlah barang-barang keperluannya, dan jangan anda mengambil uang pembelian darinya.

    133. Buatkanlah sebuah rekening bank khusus untuknya, dan ajarkanlah bagaimana mengoperasikan mesin ATM.

    134. Jika anda melakukan kesalahan yang berkaitan dengan hak ibu anda, maka mintalah seseorang yang paling mulia di sisi ibu untuk menjadi penengah antara anda dan ibu.

    135. Ketika ibu memasuki usia tua, janganlah anda melontarkan julukan-julukan baginya yang membuat ia merasakan keuzuran, seperti julukan “nenek-nenek” atau “manula”.

    136. Jika anda melihat perbuatan ibu yang tidak pantas dalam kehidupan rumah tangga dengan ayah, maka janganlah anda memberikan saran secara langsung.

    137. Fikirkanlah selalu sarana-sarana baru untuk mendapatkan keridhaan ibu anda.

    138. Janganlah anda terpaku pada satu cara tertentu saja dalam berbuat baik kepada ibu anda, akan tetapi jadikan seluruh aktivitas anda untuk berbuat baik kepadanya.

    139. Apapun tindakan, ide, atau pandangan ibu, janganlah anda menyepelekannya, baik secara terang-terangan atau diam.

    140. Janganlah anda memutus pembicaraannya atau menyela selama pembicaraan masih berlangsung. Janganlah anda berkata-kata kepada orang lain sementara ibu anda sedang berbicara kepada anda.

    141. Tela’ahlah selalu hadits-hadits yang menerangkan keutamaan berbuat baik kepada ibu, dan tela’ah pula riwayat hidup mereka yang bebruat baik kepada ibu.

    142. Jika anda melihat orang yang telah tertimpa bencana dengan menyakiti ibunya, maka ucapkanlah:
    Alhamdulillahil ladzi ‘aafaanii mimmaa ibtalaahu bih.
    “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang menimpanya.”

    143. Di majelisnya, janganlah anda membelakangi ibu, atau menjauh dari hadapannya, atau rela menjadi orang terakhir yang datang paling belakang.

    144. Jika ibu anda ingin berjalan, maka sodorkanlah sandalnya, dan berjalanlah anda di sampingnya.

    145. Janganlah anda menjadi orang yang terakhir mengetahui berita tentang ibu anda, atau orang terakhir yang mengucapkan selamat kepadanya.

    146. Ketika ibu memarahi anda atau kesal kepada anda, maka janganlah anda menjawabnya, atau menjelaskan situasi anda kepadanya saat itu juga.

    147. Sebagian ibu ada yang cepat marah, maka bersabarlah anda.

    148. Tulislah sifat-sifat ibu anda dalam sehelai kertas, kemudian tulislah cara yang baik dalam menyikapinya agar berkenan di hatinya.

    149. Renungkanlah orang-orang di sekitar anda. Lihatlah bagaimana orang yang sudah tidak memiliki ibu.

    150. Ketika ibu anda sakit, tangguhkanlah perjalanan anda.

    (Dinukil dari kitab 150 Thariqatan Liyashila Birruka Biummika, oleh Sulaiman bin Shaqir ash Shaqir, dengan beberapa perubahan)

    Diposting oleh : Abu Fahd Negara Tauhid.

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/09/06/150-cara-berbakti-kepada-ibu/

  4. RAHASIA TKW

    Diantara TKW yang bekerja keluar negeri ada dari mereka yang janda-janda sedangkan mereka memiliki tanggungan untuk menghidupi anak-anaknya, ada juga yang gadis-gadis belia sedangkan mereka juga punya tanggungan memenuhi kebutuhan orangtua dan adik-adiknya yang miskin, belum lagi istri-istri yang mana suaminya tidak bertanggung jawab terhadapnya dan menelantarkannya, atau suaminya tidak memiliki kemampuan menafkahi keluarganya….

    Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka karena keterpaksaan mereka menjadi TKW dan hidup jauh tanpa didampingi oleh mahramnya. Dan semoga pula Allah memberikan kemudahan atas urusan mereka, serta hidayah kepadanya agar mereka mampu untuk istiqamah diatas agama ini secara kaaffah.

    Tidak ketinggalan pula, ada diantara TKW tersebut yang mereka adalah wanita-wanita yang nakal yang mencari kenikmatan hidup di dunia semata dengan mengabaikan agama mereka, ada juga istri-istri yang durhaka kepada suaminya karena merasa tidak cukup atau sakit hati terhadap suaminya.

    Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka.

