JADWAL AWAL MASUK WAKTU SHOLAT SUBUH PEMERINTAH TERLALU CEPAT 20 MENIT ?

sumber: http://www.facebook.com/notes/abu-umarov-al-mazdabovsky/fajar-shodiq-waktu-sholat-shubuh/433493800021099

FAJAR SHODIQ: WAKTU SHOLAT SHUBUH

Setiap muslim pasti ingin shalatnya tepat waktu, namun sayang untuk waktu shalat subuh banyak yang tidak menyadari bahwa ternyata jadwal yang ada problematis. Bagaimana tidak? Saat berkumandang adzan, fajar shadiq belum tampak membentang di ufuk timur. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Fajar itu ada dua; pertama, fajar yang halal di dalamnya makan (sahur) dan haram shalat (subuh). Kedua, fajar yang haram di dalamnya makan dan halal shalat (subuh)“. Sahabat Ibn Abbas berkata, “Fajar yang menyebar di atas puncak-puncak gunung itulah yang mengharamkan (sahur, dan menghalalkan shalat subuh)“. Imam Syafi’i (w. 204) berkata, “Dan apabila telah tampak terang fajar terakhir secara membentang maka halal shata subuh, dan barangsiapa shalat subuh sebelum tampak terangnya fajar kedua membentang maka (wajib) mengulangi…“.

 

Pada malam Senin 11 Oktober 2009 dalam acara Liqo Maftuh (acara tanya jawab) Syeikh Dr. Muhammad bin Musa Ali Nasr mendapatkan pertanyaan tentang seputar polemik waktu subuh.

Berikut ini transkrip dari penjelasan Syeikh Muhammad bin Musa ali Nasr ditambah dengan keterangan tambahan dari Syeikh Masyhur bin Hasan al Salman. Penjelasan dua murid al Muhaddits al Albania ini bisa dijumpai di VCD al Liqo al Maftuh lil Jami’ yang diterbitkan oleh Tasjilat Adz Dzakhirah tepat pada menit 21:44 sampai  26:39.

سائل يقول: فضيلة الشيخ قد انتشر عندنا و حصل الأخذ و الرد فيما بيننا في مسألة توقيت صلاة الصبح من قبل الحكومة حيث صدرت الفتوي أن هذا التوقيت وقت قبل أوانه و أن وقته الصحيح بعد أذان صلاة الصبح بثلاثين دقيقة-أن أذان صلاة الصبح يؤذن قبل وقوع طلوع الفجر بثلاثين دقيقة – فماذا تري في هذا؟

Syeikh Muhammad bin Musa membacakan pertanyaan yang diajukan kepada beliau secara tertulis, “Wahai syeikh, telah tersebar di tengah-tengah kami suatu hal yang menimbulkan pelomik di antara kami sendiri, itulah permasalahan jadwal shalat subuh yang ditetapkan oleh pemerintah. Ada fatwa yang mengatakan bahwa jadwal subuh tersebut itu sebelum waktunya yang benar. Waktu shalat subuh yang benar adalah 30 menit setelah adzan shalat subuh. Dengan kata lain, adzan subuh dikumandangkan 30 menit sebelum terbit fajar. Apa pendapatmu tentang hal ini?

الشيخ محمد موسى: ثلاثين دقيقة كثير, لو قال قائل عشرين ممكن. حقيقة أنا كنت أظن أن هذه المشكلة في بلادنا فقط, في بلاد الشام. لكني حيث ما تيممت وجهي وجدت هذه المشكلة قائمة و للأسف.

Jawaban Syeikh Muhammad bin Musa, “Selisih 30 menit itu banyak sekali, kalo dikatakan selisihnya adalah 20 menit mungkin lebih tepat. Sebenarnya dahulu aku beranggapan bahwa problem ini (jadwal subuh yang terlalu cepat, pent) hanya ada di negeri kami yaitu negeri Syam. Akan tetapi ternyata kemana pun aku pergi kujumpai problem ini. Suatu hal yang sangat disayangkan.

