Archives

Dari Saudi untuk Afrika, Dari Afrika untuk Syaikh Bin Baz

Nabi yang penyayang -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda:

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

“Orang-orang yang penyayang, disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Penyayang). Sayangilah yang di bumi niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.“ (HR. At-Tirmidzi, no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 925)

Barangkali inilah salah satu kisah pengamalan hadits di atas oleh sebuah pemerintahan Islam dan seorang ulama besar di abad ini yang pernah menjadi mufti (semacam ketua MUI) di negara tersebut. Ali bin Abdullah Ad-Darbi menceritakan:

“Ada satu kisah yang sangat berkesan bagiku, pernah suatu saat berangkatlah empat orang dari salah satu lembaga sosial di Kerajaan Saudi Arabia ke pedalaman Afrika untuk mengantarkan bantuan dari pemerintah negeri yang penuh kebaikan ini, Kerajaan Saudi Arabia.

Setelah berjalan kaki selama empat jam dan merasa capek, mereka melewati seorang wanita tua yang tinggal di sebuah kemah dan mengucapkan salam kepadanya, lalu memberinya sebagian bantuan yang mereka bawa.

Maka berkatalah sang wanita tua, “Dari mana asal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami dari Kerajaan Saudi Arabia”.

Wanita tua itu lalu berkata, “Sampaikan salamku kepada Syaikh Bin Baz”.

Mereka berkata, “Semoga Allah merahmatimu, bagaimana Syaikh Bin Baz tahu tentang Anda di tempat terpencil seperti ini?”

Wanita tua menjawab, “Demi Allah, Syaikh Bin Baz mengirimkan untukku 1000 Riyal setiap bulan, setelah aku mengirimkan kepadanya surat permohonan bantuan, setelah aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.”

(Koran Al-Madinah, no. 13182)

http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/04/155/

SIKAP AHLUSSUNNAH tentang ILMU KALAM

MUQADDIMAH
Segala puji bagi ALLAH_kepadaNya kita memuji, meminta pertolongan, petunjuk, dan Ampunan.
kita berlindung kepadaNya_dari kejahatan jiwa dan dari keburukan perbuatan kita.

ALLAH Azza wa Jalla telah berfirman :
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
[QS Al-An’aam:115-116]

dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud_bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
“Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (Bid’ah) dalam agama. Dan setiap Bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
(“H.R imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud no.1892, an-Nasa-i (III/ 104-105), at-Tirmidzi no.1105)

APA ILMU KALAM ?
Ilmu Kalam adalah Ilmu Filsafat. Suatu Ilmu yang dikembangkan berdasarkan pemahaman AKAL dan LOGIKA dalam mengkaji pembahasan Ilmu Agama. Sejatinya, Analogi pemikiran lebih diutamakan daripada AlQuran dan Sunnah/Hadits2 shahih serta Ijma ulama Salaf.

PENJELASAN MENGENAI ILMU KALAM
Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata:
“Aku telah menjumpai para ahli Ilmu Kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan al-Qur-an dan as-Sunnah.
Mereka tidak memiliki sifat wara’ dan tidak juga takwa.” [1]

Imam Abu Hanifah Rahimahullah juga berkata saat ditanya tentang pembahasan dalam ilmu kalam dari sosok dan bentuk, ia berkata:
“Hendaklah engkau berpegang kepada as-Sunnah dan jalan yang telah ditempuh oleh Salafush Shalih. Jauhi olehmu setiap hal baru, karena ia adalah bid’ah.” [2]

Al-Qadhi Abu Yusuf (wafat th. 182 H) Rahimahullah [3], murid dari Abu Hanifah Rahimahullah,
berkata kepada Bisyr bin Ghiyaats al-Marisii: [4] “Ilmu tentang kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang Ilmu Kalam adalah suatu ilmu. Seseorang, manakala menjadi pemuka agama atau tokoh ilmu kalam, maka ia adalah zindiq atau dicurigai sebagai zindiq (kafir).”
Dan beliau berkata pula: “Barangsiapa yang belajar ilmu kalam, ia akan menjadi zindiq…” [5]

