10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah

Inilah 10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah Level Awam hingga Ulama

Oleh AM. Waskito

Alhamdulillahirabbil ‘alamin atas segala nikmat dan karunia Allah. Dengan segala nikmat-Nya kita senantiasa diberi petunjuk dan kekuatan untuk meniti jalan istiqamah, alhamdulillah. Tanpa karunia dan perlindungan Allah, kita tak ada apa-apanya.

Berikut ini adalah “10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang berisi sepuluh logika dasar untuk mematahkan akidah sesat Syi’ah. Logika-logika ini bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syi’ah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syi’ah yang ingin menyesatkan umat Islam dari jalan yang lurus.

Kalau Anda berbicara dengan orang Syi’ah, atau ingin mengajak orang Syi’ah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syi’ah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syi’ah; coba kemukakan 10 logika dasar di bawah ini. Tentu saja, kemukakan satu per satu. Insya Allah, kaum Syi’ah akan kesulitan menjawab logika-logika ini, sehingga kemudian kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

JURUS 1: “NABI DAN AHLUL BAIT”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

…Kalau Syi’ah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau…

Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syi’ah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syi’ah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

Faktanya, ajaran Syi’ah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syi’ah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syi’ah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”

JURUS 2: “AHLUL BAIT DAN ISTERI NABI” 

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

…Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait?…

Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara istri-istri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui istri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui istri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para istri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”

Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini istri-istri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu ‘Anhunna.

JURUS 3: “ISLAM DAN SAHABAT”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

Kemudian tanyakan ke dia:  “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syi’ah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”

…Kaum Syi’ah mencaci-maki para Shahabat dengan sangat keji. Tetapi mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim…

Faktanya, kaum Syi’ah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium  yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

JURUS 4: “SEPUTAR IMAM SYI’AH” 

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syi’ah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syi’ah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syi’ah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syi’ah? Apakah orang Syi’ah meragukan keilmuan empat imam mazhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam mazhab tidak sepadan dengan 12 imam Syi’ah?”

…Mengapa dari ke-12 imam Syi’ah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali?…

Faktanya, kaum Syi’ah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syi’ah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12” atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syi’ah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam mazhab rahimahumullah.

JURUS 5: “ALLAH DAN IMAM SYI’AH” 

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syi’ah?” Tentu dia akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”

…sikap ideologis kaum Syi’ah lebih dekat kemusyrikan karena lebih mengutamakan pendapat imam-imam Syi’ah daripada ayat-ayat Allah…

Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syi’ah, dalam kitab-kitab Syi’ah, dalam pengajian-pengajian Syi’ah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syi’ah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syi’ah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”

Faktanya, sikap ideologis kaum Syi’ah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syi’ah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

JURUS 6: “ALI DAN JABATAN KHALIFAH”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah  setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”

…Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, padahal dia memiliki kekuasaan?…

Kemudian katakan kepada orang Syi’ah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”

Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali radhiyallahu ‘anhu lebih berani melakukan hal itu.

JURUS 7: “ALI DAN HUSEIN”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syi’ah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syi’ah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syi’ah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syi’ah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih dahsyat lagi.

…Kalau orang Syi’ah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih dahsyat lagi…

JURUS 8: “SYI’AH DAN WANITA”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Apakah dalam keyakinan Syi’ah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syi’ah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan ke orang Syi’ah itu: “Jika Syi’ah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syi’ah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syi’ah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”

…kaum Syi’ah tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran…

Faktanya, kaum Syi’ah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll, praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

JURUS 9: “SYI’AH DAN POLITIK”

Tanyakan ke orang Syi’ah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”

Lalu katakan ke orang Syi’ah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syi’ah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syi’ah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syi’ah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”

…Ajaran Syi’ah terjadi ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Akidah Syi’ah mirip dengan konsep Holocaust Zionis internasional…

Faktanya, ajaran Syi’ah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syi’ah. Dalam hal ini akidah Syi’ah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

JURUS 10: “SYI’AH DAN SUNNI”

Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Mengapa kaum Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syi’ah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwah Islamiyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”

Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syi’ah benar-benar mau ukhuwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, istri-istri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwah atau perdamaian antara Sunni dan Syi’ah, sebelum Syi’ah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”

…Kalau Syi’ah benar-benar mau bersaudara dengan Sunni, mengapa mereka menyerang tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman dan istri-istri Nabi?…

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syi’ah.

Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syi’ah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah sangat sulit disatukan.

Demikianlah “10 Jurus Dasar Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syi’ah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan umat Islam dari propaganda-propaganda Syi’ah. Wallahu a’lam bis-shawaab. []

Rekomendasi: Bacalah buku “Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah,” karya Prof Dr Ali Ahmad As-Salus, Penerbit Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

http://www.abisyakir.wordpress.com

http://m.voa-islam.com/news/liberalism/2012/02/02/17590/inilah-10-jurus-penangkal-kesesatan-syi%27ah-level-awam-hingga-ulama/

 

 

5 thoughts on “10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah

  1. Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran

    Februari 5, 2012

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Ada saja cara manusia untuk menerima, memberi toleransi, atau mengakui keberadaan paham Syiah. Caranya bermacam-macam, termasuk dengan membuat dalih-dalih yang kurang tepat. Salah satu bentuk blunder besar, ialah yang dilakukan oleh Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang ulama pakar fiqih dan sekaligus mantan anggota MUI Pusat. Mengapa disebut blunder? Sebab usia KH. Ali Yafie sudah sepuh. Secara pandangan manusiawi, beliau sudah berada di area “ambang kehidupan”. Mestinya, dalam usia demikian, KH. Ali Yafie mewariskan hal-hal yang kuat, kokoh, barakah, dan maslahat bagi Ummat. Namun, beliau justru ingin mengklaim keislaman penganut sekte Syiah (khususnya Imamiyah Itsna Asyari).

    “Wariskan Kebaikan untuk Generasi Nanti” (Jangan Meninggalkan Fitnah).

    Situs voa-islam.com menerbitkan artikel menarik, berjudul: “Anggapan Syiah Bagian dari Islam Sangat Tidak Beralasan.” Dalam artikel ini KH. Ali Yafie menegaskan bahwa Syiah bagian dari Islam. Alasannya, karena negara Iran yang menganut paham Syiah Imamiyyah, diterima sebagai bagian dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang anggotanya sekitar 60 negara Islam. Berikut pernyataan KH. Ali Yafie:

    “Dengan tergabungnya Iran sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Kalau anda tanya apakah Syiah sesat, lebih baik tanyakan pada MUI saja. Jangan tanya saya. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.“

    Sebenarnya, untuk memahami kesesatan Syiah, sangatlah mudah. Termasuk untuk memahami bahwa Syiah ekstrem yang menjadi madzhab utama di Iran saat ini, bukan bagian dari Islam, juga mudah. Alasannya, kaum Syiah itu telah mengutuk, mencaci-maki, melaknati, mendoakan keburukan, memberikan gelar-gelar sangat kotor, serta merendahkan para Shahabat Nabi yang mulia Ridhwanallah ‘Alaihim Ajma’in. Mereka menggelari isteri-isteri Nabi serta para Shahabat terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum, dengan gelar-gelar sangat kotor (na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik). Dengan satu alasan ini saja, telah cukup kalam untuk mengeluarkan sekte Syiah Imamiyyah dari Islam.

    Dalilnya adalah Surat At Taubah, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan; Allah ridha atas mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia (Allah) telah menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).

    Singkat kata, orang Syiah Rafidhah telah melaknati para Shahabat yang mulia, Radhiyallahu ‘Anhum; maka itu sama artinya mereka telah MELAKNATI kaum yang DIRIDHAI oleh Allah Ta’ala. Ini adalah kekufuran yang nyata dan sangat nyata. Maka, mengeluarkan kaum Syiah dari jalan Islam, atas alasan seperti itu, adalah benar semata.