و هذه المشكلة قديمة, جديدة متجددة. أشار إليها شيخ الإسلام ابن تيمية في حقيقة الصيام و الحافظ ابن حجر العسقلان في فتح الباري في كتاب الصيام.

Problem ini adalah permasalahan yang sudah lama namun selalu saja muncul. Adanya permasalahan ini telah diisyaratkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam buku beliau, Haqiqoh al Shiyam dan al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari tepatnya di bab puasa.

شيخ الإسلام ابن تيمية سئل- كما في حقيقة الصيام- ما حكم من شرب أو أكل أو جامع بعد سماع الأذان الثاني يعني أذان الفجر الصادق؟ فبدأ أجاب- رحمه الله- قال: إذا كان أذان المؤذنين, يؤذنون قبل دخول الفجر تمكينا للوقت كما يفعل المؤذنون عندنا في دمشق الشام فلا حرج لو أكل أو شرب أو جامع في وقت يسير.

هذا كلام ابن تيمية في حقيقة الصيام.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam buku Haqiqah al Shiyam mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa hukum orang yang minum, makan, dan mengadakan hubungan badan setelah mendengar adzan kedua yaitu adzan yang dikumandangkan saat fajar shadiq?”

Jawaban beliau, “Jika adzan tersebut dikumandangkan sebelum tibanya fajar dalam rangka hati-hati sebagaimana yang dilakukan oleh para muazin di tempat kami yaitu di kota Damaskus, Syam maka tidak mengapa andai makan, minum atau berhubungan badan asalkan sebentar”. Demikian perkataan Ibnu Taimiyyah di Haqiqoh al Shiyam.

الحافظ ابن ححر العسقلاني يقول: و من البدع القبيحة أنه يؤذنون في الفجر- الأذان الثاني- قبل دخول الوقت بنحو ثلث الساعة تمكينا للوقت- زعموا-.

Sedangkan al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani berkata, “Diantara bid’ah yang jelek adalah dikumandangkannya adzan subuh yaitu adzan yang kedua kurang lebih 20 menit sebelum waktunya dalam rangka hati-hati. Demikian sangkaan mereka”.

و الآن عندنا ما يسمي بأذان الإمساك, هذا من البدع التي لا أصل لها في الدين.

Sekarang di tempat kita ada yang disebut dengan imsak. Hal ini termasuk bid’ah yang tidak ada dalilnya dalam agama.

فهذه المشكلة قديمة زمانا من قبل ابن تيمية. بيننا و بين ابن تيمية قرون و قرون. و هذه المشكلة قائمة و لا زالت تحول وزارة الأوقاف أن تحل هذه المشكلة ولكن هيهات هيهات. ما زالت المشكلة قائمة. و لا أدري من وراء هذه المؤامرة على أمة الإسلام لإفساد صلاتهم.

Jadi permasalahan ini sudah ada sejak tempo dulu, sebelum masa Ibnu Taimiyyah. Padahal antara kita dengan Ibnu Taimiyyah saja sudah berabad-abad. Meski demikian permasalahan ini tetap saja eksis. Departemen Agama selalu berusaha untuk mengakhiri problem ini akan tetapi sedikitpun tidak membuahkan hasil. Permasalahan ini tetap saja eksis. Aku tidak tahu siapa aktor di balik konspirasi terhadap umat Islam untuk merusak shalat mereka.

إن الصلاة على المؤمنين كتابا موقوتا.

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya shalat itu menjadi kewajiban orang-orang beriman pada waktu-waktu yang telah ditentukan” (QS an Nisa:103).

و الواجب على حكومة الدول الأسلامية و وزارة الأوقاف على وجه الخصوص أن يشكل الرجال الشرعية تتحقق من ذلك و تعدل هذه المواقيت و هذه التقاويم بحيث يقع الأذان على الوقت.