    Banyak manusia mencela TKW karena perbuatannya, yaitu pergi tanpa mahram, pekerjaannya hina, lemahnya aqidah dan iman mereka, serta tidak mampu tawakkal di negeri sendiri. Dan ada juga yang mencela negara-negara Arab karena perbuatan mereka kepada TKW itu, yaitu menzhalimi, menghukum mati, merendahkan, kasar, dan lainnya. Lantas apakah sebelumnya kita sudah mencela diri kita sendiri sebelum kita mencela mereka???

    Sudahkah selama ini kita menanamkan aqidah atau iman yang kuat kepada TKW tersebut?

    Ketika TKW itu masih memiliki aqidah yang sangat lemah, iman yang tipis, lantas kita cela mereka karena pergi tanpa mahram? atau kita paksa mereka untuk tidak boleh pergi tanpa mahram? Apakah ini yang dinamakan dakwah dengan hikmah? Padahal ada yang lebih utama untuk kita dakwahi kepada mereka, yang belum sampai kepada mereka, yaitu Aqidah atau Tauhid yang benar.

    Disini bukan berarti ana membolehkan wanita pergi safar tanpa mahram, sekali-kali tidak! Ana tidak pernah mengatakan seperti itu, bahkan ana mengakui tentang larangan wanita safar tanpa mahram. Apalagi pemerintah kita dan pemerintah Saudi tidak memberikan persyaratan untuk wanita safar harus bersama mahram. Namun apakah kita mau menyamakan mereka dengan orang-orang seperti kita yang sudah lama mengaji, sudah memiliki aqidah dan iman yang kuat, yang lulusan SMA atau kuliah?? Bukan merupakan rahasia bagi kita, bahwa dari sekian banyak TKW yang keluar negeri, sangat banyak dari mereka yang tidak bisa baca dan tulis, ada juga yang hanya tamatan SD, bahkan sekolah SD pun banyak yang tidak lulus atau selesai.

    A’isyah radhiyallahu ‘anha pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru setelah para sahabat kuat imannya, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan haram. Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609).

    Dan sudahkah selama ini kita mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka semuanya?

    Ketika TKW itu dengan keterpaksaannya pergi keluar negeri demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya seperti anaknya, adik-adiknya atau orangtuanya, lantas kita larang mereka untuk menjadi TKW? sedangkan kita tidak mampu untuk membantu mereka dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, begitu juga dengan pemerintahan kita yang belum sanggup meringankan beban hidup mereka semuanya. Maka, darimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup mereka dan orang-orang yang menjadi tanggungannya? Disisi lain, mereka belumlah menjadi manusia yang memiliki aqidah yang kuat serta iman yang kokoh sehingga kesabaran dan ketawakkalan mereka belum seperti kita dalam menghadapi hidup ini. Jika kita belum mampu untuk mensuplai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, padahal mereka sangat membutuhkan bantuan kita agar mereka tidak menjadi TKW, maka cela diri kita terlebih dahulu sebelum kita mencela mereka…

    Dari Humaid ath Thawil, dari Abu Qilabah diriwayatkan bahwa ia berkata, “Apabila ada kabar yg tidak mengenakkan dari saudaramu sesama muslim, carilah hal yg dapat memaafkannya sebisa kamu, kalau kau tidak dapati alasan yang tepat, katakan kepada dirimu sendiri, ‘Mungkin saudaraku ini memiliki alasan (udzur) yg tidak aku ketahui.” (Shifatush Shafwah, 1/754. Di nukil dari kitab Aina nahnu min akhlaqis salaf).

    Setelah kita mencela diri kita sendiri, masihkah kita mau mencela negara-negara Arab yang telah banyak mengambil dan membantu saudara-saudara kita sebangsa untuk dijadikan pekerja mereka?

    Jika kita masih berani mencela negara-negara Arab atau orang-orang Arab, maka sebelum kita mencela mereka, kita lihat perbandingan ini…

    – Celaan : Negara Arab (khususnya Saudi) adalah pusatnya Islam, dan Islam berasal dari sana. Jika kenyataan seperti itu, kenapa banyak sekali orang-orang Arab yang menzhalimi, menyakiti, memperkosa, menghukum mati, dan merendahkan pembantunya? Padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu?

    Jawab : Jika memahami seperti itu, maka dia sama saja menuduh bahwa Islam itu tidak baik. Karena dia mengkaitkan bahwa Islam itu seperti negara Arab, jadi segala yang berasal dari negara Arab maka itulah Islam. Dan dia juga menuduh bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga tidak baik. Karena dia menganggap bahwa segala sesuatu yang berasal dari orang Arab adalah Islam dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah orang Arab.

    Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang batil dan salah!

    Lihatlah sejarah dan bukalah kitab-kitab hadits. Pada zaman Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup saja ada dari umatnya yang melakukan perbuatan yang zhalim dan maksiat, ada juga yang minum khamer, berzina, dan lainnya. Lantas dengan kejadian seperti itu lalu kita mencela dan menuduh bahwa Nabi Muhammad tidak baik dan tidak becus dalam mendidik umatnya? La hawla wala quwwata illa billah….

    Jika ada sesuatu keburukan yang dilakukan oleh seorang muslim, maka bukan berarti Islam adalah buruk. Yang buruk adalah pelakunya atau individunya masing-masing, bukan keburukan itu lalu dinisbatkan kepada Islam. Begitu juga dengan negara Arab. Jika ada keburukan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Arab, maka negaranya tidak menjadi buruk karenanya. Dan tidak pantas kita mencela negara Arab dan orang-orang Arab secara keseluruhan hanya karena ada sebagian dari mereka melakukan keburukan. Seperti halnya kita mencela orang-orang suku Jawa semuanya adalah orang-orang musyrik, hanya karena ada dari sebagian orang yang bersuku Jawa melakukan kesyirikan di tempat tertentu. Wallahul musta’an.

    – Celaan : Bukti nyata bahwa setiap berita yang sampai kepada kita tidak lain tentang kezhaliman dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang Arab kepada pembantunya atau TKW. Hal ini membuktikan bahwa orang-orang Arab itu buruk, kejam dan zhalim!

    Jawab : Tahu dari mana anda bahwa setiap berita selalu berisikan tentang kekejaman dan kezhaliman orang Arab kepada pembantunya? Apakah setiap ada berita di Arab harus melapor dulu ke anda supaya anda bisa tahu semuanya? Atau anda sudah keliling negara Arab untuk mencari berita-berita tentang hal ini? Atau anda seorang dukun yang mengaku mengetahui berita yang ghaib?

    Dari sekitar 2 juta TKI yang ada di saudi, ada berapa kasus penganiayaan yang terjadi, dari mulai siksaan, perkosaan s/d pembunuhan? Kemudian bandingkan dengan TKI yang tidak mendapat kasus, lebih banyak mana? Bahkan kasus-kasus yang pernah ada sejak dahulu sampai sekarang jumlahnya tidak mencapai setengah dari jumlah total seluruh TKI di Saudi, malah masih bisa dihitung jumlahnya.

    Atau dengan hitungan waktu. Dalam sehari ada berapa kasus yang dialami oleh TKI di Saudi? Dan juga dalam sebulan ada berapa kasus? dalam setahun ada berapa kasus?

    Kemudian bandingkan dengan jumlah TKI sebanyak 2 juta tersebut, atau yang sukses di Saudi. Lebih banyak mana? Dalam sebulan atau setahun saja kasus yang terjadi masih dapat kita hitung dengan jari, dan jumlah perbandingannya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan total TKI di Saudi.

    Inilah ketidak adilan pada diri kita yang kita belum mampu untuk melihat dari segala sisi, dan kita hanya mampu melihat dari sebelah sisi saja yang kemudian menyudutkan sisi tersebut. Belum lagi ketidak adilan dari sumber berita yaitu media-media informasi. Yang mana mereka hanya mengekspos berita-berita yang bermasalah saja, sedangkan berita yang berisikan kisah-kisah yang positif maka tidak mereka ekspos, bahkan seandainya diekspos maka sangat sedikit sekali dibandingkan dengan berita yang bermasalah. Akibatnya masyarakat hanya mengetahui kejadian-kejadian yang bersifat negatif dan bermasalah saja.

    Semoga dengan wacana ini kita mampu menjadi orang yang lebih adil, bijak dan selalu didasari sikap husnuzhan kepada saudara-saudara kita, terlebih-lebih untuk selalu bertabayyun dalam menerima segala berita yang sampai kepada kita. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Begitu juga semoga Allah mengampuni dan membantu saudara-saudara kita yang terzhalimi serta membutuhkan pertolongan dan bantuan. Allahumma amiin.

    oleh Abu Fahd NegaraTauhid pada 23 Juni 2011 jam 13:04

    Tambahan :

    Mungkin TKW tidak bisa disamakan secara keseluruhan, karena mereka punya latar belakang dan sisi kehidupan yang berbeda satu sama lain. Ana pernah bekerja di PJTKI (Perusahaan Jawatan Tenaga Kerja Indonesia) selama beberapa tahun di Jakarta, divisi Pasport (sekitar 12 tahun yang lalu). Jadi sedikitnya ana bisa mengenal sisi kehidupan para TKI, sejak masih di penampungan sampai di negara tempat mereka kerja.

