Jika Ustadz Jadi Wasit

November 24th, 2011 by Roni Nuryusmansyah

Di suatu pagi, di hari raya pekanan umat Muslim, yaitu hari jum’at, saya dan teman-teman saya berkumpul di sebuah lapangan besar di belakang kampus. Tidak lain dan tidak bukan, kami berkumpul untuk bertanding sepak bola melawan kelas I’dad Lughawy A (program persiapan bahasa prakuliah). Liga kampus tahun ini baru bergulir kemarin pagi. Seperti biasa, saya ditunjuk oleh Heru Fransisco, penyerang handal asal Padang, untuk menjadi goalkeeper alias penjaga gawang. Sang wasit, Muhajir Ali, yang ditemani dua hakim garis memberi isyarat tanda kick off dimulai. Akhirnya, pertandingan 2×30 menit itu pun dimulai..

Di sela-sela pertandingan, beberapa teman kami yang sedang menunggu giliran tampil sedang mengobrol di kiri gawang. Aku pun ikut nimbrung tanpa basa-basi. Pembicaraannya unik, kami membayangkan bagaimana jika seorang faqih jadi wasit. Tidak hanya itu, dia menerapkan pengetahuan fiqihnya dalam peraturan sepak bola. Sehingga akan banyak diskusi dan perdebatan antar pemain maupun wasit dalam berbagai masalah di dalam pertandingan tersebut.

Obrolan ringan yang dipimpin Hidayatullah, teman sesama wong kito, dan Irfan Hariyanto, orang Jambi yang merantau ke Jawa tersebut memberikan saya sedikit inspirasi untuk membuat artikel ini. Namun saya tidak akan memaparkan perdebatan panjang yang dibahas ulama fiqih seperti apakah lutut laki-laki adalah aurat, dan permasalahan polemik lainnya. Saya hanya akan sedikit menyinggung pelanggaran-pelanggaran syar’i yang banyak terjadi dalam sebuah pertandingan sepak bola dengan permisalan-permisalan berupa dialog antar wasit dan selainnya.

***
Jika ustadz jadi wasit, maka sebelum pertandingan, sang ustadz memberikan kultum (kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit) di hadapan para pemain dan para suporter kedua kesebelasan,
Wasit : “Saudara, semoga Allah senantiasa menjaga kalian. Izinkan sejenak saya sebagai wasit memberikan sedikit wejangan kepada kalian. Dekatkanlah selalu diri kalian kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jagalah lisan kalian dari saling mencela, suporter mencela suporter, suporter mencela pemain, pemain mencela pemain, pemain mencela wasit. Karena siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga baginya. Subhanallah! Bukankah surga adalah cita-cita kita bersama?”
*Para pemain dan para penonton mengangguk takzim.

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seseorang hendak menyogoknya,
Wasit   : “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!
Fulan    : “Bukankah ini suatu perbuatan tolong menolong?”
Wasit    : “Dengarkan! Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  [QS. Al-Maidah: 2]