Imam Ahmad Rahimahullah berkata:
“Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindiq (kafir).” [6]

Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah(wafat th. 597 H) berkata:
“Para ulama dan fuqaha (ahli fuqaha) umat ini dahulu mendiamkan (mengabaikan) ilmu kalam bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka menganggap ilmu kalam itu tidak mampu menyembuhkan seorang yang haus, bahkan dapat menjadikan seorang yang sehat menjadi sakit. Oleh karena itu, mereka tidak memberi perhatian kepadanya dan melarang untuk terlibat di dalamnya.” [7]

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:
“Barangsiapa yang memiliki ilmu kalam, ia tidak akan beruntung.” Beliau juga mengucapkan: “Hukum untuk Ahli Kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sandal atau sepatu dan dinaikkan ke unta, lalu diiring keliling kampung. Dan dikatakan: ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah dan mengambil ilmu Kalam.’” [8]

Beliau Rahimahullah juga menyatakan [9]
Segala ilmu selain al-Qur-an hanyalah menyibukkan.
terkecuali ilmu hadits dan fiqh untuk mendalami agama.
Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: “Qoola Hadatsana (Telah menyampaikan hadits kepada kami).”
selainnya itu adalah ‘gangguan syaitan’ belaka.
————-
notes :
[1]. Lihat Manhaj Imam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/74) oleh Dr. Muhammad bin ‘Abdil Wahhab al-‘Aqiil.
[2]. Ibid, I/75.
[3]. Beliau adalah murid Abu Hanifah yang paling pintar, seorang ahli hadits dan termasuk Qadhi yang masyhur. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (VIII/535-539).
[4]. Ia adalah seorang tokoh Ahlul Bid’ah yang sesat, ayahnya seorang Yahudi. Ia mengambil pendapat-pendapat Jahm bin Shafwan dan berhujjah dengannya. Ia termasuk orang yang menguasai ilmu Kalam.
Qutaibah bin Sa’id berkata: “Bisyr al-Mariisi adalah kafir.” Dan Abu Zur’ah ar-Raaziy berkata: “Bisyr al-Mariisi adalah zindiq.” Bisyr mati pada tahun 218 H. Lihat Miizanul I’tidal karya Imam adz-Dzahabi (I/322-323 no. 1214).
[5]. Syarah ‘Aqiidah ath-Thahawiyah, tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki (hal. 17).
[6]. Lihat kitab Talbis Iblis (hal. 112).
[7]. Lihat Manhaj Imam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/75) oleh Dr. Muhammad bin ‘Abdil Wahhab al-‘Aqiil.
[8] Lihat Ahaadits fii Dzammil Kalam wa Ahlihi (hal. 99) karya Imam Abul Fadhl al-Maqri’ (wafat th. 454 H), tahqiq Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda‘I; Jaami’ul Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu ‘Abdil Barr (II/941), dan Syarah ‘Aqiidah Thahawiyyah, takhrij dan ta’liq oleh Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki, hal. 17-18.
[9]. Lihat Diwan Imam Syafi’i hal 388 no. 206, tartib dan syarah Muhammad ‘Abdur-rahim, cet. Daarul Fikri 1415 H
———–
smoga bermanfaat ilmunya. barokallohu fikum .

sumber: Untuk anggota group fb ISLAM DENGAN SUNNAH DAN (TANPA) BID’AH HASANAH
Ahmad Rosyid 30 Juni jam 8:10

http://www.almanhaj.or.id

Ukhti…, renungkanlah!

Budaya barat hampir telah menyebar di seluruh pelosok bumi ini, orang-orang yang berusaha tetap konsisten terhadap sunnah Nabi-Nya bahkan diolok-olok. Bagai kaum muda, pengaruh budaya barat sangat besar pengaruhnya, diantaranya dalam hal pergaulan muda-mudi, mereka berkilah bahwa hal itu adalah masa perkenalan dengan calon pasangan hidupnya.

Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengambil faedah.