Menjadi kewajiban pemerintah berbagai negara Islam dan departemen agamanya secara khusus untuk membentuk tim yang terdiri dari para pakar syariat sehingga revisi jadwal sholat bisa diwujudkan. Tim tersebut bertugas untuk merevisi jadwal yang ada sehingga adzan dikumandangkan pada waktunya yang tepat.

فانظر كم-يمكن في بعض كثير من المساجد يعني يختارون فيؤخرون الصلاة

عندنا يؤخرون الصلاة نصف الساعة في أكثر المساحد. كي يتنافون هذه المشكلة. لكن تلك المراة التي في البيت وذاك الشيخ الكبير المقعد في البلد الذين يصلون على الوقت مجرد أن يسمعوا الأذان. ما هي حال صلاتهم؟

Mungkin sebagian masjid memilih untuk menunda pelaksanaan shalat. Di negara kami (Yordania, pent) mayoritas masjid menunda pelaksanaan shalat sampai setengah jam dari jadwal. Hal ini mereka lakukan untuk menyiasati masalah ini. Akan tetapi para wanita yang shalat di rumah, demikian pula orang tua yang tidak mampu berjalan ke masjid dan semua orang yang mengerjakan shalat begitu mendengar suara adzan. Bagaimana status shalat mereka?

و أنا في الحقيقة كتبت رسالة قديمة قبل أكثر من عشرين سنة

و أوردت شهادة أكثر من خمسة عشر طالب العلم و عالم في أن الفجر في بلادنا أذان الفجر يقع على غير وقته أو قبل وقته بأربع و عشرين دقيقة.

و هذه الرجل الشيخ علي من هؤلاء الشهداء في هذا الكتاب و هو فتح الغفور في تعجيل الفطور و تأخير السحور.

Sebenarnya semenjak lebih dari 20 tahun yang lewat saya telah menulis sebuah buku tentang hal ini. Dalam buku tersebut aku bawakan persaksian lebih dari 15 orang penuntut ilmu dan ulama yang menyatakan bahwa adzan subuh di negara kami (Yordania, pent) itu dikumandangkan tidak pada waktunya yang tepat tepatnya 24 menit sebelum waktu yang seharusnya. Syeikh Ali al Halabi adalah diantara orang yang memberikan persaksian tersebut dalam buku tadi. Buku tersebut berjudul Fath al Ghafur fi Ta’jil al Futhur wa Ta’khir al Sahur (Ilham Allah yang maha pengampun tentang menyegerakan berbuka dan menunda makan sahur, pent).

و الحقيقة هذه المشكلة لا تحصي, ينبغي أن تحل حلا جيدا و العهدة و المسؤولية في ذمة المسؤولين في وزارة الأوقاف في العالم الإسلامي

Sebenarnya permasalahan ini demikian luas sehingga sepatutnya diselesaikan dengan baik. Beban dan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini ada di pundak para pemegang kewenangan di berbagai departemen agama yang ada di berbagai negara di dunia Islam”.

الشيخ مشهور: أضيف إلى فضيلة الشيخ أنه قد ثبت عن النبي- صلى الله عليه و سلم- سيأتي في أخر الزمان أمراء يؤخرون الصلاة عن ميقاتها. قالوا: ما نفعل يا رسول الله؟ قال: صلوا وراءهم و اجعلوها سبحة أي اجعلوها نافلة.

Syeikh Masyhur mengatakan, “Sebagai tambahan keterangan atas apa yang telah disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Musa kuingatkan bahwa terdapat hadits sahih yang dalam hadits tersebut Nabi menceritakan akan adanya para penguasa yang menunda pelaksanaan shalat sehingga dikerjakan di luar waktunya. “Apa yang harus kami lakukan wahai Rasulullah?”, tanya para sahabat. Jawaban Nabi, “Hendaknya kalian tetap shalat bermakmum kepada mereka namun niatkanlah shalat yang kalian kerjakan bersama mereka sebagai shalat sunah”.