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain marah-marah karena gagal mencetak gol,
Wasit    : “Janganlah engkau marah karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Orang yang kuat bukanlah dia yang mampu mengalahkan musuh. Namun orang yang kuat adalah dia yang mampu menahan marah ketika dia bisa melampiaskannya. Jika engkau marah, maka berta’awwudz-lah (mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy syaithanir rajiim). Dan jika suatu hal yang tidak engkau sukai menimpamu, maka katakanlah, “Qoddarullahu wama sya-a fa-’al (artinya: Allah sudah mentakdirkan segala sesuatu dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki).”
Pemain : “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).Terima kasih, wasit. Sekarang hatiku lebih tenang dan siap untuk mencetak gol!”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain hendak minum,
Wasit    : “Sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan kepada-Nya. Minumlah dengan tangan kanan karena setan minum dengan tangan kiri. Janganlah boros, karena orang yang boros adalah saudara setan. Hendaklah kamu minum dalam keadaan duduk dan pujilah Allah atas nikmat yang telah Dia berikan untukmu.”
Pemain : “Bismillah. Gluk..gluk.. Alhamdulillah. Thanks, sit. Sekarang dahaga gue udah hilang.Gue akan bermain lebih semangat lagi.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika dua orang pemain bersitegang dan terlibat adu mulut,
Wasit                      : “Tenang, tenang. Janganlah berkelahi. Bukankah mukmin itu bersaudara? Sudah selayaknya bagi seorang muslim jika melakukan suatu kesalahan kepada saudaranya untuk meminta maaf. Dan hendaknya seorang muslim memaafkan kesalahan saudaranya.”
Pemain A             : “Maafkan saya, kawan. Saya tadi tidak sengaja menyikutmu.”
Pemain B             : “Ia, maafkan saya juga. Saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.”
*Bejabat tangan lalu berpelukan
Wasit                      : “Indah, bukan? Jika suatu ikatan dilandasi syari’at Islam yang begitu mulia.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain ketahuan melakukan diving dengan sengaja,
Wasit    : “Saudara, janganlah Anda berpura-pura terjatuh untuk mendapatkan keuntungan bagi tim Anda dan merugikan tim lawan. Hal itu tidak lain adalah dusta dan itu tercela. Bermainlah secara sportif, karena itu lebih dekat kepada takwa. Kejujuran adalah jalan menuju surga sedangkan dusta adalah jalan menuju neraka.”
Pemain : “Maafkan saya, sit. Saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika pertandingan telah usai,
Priiit, priiit, priiit
*Peluit tanda pertandingan telah berakhir terdengar
Wasit    : “Terima kasih kepada kedua tim yang telah menunjukkan performa terbaik sebagai seorang muslim dalam permainannya hari ini. Semoga dengan olahraga ini, fisik kita semua semakin bugar. Sehingga kita semakin kuat menjalankan perintah-perintah Allah. Kepada tim yang kalah, diharapkan pekan depan menyetor 5 buah hapalan hadis dari kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dan agar dosa dan kesalahan yang terjadi di dalam pertemuan kita kali ini dihapuskan oleh Allah, maka hendaknya kita membaca doa Kaffaratul Majlis: Subhaanakallaahumma Wabihamdika Asyhadu allaa Ilaaha illa Anta Astaghfiruka wa Atuubu Ilaika.”

28 Dzulhijjah 1432 H / 24 November 2011 M
Sebuah pagi menjelang bermain bola
Di penghujung akhir tahun hijriyah

Penulis : Roni Nuryusmansyah
Artikel   : kristalilmu.com

 

http://www.kristalilmu.com/jika-ustadz-jadi-wasit/

3 thoughts on “Jika Ustadz Jadi Wasit

  1. Keanehan Dan Pelajaran Di Tahun Baru Hijriyah

    November 28th, 2011 by Roni Nuryusmansyah

    Di suatu pagi yang aneh, aku terbangun dari tidurku yang aneh. Orang-orang bilang malam itu malming, ada yang bilang satnit (Saturday night mungkin). Para jomblo bilang malam itu kelabu. Ternyata perbedaan pendapat bukan hanya dalam masalah fiqih saja. Saya curiga, jangan-jangan anggota MPR, Majelis Para Remaja, akan mengadakan rapat besar untuk menentukan penamaan yang disepakati untuk mengganti nama malam minggu. Saya lebih suka menamakannya dengan malam ahad. Malam ahad memang sebuah malam yang aneh, di mana banyak para pemuda pemudi berevolusi menjadi kalong. Yang tidak tahu kalong, nama lainnya Pterocarpus edulis. Masih tidak tahu? tanya mbah Gugel. Hehe.. Mereka bergadang semalaman dengan hal-hal yang tidak bermanfaat; main game online, berpacaran , ngedrive seolah raja jalanan, dan seabrek aktivitas lain yang jujur saja bagiku itu semua tak lebih nikmat dari tidur. Lalu di pagi hari, mereka tidur sampai matahari style cool selama lebih dari dua puluh ribu detik menerangi bumi. Oh, mereka human atau big bat sih?

    Selepas sholat subuh, seorang dosen kami maju menyampaikan beberapa wejangan kepada kami, para mahasiswa yang tak suka kue ulang tahun. Salah satu dari empat poin yang Beliau ultimatumkan pagi itu adalah mengenai tahun baru. Tentu saja yang dimaksud adalah tahun baru hijriyah. Jika tahun baru masehi maka judul artikel ini akan saya ubah menjadi “Kegilaan Di Tahun Baru”. Bicara tentang tahun baru masehi, saya jadi ingat ada seseorang yang rela menjual hapenya sebagai modal berfoya-foya di malam tahun baru. Hm, jadi anak gaul memang capek ia? Back to our topic, terinspirasi dari sang dosen favorit itu, saya mencoba berbagi kepada teman-teman tentang keanehan di tahun baru. Tentu saja saya akan menambahkannya dan mengubahnya dengan bahasa populer. Karena saya yakin, pembaca blog saya tak semuanya mahasiswa agama.

