Valentine: Virus Barat Perusak Iman

JAKARTA (Arrahmah.com) – Hari valentine, seakan menjadi hari wajib yang harus dirayakan untuk mengekspresikan kasih sayang.  Tak hanya untuk muda-mudi yang terikat dalam ikatan haram (pacaran), hari ini juga dirayakan oleh siapapun untuk mengungkapkan rasa kasih sayang mereka. Bahkan hari ini, rencananya akan dibagi-bagikan pisang di sekitar Bundaran HI untuk berbagi kasih sayang.

Jauh sebelum tanggal 14 februari datang, berbagai toko dan mall-mall di kota-kota besar sibuk menghiasi diri dengan pernak-pernik valentine, mulai dari coklat, bunga, boneka panda berwarna merah muda, dan pernik lainnya.  Padahal, kebanyakan dari pemilik-pemilik toko tersebut adalah Muslim yang seharusnya tidak mendukung perayaan yang tidak diajarkan dalam Islam ini.  Karena merayakan hari valentine sama saja dengan meniru kebiasaan orang kafir, dan dengan meniru kebiasaan mereka, maka kita tak ubahnya seperti mereka. Naudzubillah!

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’).

Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir.  Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (hal. 1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269:

Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon : 72).

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur.

Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.


Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda.

Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu.

Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”.

Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?  Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme.  Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, ) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.  Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan.

Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah.  Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

 Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi.

Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh.  Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.


Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu.  Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala.  Namun, hawa nafsu berkehendak lain.  Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine.

Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra’ 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan.  Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama.

Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya.  Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat.  Di katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, diingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. (Hanin Mazaya/dj2islam/arrahmah.com)

2 thoughts on “Valentine: Virus Barat Perusak Iman

  1. Paket coklat isi kondom harus ditarik!

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Pemerintah menarik paket coklat valentine yang berhadiah kondom. Paket tersebut dijual secara bebas di sejumlah supermarket dan minimarket di kota besar.

    “Saya baru menerima laporannya baru berapa jam yang lalu, itu ditemukan di beberapa daerah, seperti di supermarket di Jakarta Selatan, Geger Kalong Bandung, Depok, Medan, Manado. Saya mau membuat surat edaran kesemua instansi terkait, seperti pemilik supermarket dan pemda,” ujar Sektretaris KPAI M Ikhsan, Ahad (12/2/2012) dikutip liputan6.

    Masyarakat masuk ke Kantor KPAI mengadukan adanya paket tersebut. Menurut Ikhsan, paket valentine tersebut dikhawatirkan akan dijadikan jembatan ajang seks bebas dikalangan remaja. “Karena valentine dirayakan remaja, ya anak SMP, SMA, bahkan SD. Biasanya meraka akan saling berbagi paket, sama aja menyuruh melakukan seks bebas. Dikhawtirkan jadi ajang seks bebas,” jelasnya.

    Perlu diketahui, dalam rangka memperingati hari valentine 14 Februari besok, telah tersebar produk paket coklat dengan kondom dalam satu bingkisan. Paket tersebut dijual bebas di beberapa daerah di kota-kota besar di Indonesia.

    Paket isi kondom itu harus segera ditarik sebelum semakin meluasnya perzinahan dikalangan masyarakat terutama remaja.

    Sebelumnya, redaktur muslimdaily.net menemukan foto melalui akun twitter Felix Siauw, pada (9/2) paket cokelat isi kondom yang beredar di salah satu minimarket di Bandung. Menurutnya, foto tersebut bukan rekayasa dan sudah dicek kebenarannya. “Awalnya saya juga kira begitu (palsu – red), tapi teman saya di Bandung akhirnya konfirmasi bahwa mereka saksi dan melihat sendiri”, tulisnya di akun @felixsiauw.

    MUI sesalkan bingkisan kondom Valentine

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyesalkan peredaran coklat yang dijual secara bersama-sama dengan kondom di sejumlah minimarket.

    Ketua MUI, Amidhan, mengatakan, jika temuan itu benar maka minimarket itu perlu diboikot. ”Jadi kita belanjanya di pasar tradisional saja,” katanya, di Jakarta, Ahad (12/2) malam, sebagaimana dikutip dari republika.

    Amidhan mendapat laporan, temuan itu ada di beberapa outlet minimarket.

    Kemudian data tersebut beredar luas ditengah umat dan menimbulkan kekhawatiran bagi para orangtua dan masyarakat luas.

