Sosok Mulia yang Tak Dihormati

Oleh Najmi Haniva

Aku mau mencoba menuliskan tentang orang-orang hebat dan sabar. Guru atau dosen. Mereka adalah yang menyerap ilmu sebanyak-banyak untuk kemudian dikeluarkan kembali menjadi persembahan yang bisa diterima murid-muridnya.

Mereka belajar sejak kecil sampai mereka tua. Terus belajar. Baik sekali memang. Belajar tentang bidangnya seumur hidup. Hebat nggak tuh? Bandingkan dengan orang lain, yang kalau disuruh membaca tiap hari pun enggan, pasti bisa gila kalau harus belajar seumur hidup.

Mereka juga sabar. Sabar untuk terus belajar. Sabar untuk menyampaikan. Termasuk sabar dengan sikap dan tingkah murid-muridnya. Subhanallah… Mereka itu luar biasa. Pada menyadari sekaligus menghayati nggak sih? Kalau iya, kenapa kelakukan masih seperti itu? Astagfirullah… dimana hati dan fikir? Kenapa bersikap begitu pada guru atau dosen? Orang yang berjasa dan penting dalam hidup.

Terutama mahasiswa. Yang tak akan bosan bilang, seperti yang dikatakan dosen-dosen, bahwa kita sudah berusia dewasa, harus lebih baik sikapnya. Tetapi apa? Mereka kebanyakan menyepelekan dosen. Saat dosen menerangkan dengan sungguh-sungguh, kita malah ngomong sendiri. Sampe rame. Sama sekali tak mendengarkan. Hanya karena pelajaran itu susah dan dosen ngajarnya nggak tepat alias nggak jelas. Bikin kita males dengerin. Kita nggak nyaman atau merasa percuma mendengarkan. Karena toh nggak nangkep materinya.

Tapi, coba lah untuk melihat sudut pandang yang lain. Dari sisi Pak Dosen. Beliau benar-benar berniat memberi kuliah. Datang tiap jam kuliah. Sangat jarang absen. Hampir selalu tepat waktu. Tidak kah sedikit kita hargai itu? Lalu beliau menjelaskan materi. Ya, walaupun ia hanya membaca slide, tapi beliau terus membaca hingga kuliah berakhir. Tidak kah kita hargai itu? Kemudian beliau juga tak menegur kita saat tak mendengarkan dan malah mengobrol sendiri. Coba pikirkan bagaimana perasaan beliau. Rasakan bagaimana kita diabaikan, tak di dengar di depan, tak dihormati, disepelekan! Atau kita emang udah nggak punya hati yang bersih untuk merasa? Sehingga kita santai saja melakukan perbuatan ini. Perbuatan orang tak tahu balas jasa!

Bahkan tanpa rasa bersalah kita malah menyalahkan hingga menjelek-jelekan dosen itu karena nggak bisa mengajar dengan baik. Ya Allah… ampunilah kami. Melakukan dosa bertumpuk-tumpuk tiap harinya. Bukannya ke kampus untuk beribadah dan mencari ilmu, malah mengumpulkan dosa!

Padahal, jika ditilik kembali, seorang mahasiswa itu lebih banyak belajar sendiri harusnya. Tidak tergantung pada penjelasan dosen. Membaca materi sendiri hingga paham. Kalau tidak paham, bertanya pada dosen atau teman yang lebih mengerti. Sungguh semakin buruk kita sebagai generasi muda…

Okelah kita tergantung pada penjelasan dosen, atau kita tak mengerti dengan kalimat bacaan di slide, tapi apa kita lantas seenaknya menyalahkan dosen dan membenarkan sikap buruk sebagai balasan terhadap penjelasan dosen yang susah dimengerti. Kenapa tidak terus mencoba mendengarkan dengan konsentrasi tinggi? Siapa tahu malah makin sering dengerin, makin sering baca materi, kita jadi paham. Setidaknya jika kita malas dengerin yang malah bikin pusing, kita diam. Menghormati dan menghargai beliau yang berbicara di depan.

Mulai lah dari sekarang kita lebih dewasa. Merubah sikap. Mari, sama-sama kita menghormati orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Apa kita tidak kasihan sih sama Pak Dosen yang selalu kita cuekin, kita sepelekan, kita jelek-jelekan, dan lainnya. Beliau sudah tua bukan? Coba pandang wajah beliau yang jarang marah di kelas. Senyum beliau pada kita, tapi kita tak hormat padanya. Kemudian posisikan diri kita pada posisi beliau. Pasti bakal marah-marah. Karena kita sudah capek-capek ngajar, malah tak diperdulikan.

Lalu jangan pernah berfikir kita yang bayar mereka lewat SPP tiap semester. Sungguh kita terlalu sombong lagi picik. Berfikir sempit dan sok. Jangan lah kita menyakiti mereka, dosen-dosen kita, semakin dalam. Sudah cukup perih hati mereka dengan kerasnya hidup, mencari nafkah untuk keluarganya. Jangan tambahi keperihan mereka karena tingkah laku kita yang buruk pada beliau.

Dan lagi yang paling menyakitkan adalah ketika mereka melihat murid-muridnya di masa datang menjadi orang yang susah atau orang yang sangat buruk. Mereka merasa karena mereka tak bisa didik dan sampaikan ilmu pada kita.

Duhai, guru-guruku, dosen-dosenku, maafkanlah kami, murid-muridmu. Sungguh kami sadar selalu jengkelkan hatimu. Tak sungguh-sungguh menuntut ilmu. Maafkanlah tingkah laku kami yang goreskan luka dihatimu. Jangan berhenti mengajari kami. Karena sungguh, kami memerlukan ilmu dan pengalaman yang Anda dapatkan untuk disampaikan pada kami. Jangan bosan untuk menjadi guru dan dosen, karena pekerjaan itu sungguh mulia.

Bersabarlah duhai guru-guru dan dosen-dosenku… Terima kasih untuk setiap ilmu dan kebaikan yang engkau sampaikan pada kami. Akan selalu kami kenang jasamu. Dan pengorbananmu. Akan sisipkan doa untukmu semua…

Ya Allah, mohon berikan berkah dan kebaikan kepada para guru yang menjadi perantara ilmu pada kami… Semoga menjadi amal jariyah yang tiada putus… Aamiin.

 

http://www.eramuslim.com/oase-iman/najmi-haniva-sosok-mulia-yang-tak-dihormati.htm#

One thought on “Sosok Mulia yang Tak Dihormati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s