    Banyak dari kawula muda yang menyangka di tahun baru umur mereka bertambah, sehingga mereka menyambut tahun baru dengan bersuka ria, berpesta pora, bercanda tawa, dan semua aktivitas yang ujungnya huruf a. Aneh? Tentu saja, kawan! Bagaimana seseorang yang berakal sehat bisa bersenang-senang di atas sesuatu yang tidak menyenangkan? Sejatinya, satu detik yang berlalu semakin mendekatkan seseorang kepada kematian, sang pemutus kelezatan. Loh, jika satu tahun telah berlalu, maka sama artinya tiga ratus enam puluh hari, alias empat puluh delapan pekan, alias dua belas bulan, alias satu tahun kita semakin dekat kepada terminal bernama maut itu. Jika diibaratkan satu hari kita berjalan sepuluh kilometer, maka kita mendekati kediaman malaikat maut sejauh tiga ribu enam ratus kilometer. Logiskah jika kita malah bersuka ria di saat kiamat kecil kian mendekat?

    Mungkin ada yang bilang, “Ente kagak usah sok alim deh bro. Kita-kita ini cuma mensyukuri nikmat umur yang telah diberikan Tuhan untuk kita. Kita udah panjang umur setahun. Lu jangan kufur nikmat bro. Belajarlah bersyukur!” Lah, jika ada si kaya yang memberi A dan B masing-masing duit seratus ribu, terus si A menghamburkan uang itu untuk bersenang-senang, makan di KFC, nonton bioskop, main game online, beli rokok sekian bungkus, beli narkoba, dan minuman beralkohol tinggi. (Memangnya cukup?) Sedangkan B malah menjadikannya modal buat usaha kecil-kecilan untuk membiayai adiknya sekolah. Sehingga B menjadi enterpreneurship ternama dan mampu memberi si orang kaya itu berkali-kali lipat lebih banyak. Nah, siapakah yang layak diberi predikat sebagai orang yang bersyukur? Tentu jawabannya si B. Karena itu, syukurilah nikmat waktumu dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Waktu. Taati perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Gunakan waktu-waktu tersebut dengan hal yang bermanfaat untuk akhirat dan duniamu. Itulah cara tepat mensyukuri sang waktu.

    Kematian akan selalu mendekat, sedangkan bekal kita masih amat sedikit. Amal yang baik saja sedikit, tentu lebih sedikit lagi yang diterima. Oleh karena itu, tahun baru adalah panggung yang tepat untuk mengoreksi diri. Saya jadi ingat perkataan al-Farouq, Umar bin al-Khaththab, “Hisablah diri kalian sebelum diri kalian dihisab.” Benar, koreksilah diri kalian sebelum pengadilan setelah mati yang akan mengoreksi kalian. Anehnya, kebanyakan kaum muslimin justru gemar dan hobi mencari-cari kesalahan orang lain ketimbang kesalahan diri sendiri. Peribahasanya, semut di seberang lautan tampak, gajak di pelupuk mata tak tampak. Aneh, bukan? Syndrom anehalitus bin ajaibalitus ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan karena frekuensi mengoreksi orang lain lebih besar dari frekuensi mengoreksi diri sendiri. Jadi, tak ada alasan untuk mengatakan; saya masih muda, masih ada hari esok, dan angan-angan nol besar lainnya. Siapa yang menjamin bahwa esok jantung kita masih kembang-kempis memompa darah? Bahkan siapa yang menjamin lima menit lagi kita masih bernafas, kawan?