Mulanya hanyalah perkenalan dan percakapan biasa lewat telepon. Seiring waktu berkembanglah pembicaraan sampai pada kisah cinta dan seluk-beluknya. Dia pun kemudian mengungkapkan cintanya dan berjanji akan meminang saya. Dia meminta agar bisa melihat wajah saya, terang saya menolaknya. Dia mengancam akan memutuskan hubungan. Akupun menyerah. Kukirimkan fotoku serta surat-surat yang begitu manis penuh rayu. Surat menyurat pun berlangsung selalu. Sampai akhirnya dia meminta untuk berjumpa dan jalan berdua dengannya. Aku menolak dengan keras. Tapi dia mengancam akan menyebarluaskan foto-foto saya serta surat-surat saya dan suara saya yang direkamnya ketika kami bercakap-cakap lewat telepon. Akhirnya akupun keluar pergi bersamanya dengan tekad agar bisa pulang segera secepatnya. Ya, akupun pulang akan tetapi dengan mambawa aib dan kehinaan. Ku katakan padanya: Nikahilah aku! Sungguh ini adalah aib bagiku. Maka dia menjawab dengan segenap penghinaan, ejekan dan mentertawakan: Sesungguhnya aku tidak akan menikahi wanita pezina.

Saudariku yang mulia, jika engkau memang memiliki akal untuk berfikir maka dengarkanlah nasehat berikut ini:

Janganlah engkau percaya bahwa pernikahan akan mungkin terlaksana hanya karena perkenalan dan percakapan iseng lewat telepon. Kalaupun memang ini terjadi maka akan mengalami kegagalan, kegalauan dan penyesalan.

Janganlah engkau percayai seorang pemuda ketika dia mulai menampakkan kejujuran dan keikhlasannya dan menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu tapi dia mengkhianati keluargamu dengan meneleponmu dan mengajakmu jalan bersama. Jangan kamu percayai dia ketika dia mulai menyatakan cinta dan berlemah lembut dalam pembicaraannya. Sungguh dia melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuknya yang tampak jelas bagi orang yang berakal. Akankah dia benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara dia mengajakmu berjumpa dan jalan bersama padahal engkau belum halal baginya?

Janganlah engkau percayai para penyeru emansipasi yang mengharuskan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan.

Ketahuilah bahwa cinta yang hakiki adalah setelah menikah. Adapun selain itu, umumnya adalah cinta yang penuh kepalsuan. Cinta yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan dan berjanji akan setia berkasih sayang sepanjang jaman? Bahkan berapa banyak pula pasangan yang berantakan sebelum sampai pada pelaminan dibarengi hilangnya kehormatan yang dibanggakan?

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi SAW bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya SAW -: Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi SAW menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.
Maka apakah engkau ingin menjadi bagian dari mereka wahai saudariku muslimah?

Jauhilah bercakap-cakap tanpa keperluan di telepon karena sesungguhnya Allah merekamnya demikian juga syaithan dari jenis manusia pun merekamnya. Mereka para petualang cinta akan menggunakannya sebagai alat untuk mengintimidasi kalian agar kalian mau mendengar mereka dan mentaati mereka. Qiyaskan juga ke dalamnya chating yang tiada guna dan hanya membuang waktu semata.

Hati-hatilah, janganlah engkau foto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan senjata yang paling berbahaya yang digunakan oleh serigala manusia sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi kalian.

Jauhilah olehmu untuk menulis surat-surat cinta karena hal itu juga merupakan sarana yang digunakan oleh mereka.

Hindarilah majalah-majalah dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela. Sungguh di dalamnya terdapat racun yang membinasakan yang tersembunyi di balik indahnya halaman yang warna-warni serta kertas yang halus mengkilap dan wangi.

Jauhilah menonton sinetron-sinetron dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita. Jauhilah semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malumu.

Hati-hatilah, janganlah engkau pamerkan auratmu dan janganlah engkau terlalu sering ke luar rumah dan ke pasar-pasar tanpa ada keperluan mendesak yang menuntut untuk itu. Sungguh hal itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam murka Rabbmu.