    Dinilai dari ketaqwaan, ada dari mereka yang rajin beribadah, menutup auratnya dengan hijab, rajin menuntut ilmu, hafizhah, dan istiqamah di atas agama-Nya -Masya Allah- (Bisa jadi mereka ini lebih mulia di sisi Allah daripada kita disini). Namun orang-orang seperti itu sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah TKW secara keseluruhan, yang mana mayoritas dari mereka adalah awwam terhadap agamanya. Karena banyak dari mereka yang tidak berhijab dan menampakkan auratnya, bahkan cara berpakaiannya sangat meprihatinkan sekali, melebihi artis-artis dangdut yang kita kenal. Selain itu juga mereka sangat minim sekali wawasan ilmu agama yang mereka miliki, jadi sangat sering kita jumpai dari mereka yang tidak shalat, bahkan banyak yang tidak bisa membaca Al Qur’an.

    Dinilai dari ‘Iffah’ (menjaga kesucian), ini yang paling sering dibicarakan oleh orang-orang tentang TKW. Ada dari mereka yang sangat menjaga kesucian-kesucian dirinya, mereka menjauhi laki-laki yang tidak dikenalnya atau yang bukan mahramnya, ibarat mereka burung merpati yang setia. Namun sayangnya, burung merpati itu begitu langka kami jumpai dari sekian banyak burung (TKW). Karena sudah ma’ruf diketahui oleh orang-orang tentang banyaknya status TKW yang nakal-nakal, bahkan mereka sengaja menjual diri mereka sejak masih di penampungan. Suatu kejadian yang tidak pantas yang sering terjadi di kantor-kantor PJTKI atau penampungan-penampungannya adalah, jika kedatangan calon TKW yang cantik-cantik ke kantor-kantor mereka, maka TKW yang cantik itu akan dijadikan target sasaran dari para pria hidung belang yang ada di kantor-kantor maupun di penampungan-penampungan mereka. Ada dari TKW tersebut yang menerima dan melayani ajakan laki-laki hidung belang itu (mereka tidak lain adalah oknum karyawan sendiri atau bawaan dari orang dalam), namun TKW-TKW yang menjaga kesucian dirinya akan menolak tawaran atau godaan laki-laki tersebut, bahkan mereka berani marah atau siap menerima resiko di cancel keberangkatan mereka. Jadi kita bisa mengambil kesimpulan untuk TKW-TKW yang nakal itu, jika masih di negaranya saja (di kantor dan di penampungan) mereka berani berbuat seperti itu (Asusila), bagaimana halnya di tempat dia kerja nanti?

    Ana pribadi pernah mendengar pengakuan dari salah seorang TKW yang ‘nakal’, kenapa dia mau ‘melayani’ majikannya disana? TKW tersebut menjawab, banyak kelebihan yang didapat dari melayani orang Arab/majikannya dibandingkan dengan melayani orang kita, antara lain:
    Bayaran yang di dapat dari majikannya jauh lebih besar dibanding bayaran yang didapat oleh orang kita, bahkan selain bayaran rutin, majikannya jadi sering memberinya hadiah-hadiah. Makanya ana perhatikan, TKW-TKW nakal tersebut lebih cepat kaya dibanding TKW-TKW yang biasa. Bandingkan saja, dalam tempo 2 tahun bekerja sebagai TKW yang gajinya berkisar antara 600 s/d 800 riyal perbulan (1 riyal sekarang sekitar Rp.2500), mereka bisa membangun rumah yang sangat besar di negaranya, mensuplai keluarganya setiap bulan, serta memiliki perhiasan-perhiasan emas yang sangat banyak. Bahkan gelang emas yang dimiliki dan dipakainya saja sampai memenuhi tangannya dari pergelangan tangan sampai sikut!