    Tahukah kalian asal mula penetapan tahun baru islam adalah hijrah? Jadi ceritanya, karena beberapa sebab, Khalifah kedua Umar bin Al-Khaththab meninggalkan penanggalan jahiliyah dan menggantinya dengan kalender Islam di masa pemerintahannya. Mengapa yang jadi patokannya adalah hijrah Nabi? Kenapa tidak hari diutusnya Nabi? Kenapa tidak diturunkannya Al-Qur’an? Jawabannya, karena hijrah adalah awal perubahan besar dan signifikan bagi kaum muslimin. Sejatinya, roh hijrah bukan terletak pada sejarahnya, berpindahnya dari Makkah ke Madinah, atau berpindahnya dari suatu kota ke kota yang lain, namun roh hijrah adalah meninggalkan semua larangan Allah dan Rasul-Nya semata karena Allah. Jangan sampai ada lagi istilah STMJ. Sholat Terus Maksiat Jalan.

    Jadi, tidak sepantasnya seorang muslim merasa puas hanya dengan penampilan lahiriah saja. Tapi di balik semua itu dia hanyut dalam kenikmatan semu yang ditawarkan kemaksiatan. Oh, yang penting saya sudah sholat, menginjakkan kaki di masjid. Oh, yang penting saya sudah menampakkan batang hidung saya di majelis taklim. Oh, yang penting saya sudah puasa dan buka bareng keluarga. Ini bukanlah pola pikir the real moslem. Ini bukanlah hijrah yang hakiki. Muslim sejati bukanlah hanya sekedar ini, sekedar itu, dan sekedar sekedar lainnya. Namun dialah yang memahami hikmah dan ruh dari suatu ibadah. Jika seorang muslim beribadah karena penampilan fisik saja, maka petakalah yang akan menimpanya. Nabi mengabarkan bahwa siapa yang menuntut ilmu untuk meraih bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal, bau surga itu bisa tercium dari jarak yang jauh. Bahkan di lain kesempatan, Beliau mengabarkan bahwa yang pertama kali masuk neraka adalah mereka yang beribadah hanya untuk meraih predikat, titel, gelar, dan sanjungan manusia. Alih-alih masuk surga, malah jadi pertamax penghuni dasar neraka. Na’udzubillah deh.

    Hebat bukan, di tahun baru ini, kita bisa memetik mutiara hikmah untuk senantiasa mengoreksi diri. Walau seharusnya instropeksi diri itu dilakukan kapan saja. Kita juga bisa memahami arti sebenarnya dari hijrah yang jadi awal penanggalan tahun bagi kaum muslimin. Dan kita juga bisa menemukan keanehan-keanehan yang tidak seharusnya dilakukan seorang muslim berkaitan dengan tahun baru. By the way, semoga kita lebih bijaksana dalam menyikapi hidup yang terbatas ini dan lebih dewasa dalam memaksimalkan sisa umur yang ada.

    3 Muharram 1433 H / 28 November 2011 M
    Beberapa menit sebelum kuliah dimulai

    Penulis : Roni Nuryusmansyah
    Artikel : kristalilmu.com

    http://www.kristalilmu.com/keanehan-dan-pelajaran-di-tahun-baru-hijriyah/

  2. Inilah Ghibah yang Dibolehkan

    Oleh: Badrul Tamam

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas anugerah nikmat Islam, iman, dan nikmat-nikmat lainnya tiada terkira. Shalawat dan dalam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

    Ghibah yang dalam arti menyebut (membicarakan) orang lain yang tidak ada di tempat dengan sesuatu yang dibencinya meskipun yang dibicarakan itu benar adanya, adalah dosa besar. Keharamannya disebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an dengan permisalan yang sangat menjijikkan, agar kaum muslimin mejauhinya. Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

    “Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12)

    Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ghibah di atas mengatakan, “Ghibah (menggunjing) diharamkan menurut ijma’. Tidak ada pengecualian darinya kecuali jika ada mashlahat yang lebih, seperti dalam konteks jarh wa ta’dil dan nasihat.”

    Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Ijma’ menyatakan bahwa ghibah termasuk salah satu dari dosa besar. Dan wajib bertaubat kepada Allah darinya.”

    Permisalan yang disebutkan Al-Qur’an menunjukkan keharaman dan buruknya perbuatan ghibah terletak pada kalimat, “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

    Dalam konteks ini Allah memburukkan perilaku ghibah agar orang-orang menjauhinya. Sebab seluruh manusia pasti menganggap perbuatan memakan daging manusia sebagai sesuatu yang menjijikkan. Terlebih yang dimakan adalah saudara kandungnya sendiri ataupun saudara seiman. Lalu bagaimana kalau yang dimakan adalah daging yang sudah busuk?!