Janganlah engkau pergi berduaan dengan sopir pribadimu, sungguh ini merupakan khalwat yang terlarang. Janganlah sekali-kali engkau membela diri dengan beralasan bahwa ini darurat. Bertakwalah, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala permasalahannya.

Hati-hatilah engkau wahai saudariku dari teman yang jelek. Cari dan bergaullah dengan temanmu yang shalihah yang akan membimbingmu kepada keridlaan Rabbmu dan senantiasa mengingatkamu agar tidak terjatuh pada perkara yang akan mendatangkan murka Rabbmu.

Saudariku yang mulia,
Hati-hatilah dari segala kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut merupakan sebab hilangnya nikmat, mendatangkan musibah, dan merupakan sebab datangnya kesengsaraan serta adzab yang membinasakan.

Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi malaikat maut dengan banyak bertaubat dan beramal shalih, sungguh engkau tidak tahu kapan giliranmu akan tiba.

Saudariku,
Setelah engkau baca nasihat di atas maka ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertaubat. Allah berfirman: Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas akan dirinya (berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesunggunya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar : 53)

Maka apabila engkau wahai saudariku telah tenggelam dalam suatu kemaksiatan dan dosa, segeralah bertaubat dengan taubatan nashuha sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum tubuhmu ditimbun di dalam tanah. Dan pada saat itu tidaklah lagi berguna penyesalan.

Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian yang ada dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melindungi kita dari adzab qubur dan adzab neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga Firdaus Al-A’la.

Shalawat serta salam senantisa tercurah kepada Nabi kita.

(Diterjemahkan dari http://www.alsalafiyat.com dengan perubahan dan tambahan)

[Kontributor : Umar Munawwir, 02 Juni 2003 ]

SUMBER: Perpustakaan-Islam.Com

Preman Transnasional Disetujui, Muslim Taat Dimusuhi

Reposting dari tulisannya ustadz Hartono Ahmad Jaiz.

Silahkan dinikmati!

* * * * * *

Preman Transnasional Disetujui, Muslim Taat Dimusuhi

Seorang anak muda bernama Umar, tinggal di daerah Pemalang Jawa Tengah. Dia dikenal sebagai anak bergaya preman, dengan potongan rambut punk, bagian tengah atas kepala dari depan sampai belakang disisir berdiri njegrag bagai jengger ayam. Pemuda macam ini tidak dekat dengan agama.

Kata seorang yang silaturrahim ke tempat saya, Umar banyak mendapat halangan justru ketika dia berubah jadi pemuda yang taat agama. Namun tamu ini saat itu tidak banyak cerita bahwa Umar dulunya adalah pemuda punker, karena Umar sendiri ikut bertamu saat itu dalam keadaan sudah berjenggot, dan mengatakan mau belajar ke pesantren.

Lain kali setelah itu, tamu itu datang lagi tanpa membawa Umar. Dia bercerita bahwa Umar sekarang sudah menjadi santri di pesantren Bogor Jawa Barat. Dia ceritakan, semula Umar adalah pemuda yang ikut-ikutan dalam pergaulan anak muda, sampai rambutnya pun dibuat bergaya punk. (Yang namanya punk itu asalnya adalah orang-orang semacam gelandangan/ anak-anak kuli di Amerika dan Inggeris, kemudian membentuk grup musik The Ramonis di Amerika dan Sex Pistols di Inggeris tahun 1970an. Mereka dulunya suka menyindir pemerintah, kadang dengan kasar. Gaya khasnya berpotongan rambut seperti jengger ayam disebut mohwk ala Suku Indian, dan rambutnya diwarnai dengan warna-warna terang. Sekarang punk itu menjadi aliran musik yang bercabang-cabang, dan dianggap paling ngetrend di dunia dalam musik rock. Tulisan ini hanya sekadar menjelaskan sifat, bukan berarti menyetujui).