    Lalu bagaimana kalau ada 60 negara di dunia telah menerima keislaman kaum Syiah (meskipun mereka telah mengekalkan laknat dan permusuhan kepada para Shahabat yang mulia)? Bagaimana kalau Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang guru besar fikih, mantan Ketua MUI, mantan anggota PBNU, dan lain-lain; beliau mengklaim bahwa Syiah adalah bagian Islam? Maka jawabnya sangat sederhana: “Jangankan kebijakan politik 60 negara di dunia, jangankan pendapat KH. Ali Yafie; andaikan seluruh manusia sejak awal sampai akhir menerima Syiah sebagai Islam, sedangkan mereka dalam ideologinya melawan RIDHA Allah, maka semua pendapat itu dianggap tidak ada, atau tidak penting. Sebab, kalau kita mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, sedangkan mereka telah melazimkan melaknat dan mengutuki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum, maka kita akan menjadi kafir.”

    Lalu bagaimana dengan keputusan politik 60 negara Muslim dalam organisasi OKI yang mengakui posisi Iran? Bukankah ini sudah cukup sebagai dalil bahwa Syiah adalah bagian dari Islam?

    Mari kita nikmati pemikiran ini, lalu memberikan jawaban yang baik dan secukupnya; sekaligus sebagai upaya memberi nasehat kepada orangtua kita, KH. Ali Yafie, yang telah menyampaikan pendapat tidak tepat. Kepada Allah Ta’ala semata kita memohon ilmu, petunjuk, dan taufiq. Allahumma amin.

    [1]. Dalam studi Syariat Islam, dalil yang dipakai untuk menghukumi masalah-masalah Syariat (termasuk di dalamnya perkara akidah) adalah Kitabullah dan Sunnah Shahihah, serta istinbat hukum yang adil. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Surat An Nisa’ ayat 59. Kalau terjadi perselisihan dalam apapun persoalan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi, berdalil dengan “kebijakan politik 60 negara Islam” bukan termasuk koridor Syariat.

    [2]. Kita harus paham, bahwa keputusan politik 60 negara Muslim dalam OKI, bukanlah keputusan berdasarkan Syariat Islam. Ia adalah keputusan atau kebijakan yang dibangun di atas hukum internasional, konvensi dunia, kesepakatan bilateral atau multilateral antara negara-negara anggota, serta berdasarkan hukum masing-masing negara yang umumnya SEKULER. Jadi negara-negara anggota OKI ini bisa disebut sebagai “negara yang mayoritas penduduknya Muslim”, bukan negara Islam. Sebab, kalau benar-benar 60 negara itu berdasarkan Islam, mereka pasti akan bersatu-padu membentuk Khilafah Islamiyyah, bukan ngeyel dengan konsep negara nasionalis masing-masing. Singkat kata, keputusan atau kebijakan negara-negara OKI, tidak otomatis mewakili keputusan/kebijakan Islami.

    [3]. Kesatuan negara-negara dalam suatu organisasi internasional adalah langkah atau kebijakan politik berdasarkan prinsip kerjasama dan kepentingan. Maksudnya, mereka bergabung karena melihat keuntungan di balik langkah kerjasama dengan negara lain. Di sisi lain, mereka bergabung juga dalam rangka mencari keuntungan tertentu. Jadi, titik-tolaknya bukan persoalan KESAMAAN AKIDAH & MANHAJ. Tetapi lebih ke aspek kerjasama dan kepentingan saja. Buktinya apa? Mudah sekali. Lihat saja konsep organisasi seperti PBB atau ASEAN. Dalam organisasi seperti ini semua jenis negara, tidak peduli apapun akidahnya, bisa bergabung dan bekerjasama. Baik negara Nashrani, Yahudi, Sekuler, Kapitalis, Paganis, Komunis, dll. bisa bergabung disana. Dalam organisasi OKI sendiri tidak ada ketentuan seperti: “Semua negara dalam OKI harus bermadzhab Ahlus Sunnah atau Sunni.” Adakah ketentuan seperti itu dalam piagam organisasi OKI?

    [4]. Kesamaran posisi politik Iran, karena sejak awal mereka mengklaim istilah-istilah Islam. Nama resmi negara itu Jumhuriyyah Al Islamiyyah Al Iraniyyah (Republik Islam Iran). Mereka tidak menyebut diri sebagai Jumhuriyyah Asy Syiah Al Imamiyyah Al Itsna Asyariyyah. Revolusi mereka juga diklaim sebagai Ats Tsaurah Al Islamiyyah (Revolusi Islam). Ketika Salman Rushdie menghujat Al Qur’an, Khomeini menampakkan diri membela Al Qur’an. Hal-hal demikian menimbulkan syubhat yang mestinya bisa dijernihkan oleh ulama seperti KH. Ali Yafie itu, bukannya malah diabu-abukan kembali.

    [5]. Kalau kita melihat sejarah Khilafah Islamiyyah, sejak era Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Ayyubiyyah, Dinasti Saljuk, Dinasti Turki Utsmani (berakhir tahun 1924 M). Disana kaum Muslimin tidak pernah mengakui negara yang berbasis ajaran Syiah (Rafidhah). Bahkan bukan rahasia lagi, bahwa salah satu musuh bebuyutan Khilafah Turki Utsmani, adalah sekte Syiah di Iran, Irak, dan sekitarnya.

    Demikianlah, kita tidka boleh gegabah mengklaim Syiah (Rafidhah) sebagai bagian dari Islam. Alasan penerimaan 60 negara anggota OKI terhadap Iran, bukanlah refleksi dari kebijakan atau keputusan politik Islami, sebab organisasi OKI itu memang tidak berdasarkan Syariat Islam. Mereka semacam organisasi “kumpulan arisan” negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

    Sangat disayangkan, jika seorang alim dikenal sebagai guru besar fikih Islam, tetapi tidak cermat dalam membedakan antara “Syariat OKI” dengan Syariat Islam. Hal ini sangat disayangkan, dan sepatutnya tidak terjadi hal seperti itu. Namanya Syariat Islam pastilah berdasarkan tinjauan Kitabullah dan As Sunnah, bukan selainnya.

    Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita (kaum Muslimin) semuanya. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Cimahi, 5 Februari 2012.

    AMW.

    http://abisyakir.wordpress.com/

  2. Untuk Allah, Lalu Untuk Sejarah…

    Januari 13, 2012

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Laki-laki ini bernama Sayyid Husein Al Mausawi rahimahullah. Dia adalah laki-laki Arab asal Irak, yang dibesarkan dan tumbuh di tengah lingkungan ulama Syiah. Dia sejak muda intens mempelajari silsilah keilmuan Syiah di hauzah Najaf, sampai mencapai derajat ulama. Dengan ketinggian martabat ilmunya, dia mengenal dekat ulama-ulama besar Syiah, seperti Khomeini, Kasyif Al Ghitha, Sharafuddin Al Mausawi, Husein Bahrululum, dll.

    Sebuah Kesaksian Sejarah…

    Dalam perjalanan waktu, setelah meniti kebimbangan panjang, Allah Al Hadi berkenan memberinya cercah jalan pulang, menuju fitrahnya. Sayyid Al Mausawi akhirnya bertaubat dari agama Syiah, dan kembali meniti jalan Ahlus Sunnah (Sunni). Untuk memperkuat keteguhan hatinya, beliau menulis buku penting: “Lillahi Tsumma Littarikh” (Untuk Allah, Lalu Untuk Sejarah). Inilah buku karya beliau yang monumental dan membuat berkobar-kobar kemarahan kaum Syiah (Rafidhah).

    Seorang ulama Syiah, Husain Bahrululum sampai mengeluarkan fatwa yang isinya sebagai berikut:

    “Pendapat kami tentang orang yang bernama Husain Al Mausawi, dia adalah sesat dan menyesatkan, semoga Allah membutakan matanya sebagaimana Dia telah membutakan hatinya. Dia telah menjadi sebab terjadinya fitnah bagi sebagian besar manusia. Semoga Allah melaknatnya. Para tokoh hauzah telah mencabut semua gelar keilmuannya, dan semua hukum orang murtad telah dijatuhkan kepadanya, dan semua risalah ilmiahnya tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Kami juga mengeluarkan fatwa atas haramnya membaca bukunya yang berjudul ‘Lillahi Tsumma Littarikh.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah. Hal. 151-152).

    Akibat dari karya dan perjuangan Sayyid Al Mausawi ini, akhirnya beliau dibunuh oleh kaki-tangan Syiah. Semoga Allah merahmatinya dan menempatkan dirinya di maqam Syuhada’. Amin Allahumma amin.

    Ada sebuah kesaksian menakjubkan dari Sayyid Al Mausawi, di akhir-akhir bukunya. Disana beliau mengingatkan hakikat kehidupan bangsa Arab di Irak yang semula Sunni, lalu menjadi Syiah. Sayyid Al Mausawi berkata:

    “Sekarang saya telah mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu dan memenuhi pikiran saya.

    Setelah saya merenungkan semua hakikat ini dan yang lainnya, saya mulai mengkaji tentang sebab saya dilahirkan sebagai orang Syiah, juga tentang sebab mengapa keluarga dan kerabat saya menganut ajaran Syiah. Saya mengetahui bahwa asalnya keluarga saya adalah penganut Ahlus Sunnah, tetapi sekitar 150 tahun yang lalu beberapa dai Syiah dari Iran dating ke Irak Selatan. Mereka menjalin hubungan dengan beberapa pemimpin masyarakat. Mereka (para dai Syiah itu –pen.) memanfaatkan kebaikan hati mereka, sedikitnya ilmu mereka, lalu mereka menipu dengan kata-kata yang indah. Itulah yang menjadi sebab masuknya mereka ke dalam Syiah. Banyak di antara keluarga dan kabilah yang masuk ke dalam Syiah dengan cara ini, padahal sebelumnya mereka bermadzhab Ahlus Sunnah.

    Sangat penting untuk saya sebutkan disini sebagai amanat ilmiah, bahwa sebagian keluarga dari mereka adalah: Bani Rabi’ah, Bani Taim, Al Khazail, Az Zubaidat, Al Umair, dan mereka itu adalah pemuka kabilah Taim, Khazraj, Syamar, Thukah, Ad Dawar, Ad Difafa’ah, keluarga Muhammad dan mereka dari keluarga Imarah, keluarga Diwaniyah, mereka adalah keluarga Aqra’, keluarga Badir, Afaj, Jabur, Jalihah, keluarga Ka’ab, Bani Lam, dan lain-lain.

    Mereka semua adalah keluarga Irak asli yang lahir di Irak. Mereka terkenal dengan keberanian, kemuliaan, dan keluhuran. Mereka adalah keluarga besar yang memiliki kedudukan dan kehormatan, tetapi sangat disayangkan mereka masuk ke dalam Syiah pada 150 tahun yang lalu, karena menyambut seruan romobongan dai Syiah yang datang dari Iran kepada mereka.

    Keluarga yang sengsara ini lupa –walau memegang teguh paham Syiah- bahwa pedang Al Qa’im (maksudnya Al Mahdi Al Qa’im yang diyakini oleh kaum Syiah –pen.) menunggu leher mereka, untuk membinasakan mereka, sebagaimana telah dijelaskan, karena Imam ke-12 yang terkenal dengan nama Al Qa’im akan membunuh orang-orang Arab dengan pembunuhan yang sangat kejam, walau mereka orang-orang Syiah. Dan inilah yang disebut secara tegas oleh kitab-kitab kami (orang-orang Syiah); hendaklah keluarga-keluarga tersebut menunggu pedang Al Qa’im untuk membunuh mereka.

    Allah Ta’ala telah mengambil perjanjian dari Ahli Ilmu untuk menjelaskan kebenaran, dan inilah saya dating menjelaskannya, membangunkan orang-orang yang tidur, mengingatkan orang-orang yang lalai. Saya menyeru kepada keluarga-keluarga Arab yang asli untuk kembali kepada asalnya. Janganlah menetap di bawah pengaruh para pemilik sorban yang mengambil harta mereka atas nama khumus (potongan harta 20 % –pen.) dan sumbangan-sumbangan untuk perayaan; mereka merampas kehormatan wanita-wanita mereka atas nama mut’ah. Semua itu, yakni khumus dan mut’ah, hukumnya haram sebagaimana telah dijelaskan. Saya juga menyerukan kepada keluarga-keluarga yang masih murni untuk mengkaji ulang sejarah mereka dan sejarah para pendahulunya, agar mereka berada dalam kebenaran yang diberangus oleh para fuqaha dan mujtahid, serta pemilik sorban (maksudnya, para ulama Syiah –pen.), demi kepentingan pribadi mereka.

    Dengan ini saya telah menunaikan sebagian kewajiban (menyampaikan kebenaran apa adanya –pen.).

    Ya Allah, saya memohon dengan kecintaan saya kepada Nabi-Mu yang pilihan dan kecintaan saya kepada Ahlul Bait yang suci, agar menjadikan buku ini sebagai buku yang diterima di dunia dan Akhirat, usahanya dijadikan sebagai usaha yang ikhlas karena mengharapkan wajah-Mu yang Mulia, dan mendapatkan manfaat darinya orang banyak. Segala puji bagi Allah, sebelum dan sesudahnya.”

    (Bagian akhir buku, Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Husein Al Mausawi rahimahullah. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, cetakan April 2010, hal. 148-150).

    Inilah catatan sejarah yang perlu kita pahami dan sadari. Kaum Syiah dalam akidahnya, mereka meyakini bahwa kelak Al Mahdi Al Qa’im akan menghabisi bangsa Arab (sekalipun dirinya Syiah juga). Yang disisakan hanyalah orang-orang Syiah Persia. Tentu saja, orang Syiah Indonesia, Malaysia, atau Syiah Melayu, tidak diketinggalan kelak akan dihabisi Al Qa’im.

    Maka kini banyak sebagian orang Indonesia menganut ajaran Syiah, dengan tanpa harapan mereka akan diterima di sisi ajaran Syiah dan imam-imam mereka. Itulah manusia-manusia TERTIPU! Sayyid Husein Al Mausawi rahimahullah sudah berkorban darah dan nyawa untuk mengingatkan. Tinggal manusia, maukah belajar atau tetap sesat?

    Sekali lagi… Lillahi Tsumma Lit Tarikh… Untuk Allah, Kemudian Untuk Sejarah… Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Jakarta Timur, 13 Januari 2012.

    http://abisyakir.wordpress.com/2012/01/13/untuk-allah-lalu-untuk-sejarah/

  3. Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia!

    Januari 4, 2012

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Cara-cara misionaris Syiah (Rafidhah) dalam menjerat manusia, agar mengikuti ajaran mereka; tak ubahnya seperti cara-cara misionaris Kristen. Mereka ini wajib dihadapi, diwaspadai, ditangkal, dan dihentikan aksi-aksi misionarisasinya. Kaum Muslimin bisa kufur kalau secara sadar mengikuti akidah mereka.

    Apakah ajaran Syiah (Rafidhah) sedemikian sesat sehingga bisa menimbulkan kekufuran bagi mereka yang mengikutinya?

    Banyak segi dalam ajaran Syiah itu yang bisa membuat para penganutnya kufur dari jalan Islam, antara lain:

    (o) Melaknat para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, khususnya Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, dan lain-lain. Perbuatan melaknat ini kekufuran, sebab Allah Ta’ala sudah ridha kepada para Shahabat (At Taubah: 100).

    (o) Meyakini bahwa isteri-isteri Nabi, Radhiyallahu ‘anhunna, bukan termasuk Ahlul Bait Nabi. Dalam Surat Al Ahzab ayat 33 jelas-jelas disebutkan bahwa isteri-isteri Nabi adalah Ahlul Bait beliau. Allah mengakui mereka sebagai Ahlul Bait Nabi, tetapi kaum Syiah tak mengakui. Hebat betul.

    (o) Meyakini bahwa Kitab Suci Al Qur’an sudah diubah oleh para Shahabat, sehingga Al Qur’an di sisi kita selama ini dianggap palsu. Ini adalah tuduhan sangat jahat dan keji. Keyakinan ini bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah akan selalu menjaga Al Qur’an.

    (o) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah adalah manusia ma’shum, terjaga dari kesalahan, kata-kata mereka merupakan dasar hukum agama. Hal ini sama saja dengan meyakini, bahwa ada syariat baru yang diturunkan Allah setelah sempurnanya Syariat Islam. Jelas ini bertentangan dengan Al Maa’idah ayat 3. Bahkan ia seperti keyakinan Ahmadiyyah yang meyakini ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad Shalallah ‘Alaihi Wasallam.