    Al-Qurthubi mengatakan, “Allah mengumpamakan ghibah dengan memakan bangkai, karena bangkai tidak tahu kalau ia dimakan. Begitu juga dengan orang hidup, ia tidak tahu gunjingan orang yang menggunjingnya.”

    Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan ini untuk perbuatan ghibah, karena memakan daging bangkai adalah perbuatan haram yang menjijikkan, begitu juga ghibab, haram dalam pandangan agama dan buruk menurut penilaian jiwa.”

    Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana salah seorang kalian dilarang memakan daging saudaranya yang sudah mati, begitu juga wajib menjauhi menggunjingnya sewaktu ia masih hidup.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

    “Setiap muslim haram darah, harta, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR. Muslim)

    . . . karena memakan daging bangkai adalah perbuatan haram yang menjijikkan, begitu juga ghibab, haram dalam pandangan agama dan buruk menurut penilaian jiwa.

    Namun, dalam beberapa kondisi ternyata ghibah itu dibolehkan. Khususnya apabila dia menjadi satu-satunya jalan untuk tercapai tujuan yang benar dan masyru’ (sesuai syariat). Contohnya, mengadukan kedzaliman orang atas dirinya, meminta fatwa, memberi nasihat, memperingatkan manusia atas kejahatan orang, meminta bantuan untuk merubah kemungkaran, serta untuk memberitahukan hal ihwal seseorang.

    Dalil ghibah yang dibenarkan dalam mengadukan kezhaliman seseorang atas dirinya terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

    لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

    “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148) Dia boleh mendoakan orang yang mezhaliminya dan mengadukannya tanpa berbohong, namun demikian memaafkan adalah lebih utama dan lebih dekat dengan takwa.

    Dalil bolehnya menggunjing seseorang ketika meminta fatwa adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hindun binti ‘Utbah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang pelit. Dia tidak memberikan nafkah kepadaku yang cukup untuk diriku dan anakku kecuali kalau aku mengambil darinya yang dia tidak tahu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ambillah harta yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari) landasannya adalah pertaannya, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang pelit.” Dia membicarakannya apa yang ada pada diri Abu Sufyan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Sedangkan dalil yang menunjukkan bolehnya ghibah terhadap orang jahat yang terang-terang dalam melakukan kajahatannya dengan tujuan agar orang yang mendengarnya menjauhi perbuatan tersebut adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata, “Seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda, “Izinkanlah dia, seburuk-buruk saudara satu kabilah.” Maka dia masuk, beliau melembutkan perkataan kepadanya.

    Aku (‘Aisyah) berkata, “Ya Rasulullah, engkau telah berkata apa yang engkau katakana, lalu engkau berkata lembut kepadanya.” Beliau menjawab, “Hai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan/dijauhi manusia karena takut akan kejahatannya.” (HR. Al-Bukhari)

    Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan/dijauhi manusia karena takut akan kejahatannya. (al-hadits)

    Sebagian ulama menyebutkan bahwa laki-laki ini adalah ‘Uyainah bin Hishn al-Fazzari yang ketika itu belum masuk Islam, walaupun dia menampakkan Islamnya, karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menjelaskan kondisinya agar orang-orang mengenalnya dan tidak tertipu dengan tampilannya. Dan sungguh terbukti di masa Nabi Muhammad dan sesudahnya ada beberapa hal yang menunjukkan kelemahan imannya. Pada masa Abu Bakar, dia pernah murtad dan tertawan.

    Maka yang pernah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan padanya itu menjadi bagian dari tanda-tanda kenabian beliau, karena terbukti sebagaimana yang beliau sifatkan. Dan sikap beliau yang melembutkan perkataan kepadanya dan orang-orang yang seperti dia, adalah sebagai upaya menjinakkan agar dia masuk Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memujinya dan tidak pula menyebutkan bahwa beliau menyanjungnya, baik di hadapannya atau di belakangnya. Hanya saja beliau melunakkannya dengan sedikit dunia (memberikan harta) dan berkata yang lembut.