Ketika Umar bergaya punk seperti itu, orang-orang dan masyarakat sekitar sampai tokoh Islam bahkan orang tuanya diam saja. Tetapi rupanya ada seseorang yang mendekati Umar, dengan menasihati dan mengajaknya ke jalan yang benar, yaitu mempelajari Islam dengan sedikit-demi sedikit, dari aqidah (keyakinan) yang benar sampai ibadah dan akhlaq. Dalam tempo yang tidak lama, Umar berubah total. Dari pemuda punker yang berambut jengger, kemudian menjadi pemuda berkopiah putih, berjenggot, bahkan berbaju gamis putih dengan celana jigrang (di atas mata kaki) tetapi bukan LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah, yang dulunya Islam Jama’ah, menurut penelitian Litbang Departemen Agama, yang sudah difatwakan sesat oleh MUI dan dilarang Kejaksaan Agung 1971, lihat buku Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII).

Di saat Umar sudah meninggalkan gaya punk dan beralih dengan penampilan berpeci putih, berjenggot, bergamis putih dan bercelana cingkrang, ternyata halangan dan gunjingan justru bertubi-tubi. Sampai-sampai ada yang memegang kerah bajunya dan siap menghantamnya. Yang mau menghantamnya itu bukan preman, tetapi justru tokoh agama dari kalangan tradisional yang doyanannya tahlilan (upacara bid’ah berupa baca-baca dalam rangka peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, keempatpuluh dan seterusnya) dan semacamnya. Padahal Umar tidak mengganggu mereka, hanya berpenampilan untuk dirinya sendiri. Sedang Umar tidak doyan tahlilan juga hanya untuk dirinya sendiri.

Lebih aneh lagi, ketika Umar sedang tidur, tahu-tahu jenggotnya dipegang orang erat-erat dan mau dipotong. Ternyata yang akan memotong jenggot Umar ini adalah ibunya sendiri. Maka Umar bangun, lalu berkata:

“Bu, kalau saya mau jadi orang yang benar, tetapi malah dihalangi, maka mari kita beli anggur berkrat-krat, nanti kita mabuk-mabukan di jalanan, sambil berjoget-joget bersama, Bu!”

Sejak itu ibunya tidak mengganggunya lagi. Dan kemudian Umar mencari pesantren yang bisa menampung dirinya untuk belajar agama dengan gratis. Karena dari orang tua tidak ada harapan. Dan Umar kemudian mendapatkan tempat untuk belajar seperti apa yang ia inginkan. (Hajaiz).

majalah qiblati
http://www.qiblati.com
http://www.nahimunkar.com

Kisah Nyata: Jahannam, Setelah 300 KM

Oleh Abu Khalid al-Jadawy

Aku mengenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri:

“Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari kota Riyadh bersama dengan teman-temanku, dan tidak ada satu niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatanpun untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.”

“Alkisah, kami sekelompok pemuda pergi menuju kota Dammam, ketika kami melewati papan penunjuk jalan, maka teman-teman membacanya “Dammam, 300 KM”, maka aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 KM”. Merekapun duduk dan menertawakan ucapanku. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya. Maka merekapun membiarkan dan mendustakanku.

Berlalulah waktu tersebut dalam canda tawa, sementara aku menjadi bingung dengan papan yang telah kubaca tadi.

Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 KM”, kukatakan “Jahannam, 200 KM”. Merekapun menertawakan aku, dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan “Jahannam, 200 KM”.” Merekapun menertawakanku seperti kali pertama. Dan mereka berkata: “Diamlah, kamu membuat kami takut.” Akupun diam, dalam keadaan susah, yang diliputi rasa keheranan aku memikirkan perkara aneh ini.