    (o) Meyakini bahwa Imam-imam Syiah memiliki sifat rububiyyah (ketuhanan) yang sebenarnya hanya layak menjadi sifat Allah Ta’ala. Ini adalah akidah kemusyrikan yang jelas-jelas bertentangan dengan TAUHID.

    (o) Meyakini akidah Bada’, yaitu selalu muncul ilmu-ilmu baru yang sebelumnya belum diketahui oleh Allah Ta’ala. Dengan akidah ini, kaum Syiah bisa menampung ajaran apapun, sekalipun kekufuran yang amat sangat kufur. Karena ia dilegitimasi dengan pemikiran, “Selalu muncul ilmu Allah yang baru. Hal-hal baru, kalau menarik, boleh diambil.” Keyakinan ini sama saja dengan membuang Syariat Islam dari dasar-dasarnya.

    (o) Melegalkan perzinahan melalui praktik Nikah Mut’ah. Pelaku nikah mut’ah kalau melakukan perbuatan itu karena dorongan nafsu, dengan tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram (telah diharamkan oleh Nabi), maka masih mungkin dia akan diampuni Allah Al Ghafuur. Tetapi kaum Syiah mengklaim, nikah mut’ah itu amal shalih yang besar pahalanya. Hal ini sama saja dengan “al istihlal bi maa haramallahu bihi” (menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah). Sikap demikian termasuk jenis kekufuran.

    (o) Meyakini bahwa kaum Ahlus Sunnah halal darahnya, halal hartanya, halal kehormatannya; ini adalah keyakinan bathil yang mewajibkan para penganutnya terkena hukum kekufuran. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kullu muslim ‘alal muslim haramun ‘irdhuhu wa maaluhu wa damuhu” (setiap Muslim atas Muslim lainnya, diharamkan kehormatan, harta, dan darahnya). [HR. At Tirmidzi].

    Dengan keyakinan-keyakinan seperti di atas, maka gerakan misionaris Syiah SERUPA belaka dengan gerakan Kristenisasi. Kalau mereka berhasil memasukkan seorang Muslim ke dalam kelompoknya, itu sama seperti telah berhasil memurtadkan dia.

    Disini kita perlu mengenali cara-cara kerja misionaris Syiah Rafidhah, agar kita bisa mewaspadai, menghindari, atau mematahkan cara-cara licik mereka. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ‘afiyat dan salamah. Amin.

    Berikut ini cara-cara yang biasa dilakukan misionaris Syiah Rafidhah untuk menjerat manusia, antara lain:

    [1]. Mereka mula-mula akan melihat calon target yang akan mereka dakwahi. Target ini bisa dikelompokkan dalam jenis: ‘alim, pertengahan, awam. Orang alim dianggap “klas A”, orang pertengahan dianggap “klas B”, dan orang awam dianggap “klas C”. Untuk masing-masing target berbeda pola dakwahnya.

    [2]. Bagi orang ‘alim, misionaris Syiah akan mulai menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Mereka akan berlagak ilmiah. Tujuannya, akan menanamkan keraguan terhadap hadits-hadits Nabi. Bagi orang pertengahan, mereka akan kemukakan hadits seputar “pentingnya mempunyai imam”. Mereka akan mengeluarkan hadits, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbaiat kepada seorang imam, maka matinya mati jahiliyyah.” Nanti, tafsir imam itu akan mereka arahkan untuk mengimani imam-imam Syiah (termasuk Khomeini). Bagi orang awam, mereka akan masuk dari cerita-cerita seputar penderitaan Husein bin Ali di Karbala, cerita seputar Hasan bin Ali, juga cerita seputar “Ali yang dizhalimi”.

    [3]. Untuk memantapkan keyakinan kepada ajaran Syiah, mereka akan mengemukakan tentang hadits “Ghadir Khum”. Ini standar sekali. Misionaris Syiah akan mengklaim, bahwa dulu waktu Nabi menjelang wafat, beliau menyampaikan pesan, agar kaum Muslimin sepeninggal beliau selalu berpegang kepada Kitabullah dan Ahli Bait beliau (Ali, Fathimah, Hasan, Husein, dan lainnya). Menurut penelitian Prof. Dr. Ali Ahmad As Salus (penulis kitab monumental Ensiklopedi Sunnah-Syiah), tidak ada satu pun hadits seputar Ghadir Khum ini yang shahih. Rata-rata lemah atau palsu. Justru beliau menguatkan hadits Nabi, bahwa kaum Muslimin akan senantiasa selamat dan lurus, selama berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Melalui hadits “Ghadir Khum” itu, kaum Syiah mulai membangun rasa kekaguman, penghambaan, kehinaan diri, di hadapan sosok-sosok Ahlul Bait. Nah, praktik penyembahan Ahlul Bait dimulai dari sini.

    [4]. Misionaris Syiah akan menangkal kemungkinan para pengikutnya untuk lari dari ajaran Syiah, dengan cara mengajak mereka terjerumus dalam praktik “kawin kontrak” alias nikah mut’ah. Baik laki-laki maupun perempuan akan didorong untuk melakukan nikah mut’ah. Kalau tak mau, akan dipaksa-paksa supaya mau. Kalau seseorang sudah sekali saja pernah merasakan nikah mut’ah, misionaris Syiah akan sujud syukur. Satu sisi, kalau ada pemuda/pemudi yang melakukan nikah mut’ah, dia akan terdorong untuk “lagi dong”. Kalau sudah sering, maka tidak akan ada “jalan pulang” bagi manusia-manusia malang itu. Nikah mut’ah bukan hanya sebuah keyakinan sesat, tetapi juga merupakan metode untuk menjerat pengikut agar tidak berani keluar dari kelompok mereka. Kalau ada yang berani keluar, akan ditakut-takuti, “Awas lho ya, kamu sudah melakukan ML dengan si anu dan si anu. Kalau kamu keluar dari Syiah, akan kami bongkar kedok kamu!” Dengan ancaman itu, para pengikut Syiah tersebut menjadi ketakutan.

    [5]. Untuk menyempurnakan keikut-sertaan seseorang pada paham Syiah, mereka akan diberi pendalaman, misalnya berupa ajaran TASAWUF, ritual menyiksa diri, ritual mengutuk Shahabat, doktrin permusuhan kepada Ahlus Sunnah, pentingnya dakwah menyebarkan ajaran Syiah Rafidhah, dan lain-lain. Ini sudah stadium kronis. Bahkan kalau ada pemeluk Syiah yang ketahuan terkena penyakit kelamin atau HIV, hal itu harus ditutupi serapat-rapatnya.

    [6]. Selain cara di atas, misionaris Syiah juga menggaet manusia melalui peluang kerja, mengisi posisi jabatan penting, memberi proyek, peluang bisnis, memberi beasiswa ke Iran, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan penyusupan kemana-mana. Mereka masuk ke MUI, ormas Islam (seperti Said Aqil Siradj di NU), masuk ICMI, Republika, masuk UIN, lembaga pendidikan Islam, partai politik (seperti PAN), komunitas ini itu, dsb.

    Begitulah cara-cara yang kerap dipakai oleh misionaris Syiah untuk meruntuhkan akidah Islam, lalu membawa Ummat murtad dengan meyakini keyakinan bathil mereka. Para misionaris Syiah sebenarnya bisa dikenali dari wajah mereka yang tampak berbeda, sebagai hasil dari kebiasaan berdusta, berzina (nikah mut’ah), dan mengutuk Shahabat. Tetapi di mata orang biasa, hal ini agak sulit dikenali.

    Semoga apa yang ditulis ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari bahaya kaum Syiah Rafidhah, sebab bahaya mereka tak berbeda jauh dengan bahasa misionaris Kristen. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, fid dini wad dunya wal akhirah. Allahumma amin.

    [Abah Syakir].

    http://abisyakir.wordpress.com/2012/01/04/cara-misionaris-syiah-menjerat-manusia/

  4. Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.

    Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.

    Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.

    Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).

    Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”

    Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?

    Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.

    Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?

    Mari kita jawab pertanyaan ini:

    PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

    KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

    KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

    KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

    KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

    KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

    KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

    KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

    KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”

    Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    [Abahnya Syakir].

    http://abisyakir.wordpress.com/2012/01/02/kalau-syiah-sesat-mengapa-boleh-masuk-tanah-suci/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s