    Sementara bukti bahwa ghibah dibolehkan dalam rangka memberi nasihat ditunjukkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk manusia secara keseluruhan.” (HR. Muslim)

    Seseorang boleh menyebutkan kejelekan orang lain untuk menasihati kaum muslimin agar pengaruh jeleknya dan sesuatu yang membahayakannya. Contoh nyatanya dengan menjarh para perawi dan saksi untuk memelihara hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian juga menyebutkan keburukan orang dalam musyawarah urusan nikah, perserikatan, dan kongsi.

    Bukti bolehnya ghibah ketika meminta bantuan untuk merubah kemungkaran adalah seluruh nash yang menyebutkan tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan berbuat baik dan melarang dari kemungkaran). Di antaranya firman Allah Jalla Jalaluhu,

    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

    Dan perintah Nabi terhadap pemimpin-pemimpin yang jahat, “Siapa yang melawan dengan tangannya maka dia seorang mukmin, dan siapa yang melawannya dengan lisannya dia seorang mukmin, dan siapa yang melawannya dengan hatinya dia seorang mukmin. Dan tidak ada iman sekecil apapun sesudah itu.” (HR. Muslim)

    Sementara bukti dibolehkan ghibah dalam rangka mengenalkan dan membedakan seseorang dari yang lain tanpa maksud merendahkan dan menghina adalah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami dalam shalat Zhuhur, dua rakaat lalu salam. Kemudian beliau menuju ke sebuah kayu di masjid depan dan meletakkan tangannya di atasnya. Di tengah-tengah jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, keduanya segan untuk berbicara kepada beliau. Segera muncul kesimpulan orang-orang yang berkata, “Shalat telah diqashar.” Dan di antara jama’ah terdapat seseorang yang dijuluki Nabi dengan Dzul Yadain, dia berkata, “Wahai Nabiyallah, apakah Anda lupa atau shalat diqashar?” Lalu beliau menjwab, “Aku tidak lupa dan tidak pula shalat diqashar.” Mereka menjawab, “Berarti Anda lupa ya Rasulallah.” Beliau menjawab, “Dzul Yadain benar.” Lalu beliau berdiri dan shalat dua rakaat lalu salam. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sujud sahwi.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dasarnya adalah Nabi memanggil laki-laki ini dengan dzul yadain (yang punya dua tangan). Telah diketahui, panggilan semacam itu jika untuk menerangkan dan membedakan dari yang lain boleh-boleh saja. Namun jika untuk merendahkan maka tidak boleh. Dari sini, ketika ‘Aisyah mengisaratkan kepada seorang wanita yang menemuinya bahwa dia pendek, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegurnya dan menerangkan hal itu sebagai ghibah. Karena Aisyah bermaksud memberitahukan bentuknya bukan hanya untuk mengenalkan.

    Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ghibah adalah membicarakan orang dengan sesuatu yang tidak dia suka ketika dia tidak ada. Sedangkan asal al-bahtu adalah membicarakan keburukan orang lain yang tidak ada padanya. Keduanya diharamkan. Tapi dibolehkan ghibah untuk tujuan syar’i dengan enam sebab berikut ini:

    1. Al-Tazhallum (mengadukan kezhaliman). Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa, qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun pihak yang berwajib lainnya. Ia dapat menuntut keadilan ditegakkan atas orang yang mezhaliminya dengan mengatakan, “Si Fulan telah melakukan kezhaliman terhadapku dengan cara seperti ini dan itu.”

    2. Permintaan bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran dengan mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu melakukannya, “Si Fulan telah berbuat begini, selamatkah dia darinya.”

    3. Permintaan fatwa (al istifta’). Misal seseorang mengatakan kepada seorang mufti (pemberi fatwa), si fulan atau ayahku atau saudaraku atau suamiku telah menzhalimiku dengan cara begini. Apakah dia berhak berbuat seperti itu? Lalu apa yang harus aku perbuat agar aku selamat darinya dan terhindar dari kezhalimannya? Atau pernyataan apapun yang semacam itu. Maka ini hukumnya boleh jika diperlukan. Tapi lebih baik dia mengatakan, “Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang, atau seorang suami, ayah, anak yang telah memperbuat hal seperti ini? Namun demikian menyebutkan secara rinci tetap boleh berdasarkan hadits Hindun dan aduannya, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit.”

    4. Memperingatkan kaum muslimin dari keburukan. Hal ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya:

    – Menyebutkan keburukan orang yang buruk (jarh majruhin) dari kalangan perawi hadits, saksi ataupun pengarang. Semua itu boleh berdasarkan ijma’, bahkan wajib sebagai langkah melindungi syari’at.