Keadaanku terus menerus bersama dengan pikiran dan keheranan, sementara keadaan mereka bersama dengan gelak tawa, dan candanya, hingga kemudian kami bertemu dengan papan penujuk jalan yang ketiga. Mereka berkata: “Tinggal sedikit lagi “Dammam, 100 KM”.” Kukatakan: “Demi Allah yang Maha Agung, aku melihatnya “Jahannam, 100 KM”.” Mereka berkata: “Tinggalkanlah kedustaan, engkau telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita.” Kukatakan: “Turunkan aku, aku ingin kembali.” Mereka berkata: “Apakah engkau sudah gila?” Kukatakan: “Turunkan aku, demi Allah, aku tidak akan menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” Maka merekapun menurunkanku, akupun pergi ke arah lain dari jalan tersebut. Akupun tinggal di jalan itu beberapa saat, dengan memberikan isyarat kepada mobil-mobil untuk berhenti, tetapi tidak ada seorangpun yang berhenti untukku. Selang beberapa saat, berhentilah untukku seorang sopir yang sudah tua, akupun mengendarai mobil bersamanya. Saat itu dia dalam keadaan diam lagi sedih, dan tidak berkata-kata walaupun satu kalimat.

Maka kukatakan kepadanya: “Baiklah, ada apa dengan anda, kenapa anda tidak berkata-kata?” Maka dia menjawab: “Sesungguhnya aku sangat terkesima dengan sebuah kecelakaan yang telah kulihat beberapa saat yang lalu, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih buruk darinya selama kehidupanku.” Kukatakan kepadanya: “Apakah mereka itu satu keluarga atau selainnya?” Dia menjawab: “Mereka adalah sekumpulan anak-anak muda, tidak ada seorangpun dari mereka yang selamat.” Maka dia memberitahukan kepadaku ciri-ciri mobilnya, maka akupun mengenalnya, bahwa mereka adalah teman-temanku tadi. Maka akupun meminta kepadanya untuk bersumpah atas apa yang telah dia katakan, maka diapun bersumpah dengan nama Allah.

Maka akupun mengetahui bahwa Allah I telah mencabut roh teman-temanku setelah aku turun dari mobil mereka tadi. Dan Dia telah menjadikanku sebagai pelajaran bagi diriku dan yang lain. Akupun memuji Allah yang telah menyelamatkanku di antara mereka.”

Syaikh Abu Khalid al-Jadawi berkata: “Sesungguhnya pemilik kisah ini menjadi seorang laki-laki yang baik. Padanya terdapat tanda-tanda kebaikan, setelah dia kehilangan teman-temannya dengan kisah ini, yang setelahnya dia bertaubat dengan taubat nashuha.”

Maka kukatakan: “Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima teman-temanmu sampai kepada perjalanan seperti perjalanan ini? Agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Dan tahukah kamu, bahwa kadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman-temanmu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan.” Na’udzu billah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahumma Amin.” (AR)*

* Majalah Qiblati Edisi 5 Volume 3

http://www.qiblati.com

NABIKU BUKAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ! (Kisah Debatnya Syaikh Asy-Syinqithi)

Ini adalah kisah perdebatan yang terjadi secara spontanitas antara Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah (dari Mauritania) –penulis kitab Tafsir Adhwa’ Al-Bayan- yang wafat pada tahun 1393 H bersama salah seorang ulama Al-Azhar yang mengajar di Ma’had Al-Ilmi di Riyadh, di hadapun Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada waktu itu. Kisah ini menunjukkan kepribadian seorang ulama salafi yang cerdik, pemberani dan anti taqlid. Sekaligus menunjukkan bahwa para ulama ahlus sunnah kepentingannya adalah mencari dan membela kebenaran, meski kebenaran itu berseberangan dengan pendapat dan fatwa guru dan leluhurnya.

Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Amin bin Ahmad Asy-Syinqithi menceritakan kisah ini dalam kitabnya yang berjudul ‘Majalis Ma’a Fadhilah asy-Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna Asy-Syinqithi’. Penulis bercerita: Saya diberitahu oleh guru saya Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna asy-Syinqithi, beliau berkata:

“Ketika aku keluar dari kelas, sehabis mengajar materi tafsir, aku memasuki ruang istirahat para mudarris. Saat itu dua Syaikh; yang mulia Syaikh Muhammad bin Ibrahin bin Abdul Lathif Alu Asy-Syaikh dan saudaranya Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Ibrahim sedang berada diruang istirahat tersebut, yang pertama adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia dan yang kedua adalah DirekturUmum untuk Ma’ahid dan Kulliyaat. Ketika aku memasuki ruang istirahat para mudarris tiba-tiba seorang mudarris dari al-Azhar Mesir berkata, “Hai orang Syinqith aku dengar kamu menetapkan dalam pelajaran dikelas bahwa neraka itu abadi dan siksanya tidak akan berkesudahan?!”.