    Inilah akibatnya jika pemerintah tidak menegakkan Syari’at Islam, maka kerusakan akan terus menyebar. Meski para ulama telah mengharamkan hari paganisme ini (Valentine), jika tidak ada otoritas yang menindak, maka kerusakan akan leluasa meluas dan akan menghancurkan moral di kalangan umat ini. (siraaj/arrahmah.com)

  2. Kemana Putra-Putri Anda di Malam Valentine’s?

    “AKU pengen banget jalan jalan ke Bali berdua bareng doi. Romantis banget kalau berduaan sama orang yang dicintai, sambil liat sunset dipinggir pantai dan dilanjutin Candle Light Dinner dipinggir pantai. Sebelum makan sembunyin bunga mawar di belakang badan buat surprise ke doi nanti pas makananya udah siap santap sambil bilang, aku cinta kamu, semua akan ku lakukan untukmu untuk membahagiakan kamu cintaku,” demikian ujar Indah (bukan nama asli) dalam wall Facebook-nya.

    Lain lagi cerita dengan Sari yang telah berpengalaman merayakan Valentine’s bersama pasangannya. “Malam itu doi membuat tattoo atas nama saya dengan tinta berwarna merah muda di pergelangan tangannya. Wow! Saya tersanjung. Ini adalah hadiah Valentine’s paling istimewa untuk saya,” ujarnya.

    Kenangan serupa datang dari seorang gadis. Sebut saja Mia (21). “Kenangan indah Valentine’s tahun lalu gak pernah bisa gue lupain banget. Gue diajak ke sebuah lapangan kosong yang udah disedian lilin merah yang berbentuk segitiga. Gue kaget, pas gue buka bungkusan doi siapkan untuk gue, isinya berupa kotak coklat. Oh, gue berasa terbang. Gue terharu, doi yang sehari-harinya cuek, tiba-tiba bisa romantic. Terakhir dia beri kecupan manis di pipi dan kening yang bikin gue meleleh. Dan malam itu kita habiskan dalam suasana terindah dalam hubungan gw yang tak bisa diceritakan di sini.

    Inilah kisah-kisa seperti ini bisa kit abaca secara terbuka di laman Facebook, blog-blog pibadi atau komentar-komentar di situs bertema remaja.

    ***

    Entah dari mana ceritanya tiba-tiba budaya Barat yang sering disebut Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) yang kerap dirayakan pada tanggal 14 Februari selalu identik dengan memberi cokelat, bunga berwarna merah dan makan malam dikeliling lilin. Yang jelas tradisi seperti ini terus menyebar ke berbagai penjuru dunia.

    Masalahnya, tradisi seperti jauh lebih berkembang ke arah lebih mengerikan lagi, yakni seks bebas. Bahkan acara-acara yang berujung ke kamar tidur ini justru difasilitasi dan dikampanyekan secara terang-terangan.

    Tahun 2010 lalu, sebuah organisasi non-pemerintah Amerika (AS) berkampanye untuk mengajak pasangan saling mengungkapkan perasaan cinta mereka dengan kondom.

    LSM bernama Pusat Keanekaragaman Hayati AS, mendistribusikan 100.000 kondom lewat kotak khusus. Masing-masing menampilkan salah satu dari enam hewan berisiko punah ditambah slogan pada sampul dan pesan tentang populasi manusia di dalam paket tersebut.

    “Untuk membantu memastikan sebuah dunia yang layak huni bagi spesies lain, sehat dan sejahtera bagi kita, mari kita menjadi orang yang bertanggung jawab atas reproduksi,” demikian pesan LSM tersebut.

    Di dalam kotak itu, terdapat gambar kumbang hitam dan merah mengubur Amerika, serta pesan misalnya agar melindungi spesies beruang kutub, katak batu, harimau, kucing atau hutan yang ditebang demi diambil kayunya untuk dijadikan bahan kertas tisu. Kondom tersebut didistribusikan secara gratis di seluruh Amerika Serikat oleh para relawan.

    Mungkin di antara kita ada yang mengatakan, “Ah, tapi itu kan Amerika.” Eit, tunggu dulu. Bahkan di tetangga kita yang dikenal kuat budaya Melayu, hal serupa juga terjadi.

    Menjelang perayaan Hari Kasih Sayang tahun 2011 lalu, Polisi Diraja Malaysia dibuat bingung dengan raibnya 726 ribu kondom ultra-tipis di tengah-tengah pengiriman ke Jepang. Pihak distributor di Jepang pun merasa kecewa dan dirugikan atas hilangnya kondom senilai miliaran rupiah tersebut.

    “Kami menanggapi kehilangan kondom ini dengan serius. Saat ini, kami tengah menginvestigasi kasus itu,” ujar juru bicara Polisi Malaysia, seperti dilansir laman The Malaysian Insider, Rabu 9 Februari 2011.

    Entahlah, ke mana perginya alat kontrasepsi dan pencegah kehamilan ini. Namun yang pasti, aparat Malaysia telah menangkap hampir 50 pasang Muslim di Selangor karena dianggap ” berlebihan merayakan Valentine’s Day”. 96 orang ditahan dengan dakwaan khalwat (berduaan dengan lawan jenis bukan muhrim di tempat sepi) saat Valentine’s.