    – Membeberkan aibnya ketika bermusyawarah untuk menjalin hubungan dengannya (bisa dalam bentuk, kerjasama, pernikahan dan lainya-pent).

    – Apabila melihat seseorang membeli sesuatu yang cacat atau membeli seorang budak yang suka mencuri, berzina, mabuk-mabukan, atau semisalnya. Engkau boleh memberitahukannya kepada pembelinya jika ia tidak tahu dalam rangka memberi nasihat bukan untuk menyakiti atau merusak.

    – Apabila engkau melihat seorang pelajar (santri) yang sering bertandang kepada orang fasik atau ahli bid’ah untuk menuntut ilmu, dan engkau khawatir dia terpengaruh dengan sikap negatifnya, maka wajib engkau memerinya nasihat dengan menjelaskan keadaan orang tersebut semata-mata untuk menasihati.

    – Seseorang yang memiliki kedudukan namun tidak melaksanakan dengan semestinya karena bukan ahlinya atau karena kefasikannya, maka boleh melaporkannya kepada orang yang memiliki jabatan di atasnya agar dia memperoleh kejelasan tentang keadaanya supaya dia tidak tertipu olehnya dan mendorongnya untuk istiqamah.

    5. Seseorang yang melakukan kefasikan (kemaksiatan) atau kebid’ahan dengan terang-terangan, seperti minum-minuman keras, merampas harta orang (memalak), mengambil pungutan liar, dan melakukan perbuatan batil lainnya. Maka boleh menyebut (membicarakan)nya karena dia melakukan kejahatan dengan terang-terangan. Adapun yang selain itu, tidak boleh kecuali ada sebab yang lain.

    6. Untuk mengenalkan. Apabila dia terkenal dengan panggilan al-A’masy (orang yang kabur penglihatannya), pincang, al-Azraq (yang berwarna biru), pendek, buta, buntung tangannya, dan semisalnya maka boleh memperkenalkannya dengan menyebut hal itu. Namun tidak boleh menyebutnya (membicarakannya) karena menghina. Dan jika bisa memperkenalkannya dengan sebutan yang lain tentu itu lebih baik. (PurWD/voa-islam.com)

    http://m.voa-islam.com/news/tsaqofah/2011/12/14/17025/inilah-ghibah-yang-dibolehkan/

  3. Kafarat Ghibah; Solusi Bagi yang Terjerumus Ghibah

    Oleh: Badrul Tamam

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas anugerah nikmat Islam, iman, dan nikmat-nikmat lainnya tiada terkira. Shalawat dan dalam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelularga dan para sahabatnya.

    Ghibah adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar. Keharamannya disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an. Namun hampir setiap muslim pernah melakukannya. Padahal mungkin mereka tahu, seorang penggunjing diancam dengan siksa keras di sisi Allah Ta’ala,

    Allah Ta’ala menerangkan tentang haramnya ghibah,

    وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

    “Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12)

    Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ghibah di atas mengatakan, “Ghibah (menggunjing) diharamkan menurut ijma’. Tidak ada pengecualian darinya kecuali jika ada mashlahat yang lebih, seperti dalam konteks jarh wa ta’dil dan nasihat.”

    Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Ijma’ menyatakan bahwa ghibah termasuk salah satu dari dosa besar. Dan wajib bertaubat kepada Allah darinya.”

    Cukuplah kalimat permisalan yang disebutkan Al-Qur’an menunjukkan keharaman dan buruknya perbuatan ghibah, yaitu “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

    Dalam konteks ini Allah memburukkan perilaku ghibah agar orang-orang menjauhinya. Sebab seluruh manusia pasti menganggap perbuatan memakan daging manusia sebagai sesuatu yang menjijikkan. Terlebih yang dimakan adalah saudara kandungnya sendiri ataupun saudara seiman. Lalu bagaimana kalau yang dimakan adalah daging yang sudah busuk?!

    Al-Qurthubi mengatakan, “Allah mengumpamakan ghibah dengan memakan bangkai, karena bangkai tidak tahu kalau ia dimakan. Begitu juga dengan orang hidup, ia tidak tahu gunjingan orang yang menggunjingnya.”

    Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan ini untuk perbuatan ghibah, karena memakan daging bangkai adalah perbuatan haram yang menjijikkan, begitu juga ghibab, haram dalam pandangan agama dan buruk menurut penilaian jiwa.”

    Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana salah seorang kalian dilarang memakan daging saudaranya yang sudah mati, begitu juga wajib menjauhi menggunjingnya sewaktu ia masih hidup.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

    “Setiap muslim haram darah, harta, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR. Muslim)

    Apa itu Ghibah?

    Sesudah mengetahui bahaya ghibah, mari kita pahami definisinya, bahwa ghibah adalah menyebut (membicarakan) orang lain yang tidak ada di tempat dengan sesuatu yang dibencinya meskipun yang dibicarakan itu benar adanya. Maka jika kita membicarakan tentang aib fisik atau sifat saudara kita yang tidak ada bersama kita, maka kita sudah menggunjingnya, dan kita telah melakukan dosa besar.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda,

    ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

    “Kamu menyebut tentang saudaramu apa yang dia benci.” Ada seseorang bertanya, “Bagaimana jika yang aku bicarakan ada pada dirinya?” Beliau menjawab,

    إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

    “Jika yang engkau bicarakan ada pada dirinya berarti engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh engkau telah berbuat dusta.” (HR. Muslim)

    Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ghibah (menggunjing) ada tiga bentuk, semuanya terdapat dalam Kitabullah Ta’ala: ghibah, ifkun, buhtan. Adapun Ghibah adalah engkau berkata tentang saudaramu apa yang ada pada dirinya. Sementara Ifkun (berita bohong), engkau berbicara tentangnya sebagaimana kabar yang sampai kepadamu. Sedangkan Buhtan (dusta), engkau membicarakan keburukan saudaramu yang tidak ada padanya.” (Dinukil dari Tafsir al-Qurtubi)

    Bahaya Ghibah

    Letak parahnya perbuatan ghibah dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, ghibah (menggunjing) berkaitan dengan hak hamba, dosanya lebih berbahaya karena kezalimannya merembet kepada manusia.

    Kedua, ghibah merupakan maksiat yang dikerjakan dengan ringan oleh kebanyakan manusia kecuali orang yang dirahmati Allah. Dan sesuatu yang ringan yang biasa dikerjakan manusia biasanya dianggap sepele, padahal dosanya sangat besar di sisi Allah.

    Kafarat Dosa Ghibah (Menggunjing)

    Jika seseorang terjerumus ke dalam perbuatan ghibah (menggunjing) hendaknya ia menyesali perbuatannya, meninggalkannya, bertekad tidak akan mengulanginya, memohon ampun kepada Allah, dan bertaubat kepada-Nya. Dan pintu Taubat senantiasa terbuka bagi orang yang berdosa lalu menyesalinya. Hanya saja, dosa menggunjing ada kaitan dengan makhluk. Sedangkan di antara syarat taubat yang memiliki sangkutan hak adami adalah dengan meminta kehalalan dan maafnya.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

    “Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya dari kehormatan atau sesuatu (miliknya) hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman itu pada hari ini, sebelum datang hari kiamat yang saat itu tidak ada manfaatnya lagi dinar dan dirham, jika ia mempunyai amal shalih maka akan diambil sekadar dengan kezalimannya, dan jika tidak memiliki kebaikan maka keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan lainnya)

    Maka seseorang yang sudah menggunjing saudara muslim lainnya, dan sudah menyebar serta sampai pada orang yang digunjingnya, hendaknya ia datang kepada saudaranya tersebut, mengakui kesalahannya, dan meminta maaf kepadanya. Kecuali jika khawatir keterusterangannya tersebut menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka ia cukup memintakan ampun dan mendoakan kebaikan untuknya, memujinya dan menyanjung akhlak baik yang ada padanya. Hal ini juga berlaku jika isi ghibahnya belum sampai kepada orang yang digunjing, maka tidak perlu memberi tahukan kepadanya, karena bisa menjadikan ia marah dan rusak hubungan persaudaraan. Inilah pendapat kebanyakan ulama, riwayat yang berasal dari Imam Ahmad, yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan lainnya.

    Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

    كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته

    “Kafarat ghibah adalah engkau memintakan ampun untuk orang yang engkau gunjing.” Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

    http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/11/29/16852/kafarat-ghibah-solusi-bagi-yang-terjerumus/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s