Saat Beliau ditanya tentang hadits: “Laksanakan shalat subuh pada waktu isfar,” apakah itu artinya seseorang atau imam mengakhirkan shalat subuh, maka beliau menjawab:

اَلْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ، وَلَفْظُهُ يَقُوْلُ : (أَسْفِرُوْا بِالْفَجْرِفَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ، وَفِي لَفْظٍ: (أَصْبِحُوْا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُوْرِكُمْ)، وَالْمَعْنَى عِنْدَ أَهْلِالْعِلْمِ عَدَمُ العَجَلَةِ حَتىَّ يَتَبَيَّنَ الصُّبْحُ, وَحَتىَّ يَتَّضِحَ الصُّبْحُ، وَلَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُصَلِّي بَعْدَالْغَلَسِ، لاَ، السُّنَّةُ باِلْغَلَسِ، كَانَ النَّبِيُّ  يُصَلِّي بِاْلغَلَسِ بَعْدَ ضِيَاءِالصُّبْحِ، لَكِنْ هُنَاكَ بَقِيَّةٌ مِنْ بَقِيَّةِ اللَّيْلِ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ يَكُنْ بَيْنَهُمَا بَيْنَ الظُّلْمَةِ وَبَيْنَ الصُّبْحِفِيْهِ بَعْضُ اْلغَلَسِ, وَالْحَدِيْثُ لاَ يُخَالِفُ ذَلِكَ، (أَصْبِحُوْا بِالصُّبْحِ) يَعْنِي لاَ تَعَجَّلُوْا حَتىَّ يَنْشَقَّالْفَجْرُ وَحَتىَّ يَتَّضِحَ اْلفَجْرُ، لَكِنْ مَعَ بَقَاءِ بَعْضِ الْغَلَسِ هَذَا هُوَ الْأفْضَلُ، وَلَوْ أَخَّرَهَا حَتىَّ اتَّضَحَالْفَجْرُ بِالْكُلِّيَّةِ وَذَهَبَ اْلغَلَسُ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ فَلاَ بَأْسَ لَكِنْ لاَ يُؤَخِّرُ الصُّبْحَ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِيَجِبُ أَنْ تُؤَدَّى كَامِلَةً قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ، لَكِنِ اْلأَفْضَلُ وَالْأَحْسَنُ أَنْ يُؤَدِّيَهَا فِي حَال ِالغَلَسِ بَعْدَطُلُوْعِ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ نِصْفٌ إِلاَّ خَمْسٌ حَوَالَيْهَا يَكُوْنُ هُنَاكَ غَلَسٌ وَهُنًاكَ ضِيَاءُ الصُّبْحِ وَاضِحٌ.

“Hadits itu shahih. Redaksinya, Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda: “Laksanakan shalat fajar pada waktu isfar (terang) karena ia lebih agung pahalanya.” Dalam satu lafazh: “Laksanakan shalat subuh pada waktu subuh, karena ia lebih besar bagi pahala kalian.” Artinya menurut para ulama: Jangan tergesa-gesa sampai subuh benar-benar nyata, sampai subuh benar-benar terang. Bukan maksudnya melaksanakan shalat subuh setelah hilang waktu ghalas (gelap remang-remang), bukan, karena sunnahnya dilaksanakan di waktu ghalas. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- melaksanakan shalat pada waktu ghalas setelah cahaya subuh, akan tetapi ada sisa dari sisa-sisa malam. Inilah yang sunnah, antara keduanya; antara gelap dan cahaya pagi, yang mengandung sebagian ghalas (gelap remang-remang. Hadits ini tidak menyalahi hal tersebut. “Laksanakan subuh di waktu subuh,” artinya jangan tergesa-gesa hingga fajar memancar dan hingga fajar menjadi nyata, akan tetapi masih ada sebagian ghalas. Inilah yang utama. Seandainya ia mengakkhirkan shalat subuh hingga fajar menjadi nyata secara total dan lenyap ghalas sebelum terbitnya matahari maka tidak masalah, akan tetapi tidak boleh mengakhirkan subuh hingga terbitnya matahari. Wajib ditunaikan semua sebelum terbit matahari. Akan tetapi yang paling utama dan yang paling bagus adalah melaksanakan shalat subuh pada waktu ghalas setelah terbitnya fajar, kira-kira setengah jam kurang 5 menit, di sana ada ghalas dan ada cahaya subuh yang terang.”

