Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

kewajiban ayah adalah mencarikan suami yang soleh bagi anaknya -Ustadz Badrussalam. LC Hafidzhahullahu-

tujuan dari menikah adalah menegakkan agama Allah. jadi apabila dalam pernikahan yang ada hanyalah maksiat. maka rumah tangga tersebut tidaklah diberkahi Allah-Ustadz Badrussalam.LC Hafidzhahullahu-

..Lelaki sejati adalah yang bertanggung jawab dalam mengurus wanita… -Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.-

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: berilah makan orang yang lapar dan jenguklah orangyang sakit -HR Bukhari-

orang yang menunda-nunda berbuat kebaikan adalah orang yang hatinya lemah – Ustadz Ali Nur Hafidzhahullahu-

Ghadhul bashar, menundukkan pandangan (dari hal-hal yang dilarang -pent), dapat mencerahkan akal pikiran.
@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)
[http://twitulama.tumblr.com/]

“Seorang MUKMIN itu bukanlah orang yang suka mencela,suka melaknat,suka berkata keji dan suka berkata kotor”.
(HR.at-Tirmidzi no.1977)

saat rapat kabinet atau acara-acara kenegaraan lainnya. SBY selalu memperhatikan waktu. apabila jam tangan beliau menunjukkan telah tiba waktu sholat maka beliaupun mengingatkan jajarannya bahwa waktu sholat telah tiba -Pak Patrialis Akbar Hafidzhahullahu-

saat membuka rapat kabinet. SBY hampir tidak pernah melewatkan ucapan ‘segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa. – Mantan Menteri Kehakiman dan HAM Bpk Patrialis Akbar Hafidzhahullahu-

Jodoh Tak Kan Ke Mana … “Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad)
-Ustadz Muhammad Aduh Tuasikal Hafidzhahullahu-

Syukur adalah ibadah. Tidak ada yang bisa melakukannya dengan baik, melainkan orang2 yang mengetahui besarnya nikmat (pahala) syukur tersebut. @Dr_almosleh

Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71-72)

Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu agama sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu agama, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu agama dalam rangka mengamalkan ilmu agama, niscaya ilmu agama yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71)

Harun arrosyid pernah bertanya kepada al ashma’iy tentang hakikat mabuk cinta. Maka ia berkata, “Mabuk cinta itu membutakan hati dari kekurangan yg dicintainya. Sehingga bau bawang dari keringatnya lebih baik dari minyak kesturi dan anbar”. (talab3lm.nicetopic.net) – via FB Ustadz Abu Zubair Hafidzhahullahu-

“Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan, kecuali amalan yang diikhlaskan untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

“Jangan pernah anda berpikir untuk mendapatkan sosok wanita sempurna tanpa cacat. Jika orientasi anda adalah menikahi wanita tanpa cacat, maka jangan pernah berpikir untuk menikah di dunia, karena wanita idaman anda adalah wanita penghuni surga (baca : bidadari). Tapi sebelum itu, pikirkanlah jalan untuk menuju ke sana (surga). Dan salah satu jalan menuju surga adalah dengan menikah (di dunia), yaitu menikahi wanita penghuni dunia yang penuh ketidaksempurnaan..”
-Ust. Dony Arif Wibowo-

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 133)

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)

Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 105)

Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, “Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”. Beliau menjawab, “Sikap wara’/menjaga diri dari yang diharamkan.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 72)

http://www.facebook.com/pageislamituindah

Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)

Pelajaran akhlak yang kita terima seharusnya kita gunakan untuk menilai prilaku kita sendiri, bukan malah kita gunakan untuk menilai prilaku orang lain ..
-Ust. Resa Gunarsa, Lc.-

“Nikahkanlah anakmu dengan orang yang agamanya bagus, karena jika dia mencintainya maka dia akan memuliakannya sedangkan jika tidak mencintainya maka tidak akan mendholiminya.” -Imam Hasan al-Bashri- Rahimahullahu=

http://www.salafiyunpad.wordpress.com

puncak kedurhakaan seorang anak lelaki adalah ketika menikah lantas kemudian dia lebih mengutamakan wanita yang belum lama ia kenal ketimbang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya

– khutbah yang disampaikan seorang ustadz muda yang sebentar lagi akan menikah yang disampaikan berbarengan dengan menitiknya air mata di pipi beliau –

http://www.facebook.com/pageislamituindah

======================

Sahabat yang baik adalah saudara yang tulus mendoakan dan mengingatkanmu pada Allah.

Yang mengenal dirimu dan senantiasa menjaga ukhuwah, memberi ketenangan saat bersamanya, ada insprirasi amal shaleh saat melihatnya,

Dalam diamnya dia mendoakan, dalam senyumnya dia menenangkan, dalam nasihatnya dia bangkitkan semangat mencintai kebaikan…

http://www.facebook.com/pages/Al-Ukhuwah-Wal-Ishlah/118924971457368

http://www.facebook.com/pageislamituindah

kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

 

4 thoughts on “Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

  1. kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

    Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

    [1] Istighfar Palsu

    Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)

    [2] Niat Menimba Ilmu

    Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71)

    [3] Guru Terbaik

    Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71-72)

    [4] Rusaknya Hati

    Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, “Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”. Beliau menjawab, “Sikap wara’/menjaga diri dari yang diharamkan.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 72)

    [5] Kenali Dirimu!

    Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai orang yang riya’!”. Maka beliau menjawab, “Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 93)

    [6] Antara Wajah dan Perbuatan

    Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 105)

    [7] Amalan Setelah Berbuat Dosa

    Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”. Dia menjawab, “Iya.” Ahli ibadah itu pun berkata, “Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”. Dia menjawab, “Iya.” Lalu ahli ibadah itu berpesan, “Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 124)

    [8] Kiat Menghafal Hadits

    Waki’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” (lihat mukadimah az-Zuhd karya Imam Waki’, hal. 91)

    Waki’ rahimahullah juga berpesan, “Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.” (mukadimah az-Zuhd, hal. 91)

    [9] Nikmat dan Adzab

    Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48)

    [10] Larut Dalam Pujian dan Celaan

    Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)

    [11] Pembersihan Dosa

    Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 53)

    [12] Hakikat Syukur

    Muhammad bin Ka’ab rahimahullah mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65)

    [13] Godaan Perempuan

    Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 67)

    [14] Menimba Ilmu Atau Bekerja

    Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi rahimahullah berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, “Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 69-10)

    [15] Jangan Sebarkan Kekejian!

    Khalid bin Ma’dan rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.” (QS. an-Nuur: 19).” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 71)

    [16] Sambutan Yang Indah

    Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 81)

    [17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!

    Yahya bin Khalid al-Barmaki rahimahullah berkata kepada anaknya, “Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 126)

    [18] Bukan Amal Biasa-Biasa

    Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 133)

    [19] Apalah Artinya Dunia

    Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)

    [20] Puncak Syukur

    Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)

    Penyusun: Ustadz Abu Mushlih

  2. Rokok Bukan Penyumbang Devisa Tapi Penyumbang Kerugian Negara

    Nurul Ulfah – detikHealth

    Jakarta, Selama ini rokok dibilang sebagai penyumbang devisa terbesar untuk negara padahal nyatanya rokok justru menyumbang kerugian terbesar negara. Kerugian yang ditimbulkan rokok bukan hanya masalah kesehatan saja tapi juga masalah moral dan finansial.

    Menurut data Depkes tahun 2004, total biaya konsumsi atau pengeluaran untuk tembakau adalah Rp 127,4 triliun. Biaya itu sudah termasuk biaya kesehatan, pengobatan dan kematian akibat tembakau. Sementara itu penerimaan negara dari cukai tembakau adalah Rp 16,5 triliun.

    “Artinya biaya pengeluaran untuk menangani masalah kesehatan akibat rokok lebih besar 7,5 kali lipat daripada penerimaan cukai rokok itu sendiri. Jadi sebenarnya kita ini sudah dibodohi, sudah tahu rugi tapi tetap dipertahankan dan dikerjakan. Inilah cara berpikir orang-orang tertentu yang bodoh,” tutur kata Prof Farid A Moeloek, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dalam acara Peningkatan Cukai Rokok: Antara Kepentingan Ekonomi dan Kesehatan di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (17/2/2010).

    Prof Farid mengatakan, rokok adalah pintu gerbang menuju kemaksiatan, penurunan moral dan lost generation. “Tidak ada orang yang minum alkohol, terkena HIV, atau memakai narkoba tanpa merokok terlebih dahulu,” kata Prof Farid yang juga mantan menteri kesehatan ini.

    “Menurut agama saja menghisap rokok adalah kegiatan yang mubazir atau makruh. Memang dilema, di satu sisi negara butuh uang tapi di sisi lain banyak yang dirugikan akibat rokok,” tambahnya.

    Dalam UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 disebutkan bahwa nikotin adalah zat aditif, sama halnya dengan alkohol dan minuman keras. “Jadi rokok harusnya juga diperlakukan sama dengan narkoba. Artinya kalau narkotik tidak diiklankan, merokok juga harusnya tidak boleh. Masalah rokok juga harus ditangani secara spesial,” ujarnya.

    Kenaikan cukai tembakau rokok sebesar 15 persen menurut Prof Farid dianggap tidak akan berpengaruh.
    Pertama, karena rokok mengandung nikotin yang bersifat candu, jadi bagaimanapun juga orang akan terus mencari dan mencari rokok untuk memenuhi kebutuhannya.
    Kedua, grafik elastisitas rokok bersifat inelastis, jadi kenaikan harga rokok tidak akan terlalu mengurangi konsumsi rokok.
    Ketiga, pertambahan penduduk terus terjadi dan hal ini memungkinkan semakin banyak orang yang merokok.

    Untuk itu solusinya adalah, perlu regulasi atau Peraturan Pemerintah (PP) khusus yang mengatur ketat penggunaan rokok. Sebenarnya sudah banyak UU yang mengatur tentang rokok, misalnya UU Kesehatan No 36/2009, UU Penyiaran No 33/1999, UU Perlindungan Anak No 23/2002, UU Psikotropika No 5/1997 dan UU Cukai No 39/2007.

    “Di situ ada aturannya nikotin harus dibagaimanakan. Tapi karena UU itu berjalan sendiri-sendiri maka tujuannya jadi tidak tercapai. Yang dibutuhkan hanya harmonisasi UU,” katanya.

    Peningkatan cukai rokok juga menurut Prof Farid harus didistribusikan pada kegiatan-kegiatan untuk menangani sektor kesehatan. “Perokoklah yang membayar cukai tembakau sehingga sudah semestinya dana cukai dikembalikan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat,” ujarn
    (fah/ir)

    http://www.detikhealth.com/read/2010/02/17/173038/1301572/763/rokok-bukan-penyumbang-devisa-tapi-penyumbang-kerugian-negara

    kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

    Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

  3. kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

    Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

    Muhammad bin Ka’ab rahimahullah mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65)

    Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)

    Jika anda sholat berjam’ah lantas tidak bisa khusyu’ maka jangan salahkan imam, dengan alasan suara sang imam buruk…,
    Jika anda berkaca lantas tanpak wajah anda yang kurang rupawan maka jangan salahkan cermin…
    jika anda memiliki rambut yang kurang berkilau maka jangan salahkan sampo yang anda pakai…
    jika anda belajar lantas kurang paham apa yang disampaikan guru maka janganlah salahkan sang guru….
    jika … , jika….
    Belajarlah menyalahkan dan mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain. Para salaf menasehati agar kita tatkala melihat orang lain berusahalah untuk melihat kebaikan-kebaikan mereka, adapun tatkala melihat diri kita sendiri maka hendaklah kita berusaha melihat kekurangan-kekurangan kita agar kita tidak tertimpa penyakit ujub, dan mengakui serta menghargai kelebihan orang lain, serta berusaha mencari udzur untuk kesalahan orang lain.
    http://www.facebook.com/firanda.andirja

    ========================

    Jangan Berputus Asa Terhadap Sesuatu yang Luput darimu

    “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

    “Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad)

    Baca selengkapnya di rumaysho.com:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/3169-jangan-berputus-asa-terhadap-sesuatu-yang-luput-darimu.html

    =======================

    Ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong. Iapun bermaksud mengajukan pensiun karena ingin memiliki banyak waktu untuk keluarganya.

    Si Pemborong berkata, “Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.” Si tukang bangunan segera membangunnya. Karena kejar tayang, iapun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi.

    Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong. Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata, “Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku.” Maka terkejutlah tukang bangunan itu, dan ada rasa sesal kenapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu dikerjakannya secara asal-asalan.

    *Faedah
    Ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah ‘rumah’ yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal karena kita menempati rumah buruk yang kita bangun asal-asalan. (@KonsultasiSyariah)

    ~Kisah Tukang Bangunan~

    (Terjemah dan Faedah oleh: Abu Umar Abdillah)

    http://www.facebook.com/Taman.Hidayah

    =========================

    AIR MATA ORANG-ORANG SHALIH

    Dari Sufyan ats-Tsauri -Rahimahullah bahwa ia berkata, “Aku menemui Ja’far ash-Shadiq -Rahimahullah (keturunan Rasulullah) lalu aku katakan kepadanya, ‘Wahai putra Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!’

    Beliau berkata:
    “Wahai Sufyan, orang yang banyak dusta tidak punya harga diri,
    orang yang banyak dengki tidak memiliki ketentraman,
    orang yang suka bosan tidak punya saudara,
    dan orang yang buruk akhlaknya tidak punya penolong.”

    Aku berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku.’

    Beliau berkata:
    “Wahai Sufyan, jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah, maka kamu menjadi seorang ‘abid (ahli ibadah).
    Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, maka kamu menjadi seorang muslim (yang sejati).
    Pergaulilah manusia dengan apa yang kamu suka bila mereka memperlakukanmu, maka kamu menjadi seorang mukmin (yang sejati),
    dan jangan bergaul dengan orang yang suka berbuat dosa sehingga ia mengajarkan perbuatan dosanya ke-padamu.
    Seseorang itu tergantung agama kekasihnya. Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan, dengan siapakah ia bergaul.
    Dan mintalah saran dalam urusanmu kepada orang-orang yang takut kepada Allah.”

    Aku berkata, ‘Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku!’

    Beliau berkata:
    “Wahai Sufyan, barangsiapa yang ingin hidup mulia dengan tanpa sanak kerabat,
    dan kewibawaan tanpa kekuasaan,
    maka hendaklah ia keluar dari kehinaan kemaksiatan menuju kemuliaan ketaatan.”

    Aku katakan, ‘Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku!’

    Beliau berkata:
    “Ayah mendidikku dengan tiga perkara, beliau berkata kepadaku, ‘Wahai putraku, barang-siapa yang berteman dengan teman yang buruk maka ia tidak akan selamat,
    barangsiapa yang memasuki gerbang keburukan maka ia akan dituduh (telah melakukan keburukan)
    dan barangsiapa yang tidak bisa menahan lisannya maka ia akan menyesal’.”

    http://www.hatibening.com/

    kumpulan nasehat islami , pelajaran islami , nasehat religi para ulama , tausiyahislami dari para ulama

    Nasehat, Teguran, dan Pelajaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s