Aku jawab, “Ya.”

Dia berkata, “Bagaimana engkau rela untuk dirimu, hai orang Syinqith! Engkau mengajarkan kepada anak-anak kaum muslimin bahwa neraka itu abadi dan adzabnya tiada henti, sementara Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab keduanya menetapkan bahwa neraka itu akan padam dan dari dasarnya akan tumbuh sayur Jirjir?!!”.

Aku waktu itu masih baru saja meninggalkan suasana padang pasir Mauritania, maka aku marah jika dibuat marah, maka aku katakan, “Hai orang Mesir! Siapa yang mengabarkanmu bahwa Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani bernama Muhammad bin Abdul Wahhab?!! Sesungguhnya Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani namanya Muhammad bin Abdullah, yang dilahirkan di Makkah bukan dilahirkan di Huraimla, dikubur di Madinah bukan dikubur di Dir’iyyah, dia datang dengan membawa kitab namanya al-Qur’an, dan al-Qur’an itu aku bawa diantara dua lempengku. Dialah yang wajib diimani. Ketika aku amati ayat-ayatnya aku dapatkan bahwa seluruh ayat-ayatnya sepakat bahwa neraka itu abadi, dan adzabnya tidak akan pernah berhenti. Aku ajarkan hal itu kepada anak-anak kaum muslimin karena para wali mereka mempercayakan pengajarannya kepadaku. Kamu dengar itu wahai orang Mesir ?!!”.

Maka yang mulia Syaikh Mufti Muhammad bin Ibrahim berkata, “Apa yang kamu katakan?”

Maka yang mulia kemudian berkata, “Semoga Allah memperpanjang usiamu, darimu kami mengambil pelajaran.”

Syaikh Amin Asy-Syinqithi berkata, “Sesungguhnya saya mengatakan apa yang telah saya katakan setelah saya menelaah dalil-dalil yang digunakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menetapkan madzhab Syaikhnya.” Dan setelah Syaikh menyebut dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan Sunnah yang datang dalam tema ini dan setelah meluruskan semua syubhat yang dikemukakan oleh pengikut pendapat kedua yang sulit disebutkan dalam kesempatan yang singkat ini, dan mungkin merujuk kembali kepada kitabnya.

Maka berkatalah Syaikh Mufti: Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Alu Asy-Syaikh, “Hai Abdul Lathif (maksudnya saudaranya sendiri yang menjadi direktur umum lembaga-lembaga pendidikan dan fakultas), rujuk kepada yang benar (al-haqq) adalah lebih baik dari pada terus menerus dalam kebathilan. Dari sekarangtetapkan bahwasanya neraka adalah abadi (kekal) dan adzabnya tiada henti, dan bahwasanya dalil-dalil yang dimaksud itu adalah jurang neraka yang dikhususkan untuk ahli maksiat dari kalangan orang-orang mukmin.”

Para pembaca yang mulia, begitulah dada para ulama begitu lapang untuk meninggalkan kesalahan dan menerima kebenaran kapan saja kebenaran itu datang kepadanya. (Majalah Mingguan Al-Furqan, edisis 468, 16 Dzul Qa’dah 1328 H, halaman 34-35)

Perlu diketahui bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak pernah menyatakan kefanaan neraka, malah yang ada dia menyatakan kekekalan beberapa makhluk seperti surga, neraka dan arsy dan lain-lain. Dan dia mengatakan bahwa ini adalah aqidah kaum salaf, para imam serta seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sementara Ibnul Qayyim rahimahullah membahas pendapat kekekalan atau kefanaan neraka panjang lebar dalam kitabnya ‘Hadil Arwah Ila Biladil Afrah’ 43-80. Sedangkan dalam 4 kitabnya beliau meyakini kekalnya neraka, yaitu, ‘Ar-Ruh, Manzumah al-Kafiyah ash-Shafiyah, al-Wabil as-Shayyib, Muqaddimah Zadil Ma’ad. (silahkan baca Pengantar Syaikh al-Albani untuk kitab Raf’ul Atsar Li Ibthal al-Qaul bi Fana’ an-Nar, karya Syaikh Muhammad bin Amir ash-Shan’ani).