(http://www.binbaz.org.sa/mat/14769)

*Majalah Qiblati Edisi 3 Volume 5

 

Sholat Subuh sebelum fajar Shodiq

Serial al-Huda wan-Nur kaset nomer 43, menit ke 16,47

oleh: Abu Hamzah al-Sanuwi

تفريغلسؤال الشيخ أبو اسحاق الحويني الشيخ الالباني عن صلاة الفجرسلسة الهدي والنور الشريط رقم 43 بداية من الدقيقة 16.47

الحويني : لنا أخوة من السلفيين بالإسكندرية يؤذنون للفجر أذانين. والأذان المعترفبعد ثلث ساعة من الأذان العادي و يقولون بالفجر الصادق والكاذب، هذا طبعاله خطورة من ناحية الصيام فماذا ترون في هذة المسألة, وما موقف بقيةالجمهورية كلها من أنه إذا ثبت أن الفجر يؤخر ثلث ساعة فهم يصلون قبلالوقت علي هذا الاعتبار.

الألباني : )) هذة مصيبة ألمت بالكثير من الأقاليم الإسلامية مع الأسف حيث أنهم يحرّمونالطعام قبل مجئ وقت التحريم ويصلون صلاة الفجر قبل دخول وقت الصلاة وهذانحن لمسناه في هذه البلاد.. وبخاصة أن داري –وهذا من فضل الله علي – مُشْرِفَة فأنا أري في كل صباح و مساء طلوع الشمس وغروبها , طلوع الفجر الصادق , فأجد أنهم فعلا يصلون قبل الوقت –أي صلاة الفجر – وهذا من الأسباب التيتحملي أن أتي إلي هذا المسجد وأصلي الفجر لأني لا أجد في المساجد التيحولي إلا أنهم يبكّرون بالصلاة علي الأقل لا يصلون السنة إلا قبل الفجرالصادق..، ولم يقف الأمر فقط في هذة البلاد، فقد علمتُ أن أحد إخواننا السلفيينفي الكويت ألف رسالة وهو يذكر فيها تماما كما اذكر أنا هنا .كذلك .. لعلكتسمع به إن كنت لا تعرفه شخصيا، الدكتور تقي الدين الهلالي له رسالة يقولنفس الكلام في المغرب هو أنهم يؤذنون لصلاة الفجر قبل الوقت بنحو ثلث ساعةأو 25 دقيقة, كذلك علمت مثله بواسطة الهاتف عن الطائف فقد ورد إلي سؤال منأحدهم يقول: عندنا الشيخ سعد بن فلان يقول بان القوم هنا يصلون صلاة الفجرعلي التوقيت الفلكي وأن ذلك يخالف الوقت الشرعي تماما كما نتحدث عن هناوهناك ((

أعود للإجابة عن سؤال إخواننا في الإسكندرية فهم من حيث أنهميؤذنون أذانين فقد أصابو السنة لكن ما ادري إذا كانوا دقيقين في أذانهمالثاني هل هم يؤذنون حينما يبرُق الفجر ويسطَع وينفجر النور فإن كانوايفعلون ذلك فقد أحيوا سنة أماتها جماهير المسلمين، أما إن كانوا يؤذنون عليالرُزناماتو التقاويم فهذة لا تعطي الوقتالشرعي أبدا فيكونوا قد خلطوا عملا صالحا وأخر سيئا، أي جمعوا بين الأذانينوهذا سنة، لكن ما حددوا الوقت الشرعي بالأذان الثاني.

