Jangan Percaya Tebar Pesona di Jagad Maya

 

Oleh: Ali Akbar Bin Agil 

DUNIA maya benar-benar telah menjadi magnet. Dari aktivis majlis sampek aktivis geng motor, dari mahasiswa sampai anak SD, dari muda-mudi sampaei yang tua-tua pun, tidak mau kalah dan ketinggalan. Semuanya berlomba eksis di dunia maya. Katanya sih, “Dunia maya lebih asyik, kalau jelek bisa ditutupin pakek foto orang lain, cowok atau cewek yang ganteng dan cantik.”

Segala cara dilakukan, bila perlu pasang foto ulama, habib, kyai, untuk menggambarkan betapa dirinya sosok arjuna yang dinanti-nanti.

Beragam cara ditempuh, khususnya oleh Facebookers untuk melejitkan identitas dan poplaritas. Mulai dari memposting staus yang aduhai, profil bahwa ia belajar di luar negeri.
Padahal, ada juga lho kondisi yang perlu ekstra waspada. Soalnya, ada juga teman yang keliatannya baik. Nggak garang, nggak pasang tampang Romusa (Roman Muka Sapi, eh, maksudnya Sadis). Tapi…  malah ngejerumusin untuk masuk dunia maksiat. Urusannya nggak jauh sama narkoba dan seks bebas.

Tampang sih klimis (bukan kliatan miskin ya!), tapi omongannya racun! Bukannya ngajak ke pengajian, tapi malah ngajak nongkrong di pos ronda sambil nyekek botol miras. Ya, itu sih namanya teman yang  romantis (roman manis hati iblis!).

So, memang akhirnya saat ini, kita kudu selektif juga pilih teman. Nggak sembarangan gitu. Bukan maksud kita sombong atau diskriminasi, soalnya kalo salah pilih yang dipertaruhkan bukan masa depan di dunia aja, tapi juga di akhirat. Iya nggak sih?

Bukan itu saja, menebar pesona biasa dilakukan dengan nampangin foto-foto yang paling teranyar, paling mempesona, atau yang paling mampu menarik lawan jenis untuk berkomentar. Komentar yang seakan madu itu tak bisa menjadi racun berbisa, terbuai oleh candu kata-kata asmara.

Suatu kali, saya membaca akun seseorang. Ada komentar seseorang setelah melihat foto seorang ukhty.  “Letak kemulian seorang wanita, adalah wanita yg berkerudung seperti mu. Aku melihat sesosok cahaya di balik kerudung mu. Nampaknya aku tahu dengan segalah kecintaan mu terhadap Tuhan. aku yakin kau adalah segalanya yang baru ku kenal. jaga dan rawat tradisi ini hingga kelak kamu tiada. Salam kenal…..”

Begitulah komentar-komentarnya. Memuji, tapi akhirnya ingin kenal lebih dalam.

Ada lagi komentar dari yang lain. Gayanya sok spiritual, bahkan ngomongnya pakek dicadelin kayak anak balita.

“Shubbhanallah walhamdhulillah (mha sci allah & sgala puzi bgi allah)da cntik baik shalehah lge , smoga qmu bicha mnjaga & mnsyukuri anugrah trindah yg tlah allah brikan.”

“Subhanallah, setiap komentar dan postingan ukhti selalu menyejukkan dan bernilai, bagai permata berkilauan yang memancarkan keindahan,” begitu kata yang lainnya seolah memuji.

Itulah seklumit fenomena yang terjadi di jagad maya, siapa saja dapat memunculkan dirinya lengkap dengan keaslian atau kepalsuannya.

Bisa saja kita mengatakan,  “Don’t Judge Person by Facebook Profile.”  Namun dunia maya, tetap bisa menjadi racun “terselubung” bagi pengguna yang tidak selektif.

Jangan keliru, perkembangan terbaru menyebutkan, dunia maya (khusunys Facebook) menjadi lahan baru modus kejahatan dunia dunia ‘trafficking’. Pernyataan tersebut diungkapkan Sholahuddin, pejabat sementara Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang di sebuah media massa belum lama ini.

Kasus paling baru adalah hilangnya Rohmatul Latifah Asyhari (16) sisiwi SMUN 1 Jogoroto Jombang yang diduga menjadi korban trafficking usai mengenal seorang pria misterius melalui situs jejaring internet facebook merupakan modus baru di dunia perdagangan orang (trafficking). Belum lagi kasus-kasus lama akibat “pergaulan” di Facebook atau kasus-kasus yang tidak teridentifikasi dan tertangkap media.