    Kelebihan yang lain adalah, fisik yang dimiliki oleh orang Arab atau majikannya jauh lebih bagus daripada fisik yang dimiliki oleh orang kita. Katanya, jika melayani orang kita paling-paling wajahnya tidak jauh beda dengan wajah-wajah kuli (hidung pesek, hitam, pendek, dll), berbeda sekali jika melayani orang Arab, seperti halnya melayani artis terkenal dengan wajah yang tampan, hidung mancung, putih dan postur yang tinggi dan gagah. Jadi walaupun saya tidak dibayar, tapi saya merasa menikmati. -Wal iyadzubillah-

    Dinilai dari pendidikan, ada juga dari mereka yang berpendidikan tinggi,lulusan universitas dan memiliki title sarjana atau D3. Kecuali untuk tenaga-tenaga ahli maka tidak heran jika mereka adalah orang-orang yang bertitle dan berpendidikan tinggi. Namun untuk pekerjaan pembantu, lebih mendominasi dari wanita-wanita yang tidak atau kurang pendidikannya, walaupun ada dari mereka yang juga berpendidikan tinggi tapi itu jarang. Kami sering menjumpai TKW-TKW yang tidak dapat membaca dan menulis. Kami bisa mengetahuinya karena pekerjaan kami yang selalu beradaptasi dengan mereka. Hampir setiap hari kami bertatap muka dan menginterview mereka, bahkan dalam sehari bisa mencapai ratusan orang yang kami interview jika ada permintaan pengiriman TKW ke Saudi. Banyak juga dari mereka yang tidak bisa tanda tangan, sehingga kamilah yang harus menandatangani berkas-berkas atas nama mereka.

    Dinilai dari ekonomi, ada dari mereka yang berasal dari keluarga yang mampu, dan berkecukupan. Namun faktor lain yang menyebabkan mereka harus menjadi TKW adalah bukan karena ekonomi, mereka masih memiliki kemampuan dalam harta, namun ada masalah-masalah pribadi yang tidak ketahui. Bisa jadi mereka memiliki kasus pada rumah tangga mereka atau di daerah mereka tinggal atau juga di negara mereka, sehingga mereka menjadi TKW untuk menghindar dari kasus tersebut. Dan banyak faktor-faktor lainnya. Ana pernah heran kepada salah seorang teman ana yang sudah berusia matang. Dia kerja di Saudi menjadi TKL sudah sekitar 10 tahun dan tidak pernah pulang ke negaranya, padahal dia memiliki keluarga disana, anak dan istrinya. Bukan karena dia tidak diperbolehkan pulang oleh majikannya, kalau dia mau pulang setiap 2 tahun sekali bisa dan diizinkan oleh majikannya. Namun ana berprasangka ada faktor lain dibalik itu dan ana tidak berani su’uzhan kepadanya. Adakah seseorang yang sanggup menahan rindu kepada anak-anaknya dan istrinya selama 10 tahun tidak berjumpa dengannya?

    Namun dari sekian banyak TKW yang bekerja keluar negeri, lebih mendominasi dari keluarga yang tidak mampu atau kekurangan. Makanya banyak ditemukan dari mereka janda-janda, ibu-ibu, atau gadis-gadis yang memiliki banyak tanggungan untuk keluarganya. Jika mereka harus mencari pekerjaan di negaranya sendiri, maka mereka juga tetap akan safar keluar kota, karena di tempat mereka tinggal tidak tersedia lahan untuk bekerja. Ana banyak melihat para TKW itu berasal dari kampung yang berada di pelosok-pelosok daerah dan sulit dijangkau dengan mudah, harus masuk keluar hutan atau gunung. Sedangkan di daerah mereka yang tersedia hanya bertani, itupun sudah diambil alih oleh sebagian laki-laki disana dan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup mereka di kampung tersebut, sehingga banyak penduduknya yang merantau keluar kota atau menjadi TKI.

    Itulah sebagian sisi kehidupan TKW yang bisa ana nilai sesuai dari apa yang telah ana ketahui selama ini, sejak ana kerja di PJTKI sampai ana saksikan secara langsung kehidupan mereka di Saudi. Masih banyak sebenarnya sisi kehidupan mereka yang tidak kita ketahui, dan hanya Allah yang mengetahui rahasia-rahasia mereka, kenapa mereka menjadi TKW. Mereka tidak lain adalah saudara-saudara kita seagama. Selama kita bisa mencarikan alasan yang baik untuk mereka dan berhusnuzhan kepada mereka maka lakukanlah semampu kita, karena mereka termasuk kaum dhu’afa atau orang-orang yang lemah, yang perlu kita bantu dan perhatikan. Jika kita tidak mampu membantu mereka dengan harta agar mereka tidak menjadi TKW -kecuali jika mereka bersama mahramnya-, maka kita bantu mereka dengan doa.

    Wallahu a’lam.

    http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/23/rahasia-tkw/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s