الحويني : بالنسبة لنا في القاهرة بهذة الصورة ستضيع علي أنا صلاة الصبح جماعة لأنجميع المساجد تقريبا تغلق أبوابها ويكونوا انتهوا من الصلاة قبل فِعْلاً دخولالوقت الشرعي فأنا ماذا أفعل ؟الالباني : أنت في هذة الحال تصلي ورائهم تطوع ثم تعود الي دارك فتصلي بأهلك فرضا.الحويني : إذا ما قيمة أن أنزل؟الالباني : مشاركة الجماعة..الحويني : أنكم ترون ان الجماعة واجبة ؟الالباني : كيف لاوهو كذلك…سائل يقول : صحيح يا شيخ …,, يأتي زمان يؤخرون الصلاة عن وقتها النبي امر ان نصلي معهم التطوع و نرجع الي بيوتنا فنصلي الفريضة.الالباني : لهذا حديث في صحيح مسلم.الحويني : لكن هذا قال يميتون الصلاة أي يصلون بعد الوقت.الالباني:سواء كان هذا أو ذاك ، لماذا أمرهم عليه السلام أنهم إذا أدركوا ذلك الوقت أن يصلوا معهم ثمقال صلوها انتم في وقتها ثم صلوها معهم فإنها تكون لكم نافلة واضح منالحديث أن الرسول عليه السلام يأمرهم بأن يصلوا الصلاة في وقتها لكن فيالوقت نفسه أمرهم بأن يصلوا الصلاة التي يصلونها في غير وقتها ، السبب فيذلك هو المحافظة علي جماعة المسلمين ، ولا فرق و الحالة هذه بين امام يقدمالصلاة أو يؤخر الصلاةالحويني : بالنسبة للحكم علي صلاة الناس، يعني السواد الأعظم من الناس يصلون قبل الوقت.الالباني : طبعا هؤلاء،المسؤولية تقع علي أهل العلم، فعلي من كان عنده علم أن يبلغ الناس فمنبلغه الحكم ثم أعرض عنه فصلاته باطلة، ومن لم يبلغه الحكم أنت تعرف أن لامسؤولية والحالة هذه .

((حديث صحيح مسلم « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِى أُمَرَاءُ يُمِيتُونَالصَّلاَةَ فَصَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ صَلَّيْتَ لِوَقْتِهَاكَانَتْ لَكَ نَافِلَةً وَإِلاَّ كُنْتَ قَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ»))

TERJEMAHAN DIALOG:

Al-Huwaini (Hw): Kami mempunyai Teman-teman salafiyyin di Iskandariyyah, mereka mengumandangkan adzan 2 kali untuk (shalat) fajar. Adzan yang diakui adalah adzan setelah sepertiga jam (20 menit) dari adzan biasa. Mereka mengatakan dengan fajar shadiq dan fajar kadzib. Tentu ini berbahaya dari sisi puasa. Bagaimana menurut anda dalam masalah ini. Lalu bagaimana sikap seluruh republik ini dari kenyataan bahwa jika fajar mundur 20 berarti mereka shalat subuh sebelum waktunya, berdasarrkan penilaian ini.

Syaikh al-Albani (Bn) mengatakan: “Ini adalah musibah yang melanda banyak kawasan Islam. Sangat disayangkan mereka menghalangi manusia dari makan sahur sebelum datang waktu keharamannya dan shalat fajar sebelum masuk waktunya. Ini yang kami rasakan di negri-negri ini…. Apalagi rumah saya -alhamdulillah- tinggi; sehingga saya melihat setiap pagi dan setiap sore terbit dan terbenamnya matahari, serta munculnya fajar shadiq. Memang benar-benar saya dapatkan mereka shalat sebelum waktu- maksudnya shalat fajar-. Inilah yang membuat saya datang ke masjid ini dan shalat subuh di sini, karena saya tidak mendapatkan masjid-masjid di sekitarku kecuali mereka cepat-cepat melaksanakan shalat, minimal mereka tidak shalat sunnah qabliyah subuh sebelum fajar shadiq.

Tidak hanya di negri sini (Yordania), saya mengetahui salah seorang salafi (sunni pengikut salaf shaleh) di Kuwait telah menulis risalah, yang di dalamnya ia menyebut persis seperti apa yang sebutkan di sini. Begitu pula, barang kali engkau mendengarnya, meskipun tidak mengenal secara pribadi, Dr. Taqiyyuddin al-Hilali, ia memiliki risalah yang mengatakan hal yang sama terjadi di Maghribi (Maroko), bahwa mereka mengumandangkan adzan subuh sebelum waktu sekitar sepertiga jam atau 25 menit. Begitu pula saya mengetahui hal yang sama terjadi di Thaif, melalui telpon salah seseorang mereka bertanya: di sini ada Syaikh Sa’ad ibn Fulan mengatakan bahwa orang-orang melakukan shalat fajar berdasarkan penentuan jadwal waktu menurut almanak, dan hal itu menyalahi waktu syar’i. Persis sama dengan yang kita bicarakan di sini.

Saya kembali kepada jawaban untuk teman-teman kita di Iskandariyah. Dari sisi mereka mengumandangkan adzan 2 kali maka mereka telah menghidupkan sunnah. Akan tetapi saya tidak tahu apakah mereka jeli (detil) dalam adzan mereka ke dua. Apakah mereka adzan saat terbit fajar, mumcul dan merebak cahaya? Jika mereka melakukan hal itu maka mereka telah menghidupkan sunnah yang telah dimatikan oleh mayoritas kaum muslimin. Adapun jika mereka adzan berdasarkan Roznama kalender (jadwal harian almanak) maka ini tidak memberikan waktu yang syar’I sama sekali, sehingga mereka telah mencampur amal shalih dan amal lain yang buruk. Artinya mengumpulkan antara dua adzan, dan ini adalah sunnah, tetapi mereka tidak menetapkan waktu syar’I berdasarkan adzan kedua.”

Hw: Sehubungan dengan kita di Kairo, dengan gambaran seperti ini maka akan hilang atas saya sahalat subuh berjamaah, karena semua masjid kira-kira ditutup pintunya dan mereka telah selesai shalat sebelum masuknya waktu. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Bn: Engkau pada kondisi ini shalat di belakang mereka (dengan niat) tathawwu’(sunnah) kemudian engkau kembali pulang ke rumahmu, lalu engkau shalat dengan keluargamu secara fardhu.

Hw: Kalau begitu apa nilainya saya turun (ke Masjid)?

Bn: Mengikuti jama’ah.

Hw. Anda melihat bahwa jama’ah itu wajib?

Bn: Bagaimana tidak? Ia memang wajib.

Penanya lain: Betul wahai Syaikh,.. Akan datang zaman mereka mengakhirkan shalat dari waktunya, Nabi saw memerintahkan agar kita shalat bersama mereka kemudian kita kembali ke rumah kita lalu kita shalat fardhu.

Bn: Untuk ini ada hadits dalam shahih Muslim*

Hw: Tetapi ini berkata: mereka mematikan shalat, maksudnya mereka shalat setelah waktunya.

Bn: Sama saja, yang ini atau yang itu. Mengapa Nabi memerintahkan mereka agar shalat bersama mereka jika mendapati mereka pada saat itu kemudian beliau bersabda: Shalatlah kalian tepat pada waktunya kemudian shalatlah bersama mereka karena ia menjadi nafilah untuk kalian. Jelas dari hadits bahwa Rasul saw memerintahkan mereka agar shalat tepat pada waktunya. Tetapi pada waktu yang sama beliau memerintahkan agar melakukan (mengikuti) shalat yang mereka shalat di luar waktunya, sebabnya adalah menjaga keutuhan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada bedanya kondisi ini antara imam memajukan shalat (sebelum waktunya) atau mengakhirkan shalat (setelah keluar waktunya).

Hw: Kaitannya dengan hukum shalatnya manusia, maksudnya mayoritas manusia yang shalat sebelum waktunya?

