SEMESTINYA SALAFY BERSOSIALISASI, TIDAK EKSKLUSIF


semangat ketika kita baru mengenal dakwah kebenaran ini semestinya tidak membuat kita berwajah sangar dan bermuka masam di depan orang-orang awam yang sama sekali tiada berfaidah sedikitpun. kita dituduh jarang bergaul, mengeklusivkan diri dst bukanlah salah orang awam namun tuduhlah diri-diri kita, muhasabahlah diri kenapa kita dituduh demikian, wahai saudaraku mengenal manhaj salaf bukan berarti kita berkeras dan bermasam di depan orang awam demi Allah salaf tidak mengajarkan demikian.
SEMESTINYA SALAFY BERSOSIAL, TIDAK EKLUSIVE
(Untaian Nashihat untukmu yang mengeklusifkan diri)

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan Al Bykazi

Apa yang terbayangkan di fikiran kita jika muncul nama Salafy / Wahhabi ?
Apa yang terbayangkan di fikiran kita jika terucap kalimat Jenggotan/cadaran ?
Apa pula yang terbayangkan kirany anda melihat wanita berhijab besar / lelaki bercelana cingkrang ?

tentu para orang awam sepakat menjawab “MEREKA EKSLUSIVE”.

Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”. [Saba’ : 28]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala mengutus Mu’adz dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma ke Yaman beliau berpesan kepada keduanya:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Hendaklah kalian permudah dan jangan mempersulit, gembirakan mereka jangan kalian membuat mereka lari!

Berangkat dari Ayat dan Hadist ini penulis terketuk melihat fenomena para sebagian saudara-saudara kita Salafiyyin khususnya yang baru mengenal manhaj ini, yang baru mendapatkan taufiq dan meninggalkan tradisi-tradisi berbau syirk dan bid’ah, entah kesemangatan yang mereka miliki atau memang tidak mengetahui urgensi hikmah dalam berdakwah,saudaraku seiman -semoga aLLAH menjaga kita pada naungan taufiq yang mulia ini-, semangat ketika kita baru mengenal dakwah kebenaran ini semestinya tidak membuat kita berwajah sangar dan bermuka masam di depan orang-orang awam yang sama sekali tiada berfaidah sedikitpun. kita dituduh jarang bergaul, mengeklusivkan diri dst bukanlah salah orang awam namun tuduhlah diri-diri kita, muhasabahlah diri kenapa kita dituduh demikian, wahai saudaraku mengenal manhaj salaf bukan berarti kita berkeras dan bermasam di depan orang awam demi Allah salaf tidak mengajarkan demikian.

RASULULLAH SURI TAULADAN TERBAIK BAGI SALAFY

Manusia terhikmah sepanjang masa dan memiliki budi pekerti luhur adalah Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasallam simak firma Allah (artinya)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh.” (QS. Al-Ahzâb: 21)

janganlah kita sia-siakan pengakuan kita sebagai pengikut manhaj salaf, semestinya kita menjadikan Akhlak Rasulullah digarda terdepan dalam mengaplikasikan akhlak kita sehari-hari terkhusus dilingkungan masyarakat.

JANGAN MUDAH KAU TUDUH MEREKA AHLI BID’AH

Perlu dicamkan wahai saudara-saudarku semanhaj, tidak semua yang melakukan kebid’ahan dengan serampangan dikatakan otomatis dia ahli bid’ah, Kalimat “ahli bid’ah” mempunyai definisi tersendiri yakni barangsiapa yang membuat, menyebarkan / mensyi’arkan perkara baru dalam agama dan menjadikan hal tersebut mendapatkan ganjaran yang pada hakikatnya tidak dicontohkan Nabi dan para shahabatnya serta tidak ada dalil syar’I padanya maka dia adalah Ahli bid’ah, ini pengertian ahli bid’ah sebenarnya maka Tidak diperbolehkan menghukumi setiap orang sebagai ahli bid’ah, atau berlebihan dalam menghukumi bid’ah terhadap setiap orang yang menyelisihi sebagian perkara yang menyelisihi. Siapa yang terjatuh kedalam perkara yang haram, atau terjerumus dalam kemaksiatan, dia disebut ahli maksiat, dan tidak semua ahli maksiat atau orang yang keliru itu disebut ahli bid’ah. Para ulama salaf menyifati ahli bid’ah bagi seseorang yang melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah tanpa ilmu dan hujjah yang menjadi sandaran perbuatannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

٢- أخرجه البخاري في الصلح(2697)، ومسلم في الأقضية(4589)، وأبو داود في السنة(4608)، وابن ماجه في المقدمة(14)، وأحمد(26786)، من حديث عائشة رضي الله عنها.

“Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”.