    Di Kuala Lumpur, aparat penegak agama bahkan menggerebek hotel dan taman umum menjelang Valentine’s serta menahan 16 Muslim, terutama remaja, demikian dikutip juru bicara dari Departemen Urusan Islam Federal kepada AFP tahun lalu.

    Sama juga dengan di Indonesia. Hampir setiap malam menjelang pergantuan tahun atau Hari Valintine, alat kontrasepsi pencegah kehamilan ini ludes dibeli remaja. Tahun 2011 lalu, stok kondom di beberapa hotel di Kota Kediri meningkat. Meningkatnya permintaan ini berbarengan dengan meningkatnya penyewaan kamar. Ghalibnya, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota kediri justru menjadi lembaga yang ikut andil mendistribusikan ratusan kondom ke outlet outlet di beberapa hotel di Kota Kediri.

    “Mungkin permintaan kondom dari penghuni kamar meningkat,”kata Heri Nurdianto dari KPAD Kediri. Termasuk dilakukan tahun ini. (“Jelang Valentin, Kota Kediri Digelontor 8.640 Kondom”, http://www.beritajatim.com, Jum’at, 10 Februari 2012).

    Kasus serupa terjadi di berbagai daerah. Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan sampai Pontianak.

    Remaja, Peran orangtua dan Pesan Islam

    Remaja, secara psikologis memiliki jiwa yang labil. Umumnya melakukan sesuatu dulu, berfikir kemudian. Karenanya, apa yang ada dalam benaknya hanya kesenangan dan hura-hura tanpa memikir dampak dan akibatnya.

    Dr. Singgih Gunarsah D dalam bukunya “Psikolog Remaja”, mengatakan, “Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat.”

    Umumnya remaja, lebih suka mendengar teman sebaya atau teman dekatnya daripada orangtuanya. Masalahnya, apa dan siapa temannya? Jika temannya baik, mungkin orangtua tenang. Bagaimana jika teman-temannya itu adalah anak-anak yang kurang baik?

    Karena pentingnya masa remaja itulah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda untuk menjaga masa mudanya.

    “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya.” [HR at-Tirmidzi (no. 2416)].

    Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” [HR. Ahmad (2/263]

    Maksud hadits di atas adalah pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

    Saking pentingnya menjaga masa remaja, sebuah riwayat lain mengatakan, Allah Subhanahu Wata’ala akan melindungi pemuda di akherat bersama enam kelompok yang telah di jamin Allah.

    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

    “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pertama, pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya. Kedua, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. Kelima, lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Keenam, orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Ketuju, orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” [HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

    Lebih khusus, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) memberi pesan kepada para orangtua yang memiliki anak-anak perempuan. Menurut Nabi, wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa. Kemuliaan dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di tangan mereka. Karena itulah, Nabi meminta agar para orangtua wajib memberi perhatian terhadap anak-anak perempuan mereka.

    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) pernah bersabda; “Takutlah kamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dalam perkara-perkara yang berhubung dengan kaum wanita.” Ini bermaksud bahawa setiap ibu bapak dan yang bergelar suami hendaklah sentiasa mengawasi anak-anak perempuan dan isteri mereka agar sentiasa berpegang teguh dengan agama dan mematuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

    Kata orang bijak, “Menjaga lembu sekandang lebih mudah daripada enjaga anak perempuan seorang.” Karena itu, khusus anak-anak (terutama perempuan) tak hanya diberi perlindungan, makan, tempat tinggal, seperti layaknya menjaga dan memelihara binatang ternak. Bagi mereka juga diperlukan pendidikan agama, akidah, ahlaq dalam perkara aurat dan pergaulan agar mereka tidak menjadi bahan fitnah yang ujungnya mencemarkan nama baik keluarga dan agama.

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkisah: “Datang ke rumahku seorang wanita peminta-minta beserta dua putrinya. Namun aku tidak memiliki apa-apa yg dapat kusedekahkan kepada mereka kecuali hanya sebutir kurma. Wanita tersebut menerima kurma pemberianku lalu dibagi untuk kedua putri sementara ia sendiri tidak memakannya. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar dari rumahku. Tidak berapa lama masuklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kuceritakan hal tersebut kepada beliau. Usai mendengar penuturanku beliau bersabda: “Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang/penutup bagi dari api neraka.” (HR Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)

    Sudah bukan rahasia lagi, Malam Tahun Baru atau Perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) menjadi alasan generasi muda untuk melampiaskan nafsu sahwat kepada orang yang belum hak nya. Agar tak ada lagi di antara anak-anak dan keluarga kita menjadi korban budaya ini, saatnya bertanya kepada diri masing-masing. “Kemana putra-putra kita di malam Valentine’s nanti?”. Nah, saatnya Anda mencegahnya atau mengajaknya dengan acara yang lebih mulia.

    */Niswah, penulis adalah ibu rumah tangga
    Rep: Administrator
    Red: Cholis Akbar

    http://hidayatullah.com/read/21103/11/02/2012/hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s