MANAKAH YANG LEBIH MENAKJUBKAN ???

MANAKAH YANG LEBIH MENAKJUBKAN ??

Kisah menakjubkan yang disampaikan oleh seorang dai. Sang dai berkata : “Pelaku kisah ini bercerita kepadaku”:

“Suatu hari aku bersafar dari Thoif menuju Riyadh bersama istri dan anak-anakku. Akan tetapi di tengah jalan mobilku rusak. Tatkala itu cuaca panas. Maka akupun berhenti di dekat salah satu pom bensin (*tempat peristirahatan yang juga lengkap dengan warung serta bengkel). Maka aku mengecek mobilku dengan memanggil seorang montir yang adi di bengkel disekitar pom bensin tersebut. Sang montir mengabarkan bahwa mobilku rusak berat, mesin penggeraknya rusak, hanya bisa diperbaiki di Thoif atau di Riyadh. Maka akupun berdiri di bawah terik matahari, sementara istri dan anak-anakku tetap berada di dalam mobil. Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan…, anak-anaku bagaimana…?, istriku?, mobilku?, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Orang-orang melewatiku dan melihat kondisiku akan tetapi tidak seorangpun yang menyapaku, semuanya lewat dengan cuek. Hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian ada seseorang yang lewat dan berkata, “Semoga Allah menolongmu…, semoga Allah memberi kemudahan padamu”. Ini adalah orang yang terbaik yang lewat, ia mendoakanku. Tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari pom bensin lalu berhenti di mobilku yang rusak lalu menyapaku, “Assalaamu’alaikum”, Aku berkata, “Wa’alaikum salam”. Ia berkata, “Ada apa dengan mobilmu, semoga baik-baik saja?”. Aku berkata, “Mobilku rusak”. Rupanya orang ini punya keahlian tentang mesin mobil. Maka ia berkata, “Coba aku cek dulu ada apa dengan mobilmu…”. Setelah mengecek lalu ia berkata, “Ini rusak berat, tidak bisa diperbaiki”.

Aku berkata, “Lantas solusinya bagaimana?”. Ia lalu menyampaikan sebuah ide yang selama hidupku tidak pernah aku mendengar ide seperti ini, padahal ia tidak mengenalku dan aku tidak mengenalnya.

Ia berkata, “Akhi.., engkau membawa keluarga sedangkan aku hanya sendirian…, engkau masukkan saja istri dan anak-anakmu ke mobilku terus bawalah mobilku, lanjutkan perjalananmu ke Riyadh, dan bertawakkallah kepada Allah. Adapun aku gampang…, aku akan nungguin mobilmu, aku minum kopi di warung, dan aku makan siang…. Perjalananmu masih sekitar 400 km. Kalau kamu sudah sampai di Riyadh maka antarkan keluargamu di rumahmu, lalu kirim aja mobil pengangkut dari Riyadh untuk menjemput aku dan mobilmu. Aku akan menunggui mobilmu sampai datang mobil penjemput  !!”.

Aku berkata, “Wahai saudaraku…, engkau tidak mengenalku…bagaimana engkau memberikan mobilmu kepadaku !!”.

Ia berkata, “Perkaranya biasa aja…kan mobilmu juga sama aku, mobilku sama kamu”

Aku sungguh heran dengan sikap orang ini. Ia lantas segera mengeluarkan barang-barangku dari mobilku dan memasukannya ke mobilnya, lantas ia berkata…”Silahkan jalan, bertawkkallah kepada Allah”.

Maka akupun melanjutkan perjalananku hingga aku tiba di Riyadh di waktu maghrib, lalu akupun menyewa mobil pengangkut untuk menjemputnya dan mobilku. Dan ternyata mobil pengangkut tersebut baru sampai pada keesokan paginya. Hingga akhirnya ia baru sampai di Riyadh di waktu dzuhur. Begitu sampai Riyadh aku segera menemuinya untuk mengembalikan mobilnya. Aku berkata kepadanya, “Apa yang kau kehendaki..?, mungkin ada yang kau butuhkan…??, aku ingin membalas kebaikanmu”

Ia berkata, “Alhamdulillah…aku tidak melakukan apa-apa buatmu…mobilku sekarang kembali dan mobilmu juga sudah sampai ke Riyadh”

Aku berkata, “Kalau begitu, aku minta nomor teleponmu”, iapun memberikan nomor teleponnya dan kamipun berkenalan sebentar.

Setelah itu berjalanlah hari…berlalulah minggu…lewatlah bulan.. hingga suatu hari akupun berkumpul dengan sahabat-sahabtku membicarakan tentang perbuatan-perbuatan baik. Lalu aku ceritakan kepada mereka kisahku ini, tentang pertongan dari seseorang yang aku tidak pernah mengenalnya dan ia tidak pernah mengenalku. Sungguh aku tidak menyangka ada kebaikan lagi di dunia ini hingga akhirnya aku bertemu dengan orang ini. Ia telah berbuat baik kepadaku.