Cara paling gampang penjahat trafficking “memburu” gadis-gadis lugu adalah berpura-pura menjadai sahabat dekat di dunia maya.

Memanfaatkan Dunia Maya

Tentu tidak semua yang ada di dunia maya adalah buruk. Sebaliknya tak semuanya juga baik. Yang penting, jangan sampai kita terjerumus dalam jejaring kepalsuan yang sering hinggap di dunia maya.

Apa kita penting menghadapi kejahatan di duni maya?

Pertama, hindarilah “tebar pesona”  di dunia maya. Misalnya cara-cara meng-upload foto di setiap kesempatan.  Foto mempunyai nilai tinggi untuk menarik simpati, minat pihak lain. Apalagi lawan jenis. Sikap naris, seperti  bentuk-bentuk kebiasaan menebar foto dipastikan akan melahirkan puji-pujian, dan gegap gempita komentar di album foto.

Jangan keliru, cara seperti ini pulalah yang akan mengundang “penjahat” dunia maya masuk ke dalam sanubari Anda. Bukan sesuatu yang sulit, seseorang meminjam foto orang lain yang sangat macho, keren dan cakep (untuk kreteria pelaku tebar pesona) agar dia bisa lebih jauh dan lebih dalam menarik perhatian.

Bukan hal rumit mengetahui hobi, kebiasan, tempat nongkrong, makanan kesukaan calon-calon korban traffecking seperti ini. Sebab dengan cara keluguan Anda meng-upload foto tiap saat, membaca wall-wall laporan Anda dan komentar-komentar Anda di berbagai sahabat akrab, itu sudah merupakan bahan referensi bagi mereka semua.

Kedua, jangan pernah terburu-buru menilai (apalagi tertarik pada seseorang) hanya karena status dan profil yang aduhai atau hanya karena berderet prestasi.

Tidak sedikit para pelaku ‘tebar-pesona’ melakukan segala cara hanya untuk menarik simpati massa dalam jumlah banyak demi meraih popularitas atau keuntungan bisnis.
Caranya, tulisan orang diakui sebagai tulisannya sendiri, foto orang lain diakui sebagai fotonya sendiri, sampai tempat tinggal pun tak sudi menulis kota Pandaan tapi Panama, Malang ditulis Malaka, Lamongan diganti London.

Tak sedikit pula para pelaku ‘tebar-pesona’ sesungguhnya hanya para penjiplak alias “kopas” (tukang kopi-paste).  Keahliannya hanya mengopas sumber dari orang, hanya untuk mencari simpati, pujian atau komentar-kementar dukungan.

Ketiga, jangan suka GR atau cepat simpati hanya karena status bernama simpati atau mencari empati.  “Alhamdulilah buka puasa hari ini pakek gule, sate, sop, kambing guling, sama pecel lele. (Ah, padahal sesungguhnya Engkau mau puasa atau gak puasa sekalipun, orang tidak terlalu peduli). Tapi jangan keliru, ini adalah jurus kuno modivikasi modern.  Status-status seperti ini sering muncul, bisa jadi agar dia ingin dikomentari, “Masya Allah cowok sholih, idaman wanita shalihah.”

Akhirnya memang benar, “Don’t Judge Person by Facebook Profile!.”

Akhirul kalam, jadikalnah dunia maya untuk mengajak kebaikan, berdakwah, bersilaturrahmi, mengajarkan ilmu yang kalian bisa sebar dan ajarkan kepada sahabat kalian.

Kunci rapat-rapat kehidupan mayamu dari hal-hal yang bisa memancing orang lain untuk berbuat usil dan tidak-tidak. Jaga auratmu, hindari penggunaan foto diri, jangan mengumbar ucapan yang mancing-mancing birahi orang lain, mengeluhlah kepada Allah, sayangi orang tuamu. Ingatlah, duniamu yang sesungguhnya bukan di dunia maya tapi di dunia nyata.

Kejahatan di dunia maya sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Ketika saya menulis ini, sudah puluhan gadis-gadis remaja hilang dan diculik oleh kenalan mereka di Facebook. Tentusaja, jangan sampai kita, saudara kita, atau mungkin anak-anak kita menjadi korban berikutnya.*

Penulis staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang- Jawa timur
Red: Cholis Akbar

 

http://www.hidayatullah.com/read/20746/20/01/2012/jangan-percaya-tebar-pesona-di-jagad-maya.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s