(HR.Bukhari dalam kitab shulh:2697, Muslim dalam kitab Al-Aqdhiyah:4589, Abu Dawud dalam as-sunnah: 4608, Ibnu Majah dalam muqaddimah: 14, Ahmad: 26786, dari hadits Aisyah radhiallahu anha).

Dalam riwayat lain:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

أخرجه مسلم في الأقضية (4590)، وأحمد (25870)، والدارقطني في سننه (4593)، من حديث عائشة رضي الله عنها.

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.”

(HR.Muslim dalam Al-Aqdhiyah:4590, Ahmad:25870, Ad-Daruquthni dalam sunannya: 4593, dari hadits Aisyah Radhiayallahu anha)

Oleh karena itu sikap kita pada masyarakat terkhusus tetangga kita yang masih melaksanakan bid’ah maka janganlah kalian benci padanya, dan jangan pula kalian mengasingkan diri tidak sapa,salam dst namun tanyakanlah ia dengan lemah lembut dan dakwahkan mereka yang memang belum faham, belum mengerti hakikat dai ajaran dien ini yakni dienul islam, karena banyak sekali Hadist-hadist berkenaan dengan bermu’amalah dengan baik pada tetangga kita diantaranya :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada kita pentingnya menjaga hak-hak tetangga ini. Tetangga memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan beliau. Beliau bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Malaikat Jibril Alaihissallam senatiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka)”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu :

يَا أَبَا ذَرٍّ, إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاؤُهَا وَ تَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ

“Wahai, Abu Dzar. Jika engkau memasak makanan, perbanyaklah kuahnya, janganlah engkau lupa membagikannya kepada tetanggamu”. [HR Muslim]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan dari bahaya menggangu tetangga.

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”. [HR Muslim]

Dengan akhlak seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berhasil menguasai hati, perasaan dan pikiran manusia. Sehingga, dalam bermu’amalah kepada manusia, kita harus mengedapankan akhlak yang terpuji.

maka haruslah anda wahai salafiyyin berbuat baik, bermu’amalah dengan baik pada tetangga dan masyarakat pada umumnya dengan memberikan hadiah-hadiah entah masakan, kue dan lain-lain sehingga orang lain pun tidak mengeklusivkan dirinya pada kita jika kita tak mengeklusivkan diri kita.

WAHAI SAUDARAKU SALAFIYYIN JANGANLAH KALIAN MENGANGGAP REMEH KEBAIKAN SEKECIL APAPUN

wahai saudaraku sekecil apapun yang kalian berikan pada manusia entah harta atau lainya wallahi tidak remeh dihadapa Allah, berilah teangga makan jika ia sedang kelaparan meskipun seliter beras, berilah senyuman pada tetangga meskipun dirimu sedang gundah gulana, wallahi jika kalian demikian tiada rugi insya Allah pahala berlimpah.

Demikian pula dalam bermu’amalah dengan manusia, seharusnya bersikap santun, memilih kata-kata yang dapat menyejukkan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa dan Harun Alaihissalam untuk berkata lemah-lembut kepada orang yang paling keras kekafirannya, yaitu Fir’aun :” Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [Thaha/20:44].

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku :

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

“Janganlah engkau menganggap remeh suatu kebaikan, walaupun sekedar bermanis muka ketika engkau bertemu dengan saudaramu” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Jagalah dirimu dari neraka, meskipun dengan memberikan sebutir kurma. Jika kamu tidak mendapatinya, maka dengan mengucapkan kata-kata yang baik”.[Muttafaq alaihi]

KIRANYA DIRI KITA KASAR KEPADA ORANG LAIN MAKA MEREKAPUN KASAR PULA

Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman, yang artinya : “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. [Ali Imran/3 : 159]

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa yang tidak menyayangi sesama manusia, maka Allah Azza wa Jalla pun tidak akan menyayanginya” [Muttafaqun ‘alaihi]Secara tabiat, manusia tidak suka dikasari. Sulaiman bin Mihran berkata, “Tidaklah engkau membuat marah seseorang, lalu ia mau mendengarkan kata-katamu.”

Oleh karena itu, sikap kasar dan berlagak dalam berbicara merupakan perkara yang dibenci oleh Nabi. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat bertanya : “Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?” Beliau menjawab,”Orang yang sombong.” [HR at Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan”. Hadits ini dishahihkan oleh al Albani dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018].

semoga penulis berharap salafiyyin bersikap loyal kepada masyaraakat selama tidak menentang syariat. dan jangan jadikan diri-diri kita sebagai kerikil dakwah yang menjadikan orang lain tersandung oleh kerikil tersebut. wallahu’alam

DAFTAR ARTIKEL ISLAM MENARIK DARI http://www.qaulan-sadida.blogspot.com (silahkan klik judul artikel untuk membacanya):

Article’s :

TOP RANK ARTICLE OF THE MONTH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s