Bn: Mereka itu, tanggung jawabnya dipikul oleh ahli ilmu. Maka orang yang punya ilmu harus menyampaikan kepada manusia, maka barang siapa sampai kepadanya hukum ini kemudian berpaling daripadanya maka shalatnya batal. Dan barang siapa tidak sampai kepadanya hukum ini maka engkau mengetahui tidak ada tanggungjawab dalam kondisi seperti ini.

*Hadits shahih Muslim:

» يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِى أُمَرَاءُ يُمِيتُونَالصَّلاَةَ فَصَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ صَلَّيْتَ لِوَقْتِهَاكَانَتْ لَكَ نَافِلَةً وَإِلاَّ كُنْتَ قَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ«

“Wahai Abu Dzar, sesungghnya akan ada sesudahku amir-amir yang mematikan shalat, maka shalatlah kamu tepat pada waktunya, jika engkau telah shalat tepat pada waktunya maka ia (yaitu shalat bersama mereka) bagimu menjadi nafilah (tambahan), jika tidak (Shalat bersama mereka lagi) maka engkau telah melindungi shalatmu.”(Silsilah al-Huda wan-Nur, kaset nomor 43, menit 16: 47 dst).

Malang, Sabtu 12 J. Tsaniyah/ 6-6-2009

·Ini adalah sebagian makalah pada edisi 10. Jka ingin lengkap silakan ikuti majalah Qiblati

 

oleh: Abu Hamzah al Sanuwy

Pernah ditanyakan kepada Syaikh Abdurrahman al-Barrak: “Kami dengar bahwa waktu adzan shalat subuh sesuai dengan fajar kadzib bukan shadiq, maka apa yang harus kita kerjakan?

والله هذه المشكلة عندنا وعندكم لكن الذي ننصح به أن يتأنى الأئمة ولا يستعجلون في أداء الصلاة حتى يكونوا على يقين من دخول الوقت، أما الاعتماد على مجرد التقويم مع وجود هذا الإشكال الكبير الذي طرحه كثير من الناس وذكروا أن التقويم متقدم على طلوع الفجر الصادق ينبغي للأئمة ولمن يصلي في البيوت أن يتأنوا ولله الحمد. يتأنى يعني الفرق عندي أقل منهم يعني ربع ساعة أو ثلث ساعة للاطمئنان ليس عندي علم قاطع بصحة ما يقوله هؤلاء لكني لا أستطيع أن أدفعه فالمخرج هو الاحتياط.”

“Demi Allah ini problem pada kami dan pada kalian, akan tetapi yang kami nasehatkan adalah agar para imam melambatkan diri dan tidak tergesa-gesa dalam menunaikan shalat subuh hingga benar-benar yakin tentang masuknya waktu. Adapun hanya sekedar mengacu pada kalender sementara ada problem besar yang dilontarkan oleh banyak orang, yang menyebutkan bahwa taqwim yang ada ini terlalu cepat dari kemunculan fajar shadiq (maka tidak), seyogjanya para imam dan orang-orang yang shalat di rumah melambatkan diri. Alhamdulillah, melambatkan diri, artinya perbedaannya menurut saya lebih sedikit dibanding mereka, yaitu sekitar 15 menit atau 20 menit untuk ketenangan. Saya tidak memiliki ilmu pasti tentang benarnya apa yang dikatakan oleh mereka, akan tetapi saya juga tidak bisa menolaknya, maka solusinya adalah hati-hati (dengan mengakhirkan tadi).”

*Majalah Qiblati Edisi 5 Tahun 5

 

http://qiblati.com/iqamat-shalat-subuh-menurut-para-ulama-2.html

http://qiblati.com/media-transkrip-dauroh-trawas-1430-h-tentang-polemik-waktu-subuh-2.html

http://qiblati.com/media-waktu-gholas-menurut-syeikh-abdul-aziz-bin-baz-rahimahullah-2.html

http://qiblati.com/media-dialog-syaikh-al-albani-dan-syaikh-abu-ishaq.html

http://qiblati.com/media-waktu-subuh-menurut-syaikh-abdurrahman-al-barrak.html

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s