Akupun teringat bahwasanya sudah lama aku tidak meneleponnya, maka akupun mencari nomor teleponnya, lalu akupun meneleponnya. Akan tetapi tenyata yang mengangkat telepon adalah istrinya. Maka aku berkata, “Dimanakah si fulan?”, ternyata istrinya menjawab dengan nada yang ketus, “Apalagi yang kalian inginkan…ia sudah dipenjara !!!”. Akupun terperanjat, aku bertanya, “Kenapa dipenjara?”. Istrinya dengan nada ketus berkata, “Kamu dan orang-orang yang sepertimu selalu saja datang dan menagih-nagih hutang hingga akhirnya suamiku dipenjara !!!”, Aku bertanya lagi, “Di penjara mana?”, maka istrinya mengabarkan bahwasanya ia dipenjara di sebuah penjara di Riyadh.

Maka keesokan harinya aku hendak berniat membalas kebaikannya. Maka akupun membawa uang sejumlah 100 ribu real (*sekitar 250 juta rupiah) lalu aku pergi menunju penjara tersebut. Aku menemui kepala penjara, lantas aku bertanya kepadanya, “Apakah si fulan dipenjara di sini?”, ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Masalahnya apa?”, ia berkata, “Karena masalah hutang”. Akupun mengeluarkan uangku 100 ribu real, lalu aku berkata, “Ini uang 100 ribu real, keluarkanlah ia dari penjara, dan jangan beritahu dari siapa. Sampaikan saja bahwasanya ada seorang dermawan yang memberikan, lunasi hutang-hutangnya dan keluarkanlah ia dari penjara”.

Kepala penjara tersebut lalu memanggil orang ini dan mengabarkan kepadanya bahwa ada orang yang ingin membebaskannya dengan menyumbangkan 100 ribu real. Kepala penjara berkata kepadanya, “Ambillah uang ini, semoga bermanfaat bagimu”. Akan tetapi ternyata  ia berkata, “Jazaahullahu khoiron, akan tetapi 100 ribu real ini tidak bermanfaat bagiku. Hutangku 3 juta real (*sekitar 7,5 milyar)”. Rupanya orang ini telah masuk dalam perdagangan dan mengalami kerugian hingga akhirnya terlilit hutang sejumlah 3 juta real yang menyebabkan ia dipenjara karena tidak mampu untuk melunasinya. Lantas ia berkata kepada kepala penjara, “Ketahuilah uang 100 ribu real ini tidak bermanfaat bagiku, akan tetapi gunakan uang ini untuk membebaskan orang-orang yang dipenjara bersamaku yang kelilit utang 7 ribu real, atau 10 ribu real atau 20 ribu real”. Akhirnya dengan uang ini ia bisa membebaskan lebih dari 7 orang dari teman-temannya yang dipenjara.

Kepala penjara berkata, “Aku jadi bingung…manakah yang lebih menakjubkan…apakah perbuatan sang dermawan yang telah menyumbangkan 100 ribu realnya tanpa ingin diketahui…?, ataukah perbuatan orang yang dipenjara ini yang tidak memiliki uang sepeserpun dan dalam kondisi dipenjara lantas memberikan uang 100 ribu real untuk membebaskan teman-teman penjaranya??!!”

Setelah 2 atau 3 minggu kemudian maka aku kembali menelpon orang itu, dan ternyata yang mengangkat telepon kembali adalah istrinya. Lalu mengabarkan kepadaku bahwasanya suaminya masih saja dipenjara. Maka akupun kaget, lalu kututup teleponku dan segera aku berangkat menemui kepala penjara. Lalu aku berkata, “Akhi…3 minggu lalu aku kemari dan aku memberikan kalian 100 ribu real untuk membebaskan si fulan, lantas kenapa kalian belum membebaskannya?”. Kepala penjara berkata, “Wahai akhi…hutangnya 3 juta real, hanya 100 ribu real tentu tidak bisa membebaskannya. Akan tetapi wahai akhi…aku tidak tahu..mana yang lebih aneh dan menakjubkan…apakah perbuatanmu ataukah perbuatannya”. Lantas kepala penjarapun menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi. Maka akupun terperangah….aku berkata, “Sungguh orang ini luar biasa…!!!”. Lalu aku berkata kepada kepala penjara, “Kalau begitu berikan kepadaku bukti-bukti hutangnya 3 juta real”. Kebetulan aku adalah orang yang dilapangkan rizki dan juga aku punya banyak kenalan, maka akupun mencari bantuan dengan menemui orang-orang kaya hingga akhirnya setelah 3 bulan kemudian akupun bisa mengumpulkan 3 juta real, lalu akupun membayarnya kepada kepala penjara untuk membebaskannya”

(Demikian ceritanya…diterjemahkan secara bebas oleh Firanda Andirja)

http://www.facebook.com/notes/firanda-andirja/manakah-yang-lebih-menakjubkan-/291368894255048

13 thoughts on “MANAKAH YANG LEBIH MENAKJUBKAN ???

  1. Wasiat Seorang Ibu Kepada Putrinya Yang Akan Merasakan Mahligai Malam Pertama

    Al-‘Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata :
    “Tatkala ‘Amr bin Hajr mendatangi ‘Auf bin Mahlam As-Syaibaani untuk melamar putrinya yaitu Ummu Iyaas, maka ‘Auf berkata, “Aku akan menikahkan putriku kepadamu dengan syarat aku yang akan memberi nama putra-putranya dan aku yang akan menikahkan putri-putrinya kelak”. Maka ‘Amr bin Hajr berkata, Adapun putra-putra kami maka kami menamakan mereka dengan nama-nama kami dan nama-nama bapak-bapak kami dan nama-nama paman-paman kami. Adapun putri-putri kami maka yagn akan menikahi mereka adalah yang setara dengan mereka dari kalangan kerajaan, akan tetapi aku akan memberikan kepadanya mahar sebuah bangunan di Kindah, dan aku akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaumnya, tidak seorangpun dari mereka yang akan ditolak hajatnya”. Maka sang ayah (‘Auf) pun menerima mhara tersebut lalu menikahkan ‘Amr dengan putrinya Ummu Iyaas.
    Tatkala ‘Amar akan membawa sang putri maka datanglah sang ibu menasehati empat mata kepada sang putri seraya berkata:
    أَيْ بُنَيَّةِ، إِنَّكِ فَارَقْتِ بَيْتَكِ الَّذِي مِنْهُ خَرَجْتِ، وَعَشِّكِ الَّذِي فِيْهِ دَرَجْتِ، إِلَى رَجُلٍ لَمْ تَعْرِفِيْهِ، وَقَرِيْنٍ لَمْ تَأْلَفِيْهِ، فَكُوْنِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَاحْفَظِي لَهُ خِصَالاً عَشْراً يَكُنْ لَكِ ذُخْرَا
    “Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu -yang disitulah engkau dilahirkan dan sarangmu tempat engkau tumbuh- kepada seorang lelaki asing yang engkau tidak mengenalnya dan teman (*hidup baru) yang engkau tidak terbiasa dengannya. Maka jadilah engkau seorang budak wanita baginya maka niscaya ia akan menjadi budak lelakimu. Hendaknya engkau memperhatikan dan menjaga 10 perkara untuknya maka niscaya akan menjadi modal dan simpananmu kelak.
    أَمَّا الْأُوْلَى وَالثَّانِيَةُ: فَالْخُشُوْعُ لَهُ بِالْقَنَاعَةِ، وَحُسْنِ السَّمْعِ لَهُ وَالطَّاعَةِ
    “Adapun perkara yang pertama dan kedua adalah (1) Tunduk kepadanya dengan sifat qonaah, serta (2) mendengar dan taat dengan baik kepadanya”
    وَأَّمَّا الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِمَوْضِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلاَ تَقَعُ عَيْنُهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيْحٍ، وَلاَ يَشُمُّ مِنْكِ إِلاَّ أَطْيَبَ رِيْحٍ
    “Adapun perkara yang ketiga dan keempat yaitu engkau memperhatikan pandangan dan ciumannya, maka (3) jangan sampai matanya melihat sesuatu yang buruk dari dirimu dan (4) jangan sampai ia mencium darimu kecuali bau yang terharum”
    وَأَمَّا الْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِوَقْتِ مَنَامِهِ وَطَعَامِهِ، فَإِنَّ حَرَارَةُ الْجُوْعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِيْصَ النَّوْمِ مُغْضِبَةٌ
    “Adapun perkara yang kelima dan keenam adalah (5 & 6) memperhatikan waktu tidurnya dan makannya, karena panasnya lapar itu membakar dan kurangnya tidur menimbulkan kemarahan”
    وَأَمَّا السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: فَالاِحْتِفَاظُ بِمَالِهِ، وَالْإِرْعَاءُ عَلَى حَشْمِهِ وَعِيَالِهِ، وَمِلاَكُ الْأَمْرِ فِي الْمَالِ حُسْنُ التَّقْدِيْرِ، وَفِي الْعِيَالِ حُسْنُ التَّدْبِيْرِ
    “Adapun perkara ketujuh dan kedelapan ; (7) menjaga hartanya dan (8) perhatian terhadap kerabatnya dan anak-anaknya. Dan kunci pengurusan harta adalah penempatan harta sesuai ukurannya dan kunci perhatian anak-anak adalah bagusnya pengaturan”
    وَأَمَّا التَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: فَلاَ تَعْصِنَّ لَهُ أَمْرًا وَلاَ تَفْشِنَّ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ أَوْغَرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشَيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِي غَدْرَهُ
    “Adapun perkara yang kesembilan dan kesepuluh adalah (9) janganlah sekali-kali engkau membantah perintahnya dan (10) janganlah sekali-sekali engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya maka engkau akan memanaskan dadanya, dan jika engkau menyebarkan rahasianya maka engkau tidak akan aman dari penghkianatannya”
    ثُمَّ إِيَّاكِ وَالْفَرَحَ بَيْنِ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ مُهْتَمًّا، وَالْكَآبَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ فَرِحاً.
    “Kemudian hatilah-hatilah engkau jangan sampai engkau gembira tatkala ia sedang bersedih, dan janganlah bersedih tatkala ia sedang bergembira”
    Al-‘Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata, “Maka kemudian Ummu Iyaaspun melahirkan bagi ‘Amr bin Hajr anaknya yang bernama Al-Haarits bin ‘Amr, yang ia merupakan kakek dari Umrul Qois penyair dan pujangga yang tersohor”

    (Dari kitab Al-‘Aqd Al-Fariid karya Al-Faqiih Ahmad bin Muhammad bin Abdi Robbihi Al-Andaluusi, tahqiq : DR Mufiid Muhammad, jilid 7 hal 89-90, Daarul Kutub al-‘Ilmiyah, cetakan pertama, tahun 1983)

    http://www.facebook.com/firanda.andirja

  2. Sesungguhnya Allah telah menjamin rizkimu maka janganlah gelisah…
    Namun Allah tidak menjamin surga bagimu maka janganlah terpedaya (dengan amalanmu)…
    Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit…sesungguhnya tipuan dunia akan hilang..
    semua kenikmatan selain surga maka akan sirna, dan semua keususahan selain neraka adalah keselamatan…

    http://www.facebook.com/firanda.andirja

  3. Wahai para wanita…tahukah anda bahwa:
    (1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
    (2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu…semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
    (3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu….
    (4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??
    (5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…,
    (6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!! (copas status istri)

    http://www.facebook.com/firanda.andirja

  4. Wahai para suami…istrimu adalah mahkotamu…titipan dari Allah khusus untukmu yang harus kamu jaga….jangan sampai lelaki lain memakai mahkotamu…atau ikut menikmati indahnya mahkotamu…
    Sungguh pilu hati ini tatkala melihat seorang suami membiarkan istrinya menjadi santapan pandangan mata-mata nakal para lelaki…., ikut menikmati keindahan tubuhnya….ikut tergiur memandang paras cantiknya…dimanakah kecemburuanmu ?? Ataukah engkau bangga jika kecantikan mahkotamu diketahui banyak lelaki…?, bangga jika mahkotamu ikut menggairahkan para lelaki??
    Ingatlah…Allah akan meminta pertanggung jawabanmu kelak..!!! (copas status istri)

    http://www.facebook.com/firanda.andirja

  5. Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

    أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُوْرٌ يدُخْلِهُ ُعَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ( يعني مسجد المدينة) شَهْرًا وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ _ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ _ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ رَجَاءَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى تَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُوْلُ الأَقْدَامُ وَإِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلِ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

    Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah memberikan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau mengangkat kesulitan yang dihadapinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan kebutuhannya, lebih aku sukai daripada aku iktikaf selama sebulan penuh di masjid ini (Masjid Nabawi).
    Barang siapa yang menahan rasa marahnya maka Allah akan menutup auratnya (keburukan-keburukannya) pada hari kiamat. Barang siapa yang menahan amarahnya –-yang jika dia kehendaki maka bisa dia luapkan– maka Allah akan memenuhi hatinya dengan (selalu) mengharapkan hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk keperluannya hingga ia siap untuk menunaikan kebutuhannya maka Allah akan mengokohkan kakinya di hari di mana kaki-kaki akan tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu. (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no: 906)

    http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/156-mendulang-pelajaran-akhlak-dari-syaikh-abdurrozzaq-al-badr-hafizhahullah-seri-5-

  6. Rela Pada Ketentuan Allah

    Oleh: Imam Asy-Syafi’i

    Biarkanlah hari-hari berbuat semaunya
    Berlapang dada-lah jika takdir menimpa

    Jangan berkeluh-kesah atas musibah di malam hari
    Tiada musibah yang kekal di muka bumi
    Jadilah laki-laki tegar dalam menghadapi tragedi
    Berlakulah pema’af selalu menepati janji

    Jika banyak aibmu di mata manusia
    Sedang engkau berharap menutupinya
    Bersembunyilah engkau di balik derma
    Dengan derma aibmu tertutup semua

    Jangan pernah terlihat lemah di depan musuhmu
    Sungguh malapetaka jika musuh menertawaimu

    Jangan berharap dari orang kikir kemurahan
    Di neraka tiada air bagi orang yang kehausan
    Rizkimu tidak berkurang karena kerja wajar perlahan
    Berlelah-lelah tidak menambah rizki seseorang

    Tiada kesedihan yang kekal tidak pula kebahagiaan
    Tiada kesulitan yang abadi tidak pula kemudahan

    Jika engkau berhati puas dan mudah menerima
    Sungguh, antara engkau dan raja dunia tiada beda

    Barangsiapa kematian datang menjemputnya
    Langit dan bumi tak kan mampu melindunginya

    Bumi Allah begitu lapang luas membentang
    Namun seakan sempit kala ajal menjelang

    Biarkanlah hari-hari ingkar janji setiap saat
    Kematian tak mungkin dicegah dengan obat

    http://ummusalma.wordpress.com/2007/11/11/rela-pada-ketentuan-allah/

  7. Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala tertimpa musibah. Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq.

    Tidak ada yang bisa berbuat kecuali Allah semata, ilmu, kekuasaan dan rahmat-Nya sempurna, di belakang kekuasaan-Nya tidak ada kekuasaan lain, di belakang ilmu-Nya tidak ada ilmu lain, di belakang rahmat-Nya tidak ada rahmat lain.

    “Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhori&Muslim)

    http://ummusalma.wordpress.com/

  8. Rintihan Sholat Malam

    Seakan-akan sholat malam berkata :
    “Akankah masa keemasanku akan berakhir….?
    Ramadan lalu betapa banyak orang berbondong-bondong mengejarku….betapa bahagianya diriku saat itu…, akan tetapi…
    Baru seminggu Ramadhan berlalu maka berbondong-bondong pula orang-orang meninggalkan aku…mereka melupakan aku…bahkan mereka pura-pura tidak mengenalku.
    Lebih menyedihkan lagi…banyak diantara mereka yang di malam idhul fitri langsung mengusirku…, satu rakaatpun tidak mereka kerjakan !!!
    Apakah aku hanya dihargai dan dicari-cari tatkala di bulan Ramadhan?? Lantas di sebelas bulan yang lain aku dicampakkan oleh mereka??
    Bukankah Imam mereka Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang sengaja meninggalkan sholat witir, maka beliau berkata :

    هَذَا رَجُلٌ سُوْء يَتْرُكُ سُنَّةً سَنَّهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، هَذَا سَاقِطُ الْعَدَالَةَ إِذَا تَرَكَ الْوِتْرَ مُتَعَمِّداً.

    “Ini adalah seorang yang buruk, ia meninggalkan sunnah yang telah disunnahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang ini telah jatuh ‘adalahnya (terpercayanya) jika ia meninggalkan witir dengan sengaja” (Tobaqootul Hanaabilah 1/337)

    Dalam riwayat yang lain Imam Ahmad berkata :

    فَهُوَ رَجُلٌ سُوْء وَلاَ يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ

    “Orang ini adalah orang yang buruk, dan tidak pantas untuk diterima syahadahnya (persaksiannya)” (Al-Mughni 1/827)

    Bukankah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

    عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيِلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ

    “Hendaknya kalian melakukan sholat malam, karena sesungguhnya sholat malam adalah adat/kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kalian, dan ia merupakan qurbah yang mendekatkan kalian kepada Rob kalian, menghapuskan keburukan-keburukan serta mencegah dari perbuatan dosa” (HR At-Thirimidzi no 2814 dan dihasankan oleh Syaih Al-Albani)

    Anehnya…masih saja ada diantara mereka yang malas sholat malam…..tidak sholat witir…namun masih saja merasa dirinya sebagai orang sholeh…!!!
    Akan tetapi…hatiku terhibur…ternyata masih ada diantara mereka yang menghargaiku…yang menghormatiku…rela melawan rasa kantuk mereka…rela meninggalkan ledzatnya tidur…rela mengguyurkan air yang dingin untuk mengusap wajahnya….meskipun tak seorangpun yang melihatnya….ia mengadukan segala keluh kesahnya kepada Allah semata….

    Dirinya berkata :

    لَبِسْتُ ثَوْبَ الرَّجَا وَالنَّاسُ قَدْ رَقَدُوْا ….. وَقُمْتُ أَشْكُو إِلَى مَوْلاَيَ مَا أَجِدُ

    Aku memakai pakaian “pengharapanku” pada saat manusia sedang tertidur pulas…
    Lalu aku mengeluhkan kepada Robku kesulitan yang aku dapati….

    وَقُلْتُ يَا عُدَّتِي فِي كُلِّ نَائِبَةٍ …… وَمَنْ عَلَيْهِ لِكَشْفِ الضُّرِّ أَعْتَمِدُ

    Dan aku berkata “Wahai Dzat Tempat aku mengharap di setiap musibahku…..Dzat yang aku bersandar untuk menghilangkan penderitaanku”

    أَشْكُو إِلَيْكَ أُمُوْراً أَنْتَ تَعْلَمُهَا … مَا لِي عَلَى حِمْلِهَا صَبْرٌ وَلاَ جَلَدُ

    “Aku mengadukan kepadaMu keluhan-keluhanku yang Engkau lebih mengetahuinya….sungguh aku tidak mampu dan tidak sabar untuk memikul bebannya…”

    وَقَدْ مَدَدْتُ يَدِي بِالذُّلِّ مُعْتَرِفاً … إِلَيْكَ يَا خَيْرَ مَنْ مُدَّتْ إِلَيْهِ يَدُ

    “Dan sungguh aku telah mengulurkan tanganku dengan penuh pengakuan akan kerendahanku…wahai Dzat yang terbaik untuk diulurkan kepadanya tangan kehinaan…”

    فَلاَ تَرُدَّنَّهَا يَا رَبِّ خَائِبَةً .. فَبَحْرُ جَوْدِكَ يَرْوِي كُلَّ مَنْ يَرِدُ

    “Maka…sungguh janganlah sekali-kali Engkau mengembalikan tangan tersebut dalam keadaan kosong…. Lautan kedermananMu akan menghilangkan dahaga setiap orang yang menghampirinya…”

    Ya Allah berikanlah keledzatan iman kepadanya…tambahkanlah rizkinya…, kyusu’kanlah saholatnya…, hilangkanlah kesulitannya…, tentramkanlah hatinya…
    Yaa Allah ia telah menundukkan dan menghinakan wajah dan hatinya hanya kepadaMu…janganlah engkau biarkan ia mengeluh kepada seorang makhlukpun…janganlah Engkau membiarkannya menundukan wajahnya karena meminta-minta pertolongan kepada makhluk….

    Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 22-02-1433 H / 16 Januari 2011 M

    Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

    http://www.firanda.com

  9. Jangan Mengeluh

    oleh CITRA AL-ISLAM pada 16 November 2011 pukul 21:46

    Janganlah kau mengeluh tentang suatu bencana yang menimpamu kepada siapa pun, baik kepada kawan maupun lawan.

    Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya bagimu, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu, dan segala puji syukur atas semua itu.

    Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas sesuatu rahmat yang sesungguhnya belum datang kepadamu, lebih baik ketimbang cerita-ceritamu perihal kepedihan hidup.

    Adakah ciptaan yang sunyi dari rahmat-Nya?

    Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan sanggup menghitungnya.” (QS. 14:34)

    Betapa banyak nikmat yang telah kau terima, dan tak kau sadari!

    Jangan merasa senang dengan ciptaan, jangan menyenanginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun.

    Cintamu harus kau tujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya dan mengeluhlah hanya kepada-Nya.

    Jangan kau lihat orang lain, karena mereka tak memberi manfaat dan mudharat.

    Segala suatu adalah ciptaan-Nya, di tangan-Nyalah sumber gerak atau diam mereka. Kemaujudan mereka sampai detik ini pun semata-mata karena kehendak-Nya.

    Dialah penentu derajat mereka.

    Barangsiapa dimuliakan-Nya, maka takkan ada yang mampu menjadikannya hina.

    Dan barangsiapa dihinakan-Nya, takkan ada yang mampu menjadikannya mulia.

    Jika Allah berkehendak menimpakan keburukan atasmu, tak seorang pun sanggup mencegahnya, selain Ia sendiri. Dan jika Ia berniat melimpahkan kebaikan, tak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya.

    Nah, bila kau mengeluh terhadap-Nya, padahal kau menikmati rahmat-Nya, kau tamak, dan menutup mata atas yang kau miliki, maka Allah murka kepadamu, mencabut kembali nikmat-Nya darimu, mewujudkan segala keluhanmu, melipatgandakan kesusahanmu, dan memperhebat hukuman, kemurkaan dan kebencian-Nya kepadamu. Kau menjadi terhinakan di mata-Nya.

    Oleh kerana itu, janganlah mengeluh sedikit pun, walau jasadmu digunting-gunting menjadi serpihan-serpihan kecil daging.

    Selamatkanlah dirimu!

    Takutlah kepada Allah!

    Takutlah kepada Allah!

    Takutlah kepada Allah!

    Sesungguhnya, sebagian besar musibah yang menimpa anak Adam, dikarenakan oleh keluhan-keluhan mereka terhadap-Nya.

    Kenapa menyalahkan-Nya?

    Padahal Ia Maha pengasih, Maha adil, Maha sabar, Maha pengasih, Maha penyayang, dan yang lemah-lembut terhadap hamba-hamba-Nya, melebihi seorang doktor yang sabar, pengasih, penyayang, ramah, yang juga kerabat si pesakit.

    Dapatkah kau temui sesuatu kesalahan pada diri seorang ayah atau ibu yang berhati mulia.

    Nabi Suci saw., telah bersabda:

    “Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya berbanding seorang ibu terhadap anaknya.”

    Wahai yang dirundung malang!

    Tunjukkanlah perilaku terbaik.

    Tunjukkanlah kesabaranmu bila musibah menimpamu, meski kau tak berdaya kerananya. Bersabarlah selalu, meski kau kepayahan dalam menyerahkan diri kepada-Nya.

    Bertakwalah selalu kepada-Nya.

    Ridha dan rindulah kepada-Nya.

    Jika masih kau temui kedirianmu, bergegaslah keluar darinya.

    Bila kau terhilang, dimanakah kau kan didapat?

    Dimanakah kau?

    Belumkah kau dengar firman Allah:

    “Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya berperang itu sesuatu yang kamu benci. Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Dan Allah Maha-mengetahui, sedang kamu tak mengetahui.” (QS 2:216).

    Pengetahuan ihwal hakikat segala suatu tercabut dari hatimu dan tertutup dari penglihatanmu oleh tabir.

    Oleh karena itu, jangan berlebih-lebihan dalam membenci ataupun mencintai sesuatu. Ikutilah segala ketentuan syariat dalam segala keadaan, jika kau benar-benar saleh. Setelah kau jalani hal ini, maka ikutilah semua perintah tentang wilayat, dan teguhlah selalu. Ridhalah atas ketentuan-Nya dan berdamailah dengan kehendak-Nya.

    Bertolaklah senantiasa dari jalan nasib, jangan berdiri di tengah-tengahnya, gantilah dirimu dan hasratmu (dengan kehendak-Nya), dan tahanlah lidahmu dari segala keluhan. Bila hal ini telah kau jalani, maka Tuhanmu mengaruniamu kebaikan berlimpah, kehidupan yang nyaman dan bahagia, dan melindungimu, karena ketaatanmu kepada-Nya.

    Bila di dalam diri manusia, bersarang berbagai dosa, noda dan kesalahan, maka tak layak baginya bersama-Nya, sebelum ia bersih dari dosa-dosa.

    Tak seorang pun dapat mencium ambang pintu-Nya, kecuali ia suci dari noda ujub, sebagaimana tak seorang pun layak bersama raja, kecuali ia bersih dari noda dan bau busuk.

    Nah, semua musibah tak lain adalah sarana penebus dan pembersih diri.

    Futuuhul ghaib Risalah 18

    Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani

    http://www.facebook.com/notes/citra-al-islam/jangan-mengeluh/236120803119114

  10. Di sebuah pasar seorang wanita berjilbab besar lengkap dengan cadarnya lewat di depan wanita penjual sayur, tiba-tiba penjual sayur itu nyeletuk, “Awas, ada setan lewat!”.

    Merasa tidak enak dengan perkataan ibu tersebut Sang wanita bercadar itu kemudian mendekatinya kemudian bertanya, “Apa yang ibu katakan setan itu adalah saya?“

    Dengan tergagap si penjual sayur tersebut terpaksa menjawab, “Ya.”

    “Benar, saya adalah setan sehingga saya menutup wajah saya. Jika saya menampakkan wajah saya maka suami ibu akan takluk di hadapan saya.” Kata wanita bercadar tersebut, kemudian membuka penutup wajahnya maka terlihatlah wajahnya yang sangat cantik membuat ibu penjual sayur tercengang.

    facebook note MH. Anggana

    (Kisah ini diceritakan oleh seorang ikhwan dimana beliau juga mendengarnya dari
    seorang dosen yang mengajar di salah satu fakultas di Universitas Negeri Makassar).

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
    “Wanita adalah aurat jika keluar (rumah) maka setan akan menuntunnya.” (HR.Tirmidzi).

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam telah bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita”
    (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim).

    http://www.facebook.com/negara.tauhid

  11. Seorang ikhwan bercerita,
    Ada seorang ibu rumah tangga yang mengalami gangguan dari jin. Dalam sehari ibu itu kesurupan 2 sampai 3x, bahkan kadang2 lebih dari itu. Keluarganya merasa sangat sedih, karena jika sedang kesurupan maka ibu itu berubah raut wajahnya menjadi menyeramkan dan mengamuk2, sehingga tubuhnya dipegang dan ditahan oleh beberapa orang laki2. Kejadian tersebut berlangsung lama sampai berbulan2. Sudah banyak orang yang mengobatinya namun tidak kunjung sembuh, dimulai dari tetangga sekitarnya, ustadz panggilan, orang pintar atau dukun, sampai habib, tapi tetap tidak sembuh jua. Ketika mereka mengobati atau meruqyahnya maka ibu itu sembuh seketika dari kesurupannya, namun malamnya atau esoknya kambuh kembali. Dan sudah banyak pula biaya yang dikeluarkan keluarganya untuk kesembuhan ibunya.

    Setelah beberapa bulan berlangsung, ibu tersebut masih juga kesurupan. Suatu hari, kesurupan ibu itu kambuh. Sayangnya, pada saat itu tidak ada yang mampu menolongnya karena di rumahnya hanya ada anak2nya yang perempuan beserta kawan2nya. Dikarenakan saat itu tidak ada yang mampu menolongnya, akhirnya tetangga sebelah rumahnya berinisiatif untuk mencoba menolongnya. Maka dengan keikhlasan tetangganya yang merupakan seorang wanita yang insya Allah sudah berjalan diatas aqidah Salaf, dia mencoba untuk meruqyahnya.

    Namun selang beberapa lama wanita itu meruqyah, ibu itu tidak sadar juga dan masih tetap dalam kesurupannya. Setelah wanita itu merasa tidak mampu untuk mengobati ibu itu, akhirnya wanita itu pulang ke rumahnya dan memanggil suaminya meminta untuk mengobati ibu itu. Suaminya juga -insya Allah- termasuk dari orang2 yang sudah mengenal aqidah Salaf dan berpegang teguh kepadanya. Maka suaminya mendatangi rumah ibu itu yang bertepatan dengan sebelah rumahnya. Suasana di rumah tersebut agak menyeramkan. Ibu itu memasang raut wajah yang seram, tubuhnya dipegang oleh 2 orang laki2 dan sekali2 mencoba memberontak, adapun anak2 dari ibu itu terlihat ketakutan sambil menangis. Maka suami dari wanita itu langsung mengumandangkan adzan ke ibu itu. Setelah mengumandangkan adzan, lalu suami itu mengusir jin yang mengganggu dalam tubuh ibu itu, dan Alhamdulillah seketika jin itupun keluar dan ibu itu akhirnya bisa tersadar kembali. Setelah ibu itu sadar, suami dari wanita itu berpesan ke keluarga ibu itu agar selalu membacakan surat al baqarah di rumah, dan tidak memajang foto2 atau gambar2 makhluk hidup di rumah, adapun yang sudah dipajang maka hendaknya diturunkan dan disimpan, dan perbanyak rasa takwa kepada Allah, bentengi dengan dzikir2 seperti dzikir pagi petang, sebelum tidur dan sesudah shalat. Setelah itu suami dari wanita itu pulang kembali ke rumahnya.

    Sejak kejadian itu, Alhamdulillah ibu itu tidak pernah kesurupan kembali sampai sekarang walaupun telah beberapa tahun.

    Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi kita, bahwa aqidah dan tauhid yang kuat dapat menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat, juga menyelamatkan kita dari gangguan2 jin atau makhluk halus, yang mana mereka (golongan jin) akan merasa takut dan terkalahkan oleh orang2 yang memiliki aqidah dan tauhid yang kuat.

    Ditanya kepada suami dari wanita itu, kenapa anda tidak meruqyah ibu itu sejak awal? Agar ibu itu bisa langsung sembuh. Padahal anda telah memiliki aqidah atau tauhid yang kuat insya Allah. Apalagi anda adalah tetangga terdekat.

    Dijawab, apakah jika saya meruqyah ibu itu sejak awal dipastikan bisa langsung sembuh??
    Ketika saya meruqyah ibu itu terakhir kalinya, saya tidak menyangka sama sekali kalau ibu itu akan sembuh karena saya. Karena saya meruqyahnya hanya coba2 saja dan waktu itu sedang dibutuhkan. Kesembuhan ibu itu adalah karena karunia dari Allah semata, bukan karena sebab saya, wallahu alam. Lagipula kami adalah orang yang biasa2 saja di mata mereka dan memang seperti inilah kami, mereka lebih membutuhkan dan percaya kepada orang2 pintar semisal dukun, ustadz2, kyai atau habib, daripada percaya kepada kami. Sehingga kami tidak berani tampil pede ke mereka dan menganggap diri kami hebat atau ujub.
    Wallahu a’lam.

    http://www.facebook.com/negara.tauhid

  12. Seorang pria membawa ayahnya yang telah tua dengan menaiki seekor unta ke tengah padang pasir. Maka si ayah heran dengan sikap anaknya seperti itu, maka berkatalah si ayah kepada anaknya.

    Ayah : “Anakku…mau dibawa kemana aku ini?”

    Anak : “Aku sudah lelah dan bosan denganmu!”

    Ayah : “Lalu apa yang akan kamu lakukan terhadapku?”

    Anak : “Aku ingin menyembelihmu! Aku sudah lelah denganmu!”

    Ayah : “Jangan anakku…jangan lakukan itu terhadapku…”

    Anak : “Aku tetap akan membunuhmu…!”

    Ayah : “Tolonglah anakku…jangan kamu lakukan itu…ampunilah ayahmu ini…”

    Anak : “Aku tetap akan membunuhmu!!”

    Ayah : “Baiklah…aku sudah lemah…kalau kamu ingin membunuhku, maka bunuhlah aku diatas batu yang besar itu…”

    Anak : “Kenapa harus diatas batu besar itu? Ada apa?”

    Ayah : “Karena dulu aku telah membunuh ayahku atau kakekmu diatas batu besar itu. Dan kelak suatu saat nanti kamu akan mendapati salah seorang anakmu akan membunuhmu disana pula…”

    Seperti apa baktimu kepada orangtuamu?
    Seperti apa durhakamu kepada orangtuamu?
    Maka suatu saat kelak engkau akan mendapati salah seorang anakmu berbuat seperti engkau terhadap orangtuamu sekarang…
    Wallahul musta’an.

    http://www.facebook.com/negara.tauhid

  13. Pada akhir abad ke-14, di Paris diterbitkan sebuah buku tentang enam butir wasiat setan:

    1. Beri perhatian penuh untuk dirimu saja, tidak perlu orang lain.

    2. Jangan memberi sesuatu tanpa imbalan.

    3. Makan sendirian, jangan mengajak orang lain.

    4. Bersikap kikirlah pada keluarga.

    5. Simpan sisa-sisa makanan dan pakaianmu yang telah lapuk (jangan diberikan kepada orang lain).

    6. Tumpuklah harta di atas tumpukan yang lain.

    Sumber : Yang Ringan Yang Jenak karya M. Quraish Shihab. (@temanibadah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s