Sementara untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kami belum bisa memberi komentar. Insya Allah di lain waktu, namun menurut syaikh Mamduh, itu hanya dinisbatkan oleh sebagian orang tanpa ada buktinya. Seandainya pun benar, maka komentar Syaikh Syinqithi atas tuduhan guru Azhari itu sudah cukup. Wallahu A’lam.

Sumber : Dinukil dari Majalah Qiblati edisi 06 tahun III bulan Maret 2008 M / Shafar-Rabi’ul Awwal 1429 H. (hal : 98).

http://www.qiblati.com

http://lautanilmu.ridhofitra.info/2010/07/nabiku-bukan-muhammad-bin-abdul-wahhab-kisah-debatnya-syaikh-asy-syinqithi/

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat

oleh Abu Ashim Muhtar Arifin

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:

“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.

Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.

Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.

Syaikh al-Bakri mengatakan:

“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Apabila keluar masjid beliau melewatiku. Dan ia mengatakan: “Aku bisa berbahasa arab, akan tetapi aku ingin mendengarnya dari Orang Arab”. Lalu iapun minum air dingin di tempatku.

Aku merasa sedih dengan apa yang telah dia dilakukan dalam ceramahnya. Lalu aku berbuat siasat dengan mengundangnya (ke tempatku) dan aku mengambil kitab at-Tauhid, aku cabut sampulnya dan aku letakkan di rak dalam rumahku sebelum dia datang.

Ketika dia telah hadir, aku berkata kepadanya: “Apakah anda mengizinkan aku untuk membawakan semangka (ke sini)?”. Lalu akupun pergi.

Ketika aku kembali, ternyata di sedang membacanya dan menggerak-gerakkan kepalanya.

Ia berkata: “Karya siapakah kitab ini? Judul-judulnya mirip dengan judul-judul kitab al-Bukhari, ini demi Allah judul-judul al-Bukhari.”

Aku menjawab: “Aku tidak tahu!”. Lalu aku katakan kepadanya: “Bagaimana sekiranya kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi untuk menanyakan masalah ini,” yang mana beliau adalah seorang pemilik sebuah perpustakaan, dan beliau telah memiliki bantahan terhadap kitab Jami’ al-Bayan.

Lalu kamipun masuk kepada beliau dan aku berkata kepada al-Ghazawi: “Aku memiliki beberapa lembaran. Syaikh ini menanyakan kepadaku siapakah yang menulis kitab ini? Akupun tidak tahu.”

Al-Ghazawi paham dengan keinginanku. Lalu beliau memerintahkan seseorang untuk mendatangkan kitab Majmu’ah at-Tauhid (kumpulan kitab tauhid), lalu dibawakan kepada beliau, kemudian mencocokkan antara keduanya, lalu beliau mengatakan: “Ini adalah karya Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Orang Alim dari India tadi marah dan mengatakan dengan suara yang tinggi: “Orang Kafir itu …!!!”

Kamipun diam, diapun lalu diam sejenak. Sesaat kemudian kemarahannya mereda dan ia pun beristirja’ (mengucapkan innalillah wa inna ilaihi raaji’un).

Ia berkata: “Apabila kitab ini adalah karya beliau, maka sungguh kami telah menzhaliminya”.

Kemudian beliaupun setiap hari mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab dan murid-muridnya pun juga mendoakanya bersamanya.

Lalu tersebarlah murid-muridnya di India. Apabila mereka selesai membaca, mereka mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab.”

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 60, hal. 57-58

http://majalahislami.com

http://lautanilmu.ridhofitra.info/2010/05/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat/